<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697</id><updated>2012-01-28T21:11:58.278+07:00</updated><category term='Menulis'/><category term='Islam'/><category term='Kesehatan'/><category term='Gado-Gado'/><category term='Pernikahan'/><category term='Teknologi'/><category term='Pekerjaan'/><category term='Hidden'/><category term='Pacaran'/><category term='Anak'/><category term='Pemerkosaan'/><category term='Al-Qur&apos;an'/><category term='Tips'/><category term='Motivasi'/><category term='Film'/><category term='Manajemen Emosi'/><category term='TOEFL ITP'/><category term='Perselingkuhan'/><category term='Kembar'/><category term='Wirausaha'/><category term='Rekreasi'/><category term='Kriminalitas'/><category term='Plagiarisme'/><category term='Berkendara'/><title type='text'>Another Story</title><subtitle type='html'>It's not about being popular. It's about being beneficial.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>180</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-9022548326905708656</id><published>2012-01-09T08:01:00.000+07:00</published><updated>2012-01-09T08:01:28.344+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>At-Taubah</title><content type='html'>&lt;div class="tr_bq"&gt;At-Taubah: Satu-satunya surat dalam Al-Qur'an yang tidak diawali dengan lafadz basmalah. Surat ini berisi firman-firman Allah yang tegas dan keras tentang berjihad (berperang) di jalan Allah.&amp;nbsp;Saya sebut tegas karena berjihad ini bukanlah pilihan. Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah tidak selayaknya menolak untuk berjihad tanpa ada uzur yang sangat kuat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya sebut keras karena Allah tidak menampakan kelembutannya dalam perintah berjihad ini. Allah SWT &lt;i&gt;seolah-olah&lt;/i&gt; tidak memberikan toleransi sedikit pun mengenai keharusan berjihad bagi orang-orang yang beriman. Sebegitu kerasnya perintah Allah sampai orang-orang yang membuat-buat alasan (dengan berdusta) untuk tidak ikut berjihad dijanjikan adzab yang pedih. &lt;i&gt;Na'udzubillaahi min dzaalik.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua ayat dalam surat At-Taubah ini tentang berjihad di jalan Allah. Akan tetapi, secara garis besar, ayat-ayat dalam surat At-Taubah ini tidak lepas dari peringatan-peringatan keras dari Allah kepada orang-orang kafir, fasik, dan munafik. Peringatan-peringatan keras ini senantiasa diakhiri dengan peringatan akan adzab yang pedih dan kekal. &lt;i&gt;Na'udzubillaahi min dzaalik.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang dapat saya paparkan dari surat At-Taubah. Hikmah yang saya dapatkan untuk saat ini pada dasarnya hanya beberapa paragraf di atas. Di bawah ini saya cantumkan beberapa ayat yang sengaja saya kutip dari surat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At-Taubah:20)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. (QS. At-Taubah:25)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS. At-Taubah:35)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;. (QS. At-Taubah:40)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah:51)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah:54)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah:68)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah:72)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:100)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:111)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (QS. At-Taubah:116)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah:122)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt; &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi SAW, maka Allah s.w.t. memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi SAW. Karena itu maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-9022548326905708656?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/9022548326905708656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/at-taubah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9022548326905708656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9022548326905708656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/at-taubah.html' title='At-Taubah'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8616445944532976263</id><published>2012-01-05T12:34:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><title type='text'>Mengajar di STAN</title><content type='html'>Pagi ini saya memutuskan untuk mencoba menggunakan 2 (dua) monitor untuk komputer kerja saya. Alasannya karena memang ada 1 (satu) monitor tidak terpakai di ruangan kerja saya dan karena saya sendiri ingin memperbesar luas &lt;i&gt;desktop&lt;/i&gt; saya. Setelah mengubek-ubek ruangan kerja untuk mencari &lt;a href="http://www.datapro.net/techinfo/dvi_info.html" target="_blank"&gt;kabel DVI&lt;/a&gt;, saya baru sadar kalau PC saya tidak dilengkapi &lt;i&gt;video card&lt;/i&gt; yang mendukung DVI. Alhasil semua usaha saya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan mengajar di STAN? Kita akan ke arah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung meja saya sudah terlanjur berantakan, saya pun memutuskan untuk cuci gudang; atau cuci meja? Posisi monitor saya ubah, letak file box saya sesuaikan, dan tentu saja dokumen-dokumen dan kertas-kertas tidak terpakai saya buang. Ternyata ada banyak dokumen dan kertas yang statusnya sudah layak buang. Akhirnya saya menemukan cara untuk sedikit mengosongkan meja kerja saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan mengajar di STAN? Ada dalam paragraf di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah tumpukan dokumen dan kertas itu saya menemukan berkas-berkas saya saat saya mengajar di STAN pada tahun 2011 (tahun lalu). Mulai dari surat tugas, buku dan presentasi untuk bahan ajar, soal-soal ujian, jawaban-jawaban ujian yang sudah saya beri nilai, sampai catatan kesan dan pesan dari para mahasiswa, semuanya membawa kembali kenangan manis &lt;strike&gt;dan pahit&lt;/strike&gt; saat saya mengajar di STAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berkesan tentu saja catatan kesan dan pesan dari para mahasiswa saya. Alhamdulillah komentar-komentar yang diberikan itu banyak yang positif. Yang saya maksud positif di sini bukan hanya komentar-komentar manis yang berpotensi membuat saya sombong, tapi juga termasuk kritik-kritik pedas, tajam, dan membangun terhadap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menyempatkan diri untuk membaca kembali semua catatan kesan dan pesan itu satu per satu. Sebagian catatan kesan dan pesan itu bernuansa serius. Sebegitu seriusnya sampai catatan kesan dan pesan yang seharusnya anonymous itu diberi nama oleh yang bersangkutan. Kata-kata yang dipilih pun memberikan kesan yang formal dan diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lainnya bernuansa canda. Sebegitu terasa candanya sampai-sampai saya merasa yang menulis itu sedang tertawa puas saat menulis kesan dan pesan miliknya. Ada pula yang bernuansa islami di dalam kesan dan pesannya. Kenapa? Karena dia memberi nama "Hamba Allah" di dalam kesan dan pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik-kritik yang disampaikan lebih banyak bersifat teknis; mulai dari ketersediaan bahan mengajar untuk mahasiswa, durasi mata kuliah yang terlalu lama, sampai kesiapan sarana dan prasarana untuk praktek. Kritik-kritik yang terkait dengan cara saya mengajar tidak terlalu banyak. Sepertinya saya menjadi salah satu dosen &lt;strike&gt;favorit&lt;/strike&gt; yang cara mengajarnya tidak terlalu membosankan &lt;strike&gt;atau bahkan menyenangkan&lt;/strike&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung kesan dan pesan itu dibuat saat kuliah terakhir menjelang ujian akhir semester, tidak sedikit mahasiswa yang menyelipkan keinginannya untuk mendapatkan nilai A. Sayangnya kesan dan pesan itu dibuat tanpa nama. Jadi, mahasiswa-mahasiswa itu pun pukul rata menuangkan harapan nilai A untuk semuanya tanpa kecuali. Inilah salah satu contoh peribahasa "dikasih hati minta jantung".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik semua permintaan nilai A itu, ada satu yang agak unik. Kata-katanya seperti ini, "kalau ada nilai mahasiswa yang masih kurang, tolong dibantu pak." Diplomatis sekali bukan? Dalam hal ini, kemungkinannya ada dua. Pertama, yang bersangkutan adalah mahasiswa yang memang merasa nilainya kurang. Kedua, yang bersangkutan adalah ketua kelas memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap teman-teman kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar-komentar &lt;strike&gt;konyol&lt;/strike&gt; lucu itu tidak sedikit. Ada komentar seperti ini: "belajar asik, nilai ujian bagus, ilmu masuk, lanjutkan pak." Sepertinya yang bersangkutan ini anggota partai politik tertentu yang warna dominan lambangnya itu biru (atau ungu?). Ada juga komentar &lt;i&gt;berlebayan&lt;/i&gt; seperti, "bapak terlalu sempurna bagi saya". Sebuah komentar yang membuat saya tertawa lepas sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya tuangkan semuanya, post ini akan menjadi panjang bukan kepalang hanya untuk bercerita tentang kesan dan pesan saja. Secara garis besar, keputusan saya untuk menerima tawaran mengajar di STAN tahun lalu adalah keputusan yang berakhir menyenangkan. Saya bersyukur dapat mengalahkan keraguan saya untuk mengajar kembali dan meneriwa tawaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.cartoonstock.com/directory/l/lecturer.asp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-Peb9VfbnaM0/TwVt2GvX3qI/AAAAAAAAElE/TYoa74khhFI/s200/pton167l.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bagaimana dengan tahun ini? Tidak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya sudah memutuskan untuk tidak lagi mengajar di STAN karena materi kuliah yang cocok untuk diajarkan oleh praktisi teknologi informasi (TI) seperti saya itu terbatas. Mata kuliah yang saya ajar sebelumnya memang nyerempet dengan dunia TI, tapi materi yang diajarkan lebih ke arah penggunaan sebuah sistem informasi. Saat mengajar itu saya lebih merasa seperti &lt;i&gt;trainer&lt;/i&gt; dalam sebuah kelas &lt;i&gt;training&lt;/i&gt; ketimbang seorang dosen di sebuah kelas perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya lebih suka mengajar materi kuliah yang &lt;i&gt;TI banget&lt;/i&gt;. Saya membayangkan materi kuliah yang terkait dengan pemrograman, analisa dan desain sistem, manajemen proyek, atau materi-materi lain yang ... &lt;i&gt;TI banget&lt;/i&gt;. Satu hal yang pasti, pengalaman mengajar di STAN itu telah membangkitkan minat mengajar saya yang telah tertidur pulas. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mencari tempat yang mau menerima saya sebagai pengajar dan mencari waktu luang untuk mengajar di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang suami dan ayah dari dua anak laki-laki yang &lt;i&gt;super caper&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8616445944532976263?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8616445944532976263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/mengajar-di-stan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8616445944532976263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8616445944532976263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/mengajar-di-stan.html' title='Mengajar di STAN'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Peb9VfbnaM0/TwVt2GvX3qI/AAAAAAAAElE/TYoa74khhFI/s72-c/pton167l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3205026901859923490</id><published>2012-01-02T16:27:00.001+07:00</published><updated>2012-01-02T16:27:20.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Blogging 2012</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://pedagogy.cwrl.utexas.edu/" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://1.bp.blogspot.com/-qOMf9GKbnHE/TwFQOTb802I/AAAAAAAAEj8/qN0P1tNIShw/s200/blogging.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;2012 telah tiba. Sebagai seorang &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt;, saya ingin memanfaatkan momentum pergantian tahun ini untuk melihat kembali perjalanan &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; saya; terutama di tahun 2011. Sepertinya ada banyak hal yang dapat saya cuplik dari aktivitas &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; saya tahun lalu. Saya mulai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut saya acungi jempol adalah keberhasilan saya untuk menahan diri dari menghapus blog-blog saya yang tidak lagi saya &lt;i&gt;update&lt;/i&gt;, yaitu &lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/" target="_blank"&gt;islam-awam.blogspot.com&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://bicarapajak.blogspot.com/" target="_blank"&gt;bicarapajak.blogspot.com&lt;/a&gt;. Rupanya masih saja ada pembaca yang mengunjungi kedua blog tersebut. Bahkan sesekali waktu masih saja ada pembaca yang berkenan memberikan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi berasumsi bahwa tulisan-tulisan di dalam kedua blog tersebut masih dapat memberikan manfaat bagi orang lain, walaupun manfaat yang diberikan tidak terlalu besar. Itulah alasannya saya tidak lagi menghapus blog-blog yang tidak lagi saya urus. Sebelumnya saya pernah menghapus beberapa blog dan di dalam blog-blog tersebut ternyata ada beberapa tulisan yang berguna. Saya pun menyesali keputusan saya menghapus blog-blog tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Moving on ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 2 Januari 2012, blog yang masih saya pelihara hanya 3 (tiga): &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/" target="_blank"&gt;blog ini&lt;/a&gt;&amp;nbsp;(Another Story), &lt;a href="http://bagaimana-cara.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Bagaimana Cara&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://alfanaini.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Teknokrasi&lt;/a&gt;. Another Story dan Bagaimana Cara adalah dua blog yang sudah lama saya miliki. Kedua blog tersebut lahir pada tahun 2008 berselang beberapa bulan. Another Story hadir sebagai tempat saya menuangkan tulisan-tulisan yang terkait dengan kehidupan pribadi saya, sementara Bagaimana Cara hadir sebagai tempat saya menuangkan berbagai jenis tips, trik, atau tutorial &lt;b&gt;yang saya buat sendiri&lt;/b&gt;. Saya sengaja menegaskan bagian "yang saya buat sendiri" karena saya tidak ingin Bagaimana Cara berkembang menjadi blog hasil &lt;i&gt;copy-paste&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://blog.weflyspitfires.com/2011/07/18/i-believe-in-blogging/" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="161" src="http://4.bp.blogspot.com/-tJJorij5lIM/TwFe21GxnpI/AAAAAAAAEkI/Sv70ZuP-OB4/s320/I-Think-Therefore-I-Blog.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teknokrasi sendiri adalah blog yang baru lahir. Blog ini saya buat pada bulan Februari 2011 sebagai tempat untuk menuangkan opini saya seputar teknologi informasi dan birokrasi. Sesuai dengan pekerjaan saya sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang berkutat di bidang teknologi informasi, saya rasa Teknokrasi akan menjadi tempat yang tepat untuk menuangkan pengalaman saya yang terkait dengan pekerjaan. Dengan topik "pekerjaan" teralihkan ke Teknokrasi, tulisan-tulisan di Another Story pun semakin personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang suka mengelompokan. Saya paling tidak tahan dengan sesuatu yang campur aduk, kecuali gado-gado, salad, ketoprak, rujak, atau sejenisnya. Inilah alasannya kenapa saya memiliki banyak blog. Saya bermaksud mengarahkan Another Story menjadi blog yang berisi tulisan-tulisan tentang membina keluarga. Jadi, saya sengaja menambah 1 (blog) lagi, yaitu Teknokrasi, untuk memisahkan antara tulisan-tulisan tentang keluarga dengan tulisan-tulisan seputar minat dan profesi saya di bidang teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu serius dan rumit?&amp;nbsp;Itulah saya. Ada hal-hal yang di mata orang lain sepele, tapi bagi saya hal tersebut justru saya urus sepenuh hati. Salah satunya adalah &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;. Blog adalah salah satu ruang bagi saya untuk mengimplementasikan salah satu tujuan hidup saya, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain semaksimal mungkin. Pada awalnya idealisme ini saya tuangkan lewat Bagaimana Cara. Tidak lama kemudian idealisme ini saya tularkan ke Another Story. Teknokrasi pun sama. Blog ini lahir dengan membawa idealisme ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Cara merupakan wujud nyata implementasi idealisme tersebut. Blog yang sampai saat ini baru berisi 50 &lt;i&gt;post&lt;/i&gt; berhasil menembus angka 100.000 &lt;i&gt;page views&lt;/i&gt;. Bagi orang lain, angka 100.000 itu mungkin biasa saja. Bagi saya, angka 100.000 itu adalah pencapaian yang luar biasa. Saya, yang sering menghapus blog saya sendiri ini, tidak pernah menyangka &lt;i&gt;page views&lt;/i&gt; di Bagaimana Cara akan mencapai 6 digit di tahun 2011. Dua &lt;i&gt;post&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;page views&lt;/i&gt; terbanyak adalah&amp;nbsp;&lt;a href="http://bagaimana-cara.blogspot.com/2009/01/membuat-kartu-tanda-pencari-kerja-kartu.html" target="_blank"&gt;Membuat Kartu Tanda Pencari Kerja (Kartu Kuning)&lt;/a&gt; dan&amp;nbsp;&lt;a href="http://bagaimana-cara.blogspot.com/2008/09/urus-stnk-hilang.html" target="_blank"&gt;Urus STNK Hilang&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.famousbloggers.net/" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-tlSRUniawJs/TwFnRS2abVI/AAAAAAAAEkU/mgqQ408QSX0/s1600/popular-posts.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Another Story sendiri memang tidak selaris Bagaimana Cara, tapi dari sisi interaksi (komentar yang diberikan pembaca) tidak tertinggal terlalu jauh dari Bagaimana Cara. Kelihatannya banyak pembaca lebih senang membicarakan hal-hal yang personal (di Another Story) dibandingkan dengan hal-hal yang formal (di Bagaimana Cara). Semoga saja Another Story dan Bagaimana Cara akan terus berkembang. Perihal Teknokrasi, kita tunggu saja tanggal mainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu saya pikirkan sekarang adalah bagaimana cara meluangkan waktu untuk &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;. Prioritas saya tentu saja ada pada keluarga dan pekerjaan. Sampai saat ini saya masih mampu mencuri waktu istirahat di kantor dan di rumah untuk menulis, tapi tetap saja aktivitas &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; saya jauh dari konsisten. 15 &lt;i&gt;post&lt;/i&gt; yang saya buat untuk Bagaimana Cara di tahun 2011 tidak tersebar merata di setiap bulan, padahal saya bermaksud untuk mempublikasikan minimal 1 setiap bulan. Saya sepertinya kesulitan membagi waktu untuk 3 (tiga) blog. Hal ini terlihat jelas dari timpangnya jumlah &lt;i&gt;post&lt;/i&gt; di masing-masing blog: 53 untuk Another Story, 15 untuk Bagaimana Cara, dan 13 untuk Teknokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimpangan ini kadang menjadi dilema. Keinginan saya untuk memisahkan blog sesuai tema terbentur dengan keinginan saya untuk menghasilkan tulisan dengan konsisten. Akhirnya saya memenangkan keinginan untuk memisahkan blog itu dengan harapan dapat membagi waktu &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; saya dengan lebih baik lagi. Tetap saja yang saya utamakan adalah tercapainya tujuan saya dengan menulis di blog, yaitu menjadi seorang &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; yang memberikan manfaat lewat tulisan karyanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi tidak ingin menjadi &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; yang terobsesi dengan statistik. Memang benar statistik seperti yang saya paparkan di atas menjadi &lt;i&gt;ego-booster&lt;/i&gt; tersendiri bagi saya, tapi saya tidak ingin gelap mata dan dikendalikan oleh keinginan untuk membuat blog yang populer. Justru yang benar-benar memberikan rasa puas bagi diri saya adalah komentar-komentar yang, baik secara eksplisit maupun implisit, menyatakan bahwa tulisan saya memang benar-benar memberikan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di tahun 2012 ini saya masih bisa mempertahankan blog-blog saya beserta idealisme di balik mereka. Semoga Another Story, Bagaimana Cara, dan Teknokrasi semakin kaya dengan tulisan-tulisan yang informatif, edukatif, stimulatif, dan "-if -if" positif lainnya. Semoga saya dapat terus bertahan menjadi seorang &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang memberikan manfaat lewat tulisannya. &lt;i&gt;Aamiin.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3205026901859923490?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3205026901859923490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/blogging-2012.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3205026901859923490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3205026901859923490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2012/01/blogging-2012.html' title='Blogging 2012'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-qOMf9GKbnHE/TwFQOTb802I/AAAAAAAAEj8/qN0P1tNIShw/s72-c/blogging.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7360938409484318166</id><published>2011-12-26T22:31:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekreasi'/><title type='text'>Jalan-jalan Ke TMII - Hari 3</title><content type='html'>Akhirnya acara liburan keluarga pun sampai pada hari terakhir. Hari terakhir liburan keluarga ini pun kami habiskan di TMII. Berbeda dengan kemarin, hari ini kami hanya akan menghabiskan setengah hari saja di TMII karena kami tidak ingin kembali ke rumah terlalu malam. Walau bagaimana pun, besok adalah hari kerja dan kami butuh waktu untuk beristirahat sebelum kembali ke rutinitas harian (baca: menghadapi kemacetan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung waktu kami terbatas, kami batasi kunjungan kami ke beberapa tempat saja, yaitu Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia (MFIKTR), Aeromovel, dan Istana Anak-Anak. Semua tempat ini lokasinya berdekatan dengan Hotel Desa Wisata tempat kami menginap. Alhasil semua tempat itu dapat kami tuju hanya dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah MFIKTR. Tiket masuk ke dalam museum ini hanya &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 10.000&lt;/span&gt; per orang. Seperti namanya, museum ini berisi berbagai patung fauna Indonesia yang tersebar di 2 (dua) lantai. Sayangnya berbagai patung fauna ini tersimpan di balik kaca dan cahaya di dalam museum pun redup. &lt;i&gt;Compact camera&lt;/i&gt; saya pun kesulitan mengambil foto yang baik di dalam museum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-puFv2y-lMEk/Tvh-8WOjexI/AAAAAAAAEhA/9c0R5aLtavc/s1600/DSCN7073.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-puFv2y-lMEk/Tvh-8WOjexI/AAAAAAAAEhA/9c0R5aLtavc/s320/DSCN7073.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gLHDVqyw2GE/Tvh-4QUaAxI/AAAAAAAAEg8/SVkoChxHXjE/s1600/DSCN7076.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-gLHDVqyw2GE/Tvh-4QUaAxI/AAAAAAAAEg8/SVkoChxHXjE/s320/DSCN7076.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selain beragam patung fauna Indonesia, museum ini juga memelihara beberapa reptilia hidup di bagian luar museum seperti komodo, ular, dan buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LWGnZYcwfQo/Tvh_JBOWxSI/AAAAAAAAEhM/iW9FBHkmOeQ/s1600/DSCN7067.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-LWGnZYcwfQo/Tvh_JBOWxSI/AAAAAAAAEhM/iW9FBHkmOeQ/s320/DSCN7067.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengunjungi MFIKTR, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu stasiun Aeromovel. Saya lupa nama stasiunnya. Yang jelas lokasi stasiun ini tidak jauh dari lokasi MFIKTR. Tiket 1 (satu) kali keliling TMII di atas Aeromovel adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 15.000&lt;/span&gt; per orang. Harga tiketnya memang lebih mahal dari harga tiket Kereta Mini, tapi harganya memang layak lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menaiki Aeromovel ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan menaiki Kereta Mini. Pertama, jalannya Aeromovel tidak terlalu lambat. Kecepatan Aeromovel tidak selambat Kereta Mini, tapi tetap cukup lambat bagi penumpang yang ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Kedua, posisi relnya lebih tinggi. Berbagai anjungan, museum, dan bangunan-bangunan lain itu lebih mudah terlihat dengan menaiki Aeromovel. Sangat berbeda dengan pengalaman menaiki Kereta Mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ketiga saya memilih Aeromovel adalah karena rutenya melewati danau miniatur nusantara. Sayangnya saya sudah sempat melihat danau ini di atas Kereta Gantung sebelumnya. Jadi, nilai tambah Aeromovel yang ini menjadi tidak signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JQA9cEXXUtY/Tvh-oGneqnI/AAAAAAAAEgs/IrebX0Er194/s1600/DSCN7087.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-JQA9cEXXUtY/Tvh-oGneqnI/AAAAAAAAEgs/IrebX0Er194/s320/DSCN7087.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aeromovel (Tampak Luar)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-payVHDcnHCc/Tvh-hMhIWoI/AAAAAAAAEgk/hwkWc_0V1nc/s1600/DSCN7099.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-payVHDcnHCc/Tvh-hMhIWoI/AAAAAAAAEgk/hwkWc_0V1nc/s320/DSCN7099.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aeromovel (Tampak Dalam)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tempat terakhir yang kami kunjungi di TMII ini adalah Istana Anak-Anak. Wahana ini menyediakan berbagai jenis permainan untuk anak seperti &lt;i&gt;Kiddy Boat&lt;/i&gt; (sepeda air), &lt;i&gt;bumper car&lt;/i&gt;, dan berbagai permainan lainnya. Bangunan istananya sendiri cukup menarik untuk dijelajahi. Sayangnya hari sudah menjelang siang sehingga kami memutuskan untuk langsung masuk ke area kolam renang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XTyQA6Cn8k8/Tvh-NOKMoqI/AAAAAAAAEgQ/Zt7oz6mH2fo/s1600/DSCN7107.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-XTyQA6Cn8k8/Tvh-NOKMoqI/AAAAAAAAEgQ/Zt7oz6mH2fo/s320/DSCN7107.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Depan Bangunan Istana&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kHOMW3MTTrg/Tvh-Iuj4RLI/AAAAAAAAEgM/A9sV3qrHH00/s1600/DSCN7108.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-kHOMW3MTTrg/Tvh-Iuj4RLI/AAAAAAAAEgM/A9sV3qrHH00/s320/DSCN7108.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Istana Anak-Anak (Bagian Atas)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tiket masuk ke dalam kolam renang adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 15.000&lt;/span&gt; per orang. Tarifnya berlaku sama untuk anak-anak berusia 3 (tiga) tahun ke atas. Ukuran kolam renangnya cukup besar, tapi tetap saja terbatas. Kolam renangnya hanya ada 1 (satu) buah dan dibagi menjadi 2 (dua) kedalaman, yaitu kedalaman 45 cm dan kedalaman 90 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cN3nXqDd9H8/Tvh-BJMDaJI/AAAAAAAAEgE/jjINu5IiGeI/s1600/DSCN7110.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-cN3nXqDd9H8/Tvh-BJMDaJI/AAAAAAAAEgE/jjINu5IiGeI/s320/DSCN7110.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang kurang nyaman dari kolam renang ini adalah kamar bilasnya. Kamar bilasnya tidak dibatasi oleh sekat-sekat. Setelah selesai berenang (atau berendam?) bersama anak-anak, saya terpaksa mengganti pakaian di toilet. Untungnya toilet tidak terlalu penuh sehingga saya tidak perlu mengantri. Istri saya bahkan memilih untuk bilas di toilet karena kondisi kamar bilas bagian wanita pun sama-sama tidak dibatasi sekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari Istana Anak-Anak, acara liburan keluarga kami pun secara resmi dinyatakan selesai. Kami sekeluarga pun langsung keluar dari TMII untuk kembali ke rumah tanpa mampir ke tempat lain. Alhamdulillaah rangkaian acara liburan kami, baik di TMII, di Sea World, maupun di Ragunan, benar-benar menyenangkan dan penuh kenangan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7360938409484318166?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7360938409484318166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-3.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7360938409484318166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7360938409484318166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-3.html' title='Jalan-jalan Ke TMII - Hari 3'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-puFv2y-lMEk/Tvh-8WOjexI/AAAAAAAAEhA/9c0R5aLtavc/s72-c/DSCN7073.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3634295776799357906</id><published>2011-12-26T06:49:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekreasi'/><title type='text'>Jalan-jalan Ke TMII - Hari 2</title><content type='html'>Kemarin adalah hari ke-2 kunjungan kami di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Selepas mengantri di kamar mandi (1 kamar mandi, sekian banyak pengguna) dan sarapan di restoran Hotel Desa Wisata, kami langsung melanjutkan wisata kami di seputar TMII. Antrian kamar mandi tidak kami antisipasi dengan baik. Alhasil kami baru mulai keliling TMII di atas jam 9 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pertama adalah &lt;i&gt;Sky Lift&lt;/i&gt; atau bahasa gaulnya Kereta Gantung. Tarif masuk Kereta Gantung ini &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 25.000&lt;/span&gt; per orang termasuk anak-anak, kecuali anak-anak dengan tinggi 85 cm atau kurang. Ternyata antrian untuk Kereta Gantung ini sudah mulai ramai. Cukup lama juga kami mengantri untuk menaiki Kereta Gantung ini. Untungnya semua biaya dan energi yang dikeluarkan untuk menaiki Kereta Gantung ini tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YBUiab_KioA/Tvc-pWIlt0I/AAAAAAAAEfQ/ZsH7FORrl_o/s1600/DSCN6990.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-YBUiab_KioA/Tvc-pWIlt0I/AAAAAAAAEfQ/ZsH7FORrl_o/s320/DSCN6990.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kereta Gantung Siap Meluncur&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Rt9ydg6ZTYY/Tvc-nnCH-pI/AAAAAAAAEfM/qVUiaubKwhM/s1600/DSCN6995.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-Rt9ydg6ZTYY/Tvc-nnCH-pI/AAAAAAAAEfM/qVUiaubKwhM/s320/DSCN6995.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;10 Detik Menuju Peluncuran&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Hanya dari atas Kereta Gantung ini kita bisa melihat hampir seluruh wilayah TMII yang luas itu. Kenapa hampir? Karena wahana ini memiliki 2 (dua) rute yang berbeda. Kalau benar-benar ingin melihat seluruh wilayah TMII, kita perlu mencoba kedua rute tersebut. Satu hal yang pasti, setiap rute ini memungkinkan kita melintas di atas danau dengan pulau-pulau buatan yang menyerupai seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kAndQlY_E4E/Tvc-jH88RDI/AAAAAAAAEfA/Ue-uxnRNC_Y/s1600/DSCN6999.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-kAndQlY_E4E/Tvc-jH88RDI/AAAAAAAAEfA/Ue-uxnRNC_Y/s320/DSCN6999.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kalimantan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xHGAGpH7c6c/Tvc-h1dxolI/AAAAAAAAEe8/Ye9EgzG2hF0/s1600/DSCN7000.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-xHGAGpH7c6c/Tvc-h1dxolI/AAAAAAAAEe8/Ye9EgzG2hF0/s320/DSCN7000.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sulawesi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4KMuyA2NnOY/Tvc-kZWOUfI/AAAAAAAAEfE/CfjRPmNgXzg/s1600/DSCN6998.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-4KMuyA2NnOY/Tvc-kZWOUfI/AAAAAAAAEfE/CfjRPmNgXzg/s320/DSCN6998.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumatera dan Jawa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di rute yang sama, kami pun melintas di atas area Istana Anak-Anak. &lt;i&gt;As the name implies&lt;/i&gt;, Istana Anak-Anak ini termasuk arena bermain skala besar yang menyediakan berbagai variasi hiburan untuk anak-anak. Otomatis Istana Anak-Anak ini masuk ke dalam &lt;i&gt;wishlist&lt;/i&gt; atau bahkan &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; kami selama kunjungan kami di TMII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-umb-GX7K5V0/Tvc-dD8XPPI/AAAAAAAAEew/yuBbH8AT81s/s1600/DSCN7003.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-umb-GX7K5V0/Tvc-dD8XPPI/AAAAAAAAEew/yuBbH8AT81s/s320/DSCN7003.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Istana Anak-Anak (Bagian Depan)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3EKsRiA7pyg/Tvc-Z3nm67I/AAAAAAAAEeo/GiMCw-qfpJ8/s1600/DSCN7007.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-3EKsRiA7pyg/Tvc-Z3nm67I/AAAAAAAAEeo/GiMCw-qfpJ8/s320/DSCN7007.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Istana Anak-Anak (Bagian Dalam)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Selepas dari Kereta Gantung, kami lanjutkan ke Kereta Mini. Kali ini kami benar-benar ingin mengelilingi TMII tanpa harus mengendarai kendaraan pribadi. Tarif Kereta Mini untuk 1 kali perjalanan adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 10.000&lt;/span&gt;. Dapat dikatakan bahwa Kereta Mini ini adalah sarana transportasi murah meriah untuk 1 kali perjalanan keliling TMII. Sayangnya harapan kami terhadap Kereta Mini ini agak jauh panggang dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-woSa_0sN1n4/Tvc-QXqqgkI/AAAAAAAAEeY/hYT75CICBgI/s1600/DSCN7026.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-woSa_0sN1n4/Tvc-QXqqgkI/AAAAAAAAEeY/hYT75CICBgI/s320/DSCN7026.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tiket Kereta Mini&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Rk0UiCKqurY/Tvc-Ox-aeNI/AAAAAAAAEeU/RTCATAUXTXo/s1600/DSCN7030.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-Rk0UiCKqurY/Tvc-Ox-aeNI/AAAAAAAAEeU/RTCATAUXTXo/s320/DSCN7030.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kereta Mini Siap Mengangkut Penumpang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xT5gN98CAIQ/Tvc-KVvaq-I/AAAAAAAAEeM/BCs_6zXkhsc/s1600/DSCN7034.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-xT5gN98CAIQ/Tvc-KVvaq-I/AAAAAAAAEeM/BCs_6zXkhsc/s320/DSCN7034.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penumpang Mini dan Bangku Metro Mini&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Yang menjadi alasan kekecewaan kami adalah kondisi keretanya yang "usang". Menaiki Kereta Mini ini seolah-olah sedang menaiki kereta api kelas ekonomi. Mulai dari berdesak-desakan saat masuk kereta, bangku dan interior kereta yang tidak terawat, kereta yang jalannya lambat (bahkan sempat berhenti dan membuat kami berpikir bahwa keretanya mogok), dan berbagai isu lain yang membuat kami merasa sedang melakukan simulasi mudik pulang kampung di waktu Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, lambatnya kereta ini memungkinkan saya untuk mengambil foto dari museum-museum, anjungan-anjungan, dan wahana-wahana lainnya yang kami lewati. Sangat berbeda dengan Kereta Keliling yang kami naiki saat &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-ragunan.html"&gt;berkunjung ke Ragunan&lt;/a&gt; beberapa hari yang lalu. Di atas Kereta Keliling Ragunan itu saya tidak sempat mengambil foto sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, saya pribadi merasa bahwa Kereta Mini di TMII ini terlalu lambat. Setelah setengah perjalanan di atas Kereta Mini ini, rasa bosan pun mulai muncul. Tidak lama kemudian, saya pun tertidur dan kembali terbangun saat Kereta Mini ini sudah hampir tiba di lokasi awal tempat kami berangkat. &lt;i&gt;Bored to the max ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang terasa berbeda dari TMII pada hari ini adalah ... macetnya. Mungkin memang tanggal 25 Desember ini adalah puncaknya kunjungan ke TMII. Lalu-lintas di dalam lingkungan TMII pun ekstra padat merayap. Setelah kami&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_LA0fOy_A_0/Tvc9-6YGfHI/AAAAAAAAEdw/YKklMrYpLU0/s1600/DSCN7047.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-_LA0fOy_A_0/Tvc9-6YGfHI/AAAAAAAAEdw/YKklMrYpLU0/s320/DSCN7047.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Keong Emas&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Menjelang sore, kami menyempatkan diri mengunjungi Keong Emas. Kami tiba di sana sekitar pukul 16.30. Tepat waktu untuk pemutaran film pukul 17.00, yaitu film berjudul T-Rex. Teater Imax di Keong Emas ini memiliki layar paling lebar yang pernah saya temukan. Menonton film di dalam bioskop ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Sayang durasi filmnya terlalu singkat untuk tiket masuk seharga &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 30.000&lt;/span&gt; per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HglGyJ1tz3k/Tvc99cAWmhI/AAAAAAAAEds/f7bia5L_298/s1600/DSCN7051.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-HglGyJ1tz3k/Tvc99cAWmhI/AAAAAAAAEds/f7bia5L_298/s320/DSCN7051.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bergaya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Secara keseluruhan, hari ke-2 di TMII ini tetap layak dikenang. Mulai dari melayang di atas TMII dengan Kereta Gantung, bosan dan tertidur di Kereta Mini, terjebak macet di tengah-tengah berbagai rumah adat, sampai menonton dinosaurus di Keong Emas. Sebuah kumpulan kenangan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YnlQreKEfqY/Tvc97d7IqtI/AAAAAAAAEdo/VWeepkmnQQg/s1600/DSCN7053.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-YnlQreKEfqY/Tvc97d7IqtI/AAAAAAAAEdo/VWeepkmnQQg/s320/DSCN7053.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Di Depan (Poster) Keong Emas&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3634295776799357906?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3634295776799357906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3634295776799357906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3634295776799357906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-2.html' title='Jalan-jalan Ke TMII - Hari 2'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YBUiab_KioA/Tvc-pWIlt0I/AAAAAAAAEfQ/ZsH7FORrl_o/s72-c/DSCN6990.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-478625802681388151</id><published>2011-12-24T23:00:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.144+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekreasi'/><title type='text'>Jalan-jalan Ke TMII - Hari 1</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Dd-iFi-BvKo/TvX7whGSLrI/AAAAAAAAEdk/s1s8bspt3bs/s1600/DSCN6902.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-Dd-iFi-BvKo/TvX7whGSLrI/AAAAAAAAEdk/s1s8bspt3bs/s200/DSCN6902.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Harga Tiket Tanda Masuk TMII&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tak disangka rekreasi kami masih berlanjut. Siang tadi kami sekeluarga ikut rekreasi bersama keluarga besar ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Kami tiba di TMII sekitar pukul 3 sore. Setelah sempat putar-putar TMII karena tidak tahu arah, akhirnya kami tiba di Hotel Desa Wisata tempat kami berencana menginap. Kami menginap di salah satu &lt;i&gt;cottage&lt;/i&gt; di area Desa Wisata; bukan di bagian hotelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang kami lakukan di TMII hari ini. Sesampainya di tempat penginapan, waktu kami habiskan untuk &lt;i&gt;unpack&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan istirahat. Kami lebih banyak menghabiskan waktu bermain-main di area &lt;i&gt;cottage&lt;/i&gt; bersama anak-anak. Di saat seperti ini, kehadiran sebuah bola menjadi penyelamat karena anak-anak memiliki bahan untuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-amR4U3PAIZQ/TvX7q0QHFRI/AAAAAAAAEdU/uzjxzAlN-bY/s1600/DSCN6921.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-amR4U3PAIZQ/TvX7q0QHFRI/AAAAAAAAEdU/uzjxzAlN-bY/s320/DSCN6921.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cottage (Desa Wisata)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-XFK0CkVoPfQ/TvX7pSs4MtI/AAAAAAAAEdQ/YFQSRvZxEQI/s1600/DSCN6933.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-XFK0CkVoPfQ/TvX7pSs4MtI/AAAAAAAAEdQ/YFQSRvZxEQI/s320/DSCN6933.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Danau / Tempat Memancing (Desa Wisata)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Malamnya kami menyempatkan diri untuk berkeliling TMII. Berhubung kami baru mulai jalan pukul 8 malam, semua area atraksi sudah dipastikan tutup. Saya sempat heran karena di pintu masuk TMII itu jelas-jelas tertulis bahwa TMII itu buka dari pukul 07.00 s.d. pukul 22.00. Rupanya jam buka itu hanya berlaku untuk TMII saja; bukan untuk atraksinya. &lt;i&gt;Ya iyalah ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2qNTjvZQjsc/TvX7mPp9G1I/AAAAAAAAEdI/K4qcIm4JT2c/s1600/DSCN6967.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-2qNTjvZQjsc/TvX7mPp9G1I/AAAAAAAAEdI/K4qcIm4JT2c/s320/DSCN6967.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kelenteng Kong Miao (TMII)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Supaya perjalanan keliling TMII malam-malam ini tidak sia-sia, kami pun mampir ke sebuah tempat makan di dalam TMII; tepatnya di depan Kelenteng Kong Miao. Setelah menyantap mie instan dan minuman hangat, kami pun kembali ke tempat penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zOA0GqRkJhQ/TvX7igGSIqI/AAAAAAAAEdA/g0dunnniV38/s1600/DSCN6973.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-zOA0GqRkJhQ/TvX7igGSIqI/AAAAAAAAEdA/g0dunnniV38/s320/DSCN6973.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Raito dan Aidan Menunggu Pesanan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-478625802681388151?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/478625802681388151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-1.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/478625802681388151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/478625802681388151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-tmii-hari-1.html' title='Jalan-jalan Ke TMII - Hari 1'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Dd-iFi-BvKo/TvX7whGSLrI/AAAAAAAAEdk/s1s8bspt3bs/s72-c/DSCN6902.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5137673862876544929</id><published>2011-12-23T22:21:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.150+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekreasi'/><title type='text'>Jalan-jalan Ke Sea World</title><content type='html'>Saya, istri, dan anak-anak berkunjung ke Sea World kemarin (hari Kamis, 22 Desember 2011) sebagai bagian dari rangkaian rekreasi keluarga selama saya mengambil cuti. Sebelumnya kami sekeluarga &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-ragunan.html"&gt;berkunjung ke Kebun Binatang atau Taman Margasatwa Ragunan&lt;/a&gt;. Dua tempat ini sengaja kami kunjungi agar anak-anak kami dapat melihat binatang-binatang yang biasa mereka lihat di televisi itu secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_ThDc91PIRo/TvP97UkDq5I/AAAAAAAAEcw/k0u20BrJeAg/s1600/DSCN6882.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-_ThDc91PIRo/TvP97UkDq5I/AAAAAAAAEcw/k0u20BrJeAg/s400/DSCN6882.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ke Sea World sangat berbeda dengan pengalaman ke Ragunan. Pertama, masalah lalu-lintas. Tempat tinggal kami ada di Serpon sementara Sea World ada di Jakarta Utara. Jalur tol ke arah Sea World (Ancol) itu super macet karena dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan berat. Berbeda sekali dengan jalur tol ke arah Ragunan, yaitu tol JORR. Mungkin juga saya berangkat terlalu siang sehingga jalur tol ke arah Sea World sudah macet bukan kepalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, masalah biaya. Biaya masuk ke area Ancol saja sudah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 15.000&lt;/span&gt; per orang; belum termasuk kendaraan. Setelah itu, biaya masuk ke Sea World itu &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 70.000&lt;/span&gt; per orang. Hanya anak usia di bawah usia 3 tahun yang diperbolehkan masuk gratis. Apa mungkin ada peningkatan tarif menjelang liburan? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-v1Xen4djiBo/TvP9Q7lEruI/AAAAAAAAEb4/LVyKlRQ4NZ0/s1600/DSCN6806.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-v1Xen4djiBo/TvP9Q7lEruI/AAAAAAAAEb4/LVyKlRQ4NZ0/s200/DSCN6806.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Piranha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Untungnya kunjungan ke Sea World ini tidak mengecewakan. Raito dan Aidan benar-benar senang melihat berbagai jenis ikan yang ada di situ. Memang &lt;i&gt;feeling&lt;/i&gt; yang didapat dengan melihat binatang secara langsung itu berbeda&amp;nbsp;walaupun hanya dari balik kaca. Pengalaman bersama ikan-ikan ini tentu akan lebih seru lagi kalau kami ikut paket &lt;i&gt;diving&lt;/i&gt;. Jadi, kami bisa berinteraksi langsung dengan ikan-ikan itu. Untungnya Raito dan Aidan masih kecil sehingga saya tidak perlu merogoh kantong lebih dalam lagi untuk paket &lt;i&gt;diving&lt;/i&gt; ini. &lt;i&gt;Phew ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua akuarium ikan yang tersedia di Sea World, akuarium hiu yang paling menarik perhatian Raito dan Aidan. Mereka suka sekali melihat belasan hiu mondar-mandir di dalam akuarium mereka walaupun mereka sesekali mengaku takut melihat hiu-hiu itu. Entah memang mereka benar-benar takut atau sekedar bersandiwara. Hal ini masih menjadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-S6k2AQAYD7E/TvP9g_ZvPuI/AAAAAAAAEcM/u_Re-8YJZHQ/s1600/DSCN6815.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-S6k2AQAYD7E/TvP9g_ZvPuI/AAAAAAAAEcM/u_Re-8YJZHQ/s200/DSCN6815.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penyu (Touch Pool)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Selain berbagai akuarium penuh ikan ini, Sea World menyediakan &lt;b&gt;Touch Pool&lt;/b&gt;. Sesuai namanya, kolam ini adalah kolam terbuka yang memungkinkan pengunjung menyentuh ikan. Binatang yang ada di Touch Pool ini antara lain penyu, ikan hiu, dan ikan pari. Ikan hiu? Betul. Saya sendiri mencoba menyentuh sirip bagian atas salah satu ikan hiu di dalam Touch Pool ini. Alhamdulillah tangan dan jari-jari saya masih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya sayangkan adalah mengambil foto di Sea World itu sulit, apalagi modal saya hanya sebuah &lt;i&gt;compact camera&lt;/i&gt; Nikon Coolpix S200. Mengambil foto tanpa blitz beresiko blur karena cahaya di sekitar akuarium itu redup. Mengambil foto dengan blitz justru membuat foto menjadi terlalu terang. Hampir setiap foto itu saya ambil beberapa kali karena saya sibuk mencoba antara dengan blitz, tanpa blitz, atau utak-atik &lt;i&gt;white balance&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita utama. Selain akuarium dan Touch Pool, Sea World juga menyediakan Antasena. Antasena adalah lorong di bawah sebuah akuarium besar yang dilapisi kaca tebal. Memasuki Antasena ini seolah-olah memasuki terowongan bawah laut. Kita bisa melihat berbagai ikan yang melintas di samping kita atau di atas kepala kita. Seru juga melihat ikan pari dan ikan laut dalam lainnya melintas di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UB6jQcILR90/TvP9r9h3BdI/AAAAAAAAEcc/YH6GsoKQsxQ/s1600/DSCN6843.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-UB6jQcILR90/TvP9r9h3BdI/AAAAAAAAEcc/YH6GsoKQsxQ/s400/DSCN6843.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ikan Pari (Antasena)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sea World juga menyediakan sebuah bioskop kecil yang memutar film tentang kehidupan paus pembunuh. Selain itu, Sea World juga menyediakan BOM: Biota Oseanik (Oceanic) Mortem. Di BOM ini dipajang berbagai "mayat" ikan yang diawetkan. Pajangan paling megah di BOM ini adalah ikan pari besar (saya lupa ukurannya) yang diberi nama Parni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-AekPb2AjOHs/TvP9x4eofII/AAAAAAAAEck/D3So-RIkGAY/s1600/DSCN6857.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-AekPb2AjOHs/TvP9x4eofII/AAAAAAAAEck/D3So-RIkGAY/s320/DSCN6857.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Parni (BOM)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pasca lawatan kami ke BOM, kami mampir sekali lagi ke Antasena sebelum mengucapkan selamat tinggal ke Sea World. Setelah keluar dari Sea World, kami segera makan siang. Untungnya persis di depan Sea World disediakan tempat duduk dan meja dengan tenda kecil. Jadi, bekal makan siang yang kami bawa tidak sia-sia. Setelah makan siang, kami mampir ke masjid setempat untuk melaksanakan shalat dan melanjutkan perjalanan pulang. Tidak ada cerita membeli suvenir karena anggaran jalan-jalan ke Sea World ini sudah habis terpakai untuk biaya masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bLqVTtIrOvw/TvP9Jq6IQzI/AAAAAAAAEbw/-26Bos0qtyA/s1600/DSCN6797.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-bLqVTtIrOvw/TvP9Jq6IQzI/AAAAAAAAEbw/-26Bos0qtyA/s400/DSCN6797.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5137673862876544929?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5137673862876544929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-sea-world.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5137673862876544929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5137673862876544929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-sea-world.html' title='Jalan-jalan Ke Sea World'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_ThDc91PIRo/TvP97UkDq5I/AAAAAAAAEcw/k0u20BrJeAg/s72-c/DSCN6882.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-9107407851690032651</id><published>2011-12-21T21:41:00.000+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:50.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekreasi'/><title type='text'>Jalan-jalan Ke Ragunan</title><content type='html'>Hari ini saya meluangkan waktu untuk mengajak anak-anak saya jalan-jalan ke Ragunan. Pengalaman ini adalah pengalaman pertama Raito dan Aidan melihat binatang secara langsung karena selama ini mereka hanya mengenal binatang lewat televisi dan buku cerita. Terus terang ini pun menjadi pengalaman saya yang pertama mengunjungi kebun binatang Ragunan. &lt;i&gt;Kemane aje Miiir ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan ke Ragunan ini dapat dikatakan &lt;b&gt;tidak&lt;/b&gt; terencana dengan baik. Saya hanya sempat browsing beberapa saat untuk mencari informasi lebih banyak tentang Ragunan. Tujuannya tidak lain agar kunjungan singkat kami ke Ragunan ini tidak hanya diisi dengan jalan-jalan tidak tentu arah. Sayang sekali kalau kunjungan sekali seumur hidup ke Ragunan ini tidak memberi kesan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi kami tiba di kebun binatang Ragunan sekitar pukul 10.15 menggunakan mobil pribadi. Area parkir mobil dan motor sudah ramai dengan kendaraan. Tarif parkir mobil di kebun binatang Ragunan ini sebesar &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 5.500&lt;/span&gt;. Walaupun area parkir sudah ramai, saya tetap tidak mengalami kesulitan mendapatkan tempat parkir. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, saya dan keluarga sudah mengantri di loket karcis masuk. Tarif karcis masuk untuk orang dewasa adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 4.500&lt;/span&gt;, sedangkan untuk anak-anak (3-12 tahun) adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 3.500&lt;/span&gt;. Situasi di sekitar loket karcis dan pintu masuk kebun binatang Ragunan tentu saja ramai. Bukan hanya pengunjung yang memadati area ini, tapi berbagai pedagang mainan anak-anak, tikar (tipis), dan tukang foto ikut hadir meramaikan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Gaa_PbkJ05Q/TvHfx5cyG4I/AAAAAAAAEaI/E01UWCh1jWY/s1600/DSCN6686.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-Gaa_PbkJ05Q/TvHfx5cyG4I/AAAAAAAAEaI/E01UWCh1jWY/s200/DSCN6686.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Setelah masuk, tempat pertama yang kami kunjungi adalah kandang Pelikan. Raito dan Aidan cukup antusias melihat burung Pelikan ini secara langsung. Sayangnya rasa antusias ini tidak bertahan lama. Setelah menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto, kami pun melanjutkan perjalanan untuk melihat binatang-binatang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kami berjalan menuju kandang Merak Hijau. Tidak ada yang spesial di bagian ini. Selanjutnya kami berjalan menuju kandang Gajah Sumatera. Raito dan Aidan sibuk meminta digendong untuk melihat Gajah-gajah Sumatera itu. Tinggi badan mereka masih lebih rendah dari tinggi pagar pembatas kandang. Alhasil saya dan istri masing-masing kebagian menggendong mereka supaya mereka bisa melihat dengan jelas.&amp;nbsp;Dari kandang Gajah, kami menyeberang ke kandang Rusa. Lagi-lagi tidak ada yang spesial di bagian ini. Akhirnya kami memutuskan untuk ikut naik &lt;b&gt;Kereta Keliling&lt;/b&gt;. Harapannya adalah kami bisa melihat area Ragunan secara garis besar dan berbagai binatang lainnya di atas Kereta Keliling tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Ra-vD24V0xA/TvHk02Cl7bI/AAAAAAAAEa4/JsqogC0QRL8/s1600/DSCN6718.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ra-vD24V0xA/TvHk02Cl7bI/AAAAAAAAEa4/JsqogC0QRL8/s200/DSCN6718.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kereta Keliling ini pada dasarnya hanya mobil gandeng. Tarif sekali naik untuk orang dewasa adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 6.500&lt;/span&gt;. Anak-anak 3 tahun ke atas pun tarifnya sama, yaitu &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 6.500&lt;/span&gt;. Sayangnya perjalanan di atas Kereta Keliling ini tidak sesuai harapan. Perjalanannya terbilang cepat dan singkat. Belum sempat saya menikmati perjalanan keliling Ragunan, tiba-tiba Kereta Keliling ini sudah kembali ke tempat semula. Sesi melihat binatang pun kami lakukan sesempatnya saja, yaitu kalau sempat ada binatang yang terlihat saat Kereta Keliling ini melewati kandangnya. Bila ada satu binatang yang sempat saya lihat, saya buru-buru memanggil Raito dan Aidan supaya mereka turut melihat.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Mengecewakan ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-QhjM-qk6Rto/TvHkxCvK5zI/AAAAAAAAEa0/bCG74gbbft8/s1600/DSCN6727.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-QhjM-qk6Rto/TvHkxCvK5zI/AAAAAAAAEa0/bCG74gbbft8/s320/DSCN6727.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Setelah turun dari Kereta Keliling, kami memutuskan untuk mampir ke &lt;b&gt;Pusat Primata Schmutzer&lt;/b&gt;. Pusat Primata Schmutzer ini salah satu tempat yang direkomendasikan saat saya browsing tentang Ragunan di Internet. Dari namanya terlihat megah bukan: Pusat Primata. Tentunya ada banyak primata yang dipelihara di tempat ini, walaupun dari informasi yang saya baca itu yang menjadi atraksi utama adalah Gorila dan Orang Utan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif masuk ke Pusat Primata Schmutzer adalah &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 5.000&lt;/span&gt;; berlaku sama untuk orang dewasa dan anak-anak. Sebagaimana tertulis di berbagai halaman web yang saya temukan lewat Google, daya tarik utama di tempat ini adalah Gorila dan Orang Utan. Kandang untuk Gorila sangat luas walaupun Gorila yang terlihat hanya beberapa ekor saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Orang Utan memiliki area tersendiri yang disebut &lt;b&gt;Dunia Orang Utan&lt;/b&gt;. Pengunjung akan masuk ke dalam sebuah lorong buatan (yang gelap dan ditata seperti gua) dan di beberapa titik dalam lorong tersebut tersedia kaca-kaca besar untuk melihat Orang Utan. Lorong buatan ini cukup sempit dan pada titik-titik tertentu agak &lt;i&gt;njelimet&lt;/i&gt; (berkelok-kelok), tapi kehadirannya memberi nuansa yang berbeda dibandingkan sekedar melongok ke dalam kandang. &lt;i&gt;Thumbs up!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat disayangkan adalah &lt;b&gt;Canopy Bridge&lt;/b&gt; yang ingin saya coba jajaki itu ditutup. Tidak jelas alasan kenapa area ini ditutup. Mungkin Canopy Bridge ini memang hanya dibuka pada hari-hari tertentu saja atau mungkin juga ditutup untuk perbaikan (perawatan). Entahlah. Yang pasti Canopy Bridge ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di dalam Pusat Primata Schmutzer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Pusat Primata Schmutzer, kami mencari masjid untuk shalat zhuhur. Di sini kami mengalami pengalaman pahit. Masjid yang kami hampiri berdasarkan denah Ragunan yang sempat kami lihat di Pusat Informasi itu ternyata ditutup (tidak digunakan). Padahal lokasi masjid ini cukup jauh dan kami sekeluarga pun sudah mulai lelah. Pengalaman ini pun menjadi ujian kesabaran bagi kami seraya kami berbalik arah mencari masjid yang lain. &lt;i&gt;What a pain ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FFHNYUqf_JM/TvHkPEr3k3I/AAAAAAAAEaQ/XA3EbX_mILw/s1600/DSCN6773.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-FFHNYUqf_JM/TvHkPEr3k3I/AAAAAAAAEaQ/XA3EbX_mILw/s320/DSCN6773.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masjid alternatif letaknya cukup jauh dari masjid di atas. Berhubung kami sekeluarga sudah kehabisan energi, kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan singkat ke Ragunan ini. Masjid menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Pasca shalat zhuhur, kami beristirahat di sekitar masjid sambil mencari tempat untuk makan siang. Setelah itu saya dan istri sempat memanjakan Raito dan Aidan dengan mengajak mereka mengendarai mobil-mobilan kecil yang disewakan tidak jauh dari lokasi masjid. Tarif bermain mobil-mobilan kecil ini cukup murah, yaitu &lt;span style="background-color: #e69138;"&gt;Rp. 6.000&lt;/span&gt; untuk sekali naik. Durasinya pun cukup lama sampai-sampai saya sendiri sempat merasa bosan menemani Raito dan Aidan di atas mobil-mobilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan asar pun berkumandang. Shalat asar adalah kegiatan terakhir sebelum kami pergi meninggalkan Ragunan. Secara garis besar, kunjungan ke Ragunan kali ini cukup berkesan. Ada banyak tempat yang sempat kami telusuri di Ragunan ini walaupun pada akhirnya binatang yang kami lihat langsung itu tidak terlalu banyak. Ada juga beberapa "wahana" yang belum sempat kami coba antara lain &lt;b&gt;Wisata Rakit&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Sepeda Air&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ada model transportasi yang lebih nyaman, mungkin kunjungan kami ke Ragunan ini akan lebih memuaskan. Kereta Keliling jelas bukan pilihan dan penyewaan sepeda tandem tidak mungkin menjadi alternatif bagi orang-orang yang membawa anak balita. Seandainya Ragunan menyediakan sejenis kendaraan roda empat seperti kendaraan di padang golf, mungkin saya tidak akan keberatan menyewanya daripada harus kelelahan berjalan kaki; sambil menggendong anak pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, cuti hari pertama ini saya gunakan dengan baik. Saya bisa meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang baru bersama istri dan anak-anak. Alhamdulillah urusan kantor dapat saya lupakan seiring dengan hiburan yang saya dapatkan bersama keluarga. Pengalaman pahit mencari masjid di atas pun berubah menjadi sesuatu yang dapat saya tertawakan bersama istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-iAxFFzLcnnA/TvHlA3PYalI/AAAAAAAAEbg/Qz6aFMoF54s/s1600/DSCN6687.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-iAxFFzLcnnA/TvHlA3PYalI/AAAAAAAAEbg/Qz6aFMoF54s/s400/DSCN6687.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;\&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-9107407851690032651?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/9107407851690032651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-ragunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9107407851690032651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9107407851690032651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/jalan-jalan-ke-ragunan.html' title='Jalan-jalan Ke Ragunan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Gaa_PbkJ05Q/TvHfx5cyG4I/AAAAAAAAEaI/E01UWCh1jWY/s72-c/DSCN6686.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5905658302353691002</id><published>2011-12-21T06:50:00.000+07:00</published><updated>2011-12-21T06:50:43.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Al-Anfaal</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/Amutulla7" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-zLvU_9XWdMM/TvEe3mGiSlI/AAAAAAAAEZo/vdhSFA0TqHE/s1600/300273_194560353939490_102145893180937_498325_6117890_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam bahasa Indonesia, Al-Anfaal berarti Rampasan Perang. Dari namanya saja kita sudah dapat menduga bahwa isi surat Al-Anfaal secara mayoritas terkait dengan peperangan antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin. Perang yang disebutkan secara eksplisit di dalam surat ke-8 dalam Al-Qur'an ini adalah Perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat seputar perang Badar ini menjelaskan bagaimana kondisi kaum Muslimin dan kondisi kaum Musyrikin saat berperang. Selain itu, Allah menyampaikan pula bagaimana Allah telah memungkinkan kaum Muslimin untuk memenangkan perang Badar ini, baik secara fisik maupun mental. Kemenangan kaum Muslimin di perang Badar ini pun menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu diperhatikan di antara rangkaian ayat-ayat tentang peperangan ini adalah bahwasanya kaum Muslimin diperintahkan untuk memilih perdamaian. Alasan kaum Muslimin berperang hanyalah untuk melawan kaum Musyrikin yang memang berniat memerangi kaum Muslimin. Bila kaum Musyrikin memilih untuk berdamai, maka kaum Muslimin pun harus mengutamakan perdamaian. Hal ini tertuang di dalam ayat 61 (saya cantumkan di bagian bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari surat Al-Anfaal ini adalah kobaran semangat yang dimiliki kaum Muslimin (dengan ijin Allah) saat maju untuk berperang demi mempertahankan agama Islam. Semangat kaum Muslimin ini ikut membakar semangat di dalam diri saya. Tentu saja bukan semangat untuk berperang, tapi semangat untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik demi mengabdi kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja yang bisa saya sampaikan terkait pelajaran yang saya ambil dari membaca terjemah surat Al-Anfaal. Berikut ini adalah kumpulan ayat-ayat yang saya kutip dari surat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt; ialah mereka yang bila disebut nama Allah&lt;sup&gt;[2]&lt;/sup&gt; gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfaal:2)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfaal:15-16)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfaal:28)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfaal:46)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. Al-Anfaal:48)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfaal:61)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: orang yang sempurna imannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[2]&lt;/sup&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5905658302353691002?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5905658302353691002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/al-anfaal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5905658302353691002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5905658302353691002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/al-anfaal.html' title='Al-Anfaal'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zLvU_9XWdMM/TvEe3mGiSlI/AAAAAAAAEZo/vdhSFA0TqHE/s72-c/300273_194560353939490_102145893180937_498325_6117890_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2878687035000919901</id><published>2011-12-17T09:11:00.000+07:00</published><updated>2011-12-17T09:11:19.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Kutipan dari surat Al-A'raaf</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i216.photobucket.com/albums/cc253/veruniatko/quran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://1.bp.blogspot.com/-ynzn_9AnDe0/TuvsUHc6D-I/AAAAAAAAEZY/aOT7z7cQhSQ/s200/quran.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Surat ke-7 dalam Al-Qur'an, yaitu surat Al-A'raaf, menyimpan banyak firman Allah tentang kehidupan para nabi (dan umat mereka masing-masing). Yang pertama adalah ayat-ayat tentang kehidupan Nabi Adam a.s., yaitu penghargaan Allah s.w.t. kepada Nabi Adam a.s. dan keturunannya dalam ayat 11 s.d. 25 dan peringatan Allah terhadap godaan Syaitan dalam ayat 26 s.d. 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selanjutnya Allah berfirman tentang pengutusan para rasul dan akibat penerimaan dan penolakan kerasulan dalam ayat 34 s.d. 53. Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat dahsyat yang menggambarkan perbedaan nasib antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman; gambaran surga dan neraka serta para calon penghuninya. Layak baca!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah ayat-ayat yang berisi kisah (singkat) mengenai kehidupan beberapa orang nabi, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Nuh a.s.: ayat 59 s.d. 64&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Hud a.s.: ayat 65 s.d. 72&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Shaleh a.s.: ayat 73 s.d. 79&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Luth a.s.: ayat 80 s.d. 84&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Syu'aib a.s.: ayat 85 s.d. 93&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Nabi Musa a.s.: ayat 103 s.d. 155&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Setiap kisah kehidupan para nabi yang tercantum di atas memiliki kesamaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menceritakan penolakan masing-masing kaum terhadap petunjuk dan peringatan Allah melalui nabi-nabi yang diutus kepada mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menceritakan bagaimana masing-masing kaum tidak sekedar membangkang, tapi juga menantang datangnya azab Allah kepada mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menceritakan bagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikut-pengikutnya saat Allah menurunkan azab ke tengah-tengah masing-masing kaum.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;Hanya itu saja yang dapat saya sampaikan dari pengalaman saya membaca terjemahan surat Al-A'raaf. Di bawah ini adalah beberapa ayat yang sengaja saya kutip dari surat tersebut:&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A'raaf:10)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-A'raaf:17)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Hai anak Adam&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa&lt;sup&gt;[2]&lt;/sup&gt; itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al-A'raaf:26)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid&lt;sup&gt;[3]&lt;/sup&gt;, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan&lt;sup&gt;[4]&lt;/sup&gt;. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A'raaf:31)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-A'raaf:33)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu&lt;sup&gt;[5]&lt;/sup&gt;; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A'raaf:34)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al-A'raaf:51)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas&lt;sup&gt;[6]&lt;/sup&gt;. (QS. Al-A'raaf:55)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-A'raaf:153)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raaf:179)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A'raaf:187)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya ialah: umat manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[2]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya ialah: selalu bertakwa kepada Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[3]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling Ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[4]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[5]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[6]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2878687035000919901?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2878687035000919901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/kutipan-dari-surat-al-araaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2878687035000919901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2878687035000919901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/kutipan-dari-surat-al-araaf.html' title='Kutipan dari surat Al-A&apos;raaf'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ynzn_9AnDe0/TuvsUHc6D-I/AAAAAAAAEZY/aOT7z7cQhSQ/s72-c/quran.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3460070474667765326</id><published>2011-12-14T16:09:00.000+07:00</published><updated>2011-12-14T16:09:45.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berkendara'/><title type='text'>Belajar dari Kecelakaan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.clker.com/clipart-car-accident-collision.html" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://4.bp.blogspot.com/-7LexFeASYXM/TuhULLvmgqI/AAAAAAAAEYs/EieGg05Rbh0/s200/car-accident-collision-md.png" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tadi pagi, saat saya sedang mengendarai motor saya menuju kantor, saya melihat sebuah taksi dalam posisi terbalik di pinggir jalan atau lebih tepatnya di dalam sebuah selokan. Selokan? Bukan selokan kecil yang biasa ada di depan rumah. Selokan yang saya maksud di sini sebenarnya cukup lebar untuk menampung sebuah sedan. Entah apa namanya, tapi tulisan ini tidak ditujukan untuk menjelaskan selokan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pagi, saat saya sedang mengendarai motor saya menuju kantor, sebuah angkot menabrak saya. Saat itu kendaraan-kendaraan dari arah yang sama dengan saya sedang berhenti untuk memberi jalan kendaraan dari arah lain. Saya sedang melaju perlahan di sisi kanan saat angkot itu tiba-tiba memutar arah dan BRAK! Saya mencoba menahan rem dan menghindar tapi tabrakan tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari sebelum kemarin, saat saya sedang mengendarai motor saya menuju kantor, tidak terjadi insiden apa pun. Alhamdulillah. Tapi rentetan kejadian itu mengingatkan saya pada insiden-insiden lain yang saya alami sebelumnya. Pernah suatu ketika mobil saya diserempet oleh mobil lain yang melaju dari arah berlawanan. Mobil itu melaju di luar lajurnya dan saya tidak bisa menghindar karena ukuran jalan pun pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih ada berbagai insiden lain yang saya alami, baik saya sebagai korban maupun saya sebagai pelaku. Dari setiap insiden itu saya senantiasa belajar bagaimana mengemudi dengan baik dan bertanggung jawab, baik sebagai pengendara motor maupun sebagai pengendara mobil. Saya senantiasa belajar bagaimana menjadi pengendara yang tertib berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama tahu bahwa saat kita berada di belakang kemudi itu kita sedang memikul tanggung jawab untuk menjaga ketertiban dalam berkendara. Ketertiban dalam berkendara ini tentu saja bertujuan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan di jalan raya. Jadi pada dasarnya tanggung jawab kita di jalan raya itu tidak hanya terhadap nyawa kita sendiri, tapi juga nyawa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Ketertiban lalu-lintas tidak akan pernah terwujud tanpa ada kesadaran dari setiap pengendara untuk mematuhi peraturan dan menghargai hak pengguna jalan yang lain.&lt;/div&gt;Setiap pengendara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bersama. Oleh karena itu, perilaku egois sebaiknya tidak hadir saat kita sedang berada di belakang kemudi. Kita perlu mengedepankan empati kita terhadap pengendara lain. Kita perlu hindari sikap "mau enak sendiri" dan mulai memikirkan pengguna jalan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya segudang peraturan lalu-lintas kalau kita hidup untuk melanggar peraturan-peraturan itu. Apalah artinya kehadiran polisi lalu-lintas kalau kita sendiri tidak pernah mau diatur. Apalah artinya lampu-lampu lalu-lintas kalau kita main terobos tanpa lihat kiri-kanan depan-belakang. Ketertiban lalu-lintas tidak akan pernah terwujud tanpa ada kesadaran dari setiap pengguna jalan untuk mematuhi peraturan dan menghargai hak pengguna jalan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat kita perbaiki dari cara mengemudi kita demi menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bersama itu. Mulai dari mengutamakan keselamatan ketimbang kecepatan, mendahulukan mematuhi peraturan lalu-lintas ketimbang melanggarnya, mengedepankan kesabaran ketimbang emosi saat menyikapi pengguna jalan yang lain, membiasakan memberi jalan ketimbang terus-menerus meminta jalan, atau sikap-sikap lain yang menjadikan kenyamanan dan keamanan bersama sebagai prioritas; dan bukan kenyamanan dan keamanan pribadi saja. Kemungkinan perubahan yang dapat kita lakukan dalam hal ini benar-benar tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja yang utama adalah menumbuhkan kesadaran berkendara itu sendiri. Bila kesadaran untuk mengutamakan kepentingan bersama ini sudah terbentuk, aturan-aturan seperti larangan menggunakan &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; saat mengemudi pun akan mudah dipatuhi. Bila kesadaran ini sudah terbentuk, kenyamanan dan keamanan berkendara akan mudah dicapai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3460070474667765326?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3460070474667765326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-kecelakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3460070474667765326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3460070474667765326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-kecelakaan.html' title='Belajar dari Kecelakaan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-7LexFeASYXM/TuhULLvmgqI/AAAAAAAAEYs/EieGg05Rbh0/s72-c/car-accident-collision-md.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7254520582042418771</id><published>2011-11-28T15:48:00.001+07:00</published><updated>2011-12-08T09:54:05.277+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>3 Jam Bersama Rasulullah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.fold3.com/document/239269101/" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://2.bp.blogspot.com/-l-sh0Ea_zOQ/TtNLQY9mpVI/AAAAAAAAEX4/FB--Aa0hPqY/s200/0_0_1944_1561.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dua hal yang saya rasa perlu saya lakukan sebelum saya meninggal dunia adalah membaca terjemah Al-Qur'an sampai selesai dan membaca kitab Sirah Nabawiyah. Yang pertama, yaitu membaca terjemah &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/search/label/Al-Qur%27an"&gt;Al-Qur'an&lt;/a&gt;, masih berjalan sampai surat keenam (Al-An'aam). Sementara yang kedua, yaitu membaca kitab Sirah Nabawiyah, belum saya mulai sama sekali. Kedua hal tersebut saya perlu saya lakukan demi pemahaman yang lebih komprehensif terhadap Islam. Saya yakin saya akan menjadi seorang Muslim yang lebih baik bila saya mampu memahami firman-firman Allah dan mengenal karakter dan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.&amp;nbsp;Alhamdulillah saya menemukan sebuah alternatif untuk Sirah Nabawiyah, yaitu film &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0074896/" target="_blank"&gt;The Message&lt;/a&gt;. Kata "alternatif" rasanya kurang tepat, tapi film ini berhasil memberikan pengalaman yang luar biasa dalam usaha saya mengenal Rasulullah Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film The Message ini merupakan ringkasan &lt;i&gt;super singkat&lt;/i&gt; dari perjalanan panjang kehidupan Rasulullah Muhammad SAW mulai dari turunnya wahyu untuk pertama kalinya sampai dengan haji terakhir beliau. Beberapa peristiwa penting dalam sejarah kenabian ada di dalam film ini antara lain hijrah ke Habasyah, usaha pembunuhan Rasulullah, hijrah ke Madinah, perang Badr, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, dan penaklukan kembali kota Makkah oleh kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam film ini benar-benar mengena di hati saya. Yang pertama adalah cerita tentang penindasan terhadap orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Di dalam film ini digambarkan keteguhan hati orang-orang yang bersedia memeluk Islam sampai mereka rela meregang nyawa untuk mempertahankan Islam di dalam hati mereka. Berikutnya adalah perjalanan panjang menuju Habasyah yang dilakukan kaum Muslimin untuk menghindari berbagai siksaan dari masyarakat di kota Makkah. Banyak sekali gambaran penderitaan kaum Muslimin pada masa ini sampai saya pun tersadar untuk bersyukur bahwa saya bisa memeluk Islam dengan tanpa rasa takut terhadap apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah tentang hijrah Rasulullah ke Madinah saat orang-orang di Makkah bermaksud membunuh beliau. Begitu besar pengorbanan para sahabat&amp;nbsp;untuk Rasulullah, terutama 'Ali dan Abu Bakar, dalam proses hijrah ini. Akan tetapi, peristiwa yang benar-benar luar biasa adalah saat Rasulullah terpojok di sebuah gua saat sedang diburu. Yang menjadi "penyelamat" beliau &lt;i&gt;hanyalah&lt;/i&gt; sebuah sarang laba-laba yang terangkai apik di mulut gua tempat Rasulullah Muhammad SAW bersembunyi. Sarang laba-laba ini yang&amp;nbsp;memberi kesan bahwa tidak ada yang masuk ke dalam gua tersebut dan&amp;nbsp;membuat para pemburu nyawa Rasulullah berbalik dan meninggalkan gua tersebut. Allahu Akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca keberhasilan Rasulullah hijrah ke Madinah, film The Message ini pun mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan Islam antara lain dengan kemenangan kaum Muslimin di perang Badr. Kebangkitan Islam memang tidak instan dan hal ini terlihat cukup jelas lewat kekalahan kaum Muslimin di perang Uhud dan terwujudnya perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah ini yang menjadi titik awal kebangkitan Islam yang hakiki karena perjanjian Hudaibiyah ini memungkinkan penyebaran Islam secara damai. Allahu Akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klimaks dari film ini adalah penaklukan kota Makkah (Mekah). Bala tentara kaum Muslimin yang sangat dominan itu tidak merusak atau membabi buta membasmi orang-orang yang menentang Islam. Kota Makkah berhasil direbut kembali&amp;nbsp;tanpa pertumpahan darah. Sebuah kemenangan yang elegan dan begitu memukau.&amp;nbsp;Ka'bah pun berhasil dikuasai kaum Muslimin dan dibersihkan dari berbagai berhala yang sudah lama menghuni Ka'bah. Takbir pun dikumandangkan di kota Makkah tanpa ada ancaman atau tekanan barang sedikit pun. Peristiwa ini adalah peristiwa yang luar biasa. Bahkan saya berharap dapat menjadi bagian dari kaum Muslimin saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini pun ditutup dengan khutbah terakhir Rasulullah. Sebuah khutbah yang begitu memilukan hati karena kita semua tahu bahwa dunia ini akan kehilangan satu manusia yang sangat mulia di mata Allah. Manusia yang sangat dicintai kaum Muslimin karena keteguhannya dan keteladanannya dalam menyebarkan Islam sampai ke hati kita masing-masing. Sulit sekali menahan tangis saat menonton adegan haji terakhir Rasulullah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film The Message ini insya Allah akan menjadi tontonan yang berkesan dan sulit dilupakan. Film dengan durasi 3 jam ini berhasil membawa saya satu langkah lebih dekat ke dalam kehidupan Rasulullah SAW. Efek visual yang ditawarkan oleh sebuah film pun lebih mengena ketimbang sekedar membaca rentetan kata dalam sebuah buku atau kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sedikit Trivia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal unik dari film ini adalah film ini dibuat dalam dua versi bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Akan tetapi, versi bahasa Arabnya bukan sekedar dubbing dari versi bahasa Inggris. Dua versi film ini ibarat dua film yang berbeda. Untuk setiap pengambilan adegan dalam film ini, aktor dan aktris berbahasa Inggris bergantian dengan aktor dan aktris berbahasa Arab. Hasilnya adalah dua film dengan plot yang sama dan adegan yang sangat mirip. Tetap ada perbedaan antara film versi bahasa Inggris dengan film dengan versi bahasa Arab, tapi perbedaan-perbedaan ini sama sekali tidak merubah plot film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Download Link&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang berminat menonton film tahun 1977 ini dapat mengunduhnya dari sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Versi Bahasa Arab:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.4shared.com/folder/rFiK4cAS/1977_TheMessage_Arabic.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/folder/rFiK4cAS/1977_TheMessage_Arabic.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Versi Bahasa Inggris: &lt;a href="http://www.mediafire.com/?b1wxhef7k7hfya7" target="_blank"&gt;Bagian 1&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.mediafire.com/?0yanxcjj2n4b32d" target="_blank"&gt;Bagian 2&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.mediafire.com/?4j88ch6ty0fqwjw" target="_blank"&gt;Bagian 3&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.mediafire.com/?9a7a12vtzeurp2k" target="_blank"&gt;Bagian 4&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;Perlu saya informasikan bahwa The Message versi bahasa Arab di atas terbagi menjadi 14 bagian. Sayangnya ada beberapa adegan yang hilang di antara bagian-bagian tersebut. Sementara The Message versi bahasa Inggris lengkap dari awal hingga akhir tanpa ada adegan yang hilang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7254520582042418771?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7254520582042418771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/3-jam-bersama-rasulullah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7254520582042418771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7254520582042418771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/3-jam-bersama-rasulullah.html' title='3 Jam Bersama Rasulullah'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-l-sh0Ea_zOQ/TtNLQY9mpVI/AAAAAAAAEX4/FB--Aa0hPqY/s72-c/0_0_1944_1561.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1586364235951517744</id><published>2011-11-17T17:50:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T10:37:26.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ayat-ayat dari Surat Al-An'aam</title><content type='html'>Surat keenam dalam kitab suci Al-Qur'an ini diawali dengan firman-firman Allah tentang kemusyrikan, yaitu sikap orang-orang musyrik yang berpaling dari Islam dan menyekutukan Allah, dan nasib orang-orang musyrik di hari kiamat kelak. Membaca rentetan ayat-ayat tentang siksaan terhadap orang-orang musyrik di dalam Surat ini sejatinya menambah kuat keimanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya tidak perlu menulis panjang lebar mengenai kesan saya saat membaca terjemah ayat demi ayat dari Surat ini. Langsung saja saya paparkan&amp;nbsp;kumpulan ayat-ayat yang saya kutip dari surat Al-An'aam:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al-An'aam:6)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An'aam:13)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku." &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. (QS. Al-An'aam:15 - 16)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An'aam:32)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS. Al-An'aam:59)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-An'aam:97)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Al-An'aam:108)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An'aam:115)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. (QS. Al-An'aam:120)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain)&lt;sup&gt;[+2]&lt;/sup&gt; dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami." Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)." Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An'aam:128)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An'aam:160)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+2]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya syaitan telah berhasil memperdayakan manusia sampai manusia mengikuti perintah-perintah dan petunjuk-petunjuknya, dan manusia pun telah mendapat hasil kelezatan-kelezatan duniawi karena mengikuti bujukan-bujukan syaitan itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1586364235951517744?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1586364235951517744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/ayat-ayat-dari-surat-al-anaam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1586364235951517744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1586364235951517744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/ayat-ayat-dari-surat-al-anaam.html' title='Ayat-ayat dari Surat Al-An&apos;aam'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2938663146800622122</id><published>2011-11-09T15:55:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T10:40:56.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Hidangan dalam Al-Qur'an</title><content type='html'>Surat kelima dalam Al-Qur'an, Al-Maa'idah, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai Hidangan. Surat Al-Maa'idah ini dibuka dengan berbagai aturan tentang halal dan haram mulai dari urusan makanan sampai urusan perkawinan. Salah satu yang perlu digarisbawahi adalah haramnya mengundi nasib yang tertuang di dalam ayat 3 yang saya kutip di sini: &lt;i&gt;"... Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. ..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa bagian dalam surat Al-Maa'idah yang menarik untuk dibaca. Pertama, keengganan bangsa Yahudi mentaati perintah Nabi Musa AS memasuki Palestina; tertuang dalam ayat 20 s.d. 26. Kedua, kisah pembunuhan pertama yang melibatkan kedua putra Nabi Adam AS; tertuang dalam ayat 27 s.d. 32. Ketiga, ayat-ayat yang bercerita tentang mukjizat Nabi AS; tertuang dalam ayat 109 s.d. 120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbagai pelajaran yang saya paparkan di atas, di bawah ini saya sertakan juga beberapa ayat yang sempat saya kutip ke dalam tulisan ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maa'idah:8)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal. (QS. Al-Maa'idah:36 - 37)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maa'idah:55)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maa'idah:76)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maa'idah:87)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al-Maa'idah:89)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maa'idah:91)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Maa'idah:100)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2938663146800622122?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2938663146800622122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/hidangan-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2938663146800622122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2938663146800622122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/hidangan-dalam-al-quran.html' title='Hidangan dalam Al-Qur&apos;an'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5819321196410556503</id><published>2011-11-09T08:41:00.000+07:00</published><updated>2011-11-21T16:02:22.690+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Belajar dari Surat An-Nisaa'</title><content type='html'>Dan perjalanan membaca terjemah Al-Qur'an itu pun berlanjut sampai surat keempat: surat An-Nisaa'. Hal pertama yang saya temukan dalam surat An-Nisaa' adalah pembatasan (bukan sekedar pembolehan) poligami menjadi maksimal 4 istri (dari sebelumnya tanpa batas). Poligami pun dibatasi dengan syarat suami harus berlaku adil terhadap istri-istrinya. Bila suami tidak mampu berlaku adil, Allah pun membatasi pernikahan menjadi monogami. Berikut isi ayat 3 surat An-Nisaa' yang berisi pembatasan tersebut:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;, maka (kawinilah) seorang saja&lt;sup&gt;[+2]&lt;/sup&gt;, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisaa':3)&lt;/blockquote&gt;Surat An-Nisaa' juga berisi pokok-pokok hukum pembagian harta waris, yaitu dalam ayat 7 s.d. ayat 14. Selain itu, surat ini juga berisi beberapa hukum perkawinan (pernikahan). Ada banyak sekali ayat-ayat yang mengatur tentang pernikahan dalam surat An-Nisaa' ini. Salah satu ayat yang menyebutkan tentang hukum perkawinan itu adalah ayat 23 (saya kutip di bawah) yang juga dijadikan dasar hukum mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam surat ini pun saya menemukan banyak ayat yang mengatur tentang jihad dan hijrah; baik mengenai kewajibannya maupun mengenai balasannya.&amp;nbsp;Masih banyak pelajaran lain yang saya dapatkan dari surat An-Nisaa'. Akan tetapi, dari semua pelajaran yang saya dapat dari surat An-Nisaa', hanya beberapa ayat saja yang saya kutip dalam tulisan ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisaa':10)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan&lt;sup&gt;[*3]&lt;/sup&gt;, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa':17)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan&lt;sup&gt;[+3]&lt;/sup&gt;; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisaa':23)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu&lt;sup&gt;[+4]&lt;/sup&gt;; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa':29)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisaa':32)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri&lt;sup&gt;[+5]&lt;/sup&gt; ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)&lt;sup&gt;[+6]&lt;/sup&gt;. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya&lt;sup&gt;[+7]&lt;/sup&gt;, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya&lt;sup&gt;[+8]&lt;/sup&gt;. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisaa':34)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. (QS. An-Nisaa':57)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa':59)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisaa':82)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat&lt;sup&gt;[+9]&lt;/sup&gt;, (QS. An-Nisaa':105)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisaa':110)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa':116)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisaa':129)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Allah tidak menyukai ucapan buruk&lt;sup&gt;[*1]&lt;/sup&gt;, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya&lt;sup&gt;[*2]&lt;/sup&gt;. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nisaa':148)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+2]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. &lt;i&gt;Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+3]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. Dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. Sedang yang dimaksud dengan &lt;i&gt;anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu&lt;/i&gt;, menurut jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+4]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+5]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+6]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+7]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+8]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: untuk memberi pelajaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[+9]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. Hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[*1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[*2]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya: orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[*3]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Maksudnya ialah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;- Orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;- Orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;- Orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5819321196410556503?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5819321196410556503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/belajar-dari-surat-nisaa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5819321196410556503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5819321196410556503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/11/belajar-dari-surat-nisaa.html' title='Belajar dari Surat An-Nisaa&apos;'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-9130352995648817437</id><published>2011-10-31T12:31:00.000+07:00</published><updated>2011-10-31T12:31:33.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Menyiasati Infinite To-do List</title><content type='html'>&lt;i&gt;Organizing&lt;/i&gt; adalah satu dari sekian banyak hal yang gemar saya lakukan. Tentu saja kegemaran ini saya mulai dari diri saya sendiri. Salah satu manifestasi dari kegemaran ini adalah dengan membuat &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt;. Dalam hidup saya sehari-hari, saya memiliki 2 (dua) jenis &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt;: satu untuk urusan pekerjaan, satu untuk urusan pribadi. Masing-masing &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; saya kelola secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;To-do list&lt;/i&gt; untuk urusan pekerjaan saya tuangkan dalam lembaran&amp;nbsp;&lt;i&gt;post-it&lt;/i&gt; yang saya tempel di meja kerja saya di kantor. &lt;i&gt;To-do list&lt;/i&gt; untuk urusan pribadi selalu setia menemani saya di dalam smartphone saya. Pemisahan ini sengaja saya lakukan karena saya ingin memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi saya. Dengan pemisahan seperti ini, saya hanya perlu melihat tugas-tugas yang terkait dengan pekerjaan saya di kantor saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.howtogeek.com/89805/the-perfect-to-do-list/" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="128" src="http://2.bp.blogspot.com/-2sVZSQ8XM5k/Tq4FmRuCBiI/AAAAAAAAEFc/C8BbzGGRF6A/s200/perfect-to-do-list.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pemisahan to-do list yang saya lakukan adalah bagian dari usaha saya untuk menyeimbangkan kehidupan saya di kantor dan kehidupan saya di rumah (bersama istri dan anak-anak saya). Saat di rumah, saya tidak pernah "terganggu" dengan urusan-urusan pekerjaan. &lt;i&gt;To-do list&lt;/i&gt; yang terkait pekerjaan selalu saya kerjakan di kantor. Saya selalu berusaha agar urusan pekerjaan tidak ikut pulang ke rumah bersama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, masih ada 1 (satu) masalah lain yang perlu saya atasi dalam mengelola &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; saya, yaitu &lt;i&gt;infinite to-do list&lt;/i&gt;. Saya seringkali merasa bahwa &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; saya itu tidak ada habisnya. Item yang keluar dari &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; saya itu lebih sedikit daripada item yang masuk ke &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; saya. Pada akhirnya daftar pekerjaan yang harus saya lakukan terus saja menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kita sedang berjalan di sebuah jalan yang tidak terlihat ujungnya. Kita terus saja berjalan tanpa tahu kapan kita akan mencapai tujuan. Setiap kali kita sampai ke suatu checkpoint, jarak perjalanan kita malah bertambah sampai akhirnya kita merasa lelah dan jenuh untuk meneruskan perjalanan. Kita pun memilih berhenti dan menunda perjalanan kita. Ketimbang lelah meneruskan perjalanan yang tidak jelas ujungnya, lebih baik berhenti dan menikmati pemandangan di sekitar. &lt;i&gt;Procrastination for the world!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah &lt;i&gt;infinite to-do list&lt;/i&gt; ini sudah lama saya alami, baik di &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; pekerjaan maupun di &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; pribadi. Yang paling "mengganggu" tentu saja di &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; pekerjaan karena tumpukan pekerjaan itu membuat saya kesulitan untuk fokus. Fokus yang rendah ini akhirnya mengganggu konsentrasi saya bekerja sehingga &lt;i&gt;throughput&lt;/i&gt; pekerjaan saya pun semakin menurun. &lt;i&gt;Throughput&lt;/i&gt; yang menurun sudah pasti meningkatkan kemungkinan menumpuknya pekerjaan. Dan siklus yang jahat itu pun tidak henti-hentinya berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah tadi pagi saya menemukan tulisan yang serupa di sini:&amp;nbsp;&lt;a href="http://blog.101ideas.cz/posts/the-3+2-rule.html"&gt;http://blog.101ideas.cz/posts/the-3+2-rule.html&lt;/a&gt;. Tulisan tersebut juga membahas cara menyiasati &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; yang seolah-olah tidak pernah habis dengan metode "the 3 + 2 rule". Metode itu pada intinya menegaskan bahwa kita perlu bersikap realistis, yaitu dengan membuat target harian yang memang sesuai dengan kapasitas dan waktu yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam metode "the 3 + 2 rule" itu, penulisnya menyarankan untuk membuat to-do list yang berisi 5 (lima) pekerjaan: 3 yang utama, 2 yang pilihan. Fokuskan energi dan waktu untuk mengerjakan 3 pekerjaan utama. Bila masih ada energi dan waktu yang tersisa, silakan luangkan untuk mengerjakan 2 pekerjaan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 3 dan 2 di atas tentu saja tidak harus sama untuk masing-masing orang. Yang paling penting untuk diadopsi dari metode itu adalah bagaimana membatasi pekerjaan sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Kita bisa saja membuat "the 2 + 1" rule dengan 2 pekerjaan utama dan 1 pekerjaan pilihan. Kita pun bisa saja membuat "the 1 + 0" dengan 1 pekerjaan utama. Intinya tetap pada pembatasan pekerjaan sesuai kemampuan dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metode membatasi pekerjaan seperti di atas, kita dapat lebih fokus mengerjakan hal-hal yang penting. Dengan fokus yang meningkat, maka sangat besar kemungkinannya &lt;i&gt;throughput&lt;/i&gt; pun ikut meningkat. Ini artinya lebih banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan. Semakin besar &lt;i&gt;throughput&lt;/i&gt; kita, semakin banyak pekerjaan yang dapat kita keluarkan dari &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; kita. Semakin banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan, rasa lelah dan jenuh bekerja pun dapat diminimalisir. Secara tidak langsung, hal ini akan meningkatkan kepuasan kita saat bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada kenyataannya mengelola &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; tidak semudah 3 + 2 atau 1 + 0. Masih ada faktor eksternal yang sulit kita kendalikan seperti penugasan yang mendadak dari atasan atau berbagai panggilan tugas yang membuat &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; kita menjadi tidak berarti. Walaupun begitu, membatasi pekerjaan bukan berarti menjadi tidak penting. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatur &lt;i&gt;to-do list&lt;/i&gt; kita agar tidak menumpuk terus-menerus. Paling tidak kita perlu melakukannya demi menjaga keseimbangan hidup antara pekerjaan dan urusan pribadi (atau keluarga).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-9130352995648817437?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/9130352995648817437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/menyiasati-infinite-to-do-list.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9130352995648817437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/9130352995648817437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/menyiasati-infinite-to-do-list.html' title='Menyiasati Infinite To-do List'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2sVZSQ8XM5k/Tq4FmRuCBiI/AAAAAAAAEFc/C8BbzGGRF6A/s72-c/perfect-to-do-list.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2418631073619639347</id><published>2011-10-24T00:31:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.668+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Emosi'/><title type='text'>Rumahku Nerakaku</title><content type='html'>Kehidupan rumah tangga itu tidak selalu menyenangkan. Nenek-nenek saja tahu akan hal ini. Koreksi: Justru nenek-nenek (yang punya segudang pengalaman) yang paling tahu akan hal ini. Hanya saja, dari semua orang yang tahu akan hal ini, tidak semua orang mau berbagi tentang masalah rumah tangga mereka. Di lain pihak, tidak sedikit orang yang tidak segan-segan berbagi tentang masalah ini. Tidak percaya? Tengok saja &lt;i&gt;timeline&lt;/i&gt; di jejaring sosial kesayangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik pembicaraan: Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat mengubah rumah tangga tercinta kita menjadi neraka. Mulai dari yang paling muda sampai yang paling tua, tidak ada yang benar-benar bebas dari andil mereka membentuk neraka di rumah tangga kita. Kita sendiri pun termasuk di dalam daftar penyebab munculnya neraka itu. Akan tetapi, saya tidak akan mulai dari diri sendiri. Harap maklum. Manusia tidak pernah lepas dari ego yang membuat kita lebih mudah menyalahkan orang lain daripada menyalahkan diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari istri, anak-anak, orang tua, mertua, sampai pembantu; semua pihak memiliki cara mereka sendiri untuk mengubah rumah tangga kita menjadi neraka. Kadang kita bertengkar dengan istri, kadang anak-anak bertingkah tidak karuan dan menyebalkan, kadang orang tua kita terlalu mencampuri urusan kita, kadang mertua berbeda pendapat dengan kita, kadang pembantu kita membuat masalah yang tidak-tidak; sepertinya selalu saja ada masalah di rumah kita. Kadang masalahnya menumpuk begitu banyak dan membuat kita enggan tinggal di rumah.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stuffkit.com/fire-art-hd-wallpapers.htm" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-5kQ0myzRSlg/TqQMKz-qL9I/AAAAAAAAD_U/gtyxKHnsrbI/s400/Fire-HD-Wallpapers-13-550x440.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Api&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dalam kondisi seperti di atas, kebaikan (kebahagiaan) yang muncul di tengah keluarga kita akan hilang seketika karena tertutup emosi kita. Senyum anak-anak menjadi hambar, kebaikan-kebaikan istri tidak lagi terasa manis, hal-hal baik yang dilakukan orang tua atau mertua pun tidak berarti, apalagi pembantu. Emosi kita senantiasa menghalangi semua kebaikan yang ada untuk mencapai hati kita. Sebegitu gelapnya hati kita sampai akhirnya kita pun merasa putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat rasa putus asa ini muncul, berbagai bentuk pelarian pun mulai terbayang. Mulai dari keinginan untuk pergi dari rumah sampai keingian untuk pergi dari dunia (alias bunuh diri). Pilihan bentuk pelarian ini tentu saja sangat erat kaitannya dengan tingkat stres yang dialami orang terkait. Pelarian dari stres yang ringan mungkin cukup dengan "kabur" sebentar, sementara bunuh diri biasanya menjadi pilihan pelarian dari stres yang berat &lt;i&gt;bin&lt;/i&gt; akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat paragraf di atas adalah gambaran neraka yang saya maksud. Dalam tulisan ini, gambaran neraka itu saya batasi di dalam rumah seseorang yang sudah menikah, memiliki anak, dan tinggal satu rumah dengan orang tua/mertua. Tentu saja gambaran neraka ini tidak sama bagi semua orang, tapi saya yakin banyak orang yang sudah mengalami neraka yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua orang yang pernah (dan akan) hidup di dalam neraka seperti di atas, tidak semuanya memiliki sikap yang sama. Ada yang memutuskan untuk tetap lari, ada yang memutuskan untuk berbalik dan mencoba memadamkan api neraka itu. &lt;i&gt;Seriously?&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Betul sekali. Api neraka di rumah tangga kita umumnya masih dapat dipadamkan. Hanya saja proses pemadamannya membutuhkan dedikasi dan komitmen dari semua pihak yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan seseorang untuk tetap berlari itu bervariasi. Mungkin saja masalah yang dihadapi terlalu berat untuk diatasi. Mungkin saja jalan keluar yang dicari tidak pernah ditemukan. Mungkin saja orang yang bersangkutan tidak menemukan bantuan yang dia butuhkan untuk memecahkan masalahnya. Mungkin saja orang yang bersangkutan tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengatasi masalahnya sendiri. Dan masih banyak kemungkinan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan. Intinya tetap satu: kabuuur.&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.usageorge.com/Wallpapers/Miscellaneous/Fight-for-Kisses.html" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-r7zbAM0gy9A/TqQbwOedXsI/AAAAAAAAD_c/Hf5HDgHN_i4/s400/Fight-for-Kisses.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Fight for Kisses&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Yang lebih menarik untuk dibicarakan adalah alasan seseorang untuk berbalik dari pelariannya dan menghadapi masalahnya sampai tetes darah penghabisan. Kenapa? Karena bertarung itu lebih jantan. Sayangnya bukan itu alasan saya. Berhenti berlari dan menghadapi masalah adalah bukti keberanian seseorang. Berhasil atau tidaknya masalah diselesaikan itu urusan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tulisan ini tambah melebar, kita kembali kepada topik tulisan ini: rumah yang menjadi neraka. Bagaimana cara kita memadamkan api yang membara di tengah-tengah rumah tangga (keluarga) kita? Bagaimana cara kita mengembalikan kesejukan dan kedamaian di dalam rumah kita?&amp;nbsp;Haruskah kita mulai dari diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tulisan ini akan menjadi panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, setiap masalah itu hanya dapat diselesaikan bila kita memiliki determinasi yang cukup untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk menyelesaikan masalah dalam keluarga kita, kita butuh alasan yang kuat untuk mempertahankan keutuhan keluarga kita. Tanpa alasan yang tepat (dan kuat), kita tidak akan pernah memiliki determinasi yang kuat saat menyelesaikan masalah kita. Jadi, layak atau tidak keluarga kita dipertahankan, itulah pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau jawaban dari pertanyaan itu adalah "layak", langkah selanjutnya adalah introspeksi diri. Betul sekali; introspeksi diri. Kita perlu menenangkan diri dan meredam emosi kita sehingga kita dapat berhenti menyalahkan orang lain dan memulai perbaikan dari diri kita sendiri. Dengan meredam emosi, mata hati kita akan menjadi lebih jernih untuk memahami inti masalah yang kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bqCTCRKIsVY/TqRMyRpGL7I/AAAAAAAAD_k/eWscr82pDNs/s1600/technical-support-anger-management-technical-support-ultimat-demotivational-poster-1285799382.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-bqCTCRKIsVY/TqRMyRpGL7I/AAAAAAAAD_k/eWscr82pDNs/s320/technical-support-anger-management-technical-support-ultimat-demotivational-poster-1285799382.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Anger Management&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Meredam emosi memang bukan hal yang mudah. Salah satunya adalah lewat pelarian tadi. Jadi, intinya tetap lari dari masalah? Memang benar begitu. Perbedaannya adalah lari di sini hanya untuk sementara. Lari di sini hanya untuk menenangkan diri dan mengembalikan energi kita untuk kembali menghadapi masalah kita. Kita sama-sama tahu bahwa memaksakan diri menghadapi masalah hanya akan membuat kita lelah. Kita butuh istirahat, hati kita pun butuh istirahat. Kita butuh pengalihan dan melarikan diri untuk sementara adalah metode pengalihan yang cukup handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang lain untuk meredam emosi adalah dengan bercerita. Ada kalanya kita perlu berbagi masalah kita dengan orang lain untuk meredam emosi kita. Dengan menceritakan masalah kita kepada orang lain, kita sedang berbagi beban di pundak kita. Saat beban di pundak itu kita lepaskan, saat itu juga emosi kita ikut mereda dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada cara lain untuk meredam emosi ini. Saya bahkan sempat menuangkannya dalam tulisan Menyiasati Marah dalam Keluarga (&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-1.html"&gt;bagian 1&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-2.html"&gt;bagian 2&lt;/a&gt;, &amp;nbsp;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-3.html"&gt;bagian 3&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-4.html"&gt;bagian 4&lt;/a&gt;). Saya pun pernah mendengar kicauan seorang teman, "gw sih biasanya push-up," saat sedang membicarakan cara-cara mengelola emosi. Rasanya setiap orang punya cara yang tepat guna untuk meredam emosi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan emosi yang reda, kepala yang dingin, dan hati yang bersih, jalan keluar akan lebih mudah ditemukan. Introspeksi diri akan menjadi lebih mudah dilakukan. Kita akan menemukan kesalahan-kesalahan dalam diri kita sendiri. Kita akan melihat seberapa besar peran kita dalam menciptakan neraka di dalam rumah kita sendiri. Dengan begitu, kita pun akan lebih objektif menilai kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anggota rumah tangga kita (termasuk pembantu). Kita pun dapat memilah antara kesalahan yang kecil dan tidak perlu diperpanjang dengan kesalahan yang besar dan perlu ditindaklanjuti.&amp;nbsp;Lalu sedikit demi sedikit, api neraka di rumah tangga kita pun akan segera padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padamnya api neraka rumah tangga ini sebenarnya sudah mulai terjadi saat kita sedang meredam emosi. Kenapa? Karena neraka yang ada di dalam rumah tangga kita sebenarnya ada di dalam hati kita. Emosi kita yang membuat rumah tangga kita terasa panas. Emosi kita yang membuat kita ingin segera pergi dari rumah kita. Emosi kita yang membuat kita ingin terus berlari menjauh dari rumah kita. Emosi kita juga yang membuat kita kehilangan harapan. "Rumahku Nerakaku" itu adalah halusinasi yang dibentuk oleh emosi kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, masih banyak rumah tangga lain yang benar-benar menjadi neraka bagi penghuninya. Neraka-neraka ini tidak semuanya sebatas halusinasi yang mudah diatasi dengan meredam emosi dan introspeksi diri. Neraka-neraka ini benar-benar nyata dan terbentuk oleh berbagai masalah rumah tangga yang tidak ada habisnya (atau sulit ditemukan jalan keluarnya). Saya tidak akan berkomentar banyak mengenai neraka-neraka ini karena tulisan ini sendiri sudah sangat panjang. Untuk saat ini, saya hanya bisa mendo'akan agar setiap neraka dalam rumah tangga itu dapat dikembalikan ke fitrahnya sebagai surga atau sekalian dibubarkan sehingga tidak menelan lebih banyak korban jiwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2418631073619639347?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2418631073619639347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/rumahku-nerakaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2418631073619639347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2418631073619639347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/rumahku-nerakaku.html' title='Rumahku Nerakaku'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5kQ0myzRSlg/TqQMKz-qL9I/AAAAAAAAD_U/gtyxKHnsrbI/s72-c/Fire-HD-Wallpapers-13-550x440.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6686319047991487369</id><published>2011-10-17T14:09:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T10:40:31.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Kutipan dari Surat Ali 'Imran</title><content type='html'>Cita-cita saya untuk membaca terjemah Al-Qur'an masih bertahan. Alhamdulillah pada hari ini saya selesai membaca terjemah Al-Qur'an surat Ali 'Imran sebanyak 200 ayat. Alhamdulillah ada banyak pelajaran yang dapat saya ambil selama membaca terjemah surat Ali 'Imran ini. Ada banyak kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dalam surat Ali 'Imran yang ingin saya tuangkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan ayat-ayat tersebut ada di bagian bawah tulisan ini. Akan tetapi, ada sedikit pelajaran yang ingin saya bagi di sini. Ternyata untuk tetap konsisten membaca terjemah Al-Qur'an itu bukan hal yang mudah. Hal pertama yang harus saya hadapi adalah masalah kebosanan. Kadang rasa jenuh itu begitu melekat sampai membuat saya enggan meneruskan membaca terjemah Al-Qur'an ini. Ada kalanya saya memutuskan untuk "libur" agar rasa bosan itu tidak semakin kuat. Saya khawatir bila rasa bosan itu menguat, minat saya membaca terjemah Al-Qur'an itu memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca terjemah Al-Qur'an pun butuh konsentrasi yang kuat. Saya rasakan sendiri beberapa kali saya mengulang membaca terjemah suatu ayat karena saya tidak mengerti apa yang dimaksud ayat itu, padahal saya sendiri sudah mencoba fokus kepada ayat-ayat muhkamaat&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;. Pada kondisi seperti ini, saya selalu merasa ada sesuatu yang mengalihkan perhatian saya dan membuat saya sulit memahami terjemah ayat Al-Qur'an yang sedang saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya pun merasa harus berhati-hati saat membaca terjemah ayat-ayat Al-Qur'an ini. Jangan sampai setelah saya selesai membaca tulisan ini, bukan keimanan yang bertambah, justru keraguan yang semakin menguat. Oleh karena itu, saya tetap fokus pada ayat-ayat yang jelas dan mudah dimengerti. Kalau masih membingungkan, saya pun tidak segan mencari referensi tambahan untuk menjawab pertanyaan yang mengganjal di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi yang dapat saya ceritakan di sini, tapi sepertinya tulisan ini akan menjadi terlalu panjang. Langsung saja saya cantumkan ayat-ayat dari surat Ali 'Imran yang sempat saya kutip di bawah ini. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran kumpulan ayat-ayat di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS. Ali 'Imran:5)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; (Yaitu) orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali 'Imran:14 - 17)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani&lt;sup class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;[+]&lt;/sup&gt;, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali 'Imran:79)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali 'Imran:85)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS. Ali 'Imran:91)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali 'Imran:102)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali 'Imran:109)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, &lt;b&gt;{*}&lt;/b&gt; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali 'Imran:133 - 134)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali 'Imran:138)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali 'Imran:180)&lt;/blockquote&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Penjelasan lebih lanjut tentang ayat muhkamaat (dan ayat mutasyaabihaat) dapat dibaca di sini:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/mutasyabihaat.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/mutasyabihaat.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;[+]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Rabbani&lt;/i&gt; ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6686319047991487369?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6686319047991487369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/kutipan-dari-surat-ali-imran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6686319047991487369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6686319047991487369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/kutipan-dari-surat-ali-imran.html' title='Kutipan dari Surat Ali &apos;Imran'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8970699332883192579</id><published>2011-10-11T11:09:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:14:24.492+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemerkosaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kriminalitas'/><title type='text'>Rok Mini dan Pemerkosaan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stuffofawesome.com/rape-whistle-1308535208-556.png.html" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="291" src="http://3.bp.blogspot.com/-dWD2goCPbHw/TpO3DP9nIaI/AAAAAAAAD0U/jUQc0_cS7hA/s400/rape-whistle-1308535208-556.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sesekali waktu saya ingin menulis tentang pemerkosaan di blog ini. Walau bagaimana pun, pemerkosaan dan pernikahan memiliki keterkaitan langsung. Keduanya sama-sama memiliki awalan "pe-" dan akhiran "-an". Lalu apakah pembahasan mengenai pemerkosaan ini telat? Mungkin saja. Topik ini sempat melejit di media sampai mendorong munculnya demonstrasi yang ingin menegaskan bahwa rok mini itu tidak ada hubungannya dengan pemerkosaan. Pada akhirnya topik itu hilang dengan sendirinya seiring dengan berkurangnya laporan terkait di media. &lt;i&gt;Typical.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telat atau tidak, saya tetap lanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, esensi dari kontroversi di atas itu adalah adanya pihak yang menolak pernyataan yang mengkaitkan pemerkosaan dengan rok mini. &lt;i&gt;"Jangan salahkan rok mininya. Salahkan pemerkosanya."&lt;/i&gt; Kira-kira seperti itu bunyi penolakan yang muncul dalam kontroversi terkait. &lt;i&gt;Denial?&lt;/i&gt; Nanti dulu. Jangankan &lt;i&gt;denial&lt;/i&gt;, mungkin saja masalah ini tidak masuk kategori kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama sepakat bahwa pihak yang salah, yaitu yang wajib dihukum, dalam sebuah kasus pemerkosaan adalah pemerkosanya. Korban pemerkosaan, apa pun pakaiannya, tidak layak disalahkan atau dihukum. Rasanya mengenaskan bila korban pemerkosaan, yang kemungkinan besar akan mengalami trauma, justru kehilangan dukungan dari masyarakat yang ikut menudingnya turut andil dalam pemerkosaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama, pemerkosaan itu bergantung pada 4 (empat) faktor utama, yaitu pelaku, korban, waktu, dan lokasi. Di masing-masing faktor tersebut, ada sekumpulan faktor-faktor turunan lain yang perlu diperhatikan. Waktu dan lokasi memiliki peran penting dalam konteks pemerkosaan. Apa mungkin pemerkosaan terjadi di tengah keramaian pada siang hari? Kalau mungkin, itu artinya moral masyarakat di sekitar lokasi tersebut sudah bobrok sebobrok-bobroknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pelaku tentu saja lebih dominan dibandingkan waktu atau lokasi. Pemerkosaan dapat terjadi di tempat-tempat yang tidak kita bayangkan. Seorang gadis mungkin saja diperkosa di rumahnya sendiri; misalnya saat gadis itu memang sedang sendirian di rumah. Siang atau malam bisa jadi tidak relevan dalam konteks pemerkosaan; yang penting lokasinya sepi. Jelas sekali bahwa faktor penentu terjadinya pemerkosaan adalah pelakunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seseorang tidak mampu lagi membendung hasrat seksualnya, tidak memiliki penyaluran yang sah, dan (secara tidak sadar) membenarkan pemerkosaan, maka pemerkosaan ini kemungkinan besar akan terjadi. Pemerkosaan mungkin saja terjadi tidak hanya pada wanita dengan rok mini, tapi mungkin saja terjadi pada wanita yang mengenakan pakaian yang tertutup. Pakaian yang dipakai korban pemerkosaan menjadi tidak relevan. Wanita muslim yang mengenakan jilbab panjang pun tidak akan lepas dari ancaman pemerkosaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas, faktor pelaku terlihat jelas sebagai faktor dominan dalam pemerkosaan. Waktu, lokasi, bahkan korban sekali pun tidak dapat menyaingi dominasi faktor pelaku dalam setiap "sesi" pemerkosaan. Kalau faktor korban saja tidak dominan, apalagi rok mini (yang merupakan faktor turunan dari faktor korban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.beijingtoday.com.cn/uncategorized/skipping-rape" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-k0ireqaLPHw/TpO576hMTNI/AAAAAAAAD0c/ysSu0UcrdH8/s200/skipping-rape.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Jadi, rasanya wajar kalau ada pihak yang menolak bila rok mini ikut disalahkan dalam masalah pemerkosaan. Yang perlu disorot memang pelakunya. Apa yang membuat pelaku pemerkosaan itu melakukan aksinya? Apakah terpaan pornografi yang diakses lewat Internet? Apakah perilaku tidak senonoh yang didapat lewat film? Apakah ada faktor-faktor lain yang membuat pelaku berani memperkosa wanita lain? Justru hal-hal seperti ini yang perlu disorot; dan tentu saja dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu artinya rok mini tidak memiliki pengaruh apa pun? Justru sebaliknya. Keberadaan rok mini juga turut andil mendorong hasrat seksual. Hanya saja rok mini di sini bukan sekedar rok mini pemerkosanya. Rok mini yang dimaksud adalah rok mini yang dipakai wanita di ruang publik dan bebas dipelototi pria-pria mata mata &lt;i&gt;trolley&lt;/i&gt; (mata keranjang tidak lagi representatif). Rok mini yang dimaksud adalah rok mini yang dipakai berbagai aktris dan model dan dapat dikonsumsi secara bebas lewat media elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, rok mini tetap memiliki andil. Akan tetapi, jangan memandang rok mini ini dengan kacamata kuda. Masih ada banyak faktor lain yang turut andil mempertahankan angka kasus pemerkosaan di Indonesia; atau bahkan di seluruh dunia. Semua faktor ini harus diperhatikan dan dibenahi sesuai prioritasnya. Tidak sepantasnya kita menyoroti satu-dua hal yang &lt;i&gt;trivial&lt;/i&gt; semata untuk mengatasi masalah pemerkosaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kebebasan berpakaian? Sesuai dengan alur pembahasan saya di atas, silakan saja para wanita menggunakan rok mini. Yang perlu diingat adalah, walaupun rok mini tidak sepantasnya disalahkan, rok mini tetap memiliki andil memancing datangnya pemerkosaan. Pemerkosaan memang tetap saja bisa terjadi terlepas dari korban memakai pakaian minim atau pakaian tertutup, tapi pemilihan pakaian ini merupakan bagian dari kehati-hatian yang menjadi tanggung jawab setiap individu terhadap dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila rumah kita kosong selama beberapa hari, apakah kita akan mengumumkannya ke lingkungan sekitar? Bukankah pengumuman itu ibarat memancing datangnya pencuri? Kalau kita sedang naik bus atau kereta saat jam sibuk, apakah kita akan menyimpan dompet kita di saku celana (atau tempat lain yang mudah dijangkau)? Bukankah sikap seperti ini ibarat memancing datangnya pencopet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua contoh di atas, kalau rumah kita dibobol pencuri, maka yang patut disalahkan adalah pencuri. Tapi bukankah kita turut andil memudahkan pencuri itu untuk membobol rumah kita? Kita pun "bersalah". Kemudian kalau dompet kita dicopet, maka yang patut disalahkan adalah pencopet. Tapi bukankah kita turut andil memudahkan pencopet itu mengambil dompet kita? Kita pun "bersalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Dengan menggunakan rok mini, para wanita dapat dikatakan lalai.&lt;/div&gt;Saya rasa dua contoh di atas tidak jauh berbeda dengan seorang wanita yang menggunakan rok mini di ruang publik. Kalau sampai wanita ini diperkosa oleh seorang (atau kemungkinan besar beberapa orang) pria, maka yang patut disalahkan adalah (para) pemerkosanya. Tapi bukankah wanita ini turut andil memancing terjadinya pemerkosaan itu? Wanita ini pun "bersalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rok mini memang tidak sepantasnya menjadi sorotan utama dalam kasus pemerkosaan. Rok mini memang tidak sepantasnya dituding sebagai dalang kasus pemerkosaan. Akan tetapi, dengan menggunakan rok mini, para wanita dapat dikatakan sedang memperbesar resiko diperkosa. Dengan menggunakan rok mini, para wanita dapat dikatakan lalai. Dan kelalaian itu sudah jelas memiliki andil dalam setiap kasus kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian yang dipakai korban tidak bisa dijadikan alasan atau bahkan pembenaran dalam kasus pemerkosaan, tapi bersikap hati-hati (menjaga diri) dengan berpakaian sopan dan tidak minim sebaiknya diutamakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8970699332883192579?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8970699332883192579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/rok-mini-dan-pemerkosaan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8970699332883192579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8970699332883192579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/rok-mini-dan-pemerkosaan.html' title='Rok Mini dan Pemerkosaan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-dWD2goCPbHw/TpO3DP9nIaI/AAAAAAAAD0U/jUQc0_cS7hA/s72-c/rape-whistle-1308535208-556.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1561220411285759085</id><published>2011-10-06T10:43:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T10:39:26.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Pengalaman Membaca Terjemah Surat Al-Baqarah</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.urdusky.com/" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="183" src="http://1.bp.blogspot.com/-TmGYlFH0PlU/To0iaAiVCEI/AAAAAAAAD0Q/lHna_4sceKg/s200/quran5.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Al-Qur'an&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Alhamdulillah. Kemarin siang saya berhasil menuntaskan membaca terjemahan dari 286 ayat Al-Qur'an dalam surat Al-Baqarah. Pengalaman membaca terjemahan surat Al-Baqarah ini mengungkap banyak hal baru bagi saya. Banyak ayat yang mengena dan mencerahkan hati dan pikiran saya. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dalam surat Al-Baqarah ini. Contohnya antara lain bagaimana membedakan sifat orang mukmin, kafir, dan munafik, kisah penciptaan Nabi Adam sebagai manusia pertama, dan segudang firman Allah yang menjelaskan sifat-sifat buruk Bani Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya sendiri, firman Allah seputar Bani Israil itu mengambil porsi yang sangat banyak dalam surat Al-Baqarah. Bani Israil ini memiliki banyak sifat yang memang layak untuk kita ketahui sebagai peringatan agar kita tidak terjebak pada masalah yang sama. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk membaca semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi pelajaran yang dapat diambil dari surat Al-Baqarah. Yang saya paparkan di atas ibaratnya hanya seujung kuku dari sebuah tubuh yang lengkap. Apalagi yang saya baca hanya terjemahannya saja; belum sampai membaca tafsir. Tentu saja yang dapat saya pahami adalah ayat-ayat yang sifatnya eksplisit (mudah dipahami). Dari 286 ayat dalam surat Al-Baqarah itu, berikut ini adalah ayat-ayat yang sempat saya kutip:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah:2)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. Al-Baqarah:45)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (QS. Al-Baqarah:107)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. Al-Baqarah:123)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah:153)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah:155)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;‎Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah:168)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah&lt;sup&gt;[A1]&lt;/sup&gt;. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah:173)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah:177)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah:254)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (QS. Al-Baqarah:268)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah:271)&lt;/blockquote&gt;Masih banyak lagi pelajaran-pelajaran yang menarik dan menakjubkan dalam Al-Qur'an. Saya yakin akan hal ini. Semoga saja saya masih mampu menyediakan waktu untuk membaca terjemahan Al-Qur'an ini sampai selesai; dan mungkin membaca kembali dari awal atau melanjutkan dengan tafsir. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, usia terus berkurang, semoga waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;sup&gt;[A1]&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1561220411285759085?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1561220411285759085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/pengalaman-membaca-terjemah-surat-al.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1561220411285759085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1561220411285759085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/pengalaman-membaca-terjemah-surat-al.html' title='Pengalaman Membaca Terjemah Surat Al-Baqarah'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-TmGYlFH0PlU/To0iaAiVCEI/AAAAAAAAD0Q/lHna_4sceKg/s72-c/quran5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6040525595713865640</id><published>2011-10-04T12:43:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:14:47.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Pelajaran dari Menyuapi Anak</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gvCnmwAyjSE/Top50urPY8I/AAAAAAAAD0M/CnWnLUWvNhA/s1600/ch851231.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://3.bp.blogspot.com/-gvCnmwAyjSE/Top50urPY8I/AAAAAAAAD0M/CnWnLUWvNhA/s400/ch851231.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Calvin and Hobbes&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Salah satu bagian dari merawat anak balita adalah menyuapi anak. Berhubung saya memiliki dua anak laki-laki kembar, saya pun sesekali waktu membantu istri saya menyuapi anak-anak saya. Hal ini umumnya terjadi saat para &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/09/seminggu-tanpa-pembantu.html"&gt;PRT (Pembantu Rumah Tangga) sedang Cuti Lebaran&lt;/a&gt;. Rasanya tidak tega melihat istri harus menghabiskan waktu 2-4 jam untuk menyuapi 2 anak. Untungnya istri saya tidak gengsi menyerahkan sebagian pekerjaan mengurus anak kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;suapi anak di saat anak lapar&lt;/div&gt;Dari semua sesi menyuapi anak-anak yang saya lakoni, ada beberapa pelajaran yang saya ambil. Pertama, &lt;i&gt;suapi anak di saat anak lapar&lt;/i&gt;. Sejak anak-anak lahir sampai mereka besar, mereka dibiasakan makan sesuai jadwal. Pola makan sesuai jadwal ini efektif untuk menjaga agar anak-anak tidak kelaparan. Kami (saya dan istri) beranggapan dengan jadwal makan yang teratur, maka tambahan energi untuk anak-anak pun masuk dengan teratur. Tujuan akhirnya adalah untuk mempertahankan daya tahan tubuh anak-anak dengan asupan gizi yang teratur pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, seiring dengan bertambahnya usia mereka, jadwal makan ini mulai terasa tidak tepat guna. Semakin besar seorang anak, semakin tidak teratur pola makannya. Kue, susu, dan berbagai cemilan lain mulai sering dikonsumsi anak-anak. Frekuensi konsumsi makanan sampingan itu pun tidak teratur. Mereka pun lebih bisa menahan lapar mereka (misalnya karena sedang asyik bermain). Oleh karena itu, jadwal makan mereka pun perlu disesuaikan dengan kondisi perut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight" style="float: right;"&gt;suapi anak di saat suasana hati mereka sedang baik&lt;/div&gt;Kedua, &lt;i&gt;suapi anak di saat suasana hati mereka sedang baik&lt;/i&gt;. Bahkan orang dewasa sekalipun sering kehilangan selera makan saat suasana hati mereka sedang buruk. Anak-anak justru lebih mudah terpengaruh suasana hati mereka. Tidak mudah bagi anak-anak mengalahkan perasaan dengan logika. Mau lapar seperti apa pun, mereka akan menolak untuk makan bila mereka sedang marah atau menangis. Lebih parah lagi kalau orang tua anak-anak ini justru menyikapinya dengan cara yang membuat suasana hati mereka semakin buruk seperti dengan memarahi atau menakut-nakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya pribadi, kata-kata ancaman seperti, "kalau gak makan, gak diajak pergi" itu lebih sering kontraproduktif. Kalau pun ancaman-ancaman seperti itu berhasil (membujuk anak-anak makan), resiko jangka panjangnya harus diperhatikan. Kemungkinannya besar bahwa anak-anak akan mengkaitkan sesi makan dengan ajakan jalan-jalan. Tentu repot kalau harus menjanjikan jalan-jalan setiap sesi makan. Alhasil anak-anak akan semakin susah makan karena janji jalan-jalan tersebut tidak kunjung terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan orang tua adalah membuat sesi makan sekondusif mungkin. Entah itu dengan mengajak bermain, menonton film, atau kegiatan lain yang menyenangkan (tapi juga aman untuk perut anak-anak). Hindari menjanjikan hal-hal yang sulit dipenuhi di sesi-sesi makan yang lain seperti jalan-jalan, hadiah, atau janji-janji lainnya. Kalau suasana hati anak itu baik, suapan demi suapan makanan itu akan lebih mudah masuk ke dalam mulut anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;suapi anak dengan makanan yang mereka suka&lt;/div&gt;Ketiga, &lt;i&gt;suapi anak dengan makanan yang mereka suka&lt;/i&gt;. Kalau yang disajikan adalah makanan yang mereka suka, anak-anak sudah pasti akan melahapnya (walaupun mereka tidak lapar). Contohnya anak-anak saya sendiri. Salah satu makanan favorit anak-anak saya adalah &lt;i&gt;french fries&lt;/i&gt;. Apa pun kondisi perut mereka, apa pun suasana hati mereka, mereka pasti akan melahap &lt;i&gt;french fries&lt;/i&gt; yang disajikan di depan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kami (saya dan istri saya) pun mengkombinasikan makanan favorit anak-anak kami dengan makanan pokok mereka. Salah satu anak kami, misalnya, adalah penggemar kacang bawang. Kadang kami sajikan sepiring kecil kacang bawang untuk menemani nasi mereka. Anak kami yang lain adalah penggemar kering kentang balado. Kami pun kadang menyajikan kering kentang balado itu di samping nasi mereka. Bahkan ada kalanya kami melakukan kombinasi yang tidak lumrah. Kami pernah membiarkan mereka makan wafer coklat sembari disuapi nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja porsi makanan favorit ini perlu dijaga agar tidak kebablasan. Kalau porsi makanan favorit ini lebih banyak, ada kemungkinan makanan pokok yang disajikan malah tidak dimakan, apalagi bila makanan favorit anak-anak itu termasuk makanan yang mengenyangkan. Frekuensi makanan favorit ini pun perlu dijaga agar tidak kebablasan. Terlalu sering menyediakan makanan favorit akan membuat anak-anak berharap makanan favorit itu terus ada dan pada akhirnya membuat mereka enggan memakan makanan pokok yang disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada banyak faktor lain yang mungkin tidak sempat saya sebutkan di sini. Hanya saja, secara garis besar, yang penting untuk kita perhatikan saat menyuapi anak adalah kondisi anak-anak itu sendiri. Jangan hanya berpatokan pada jadwal yang kita (orang tua) buat sendiri. Kita pun perlu memperhatikan kondisi perut, suasana hati, dan selera makan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Tulisan lainnya tentang menyuapi anak: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/memberi-makan-anak-tanpa-repot.html"&gt;Memberi Makan Anak Tanpa Repot&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6040525595713865640?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6040525595713865640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/pelajaran-dari-menyuapi-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6040525595713865640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6040525595713865640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/pelajaran-dari-menyuapi-anak.html' title='Pelajaran dari Menyuapi Anak'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gvCnmwAyjSE/Top50urPY8I/AAAAAAAAD0M/CnWnLUWvNhA/s72-c/ch851231.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-890177141759273954</id><published>2011-10-02T12:25:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.767+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Orang Tua Penyantun</title><content type='html'>Tulisan ini terinspirasi dari Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 225 yang saya kutip di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://masteraseel.110mb.com/allah_names.html" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-KMPIxA8JgoI/Toklj6sO7TI/AAAAAAAAD0I/U95SVqG6_tY/s1600/alhalim.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Menurut terjemah Al-Qur'an yang saya baca, Halim berarti penyantun: tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa. Kata "penyantun" ini sempat membuat saya terhenyak. Allah yang Maha Kuasa tidak hanya mudah mengampuni hamba-Nya yang berbuat dosa. Allah bahkan tidak menyegerakan turunnya siksaan kepada para hamba yang berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Allah yang Maha Penyantun ini dapat menjadi inspirasi saya sebagai orang tua dalam menyikapi berbagai masalah dengan anak-anak saya. Anak-anak adalah manusia yang sangat rentan membuat kesalahan. Dengan kata lain, anak-anak itu sangat rentan menyulut sumbu kemarahan orang tuanya. Hal ini saya rasakan sendiri saat berurusan dengan dua anak laki-laki saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya ingin menjadi orang tua yang bijaksana, sudah selayaknya saya menjadi orang tua yang penyantun. Sudah selayaknya saya menjadi orang tua yang tidak mudah marah. Sebaliknya saya harus terus berusaha menjadi orang tua yang mudah memaafkan dan tidak terburu-buru memarahi anak saat anak melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun teori-teori untuk menjadi orang tua yang penyabar sudah lama melekat dalam pikiran saya, kondisi di lapangan senantiasa membuat penerapan teori-teori ini menjadi sulit. Ada banyak faktor yang membuat kesabaran itu menjadi sulit untuk dicapai: fisik yang lelah, masalah yang menumpuk, emosi yang memuncak, dll. Semoga saja konsep "penyantun" ini dapat membantu saya menjadi orang tua yang lebih penyabar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-890177141759273954?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/890177141759273954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/orang-tua-penyantun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/890177141759273954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/890177141759273954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/10/orang-tua-penyantun.html' title='Orang Tua Penyantun'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KMPIxA8JgoI/Toklj6sO7TI/AAAAAAAAD0I/U95SVqG6_tY/s72-c/alhalim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2081201945484684588</id><published>2011-09-07T23:27:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembar'/><title type='text'>Seminggu Tanpa Pembantu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://media.photobucket.com/image/pembantu+/iwahyu/pembantu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="181" src="http://i674.photobucket.com/albums/vv106/iwahyu/pembantu.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pembantu Rumah Tangga (PRT) adalah aset yang berharga; sangat berharga. Kehadiran mereka di dalam tempat tinggal kita memang sangat membantu. Banyak sekali pekerjaan yang mereka tangani sehingga memungkinkan kita memiliki lebih banyak waktu untuk diri kita dan keluarga kita sendiri. Hidup terasa lebih berat tanpa kehadiran PRT. &lt;i&gt;Lebay&lt;/i&gt;? Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri adalah waktu yang paling tepat untuk mengukur nilai PRT dalam kehidupan kita. Sejak semua PRT pamit Cuti Lebaran mulai dari tanggal 28 Agustus 2011, saya dan istri berjibaku mengurus rumah dan keluarga. Rutinitas harian kami pun berubah total. Dari yang biasanya bekerja di belakang meja, pekerjaan kami berubah menjadi urusan bersih-bersih rumah dan menjaga anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian sebagian orang, mengurus rumah dan anak adalah pekerjaan mudah; karena sudah terbiasa. Bagi kami (lebih tepatnya bagi saya), mengurus rumah dan anak bukanlah perkara mudah. Bahkan urusan bersih-bersih rumah terasa berat (baca: melelahkan dan membosankan). Untungnya urusan masak-memasak dapat ditangani oleh istri saya. Pengeluaran rumah tangga pun tidak terlalu boros untuk membeli makanan dari luar rumah. Urusan mencuci pakaian pun ditangani istri saya dengan baik, walaupun akhirnya harus mengalah dan mengandalkan jasa cuci kiloan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, urusan yang paling menantang buat saya adalah urusan anak-anak. Urusan mandi, makan, toilet, tidur, menenangkan saat marah dan menangis, melerai saat bertengkar, menemani mereka main dan menonton, dan berbagai urusan lainnya, adalah urusan yang jauh lebih melelahkan dibandingkan urusan rumah. Kalau urusan rumah menghabiskan energi lahir, urusan anak-anak itu menghabiskan energi batin. Bagi saya, kehabisan energi batin (&lt;i&gt;capek ati&lt;/i&gt;) itu jauh lebih melelahkan dibandingkan kehabisan energi lahir (&lt;i&gt;capek doank&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya prinsip &lt;i&gt;No Pain No Gain&lt;/i&gt; tetap berlaku. Tanpa kehadiran PRT selama Cuti Lebaran ini, saya dan istri saya kembali merasakan pengalaman mengurus anak 24/7. Tidak ada satu detik pun dalam hidup kami tanpa kehadiran anak-anak selama masa Cuti Lebaran ini. Walaupun melelahkan, banyak hal menyenangkan yang kami alami bersama. Banyak pula hal baru (tapi lama) yang saya dan istri saya temukan selama berinteraksi dengan anak-anak kami, Raito dan Aidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anger Management&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari biasa, interaksi saya dengan anak-anak itu terbatas pada malam hari saja, kecuali di akhir pekan. Di akhir pekan, saya bisa menghabiskan waktu seharian bersama anak-anak saya. Sangat terasa sekali bedanya selama Cuti Lebaran ini. Naik turunnya emosi saat menghadapi tingkah polah anak-anak benar-benar seperti mengendarai &lt;i&gt;roller coaster&lt;/i&gt;. Di satu waktu saya dapat tertawa lepas melihat tingkah laku anak-anak, sementara di waktu yang lain saya merasa ingin menjitaki mereka satu per satu melihat keras kepalanya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sadar bahwa mengelola amarah memang tidak pernah semudah membaca berbagai kata-kata bijak atau petunjuk-petunjuk praktis dalam teori pengelolaan amarah. Hanya saja mengurus anak-anak selama PRT tidak ada ini benar-benar membuka mata saya akan sulitnya mengelola amarah. Pada akhirnya, metode-metode pengelolaan amarah (emosi) yang biasa saya terapkan pun seolah-olah tidak memiliki pengaruh apa pun. Sulit sekali mengelola amarah di tengah-tengah keluarga. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sesi Makan yang Melelahkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Salah satu waktu yang membuat saya ingin menjitaki Raito dan Aidan itu adalah sesi makan, baik makan pagi, makan siang, maupun makan malam. Waktu yang dibutuhkan untuk menyuapi satu anak saja antara 1 s.d. 2 jam. Untung saya dan istri saya bekerja paralel (masing-masing menyuapi 1 anak). Kalau sampai saya atau istri saya harus menyuapi 2 anak, itu artinya butuh waktu 2 s.d. 4 jam untuk menyuapi Raito dan Aidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari &lt;i&gt;anger management&lt;/i&gt;, satu hal yang saya sadari lewat sesi makan anak-anak adalah anak-anak itu lebih mudah makan saat mereka lapar. Sebelumnya anak-anak saya memiliki jadwal makan pagi, siang, dan malam yang teratur. Akan tetapi, jadwal makan mereka ini kelihatannya tidak sesuai dengan waktu lapar mereka. Oleh karena itu, mereka seringkali terlihat &lt;i&gt;ogah-ogahan&lt;/i&gt; saat disuapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jadwal makan mereka disesuaikan dengan waktu lapar mereka, sesi makan menjadi lebih cepat. Apalagi kalau makanan yang disajikan adalah makanan favorit mereka. Sesi makan anak-anak dapat berubah menjadi menyenangkan. Mereka kenyang, kami (saya dan istri) senang. Kami pun jadi punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain (baca: istirahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://isnsfw.blogspot.com/2011/08/good-wife.html" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="162" src="http://4.bp.blogspot.com/-NLn0HAsrAs8/TltW05SGRdI/AAAAAAAAE6s/6QOuZpHY3RA/hjlh70.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Kerja Tim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang membekas dalam benak saya selama PRT mengambil Cuti Lebaran adalah kerja tim. Tim yang mana? Tentu saja duet antara saya dan istri saya. Bahu-membahu bersama istri untuk mengurus rumah dan anak-anak jelas membuat semua urusan terasa lebih ringan. Ada kalanya kami bekerja paralel, ada kalanya kami bekerja bergantian. Tujuan akhirnya adalah semua urusan yang harus dikerjakan itu masuk ke dalam status &lt;i&gt;Completed&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks mengurus anak-anak, kerja tim ini menjadi lebih penting lagi. Kaitannya sangat erat dengan mengelola amarah yang saya paparkan di atas. Saat saya sudah tidak tahan lagi menyikapi tingkah laku Raito dan Aidan, istri saya masuk dan menggantikan. Hal yang sama pun berlaku sebaliknya. Dengan begitu, tidak ada satu pun dari kami yang harus memaksakan diri menahan emosi kami di depan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi pengalaman lain yang dapat saya tuangkan dalam tulisan ini, tapi saya rasa tulisan ini akan menjadi terlalu panjang dan tidak nyaman untuk dibaca. Saya yakin Anda (yang sedang membaca tulisan ini) pun memiliki pengalaman yang serupa (tapi tak sama) dengan pengalaman saya ini; terutama kalau Anda memiliki 2 anak laki-laki kembar berumur 3 tahun yang tingkahnya ingin membuat Anda mengeluarkan &lt;i&gt;kamehameha&lt;/i&gt;. Silakan berbagi pengalaman hidup Anda tanpa PRT di bagian komentar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2081201945484684588?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2081201945484684588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/09/seminggu-tanpa-pembantu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2081201945484684588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2081201945484684588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/09/seminggu-tanpa-pembantu.html' title='Seminggu Tanpa Pembantu'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NLn0HAsrAs8/TltW05SGRdI/AAAAAAAAE6s/6QOuZpHY3RA/s72-c/hjlh70.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1169936525179681938</id><published>2011-08-24T10:13:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T00:43:34.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kriminalitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wirausaha'/><title type='text'>Saat Akun Facebook Jebol</title><content type='html'>Cerita ini bermula sekitar 2-3 hari yang lalu, saat akun Facebook saya tiba-tiba di-&lt;i&gt;tag&lt;/i&gt; lewat 5 gambar alat elektronik &lt;i&gt;for sale&lt;/i&gt;. Terus terang saya termasuk orang yang merasa terganggu dengan metode penjualan seperti ini. Saya tidak mempermasalahkan bila promosi barang-barang tersebut masuk ke dalam &lt;i&gt;News Feed&lt;/i&gt;, tapi menjual barang dengan metode &lt;i&gt;photo-tagging&lt;/i&gt; ini ibarat &lt;i&gt;salesman&lt;/i&gt; masuk ke rumah saya tanpa permisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah akun Facebook yang jebol. Berhubung saya tidak suka dengan metode penjualan lewat &lt;i&gt;photo-tagging&lt;/i&gt;, sudah dapat dipastikan bahwa saya tidak akan pernah menjadi &lt;i&gt;Friends&lt;/i&gt; dengan akun-akun penjual terkait (kecuali untuk kasus-kasus tertentu). Oleh karena itu, saya cukup terkejut saat saya tiba-tiba di-&lt;i&gt;tag&lt;/i&gt; lewat gambar alat-alat elektronik tersebut. Itu artinya saya sudah menjadi &lt;i&gt;Friends&lt;/i&gt; dengan akun Facebook yang tag saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun teringat cerita salah seorang keluarga saya beberapa waktu yang lalu. Keluarga saya ini, berinisial LN, mengaku akun Facebooknya dijebol. Akhirnya dia membuat akun baru dengan nama yang sama persis. Berhubung akun Facebook yang dijebol itu belum diganti namanya, saya akhirnya mempunyai 2 &lt;i&gt;Friends&lt;/i&gt; di Facebook dengan inisial LN ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat cerita tersebut, saya semakin yakin bahwa akun Facebook yang dijebol itulah yang tag saya dengan gambar-gambar alat elektronik di atas. Dengan rasa penasaran, saya pun mencoba mengakses akun Facebook tersebut. Ternyata dugaan saya benar. Namanya memang sudah diubah menjadi berinisial SME, tapi akun tersebut dapat dipastikan merupakan akun Facebook LN yang sebelumnya dijebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pertama adalah &lt;i&gt;Mutual Friends&lt;/i&gt;. Saya dan SME memiliki 11 &lt;i&gt;Mutual Friends&lt;/i&gt;, sementara saya dan LN (yang baru) memiliki 10 &lt;i&gt;Mutual Friends&lt;/i&gt;. 9 akun dari masing-masing kelompok &lt;i&gt;Mutual Friends&lt;/i&gt; itu adalah orang yang sama. Walaupun begitu, semua yang ada dalam &lt;i&gt;Mutual Friends&lt;/i&gt; itu, baik dari SME maupun LN, adalah keluarga saya. Saya rasa fakta ini saja sudah cukup untuk membuktikan kalau akun SME ini adalah akun LN yang dijebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maaf sebelumnya saya tidak dapat mencantumkan &lt;i&gt;screenshot&lt;/i&gt; temuan saya di atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba telusuri lebih lanjut profil Facebook SME ini. Bagian &lt;b&gt;Info&lt;/b&gt; akun ini sudah berubah total. Akan tetapi, ada satu informasi yang tidak mungkin diubah, yaitu URL profilnya. URL profil akun SME ini masih tetap&amp;nbsp;http://www.facebook.com/ln********1 yang merupakan URL profil LN yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian &lt;b&gt;Photos&lt;/b&gt; pun sudah berubah total. Akun SME ini tidak lagi menyimpan foto-foto dari akun LN yang lama. Foto-foto yang ada di akun SME saat ini adalah foto-foto barang elektronik. Kelihatannya memang akun SME ini fokus untuk menjual barang-barang elektronik. &lt;b&gt;Wall Posts&lt;/b&gt; akun SME ini sendiri pun penuh dengan promosi barang-barang elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan &lt;b&gt;Wall Posts&lt;/b&gt;, saya coba cek &lt;i&gt;Older Posts&lt;/i&gt; di akun SME ini. Saya coba telusuri sampai beberapa bulan ke belakang sampai akhirnya saya menemukan sendiri entri yang saya buat di &lt;i&gt;Wall&lt;/i&gt; LN yang lama pada tanggal 16 April 2011. Entri ini pun di-reply oleh LN pada hari yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fE7FSmI1WPs/TlRlpyqmNmI/AAAAAAAADzA/LgIOd-VSlYg/s1600/facebook_sme1.png" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="http://4.bp.blogspot.com/-fE7FSmI1WPs/TlRlpyqmNmI/AAAAAAAADzA/LgIOd-VSlYg/s400/facebook_sme1.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cukup mudah membuktikan bahwa akun Facebook SME ini adalah akun Facebook LN yang dijebol. Saya bahkan sudah menyampaikan informasi ini ke LN (lewat akun Facebook LN yang baru). Yang unik adalah SME ini berani buka-bukaan membeberkan informasi mengenai dirinya. Bahkan di akun Facebook SME ini dipasang foto-foto pribadi (dan keluarga) yang bersangkutan. Apa mungkin pemilik akun SME ini tidak peduli aksi jebol akun Facebook ini akan diungkap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja pemasangan foto-foto dan informasi yang terbuka ini dalam rangka meyakinkan calon pembeli, tapi strategi ini mungkin akan menjadi bumerang saat akun SME diketahui hasil curian. Kredibilitas akun SME sebagai penjual tentu akan menurun. Dengan kredibilitas yang rendah, tentu promosi habis-habisan pun akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan lain adalah pemilik akun SME ini tidak tahu-menahu masalah pencurian akun LN yang lama. Mungkin saja pemilik akun SME ini mendapatkan akun LN ini dari pihak lain; dengan cara membeli atau lainnya. Sementara yang melakukan pencurian akun ini adalah "pihak lain" tersebut. Saya mencoba berpikir positif di sini, tapi saya sendiri tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Kepedulian saya terhadap masalah ini harus berhenti sampai di sini saja. Tidak ada lagi yang dapat (atau perlu) saya lakukan. Paling tidak temuan ini sudah saya informasikan ke pemilik akun yang dijebol (LN). Semoga saja pemilik akun SME ini memang benar bukan pihak yang melakukan pembobolan dan tidak berniat melakukan penipuan lebih lanjut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1169936525179681938?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1169936525179681938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/cerita-ini-bermula-sekitar-2-3-hari.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1169936525179681938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1169936525179681938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/cerita-ini-bermula-sekitar-2-3-hari.html' title='Saat Akun Facebook Jebol'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fE7FSmI1WPs/TlRlpyqmNmI/AAAAAAAADzA/LgIOd-VSlYg/s72-c/facebook_sme1.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6724250579454799678</id><published>2011-08-21T16:10:00.000+07:00</published><updated>2011-08-21T16:10:32.730+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>6 Tahun Terlewati</title><content type='html'>20 Agustus 2011. 6 tahun sudah saya menikah dengan &lt;a href="http://twitter.com/raditcsui"&gt;Ratna Aditia&lt;/a&gt;. Berbagai suka dan duka sudah kami lewati bersama. Roda pernikahan kami sudah berputar berkali-kali. Kebahagiaan pada puncaknya sudah kami rasakan, kesedihan pada puncaknya (atau lembahnya?) pun sudah kami rasakan; berkali-kali. Ada banyak pengalaman baru yang kami alami bersama, baik manis maupun pahit. Semua itu pada akhirnya membentuk hubungan yang kuat di antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-f8SsRfu1DRc/TlC_hBUQpNI/AAAAAAAADy4/GdWyLskKn6E/s1600/happy-6th-anniversary.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="81" src="http://1.bp.blogspot.com/-f8SsRfu1DRc/TlC_hBUQpNI/AAAAAAAADy4/GdWyLskKn6E/s400/happy-6th-anniversary.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ucapan Selamat dengan &lt;i&gt;Photo-tagging&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Hubungan yang kuat? Betul sekali. Kekuatan hubungan antara saya dan istri saya setelah enam tahun menikah terasa sekali bedanya bila dibandingkan dengan waktu awal pernikahan. Kenapa begitu? Bukankah di awal pernikahan itu justru suami dan istri sedang &lt;i&gt;on fire&lt;/i&gt;? Memang begitu. Hanya saja kemesraan di awal pernikahan itu tidak menandakan hubungan yang kuat. Justru pasangan pengantin baru itu lebih identik dengan kelabilan daripada kestabilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 tahun menikah, banyak hal yang berubah ke arah yang lebih baik.&amp;nbsp;Kepentingan bersama senantiasa berada di posisi lebih tinggi dibandingkan kepentingan pribadi masing-masing.&amp;nbsp;Mulai dari kepercayaan, keterbukaan, rasa saling mengerti, kemauan untuk mengalah, sampai kestabilan emosi, karakter saya dan istri saya berkembang menjadi lebih dewasa. 6 tahun adalah waktu yang signifikan untuk membentuk perubahan-perubahan yang baik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Pernikahan justru membantu kita menjadi lebih dewasa ...&lt;/div&gt;Menjadi dewasa setelah menikah? Benar sekali. Saya pernah menuangkan pendapat saya mengenai menjadi dewasa setelah menikah lewat tulisan &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2009/04/maturity-through-marriage.html"&gt;Maturity Through Marriage&lt;/a&gt;. Kita memang memerlukan tingkat kedewasaan tertentu untuk menikah, namun proses menjadi dewasa itu tidak pernah berhenti; apalagi hanya dengan pernikahan. Pernikahan justru membantu kita menjadi lebih dewasa seiring waktu yang kita lalui untuk menyelaraskan kebutuhan dan kepribadian kita dengan pasangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perubahan yang paling terasa adalah dari sisi keterbukaan dan kepercayaan. Kenapa "paling terasa"? Karena sebelum menikah saya adalah orang yang sangat tertutup; terutama saat ada masalah. Saya seringkali menyimpan masalah yang saya hadapi di dalam hati saya dan berusaha mengatasinya sendiri. Sifat tertutup saya ini menjadi sumber konflik dalam pernikahan saya. Namun semua itu berubah setelah saya belajar untuk lebih terbuka dan mulai banyak menceritakan masalah-masalah saya kepada istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anger management&lt;/i&gt; pun jauh membaik. Rasanya di awal pernikahan itu konflik mudah sekali muncul. Selisih pendapat mudah sekali terpicu. Pertengkaran mudah sekali terjadi. Awal pernikahan itu benar-benar &lt;i&gt;on fire&lt;/i&gt;. Bukan hanya dari sisi kemesraan, tapi juga dari sisi emosi. Betapa mudahnya emosi itu terpancing karena adanya ketidakcocokan di antara saya dan istri saya. Untungnya setelah bertahun-tahun menikah, kami menjadi lebih mampu mengendalikan emosi dan melangkah lebih jauh untuk saling memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi perubahan baik yang dapat saya ceritakan, tapi saya rasa intinya sudah tersampaikan lewat beberapa contoh di atas. Yang pasti perjalanan saya bersama istri saya masih panjang. Masih banyak pengalaman baru yang akan kami temukan, masih banyak perubahan-perubahan baik yang dapat kami capai. Satu hal yang pasti, 6 tahun pernikahan saya adalah sesuatu yang patut saya syukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan saya dan istri saya memang jauh lebih kuat setelah 6 tahun menikah, tapi itu bukan berarti hubungan kami 100% "aman". Pasangan-pasangan dengan usia pernikahan yang jauh lebih tua dari kami pun masih mungkin berpisah, apalagi kami yang baru menikah selama 6 tahun. Perjalanan kami memang benar-benar masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kami tetap optimis (atau mungkin hanya saya yang optimis?) bahwa hubungan kami dapat bertahan sampai kehidupan akhirat. Berbagai masalah telah kami lewati, berbagai konflik telah kami atasi; baik kecil maupun besar. Ada banyak pelajaran yang tersirat dan tersurat saat menjalani berbagai masalah dan konflik tersebut. Dapat saya katakan bahwa amunisi kami cukup untuk membombardir setiap masalah yang akan datang di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Agustus 2011. 6 tahun pernikahan sudah terlewati. Puluhan tahun pernikahan masih menanti. Semoga hubungan saya dan istri saya langgeng sampai di surga nanti. &lt;i&gt;Aamiin ya rabbal 'aalamiin&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6724250579454799678?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6724250579454799678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/6-tahun-terlewati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6724250579454799678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6724250579454799678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/6-tahun-terlewati.html' title='6 Tahun Terlewati'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-f8SsRfu1DRc/TlC_hBUQpNI/AAAAAAAADy4/GdWyLskKn6E/s72-c/happy-6th-anniversary.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1123063735459128971</id><published>2011-08-12T14:32:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Menjadi Ayah (dan Suami) di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>Bagi umat Islam, bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan. Di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim sudah pasti melaksanakan ibadah puasa. Tentu saja puasa yang dimaksud bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga puasa dalam konteks menahan amarah dan syahwat.&amp;nbsp;Di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim pun tidak akan sungkan beramal. Frekuensi shalat sunnah diperbanyak, sedekah diperbanyak, semangat bekerja semakin tinggi, kejujuran semakin kokoh, dan berbagai kebaikan lain yang diperbanyak dan diperkuat selama bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Ramadhan ini, seiring dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas amal baik yang dilakukan, kebaikan dalam diri seseorang pun akan meningkat. Bahkan dapat dikatakan bahwa di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim akan mencapai titik maksimal kebaikan masing-masing. Kejujuran akan dimaksimalkan, integritas pun ikut dimaksimalkan, profesionalisme pun pada akhirnya menjadi maksimal. Masih banyak lagi kebaikan lain yang dimaksimalkan dalam diri setiap Muslim yang berpuasa di bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dapat terjadi dalam menjalankan peran kita sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami di tengah-tengah keluarga kita. Di bulan Ramadhan ini, kita pun dapat memaksimalkan kebaikan yang ada dalam diri kita sebagai seorang ayah dan seorang suami. Kebaikan maksimal ini dapat kita terapkan dalam keluarga kita lewat kiat-kiat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memaksimalkan kesabaran.&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan paling kondusif untuk mengelola amarah (bahasa gaulnya: &lt;i&gt;anger management&lt;/i&gt;). Bukan hanya kita, tapi orang-orang di sekitar kita pun mengelola amarah mereka di bulan ini. Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah bulan yang paling tepat untuk memaksimalkan kesabaran. Kita dapat menekan frekuensi amarah di tengah keluarga kita dengan menyikapi setiap masalah dalam keluarga dengan bijaksana.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memaksimalkan sesi makan sahur dan berbuka.&lt;br /&gt;Saya yakin kita semua pernah mendengar betapa pentingnya sesi makan bersama keluarga. Sesi makan ini sangat baik bila dimanfaatkan sebagai media komunikasi dengan istri dan anak-anak kita. Akan tetapi, mewujudkan sesi makan bersama keluarga ini kadang sulit; umumnya karena alasan pekerjaan. Di bulan ramadhan ini, sesi makan bersama akan semakin mudah terwujud lewat sahur bersama dan buka puasa bersama. Tidak hanya nuansa kebersamaan yang ada dalam sahur dan buka puasa bersama keluarga kita, tapi nuansa religius yang ada pun akan membantu mempererat kebersamaan itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memaksimalkan keteladanan.&lt;br /&gt;Mulai dari meningkatkan kesabaran dan kebijaksanaan sampai meningkatkan kuantitas (dan juga kualitas) kebersamaan dengan istri dan anak-anak kita, kita secara tidak langsung telah menjadi teladan yang baik dalam keluarga kita. Akan lebih baik kalau kita juga mulai membiasakan kebaikan-kebaikan kecil seperti membantu pekerjaan istri, menemani anak-anak bermain, atau lainnya. Dengan begitu, hubungan kita dengan keluarga akan bertambah erat sehingga keteladanan kita akan memiliki dampak yang lebih mendalam.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;Masih banyak kiat-kiat lain yang dapat kita terapkan dalam keluarga kita selama bulan Ramadhan. Penerapannya sendiri kembali kepada masing-masing ayah (atau suami) karena kondisi keluarga setiap orang itu berbeda. Saya sendiri saat ini fokus pada tiga kiat yang sudah saya sebutkan di atas. Alhamdulillah saya pun merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lebih bersabar menyikapi masalah dalam keluarga, hati saya menjadi lebih tenang. Hal ini dikarenakan kemarahan saya itu seringkali menimbulkan penyesalan dalam diri saya sendiri. Selain itu, istri dan anak-anak saya pun menyikapi perbaikan sifat saya ini dengan perubahan positif. Yang paling terlihat adalah perubahan pada anak-anak saya. Tanpa keterlibatan emosi (atau rasa takut), anak-anak saya menjadi lebih berani mengakui kesalahan mereka dan tidak segan-segan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya sesi makan sahur, saya punya waktu lebih banyak bersama istri saya. Anak-anak saya sendiri belum mencapai usia yang cukup untuk ikut berpuasa. Makan sahur berdua bersama istri saya memberikan waktu ekstra untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar cerita; salah satu proses yang layak dilakukan untuk menjaga keterbukaan dan keharmonisan. Hal yang sama juga berlaku untuk sesi buka puasa. Bedanya adalah anak-anak saya ikut terlibat dalam sesi buka puasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keteladanan sebenarnya konsekuensi dari dua perubahan di atas, yaitu semakin mempererat hubungan saya dengan istri dan anak-anak. Hubungan yang erat ini yang memungkinkan saya menjadi teladan bagi istri dan anak-anak saya. Tidak mungkin saya menjadi teladan kalau istri dan anak-anak saya itu tidak menyukai saya. Pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan saya (yang baik) pun dapat dengan mudah mereka lihat dan ikuti. Dampak positifnya adalah saya tidak perlu repot-repot memaksa mereka (terutama anak-anak saya) untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada intinya, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk memaksimalkan kebaikan. Dengan begitu, bulan Ramadhan ini dapat kita manfaatkan untuk menjadi seorang ayah (atau suami) yang lebih baik bagi anak-anak dan istri kita. Tentu saja dengan harapan bahwa kebaikan yang kita bentuk selama Ramadhan ini akan tetap langgeng sampai Ramadhan berikutnya; bahkan sampai akhir hayat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1123063735459128971?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1123063735459128971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/menjadi-ayah-dan-suami-di-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1123063735459128971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1123063735459128971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/menjadi-ayah-dan-suami-di-bulan.html' title='Menjadi Ayah (dan Suami) di Bulan Ramadhan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2377436269972705974</id><published>2011-08-09T13:59:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembar'/><title type='text'>Kamus Bahasa Raito Aidan</title><content type='html'>Sebelumnya saya pernah menulis kamus mikro dengan judul yang sama: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/01/kamus-bahasa-raito-aidan.html"&gt;Kamus Bahasa Raito Aidan&lt;/a&gt;. Kamus mikro tersebut saya publikasikan di blog ini pada tanggal 22 Januari 2010. Saat itu Raito dan Aidan masih berumur 1,5 tahun. Kata-kata mereka saat itu agak sulit dimengerti. Kalau saya bukan orang tua mereka, dapat dipastikan saya tidak akan bisa memahami satu pun kata-kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya putuskan untuk memperbaharui Kamus Bahasa Raito Aidan. Tentu saja isinya adalah kata-kata Raito dan Aidan yang sering saya dengar akhir-akhir ini. Kata-kata mereka sebenarnya lebih mudah dimengerti, tapi selalu saja ada kata-kata yang terdengar lucu di telinga orang dewasa. Di bawah ini adalah 20 kata-kata Raito Aidan pilihan saya yang saya rasa unik dan lucu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;jamban&lt;/i&gt; :: gambar; bukan toilet&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;puttinja&lt;/i&gt; :: fruit ninja; bukan "sesuatu yang tidak pantas saya sebutkan di sini"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;tutuwis&lt;/i&gt; :: tulis-tulis; maksudnya minta pensil warna untuk menjamban (menggambar)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;buwut&lt;/i&gt; :: huruf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;tabuk penyaman&lt;/i&gt; :: sabuk pengaman; sama sekali tidak nyaman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;micompon&lt;/i&gt; :: mikrofon&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;lobon&lt;/i&gt; :: mengobrol&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;binton&lt;/i&gt; :: badminton&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;coan&lt;/i&gt; :: koran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;tana&lt;/i&gt; :: celana; bukan tanah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;teja&lt;/i&gt; :: kerja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;belennan&lt;/i&gt; :: berenang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;timcacih&lt;/i&gt; :: terima kasih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;mamici&lt;/i&gt; :: permisi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;cowwi&lt;/i&gt; :: sorry; kata "maaf" tingkat lanjut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;tateja&lt;/i&gt; :: tidak sengaja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;bucan&lt;/i&gt; :: bukan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;tunju&lt;/i&gt; :: tunggu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;helo ben helo ma ju pen&lt;/i&gt; :: hello friends, hello my good friends; lirik lagu pembukaan &lt;a href="http://www.pororo.net/en/"&gt;Pororo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;duit&lt;/i&gt; :: duit; entah kenapa untuk urusan duit tidak ada kesalahan pengucapan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Ada beberapa catatan kecil terkait kata-kata lucu di atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ada pola tertentu pada kesalahan pengucapan Raito dan Aidan, misalnya huruf "s" diganti dengan "c" atau huruf "c" diganti dengan "t", tapi tetap saja &lt;i&gt;ribet&lt;/i&gt; untuk menjelaskan pola ini secara sistematis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada beberapa kesalahan pengucapan yang cepat membaik seiring penggunaan, tapi ada juga yang awet. Contoh yang awet ini adalah &lt;i&gt;buwut&lt;/i&gt;. Alasannya mungkin karena "h", "r", dan "f" itu sulit diucapkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Walaupun pengucapan mereka salah, mereka tetap tahu pengucapan yang benar. Kalau saya meniru pengucapan mereka yang salah itu, mereka akan bilang kalau ucapan saya itu salah. Contohnya seperti dialog di bawah ini:&lt;br /&gt;Saya: "Ini apa, Aidan?"&lt;br /&gt;Aidan: "tana."&lt;br /&gt;Saya: "Oh, tana."&lt;br /&gt;Aidan: "bucan. Ini tana."&lt;br /&gt;Saya: "Iya, tana."&lt;br /&gt;Aidan: "bucan. Ini tana."&lt;br /&gt;Saya: "Oh, celana."&lt;br /&gt;Aidan: "Iya."&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikian segelintir hiburan di sela-sela lelahnya mengurus dua anak kembar yang &lt;i&gt;pecicilan &lt;/i&gt;dan cerewet. Masih ada banyak lagi tingkah laku Raito dan Aidan yang unik (kadang lucu, kadang menyebalkan) dan berkesan. Mengurus Raito dan Aidan memang melelahkan, tapi kebahagiaan yang didapat dengan melihat mereka tumbuh dan berkembang itu tidak tergantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mendidik anak kembar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2377436269972705974?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2377436269972705974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/kamus-bahasa-raito-aidan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2377436269972705974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2377436269972705974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/08/kamus-bahasa-raito-aidan.html' title='Kamus Bahasa Raito Aidan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5053464878992905489</id><published>2011-07-16T21:53:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Urgensi Prasekolah</title><content type='html'>&lt;div class="myhighlight"&gt;Para orang tua tetap memiliki peran dalam tumbuh kembang anak walaupun anak mereka dimasukan ke dalam prasekolah.&lt;/div&gt;Besok, 17 Juli 2011, Raito dan Aidan akan merayakan ulang tahun ketiga mereka. Tidak terasa saya sudah menjadi ayah selama 3 tahun. Saya teringat kembali hari bersejarah dalam hidup saya, yaitu pada tanggal 17 Juli 2008, saat kedua anak kembar (tapi tidak mirip sama sekali) ini lahir. Hari itu adalah hari yang istimewa dan penuh kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia 3 tahun adalah usia prasekolah. Pada awalnya, saya dan istri saya memang berpikir untuk memasukan Raito dan Aidan ke salah satu prasekolah. Kami sudah survei ke beberapa &lt;i&gt;playgroup&lt;/i&gt; di sekitar tempat tinggal kami. Dari hasil survei tersebut, kami bahkan sudah melakukan perbandingan dan memilih salah satu dari beberapa &lt;i&gt;playgroup&lt;/i&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasekolah memang memiliki manfaatnya tersendiri. Dalam benak saya, manfaat prasekolah yang utama adalah membiasakan anak-anak saya untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Saat prasekolah, sudah dipastikan anak-anak saya akan berinteraksi dengan anak-anak sebaya dan guru-guru mereka. Interaksi sosial Raito dan Aidan tentunya akan meningkat pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan prasekolah, Raito dan Aidan pun akan mendapatkan rangsangan yang konstan untuk membantu pertumbuhan mereka di berbagai aspek seperti motorik, kognitif, bahasa, atau kemandirian. Merangsang pertumbuhan anak-anak di usia belia adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan. Jadi, semakin banyak alasan untuk memasukan Raito dan Aidan ke prasekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, saya dan istri saya tidak pernah menganggap bahwa memasukan Raito dan Aidan ke prasekolah adalah sesuatu yang wajib. Bagi kami, prasekolah untuk Raito dan Aidan itu tetap opsional. Sebanyak apa pun manfaat yang didapatkan di prasekolah, manfaat yang sama dapat diperoleh di rumah. Raito dan Aidan akan tetap tumbuh dan berkembang meskipun mereka tidak masuk prasekolah. Yang penting kami tetap konsisten mengenalkan hal-hal yang baru kepada Raito dan Aidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasekolah menjadi wajib bila pihak orang tua mengalami kesulitan meluangkan waktu untuk membantu anak-anak mereka tumbuh dan berkembang. Para orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas mereka, misalnya, mungkin saja harus memasukan anak-anak mereka ke dalam prasekolah. Walaupun begitu, setiap orang tua harus menyadari bahwa prasekolah itu tidak akan pernah menggantikan peran orang tua sepenuhnya. Para orang tua tetap memiliki peran dalam tumbuh kembang anak walaupun anak mereka dimasukan ke dalam prasekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, opsional atau tidaknya prasekolah itu tetap saja subjektif. Semuanya kembali kepada kondisi masing-masing keluarga. Yang saya rasa perlu diingat oleh setiap orang tua adalah prasekolah itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Apalagi bagi keluarga dengan kondisi finansial terbatas, prasekolah bukanlah sesuatu yang harus diprioritaskan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5053464878992905489?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5053464878992905489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/urgensi-prasekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5053464878992905489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5053464878992905489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/urgensi-prasekolah.html' title='Urgensi Prasekolah'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8160163928304752623</id><published>2011-07-10T09:08:00.000+07:00</published><updated>2011-07-10T09:08:24.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><title type='text'>Menunggu Tawaran Beasiswa Berikutnya</title><content type='html'>Tahun ini adalah tahun pertama saya mulai mencari beasiswa untuk S2. Sebelumnya saya hanya berpikir bagaimana cara mendapatkan pekerjaan dengan gaji paling tinggi. Sama sekali tidak terbersit pikiran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan yang membuat pikiran untuk S2 itu muncul dan semua itu berakar pada kenyataan bahwa saya sudah bekerja menjadi PNS (Pegawai &lt;i&gt;Nyari&lt;/i&gt; Sampingan). Dengan menjadi PNS, pikiran untuk pindah kerja semakin berkurang. Saya sendiri sudah lelah menjadi kutu loncat; pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Saya ingin meniti karir sehingga saya tidak melulu menjadi kuli; walaupun dengan bayaran tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perlu menjadi kutu loncat, saya mulai berpikir mengembangkan keahlian saya ke arah yang strategis. Yang dimaksud dengan keahlian strategis itu salah satunya adalah dengan pendidikan S2. Selain itu, S2 ini pun memperbesar kemungkinan saya naik tingkat dalam hirarki jabatan. Tingkat pendidikan seorang PNS menjadi hal yang penting dalam menentukan jabatan; suka atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak &lt;i&gt;njelimet&lt;/i&gt;&amp;nbsp;adalah saya tidak bisa sembarangan memilih tawaran beasiswa S2. Setelah konsultasi dengan berbagai pihak, saya akhirnya memilih menunggu tawaran beasiswa S2 yang datang lewat Bagian Kepegawaian instansi tempat saya bekerja. Kalau saya memaksa ikut serta seleksi beasiswa S2 dari luar instansi, saya akan kesulitan mengurus ijin tugas belajar dan mengurus pengakuan gelar yang saya raih kelak. Saya sendiri tidak bisa membayangkan besarnya "kesulitan" ini, tapi saya memilih jalur aman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, ada beberapa tawaran beasiswa yang datang, yaitu dari KOICA, JICA, ADS, dan World Bank. Saya yakin para pemburu beasiswa sudah &lt;i&gt;familiar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan lembaga-lembaga tersebut. Yang saya pilih adalah yang pertama datang, yaitu dari KOICA. Program yang ditawarkan pun ada yang, menurut saya, beririsan dengan kompetensi saya sebagai tenaga IT, yaitu &lt;i&gt;Global e-Policy and e-Government&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan ini membawa beberapa konsekuensi. Saya harus pontang-panting mengurus berkas dalam waktu singkat. Ijazah dan transkrip bahasa Inggris harus segera saya urus ke kampus. Saya pun harus segera mendapatkan skor TOEFL ITP. Setiap kendala, yang (untungnya) tidak akan saya paparkan di sini, akhirnya dapat saya lewati dan berkas persyaratan beasiswa pun dapat saya serahkan pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya KOICA ini termasuk tawaran beasiswa dengan resiko tinggi. Resiko yang saya maksud adalah resiko gagal. Kuota program yang saya ikuti hanya 20 orang; dari seluruh dunia. Dari 20 orang tersebut, hanya 1-2 orang saja yang dipilih dari setiap negara. Resiko gagalnya sangat tinggi. Saya harus bersaing dengan &lt;i&gt;pentolan-pentolan &lt;/i&gt;internasional untuk&amp;nbsp;menjadi bagian dari 20 orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhasil terpilih sampai tahap wawancara. Tahap wawancara itu sendiri hanya menyisakan dua kandidat termasuk saya.&amp;nbsp;Pada akhirnya, saya gagal.&amp;nbsp;&lt;i&gt;The not-so-painful side of the story&lt;/i&gt;&amp;nbsp;adalah saya masuk&amp;nbsp;&lt;i&gt;waiting list&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Rupanya Allah belum berkenan mengijinkan melanjutkan pendidikan di Korea untuk alasan yang saya sendiri tidak mengerti sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya untuk diterima itu sebenarnya sangat tinggi. Ada tiga alasan mendasar mengapa saya begitu berharap dapat lolos di beasiswa KOICA kali ini. Pertama, saya dapat berangkat tahun ini. Kalau saya lolos, saya akan berangkat ke Korea akhir Juli ini. Saya pun lebih tenang meninggalkan keluarga saya saat anak-anak saya masih berusia 3 tahun. Mereka belum perlu sekolah sehingga saya berharap istri saya tidak terlalu repot mengurus mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, program S2 yang ditawarkan hanya satu tahun. Saya memang tidak ingin berlama-lama belajar. Saya termasuk tipe orang yang lebih memilih belajar sebentar untuk segera dilanjutkan dengan implementasi. Dengan begitu, ilmu yang saya peroleh lebih membekas. Saya pun tidak perlu meninggalkan keluarga saya terlalu lama. Istri saya pun merasa tidak perlu &lt;i&gt;nyusul&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ke Korea kalau hanya ditinggal selama 1 tahun. Ketiga, saya dapat mewujudkan cita-cita saya untuk menambah katalog bahasa asing yang saya kuasai. Alasan terakhir ini memang tidak terlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harapan yang tinggi, maka kekecewaan yang hadir akibat kegagalan pun sama tingginya. Hidup saya memang jalan terus, tapi rasa kecewa ini agak sulit pergi. Saya jadi teringat saat saya mengikuti proses seleksi penerimaan pegawai Bank Indonesia. Saat itu, saya mengikuti seleksi penerimaan pegawai untuk MLE (bukan PCPM). Seperti dengan beasiswa KOICA ini, saya pun gagal di tahap wawancara. Gagal di tahap wawancara penerimaan pegawai MLE ini pun dapat dikatakan sama sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya menunggu tawaran beasiswa berikutnya dari Bagian Kepegawaian. Tawaran beasiswa dari ADS, JICA, dan World Bank untuk tahun ini terpaksa saya lewati karena saya tidak diperbolehkan mengikuti lebih dari 1 seleksi beasiswa pada saat yang sama. Kelihatannya tawaran beasiswa berikutnya yang dapat saya ikuti akan datang tahun depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8160163928304752623?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8160163928304752623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/menunggu-tawaran-beasiswa-berikutnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8160163928304752623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8160163928304752623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/menunggu-tawaran-beasiswa-berikutnya.html' title='Menunggu Tawaran Beasiswa Berikutnya'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5240217838149255086</id><published>2011-07-07T09:39:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:04:37.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOEFL ITP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Tips Mengikuti TOEFL ITP</title><content type='html'>Tulisan berikutnya tentang TOEFL ITP. Dalam tulisan sebelumnya, &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/pengalaman-mengikuti-toefl-itp.html"&gt;Pengalaman Mengikuti TOEFL ITP&lt;/a&gt;, saya lebih banyak berbagi perihal urusan administrasinya, seperti pendaftaran, biaya, &lt;i&gt;Additional Score Report&lt;/i&gt;, dll. Dalam tulisan ini saya akan lebih banyak berbagi pengalaman saya&amp;nbsp;&lt;i&gt;saat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;saya mengikuti tes tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persepsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berbicara mengenai kiat-kiat mengikuti tes ini, mari kita samakan dulu persepsi kita. Tes TOEFL, baik itu ITP maupun IBT, bermaksud menguji &lt;i&gt;keterampilan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kita dalam menggunakan bahasa Inggris. Tes TOEFL itu bukan sekedar menguji &lt;i&gt;pengetahuan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kita mengenai bahasa Inggris.&amp;nbsp;Jadi, tes TOEFL itu bukan tes bahasa Inggris biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi di atas sangat penting ditanamkan di benak setiap peserta tes karena persepsi tersebut akan mempengaruhi cara seorang peserta tes mempersiapkan diri mereka untuk tes tersebut. Jadi, jangan sibuk memperkaya diri dengan &lt;i&gt;pengetahuan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;seperti &lt;i&gt;tenses&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;vocabulary&lt;/i&gt;. Yang perlu dilakukan adalah memperkaya diri dengan &lt;i&gt;berlatih&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya seperti apa? Saya lanjutkan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang saya lakukan untuk mempersiapkan diri saya mengikuti tes TOEFL ITP? Tidak ada. Maksudnya "tidak ada" di sini adalah tidak ada persiapan teknis yang khusus saya lakukan untuk ikut TOEFL ITP. Tidak ikut kursus persiapan TOEFL ITP, tidak membaca buku-buku tips dan trik TOEFL ITP, tidak juga sibuk latihan &lt;i&gt;tenses &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi tes ini saya lakukan dengan menonton film berbahasa Inggris (dengan maupun tanpa &lt;i&gt;subtitle&lt;/i&gt;), membaca manga &lt;i&gt;scanlation&lt;/i&gt;, menulis blog dengan bahasa Inggris, dan kegiatan lainnya. Intinya adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari hidup saya. Dengan begitu, saya berhasil membentuk &lt;i&gt;keterampilan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(dan bukan sekedar &lt;i&gt;pengetahuan&lt;/i&gt;) berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan Saat &lt;i&gt;Kepepet&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri menyadari bahwa yang saya lakukan di atas membutuhkan banyak waktu. Keterampilan memang tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat karena membentuk keterampilan itu butuh banyak latihan. Kalau sudah &lt;i&gt;kepepet&lt;/i&gt;, kita butuh jalan singkat. Dalam kondisi seperti ini, buku-buku tips dan trik lulus TOEFL ITP menjadi dewa penolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi &lt;i&gt;kepepet&lt;/i&gt;&amp;nbsp;seperti ini, saya tidak bisa memberikan banyak saran untuk persiapan. Hanya saja saya tetap ingin ingatkan bahwa tes TOEFL ITP ini menguji keterampilan mendengar, membaca, dan menulis dalam bahasa Inggris. Kita harus melatih ketiga aspek tersebut. Jangan hanya sibuk dengan &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan &lt;i&gt;vocabulary&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang hanya menunjang kemampuan menulis, tapi juga sempatkan diri untuk melatih keterampilan mendengar dan membaca seperti film dan novel dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelaksanaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saat masa-masa persiapan telah lewat dan kita sudah duduk di ruangan tempat tes TOEFL ITP, serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Tentu tidak. Yang pertama harus kita lakukan adalah berusaha. Berikut ini adalah tips yang bisa saya sampaikan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jangan sampai perhatian kita teralihkan saat tes.&amp;nbsp;Matikan semua alat komunikasi, mampir ke toilet sebelum &lt;i&gt;kebelet&lt;/i&gt;, makan secukupnya agar perut tidak bernyanyi, dan lain-lain.&amp;nbsp;Lakukan semua hal yang diperlukan untuk menjaga agar kita dapat fokus selama pelaksanaan tes karena kita sama sekali tidak punya waktu luang saat pelaksanaan tes. Lalai menjaga diri untuk tetap fokus pada tes dapat berujung pada buruknya hasil tes.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan sibuk menghitamkan lembar jawaban, terutama di bagian &lt;i&gt;Listening Comprehension&lt;/i&gt;. Utamakan mendengar dialog untuk menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau memang kita butuh waktu lama untuk menghitamkan jawaban di setiap nomor (seperti saya ini), sebaiknya tandai dulu saja jawaban kita. Kita hitamkan jawaban-jawaban yang ditandai ini saat kita punya waktu sisa di bagian tes lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan sibuk dengan &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;, kecuali di bagian &lt;i&gt;Structure and Written Expression&lt;/i&gt;. Di bagian ini yang diuji adalah kemampuan kita menyusun kalimat dalam tulisan. Jadi, &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;punya peranan penting di bagian ini. Sementara di bagian &lt;i&gt;Listening Comprehension &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Reading Comprehension&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu yang diuji adalah kemampuan kita &lt;i&gt;menyerap makna&lt;/i&gt; dibalik dialog dan artikel.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan terlalu lama membaca artikel yang dijadikan bahan pertanyaan di bagian &lt;i&gt;Reading Comprehension&lt;/i&gt;. Baca secepat mungkin untuk mencari inti dari masing-masing paragraf, kemudian segera lanjutkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait. Saya yakin sebaik apa pun kemampuan membaca kita, kita tetap akan kembali membaca artikel terkait saat menjawab pertanyaan. Jadi, manfaatkan waktu sebaik mungkin.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;That's it&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Itu saja tips singkat yang bisa saya sampaikan. Saya tidak yakin tips di atas dapat membantu orang lain selain diri saya sendiri. Seandainya satu orang saja dapat mengambil manfaat dari tulisan ini, saya sudah bersyukur. Paling tidak waktu yang saya luangkan untuk menulis di sini tidak&amp;nbsp;100%&amp;nbsp;sia-sia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selamat mengikuti tes. Semoga berhasil mendapat skor yang memuaskan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Punya tips praktis lain yang ingin disampaikan? Silakan tambahkan di bagian komentar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5240217838149255086?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5240217838149255086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/tips-mengikuti-toefl-itp.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5240217838149255086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5240217838149255086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/07/tips-mengikuti-toefl-itp.html' title='Tips Mengikuti TOEFL ITP'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6240062041617213940</id><published>2011-06-28T13:50:00.000+07:00</published><updated>2011-08-19T09:28:18.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perselingkuhan'/><title type='text'>Nasi dan Lauk dalam Pernikahan</title><content type='html'>Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan seorang kenalan. Diskusi dilakukan secara virtual di sebuah jejaring sosial yang namanya diawali dengan huruf F dan diakhiri dengan huruf K. Diskusi yang dimaksud lebih tepat dikatakan berbalas komentar. Lebih tepat lagi kalau dikatakan komentar satu arah, bukan diskusi, karena panjangnya komentar saya benar-benar mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam obrolan virtual itu kami membicarakan makanan pokok dan makanan sampingan. Untuk selanjutnya, makanan pokok akan saya sebut nasi dan makanan sampingan akan saya sebut lauk. Saat itu kami membicarakan posisi nasi dan lauk dalam hubungan suami istri. Tentu saja yang dimaksud dengan nasi dan lauk di sini bukan nasi dan lauk dalam arti sebenarnya, tapi nasi dan lauk ini adalah perumpamaan. Sesuatu yang sifatnya pokok dalam hubungan suami istri, kami umpamakan nasi. Sesuatu yang sifatnya sampingan dalam hubungan suami istri, kami umpamakan lauk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga hubungan rumah tangga yang baik, nasi dan lauk memiliki peranan yang sama-sama penting. Keduanya diperlukan untuk membentuk hubungan suami istri yang kuat, harmonis, dan penuh kemesraan. Di awal pernikahan, nasi dan lauk akan terlihat begitu menggiurkan dan memuaskan untuk dihabiskan. Lambat laun rasa bosan pun datang. Bila makanan yang tersedia tidak bervariasi, suami atau istri mungkin akan berpikiran mencari variasi di luar rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lauk saja yang bermasalah, hubungan suami istri mungkin saja tetap bertahan. Sayangnya kemesraan yang ada di awal pernikahan dapat dipastikan akan memudar &lt;i&gt;dengan segera&lt;/i&gt; karena suami atau istri sibuk mencari lauk di luar rumah masing-masing. Kondisi yang sama akan terjadi bila nasi yang tersedia pun bermasalah. Suami atau istri pun akan sibuk mencari nasi di tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, nasi yang bermasalah akan memberi dampak negatif yang lebih besar lagi. Kalau yang pokok saja tidak tersedia sesuai harapan, kemungkinannya sangat besar seseorang akan memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Jadi dengan nasi yang bermasalah ini, kemungkinan terjadinya perceraian akan bertambah besar secara signifikan. Kalau pun tidak terjadi perceraian, suami dan istri yang terkait akan kesulitan menemukan alasan untuk mempertahankan pernikahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, nasi dan lauk itu harus diperhatikan oleh orang-orang yang menginginkan hubungan pernikahan yang kuat, harmonis, dan senantiasa mesra. Untuk hubungan pernikahan seperti ini diperlukan nasi dengan kualitas yang baik dan lauk dengan variasi yang tepat. Jangan karena sudah menikah, suami atau istri serta-merta memaksakan slogan "terima apa adanya" ke pasangan mereka. Slogan ini seharusnya digunakan sebagai pilihan terakhir. Yang perlu kita pikirkan terlebih dahulu adalah bagaimana membuat nasi dan lauk dalam pernikahan ini senantiasa menggiurkan dan memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai nasi dan lauk itu tertukar. Jangan sampai makanan pokok dan makanan sampingan itu tertukar karena keduanya memiliki peranan yang berbeda. Nasi itu berfungsi sebagai sumber energi utama. Sementara lauk memiliki fungsi sebagai pelengkap atau penyedap rasa. Keduanya sama-sama penting, tapi masing-masing memiliki derajat urgensi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kongkrit dari nasi dan lauk ini antara lain akhlak dan kecantikan. Akhlak adalah pokok dan kecantikan adalah sampingan. Akhlak yang baik itu penting. Tampil cantik di depan suami pun tak kalah pentingnya. Walaupun begitu, akhlak yang baik tetap lebih diutamakan daripada kecantikan yang berfungsi sebagai pelengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seorang istri hanya mengandalkan akhlak yang baik, suami akan mencari kecantikan di luar rumah. Pada kenyataannya, kecantikan ini dapat dengan mudah ditemukan tanpa dicari. Kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kemesraan dalam hubungan pernikahan antara suami dan istri akan segera memudar. Ini alasannya kenapa setiap istri perlu berusaha untuk terlihat cantik di depan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai akhlak yang baik pun tidak ada dalam diri istri, suami akan lebih mudah lagi meninggalkan rumah. Kali ini yang dicari bukan sekedar kecantikan, tapi justru pengganti istri. Saat seseorang kehilangan hal yang pokok dalam hidupnya, pelengkap sebanyak apa pun tak akan pernah cukup. Dalam kondisi ini, kecantikan istri tidak lagi penting. Suami akan mencari wanita dengan akhlak yang lebih baik dengan kecantikan yang tidak jauh berbeda dengan istrinya. Bukan hanya kemesraan yang akan memudar di sini, tapi hubungan suami istri yang terjalin pun kemungkinan besar akan retak atau bahkan putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pokok dan yang sampingan harus sama-sama dijaga sesuai dengan porsi dan prioritasnya. Porsi dan prioritas di sini mungkin berbeda untuk masing-masing pasangan. Bisa jadi hal-hal yang termasuk pokok dan hal-hal yang termasuk sampingan pun berbeda untuk masing-masing pasangan. Akhlak dan kecantikan di atas adalah contoh dari sudut pandang saya sendiri. Jangan sampai kita terpaku pada dua hal itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil kecantikan sebagai contoh pelengkap pun tanpa maksud tertentu. Kita bisa mengambil ketampanan sebagai contoh pelengkap dari sudut pandang seorang wanita. Ini pun sifatnya masih subjektif. Mungkin menjadi tampan bukan hal yang penting bagi para istri, tapi saya yakin suami yang berpenampilan menarik di depan istri dapat menjadi penyedap dalam hubungan suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada banyak contoh lain yang dapat kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesabaran istri dalam merawat anak-anak atau kemampuan suami menghidupi keluarga adalah contoh hal-hal pokok. Paras yang cantik atau kulit yang putih adalah contoh hal-hal sampingan. Semuanya perlu dijaga sesuai porsi dan prioritasnya dalam hubungan suami istri masing-masing pasangan. Tujuan akhirnya tentu saja demi mencapai hubungan pernikahan yang kuat, harmonis, dan senantiasa penuh kemesraan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6240062041617213940?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6240062041617213940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/nasi-dan-lauk-dalam-pernikahan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6240062041617213940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6240062041617213940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/nasi-dan-lauk-dalam-pernikahan.html' title='Nasi dan Lauk dalam Pernikahan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5735490414348578619</id><published>2011-06-17T11:43:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembar'/><title type='text'>Kembar Tapi Tak Sama</title><content type='html'>30 hari dari sekarang, Raito dan Aidan akan berumur 3 tahun. Keduanya lahir pada tanggal 17 Juli 2008. Mereka adalah anak kembar dari saya dan istri saya yang pertama --dan insya Allah yang terakhir. Alhamdulillah mereka berdua lahir dalam keadaan sehat. Kehadiran mereka berdua telah menambah berkah ke dalam keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kembar, Raito dan Aidan tidak pernah terlihat mirip. Mereka lahir dengan kondisi fisik yang berbeda. Aidan memiliki berat dan tinggi badan lebih dibandingkan Raito --yang saat ini dipanggil Abang karena keluar lebih dulu. Warna kulit Raito lebih putih dari Aidan. Wajah mereka pun sama sekali tidak terlihat mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membedakan Raito dan Aidan itu sangat mudah, walaupun mereka masih berumur 1 hari di dunia ini. Baik saya maupun istri saya tidak mengalami kesulitan membedakan mereka. Kita tidak perlu repot-repot mencari tanda seperti tahi lalat atau sejenisnya untuk membedakan mereka. Yang repot justru menegaskan perbedaan ini kepada orang-orang yang menganggap mereka sulit dibedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu mereka bertambah besar, perbedaan mereka pun semakin menonjol. Perbedaan mereka terlihat mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Model rambut, bentuk wajah, mata, alis, hidung, mulut, postur tubuh, berat badan, tinggi badan, dan berbagai aspek fisik lainnya dari Raito dan Aidan itu tidak terlihat sama. Satu-satunya yang sama dari mereka mungkin hanya pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian yang sama pun sebenarnya bukan kehendak saya dan istri. Kami tidak keberatan membelikan baju yang berbeda untuk mereka. Kami pun membiasakan memakaikan baju yang berbeda untuk mereka. Hanya saja mereka sering minta dipakaikan baju yang sama. Sepertinya faktor iri berperan di sini. Akan tetapi, mereka lebih sering tidak keberatan menggunakan baju yang berbeda. Jadi semakin mudah membedakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raito dan Aidan itu benar-benar berbeda. Saya yakin bila mereka dikumpulkan dengan anak-anak sebaya mereka tanpa menggunakan pakaian yang sama, tidak akan ada orang yang mengira bahwa mereka bersaudara. Lain cerita kalau Aidan &lt;i&gt;keceplosan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;memanggil Raito dengan panggilan "Abang". Kalau ini terjadi, mungkin orang-orang akan sadar kalau mereka bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan mereka tidak terbatas pada fisik. Minat, kecerdasan, dan sifat mereka secara garis besar pun berbeda. Raito, misalnya, lebih suka duduk diam dan bermain mainan seperti mobil-mobilan, balok-balok, atau sejenisnya. Sementara Aidan lebih suka permainan yang melibatkan gerakan besar seperti sepakbola. Ada kalanya Aidan pun bermain mobil-mobilan atau balok-balok. Ada kalanya pun Raito ikut bermain bola. Akan tetapi, minat mereka terlihat jelas berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan mereka pun berbeda. Mungkin ini ada korelasinya dengan minat di atas. Perkembangan motorik kasar Aidan lebih menonjol daripada Raito. Sementara perkembangan motorik halus Raito lebih menonjol daripada Aidan. Aidan terlihat lebih luwes saat berlari, menendang bola, atau gerakan-gerakan besar lainnya. Sementara Raito terlihat lebih luwes saat menulis, memasang balok-balok, atau gerakan-gerakan kecil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Raito dan Aidan pun berbeda. Raito dan Aidan sama-sama berwatak keras, tapi cara mereka menunjukan &lt;i&gt;ngeyel&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu berbeda. Watak keras Raito sering keluar dalam bentuk marah seperti menangis dengan volume suara yang menusuk telinga. Sementara watak keras Aidan keluar dalam bentuk merajuk tanpa meraung-raung. Sama-sama keras kepala, tapi bentuk penyalurannya berbeda.&amp;nbsp;Masih banyak perbedaan sifat yang dapat saya tunjukan di sini, tapi saya rasa inti tulisan ini sudah tersampaikan dengan contoh-contoh di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang ingin saya tegaskan, berbeda atau tidaknya mereka bukan masalah. Justru kenyataan bahwa mereka berbeda itu yang membuat saya tertarik menulis di sini. Kedua anak itu begitu berbeda seolah-olah mereka adalah kakak-adik yang &lt;i&gt;kebetulan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;hadir di janin yang sama dalam rentang waktu yang sama. Mereka menjadi kembar karena waktu dan tempat. Seolah-olah tidak ada faktor lain yang membuat mereka menjadi kembar. Nenek (dari ibu) mereka kadang bercanda, "Mereka ini kembar &lt;i&gt;apanya&lt;/i&gt;. Kembar &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;&amp;nbsp;beda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembar tapi tidak sama. Raito dan Aidan memang bukan kembar identik. Saya dan istri saya berpikir bahwa mereka tumbuh dari dua sel telur yang berbeda, bukan hasil pembelahan. Bahkan sejak umur mereka 7 minggu, mereka sudah terlihat terpisah. Yang satu menempel di rahim bagian atas. Yang lainnya menempel di rahim bagian bawah. Sayangnya saya tidak bertanya lebih lanjut ke dokter yang memeriksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, saya yakin Raito dan Aidan hidup dari dua sel telur yang berbeda. Berdasarkan informasi yang saya temukan di Internet, Raito dan Aidan termasuk jenis kembar &lt;i&gt;Fraternal&lt;/i&gt;. Saya tidak tahu padanan istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Kembar Fraternal ini terjadi karena ada lebih dari 1 sel telur yang dibuahi. Hal ini menjelaskan perbedaan yang ada pada diri Raito dan Aidan. Bahkan golongan darah Raito dan Aidan pun berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal perbedaan-perbedaan ini termasuk salah satu unsur menyenangkan dalam hidup saya sebagai orang tua. Bukan saya bermaksud untuk membeda-bedakan anak, tapi saya justru merasa diberi kesempatan menyikapi dua anak yang berbeda. Sesuatu yang sangat sulit walaupun saya sudah menjalaninya selama 2 tahun 11 bulan. Mendidik mereka menjadi sulit karena idealnya masing-masing dididik dan dibesarkan dengan cara yang tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, pengalaman mendidik Raito dan Aidan adalah pengalaman yang mengesankan. Sebenarnya ada lebih banyak hal yang dapat saya ceritakan terkait pengalaman saya mendidik mereka berdua, tapi saya rasa lebih baik segera mengakhiri tulisan yang sudah terlalu panjang ini. Semoga saya masih memiliki kesempatan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan lain seputar mendidik anak kembar di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Foto-foto Raito dan Aidan dapat dilihat dalam Picasa Web Album saya di sini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://picasaweb.google.com/amir.syafrudin"&gt;http://picasaweb.google.com/amir.syafrudin&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5735490414348578619?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5735490414348578619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/kembar-tapi-tak-sama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5735490414348578619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5735490414348578619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/kembar-tapi-tak-sama.html' title='Kembar Tapi Tak Sama'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6175163301593380159</id><published>2011-06-09T16:38:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Memutus untuk Menyambung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://0.gvt0.com/vi/17ZrK2NryuQ/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/17ZrK2NryuQ&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt; &lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt; &lt;embed width="320" height="266" src="http://www.youtube.com/v/17ZrK2NryuQ&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Judul video yang saya sertakan di atas adalah "Disconnect to Connect". Video tersebut adalah iklan yang memperlihatkan perilaku penggunaan &lt;i&gt;gadget&lt;/i&gt;&amp;nbsp;secara umum. Walaupun iklan tersebut tidak didukung dengan data empiris seperti survei atau sejenisnya, perilaku dalam video tersebut dapat kita lihat di lingkungan sekitar kita. Bahkan mungkin saja perilaku penggunaan gadget&amp;nbsp;dalam video tersebut merupakan cerminan dari perilaku kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan saya pribadi, perilaku penggunaan gadget seperti BlackBerry, &lt;i&gt;smartphone&lt;/i&gt; berbasis Android, iPhone, dan sejenisnya memang dapat mengganggu (kalau tidak merusak) perilaku sosial seseorang di dunia nyata. Seperti yang digambarkan dalam iklan di atas, orang yang sibuk dengan gadget mereka ibarat hidup sendirian di tengah keramaian. Mereka masuk ke dalam dunia virtual masing-masing dan secara tidak langsung keluar dari dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pesan moral yang ingin disampaikan iklan di atas itu jelas. Saat kita terhubung ke dunia virtual, maka hubungan kita dengan dunia nyata akan terputus. Untuk kembali terhubung ke dunia nyata, kita harus memutus hubungan kita dengan dunia virtual. Kita memang diberkahi kemampuan untuk &lt;i&gt;multi tasking&lt;/i&gt;, tapi perhatian kita sudah pasti akan terpecah saat menghadapi lebih dari satu urusan. Mengerjakan lebih dari satu hal pada hal yang sama itu bisa dilakukan, tapi perhatian (konsentrasi) kita akan terpecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan salah seorang teman kita dan mengobrol dengan istri kita, perhatian kita akan terpecah ke teman kita dan istri kita. Pembagian perhatian ini pun tidak selalu 50:50. Bukan tidak mungkin perhatian ke teman kita justru lebih besar dibandingkan ke istri kita. Contoh lain saat kita sedang menikmati tontonan terbaru sambil menemani anak-anak kita bermain. Dapat dipastikan bahwa perhatian kita pada anak-anak kita akan berkurang. Bukan tidak mungkin 100% perhatian kita tertuju pada tontonan dan baru beralih kepada anak-anak kita bila kita sudah mendengar tangisan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada dunia nyata di sekitar kita saat kita menyibukan diri dengan dunia virtual. Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada perkembangan rapat yang kita ikutibila kita menyibukan diri dengan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt;&amp;nbsp;status kita di Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya. Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada mendengarkan kata-kata istri kita bila kita menyibukan diri dengan Facebook, Twitter, Yahoo Messenger, WhatsApp, &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;, bermain &lt;i&gt;game&lt;/i&gt;, atau kegiatan lainnya dengan gadget/device kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal dalam kehidupan nyata yang akan kita lewatkan saat kita hidup dalam dunia virtual kita. Contohnya kesempatan untuk bercengkrama dengan istri atau bermain dengan anak-anak akan terlewatkan bila kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk hidup di dalam dunia jejaring sosial. Saya teringat pertengkaran sebuah pasangan yang disebabkan karena salah satu pihak meluangkan lebih banyak waktu di Facebook. Teringat juga sebuah puisi unik dari Serafina Ophelia berjudul "Ibu dan Facebook" yang berisi kritik &lt;i&gt;kocak&lt;/i&gt;&amp;nbsp;terhadap para ibu yang terlalu sering mengakses Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Teknologi hadir untuk memberikan kemudahan kepada manusia. Manusia itu sendiri yang menentukan apakah teknologi yang ada itu akan memberikan manfaat atau sebaliknya menyebabkan masalah.&lt;/div&gt;Terus terang keterlibatan yang tinggi dalam dunia virtual ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Kemajuan teknologi membuat dunia virtual menjadi jauh lebih interaktif dan menyenangkan bila dibandingkan dengan dunia nyata. Kemajuan teknologi pun berperan besar untuk membuat dunia virtual ini lebih mudah dijangkau oleh banyak orang. Jadi tingginya intensitas orang-orang dalam dunia virtual lewat gadget yang mereka miliki ini dapat dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kita tidak dapat menyalahkan teknologi di sini. Teknologi hadir untuk memberikan kemudahan kepada manusia. Manusia itu sendiri yang menentukan apakah teknologi yang ada itu akan memberikan manfaat&amp;nbsp;atau sebaliknya menyebabkan masalah. Saya sendiri pengguna smartphone. Alhamdulillah saya merasakan manfaatnya. Saya dapat mengakses situs web langganan, menerima dan mengirim email, mengolah &lt;i&gt;spreadsheet&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Excel), mengatur jadwal kegiatan, berkomunikasi lewat jejaring sosial atau platform chatting dan berbagai hal lain yang biasanya harus saya lakukan di komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun merasakan celakanya. Misalnya interaksi saya lewat Facebook dan Twitter pun meningkat drastis. Seolah-olah setiap detik kehidupan saya harus dipublikasikan lewat Facebook dan Twitter itu. Status pun menjadi hal yang penting bagi saya. Interaksi saya dengan istri dan anak-anak di rumah secara garis besar berkurang karena saya sibuk dengan dunia virtual saya sendiri. Oleh karena itu saya memutuskan untuk &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/selamat-tinggal-jejaring-sosial.html"&gt;mengurangi interaksi saya dengan dunia virtual&lt;/a&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan Facebook dan Twitter saya batasi. Paling tidak saya berusaha keras untuk menegaskan kepada diri saya agar mengurangi interaksi ini selama saya di rumah bersama istri dan anak-anak. Kegiatan yang melibatkan gadget seperti bermain game, menonton film, membaca &lt;i&gt;manga scanlation&lt;/i&gt;&amp;nbsp;pun saya kurangi untuk memperbanyak waktu bersama keluarga. Pembatasan ini bukanlah hal yang mudah bagi saya, tapi paling tidak saya sudah melangkah ke arah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah poster iklan yang menggambarkan satu keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Ayahnya sedang sibuk dengan smartphone, ibu sedang sibuk dengan gadget sejenis iPad, dan anaknya sedang sibuk dengan game console. Mereka bertiga memang berkumpul bersama, tapi saya yakin mereka bertiga sedang berada di tempat yang berbeda. Saya tidak ingin memiliki keluarga seperti itu. Bukan berarti saya tidak ingin keluarga saya melek teknologi. Saya hanya tidak ingin suasana berkumpul bersama keluarga saya menjadi tidak ada artinya karena setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Dengan begitu, saya pun berusaha untuk MEMUTUS hubungan saya dengan dunia virtual untuk kembali MENYAMBUNG hubungan saya dengan dunia nyata di sekitar saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6175163301593380159?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6175163301593380159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/memutus-untuk-menyambung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6175163301593380159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6175163301593380159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/06/memutus-untuk-menyambung.html' title='Memutus untuk Menyambung'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8549927931108676182</id><published>2011-05-27T16:49:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Ibu, bukan Martir</title><content type='html'>Menjadi seorang ibu tentu tidak mudah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an, "ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun" (31:14). Kelemahan ini sering disebut sebagai kehamilan, persalinan dan menyusui. Tapi itu hanya awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu berada di "parit" rutinitas penggantian popok, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, memasak makan malam, menjaga kedisiplinan dan menyeimbangkan antara pekerjaan, menjemput anak-anak dari sekolah, dan menghadiri pertandingan sepak bola anak-anak. Rutinitas harian melayani keluarga ini dapat menyerap begitu banyak energi dari seorang ibu dan menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan perspektif terhadap dirinya sendiri. Ketika seorang wanita kehilangan makna yang mendalam dari peran seorang ibu, dia mungkin akan merasa bahwa tugas seorang ibu adalah untuk mengorbankan dirinya sendiri (menjadi martir) dengan mendahulukan kepentingan keluarganya. Tapi memikul semua beban dan kesulitan seperti itu bukanlah cara untuk menjadi ibu yang baik. Sikap seperti itu akan menghabiskan energi seorang wanita, dan mungkin dapat menumbuhkan kebencian, membuatnya berpikir bahwa anak-anak dan anggota keluarga yang lain "berhutang" kepada dirinya sebagai imbalan atas semua pengorbanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada kita: "Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan." Apa sedekah yang lebih baik dibandingkan sedekah seorang ibu yang berkorban demi mengurus keluarganya? Akan tetapi, seperti halnya dengan berbagai bentuk memberi, balasannya ada dalam proses memberi, bukan dalam balasan dari orang yang kita beri. Sesungguhnya semua bentuk memberi itu membawa manfaat kepada pemberi, bila dilakukan dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Menjadi seorang ibu itu bukan menjadi seorang martir. Menjadi seorang ibu adalah menghormati kepercayaan dan tanggung jawab membesarkan anak serta menghargai diri sendiri sebagai wanita yang kuat.&lt;/div&gt;Keibuan adalah sebuah perjalanan yang memungkinkan seorang wanita untuk menyaksikan perkembangan anak-anak serta untuk mengembangkan diri menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana. Allah memberkati wanita yang memiliki anak-anak dan para ibu ini pun berjanji kepada Allah untuk memelihara anak-anak mereka hingga dewasa. Melalui proses mengasuh anak, seseorang akan menyadari bahwa mengasuh itu adalah juga tentang memberi contoh gaya hidup yang seimbang dan sehat kepada anak-anak. Menjadi seorang ibu itu bukan menjadi seorang martir. Menjadi seorang ibu adalah menghormati kepercayaan dan tanggung jawab membesarkan anak serta menghargai diri sendiri sebagai wanita yang kuat. Anak-anak akan menghormati ibu mereka sebagai wanita yang melayani keluarga demi menggapai ridha Allah. Tanggung jawab keibuan membuat seorang wanita tumbuh lebih kuat secara fisik, mental dan spiritual karena dia diuji di semua sisi kehidupannya. Dia belajar untuk melayani orang-orang di sekitarnya dengan tujuan mencapai ridha Allah tanpa harus kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri. Seorang ibu seharusnya tidak menjadi lemah melalui proses memberi kepada keluarganya, tapi justru menjadi lebih kuat dan lebih seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah enam cara bagi para ibu untuk menemukan keseimbangan dan tetap fokus melewati hari-hari sulit mengasuh anak-anak serta menikmati perjalanan keibuan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. "Saya akan mengingatkan diri saya setiap hari bahwa waktu saya bersama anak-anak saya itu sangat berharga."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari nanti, masa kanak-kanak akan berakhir dan "bayi" kita akan tumbuh dewasa. Anak-anak kita berubah setiap hari dan tumbuh menjadi dewasa. Mengasuh anak adalah merayakan peristiwa sehari-hari bersama anak-anak ketimbang sekedar fokus pada waktu peralihan kehidupan anak-anak kita. Yang akan kita kenang adalah waktu berkualitas yang kita habiskan bersama anak-anak kita dan waktu yang kita gunakan untuk berkomunikasi dan berbagi dengan anak-anak kita. Kegiatan duniawi dalam hidup kita adalah cara kita membentuk hubungan dengan anak-anak kita, sehingga kita perlu melihat anak-anak kita sebagai pengalaman bersosialisasi daripada sekedar kegiatan yang perlu dilewati untuk menuju kegiatan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. "Saya akan mengurus diri saya."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik secara fisik, mental maupun spiritual. Dengan terus-menerus memberikan perhatian kepada anak-anak kita dan suami, kita seringkali lupa mengurus diri kita sendiri atau kita seringkali menempatkan kebutuhan kita di urutan terakhir. Beberapa ibu bahkan tidak menempatkan kebutuhan diri mereka dalam urutan mana pun. Hanya saja sebagai ibu kita hanya dapat memberikan sebanyak yang kita miliki, dan jika kita tidak mengisi ulang tangki kita sendiri maka tidak ada lagi yang tersisa untuk diberikan. Menjaga tubuh kita melalui latihan sangat penting untuk kesehatan fisik kita serta meningkatkan suasana hati kita dan energi secara keseluruhan. Menghabiskan waktu berolahraga itu bukan egois, tidak penting atau sekedar kegiatan tambahan. Hal ini harus dilihat sebagai prioritas untuk melakukan tugas kita sebagai seorang ibu dengan baik. Menjaga kondisi mental dan spiritual juga penting karena ini adalah area yang paling menantang dan terkuras ketika membesarkan anak-anak kita. Tujuan dari shalat kita adalah untuk membantu kita kembali fokus dan menata kehidupan kita yang sibuk, khususnya sebagai ibu. Karena wanita adalah "jantung" sebuah rumah tangga, kita harus memiliki hati yang tenang dan damai untuk memberikan keseimbangan ke tengah keluarga kita. Mencari dan mempertahankan rasa percaya diri dan kebahagiaan pada akhirnya akan terwujud pada diri anak-anak kita dan suami kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. "Saya bukan ibu yang sempurna."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ibu-ibu Muslim memiliki pandangan yang sangat idealis dari pengasuhan atau harapan yang tinggi dari diri mereka sendiri sebagai seorang ibu. Anak-anak kita tidak membutuhkan kita menjadi sempurna dan mereka dapat dengan mudah memaafkan kita ketika kita mengakui kesalahan dan menunjukkan ketidaksempurnaan kita. Kita harus menerima bahwa mungkin bagi kita untuk melakukan kesalahan dan hal ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk tumbuh menjadi ibu yang lebih cerdas. Kita perlu memaafkan diri sendiri dan melepaskan diri dari beban perjuangan demi kesempurnaan. Kita perlu menghilangkan pola pikir bahwa ibu-ibu yang lain itu sempurna dan melakukan segalanya dengan benar. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kita miliki dan kita harus fokus pada hal-hal yang penting, yaitu hubungan kita dengan anak-anak kita. Makan malam tidak akan selalu menakjubkan, piring tidak akan selalu bersih, dan cucian akan menumpuk, tetapi ketika anak-anak kita menjadi dewasa mereka tidak akan ingat semua itu, melainkan mereka akan ingat waktu yang mereka habiskan bersama kita dan percakapan yang mereka lakukan dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. "Saya akan mengutamakan pernikahan saya."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak memberikan tekanan yang besar pada pernikahan, terutama bagi para ibu dengan anak-anak belia. Banyak ibu fokus pada kebutuhan anak-anak mereka dan dalam prosesnya mengabaikan hubungan dengan suami. Kelelahan secara fisik dan emosi menyisakan hanya sedikit energi untuk diberikan kepada suami mereka dan sikap ini dapat menyebabkan terputusnya hubungan suami-istri. Sangat penting bahwa kita untuk menemukan keseimbangan dalam pernikahan dan mengasuh anak karena tidak hanya baik bagi anak-anak kita untuk melihat hubungan yang sehat antara ayah dan ibu mereka, tetapi juga baik untuk kesehatan mental kita. Hubungan dengan pasangan kita akan menggantikan hubungan kita dengan anak-anak kita, terutama ketika anak-anak kita tumbuh dewasa. Kita harus memelihara hubungan yang penuh kasih bersama pasangan kita sehingga kita mencapai usia senja bersama-sama dan menjadi lebih terikat antara satu sama lain setelah anak-anak kita tumbuh dewasa dan menikah. Ini berarti kita tidak bisa "menunda" pernikahan kita, tetapi kita justru harus mempertahankan ikatan persahabatan dan cinta melalui saat-saat sulit menjadi orangtua. Penting untuk menghabiskan waktu sendirian bersama suami kita sehingga kita dapat melihat satu sama lain melalui sudut pandang pasangan kita dan bukan hanya sebagai pengasuh anak-anak kita. Mengatur "malam kencan" dan tamasya akhir pekan sebagai pasangan sangat penting untuk menjaga hubungan dengan suami kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. "Saya akan menghargai teman-teman saya."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling kontak dan berbagi dengan wanita lain akan membantu kita menemukan kesamaan perjuangan kita sebagai seorang ibu dan seorang wanita. Memiliki saudari dan teman wanita dalam hidup kita dapat menjadikan kita lebih kuat karena hubungan ini membantu menjaga stabilitas emosional kita dan membantu kita mengelola stres dalam hidup kita. Teman wanita dan saudari kita memiliki tempat khusus dalam kehidupan kita yang bahkan tidak bisa digantikan oleh suami kita sendiri. Meluangkan waktu untuk bertemu atau berbicara dengan teman-teman kita akan membantu kita merasa lebih bahagia sehingga kita mampu memberikan kebahagiaan yang sama kepada anak-anak dan suami kita. Berbicara dan bepergian dengan teman wanita sangat penting bagi seorang ibu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan wanita lain. Hal ini akan meningkatkan suasana hati kita dan mengisi ulang energi kita sehingga kita dapat memberikan lebih banyak untuk anak-anak kita dan memiliki hubungan yang lebih baik dengan suami kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. "Saya akan mengutamakan makan malam bersama keluarga."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan bersama keluarga merupakan kegiatan harian untuk membentuk ikatan. Rutinitas dalam kehidupan anak-anak dapat memupuk ketidakstabilan emosi pada diri anak-anak. Membiasakan tradisi seperti makan bersama menjadi sangat berguna bagi kehidupan kita karena itu adalah waktu untuk berbagi dan menguatkan ikatan antara satu sama lain. Penelitian telah menunjukkan anak-anak yang makan malam dengan keluarga mereka secara teratur memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bersikap baik dan membuat pilihan yang baik berkaitan dengan teman-teman, narkoba dan seks. Mengajak semua anggota keluarga untuk duduk bersama setiap hari akan menciptakan sebuah dinamika keluarga yang lebih komunikatif dan tradisi makanan, percakapan dan sukacita akan menjadi kenangan yang dihargai setiap anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border-top: 1px solid black; padding-top: 5px; width: 100%; color: blue;"&gt;Tulisan di atas merupakan terjemahan dari tulisan "Mother, not Martyr" yang dipublikasikan di sini: &lt;a href="http://www.suhaibwebb.com/relationships/marriage-family/spouse/mother-not-martyr/"&gt;http://www.suhaibwebb.com/relationships/marriage-family/spouse/mother-not-martyr/&lt;/a&gt; yang ditulis oleh MUNIRA LEKOVIC EZZELDINE. Terjemahan saya buat sendiri secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk kutipan ayat Al Qur'an dan hadits, terjemahan saya ambil langsung dari terjemahan Al Qur'an dan hadits versi Bahasa Indonesia (tidak saya terjemahkan sendiri). Bagi yang berkenan, saya sarankan membaca tulisan aslinya karena sebaik-baiknya terjemahan tetap berpotensi menggeser maksud tulisan asli.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8549927931108676182?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8549927931108676182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/ibu-bukan-martir.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8549927931108676182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8549927931108676182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/ibu-bukan-martir.html' title='Ibu, bukan Martir'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-116204882038550361</id><published>2011-05-20T13:20:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.606+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Anakku Bukan Milikku</title><content type='html'>&lt;div class="myhighlight"&gt;Seorang anak dititipkan kepada kita untuk kita jaga, kita rawat, dan kita didik agar tumbuh menjadi pribadi yang shaleh dan mampu memberikan manfaat.&lt;/div&gt;Menegaskan kepada diri kita bahwa anak kita bukanlah milik kita adalah hal yang sulit karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan. Hanya saja seorang anak pada dasarnya adalah titipan Allah SWT. Seorang anak dititipkan kepada kita untuk kita jaga, kita rawat, dan kita didik agar tumbuh menjadi pribadi yang shaleh dan mampu memberikan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa bedanya antara konsep "memiliki anak" dan "dititipkan anak"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, cara merawat sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang dititipkan kepada kita tentu akan berbeda. Perbedaan utama ada pada kehati-hatian kita dalam perawatan ini. Sebaik apa pun cara kita merawat apa yang kita miliki, kita tetap saja lebih hati-hati dalam merawat sesuatu yang dititipkan kepada kita. Saat sesuatu yang kita miliki rusak, kita tidak perlu mempertanggungjawabkan hal ini kepada orang lain. Sangat berbeda bila kita merusak sesuatu yang dititipkan orang lain kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas pun berlaku dalam konteks merawat dan membesarkan anak. Kita akan mudah memarahi, membentak, atau bahkan menyakiti anak yang kita miliki. Akan tetapi, saat kita menyadari bahwa anak adalah titipan Allah SWT yang senantiasa mengawasi kita, kita akan jauh lebih berhati-hati dalam bersikap. Kita akan lebih mampu menahan diri dari menyakiti anak kita. Kehati-hatian ini timbul karena kita sadar bahwa kita harus mempertanggungjawabkan cara mendidik anak kita di hadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, cara kita menentukan masa depan dari sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang dititipkan kepada kita akan berbeda. Kita pasti merasa memiliki hak penuh untuk menentukan apa yang kita harapkan dari setiap hal yang kita miliki. Kita memiliki hak penuh untuk menentukan masa depan dari setiap hal yang kita miliki. Sangat berbeda dengan sikap kita terhadap sesuatu yang dititipkan kepada kita. Kita sadar bahwa masa depan dari setiap hal yang dititipkan kepada kita itu tergantung pada pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun memiliki kecenderungan yang besar untuk menentukan masa depan&amp;nbsp;anak yang kita miliki. Mereka harus ini, mereka harus itu, mereka harus menghindari ini, mereka harus menghindari itu, dan berbagai keharusan-keharusan lainnya. Sebaliknya saat kita sadar bahwa anak kita itu dititipkan Allah kepada kita, kita tahu bahwa masa depan anak-anak kita tidak sepenuhnya ada di tangan kita. Yang bisa kita lakukan adalah membantu anak kita menentukan pilihan. Hak memilih masa depan anak itu bukan di tangan kita, tapi di tangan Allah SWT dan anak kita kelak setelah mereka &lt;i&gt;baligh&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menegaskan bahwa anak kita adalah titipan Allah SWT, kita akan menghargai hak-hak anak kita dengan baik sebagaimana kita menghargai hak-hak kita sendiri. Kita tidak akan sewenang-wenang dalam merawat dan mendidik anak kita dan kita pun tidak akan sembarangan menentukan masa depan anak kita. Semua itu kita lakukan karena anak yang dititipkan Allah SWT itu memiliki jalan hidup mereka sendiri. Kita memiliki tugas sebatas membantu mereka menemukan jalan itu seraya menjaga mereka agar tidak celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa untungnya bagi kita kalau kita sekedar merawat "barang titipan"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sama pun timbul dalam benak saya. Setelah segala hal yang kita korbankan untuk mendidik anak kita, kita akan merasa berhak melakukan apa yang kita inginkan pada anak kita. Kita pun akan merasa berhak menentukan masa depan anak kita. Kita pun akan merasa berhak menuntut balas jasa dari anak kita. Apakah tidak ada satu pun timbal balik yang dapat kita harapkan dari anak-anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks menjaga titipan Allah SWT, balas jasa yang kita terima pun akan datang dari Allah SWT. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi timbal balik yang kita dapatkan dari membesarkan anak dengan baik itu otomatis akan kita rasakan di dunia dan di akhirat. Balasan kebaikan itu akan kita dapatkan karena kita mampu mengikhlaskan pengorbanan kita dalam membesarkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk balas jasa lainnya adalah meminimalisir konflik negatif dengan anak. Hal ini terwujud seiring waktu kita menghargai hak-hak anak dengan penghargaan yang sama seperti terhadap hak-hak kita sendiri. Kita akan memberikan lebih banyak kebebasan bagi anak kita untuk memilih dengan catatan tidak merugikan diri mereka sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Catatan itu pun kita tuangkan dalam bentuk nasihat dan himbauan, bukan dengan bentakan dan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya tingkat konflik negatif akan membantu perkembangan positif pada kepribadian anak. Perkembangan positif ini pada akhirnya akan membentuk anak yang berterima kasih atas jasa-jasa orang tuanya. Rasa terima kasih ini pun akan diwujudkan lewat bakti kepada orang tua. Bakti ini akan menjadi balas jasa yang nyata atas setiap pengorbanan kita demi membesarkan anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-116204882038550361?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/116204882038550361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/anakku-bukan-milikku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/116204882038550361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/116204882038550361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/anakku-bukan-milikku.html' title='Anakku Bukan Milikku'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7162025952455703694</id><published>2011-05-18T13:45:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T13:21:23.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><title type='text'>Kebijakan yang Merampas Hak</title><content type='html'>Cuti adalah hak. Saya yakin semua orang setuju dengan pernyataan ini. Sebagaimana setiap hak yang kita miliki, kita memiliki kuasa penuh dalam menentukan waktu untuk menggunakan cuti. Tentunya sesuai ketentuan yang berlaku dan memperhatikan kondisi pekerjaan masing-masing. Intinya tetap sama, cuti adalah hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu waktu penggunaan hak itu adalah lewat Cuti Bersama. Secara tidak langsung, Cuti Bersama ini adalah pemaksaan kehendak yang terselubung. Saat kita berhak menentukan kapan kita ingin cuti, Cuti Bersama ini "memaksa" kita untuk cuti pada hari yang sama dengan mayoritas pegawai negeri yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, pemaksaan tersebut tidak menjadi masalah besar. Ada 2 (dua) alasan yang membuat Cuti Bersama diterima dengan senang hati. Pertama, Cuti Bersama umumnya kurang dari 3 (tiga) hari. Ini adalah salah satu kelebihan Cuti Bersama karena cuti tahunan hanya boleh diajukan untuk durasi minimal 3 (tiga) hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain yang membuat Cuti Bersama diterima dengan baik adalah karena pemberitahuannya dilakukan sebelum tahun berjalan. Misalnya Cuti Bersama untuk tahun 2011 sudah dapat kita ketahui waktu pelaksanaannya pada akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011. Jadi setiap pegawai masih memiliki waktu yang cukup untuk merencanakan cuti mereka di waktu Cuti Bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuti Bersama memang tidak pernah dipermasalahkan atau minimal tidak pernah "terlihat" dipermasalahkan. Hanya saja, Cuti Bersama tanggal 16 Mei kemarin adalah pengecualian. Cuti Bersama 16 Mei kemarin benar-benar memicu protes dari banyak pihak. Penyebab paling utama karena pemberitahuan yang mendadak. Alasan lainnya adalah karena mengganggu cuti tahunan yang sudah direncanakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang rekan kerja saya sudah menyisakan 5 (lima) hari cuti tahunan untuk diambil saat Hari Raya Idul Fitri demi kenyamanan mudik. Dengan Cuti Bersama kemarin, sisa cuti tahunan 4 (empat) hari saja akan mempersulit dirinya. Saya rasa banyak orang yang merasakan hal yang sama terkait perencanaan cuti masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitahuan yang mendadak membuat banyak orang kecewa karena mereka "dipaksa" berlibur tanpa perencanaan. Sebagian orang mungkin tidak terlalu banyak mengeluhkan hal ini, tapi saya yakin semua akan lebih senang jika pemberitahuan Cuti Bersama 16 Mei itu tidak mendadak. Semua akan lebih senang jika pengumuman libur selama 4 (empat) hari dari hari Sabtu s.d. Selasa itu tidak muncul mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perencanaan liburan, perencanaan pekerjaan jadi berantakan. Pekerjaan yang sudah direncanakan akan dikerjakan hari Senin pun terpaksa ditunda hingga hari Rabu. Yang paling pahit adalah pekerjaan tersebut tidak bisa ditunda dan hari Senin tetap diharuskan masuk sementara 99% pegawai lainnya sedang cuti. Ini saya alami sendiri. Tanggal 16 Mei itu saya diminta masuk untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai sebelum hari Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus saya, bukan hanya saya "dipaksa" untuk mengambil hak saya pada waktu yang saya tidak inginkan, tapi hak saya itu pun tidak bisa saya gunakan. Saya sudah sampai di kantor sekitar pukul 8 pagi dan baru bisa meninggalkan kantor sekitar pukul 3 sore. Hak saya pun dirampas oleh kebijakan yang muncul mendadak tanpa kepentingan yang jelas. Penggunaan kata "rampas" mungkin berlebihan, tapi memang kenyataannya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada secercah harapan pada saat pengumuman itu terbit karena ada kabar bahwa Cuti Bersama itu tidak harus diambil. Kebijakannya dikembalikan kepada instansi masing-masing. Saya pikir intansi tempat saya bekerja akan memilih untuk tidak mengakomodir keputusan yang mendadak itu, tapi kenyataan justru berkata sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuti sudah dikurangi 1 (satu) hari. Walau pun hari Senin, 16 Mei, saya masuk kantor, cuti yang dikurangi itu tetap tidak akan dikembalikan ke sisa hak cuti saya. Saat ini tidak ada yang bisa saya lakukan selain berharap agar kebijakan yang mendadak dan merugikan seperti keputusan Cuti Bersama 16 Mei 2011 ini tidak muncul lagi di kemudian hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7162025952455703694?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7162025952455703694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/kebijakan-yang-merampas-hak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7162025952455703694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7162025952455703694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/kebijakan-yang-merampas-hak.html' title='Kebijakan yang Merampas Hak'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8004816403005419981</id><published>2011-05-15T12:04:00.001+07:00</published><updated>2011-07-17T15:46:03.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Pernikahan Dini yang Suram</title><content type='html'>Pernikahan dini sepertinya identik sekali dengan pernikahan yang amburadul, yaitu pernikahan dengan masa depan yang suram. Pandangan ini meluas karena pernikahan dini dianggap terjadi karena unsur keterpaksaan atau "kecelakaan". Dengan kata lain, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilaksanakan tanpa persiapan yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan dini pun melekat erat dengan pernikahan di usia muda. Bila ada pasangan muda belia menikah, pernikahan mereka dianggap terlalu dini, terlalu tergesa-gesa, atau digosipkan akibat "kecelakaan". Pandangan masyarakat sudah sebegitu negatifnya terhadap pernikahan dini. Jadi pemuda-pemudi yang ingin menyegerakan menikah kemungkinan besar akan menghadapi permintaan untuk menunda pernikahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, pernikahan dini memang merupakan pernikahan yang rentan terhadap masalah. Bukan sekedar akibat pengaruh berita dan film, tapi contohnya kadang kita lihat sendiri di sekitar kita. Mungkin juga kita mendengar cerita tidak menyenangkan mengenai pasangan muda dari keluarga atau teman kita sendiri. Pada akhirnya, masa depan pernikahan dini menyulut kekhawatiran tersendiri. Pernikahan dini pun menjadi momok yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menyegerakan menikah atau dengan kata lain melakukan pernikahan dini itu tidak serta merta membawa dampak negatif. Menyegerakan menikah dapat juga berarti menyegerakan datangnya dampak positif pernikahan ke dalam hidup masing-masing pihak, baik suami maupun istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan pada dasarnya adalah kesiapan seseorang menghadapi pernikahan dan kesiapan seseorang ini tidak harus dikaitkan dengan usia. Usia yang lebih tua tidak menjanjikan kematangan yang lebih. Jadi mereka yang menikah pada usia yang lebih tua tidak otomatis lebih siap menikah. Seseorang yang menikah di usia 30 tahun belum tentu lebih siap menghadapi pernikahan dibandingkan seseorang yang menikah di usia 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, saya sadar bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Kalaupun ada pasangan muda yang hidup harmonis, jumlahnya mungkin tidak mencolok. Alhasil masyarakat pada umumnya tetap berpikir bahwa pernikahan dini itu penuh dengan resiko. Pola pemikiran ini yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat, termasuk para bakal calon pengantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="myhighlight"&gt;Pada intinya, pernikahan dini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.&lt;/div&gt;Pola pendidikan anak memiliki andil yang besar dalam hal ini. Walau bagaimana pun, tingkat kematangan seseorang sangat dipengaruhi oleh cara orang itu dididik dan dibesarkan. Dengan pola pendidikan yang tepat, kematangan seseorang sudah mulai terbentuk di usia belasan tahun. Sebaliknya dengan pola pendidikan yang tidak tepat, kematangan itu tidak akan terbentuk walau usia seseorang sudah lebih dari 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, pernikahan dini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Yang perlu ditakuti adalah pernikahan yang dilakukan oleh sepasang manusia yang tidak siap untuk menikah. Dini atau tidak dini itu menjadi tidak relevan karena yang perlu diperhatikan adalah kesiapan calon pengantin terlepas dari umur mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8004816403005419981?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8004816403005419981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/pernikahan-dini-yang-suram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8004816403005419981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8004816403005419981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/pernikahan-dini-yang-suram.html' title='Pernikahan Dini yang Suram'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1365397794040186693</id><published>2011-05-08T08:16:00.001+07:00</published><updated>2011-07-17T15:46:21.781+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Siap Mental untuk Menikah?</title><content type='html'>Tulisan ini merupakan sambungan dari &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/kapan-menikah.html"&gt;Kapan Menikah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kesiapan mental saya saat hendak menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya hendak menikah, walau saat itu saya "masih" berusia 22-23 tahun, tentu saja saya merasa saya siap secara mental. Saya lebih percaya diri untuk masalah kesiapan mental dibandingkan dengan masalah kesiapan finansial. Namun sepertinya kepercayaan diri saya terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hendak menikah, saya merasa diri saya adalah orang yang cukup bertanggung jawab dan cukup toleran. Cukup bertanggung jawab untuk menafkahi istri lahir dan batin. Cukup toleran untuk menerima perbedaan yang (pasti) terjadi dengan istri dalam hubungan pernikahan. Pada kenyataannya, kadar "cukup" yang saya pegang itu sangat rendah; terutama di bagian toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan pernikahan adalah hubungan yang jauh berbeda dari hubungan sosial dengan pihak-pihak seperti keluarga, teman, atau rekan kerja. Hubungan pernikahan jauh lebih rumit, lebih menantang, lebih memancing emosi, lebih menyesakan dada, dan lebih membuat pusing kepala. Di awal pernikahan, konflik-konflik kerap bermunculan. Mulai dari konflik dengan intensitas yang rendah hingga yang tinggi dan yang jarang hingga yang sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah yang timbul kadang membuat saya depresi. Namun setelah enam tahun menikah, tingkat depresi itu menurun. Dapat juga dikatakan bahwa frekuensi dan intensitas konflik rumah tangga sudah menurun. Kami (saya dan istri) pun sudah jauh lebih piawai mengendalikan perkembangan konflik dan mengatasi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah kita tidak pernah benar-benar siap mental untuk menikah. Justru kesiapan mental itu terbentuk dengan sendirinya seiring dengan usaha kita untuk menyelesaikan masalah rumah tangga. Toleransi terhadap perbedaan, kemampuan memahami keinginan istri/suami, kerelaan untuk mengalah, dan sikap mengutamakan hubungan baik dalam pernikahan akan terbentuk dengan sendirinya melalui pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja mekanisme peningkatan kedewasaan dalam berumah tangga seperti di atas memerlukan sikap positif dari masing-masing pihak (suami dan istri). Sikap positif yang dimaksud adalah kesadaran bahwa hubungan pernikahan itu lebih penting ketimbang ego pribadi. Kesadaran ini yang menjadi fondasi kesiapan mental untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memiliki kesadaran seperti itu, perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan tenang. Kalau pun terjadi konflik, maka ketegangan yang terjadi akibat konflik pun dapat diredam. Setiap masalah dapat dicari jalan keluarnya dan setiap perbedaan pun dapat diselaraskan karena prinsip mengalah untuk memenangkan hubungan pernikahan dipegang erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin kemampuan untuk menahan ego itu yang menjadi kekuatan pengikat hubungan pernikahan terlepas dari usia dan latar belakang setiap pasangan suami dan istri. Dapat dikatakan bahwa pasangan berpendidikan SMU yang masih berusia 20 tahun itu jauh lebih baik dalam mengelola pernikahannya dibandingkan pasangan berpendidikan S1 dengan usia yang jauh lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsip kesiapan finansial dan kesiapan mental seperti di atas itu akhirnya saya memberanikan diri untuk menyegerakan menikah. Walau banyak pihak meragukan kesiapan saya, saya tetap melangkah maju dengan pasti. Alhamdulillah tidak ada satu masalah pun, baik besar maupun kecil, yang bisa membuat saya berpisah dengan istri saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1365397794040186693?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1365397794040186693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/siap-mental-untuk-menikah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1365397794040186693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1365397794040186693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/siap-mental-untuk-menikah.html' title='Siap Mental untuk Menikah?'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8085937769963480448</id><published>2011-05-05T16:28:00.000+07:00</published><updated>2011-07-17T15:46:21.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Kapan Menikah?</title><content type='html'>Menikah adalah urusan pribadi. Kapan kita akan menikah dan dengan siapa kita akan menikah adalah urusan kita masing-masing. Orang tua boleh khawatir, kakak boleh bertanya, adik boleh meledek, teman-teman boleh mencarikan &lt;i&gt;kenalan&lt;/i&gt;, tapi waktu dan pasangan hidup adalah urusan pribadi. Tulisan ini pun tidak bermaksud mempertanyakan waktu yang baik untuk menikah, tapi sekedar berbagi keputusan-keputusan yang saya ambil saat saya hendak menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikah pada tanggal 20 Agustus 2005; sekitar 6-7 bulan sejak saya lulus kuliah S1. Tidak sedikit orang yang menganggap pernikahan ini terlalu dini. Padahal kenyataannya ada teman kuliah saya (satu angkatan) yang sudah lebih dulu menikah. Saya sendiri tidak merasa bahwa pernikahan saya itu terlalu cepat. Saya merasa bahwa memang sudah waktunya saya menikah. Saya sendiri tidak lagi terikat dengan bangku kuliah sehingga saya dapat memaksimalkan waktu saya untuk bekerja dan menghidupi keluarga. Saya siap menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, tidak semua orang menganggap saya siap untuk menikah. Bahkan ada yang menyarankan agar saya menunda pernikahan sebelum memiliki kesiapan finansial. Untungnya tidak ada yang meragukan kesiapan mental saya untuk menikah. Mungkin tidak ada yang berani mengutarakan hal ini, tapi saya asumsikan saja memang tidak ada yang meragukannya. Walaupun begitu, saya masih tegas dengan pendirian saya bahwa saya siap menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kesiapan finansial saya saat hendak menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kesiapan finansial, saya yang perlu meyakinkan diri saya bahwa saya dapat menghasilkan pemasukan yang cukup untuk membiayai hidup saya dan istri saya. Saya memberanikan diri melamar istri saya walaupun saya belum mendapatkan pekerjaan pasca lulus kuliah. Untungnya istri saya berpikiran sama dengan saya. Jadi dia berkenan mempertimbangkan lamaran saya. Saya perlu tegaskan bahwa lamaran pertama saya tidak langsung diterima. Hanya saja kesiapan finansial tidak menjadi masalah bagi istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa waktu sejak saya melamar istri saya, saya mendapat lampu hijau untuk bertemu orang tua istri saya. Dengan modal dengkul saya pun menguatkan hati dan memberanikan diri untuk bertamu ke rumah orang tua istri saya dan melamar anak perempuan mereka. Untungnya saya sudah mendapatkan pekerjaan sebelum pertemuan ini. Jadi modal dengkul saya dapat dikatakan modal dengkul &lt;i&gt;plus plus&lt;/i&gt; -tapi tetap saja dengkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya orang tua istri saya pun tidak terlalu merisaukan masalah kesiapan finansial. Setahu saya yang dilihat justru latar belakang saya sendiri seperti pendidikan dan keluarga saya. Walaupun begitu, berhubung orang tua istri saya baru pertama kali bertemu saya, saya diminta untuk lebih sering bertamu ke rumah mereka. Jadi mereka memiliki kesempatan untuk mengenal saya lebih jauh lagi. Kenapa pertama kali? Karena saya dan istri saya tidak pernah berpacaran. Alhamdulillah. Jadi saat saya melamar istri saya kepada orang tua istri saya itu adalah pertemuan pertama saya dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga paragraf panjang di atas pada dasarnya merupakan argumen saya terhadap "kesiapan finansial" yang seringkali diributkan. Saya tidak bermaksud menafikan fakta bahwa modal finansial itu penting. Hanya saja kesiapan finansial itu perlu dilihat dari sudut pandang kemampuan calon suami untuk mencari nafkah terlepas dari berapa jumlah uang yang dimilikinya. Kalau calon suami, calon istri, dan orang tua dari kedua belah pihak dapat memahami hal ini, pernikahan dapat berjalan tanpa perlu menimbun uang terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kesiapan mental saya saat hendak menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersambung ...&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8085937769963480448?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8085937769963480448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/kapan-menikah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8085937769963480448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8085937769963480448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/05/kapan-menikah.html' title='Kapan Menikah?'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5981504583390861778</id><published>2011-04-19T10:35:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:04:37.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOEFL ITP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Pengalaman mengikuti TOEFL ITP</title><content type='html'>Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengikuti TOEFL ITP. Yang saya ingat betul adalah TOEFL ITP saat masuk kuliah untuk menentukan keikutsertaan dalam mata kuliah Bahasa Inggris. Mahasiswa dengan skor TOEFL ITP otomatis mendapat nilai A untuk kuliah Bahasa Inggris dan diperbolehkan tidak menghadiri sesi kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOEFL ITP kedua yang saya ikuti adalah TOEFL ITP dalam rangka seleksi penerimaan calon pegawai Bank Indonesia (BI). Tes yang ini peruntukannya jelas. Peserta dengan skor TOEFL ITP yang bagus (saya agak lupa batas bawah skornya) akan diperbolehkan mengikuti seleksi tahap selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dua tes tersebut, ada beberapa tes Bahasa Inggris lainnya yang pernah saya ikuti. Tes-tes Bahasa Inggris ini saya ikuti saat melamar pekerjaan. Tes-tes tersebut merupakan bagian dari rangkaian seleksi pelamar pekerjaan seperti halnya di seleksi penerimaan calon pegawai BI di atas. Hanya saja tes-tes Bahasa Inggris ini berbeda dengan TOEFL ITP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOEFL ITP itu khas. Lewat TOEFL ITP itu kemampuan Bahasa Inggris kita diuji dari sisi kemampuan mendengar dan mencerna percakapan dalam Bahasa Inggris (&lt;i&gt;Listening Comprehension&lt;/i&gt;), pengetahuan akan struktur tulisan dalam Bahasa Inggris (&lt;i&gt;Structure and Written Expression&lt;/i&gt;), dan kemampuan membaca dan mencerna artikel singkat dalam Bahasa Inggris (&lt;i&gt;Reading Comprehension&lt;/i&gt;). Tes-tes bahasa Inggris lain umumnya hanya menguji pengetahuan &lt;i&gt;vocabulary&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt;, dan kemampuan mencerna artikel dalam Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOEFL ITP kali ini saya ikuti dalam rangka memenuhi persyaratan untuk mengajukan beasiswa. Program beasiswa tersebut mengharuskan saya menyertakan bukti skor TOEFL ITP di atas 500. Alhamdulillah saya menemukan tempat pelaksanaan tes TOEFL ITP, yaitu di ILP Pancoran. Biaya untuk mengikuti TOEFL ITP di ILP Pancoran adalah Rp. 285.000. Kenapa harus di Pancoran? Menurut informasi dari ILP, ILP Pancoran (kantor pusat) adalah satu-satunya ILP yang menyelenggarakan TOEFL ITP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan tes TOEFL ITP di ILP Pancoran dilaksanakan bila memenuhi kuota peserta. Alhamdulillah kuota itu terpenuhi untuk pelaksanaan tes pada tanggal 2 April 2011 (Sabtu). Waktu pelaksanaan tes itu adalah waktu yang tepat bagi saya karena masih ada waktu 2 minggu sampai batas waktu penyerahan berkas persyaratan beasiswa. Kenapa 2 minggu? Karena skor TOEFL ITP hanya bisa diambil paling cepat 1 minggu (sepertinya 5 hari kerja) dari tanggal pelaksanaan tes. Jadi 2 minggu adalah waktu yang relatif aman bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, 2 minggu adalah pilihan yang tepat. Pertama, hasil tesnya tertunda. Saya baru bisa mengambil hasil tesnya pada hari Senin, 11 April 2011, padahal saya mengharapkan hasilnya bisa saya ambil pada hari Jumat, 8 April 2011. Kedua, proses "legalisir"-nya lebih lama dari yang saya bayangkan. Rupanya TOEFL ITP tidak mengenal istilah "legalisir". Kalau kita butuh tambahan laporan skor TOEFL ITP yang legal, maka kita harus mengajukan permohonan &lt;i&gt;Additional Score Report&lt;/i&gt;. Setelah mengajukan permohonan ini, kita harus menunggu 2-3 hari sebelum hasilnya dapat kita ambil. Biayanya adalah Rp. 100.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Additional Score Report adalah laporan skor tes TOEFL ITP yang sama persis dengan laporan skor tes TOEFL ITP yang saya terima dari ILP Pancoran. Jadi istilah "legalisir" itu tidak ada untuk laporan skor TOEFL ITP. Kalau kita butuh tambahan laporan  skor yang legal, Additional Score Report ini yang diakui; bukan fotokopi legalisir. Alhamdulillah tidak ada keterlambatan dalam mengurus Additional Score Report. Jadi saya masih sempat mengurus dan menyerahkan berkas persyaratan beasiswa dengan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi ringkas dari bacaan melelahkan di atas adalah sebagai berikut:&lt;ol&gt;&lt;li&gt;ILP Pancoran melaksanakan TOEFL ITP. Hubungi instansi terkait untuk waktu pelaksanaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biaya untuk mengikuti TOEFL ITP di ILP Pancoran adalah Rp. 285.000.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laporan skor TOEFL ITP dapat diambil paling cepat 1 minggu (atau mungkin 5 hari kerja) setelah pelaksanaan tes.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tambahan laporan skor TOEFL ITP dapat diperoleh dengan mengajukan permohonan &lt;i&gt;Additional Score Report&lt;/i&gt;. Permohonan dapat diajukan ke instansi pelaksana tes atau IIEF (&lt;a href="http://www.iief.or.id/"&gt;www.iief.or.id&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biaya untuk mendapatkan Additional Score Report adalah Rp. 100.000. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Additional Score Report dapat diambil paling cepat 2 hari kerja setelah mengajukan permohonan. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5981504583390861778?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5981504583390861778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/pengalaman-mengikuti-toefl-itp.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5981504583390861778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5981504583390861778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/pengalaman-mengikuti-toefl-itp.html' title='Pengalaman mengikuti TOEFL ITP'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2098703751200913800</id><published>2011-04-14T16:49:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:16:42.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berkendara'/><title type='text'>Mengurangi Stres Negatif Saat Pulang-Pergi Kerja</title><content type='html'>Senin sampai Jum'at adalah hari yang melelahkan. Bukan melelahkan karena kita harus bekerja, tapi melelahkan karena kita harus melewati hiruk-pikuk kemacetan di jalan raya menuju tempat kita bekerja. Rasa lelah itu yang saya -dan mungkin juga Anda- rasakan setiap pagi dan sore hari setiap hari kerja di belantara Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stres yang muncul akibat kemacetan itu mengakibatkan efek samping yang buruk bagi kehidupan. Saat berangkat kerja, perjalanan yang melelahkan dan menambah stres itu sudah pasti menguras energi yang seharusnya dapat kita manfaatkan untuk bekerja. Saat pulang kerja, perjalanan yang sama akan semakin menguras energi yang seharusnya dapat kita manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau kita mengalami masalah di tengah perjalanan, tingkat kesabaran kita akan menurun drastis. Rendahnya tingkat kesabaran kita tentu memberikan efek negatif tersendiri baik di lingkungan pekerjaan maupun di tengah-tengah keluarga kita. Sumbu amarah kita menjadi lebih pendek sehingga sedikit kesalahan saja akan membuat kita kesal bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah sejak beberapa bulan yang lalu saya berhasil mengurangi stres negatif saat melakukan perjalanan pulang-pergi kerja ini. Tidak ada trik khusus yang saya lakukan dalam hal ini. Saya hanya beruntung menemukan rute pulang-pergi kantor dengan menggunakan sepeda motor yang terbilang nyaman. Bila dibandingkan dengan rute dan media transportasi lain yang pernah saya gunakan, rute terbaru ini adalah yang paling nyaman dan paling singkat waktu tempuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya rute sepeda motor yang terpikir oleh saya adalah melewati jalur Cipulir-Ciledug-Kebayoran Lama-Blok M-Senopati. Jalur ini adalah jalur neraka (karena melibatkan Cipulir, Ciledug, dan Kebayoran Lama), baik saat berangkat kerja maupun saat pulang kerja. Saya langsung beralih ke pilihan lain. Pilihan berikutnya adalah menggunakan transportasi umum melewati jalur Alam Sutera-Kebon Jeruk-Tomang-Semanggi. Bagian yang paling menyulitkan adalah waktu kedatangan bus yang tidak menentu. Resiko saya terlambat menjadi lebih besar, kecuali saya mau berangkat jam 05.30 pagi (atau lebih pagi lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif lain yang saya coba adalah mobil pribadi. Jalur yang saya lewati adalah BSD City-Tol Serpong-Tol JORR-Citos-Antasari-Prapanca-Blok M-Senopati. Dibandingkan dengan transportasi umum, pilihan ini memungkinkan saya berangkat lebih siang (maksimal jam 6 pagi). Sayangnya menggunakan mobil pribadi memiliki dampak yang sangat besar terhadap jumlah pengeluaran saya. Saya bahkan sempat mengakali dengan menghindari Tol JORR, tapi penghematan yang didapat tidak terlalu signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pilihan saya jatuh pada rute yang sudah saya gunakan selama berbulan-bulan ini, yaitu rute sepeda motor melewati Parigi Lama-Bintaro-Veteran-Pondok Indah-Radio Dalam-Panglima Polim-Senopati. Sampai saat ini, rute ini dapat dikatakan sebagai rute impian. Jarak tempuh paling dekat, waktu tempuh pun paling singkat, dan tentunya pengeluaran paling irit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan umum dan mobil pribadi memang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri seperti kenyamanan dan akses jalan tol. Hanya saja urutan prioritas saya membuat saya bersyukur saya menemukan rute alternatif melewati Bintaro ini. Satu-satunya hal yang perlu saya pikirkan adalah bagaimana mengurangi bawaan di tas agar beban di punggung saat mengendarai motor bisa berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, kesabaran tetap merupakan hal yang krusial untuk bisa menekan stres negatif di jalan raya Ibukota. Pemicu emosi (atau stres negatif) itu senantiasa ada. Entah karena ada Metro Mini yang melaju kencang tanpa lihat kiri-kanan, pengendara lain yang tiba-tiba memotong jalan, atau kendaraan super pelan yang menghalangi jalan, atau angkutan umum yang berhenti mendadak. Berkendara tanpa kesabaran sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2098703751200913800?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2098703751200913800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/mengurangi-stres-negatif-saat-pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2098703751200913800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2098703751200913800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/mengurangi-stres-negatif-saat-pulang.html' title='Mengurangi Stres Negatif Saat Pulang-Pergi Kerja'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5034840922391913208</id><published>2011-04-10T11:12:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:04:06.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kriminalitas'/><title type='text'>Saat Pulsa Three Menghilang</title><content type='html'>Saat sisa pulsa saya mendadak berkurang tanpa saya sadari adalah saat yang menjengkelkan. Hal ini belum lama saya alami di kartu Three saya. Nominal yang berkurang memang tidak besar, tapi perasaan jengkel itu tetap muncul. Jengkel bukan karena nominal, tapi jengkel karena alasan yang diberikan sangat tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya bermula saat saya hendak mengisi ulang kartu Three yang saya pakai untuk modem Internet. Saat saya cek, sisa pulsa saya hanya rp. 7.000. Padahal seharusnya sisa pulsa saya adalah Rp. 14.700. Sisa pulsa saya "hanya" berkurang Rp. 7.700. Apa mungkin berkurang karena penggunaan? Tidak mungkin. Kartu Three itu hanya saya gunakan untuk berlangganan paket Internet dan sisa kuota saya masih lebih dari 800 MB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung menghubungi Customer Service (CS). CS Three mengatakan bahwa sisa pulsa saya memang hanya Rp. 7.000. Akhirnya saya bersikeras bahwa sisa pulsa saya sebelumnya Rp. 14.700. Kebetulan saya mencatat jumlah sisa pulsa saya setiap kali cek. Setelah saya bersikeras, akhirnya CS memeriksa lagi nomor Three saya. Ternyata memang terjadi pengurangan pulsa. Penyebabnya? Layanan konten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung protes. Jangankan untuk layanan konten, kartu Three saya bahkan tidak pernah saya gunakan untuk telepon atau mengirim SMS. Yang bisa dikatakan CS itu hanya permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Sama sekali tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa kartu Three saya bisa berlangganan konten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memaksa meminta penjelasan lebih lanjut pun tidak berhasil. Akhirnya saya menyerah dan mengakhiri pembicaraan. Kelihatannya CS itu pun ingin segera mengakhiri pembicaraan. Tidak terasa ada niat baik untuk menenangkan saya selain mengucapkan permintaan maaf. &lt;i&gt;Boro-boro &lt;/i&gt;menawarkan kompensasi untuk mengganti pulsa saya yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti saya kecewa. Kepercayaan saya terhadap Three berkurang. Saya bahkan langsung memeriksa sisa pulsa kartu Three saya yang saya gunakan untuk BlackBerry. Untungnya saya tidak menemukan indikasi berkurangnya pulsa di kartu Three untuk BlackBerry saya. Tapi sejak kejadian itu saya jadi semakin rajin cek pulsa Three saya. Hampir setiap hari saya cek (dan catat) sisa pulsa Three di BlackBerry saya. Bagaimana dengan kartu Three untuk modem Internet? Saya langsung berhenti berlangganan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5034840922391913208?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5034840922391913208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/saat-pulsa-three-menghilang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5034840922391913208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5034840922391913208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/04/saat-pulsa-three-menghilang.html' title='Saat Pulsa Three Menghilang'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8431809146521509441</id><published>2011-03-31T11:05:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:17:14.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kriminalitas'/><title type='text'>Uang Setan Dimakan Setan</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"... Penipu Laporan Pajak = SETAN, setelah dicurigai lalu diperiksa oleh petugas pajak ditemukan kebohongan dari jumlah yang seharusnya disetor kepada negara melalui BANK atau KANTOR POS. Lalu si SETAN menggunakan kemampuan uangnya untuk menyogok petugas pajak SETAN sehingga pajaknya tidak diperbaiki sebagaimana mestinya. Jadilah istilah "uang SETAN dimakan SETAN".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di lapangan seiring adanya kasus gayus:&lt;br /&gt;1.Seorang pembeli sayur yang seorang PNS berseragam mengatakan "ngapain bayar pajak, cuma buat bikin kaya orang pajak". dan apa yg saya dengar berikutnya sangat mengejutkan. Ibu penjual sayur berkata "ya makanya bayar pajaknya ke bank om, jangan sama orang pajaknya".&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan betapa gelinya saya waktu itu. seorang Pegawai Negeri Sipil, yang setiap bulannya dapat penghasilan yang uangnya berasal dari Pajak, dengan tidak tahu malunya bicara seperti itu.&lt;br /&gt;2.dari beberapa kejadian seperti itu dapat saya simpulkan seperti pepatah "Tong Kosong Nyaring Bunyinya". Orang-orang yang paling keras menyuarakan "STOP MEMBAYAR PAJAK" adalah salah satu dari SETAN penipu pajak, dan yg lain adalah orang-orang yang sama sekali tidak pernah melaporkan pajak ataupun membayar pajak. ..." &lt;/blockquote&gt;Kutipan di atas merupakan salah satu komentar yang dituangkan dalam blog &lt;a href="http://bicarapajak.blogspot.com/"&gt;bicarapajak.blogspot.com&lt;/a&gt;. Tidak semua isi komentar tersebut saya kutip di atas. &lt;a href="http://bicarapajak.blogspot.com/2010/03/menjawab-opini-miring-di-balik-gayus.html?showComment=1301479009600#c6606138830829929573"&gt;Klik di sini&lt;/a&gt; untuk membaca versi selengkapnya dari komentar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar di atas secara gamblang menegaskan aspek lain dalam menilai kasus-kasus pajak, yaitu keberadaan wajib pajak bermasalah. Saat sorotan dalam kasus-kasus perpajakan ditujukan kepada pegawai dan instansi perpajakan negeri ini, faktor wajib pajak sama sekali tidak diperhatikan. Padahal faktanya kasus-kasus perpajakan itu tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Selalu ada faktor aparat perpajakan dan wajib pajak dalam setiap korupsi di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilah "kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan", maka terlihat jelas bahwa korupsi yang dilakukan aparat perpajakan tidak mungkin dilakukan kalau wajib pajak tidak membuka peluang. Jadi wajib pajak pun bersalah karena membuka peluang korupsi. Wajib pajak seperti ini justru menjadi kaki tangan pelaku korupsi perpajakan; bukan sebagai korban. Korban dari korupsi perpajakan ini adalah rakyat, yaitu orang-orang yang berhak mendapatkan kesejahteraan dari kas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan lagi kita salah kaprah menilai pelaku-pelaku kejahatan dalam korupsi perpajakan. Arahkan jari kita tidak hanya pada aparat perpajakan yang terlibat, tetapi juga pada para wajib pajak yang mendapatkan keuntungan lewat manipulasi data perpajakan. Mereka itulah orang-orang egois yang mengedepankan kepentingan dan keuntungan pribadi dengan mengorbankan kepentingan umum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8431809146521509441?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8431809146521509441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/uang-setan-dimakan-setan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8431809146521509441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8431809146521509441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/uang-setan-dimakan-setan.html' title='Uang Setan Dimakan Setan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2192060091439340167</id><published>2011-03-23T17:35:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:19:24.338+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berkendara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Kepentingan Umum atau Kepentingan Saya?</title><content type='html'>Bicara soal keteraturan sosial yang didasari kesadaran untuk mengutamakan kepentingan umum, saya teringat akan banyak insiden dalam hidup saya sehari-hari yang menunjukan kondisi sebaliknya. Contoh yang paling sering saya temukan adalah saat seorang pengendara motor berjalan santai di tengah jalan sambil mengirim pesan dengan BlackBerry miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, yang masih sangat segar di ingatan, adalah saat seorang supir angkot mengisi bensin dan membiarkan mesinnya menyala seraya menerima telepon masuk. Mungkin supir itu tidak tahu resiko menyalakan mesin dan menerima telpon saat mengisi bensin, tapi yang sulit ditolerir adalah saat supir itu tidak terlalu peduli saat ditegur petugas SPBU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akibat kesembronoan yang sama itu mobil saya akhirnya kena serempet sedan dari arah berlawanan yang keluar dari jalur. Saya sempat berpikir pengendara sedan itu sedang sibuk dengan _smartphone_ miliknya sehingga dia tidak memperhatikan jalan. Apalagi setelah kejadian itu dia sama sekali tidak berhenti walau untuk sekedar meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum tulisan ini saya buat, sebuah sepeda motor selip saat memaksa menyalip dari sisi kiri kendaraan lain. Posisi motor itu tidak jauh di depan motor saya. Untung saya menjaga jarak aman sehingga saya tidak menabrak motor itu saat saya injak rem mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendara motor yang cek SMS atau menerima telepon cukup sering saya temui. Sepertinya mereka lebih memilih mengambil resiko menabrak atau ditabrak ketimbang berhenti sebentar saat cek SMS atau terima telepon. Pengendara mobil pun tak sedikit yang melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi contoh lain, yaitu saat dua motor berjalan bersampingan. Saat mengendarai motornya itu mereka mengobrol. Tentunya mudah untuk kita bayangkan dua motor berjalan bersampingan dengan kecepatan rendah. Hal ini benar-benar mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain tentunya segudang. Contohnya ada baik di antara pengendara motor maupun di antara pengendara mobil. Itu baru bicara contoh orang-orang yang tidak peduli kepentingan umum di jalan raya. Belum bicara keegoisan di tempat-tempat lain selain jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendara yang mengambil dua lahan parkir untuk memarkir mobilnya. Orang yang menyelak antrian di kasir _hypermarket_. Perokok yang merokok di kantor, angkutan umum, atau tempat umum lainnya. Orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Dan masih banyak lagi contoh ketidakpedulian terhadap kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret orang-orang yang mengutamakan kepentingan masing-masing itu pada akhirnya dapat menggambarkan karakter masyarakat yang rapuh. Masyarakat yang kepedulian sosialnya hanya muncul saat terjadi bencana besar. Itu pun datangnya dari balik zona nyaman masing-masing individu. Saat zona nyaman itu belum terbentuk, kepedulian sosial tenggelam ditelan ombak kepedulian pribadi dan golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim tentunya tahu bahwa berjamaah itu lebih baik dibandingkan sendirian; mulai dari shalat hingga perbuatan baik lainnya. Jepang yang dilanda gempa, tsunami, dan radiasi nuklir beberapa waktu yang lalu pun sudah membuktikan hal ini. Kalau kita semua hanya mementingkan diri kita sendiri, maka kita tidak akan pernah menjadi kelompok, masyarakat, dan bangsa yang kuat dan tahan goncangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2192060091439340167?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2192060091439340167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/kepentingan-umum-atau-kepentingan-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2192060091439340167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2192060091439340167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/kepentingan-umum-atau-kepentingan-saya.html' title='Kepentingan Umum atau Kepentingan Saya?'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5097167190991410978</id><published>2011-03-16T14:37:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:19:42.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Jepang dan Islam</title><content type='html'>Sifat-sifat buruk seseorang umumnya terkuak saat seseorang sedang dalam keadaan terjepit. Dalam kondisi kritis, seseorang bisa kehilangan kesabaran dan menjadi emosional. Dalam kondisi kritis, seseorang tidak lagi peduli pada orang lain dan menjadi pribadi yang egois. Bila ada orang yang dapat menahan sifat-sifat buruknya dalam kondisi terjepit, maka orang ini pantas diacungi jempol. Bila ada sebuah bangsa yang dapat menahan sifat-sifat buruk mereka dalam krisis, maka bangsa ini pantas diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai media meliput kondisi keteraturan sosial yang terjadi di Jepang saat mereka harus menghadapi gempa, tsunami, dan nuklir. Setiap orang yang membaca berita ini tentu kagum dengan keteguhan karakter yang ditunjukan setiap masyarakat di Jepang. Terlihat jelas bahwa keegoisan dapat ditekan sehingga setiap individu tetap mengutamakan kepentingan umum. Sebuah sikap dasar yang pada akhirnya membentuk keteraturan sosial di Jepang saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja mayoritas masyarakat Jepang adalah pemeluk agama Islam yang taat, kita tidak perlu merasa heran. Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperhatikan kepentingan orang lain seperti halnya memperhatikan kepentingan sendiri. Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak egois dan serakah. Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak bertindak kasar (anarkis). Keteraturan sosial mudah dicapai seandainya anggota masyarakat menerapkan nilai-nilai Islam dalam hidup mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya justru terbalik. Karakter bangsa Jepang tidak dapat dikatakan dipengaruhi oleh anggota masyarakat yang beragama Islam. Justru karakter bangsa Jepang dapat dikatakan warisan leluhur; sebuah karakter kuat yang sudah ada sejak lama. Sebaliknya negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam justru memiliki karakter yang terbilang bobrok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme yang digulirkan atas nama Islam, aksi anarkis atas nama Islam, konflik berkepanjangan antara Indonesia dan Malaysia, para diktator yang memimpin Tunisia, Mesir, dan Libya, atau individu-individu di Arab Saudi yang kerap kali menyiksa para pembantu mereka. Entah berapa banyak lagi contoh keburukan-keburukan yang diperlihatkan oleh masyarakat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperbaiki citra Islam yang terpuruk, setiap muslim perlu mencontoh masyarakat Jepang. Setiap muslim perlu mencontoh keteraturan sosial yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Jepang. Setiap muslim perlu mencontoh kepedulian sosial yang tetap ada di tengah goncangan bencana yang dihadapi masyarakat Jepang. Dunia sudah menunjukan bahwa decak kagum itu datang dari keteguhan, kepedulian, dan kedisplinan dan bukan dari aksi anarkis, terorisme, atau sikap eksklusif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5097167190991410978?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5097167190991410978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/jepang-dan-islam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5097167190991410978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5097167190991410978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/jepang-dan-islam.html' title='Jepang dan Islam'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2000114805379478567</id><published>2011-03-03T13:46:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:20:15.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Memberi Makan Anak Tanpa Repot</title><content type='html'>Berikut adalah 6 kebiasaan makan anak-anak yang tidak menyenangkan dan tidak sehat dan cara-cara mengatasinya. Hal yang juga perlu diingat adalah makanan sebaiknya digunakan sebagai makanan, bukan sebagai hadiah atau hukuman. Dalam jangka panjang, makanan yang dijadikan imbalan atau suap biasanya menciptakan lebih banyak masalah ketimbang menjadi solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tantangan dalam Memberi Makan Anak dan Solusinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih-pilih Makanan: Hanya mau satu jenis makanan setiap kali makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Biarkan anak makan apa yang dia inginkan selama jenis makanan yang dia pilih itu sehat. Pastikan anak merasa lapar saat makan dan tawarkan makanan lain selain makanan pilihan dia. Tetap tawarkan makanan pilihan anak selama dia menginginkannya. Setelah beberapa hari, anak mungkin akan mencoba makanan lain. Pola makan seperti ini jarang berlangsung cukup lama untuk menyebabkan masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mogok Makan: Menolak makanan yang ada; dapat berakibat&amp;nbsp;&lt;i&gt;short-order cook syndrome&lt;/i&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Pastikan anak lapar ketika waktu makan datang. Jangan tawarkan jus, minuman manis, atau makanan ringan terlalu dekat dengan waktu makan. Sediakan roti gandum atau roti lainnya serta buah saat anak-anak makan, sehingga ada berbagai pilihan yang mungkin anak suka. Kita harus bersikap mendukung pilihan anak, tapi juga menentukan batasan yang diperlukan. Jangan takut untuk membiarkan anak kelaparan jika ia tidak mau makan apa yang disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Menonton TV: Ingin menonton TV pada waktu makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Matikan TV. Menonton TV saat makan akan mengganggu interaksi dalam keluarga dan pola makan anak. Hargai waktu yang dihabiskan bersama saat makan. Seringkali ini adalah satu-satunya waktu di siang hari saat keluarga bisa berkumpul bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pengeluh: merengek atau mengeluh tentang makanan yang disajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Pertama minta anak untuk makan makanan lain yang disajikan. Jika anak menolak, minta anak pergi ke kamarnya atau duduk tenang jauh dari meja makan sampai waktu makan selesai. Jangan biarkan dia membawa makanan, ikut makan makanan pencuci mulut, atau makan makanan apa pun sampai waktu makan  berikutnya atau sampai waktu makan kudapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The Great American White Diet&lt;/i&gt;: Makan hanya roti, kentang, makaroni dan susu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Hindari menekan anak untuk makan makanan lain. Memberi perhatian berlebihan pada kebiasaan makan seperti ini hanya memperkuat keinginan anak untuk membatasi makanan. Terus tawarkan berbagai jenis makanan dari semua kelompok makanan. Dorong anak untuk merasakan biji-bijian serta makanan merah, oranye, dan hijau. Pada akhirnya anak akan pindah ke makanan lain.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut Makanan Baru: Menolak mencoba makanan baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Terus perkenalkan dan perkuat dorongan terhadap jenis makanan baru dari waktu ke waktu. Mungkin diperlukan banyak percobaan sebelum anak siap untuk mencicipi makanan baru ... dan banyak mencicipi sebelum anak benar-benar menyukainya. Sebuah titik awal yang baik adalah meminta anak untuk memperbolehkan sedikit jenis makanan baru untuk ditaruh di piringnya. Jangan paksa anak untuk mencoba makanan baru. Perlu juga diingat bahwa Anda (orang tua) adalah panutan. Jadi pastikan anak Anda melihat Anda menikmati makanan baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Jangan memberi makan anak-anak yang masih kecil lebih dari 4 suapan makanan pada kecuali makanan tersebut dicincang sepenuhnya. Makanan berikut menimbulkan resiko tersedak: kacang-kacangan dan biji, potongan daging atau keju, hot dog, anggur utuh, potongan buah (seperti apel), popcorn, sayuran mentah, permen yang keras dan lengket, serta permen karet. Selai kacang bisa menimbulkan resiko tersedak untuk anak-anak di bawah umur 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari &lt;i&gt;Hassle-Free Meal Time&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/pages/Hassle-Free-Meal-Time.aspx"&gt;http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/pages/Hassle-Free-Meal-Time.aspx&lt;/a&gt;, diakses tanggal 3 Maret 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Informasi lebih lanjut tentang &lt;i&gt;short-order cook syndrome&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.encyclopedia.com/doc/1O999-shortorder.html"&gt;http://www.encyclopedia.com/doc/1O999-shortorder.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.skoool.ie/skoool/parents.asp?id=899"&gt;http://www.skoool.ie/skoool/parents.asp?id=899&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;** Agak sulit menerjemahkan bagian &lt;i&gt;The Great American White Diet&lt;/i&gt;. Pada dasarnya kebiasaan ini adalah kebiasaan makan makanan netral (tanpa rasa) seperti susu yang netral atau nasi. Solusinya adalah tetap membiarkan anak makan makanan netral tersebut sambil menawarkan jenis makanan lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2000114805379478567?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2000114805379478567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/memberi-makan-anak-tanpa-repot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2000114805379478567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2000114805379478567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/03/memberi-makan-anak-tanpa-repot.html' title='Memberi Makan Anak Tanpa Repot'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1208587207042075139</id><published>2011-02-28T11:51:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Mendidik Anak Tanpa Kalimat Negasi</title><content type='html'>&lt;div class="gmail_quote"&gt;Sebagaimana orang tua pada umumnya, interaksi saya dengan kedua anak saya kadang bersifat satu arah. Misalnya saat memperingatkan anak-anak saat mereka akan/sedang melakukan sesuatu yang berbahaya atau saat memberi "ceramah" tentang mana yang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring banyaknya interaksi saya dengan Raito dan Aidan (kedua anak saya), semakin banyak pula variasi kata-kata yang saya gunakan. Alhamdulillah perkembangan kosa kata anak-anak pun berjalan lancar.&lt;br /&gt;Jadi seiring waktu komunikasi dengan anak-anak pun semakin mudah (walau dalam beberapa kasus terasa semakin sulit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi yang saya maksud di atas tentunya sulit untuk saya beberkan di sini. Jadi sesuai judul tulisan, saya hanya akan membandingkan respon anak-anak saya terhadap kata-kata yang negatif dan kata-kata yang&lt;br /&gt;positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata-kata yang negatif antara lain yang mengandung kata "jangan", "tidak", atau "bukan". Kata-kata negatif ini lebih sulit dipahami anak-anak saya. Misalnya "jangan memukul" sepertinya lebih terdengar seperti suruhan untuk memukul. Itu karena anak-anak saya seolah-olah hanya memperhatikan kata "memukul" ketimbang keseluruhan kata-kata "jangan memukul".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini (saat anak-anak saya berumur lebih dari 31 bulan), kondisi di atas masih berlaku. Oleh karena itu, saya senantiasa mencari padanan positif dari kata-kata negatif tersebut. Tujuannya adalah agar kata-kata negatif (yang umumnya berupa larangan) itu berubah menjadi kalimat yang positif (yang umumnya berupa himbauan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya "jangan main di sana" diubah menjadi "main di sini". Larangan seperti "tidak boleh main X" diubah menjadi "main Y saja". "Tidak boleh ikut" saya ubah menjadi "ditinggal". "Jangan berisik" saya ubah menjadi "suaranya pelan-pelan ya". "Jangan ke tengah jalan" saya ubah menjadi "di pinggir jalan saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang bisa saya berikan masih ada lebih banyak lagi, tapi intinya sama. Merubah kata-kata negatif menjadi kata-kata positif itu memudahkan anak-anak saya untuk mengerti sembari mempertahankan maksud&lt;br /&gt;saya sebagai orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengatakan "main di sini", sama saja dengan mengatakan "jangan main di sana". Bedanya anak-anak saya lebih mudah menangkap maksud dari "main di sini". Dengan mengatakan "di pinggir jalan saja", sama&lt;br /&gt;saja dengan mengatakan "jangan ke tengah jalan". Bedanya anak-anak saya lebih mudah menangkap maksud dari "di pinggir jalan saja". Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala besar dalam menerapkan metode pendidikan anak tanpa kalimat negasi ini adalah menemukan padanan positifnya. Hal ini saya alami sendiri. Contohnya antara lain "jangan memukul" dan "jangan marah".&lt;br /&gt;Saya sempat kesulitan menemukan padanan positifnya sampai akhirnya saya memilih untuk tidak menggunakan kata-kata. Saat saya memergoki anak-anak saya memukul, saya tahan tangannya dan saya ajak bicara. Saat saya memergoki anak-anak saya marah, saya rangkul dan saya ajak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan larangan itu lumrah karena hidup dalam lingkungan sosial tidak mungkin luput dari larangan. Dilarang dan melarang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, wajar saja bila&lt;br /&gt;orang tua pun banyak mengeluarkan larangan dalam mendidik anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, pola pendidikan ini dapat diubah. Yang negatif dapat diubah menjadi positif. Larangan pun dapat diubah menjadi himbauan. Perlu kita ingat bahwa menuruti himbauan itu lebih langgeng ketimbang&lt;br /&gt;menuruti larangan. Bukan hanya karena manusia punya kecenderungan untuk memberontak bila dilarang, tapi juga karena himbauan itu menumbuhkan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya mengakhiri tulisan saya ini, ada beberapa hal yang perlu saya tegaskan kembali. Tulisan di atas adalah hasil pengamatan saya selama saya mendidik anak-anak saya hingga berumur 31 bulan. Hal yang&lt;br /&gt;sama mungkin dapat dirasakan oleh orang tua yang lain dari anaknya masing-masing, tapi saya tidak berani menjaminnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1208587207042075139?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1208587207042075139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/mendidik-anak-tanpa-kalimat-negasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1208587207042075139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1208587207042075139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/mendidik-anak-tanpa-kalimat-negasi.html' title='Mendidik Anak Tanpa Kalimat Negasi'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2757280276807099890</id><published>2011-02-22T15:11:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T15:11:37.968+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Selamat Tinggal Jejaring Sosial</title><content type='html'>Sepertinya sudah tiba waktunya bagi saya untuk menarik diri dari situs-situs jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook. Interaksi sosial saya di situs-situs jejaring sosial itu semakin terasa hambar (baca: sia-sia). Niat saya untuk berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya mulai berubah menjadi satu arah akibat terlalu banyak &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; yang pada dasarnya tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain adalah karena saya merasa sikap saya dalam berinteraksi di jejaring sosial sangat berbeda dengan di dunia nyata. Hal ini saya rasakan sendiri. Saya bisa berinteraksi dengan lebih banyak orang ketimbang di dunia nyata. Rasa canggung pun berkurang. Bisa dikatakan sekat sosial yang ada di dunia nyata tiba-tiba menghilang di jejaring sosial. Secara sekilas hal ini terlihat positif, tapi saya merasa aneh. Seolah-olah setiap orang yang menjadi teman saya itu ada dua versi: versi jejaring sosial dan versi dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jejaring sosial juga terasa seperti candu. Tidak jarang muncul pikiran untuk berbagi, untuk &lt;i&gt;update&lt;/i&gt;, dan mengomentari berbagai &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; teman-teman di jejaring sosial. &lt;i&gt;Update&lt;/i&gt; itu seolah-olah menjadi kebutuhan dasar. Seperti ada keinginan kuat yang mendorong saya untuk &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; padahal -seperti yang saya katakan di paragraf pertama- &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; tersebut tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya candu yang lain, jejaring sosial pun tak pelak lagi memakan waktu saya. Waktu yang seharusnya bisa saya sediakan untuk keluarga dan untuk berkarya. Lebih sedikit waktu yang saya gunakan untuk menatap layar monitor atau layar &lt;i&gt;smartphone&lt;/i&gt; saya seharusnya sama dengan lebih banyak waktu untuk istri, anak-anak, dan hal-hal positif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, mungkin saja alasan utama saya adalah bosan. Hanya saja semua yang saya paparkan di atas adalah benar adanya. Alasan-alasan di atas memang bersifat subjektif dan saya yakin tidak berlaku untuk semua orang. Namun alasan-alasan itulah yang mengajak saya untuk menarik diri dari situs-situs jejaring sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa tidak sekalian menarik diri dari dunia &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;? Jangankan menarik diri, hari ini saya justru membuat blog baru. Bagi saya, menulis di blog itu berbeda dengan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; status di jejaring sosial. Mulai dari frekuensi tulisan, usaha untuk membuat tulisan yang bermanfaat, sampai batasan jumlah karakter, tidak ada yang bisa menyamakan &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; status bagi diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; dapat tertuang secara utuh. Bukan cuplikan-cuplikan yang panjangnya hanya 140 karakter. &lt;i&gt;Blog&lt;/i&gt; tidak menuntut interaksi dengan siapa pun; kecuali saya bertukar komentar dengan pengunjung &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; saya. Tuntutan untuk mengunjungi &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; penulis lain pun tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; pun bisa menjadi sebuah candu. Tapi waktu dan usaha yang harus diluangkan untuk menulis di &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; akhirnya menghilangkan pengaruh candu itu. Sangat berbeda dengan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; status yang bahkan umum digunakan untuk menuangkan status makan pagi, makan siang, makan malam, dan makan-makan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekan situs-situs jejaring sosial maupun para penggunanya. Paparan -atau mungkin &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt;- saya di atas adalah pandangan pribadi saya terhadap perilaku saya sendiri dalam menggunakan situs-situs jejaring sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2757280276807099890?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2757280276807099890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/selamat-tinggal-jejaring-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2757280276807099890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2757280276807099890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/selamat-tinggal-jejaring-sosial.html' title='Selamat Tinggal Jejaring Sosial'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-4489762032516661775</id><published>2011-02-17T08:22:00.000+07:00</published><updated>2011-07-17T15:47:53.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Istri Bukan Pembantu</title><content type='html'>Sebuah judul yang menarik minat baca saya. Pertama kali saya melihat judul artikel "Istri Bukan Pembantu", saya bergegas membacanya. Artikel tersebut adalah tulisan Ust. Ahmad Sarwat yang membongkar sempitnya persepsi masyarakat terhadap kedudukan istri dalam rumah tangga; tentunya disertai dalil Al-Qur'an, Sunnah, dan Mahzab para ulama. Tulisan lengkapnya dapat dibaca di sini: &lt;a href="http://www.ustsarwat.com/web/foto_berita/istri.pdf"&gt;http://www.ustsarwat.com/web/foto_berita/istri.pdf&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan tersebut, Ust. Ahmad Sarwat menjelaskan betapa mulianya kedudukan istri dalam Islam. Sebegitu mulianya sampai-sampai kewajiban mengurus rumah tangga sebenarnya tidak berada di tangan para istri. Jangankan wajib, sunnah pun tidak. Justru para suami yang wajib mengurus semua urusan rumah tangga. Bila para suami tidak mampu melakukannya, maka mereka wajib menyediakan pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan Ust. Ahmad Sarwat jelas bertolak belakang dengan kondisi saat ini dalam masyarakat (baik di Indonesia maupun di seluruh dunia). Diskriminasi terhadap wanita masih kental. Posisi wanita secara umum dianggap lebih rendah dari pria. Bahkan wanita pun tidak jarang dianggap sebagai sebuah objek ketimbang sebagai seorang manusia yang layak dihormati dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kehidupan rumah tangga, suami dianggap sebagai seseorang yang WAJIB dipatuhi dan dilayani oleh istri. Penting bagi seorang istri untuk bisa memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, dan melayani kebutuhan suami. Aturan suami harus dipatuhi dan pendapat suami harus didengar. Hal yang sama belum tentu berlaku sebaliknya untuk istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali persepsi masyarakat saat ini berbeda dengan paparan Ust. Ahmad Sarwat. Yang jelas tulisan beliau pun sedikit banyak berlawanan dengan persepsi saya mengenai kedudukan istri. Saya sendiri tidak keberatan urusan rumah tangga dikerjakan pembantu, terutama bila istri saya bekerja. Saya pun tidak pernah keberatan bila istri saya bekerja, terutama bila ilmu (dan ijazah) yang dimilikinya dapat memiliki manfaat yang lebih di luar rumah tangga. Hanya saja saya masih berharap istri saya yang akan mengurus rumah dan anak-anak seandainya saya tidak bisa menyediakan pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung sampai saat ini saya berusaha mengalahkan dominasi saya sehingga saya mau membuka hati dan pikiran untuk menerima pendapat-pendapat istri. Dalam mengambil keputusan keluarga, saya selalu menegaskan kepada diri saya bahwa istri itu ibarat penasihat kerajaan. Setiap raja (yang waras) perlu mendengar pendapat dari penasihat kerajaan walau pada akhirnya keputusan ada di tangan raja. Dalam hal ini, istri bukan selir yang cukup mengikuti keputusan raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah saya menemukan tulisan "Istri Bukan Pembantu" dari Ust. Ahmad Sarwat. Paling tidak saya menyadari masih banyak hal lain yang perlu saya pelajari dalam rangka memuliakan istri. Semoga saya tidak terjebak dalam persepsi kolot yang mengatakan bahwa istri adalah pembantu; sadar atau tidak sadar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-4489762032516661775?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/4489762032516661775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/istri-bukan-pembantu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4489762032516661775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4489762032516661775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/istri-bukan-pembantu.html' title='Istri Bukan Pembantu'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7618009234475457756</id><published>2011-02-07T16:51:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:20:53.255+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Mahram, Sebuah Rangkuman</title><content type='html'>Hari ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti ceramah &lt;a href="http://www.ustsarwat.com/web/home"&gt;Ust. Ahmad Sarwat&lt;/a&gt; di masjid kantor. Topik yang dibahas kali ini adalah tentang mahram. Topik yang terdengar membosankan, tapi entah kenapa saya memilih untuk tetap berada di masjid dan mengikuti ceramah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya hanya akan memaparkan butir-butir dari ceramah yang saya pahami dan saya ingat. Hal ini tentunya jauh dari tulisan yang komprehensif, tapi saya rasa butir-butir di bawah ini tidak sulit dipahami atau sampai menimbulkan perbedaan pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang saya rasa perlu diingat dari ceramah Ust. Ahmad Sarwat tentang mahram ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mahram &lt;i&gt;tidak sama dengan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Muhrim. Ini adalah kesalahpahaman yang umum di Indonesia. Kedua kata sering dipakai secara bergantian padahal maknanya jauh berbeda. Mahram itu maksudnya wanita yang diharamkan untuk kita (sebagai pria) nikahi. Sementara Muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram (mengenakan pakaian ihram).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mahram dapat terjadi karena nasab (hubungan keluarga/darah), pernikahan, dan penyusuan. Yang terakhir sudah jarang ditemukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mahram karena nasab adalah sebagai berikut:&lt;/li&gt;&lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;Ibu kandung, ibu dari ibu kandung, dan seterusnya ke atas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak perempuan kandung, anak perempuan dari anak kandung, dan seterusnya ke bawah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saudara perempuan satu ayah-satu ibu, saudara perempuan satu ayah, atau saudara perempuan satu ibu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saudara perempuan ayah (baik lebih tua maupun lebih muda) dan saudara perempuan ibu (baik lebih tua maupun lebih muda).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak perempuan dari saudara laki-laki atau perempuan (baik satu ayah-satu ibu, satu ayah, atau satu ibu).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Mahram karena pernikahan adalah sebagai berikut:&lt;/li&gt;&lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;Ibu mertua menjadi mahram saat kita menikah. Ibu mertua tetap menjadi mahram walaupun kita sudah berpisah (berpisah karena cerai/mati) dengan istri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak perempuan dari istri, misalnya saat kita menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak perempuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Istri dari anak, yaitu menantu. Menantu tetap menjadi mahram walaupun menantu tersebut sudah berpisah dengan anak kita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Mahram karena penyusuan adalah sebagai berikut:&lt;/li&gt;&lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;Perempuan yang menyusui kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak perempuan dari perempuan yang menyusui kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perempuan-perempuan yang disusui oleh perempuan yang sama dengan yang menyusui kita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;Mahram yang dijelaskan di atas adalah mahram yang sifatnya abadi (selamanya). Ada juga mahram yang sifatnya sementara. Contohnya adalah saudara perempuan ipar. Kita (sebagai pria) diharamkan menikahi kakak atau adik dari istri kita kecuali kita sudah berpisah dengan istri kita itu. Sayangnya Ust. Ahmad Sarwat tidak memiliki cukup waktu untuk membahas mahram yang sifatnya sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria diperbolehkan melihat &lt;i&gt;aurat kecil&lt;/i&gt;* dari mahram yang bersifat abadi di atas.&amp;nbsp;Seorang pria diperbolehkan berduaan dan bepergian (tanpa kehadiran orang ketiga) bersama mahram yang bersifat abadi di atas. Seorang pria diperbolehkan bersentuhan kulit dengan mahram yang bersifat abadi di atas dan sentuhan kulit tersebut pun tidak membatalkan wudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal yang diperbolehkan di atas berlaku sebaliknya dengan mahram sementara; apalagi dengan yang bukan mahram. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dengan perempuan yang masuk kategori mahram sementara. Contoh mahram sementara itu antara lain saudara perempuan ipar. Saudara perempuan ipar masuk mahram sementara karena memang haram untuk kita nikahi kecuali kita sudah berpisah (cerai/mati) dengan istri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan bahwa Ust. Ahmad Sarwat tidak sempat menjelaskan lebih lanjut mengenai mahram sementara ini. Waktu yang diberikan untuk beliau memang terbatas dengan mempertimbangkan waktu istirahat pegawai di kantor. Untung bagi saya sebab materi yang perlu saya ingat untuk dituangkan dalam tulisan ini pun menjadi tidak terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;* Penjelasan mengenai aurat kecil tidak saya sertakan karena agak sulit untuk menuangkan penjelasan Ust. Ahmad Sarwat mengenai aurat kecil dalam tulisan ini. Maaf sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7618009234475457756?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7618009234475457756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/mahram-sebuah-rangkuman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7618009234475457756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7618009234475457756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/mahram-sebuah-rangkuman.html' title='Mahram, Sebuah Rangkuman'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-4658818292052051304</id><published>2011-02-04T14:23:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:24:17.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Emosi'/><title type='text'>Menyiasati Marah Dalam Keluarga (4)</title><content type='html'>Manakala seorang anak kecil merasa kecewa tanpa Anda memarahinya dengan kasar, menurut Dr. Victor Pashi, Anda dapat menekan amarah tersebut dengan memandikannya menggunakan air dingin atau menyelimutinya dengan kain lembab atau basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Jaudah Muhammad Awwad, dalam Mendidik Anak Secara Islam, mengungkapkan, pada anak, faktor pemicu kemarahan lebih berkisar pada pembatasan gerak, beban yang terlalu berat dan di luar kemampuan anak. Misalnya menjauhkan anak dari sesuatu yang disukainya, atau memaksa anak untuk mengikuti tradisi atau sistem yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Jaudah menyarankan beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mengatasi kemarahan yang timbul pada anak-anak, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tidak membebani anak dengan tugas yang melebihi kemampuannya. Kalaupun tugas itu banyak atau pekerjaan yang di luar kemampuannya itu harus diberikan, kita harus memberikannya secara bertahap dan berupaya agar anak menerimanya dengan senang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ciptakan ketenangan anak karena emosi yang dipancarkan anggota keluarga, terutama ayah dan ibu, akan terpancar juga dalam jiwa anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hindarkan kekerasan dan pukulan dalam mengatasi kemarahan anak karena itu akan membentuk anak menjadi keras dan cenderung bermusuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan cara-cara persuasif, lembut, kasih sayang, dan pemberian hadiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika anak kita dalam keadaan marah, bimbinglah tangannya menuju tempat wudu dan ajaklah dia berwudu atau mencuci mukanya. Jika dia marah sambil berdiri, bimbinglah agar dia mau duduk.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sementara itu upaya pengendalian marah dalam hubungan suami-istri, sebenarnya lebih ditekankan pada bagaimana mengendalikan ego masing-masing. Kunci utamanya adalah berusaha dengan membangun iklim keterbukaan dan kasih sayang di antara keduanya. Begitu pula halnya dengan anggota keluarga lainnya, seperti dengan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menyiasatinya, ketika salah satu pihak (terpaksa) marah, maka hendaknya pihak lainnya harus mampu untuk mengekang keinginan membalas kemarahannya. Sikap kita lebih baik diam. Karena diam ketika suasana marah merupakan upaya yang efektif dalam mengendalikan marah agar keburukannya tidak menyebar ke lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketika seseorang tidak dapat berpikir sehat akibat marah, maka sebaiknya orang tersebut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan disesalinya kemudian. Sebagai alat untuk menekan marah dan menghindarkan akibat-akibatnya, Imam Ali as telah memerintahkan agar kita bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Dicuplik apa adanya dari sebuah email.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-4658818292052051304?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/4658818292052051304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4658818292052051304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4658818292052051304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-4.html' title='Menyiasati Marah Dalam Keluarga (4)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8395362769199932106</id><published>2011-02-04T14:15:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:24:17.426+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Emosi'/><title type='text'>Menyiasati Marah Dalam Keluarga (3)</title><content type='html'>Berkait dengan pengendalian marah, secara umum seperti diungkap Drs. Karman ada empat kiatnya, yaitu: Pertama, bila Anda sedang marah maka hendaklah membaca "ta'awwudz" (memohon perlindungan) kepada Allah SWT, sebab pada hakikatnya perasaan marah yang tidak terkendali adalah dorongan setan. Nabi saw. bersabda, "Apabila salah seorang di antaramu marah maka katakanlah: 'Aku berlindung kepada Allah', maka marahnya akan menjadi reda". (HR Abi Dunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bila Anda sedang marah maka berusahalah untuk diam atau tidak banyak bicara, sebagaimana sabda Nabi saw., "Apabila salah seorang di antara kamu marah maka diamlah." (HR Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bila Anda sedang marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, bila duduk masih marah maka berbaringlah. Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi saw., "Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah." (HR Asy-Syaikhany).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, bila upaya ta'awwudz, diam, duduk, dan berbaring tidak mampu mengendalikan amarah Anda, maka upaya terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan cara berwudu atau mandi. Sebagaimana sabda Nabi saw., "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudulah atau mandilah." (HR Ibnu Asakir, Mauquf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Dicuplik apa adanya dari sebuah email.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8395362769199932106?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8395362769199932106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8395362769199932106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8395362769199932106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-3.html' title='Menyiasati Marah Dalam Keluarga (3)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2133586783820806969</id><published>2011-02-04T13:56:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:24:17.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Emosi'/><title type='text'>Menyiasati Marah Dalam Keluarga (2)</title><content type='html'>Ada beberapa alasan mengapa seseorang dianggap penting untuk mengendalikan marah dalam kehidupan kesehariannya. Pertama, marah menyebabkan tercela. Timbulnya sikap marah, biasanya akan melahirkan suatu perasaan menyesal setelah marahnya berhenti. Dr. Mardin menguraikan, seseorang yang sedang marah, apa pun alasannya akan menyadari ketidakberartian hal itu segera setelah ia tenang, dan dalam kebanyakan kasus ia akan merasa harus meminta maaf kepada mereka yang telah ia hina. Untuk itu, tepatlah apa yang dikatakan Imam Ja'far Ash-Shadiq as, yaitu "Hindarilah amarah, karena hal itu akan menyebabkan kamu tercela."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, marah dapat membinasakan hati. Marah itu tidak lain merupakan salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan dapat merusak diri secara keseluruhan. Imam Ja'far Ash-Shadiq as berkata, "Amarah membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, marah dapat mengubah fungsi organ tubuh. Berkait dengan ini, Dr. Mann menyebutkan berdasarkan penyelidikan ilmiah mengenai pengaruh fisiologis akibat kecemasan (baca: marah-Pen) telah mengungkapkan adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, marah akan "mempercepat" kematian. Amarah yang terjadi pada seseorang akan memengaruhi atas kualitas kesehatannya. Menurut para ahli kesehatan, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak jika hal itu mencapai tingkat kehebatan tertentu. Imam Ali as pernah berkata, "Barangsiapa yang tidak dapat menahan amarahnya, maka akan mempercepat kematian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Dicuplik apa adanya dari sebuah email.&lt;br /&gt;Mohon maaf karena saya tidak melakukan cross-check terhadap sumber-sumber dalam tulisan di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2133586783820806969?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2133586783820806969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2133586783820806969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2133586783820806969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-2.html' title='Menyiasati Marah Dalam Keluarga (2)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5396118957147769433</id><published>2011-02-04T10:50:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:24:17.419+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Emosi'/><title type='text'>Menyiasati Marah Dalam Keluarga (1)</title><content type='html'>Kehidupan keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak itu sangat berpeluang untuk memancing rasa marah. Penyebabnya, bisa macam-macam, mulai dari yang sepele sampai yang serius. Sebenarnya marah adalah reaksi emosional yang sangat wajar, seperti juga perasaan takut, sedih dan rasa bersalah. Namun, biasanya kemarahan itu memunculkan dampak langsung yang lebih merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heman Elia, seorang psikolog, menuntut agar anak tidak marah bukan saja tidak realistis, tapi juga kurang sehat. Anak yang kurang mampu memperlihatkan rasa marah dapat menderita cacat serius dalam hubungan sosialnya kelak. Ia mungkin akan tampak seolah tidak memiliki daya tahan atau kekuatan untuk membela diri dalam menghadapi tekanan sosial. Akibatnya, ia mudah terpengaruh dan mudah menjadi objek manipulasi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita harus bersikap bijaksana dalam menyikapi kemarahan seorang anak. Caranya yaitu dengan membantu anak untuk menyatakan kemarahan secara wajar dan proporsional. Heman Elia, menyarankan dalam mengajar anak mengungkapkan kemarahannya haruslah dimulai sedini mungkin. Terutama sejak anak mulai dapat berkata-kata. Kuncinya adalah agar anak menyatakan kemarahan dalam bentuk verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, pada saat marah menguasai seseorang, maka akan terjadi ketidakseimbangan pikiran manusia berupa hilangnya kemampuan untuk berpikir sehat. Atas alasan inilah, barangkali kenapa Sayyid Mujtaba M.L. mengungkapkan kejahatan merupakan perwujudan dari kepribadian yang tidak seimbang. Ketika seorang individu kehilangan pengawasan atas akalnya, maka ia juga akan kehilangan kendali atas kehendak dan dirinya sendiri. Manusia tersebut tidak hanya lepas dari kendali akal, tetapi juga kehilangan perannya sebagai unsur yang produktif dalam kehidupan dan pada gilirannya berubah menjadi makhluk sosial yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Dicuplik apa adanya dari sebuah email.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5396118957147769433?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5396118957147769433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5396118957147769433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5396118957147769433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-1.html' title='Menyiasati Marah Dalam Keluarga (1)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3536129944684153925</id><published>2011-01-27T15:17:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:24:57.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Menjadi Dewasa dengan Berkeluarga</title><content type='html'>Untuk mendapatkan buah yang baik dibutuhkan pohon yang baik pula. Ini adalah salah satu hal yang ingin saya tegaskan lewat tulisan saya sebelumnya, &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2011/01/buah-dan-pohon.html"&gt;Buah dan Pohon&lt;/a&gt;. Kalau kita menginginkan anak kita untuk tumbuh menjadi orang yang baik, maka kita pun perlu mengajarkannya hal-hal yang baik -dengan contoh. Contoh yang paling baik tentunya datang dari kita sendiri sebagai orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses yang kita lalui untuk berubah menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita adalah proses yang membantu kita menjadi (lebih) dewasa. Saat kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tegar, mandiri, dan tidak egois, maka kita pun akan belajar untuk menjadi tegar, mandiri, dan tidak egois. Saat kita ingin anak-anak kita tidak mudah marah dan menangis, maka kita pun akan belajar untuk mengendalikan emosi kita. Untuk setiap hal baik yang kita harapkan dari anak-anak kita, kita pun berubah menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita. Perubahan yang baik inilah yang menjadikan kita semakin dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kedewasaan dengan berkeluarga ini sangat sederhana. Konsep yang sama pernah saya tuangkan lewat tulisan &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2009/04/maturity-through-marriage.html"&gt;Maturity Through Marriage&lt;/a&gt;. Pada tulisan tersebut, saya menuangkan ide mengenai kedewasaan lewat pernikahan. Prinsipnya tidak jauh berbeda dengan yang ingin saya kemukakan saat ini, yaitu mengenai perubahan diri demi kebaikan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah itu demi menjaga hubungan yang baik dengan istri atau untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, setiap perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik adalah bagian dari proses menuju kedewasaan yang lebih tinggi. Jadi dengan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik itu secara otomatis membuat kita menjadi lebih dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja ada satu perbedaan mendasar antara berubah demi istri dan berubah demi anak-anak. Istri kita bisa memahami sikap dan perilaku "buruk" kita. Bahkan ada kalanya justru istri kita yang berubah demi kita. Anak-anak kita tentunya tidak memiliki tingkat pemahaman yang sama. Mereka (terutama di usia belia) hanya tahu satu hal, yaitu meniru. Terlepas dari buruk atau tidaknya sikap dan perilaku kita, anak-anak kita akan tetap menirunya. Perbedaan yang mendasar ini yang membuat perubahan orang yang memiliki anak itu menjadi lebih sulit ketimbang orang yang belum memiliki anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang paling mudah mungkin amarah. Bila kita memiliki sifat pemarah, rumah tangga kita akan sering dihiasi emosi. Istri kita mungkin bisa menahan diri -memahami sifat kita yang pemarah- dan tidak ikut marah-marah. Akan tetapi, anak-anak kita kemungkinan besar akan tumbuh dengan sifat pemarah yang ditiru mereka dari diri kita. Sekuat apa pun usaha kita untuk menjelaskan bahwa sifat pemarah itu buruk, anak-anak kita kemungkinan besar akan tumbuh menjadi orang yang pemarah. Hal ini terjadi karena pembentukan karakter lewat contoh itu lebih mengena ketimbang lewat kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan contoh di atas, ada kondisi lucu yang kadang terjadi. Saat seorang ayah memarahi anaknya karena anaknya suka marah-marah. Kondisi ini tentunya lucu karena kata-kata ayah tersebut berbanding terbalik dengan perbuatannya. Anak justru akan kebingungan bila ditegur tentang buruknya marah-marah dengan cara marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak untuk menjadi pribadi yang baik sebaiknya dilakukan dengan menjadi teladan yang baik untuk anak. Hindari memperlihatkan sikap dan perilaku buruk di depan anak. Tentunya lebih baik lagi bila sikap dan perilaku buruk itu dapat kita redam sepenuhnya, baik di depan maupun di belakang anak kita. Dengan begitu, kita pun menjadi lebih dewasa seiring proses mendidik anak-anak kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3536129944684153925?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3536129944684153925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/01/menjadi-dewasa-dengan-berkeluarga.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3536129944684153925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3536129944684153925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/01/menjadi-dewasa-dengan-berkeluarga.html' title='Menjadi Dewasa dengan Berkeluarga'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2017083595121771448</id><published>2011-01-11T17:00:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Buah dan Pohon</title><content type='html'>Saya yakin semua orang tahu pepatah, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Pepatah ini menggambarkan tingkat kemiripan karakter dan perilaku anak-anak terhadap karakter dan perilaku orang tuanya. Pepatah ini tidak sepenuhnya benar karena perkembangan karakter anak-anak itu dipengaruhi oleh banyak faktor seperti anggota keluarga lain selain orang tuanya, pengasuh anak, teman-teman, atau media seperti televisi. Seiring waktu, anak-anak akan membentuk kepribadian mereka sendiri yang mungkin saja jauh berbeda dengan kepribadian orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, saya yakin orang tua memiliki pengaruh yang kuat terhadap anak-anak mereka; terutama saat anak-anak mereka masih belia. Terlepas dari faktor genetika, kecenderungan seorang anak untuk meniru berperan besar di sini. Setiap anak tentu akan meniru perilaku orang-orang yang dekat dengan dia. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa setiap anak akan -sedikit atau banyak- meniru perilaku orang tuanya. Semakin dekat seorang anak dengan orang tuanya, semakin banyak hal yang mungkin ditiru dari orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil contoh pengalaman saya sendiri. Saat saya membiasakan melafalkan doa sebelum makan, anak saya pun menirunya. Kedua anak saya (umur 2 tahun) sudah hafal doa sebelum makan, walaupun pengucapannya masih super cadel. Anak-anak saya pun kerap kali meniru gerakan shalat saya, walaupun seringkali mereka sudah duduk tahiyat pada raka'at pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil pun mereka tiru. Posisi duduk, gerakan kaki, gerakan tangan, pola bercanda, dan berbagai kebiasaan lain dapat mereka tiru dari saya. Uniknya adalah kadang saya baru menyadari mereka meniru saya saat mereka melakukan gerakan yang tidak biasa mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disayangkan adalah kebiasaan-kebiasaan buruk pun tidak luput dari perhatian mereka. Untuk kebiasaan buruk saya tidak akan saya contohkan di sini. Yang jelas saya harus menjaga perkataan dan perilaku saya agar anak-anak saya tidak mewarisi kebiasaan-kebiasaan jelek saya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menghilangkan kebiasaan itu lebih sulit ketimbang mencegahnya terbentuk. Dapat dipastikan bahwa membantu anak mengembangkan karakter yang baik itu perlu dilakukan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan eratnya relasi antara perilaku anak dan perilaku orang tua ini, setiap orang tua perlu berkaca saat melihat anak mereka "bertingkah". Bila anak kita menjadi pemarah, penyebabnya mungkin karena kita juga seringkali memarahi dia. Akan lebih baik bila teguran kepada anak dilakukan dengan pendekatan yang lebih halus. Bila anak kita sering mengumpat, penyebabnya mungkin karena kita -baik kita sadari atau tidak- sering mengumpat di depan anak kita. Akan lebih baik bila kita membiasakan mengucapkan kata-kata yang baik -sepertinya ini akan menjadi pekerjaan berat untuk para orang tua yang latah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak kita ringan tangan (suka memukul), penyebabnya mungkin karena kontrol diri kita saat sedang emosi sangat rendah sehingga kita pun suka memukul; bahkan mungkin memukul anak kita itu. Akan lebih baik kalau kebiasaan memukul itu disalurkan ke tempat lain kalau memang tidak bisa dihilangkan. Dan masih banyak kebiasaan buruk lainnya pada anak-anak yang penyebabnya mungkin karena mereka meniru kita. Pendekatan yang paling baik untuk menghilangkan kebiasaan yang tidak baik seperti ini tentunya dengan menjadi contoh yang baik pula untuk anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita semua dapat menjadi orang tua yang baik. Aamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2017083595121771448?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2017083595121771448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/01/buah-dan-pohon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2017083595121771448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2017083595121771448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2011/01/buah-dan-pohon.html' title='Buah dan Pohon'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-4912068752937022340</id><published>2010-12-21T11:45:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:25:19.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Mengenali Masalah Anak dengan ROCCIPI</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tentang Hukum dan Kebijakan Publik. Salah satu topik yang dibahas di dalam pelatihan itu adalah metode ROCCIPI. Metode ROCCIPI ini adalah sebuah metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Jangan sampai sebuah peraturan baru diterbitkan, tapi tidak menyelesaikan masalah sosial yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak akan membahas mengenai hukum dan kebijakan publik atau penerapan ROCCIPI dalam mengenali masalah sosial tersebut. Tulisan ini justru ingin memperlihatkan bagaimana metode ROCCIPI itu dapat diterapkan dalam mengenali -dan pada akhirnya mengatasi- masalah dalam keluarga; terutama yang terkait dengan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ROCCIPI adalah singkatan dari &lt;i&gt;Rule&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Opportunity&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Capacity&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Communication&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Interest&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Process&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Ideology&lt;/i&gt;. Metode ini mengidentifikasi sumber masalah dari 7 (tujuh) sudut pandang, yaitu peraturan, kesempatan, kapasitas, komunikasi, minat, proses, dan ideologi. Masing-masing sudut pandang itu diteliti lebih jauh untuk menemukan sumber masalah sosial yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang di atas pun dapat diterapkan dalam mengenali masalah dalam keluarga. Misalkan anak kita mulai merokok. Apakah ini sebuah masalah dalam keluarga? Kalau memang iya, coba kita analisa sumber masalahnya dengan metode ROCCIPI. Contoh pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah aturan dalam keluarga memperbolehkan anak kita merokok?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah kondisi yang menyebabkan anak kita mendapatkan kesempatan untuk merokok?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah anak kita memang memiliki kapasitas untuk merokok?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah kita (orang tua) kurang mengkomunikasikan bahaya merokok?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengapa anak kita berminat merokok?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana bentuk pemahaman anak kita tentang rokok?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu dapat diperluas atau diperdalam tergantung dari masalah yang dihadapi dan kondisi saat masalah itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya garis bawahi sebenarnya bukan pada 7 (tujuh) sudut pandang tersebut. Yang lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua adalah bagaimana caranya melihat sebuah masalah secara komprehensif. Orang tua pada umumnya melihat sebuah masalah terjadi karena kurangnya peraturan. Padahal pada kenyataannya, peraturan itu hanya menjadi salah satu sumber masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja faktor kuat masalah merokok di atas  adalah kesempatan. Dengan begitu yang perlu dilakukan adalah membantu anak kita mengurangi interaksi dengan lingkungan perokok. Mungkin saja faktor lain adalah komunikasi atau kapasitas. Anak kita mungkin belum paham mengenai bahaya merokok atau kita kurang mengkomunikasikan bahaya merokok kepada anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam memecahkan masalah keluarga. Orang tua sebaiknya tidak terpaku pada peraturan dan peraturan saja. Metode ROCCIPI ini menegaskan bahwa sumber masalah itu tidak hanya terkait dengan peraturan dan masalah pun dapat diselesaikan tanpa harus membuat peraturan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan bahwa dengan sekedar menerapkan peraturan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan sekedar membuat peraturan, kita gagal melihat sumber masalah dan pada akhirnya gagal menyelesaikan masalah dari sumbernya. Dalam kondisi memaksakan peraturan seperti itu, pelanggaran terhadap peraturan kemungkinan besar akan terjadi karena sumber masalahnya masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang tua yang &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/tegas-adil-dan-konsisten.html"&gt;tegas, adil, dan konsisten&lt;/a&gt; bukan berarti menjadi orang tua yang terus-menerus membuat dan menerapkan aturan untuk mengarahkan dan mengatasi masalah dalam keluarganya. Seperti halnya metode ROCCIPI di atas, kita perlu berusaha menemukan sumber masalah dalam keluarga dan mencoba menyelesaikan masalah langsung dari sumbernya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-4912068752937022340?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/4912068752937022340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/mengenali-masalah-anak-dengan-roccipi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4912068752937022340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4912068752937022340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/mengenali-masalah-anak-dengan-roccipi.html' title='Mengenali Masalah Anak dengan ROCCIPI'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8822054920019236303</id><published>2010-12-15T15:00:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.759+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Tegas, Adil, dan Konsisten</title><content type='html'>Saya bukan bermaksud untuk kampanye atau bermaksud membicarakan tentang pemilihan umum. Tiga kata di atas memang dapat dijadikan kriteria pemimpin yang baik, tapi dalam tulisan ini saya bermaksud untuk berbagi tentang pola mendidik anak; tepatnya anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tegas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tegas bukan berarti keras. Ini adalah salah satu kesalahan persepsi yang umum. Saya mendefinisikan tegas sebagai sikap kuat dalam mempertahankan pendapat, tapi pada saat yang bersamaan juga berpikiran terbuka. Menjadi ayah yang tegas berarti menyampaikan keinginan kita dan mengatur perilaku anak seraya mendengarkan apa yang ada dalam pikiran anak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita hanya mendengarkan apa yang ada dalam pikiran kita sendiri, ini berarti kita sedang menjadi ayah yang keras. Umumnya kondisi ini akan menjadi lebih parah bila kita mudah marah. Yang terjadi saat anak kita menolak keinginan kita adalah bentakan atau bahkan pukulan terhadap anak. Kondisi inilah yang membuat hubungan ayah dan anak memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi bila kita terlalu sering mendengarkan kemauan anak, ini sama saja dengan membesarkan anak untuk menjadi pribadi yang manja. Anak kita akan memiliki semakin banyak kemauan dan akan semakin sulit mendengarkan kata-kata kita sebagai ayahnya. Kondisi ini seringkali berujung pada bentakan atau bahkan pukulan seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah yang keras atau anak yang manja bukanlah hasil yang kita harapkan. Untuk itulah kita perlu mengedepankan sikap tegas karena ketegasan itu adalah jalan tengah untuk menghasilkan ayah yang pengertian dan anak yang penurut. Dua hal itu adalah bentuk nyata keberhasilan mendidik anak yang diharapkan baik oleh si Ayah maupun oleh si Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Adil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang ayah yang tegas itu harus bersikap adil. Sikap adil ini memiliki korelasi yang kuat dengan sikap tegas, karena tidak mungkin seorang ayah menemukan jalan tengah saat berseberangan dengan anaknya tanpa sikap adil. Hal ini disebabkan karena anak kita membutuhkan aturan yang adil. Tanpa aturan yang adil ini, kemungkinan besar anak kita akan berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sebab ada akibat, setiap pilihan ada konsekuensi, setiap aksi ada reaksi. Aturan main tersebut perlu kita kedepankan, baik terhadap anak kita atau terhadap diri kita. Itu artinya saat kita menginginkan sesuatu, kita perlu merelakan sesuatu. Sebaliknya saat anak kita menginginkan sesuatu, anak kita pun perlu merelakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keinginan anak datang bertubi-tubi, kita atasi dengan pilihan. Anak-anak saya sering meminta lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Pada saat seperti ini, saya memberikan pilihan. Umumnya saya meminta anak-anak saya untuk memilih setengah dari apa yang mereka mau atau paling tidak saya meminta mereka memilih satu dari apa yang mereka mau. Dalam hal ini, selain berusaha untuk bersikap tegas dan adil, saya juga ingin mengajarkan anak saya untuk tidak serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keinginan kita berseberangan dengan keinginan anak, kita atasi juga dengan memberikan pilihan. Contohnya saat kita ingin istirahat dan anak kita minta digendong. Dalam kondisi seperti ini saya kerap membuat pilihan. Dalam contoh istirahat dan gendong tadi, saya meminta anak saya untuk memilih dipangku atau tidak digendong sama sekali. Kemungkinannya anak saya benar-benar memilih adalah 50-50. Kadang anak saya setuju untuk dipangku, kadang anak saya &lt;i&gt;kekeuh&lt;/i&gt; minta digendong. Biasanya saya memberi bonus di pilihan pangkuan itu, misalnya dengan menyuapi makanan atau sambil bermain. Dengan begitu kemungkinan anak-anak saya bersedia dipangku menjadi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Konsisten&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bersikap tegas dan adil memang tidak mudah. Dua contoh kecil di atas pun tidak bermaksud untuk memberi kesan mudah dalam mengatur dan mendidik anak. Meminta anak saya untuk memilih 2 dari 4 atau 1 dari 2 pilihan mereka bukanlah hal yang mudah. Meminta anak saya untuk memahami kondisi kita sehingga mau menerima tawaran pilihan dari saya juga bukan hal yang mudah. Akan tetapi, konsistensi pada sikap tegas dan adil di atas sangat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat sikap tegas dan adil itu membuahkan hasil dalam proses mendidik anak, kita membutuhkan sikap konsisten. Saat kita sudah memberikan pilihan, usahakan untuk tidak merubahnya. Hindari mengingkari janji memberikan sesuatu kepada anak. Hindari membuat anak kecewa karena dia tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Hindari menarik kembali hukuman yang seharusnya diterima oleh anak. Hindari membuat anak &lt;i&gt;ngelunjak&lt;/i&gt; karena menganggap ancaman hukuman dari kita hanya gertak sambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tegas, adil, dan konsisten adalah tiga sikap yang saya tekankan pada diri saya saat mendidik kedua anak laki-laki saya.[1] Hal ini disebabkan karena anak laki-laki memiliki kecenderungan untuk patuh kepada aturan yang dibuat oleh orang yang dihormati mereka. Anak laki-laki membutuhkan aturan yang jelas untuk mengarahkan hidup mereka dan aturan itu harus merupakan aturan yang adil. Oleh karena itu saya merasa perlu bersikap tegas, adil, dan konsisten dalam membuat aturan main dalam keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari menuruti semua keinginan anak dan hindari pula memaksakan semua keinginan kita sebagai ayah. Dengarkan apa keinginan anak dan -bila memungkinkan- sampaikan pula keinginan kita. Dengan begitu kita sudah membuka jalan untuk menjadi seorang ayah yang tegas dengan aturan yang adil. Setelah itu kita pertahankan langkah kita menuju sikap tegas dan adil itu dengan bersikap konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini. Semoga dapat membantu pembaca, terutama diri saya sendiri, dalam mendidik anak laki-laki mereka. Saat tulisan ini dibuat, kedua anak laki-laki hampir mencapai usia 2 tahun 6 bulan. Saya masih memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mempelajari dan menerapkan pola pendidikan anak yang baik; insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;[1] Perlu diperhatikan bahwa cara mendidik anak perempuan sebaiknya dibedakan  dengan cara mendidik anak laki-laki, tapi saya tidak akan membahasnya  dalam tulisan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8822054920019236303?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8822054920019236303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/tegas-adil-dan-konsisten.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8822054920019236303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8822054920019236303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/tegas-adil-dan-konsisten.html' title='Tegas, Adil, dan Konsisten'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-4216632230686181921</id><published>2010-12-07T22:09:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:25:34.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Tahun Baru, Semangat Baru</title><content type='html'>Momentum. Saya yakin semua orang pernah menggunakan kata ini. Setiap orang memiliki waktu dan kesempatan masing-masing untuk dijadikan tonggak atau penanda untuk sebuah perubahan yang umumnya berjalan ke arah yang lebih baik. Ibarat tim nasional sepakbola Indonesia yang ingin menjadikan AFF Suzuki Cup 2010 sebagai momentum untuk membuktikan bahwa mereka dapat dibanggakan oleh setiap warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Muharram 1432 H ini pun dapat dijadikan momentum untuk perbaikan karakter, semangat, dan orientasi dalam hidup kita masing-masing. Kita dapat melihat satu tahun -atau bertahun-tahun- ke belakang untuk menemukan kelemahan-kelemahan yang dapat kita perbaiki dan kekuatan-kekuatan yang dapat kita asah lebih lanjut. Dalam waktu yang sama, kita dapat melihat kesempatan-kesempatan yang belum sempat kita jamah dan peluang-peluang lain yang dapat kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah itu dalam peran kita sebagai suami, ayah, anak, saudara, atasan, bawahan, rekan kerja, pengusaha, pemilik saham, atau berbagai peran lainnya, selalu ada waktu untuk introspeksi demi masa depan yang lebih baik. Bahkan dalam masing-masing peran itu pun masih banyak parameter lain yang dapat kita perbaiki atau kita tingkatkan kualitasnya. Hal ini khususnya berlaku untuk diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bermaksud mengurangi kebiasaan saya untuk membaca manga. Saya benar-benar harus melakukan kontrol yang kuat untuk kebiasaan ini karena metode &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/kendali-kosong-zero-control.html"&gt;Kendali Kosong&lt;/a&gt; tidak dapat saya terapkan. Untuk seri-seri yang panjang, kebiasaan ini bisa menghabiskan waktu yang signifikan. Sementara saya sendiri merasa waktu untuk membaca manga itu dapat saya manfaatkan untuk membaca buku yang lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang ingin saya lakukan adalah mempelajari bahasa Arab. Bukan karena saya akan bekerja di daerah yang menggunakan bahasa Arab, tapi karena saya merasa mempelajari bahasa Arab akan membuat saya lebih menikmati Al Qur'an. Saya kerap merasa bahwa mengerti apa yang tersurat -atau tersirat- dalam Al Qur'an akan menjadi nilai tambah yang signifikan dalam menikmati lantunan ayat-ayat Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada hal lain yang ingin saya capai, tapi saya tidak ingin tulisan ini menjadi terlalu panjang. Dua contoh di atas saya paparkan dengan maksud untuk menegaskan bahwa "Semangat Baru" yang tercantum dalam judul tulisan ini memang merupakan refleksi dari harapan saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang pasti adalah perubahan dalam perilaku &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;. Seperti yang pernah saya tulis di &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2009/12/tutup-tahun-blogging.html"&gt;Tutup Tahun Blogging&lt;/a&gt; pada akhir tahun lalu, blogging merupakan alternatif yang sehat untuk menyalurkan waktu luang saya. Namun akhir-akhir ini saya merasakan aktifitas blogging saya semakin tidak terkontrol dan tanpa arahan yang jelas. Niat saya untuk saat ini adalah lebih fokus pada beberapa blog saja, terutama asyafrudin.blogspot.com dan asyafrudin.posterous.com, karena saya merasa kedua blog itu yang paling merepresentasikan diri saya. Dengan "spesialisasi" seperti ini, seharusnya nilai tambah kedua blog itu dapat meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hal lain yang ingin saya sampaikan terkait dengan semangat baru ini, tapi saya yakin hal itu akan membuat tulisan ini bertele-tele. Tulisan ini ingin saya buat seringkas mungkin dengan maksud berbagi semangat baru di tahun baru Hijriyyah kali ini. Semoga kita semua senantiasa menjadi orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang hari esoknya lebih baik dari hari ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-4216632230686181921?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/4216632230686181921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/tahun-baru-semangat-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4216632230686181921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/4216632230686181921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/tahun-baru-semangat-baru.html' title='Tahun Baru, Semangat Baru'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7794050026941279569</id><published>2010-12-05T11:49:00.000+07:00</published><updated>2011-07-17T15:43:09.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Kendali Kosong (Zero Control)</title><content type='html'>&lt;div style="border: 1px solid black; float: right; font-size: 1.5em; font-style: italic; padding: 2px; width: 150px;"&gt;The best form of control is not having to control anything.&lt;/div&gt;Bentuk pengendalian yang terbaik adalah dengan tidak mengendalikan apa pun. Dengan tidak mengendalikan apa pun, pengendalian yang kita lakukan dipastikan akan berjalan sempurna tanpa ada kegagalan sedikit pun. Kita tidak akan kesulitan mengendalikan candu bila kita tidak kecanduan. Kita tidak akan kesulitan mengendalikan kebiasaan kita bila kita tidak memiliki kebiasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengendalian seperti itu (untuk selanjutnya kita sebut Kendali Kosong) memang bukan hal yang berlaku untuk banyak kondisi karena memiliki kecenderungan pasif atau bahkan negatif. Kalau kita berniat untuk tidak mengendalikan apa pun, itu sama saja dengan mengatakan kita berniat untuk tidak melakukan apa pun dalam hidup kita. Hal ini sama saja dengan sikap pemalas atau bahkan sama saja dengan tidak memiliki kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kondisi di mana metode Kendali Kosong ini saya terapkan adalah dalam berinteraksi dengan situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter memungkinkan kita untuk mendekatkan yang jauh. Kita bisa berkomunikasi dengan semua teman kita walaupun jarak kita dengan teman-teman kita terpisah jauh. Komunikasi jarak jauh itu bisa kita lakukan dengan mudah, murah, dan -dalam beberapa kasus tertentu- menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya akibat dari mendekatkan yang jauh itu, kita -secara sadar atau tidak sadar- dapat menjauhkan yang dekat. Tanpa kita sadari, kita bisa jadi sibuk dengan situs jejaring sosial itu di saat kita sedang berkumpul dengan keluarga kita. Pada akhirnya dunia maya menjadi lebih nyata ketimbang dunia nyata itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bentuk Kendali Kosong yang saya bicarakan ada di mana? Bentuk Kendali Kosong itu ada pada keputusan saya untuk tidak menggunakan &lt;i&gt;smart phone&lt;/i&gt; seperti BlackBerry atau iPhone. Smart phone itu jelas mempermudah kita untuk mengakses situs jejaring sosial. Mudah dibawa, tidak perlu repot menyalakan dan mematikan, dan senantiasa terhubung ke Internet -kalau kita berlangganan. Dengan tidak memiliki smart phone, akses ke situs jejaring sosial sudah pasti terbatas. Saya tidak mungkin membawa &lt;i&gt;netbook&lt;/i&gt; ke mana pun saya pergi. Sementara smart phone bahkan dapat dibawa ke (maaf) toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari situs jejaring sosial, saya juga senang menghabiskan waktu dengan bermain game. Ini adalah satu alasan lain bagi saya untuk tidak memiliki smart phone. Saya tidak mau membentuk refleks membuka smart phone untuk bermain game saat saya misalnya sedang menunggu bersama istri saya, karena waktu menunggu itu bisa jadi lebih berharga bila saya manfaatkan untuk mengobrol dengan istri saya. Contoh lain adalah saat rapat. Tentu kecenderungan untuk tidak memperhatikan isi rapat yang membosankan akan menjadi lebih besar dengan kehadiran smart phone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas tentu saja sifatnya spesifik, yaitu berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu dan subjektif terhadap diri saya sendiri. Selain itu saya juga tidak bermaksud menafikan manfaat dari situs jejaring sosial dan kepemilikan smart phone. Saya yakin ada banyak manfaat dari smart phone karena kalau tidak mereka mungkin akan diberi nama "not so smart phone" atau "stupid phone" atau "silly phone" atau berbagai nama aneh lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7794050026941279569?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7794050026941279569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/kendali-kosong-zero-control.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7794050026941279569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7794050026941279569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/12/kendali-kosong-zero-control.html' title='Kendali Kosong (Zero Control)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5760368005551554347</id><published>2010-11-10T12:42:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T01:41:20.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Mengenal Batasan Integritas</title><content type='html'>Dalam kondisi ideal, integritas tidak mengenal batas. Sikap jujur dan profesional yang kerap kali disandingkan dengan integritas sudah sepantasnya tidak mengenal batas. Dapat dikatakan bahwa dalam kondisi ideal, pilihannya adalah menjaga integritas atau mati. Akan tetapi, dunia nyata bukanlah kondisi ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini, integritas jelas mengenal batas. Kadang batasan itu diakibatkan oleh pengaruh eksternal, kadang batasan itu disebabkan oleh pengaruh internal. Masing-masing sisi, eksternal atau internal, memiliki variasinya masing-masing. Variasinya pun bergantung pada waktu dan tempat integritas itu diterapkan oleh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kerja, batasan integritas itu datang dari berbagai arah. Untuk bawahan, batasan integritas datang dari atasan. Bawahan akan menjaga sikap di hadapan para atasannya untuk menghindari hukuman. Untuk atasan, batasan integritas datang dari bawahan. Atasan senantiasa menjaga sikap untuk menghindari rasa malu di hadapan bawahannya. Rekan kerja pun memiliki pengaruh tersendiri. Seseorang bisa jadi menjaga sikap saat berada di sekitar rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pola yang pragmatis seperti itu, integritas menjadi salah satu topeng dalam panggung sandiwara pekerjaan atau kasarnya sebuah bentuk kemunafikan. Integritas hanya dijaga agar terhindar dari hukuman dan rasa malu. Saat seseorang merasa aman dari hukuman dan rasa malu ini, integritas tidak lagi penting untuk dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat integritas diperlakukan sebagai topeng, maka tidak heran bila kita melihat banyak pejabat korupsi. Tidak juga kita perlu heran melihat banyak orang selingkuh. Tidak perlu heran bila kita melihat banyak orang pergi meninggalkan kantornya saat jam kerja. Jangan pula heran saat berbagai bentuk penyimpangan, besar atau kecil, terus terjadi di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas sepantasnya dibatasi oleh diri kita sendiri. Bagi seorang muslim, integritas justru dibatasi oleh keberadaan Allah. Saya sendiri memilih Allah untuk mengawasi integritas saya karena saya sadar manusia itu sering dibohongi dirinya sendiri. Dengan kehadiran Allah dalam hidup saya, saya yakin tidak akan ada yang luput dari pengawasan. Kebohongan sekecil apa pun yang kita lakukan akan diketahui oleh Allah. Kebenaran sekecil apa pun yang kita lakukan akan diketahui oleh Allah. Kondisi seperti ini yang dapat membuat integritas menjadi tanpa batas karena tidak ada pengawas yang lebih baik selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering tegaskan kepada diri saya bahwa istilah &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2009/10/terlalu-jujur.html"&gt;terlalu jujur&lt;/a&gt; itu sering dipakai secara berlebihan. Bila Anda membocorkan rahasia negara saat peperangan, Anda bisa dikatakan terlalu jujur. Saat Anda membeberkan lokasi keluarga Anda pada kelompok penculik, Anda bisa dikatakan terlalu jujur. Tapi saat Anda mengakui bahwa Anda terlambat masuk kantor saat rekapitulasi absensi mengatakan sebaliknya, ini adalah sebuah bentuk kejujuran; bukan terlalu jujur. Saat atasan tidak di tempat dan Anda bersikeras untuk tetap bekerja, ini adalah sebuah bentuk kejujuran; bukan terlalu jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua orang membiasakan hidup jujur dimulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar, integritas akan terjaga dengan mudah. Dalam kondisi seperti ini, integritas berubah dari sekedar topeng menjadi bagian dari wajah -tidak akan lepas dalam kondisi apa pun. Dan dalam kondisi seperti ini, proses perbaikan individu, masyarakat, bangsa dan negara akan menjadi optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita hidup jujur hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tulisan terkait:&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Terlalu Jujur - &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2009/10/terlalu-jujur.html"&gt;http://asyafrudin.blogspot.com/2009/10/terlalu-jujur.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5760368005551554347?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5760368005551554347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/11/mengenal-batasan-integritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5760368005551554347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5760368005551554347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/11/mengenal-batasan-integritas.html' title='Mengenal Batasan Integritas'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8092717306939155274</id><published>2010-10-27T13:19:00.001+07:00</published><updated>2010-10-27T13:19:00.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Sulitnya Bersyukur</title><content type='html'>Mungkin tidak semua orang setuju bila saya katakan bersyukur itu sulit. Memang apa susahnya mengucapkan pujian kepada Allah SWT bila kita mendapat nikmat? Di mana sulitnya mengucapkan "alhamdulillah" saat kita diberikan keberkahan oleh Allah SWT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur di saat kita mendapat nikmat itu memang mudah, tapi hakikat bersyukur yang saya maksud adalah bersyukur di setiap kondisi. Hal ini termasuk bersyukur di saat kita mendapat musibah, baik kecil maupun besar. Saya yakin bahwa setiap orang akan mengalami kesulitan untuk tetap memuji Allah SWT di saat kita menerima musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kesulitan bersyukur itu semakin tinggi akibat sifat kita yang mudah mengeluh. Saat kita sedang menghadapi masalah, keluhan lebih mudah keluar ketimbang ucapan syukur. Kadang dalam kondisi hidup yang buruk, pikiran untuk bersyukur justru tidak datang sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu heran bila orang-orang yang senantiasa bersyukur itu lebih mulia di hadapan Allah. Saya rasa kemuliaan itu adalah predikat yang layak diterima oleh orang-orang yang senantiasa memuji Allah SWT. Sangat jauh berbeda dengan kita yang lebih sering mewarnai hidup kita dengan keluhan atau bahkan makian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ingat bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang melebihi kesanggupan kita [1] karena Allah itu Maha Penyayang. Sulit dibayangkan Allah yang menyayangi kita itu akan mempersulit hidup kita. Kalau pun memang ada sebuah masalah yang tidak bisa kita atasi, itu hanya berarti bahwa kita gagal menghadapi ujiannya. Dari kegagalan itu kita &lt;i&gt;masih bisa&lt;/i&gt; mengambil pelajaran untuk bersiap menghadapi ujian berikutnya. Bila kita berhasil menghadapi ujiannya, maka kita sudah berhasil meraih kemuliaan yang lebih tinggi. Dan dengan kemuliaan yang lebih tinggi, kita harus siap menghadapi ujian yang lebih berat. Baik gagal maupun berhasil, kita bisa senantiasa bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah hanya akan berubah bentuk dari ujian menjadi peringatan bila musibah itu datang akibat perbuatan dosa kita. Musibah seperti ini datang untuk membantu kita kembali ke jalan hidup yang Allah ridhai. Kita patut mensyukuri datangnya peringatan ini walaupun kita harus kehilangan banyak hal. Ini pertanda bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk bertaubat dan introspeksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang mengkhawatirkan adalah saat peringatan itu tidak lagi datang. Ini justru menandakan bahwa jalan hidup kita sudah melenceng terlalu jauh dan kita sudah terlalu &lt;i&gt;cuek&lt;/i&gt; untuk melihat rambu-rambu yang ada. Dalam kondisi ini bukan tidak mungkin hidup kita akan penuh dengan kenikmatan dunia. Sayangnya kenikmatan dunia seperti ini hanya menunda datangnya siksa Allah yang pedih; entah di dunia, alam kubur, atau di neraka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ujian dan peringatan, kita masih tetap bisa bersyukur. Saat kita mengeluh karena sering kehujanan saat mengendarai motor, ada orang yang kehilangan motornya. Saat kita mengeluhkan sulitnya mengelola pemasukan dan pengeluaran kita, ada orang yang harus dirawat di rumah sakit. Saat kita mengeluhkan sulitnya hidup kita, ada orang yang kehilangan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita mengeluh, ada nikmat yang kita lupakan. Saat kita mengeluh karena sering kehujanan, kita lupa bersyukur bahwa kita masih diberi nikmat sehat. Saat kita kesulitan mengelola pemasukan dan pengeluaran, kita lupa bersyukur bahwa kita masih memiliki pemasukan. Saat kita mengeluhkan hidup kita, kita lupa bersyukur bahwa kita masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari paparan di atas agar kita bisa senantiasa bersyukur, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bahwasanya setiap masalah yang kita hadapi adalah ujian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwasanya setiap musibah yang kita hadapi adalah peringatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwasanya masih banyak orang lain yang nasibnya lebih buruk dari kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwasanya masih banyak nikmat yang patut kita syukuri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Jadi pada dasarnya tidak ada yang menghalangi kita untuk senantiasa bersyukur dalam kondisi apa pun. Dengan senantiasa bersyukur, ketenangan hati dan pikiran akan lebih mudah dicapai. Pada akhirnya kebahagiaan yang hakiki akan dengan mudah terwujud dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;[1] Al Quran Surat Al-Baqarah Ayat 286.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8092717306939155274?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8092717306939155274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/10/sulitnya-bersyukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8092717306939155274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8092717306939155274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/10/sulitnya-bersyukur.html' title='Sulitnya Bersyukur'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8205710061839087967</id><published>2010-10-14T09:52:00.000+07:00</published><updated>2010-10-14T09:57:01.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Geraham Bungsu, Bubur, dan Abon</title><content type='html'>Akhirnya jahitan hasil operasi pencabutan gigi geraham bungsu saya pun dilepas. Hari-hari bersama bubur dan abon pun akhirnya secara resmi berlalu. Gigi geraham bungsu sebelah kiri bawah saya tidak lagi menjadi sumber masalah. Saat ini saya hanya perlu menunggu rasa tidak nyaman dalam mulut saya menghilang sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memutuskan mencabut gigi geraham bungsu sebelah kiri saya karena gigi tersebut diduga menjadi penyebab rasa sakit gigi yang sesekali muncul belakangan ini. Gigi itu sebenarnya sudah lama tumbuh mendatar ke arah depan, tapi saya tidak menggubrisnya. Sebelumnya saya memang tidak mengalami masalah dengan gigi saya itu. Setelah saya mengambil rontgen panoramik untuk gigi saya. Terlihat bahwa gigi geraham bungsu sebelah kiri itu sudah mulai merusak gigi geraham di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pencabutan gigi geraham bungsu itu saya lakukan di Poli Bedah Mulut Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang. Alasan utama saya memilih RSU Tangerang adalah biaya. Harapan saya dengan bermodal Askes, saya hanya perlu membayar biaya operasi sekitar 300 s.d. 500 ribu rupiah. Ternyata yang harus saya bayar adalah 550 ribu rupiah. Angka itu sudah bersih karena obat-obatan ditanggung penuh oleh Askes. Saya tetap bersyukur bahwa saya tidak perlu mengeluarkan uang sampai jutaan untuk operasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan sebelum operasi tidak ada sama sekali. Mungkin yang perlu dipersiapkan adalah mental kita sebelum operasi. Jangan sampai hati kita ciut di tengah jalan setelah melihat jarum suntik, bor, dan berbagai peralatan bedah mulut lainnya. Seorang teman yang pernah menjalani operasi yang sama sempat bercerita bahwa dia disarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum operasi. Hal itu dilakukan agar pasien memiliki waktu toleransi yang lama untuk tidak makan/minum setelah operasi. Sayangnya teman saya ini bercerita &lt;i&gt;setelah&lt;/i&gt; saya menjalani operasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kendalanya hanya satu, yaitu saat saya merasa mual dan ingin muntah. Saya sendiri memang mudah mual dan membuka mulut dalam waktu yang lama serta rasa &lt;i&gt;ngilu&lt;/i&gt; saat dibor benar-benar memicu rasa mual. Cara mengatasinya adalah dengan bernafas lewat hidung dan mencoba mengalihkan pikiran ke tempat lain. Salah satu dokter yang mengawasi sampai mengajak saya &lt;i&gt;ngobrol&lt;/i&gt; untuk membantu mengalihkan pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasinya berlangsung cukup lama. Dokternya mengatakan hal itu disebabkan karena giginya terlalu besar sehingga tidak mudah diangkat. Giginya harus dipotong-potong dulu -ini alasannya kenapa perlu bor- sebelum dicabut. Jadi operasi saya yang lama itu masih wajar. Setelah gigi geraham bungsu saya berhasil dicabut, gusi saya pun dijahit. Setelah jahitan selesai, saya diminta menggigit kain kasa yang sudah dicelup bahan sejenis Betadine. Operasi pun selesai dan saya diperbolehkan pulang -untung tidak perlu rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kurang mulus dari keseluruhan proses operasi pencabutan geraham bungsu ini justru terjadi pada tahap penyembuhan. Dua hari setelah operasi, pendarahan kecil masih terjadi. Akhirnya saya kontrol kembali ke RSU Tangerang. Setelah konsultasi disimpulkan bahwa kemungkinan besar kelalaian ada pada pihak saya sendiri. Sepertinya saya terlalu sering berkumur sehingga luka pasca operasi itu sulit mengering. Dokter bedah mulut akhirnya memberikan resep obat untuk membantu menghentikan pendarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua beres dan saat ini jahitannya pun sudah dilepas. Setelah jahitan dilepas, perawat di Poli Bedah Mulut itu mengingatkan bahwa rasa tidak nyaman yang saya rasakan pasca operasi mungkin bertahan sampai satu bulan. Sepertinya saya akan menunggu rasa tidak nyaman itu hilang sebelum saya memutuskan untuk mencabut gigi geraham bungsu saya yang sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut mengenai pencabutan gigi geraham bungsu: &lt;a href="http://www.dentiadental.com/articles/gigi-geraham-bungsu-perlukah-dicabut/"&gt;Gigi Geraham Bungsu, Perlukah Dicabut?&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8205710061839087967?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8205710061839087967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/10/geraham-bungsu-bubur-dan-abon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8205710061839087967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8205710061839087967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/10/geraham-bungsu-bubur-dan-abon.html' title='Geraham Bungsu, Bubur, dan Abon'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-8563041076111768258</id><published>2010-08-31T09:57:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:37:54.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemerkosaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Dunia Wanita yang Memprihatinkan</title><content type='html'>Seringkali saya merasa bahwa dunia saat ini masih memperlakukan wanita sebagai objek untuk meningkatkan daya tarik. Banyak iklan, dalam berbagai bentuk, yang menggunakan wanita sebagai modelnya walaupun pada kenyataannya tidak terlalu relevan. SPG (&lt;i&gt;Sales Promotion Girl&lt;/i&gt;) tentunya lebih banyak terlihat ketimbang SPB (&lt;i&gt;Sales Promotion Boy&lt;/i&gt;). Kelihatannya SPB lebih cenderung ditempatkan di gudang atau bagian angkut barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan bisnis, wanita pun punya andil yang signifikan. Saat mengajukan penawaran ke klien, &lt;i&gt;sales&lt;/i&gt; wanita lebih diutamakan; apalagi kalau klien yang dituju adalah pria. Bagian layanan pelanggan pun umumnya mempekerjakan para wanita untuk menerima keluhan pelanggan. Alasannya kemungkinan besar karena suara wanita lebih enak didengar ketimbang suara pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas mungkin tidak representatif; atau bahkan salah. Mungkin saja para wanita lebih dihargai karena kemampuan dan prestasinya, tapi tetap saja penilaian terhadap wanita tidak lepas dari kondisi fisiknya. Entah itu parasnya, bentuk tubuhnya, suaranya, atau kondisi fisik lainnya, penilaian terhadap potensi wanita sepertinya sangat subjektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksploitasi terhadap wanita ini sudah membentuk opini umum tentang cantik dan seksi, baik secara sadar maupun tidak sadar. Terbentuknya opini umum ini tentunya tidak lepas dari peran industri mode yang iklan-iklannya secara spesifik membentuk citra seorang wanita yang cantik dan seksi itu. Akhirnya para wanita berbondong-bondong merubah dirinya menjadi cantik dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi tidak menentang usaha seseorang, baik pria maupun wanita, menuju keindahan diri. Hanya saja menurut saya usaha ini kerap berbalik menjadi memprihatinkan. Mereka yang berkulit hitam ingin berkulit putih hanya karena cantik itu identik dengan putih walaupun mereka yang mengeluarkan uang banyak untuk produk kecantikan. Mereka yang gemuk ingin menjadi lebih kurus hanya karena seksi itu identik dengan langsing. Mereka pun tak segan menjaga pola makan (kadang sampai ke titik ekstrim), membeli obat-obatan pengecil lingkar pinggang, dan mengikuti berbagai perawatan tubuh untuk mendapatkan tubuh yang langsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi badan pun tidak luput dari perhatian para wanita. Berhubung cantik dan seksi itu tidak lepas dari kata "semampai", banyak wanita pun mengejar tinggi badan yang memadai untuk melengkapi kulitnya yang putih dan badannya yang langsing. Putih, tinggi, langsing menjadi tiga kata yang krusial untuk mendefinisikan cantik dan seksi. Itu pun bila mereka tidak memasukan hal-hal sepele seperti bibir, hidung, alis mata, payudara, atau hal-hal sepele lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih memprihatinkan lagi adalah kondisi di atas itu tidak kenal usia. Dari anak perempuan yang masih duduk di sekolah dasar sampai wanita yang sudah pantas dipanggil "nenek" hidup dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut. Anak SD sudah tahu bagaimana caranya terlihat cantik. Nenek-nenek &lt;b&gt;tetap&lt;/b&gt; tahu bagaimana caranya terlihat cantik. Anak SD sudah akrab dengan dandanan. Nenek-nenek &lt;b&gt;tetap&lt;/b&gt; berdandan layaknya wanita usia 30-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia wanita begitu memprihatinkan. Keprihatinan ini mungkin akan lebih terasa saat kita mendengar komentar seorang pria jomblo yang tidak pernah puas dengan kecantikan gadis-gadis yang dikenalkan orang lain kepadanya. Hal ini tentu saja menjelaskan kenapa pria itu tetap jomblo. Rasa prihatin itu akan timbul saat kita mendengar kisah seorang suami yang selingkuh demi wanita yang lebih cantik. Belum lagi cerita bagaimana seorang wanita cerdas dan berprestasi tidak kunjung mendapatkan pasangan karena dirinya kurang cantik. Dan masih banyak lagi cerita-cerita memprihatinkan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang harus disalahkan atas terbentuknya dunia seperti itu? Dunia mode, dunia periklanan, dunia bisnis, para pria, atau para wanita itu sendiri? Entah ada berapa faktor yang akhirnya menyebabkan para wanita harus bersaing untuk terlihat cantik dan seksi. Satu hal yang pasti, para pria punya andil. Mereka yang melihat wanita lewat syahwatnya dan mengukur potensi wanita lewat ukuran dada dan pinggulnya tentunya punya andil yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis pun seorang pria yang tidak lepas dari tanggung jawab itu, tapi tulisan ini bukan sebuah topeng kemunafikan yang dipakai saat menulis. Tulisan ini merupakan bagian dari proses introspeksi diri karena sebuah perubahan besar hanya dapat terjadi bila setiap orang yang terlibat mau melakukan perubahan yang sama pada dirinya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-8563041076111768258?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/8563041076111768258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/dunia-wanita-yang-memprihatinkan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8563041076111768258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/8563041076111768258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/dunia-wanita-yang-memprihatinkan.html' title='Dunia Wanita yang Memprihatinkan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3900539656342312062</id><published>2010-08-18T13:21:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:04:05.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berkendara'/><title type='text'>Bajingan Bernama Pengendara Motor</title><content type='html'>Dia yang &lt;i&gt;nyelip&lt;/i&gt;, dia yang &lt;i&gt;oleng&lt;/i&gt;, dia yang &lt;i&gt;nyungsruk&lt;/i&gt;, dia yang marah. Berkendara tidak hati-hati tapi justru merasa orang lain yang harus lebih hati-hati. Jalanan seharusnya milik bersama tapi justru hanya orang lain yang harus mengalah. Sopan santun berkendara tertinggal di rumah. Yang dibawa dalam perjalanan hanya keegoisan semata. Bajingan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendara motor itu memang egois dan tidak tahu sopan santun. Mendahului dari berbagai sisi, melawan arus kendaraan seenak dengkulnya sendiri, menerobos lampu merah tanpa basa basi, memotong jalan orang tanpa permisi, dan berbagai bentuk keegoisan berkendara sudah menjadi citra para pengendara motor. Citra buruk ini yang membuat para pengendara kendaraan roda empat atau lebih (terutama mobil pribadi) memilih untuk mengalah dan membiarkan para pengendara motor itu semakin menggila. Bajingan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin tidak sedikit pengendara mobil yang lebih memilih mengalah dibandingkan harus berurusan dengan pengendara motor. Bagaimana tidak? Dalam sebuah kecelakaan antara mobil dan motor, kemungkinan besar pihak yang dinyatakan bersalah adalah pengendara mobil. Walaupun kecelakaan itu merupakan akibat dari kecerobohan pengendara motor, masyarakat pada umumnya tetap menyalahkan pengendara mobil. Ini pun salah satu faktor yang membuat para pengendara motor itu semakin menggila. Mereka dipenuhi kesombongan karena merasa dirinya akan dibela dalam kondisi apa pun. Bajingan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi dari sifat sombong dan egois itu yang membuat para pengendara motor itu terus tumbuh menjadi kumpulan bajingan. Hal ini berlaku benar terutama bagi mereka yang merasa dirinya hebat dan gemar tancap gas. Motor mereka modifikasi sedemikian rupa sehingga (mereka pikir) menyerupai motor balap. Jalan raya pun mereka jadikan arena balap. Setiap kendaraan mereka jadikan lawan tanding yang harus disalip walau harus mengorbankan nyawa. Sayangnya yang menjadi korban seringkali tidak hanya nyawa mereka sendiri, tapi juga nyawa orang lain. Bajingan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah tidak semua pengendara motor itu bajingan. Masih ada pengendara motor yang mematuhi peraturan dan berkendara dengan penuh sopan santun. Masih ada pengendara motor yang memikirkan akibat dari cara berkendara yang sembrono sehingga mereka pun lebih berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya memang bukan pengendara motor yang merupakan bajingan. Bajingan-bajingan sombong dan egois ini ada di mana-mana. Ada yang berwujud pengendara motor, ada yang berwujud pengendara motor &lt;i&gt;gede&lt;/i&gt;, ada yang berwujud pengendara mobil, ada yang berwujud pengendara angkutan umum, ada yang berwujud pengendara truk, dan berbagai wujud lain. Tidak semua pengendara motor itu bajingan, tapi sebagian bajingan itu ada dalam wujud pengendara motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajingan-bajingan itu mungkin akan terus ada sampai akhir dunia ini. Kalau Anda adalah salah satunya dan masih memiliki sedikit kesadaran akan sopan santun dan toleransi, maka berubahlah. Saya yakin dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman bila jumlah bajingan di dunia ini berkurang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3900539656342312062?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3900539656342312062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/bajingan-bernama-pengendara-motor.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3900539656342312062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3900539656342312062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/bajingan-bernama-pengendara-motor.html' title='Bajingan Bernama Pengendara Motor'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5357431310164278017</id><published>2010-08-12T15:11:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:41:20.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perselingkuhan'/><title type='text'>Kepercayaan Pangkal Keharmonisan</title><content type='html'>Seorang calon suami mengajak saya diskusi. Ajakannya agak mendadak karena memang waktunya sudah mendesak. Calon suami ini tidak lama lagi akan melamar calon istrinya. Lamaran yang dimaksud adalah lamaran skala besar, yaitu saat keluarga calon suami secara resmi mendatangi keluarga calon istri untuk melakukan lamaran. Saya sebut mendesak &lt;i&gt;bin&lt;/i&gt; mendadak karena menjelang waktu lamaran ini calon suami tersebut masih saja gundah. Ada satu hal yang mengganjal di hati calon suami ini. Satu hal yang krusial. Satu hal yang vital. Satu hal yang terkait erat dengan kepercayaan calon suami kepada calon istri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya berputar sekitar pergaulan. Untuk mempersingkat cerita, masalah ini terkait dengan lingkungan pergaulan calon istri. Calon istri ini tidak memiliki batasan tertentu dalam pergaulan. Dia bisa berteman dengan wanita dan pria. Bahkan salah satu teman dekatnya adalah seorang pria. Calon istri ini (sebagaimana manusia pada umumnya) memiliki lingkaran kecil pertemanan. Lingkaran kecil ini seringkali meluangkan waktu bersama-sama. Makan siang, tukar pikiran (baca:&lt;i&gt; ngobrol&lt;/i&gt;), dan berbagai aktifitas lain sering mereka lakukan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon suami tidak merasa nyaman dengan pola pergaulan calon istri. Walau berkali-kali calon istri menegaskan bahwa pergaulannya tidak akan menjadi "penghalang", calon suami ini masih tidak bisa meyakinkan hatinya. Bagi sebagian orang mungkin calon suami ini akan terlihat posesif atau kolot. Akan tetapi pada kenyataannya calon suami ini hanya sekedar berhati-hati. Bagi saya ini adalah hal wajar melihat pergaulan sudah semakin bebas dan perselingkuhan sudah semakin terlihat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini saya memihak calon suami. Mengarungi lautan pernikahan tanpa rasa saling percaya yang memadai antara suami dan istri kelak akan mengundang badai. Ombak akan senantiasa terlihat besar dan langit akan senantiasa gelap. Keharmonisan rumah tangga akan selalu ada di ujung tanduk bila ikatan dalam rumah tangga itu terjalin tanpa didasari kepercayaan. Dukungan ini bukan semata-mata karena saya adalah seorang pria. Dukungan ini datang karena keyakinan saya akan pentingnya membentuk rasa saling percaya antara suami dan istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha untuk membentuk kepercayaan itu terdapat dua kewajiban, yaitu kewajiban untuk mempercayai orang lain dan kewajiban untuk membuat diri dapat dipercaya orang lain. Baik istri maupun suami memiliki kedua kewajiban itu. Seorang suami wajib mempercayai istrinya dan sebaliknya seorang istri wajib membuat dirinya dapat dipercaya oleh suaminya. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kedua kewajiban itu, kewajiban untuk membuat diri dapat dipercaya orang lain ada di atas kewajiban untuk mempercayai orang lain. Wajib bagi seorang suami untuk mempercayai istrinya bila istrinya ini sudah melakukan kewajibannya untuk menjaga batasan dalam bergaul. Wajib bagi seorang istri untuk mempercayai suaminya bila suaminya ini memilih untuk tidak memiliki sekretaris wanita. Wajib bagi seorang suami untuk mempercayai istrinya bila istrinya ini tidak bepergian tanpa alasan yang kuat dengan pria lain. Wajib bagi seorang istri untuk mempercayai suaminya bila suaminya ini tidak membuat-buat alasan saat sulit dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah calon suami di atas, saya justru merasa calon istri di atas perlu melakukan kewajibannya untuk membatasi pergaulannya. Dengan begitu calon istri ini sudah melakukan kewajibannya untuk membuat dirinya dapat dipercaya. Bila hal ini sudah dilakukan, maka calon suami ini pun wajib mempercayai calon istrinya tanpa kecuali. Kalau memang hal di atas sulit diwujudkan, saya pribadi lebih memilih agar pernikahan mereka dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di atas bukan kondisi luar biasa. Kenyataannya masalah kepercayaan ini sudah menjadi masalah yang lumrah dalam sebuah ikatan pernikahan; terutama SETELAH ikatan pernikahan itu terjalin. Saya sendiri pernah menemukan kondisi yang mirip dengan kondisi calon suami istri di atas. Perbedaannya adalah pasangan yang terlibat bukan lagi calon -mereka sudah menikah. Dalam hal ini tentunya saya tidak cenderung ke arah membatalkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya dengan pasangan di atas kondisinya relatif lebih mudah. Pihak istri berkenan mengambil inisiatif untuk membatasi pergaulannya dengan teman-teman prianya. Dengan begitu lebih mudah bagi pihak suami untuk menghilangkan kegundahan hatinya dan kembali mempercayai istrinya. Saya tidak sampai hati membayangkan seandainya pihak istri tetap bersikeras dengan pola pergaulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kepercayaan memang masalah yang sensitif dan tidak berlaku hanya di dunia pernikahan saja. Hubungan pertemanan, hubungan kerja, hubungan bisnis, dan berbagai bentuk hubungan lain tentu mengandalkan kepercayaan untuk membentuk keharmonisan. Tidak mungkin ada orang yang mau berteman dengan pengkhianat, tidak mungkin ada orang yang mau bekerja dengan orang yang tidak dapat dipercaya, tidak mungkin ada orang yang mau berbisnis dengan orang yang reputasinya meragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam pernikahan itu sendiri, kepercayaan tidak hanya berkutat pada masalah pergaulan saja. Kepercayaan juga terkait erat dengan pengelolaan keuangan keluarga, pola pendidikan anak, hubungan dengan keluarga besar, dan berbagai hal lain. Saya yakin sulit rasanya mempercayai pasangan yang boros, sering tidak terus terang, asal-asalan mendidik anak, atau risih dengan kehadiran mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua orang mengalami masalah kepercayaan yang sama karena kemampuan memberikan kepercayaan masing-masing orang itu berbeda. Akan tetapi saat berhadapan dengan masalah kepercayaan, maka kondisinya tidak akan jauh berbeda dengan cerita di atas. Semuanya akan kembali kepada kedua kewajiban yang disebutkan di atas, yaitu kewajiban untuk mempercayai orang lain dan kewajiban untuk membuat diri dapat dipercaya orang lain. Prioritasnya tentu saja pada kewajiban yang kedua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-5357431310164278017?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/5357431310164278017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/kepercayaan-pangkal-keharmonisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5357431310164278017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/5357431310164278017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/08/kepercayaan-pangkal-keharmonisan.html' title='Kepercayaan Pangkal Keharmonisan'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6973168715635683787</id><published>2010-07-12T09:30:00.001+07:00</published><updated>2012-01-05T16:47:32.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>The Amazing Coraline</title><content type='html'>Judul tulisan ini seolah-olah menggambarkan bahwa tulisan ini adalah mengenai seorang pahlawan super (&lt;i&gt;super hero&lt;/i&gt;) bernama Coraline. Namun demikian, saya yakin setiap penggemar novel karya Neil Gaiman tahu persis siapa yang saya maksud dengan Coraline. Walaupun begitu, saya tidak bermaksud menulis tentang novel Coraline. Yang saya maksud dengan "amazing" adalah film Coraline yang merupakan adaptasi dari novel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coraline merupakan film dengan cerita yang sangat menarik. Ceritanya memiliki tema yang terkait dengan keluarga; sebuah tema yang senantiasa menarik perhatian saya. Film Coraline bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Coraline Jones yang menjauh dari ayah dan ibunya karena ayah dan ibunya dianggap tidak terlalu peduli kepada dirinya. Pada akhirnya dia menemukan ayah dan ibu baru yang identik dengan ayah dan ibunya yang asli. Lebih tepatnya Coraline menemukan dunia paralel yang berisi rumahnya, ayah ibunya, dan tetangga-tetangganya. Perbedaannya adalah dunia paralel yang ditemukan Coraline ini jauh lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan pertama Coraline memang mengejutkan. Apalagi bila setiap makhluk hidup (bukan hanya manusia) di dunia paralel itu memiliki mata berupa kancing baju. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah kenyataan bahwa Coraline tidak terlihat terganggu sama sekali dengan semua itu. Dia tidak terlihat memiliki masalah apa pun menatap kancing-kancing baju itu. Bahkan akhirnya dia memutuskan bahwa dunia paralel itu lebih menyenangkan ketimbang dunia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang film itu mengingatkan saya agar lebih berhati-hati dalam bersikap untuk menjaga perasaan anak-anak saya. Agak menyedihkan juga melihat seorang anak lebih memilih orang tua dengan kancing baju sebagai mata mereka ketimbang orang tua anak itu sendiri. Semoga saja hal itu tidak perlu dialami oleh anak-anak saya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Coraline. Selepas masa-masa menyenangkan itu akhirnya Coraline dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Coraline harus memilih salah satu dari kedua dunia itu. Dunia nyata dengan ayah ibunya yang asli, yang jelas-jelas merupakan dunia yang membosankan dan tidak menyenangkan, atau dunia paralel yang merupakan dunia yang dia impikan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihannya memang sulit, tapi akhirnya Coraline memutuskan untuk kembali ke dunia nyata yang hambar bersama kedua orang tuanya. Akan tetapi, kepulangannya justru membawa dia ke dalam kondisi yang lebih sulit. Dunia paralel itu rupanya tidak pernah berniat melepaskan Coraline. Pada saat itu, Coraline justru dihadapkan kepada kondisi yang lebih sulit lagi. Untuk kelanjutannya saya persilakan untuk melihat sendiri film Coraline ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, hal yang paling menarik dari jalan cerita film Coraline adalah perubahan hati Coraline yang dimulai dari tidak menyukai hidupnya sampai akhirnya dapat kembali mencintai hidupnya. Coraline yang pada awalnya tidak masalah meninggalkan dunianya justru pada akhirnya dipaksa untuk berjuang mempertahankan dunianya itu. Pada akhirnya Coraline pun dapat menghargai setiap orang yang ada di sekelilingnya walaupun setiap orang itu memiliki keterbatasannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coraline adalah sebuah film keluarga yang menggugah; sama halnya dengan &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/sulitnya-menjadi-suami-yang-egois.html"&gt;film Up&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6973168715635683787?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6973168715635683787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/amazing-coraline.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6973168715635683787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6973168715635683787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/amazing-coraline.html' title='The Amazing Coraline'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-3690929576453851551</id><published>2010-07-09T09:35:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:41:20.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Terlambat Dewasa (3)</title><content type='html'>Semakin kering segumpal tanah liat, semakin sulit tanah liat itu dibentuk. Hal yang sama berlaku juga untuk manusia. Semakin tua seseorang, semakin sulit baginya untuk belajar dan berubah. Kita semua tahu bahwa yang proses "menjadi dewasa" itu merupakan rangkaian perubahan yang harus dilalui seseorang dalam hidupnya. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, semakin sulit bagi diri orang itu untuk menjadi dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang sudah sebegitu sulitnya berubah menuju kedewasaan, maka orang itu sudah -atau sedang- memasuki tahap "tidak pernah dewasa". Pada tahap ini, seseorang akan memiliki kecenderungan untuk menolak setiap hal yang memaksanya -atau mengharapkannya- untuk berubah. Semakin besar tekanan untuk berubah, semakin besar pula penolakan yang diberikan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini dapat kita lihat dalam masyarakat. Contohnya seorang ayah yang hanya tahu bagaimana cara mencari uang dan bersenang-senang. Ayah seperti ini punya kecenderungan untuk mengajak anak-anaknya bersenang-senang dengan caranya sendiri. Cara bersenang-senang si Ayah ini mungkin saja tidak aman, tidak sehat, atau membawa dampak buruk terhadap anak-anaknya. Istrinya (si Ibu) tentu berharap si Ayah dapat merubah caranya bermain dengan anak-anaknya. Bila si Ayah ada dalam kondisi "tidak pernah dewasa", maka semua anjuran dari si Ibu akan mental begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah seorang pria yang sudah bekerja namun belum menikah. Pria yang sudah bekerja kemungkinan memiliki rasa kemandirian yang sangat tinggi. Kadang rasa kemandirian ini begitu tinggi sampai-sampai pria ini tidak lagi peduli apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Yang dia pedulikan hanyalah hal-hal yang penting bagi dirinya sendiri saja. Dia akan peduli apa kata atasannya karena dia ingin promosi, tapi dia tidak akan peduli apa kata orang tuanya karena dia merasa orang tuanya tidak bisa lagi mengatur dia. Dia akan peduli dengan apa yang dikatakan teman dekatnya, tapi tidak tidak akan peduli apa kata saudara-saudaranya karena dia merasa saudaranya tidak akan pernah mengerti jalan pikirannya. Pria seperti ini bisa jadi memiliki halusinasi bahwa dirinya mapan, toleran, dan bertanggung jawab. Sementara kenyataannya dia hanya peduli pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada banyak contoh lain yang bisa saya paparkan, tapi saya yakin setiap orang bisa menemukan contohnya sendiri; baik di orang lain maupun di dalam dirinya sendiri. Contoh di atas merupakan ilustrasi yang saya berikan hanya dalam tulisan ini. Saya tidak ingin mengatakan bahwa contoh-contoh di atas merupakan gambaran umum seorang ayah atau seorang pria bujangan yang sudah bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada kondisi "tidak pernah dewasa". Kondisi ini adalah kondisi yang perlu dihindari oleh setiap orang. Seperti yang saya paparkan sebelumnya, "terlambat dewasa" itu tidak bermasalah asalkan tidak sampai memasuki tahap "tidak pernah dewasa". Orang yang "terlambat dewasa" bukanlah orang yang tidak bisa dewasa. Orang seperti ini hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menjalani proses menuju kedewasaan. Sementara orang yang ada dalam kondisi "tidak pernah dewasa" dapat dikatakan berhenti untuk berubah menjadi dewasa. Kalau pun orang seperti ini masih memiliki keinginan untuk berubah, besaran keinginannya mungkin sangat kecil sampai efeknya terhadap perubahan dirinya dapat dikatakan tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua yang sikapnya menyerupai anak balita atau remaja adalah bukti bahwa kondisi "tidak pernah dewasa" ini nyata. Setiap orang bisa mengalami tahap "terlambat dewasa" sampai terjerumus ke dalam kondisi "tidak pernah dewasa". Kondisi ini perlu dihindari karena kedewasaan merupakan hal yang diperlukan oleh diri seseorang dan masyarakat pada umumnya untuk bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Tentunya tidak akan menyenangkan bagi kita semua bila nantinya pemimpin-pemimpin di negeri ini adalah sekumpulan orang yang berpikir dan bertingkah laku seperti anak kemarin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Versi PDF: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/kVgVidCT/TerlambatDewasa.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/kVgVidCT/TerlambatDewasa.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-3690929576453851551?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/3690929576453851551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3690929576453851551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/3690929576453851551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-3.html' title='Terlambat Dewasa (3)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-6307339959980071323</id><published>2010-07-08T09:43:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:41:20.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Terlambat Dewasa (2)</title><content type='html'>Batas waktu untuk menjadi dewasa adalah hal yang sangat relatif. Walaupun begitu, masyarakat sudah mengambil perannya untuk menentukan batas waktu ini. Masyarakat pada umumnya menilai bahwa waktunya seseorang untuk menjadi dewasa antara lain saat orang itu sudah memasuki dunia kerja atau saat orang itu sudah memasuki usia menikah. Sementara besaran usia dewasa yang pasti masih bersifat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat atau tidaknya seseorang untuk menjadi dewasa memang seyogyanya dilihat dari besarnya tanggung jawab yang sudah seharusnya dia emban. Saat seseorang sudah harus mengemban tanggung jawab seberat 100 kg, maka orang itu dapat dikatakan terlambat dewasa bila dia memilih untuk mengemban hanya 10 kg saja atau bahkan melarikan diri dari tanggung jawab. Cara ini pun masih bersifat relatif karena untuk menentukan besarnya tanggung jawab yang SEHARUSNYA diemban seseorang itu pun bukan masalah mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menentukan apakah seseorang itu terlambat dewasa atau tidak sebab masalah ini umumnya bersifat subjektif. Seseorang menjadi terlambat dewasa kemungkinan besar karena orang-orang di sekitar dia menganggapnya seperti itu. Kata-kata seperti "Kamu kok masih bertingkah seperti anak kecil saja?!" atau "Kenapa kamu tidak pernah bisa bertanggung jawab dengan baik?!" merupakan tanda-tanda terlambatnya seseorang menjadi dewasa. Penilaian-penilaian ini tentunya sangat subjektif terhadap pihak-pihak yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, masalah yang sebenarnya bukan ada pada kata "terlambat dewasa". Masalah yang sebenarnya justru ada pada dampak keterlambatan ini, yaitu saat seseorang menjadi "tidak pernah dewasa". Seseorang yang masuk ke dalam tahap "terlambat dewasa" itu sangat dimungkinkan untuk masuk ke dalam tahap "tidak pernah dewasa". Hal ini terkait erat dengan sifat alami manusia dalam proses belajar dan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui bersama, usia seseorang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Kemampuan belajar ini mencakup kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang baru dan menerapkan hasil belajarnya itu ke dalam hidupnya. Kemampuan belajar ini tidak terbatas pada pendidikan yang bersifat formal saja, tapi meluas kepada segala sesuatu yang dipelajari seseorang dalam hidupnya untuk kemudian membantunya membentuk sikap dan kepribadiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersambung ...&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-6307339959980071323?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/6307339959980071323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6307339959980071323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/6307339959980071323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-2.html' title='Terlambat Dewasa (2)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7011720795831106281</id><published>2010-07-07T16:39:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:41:20.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Terlambat Dewasa (1)</title><content type='html'>Menjadi dewasa adalah sebuah proses berkesinambungan yang membutuhkan waktu lama. Saya bahkan berani mengatakan bahwa proses untuk menjadi dewasa ini adalah proses sepanjang masa. Proses menjadi dewasa yang dilalui seseorang hanya akan berhenti saat orang tersebut meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena grafik kedewasaan seseorang tidak stabil begitu saja. Setiap orang yang BERUBAH menjadi dewasa harus tetap berusaha untuk MEMPERTAHANKAN kedewasaannya. Proses mempertahankan kedewasaan ini yang menjadi tugas seumur hidup setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “terlambat dewasa” yang menjadi judul tulisan ini lebih banyak berkaitan dengan bagian pertama dari proses menjadi dewasa yaitu BERUBAH. Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti mengalami perubahan ini. Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti mengalami proses untuk menjadi dewasa. Hanya saja kecepatan proses menjadi dewasa untuk masing-masing individu itu tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan seseorang. Tingkat pendidikan seseorang merupakan salah satu faktor yang signifikan. Umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin terbuka pikirannya. Alhasil semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin matang pola pikirnya. Kematangan pola pikir ini menentukan tingkat kedewasaan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ekonomi seseorang pun dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan. Orang yang hidup dengan berbagai keterbatasan umumnya lebih mandiri ketimbang orang yang terbiasa hidup mewah. Hal ini dikarenakan orang yang terbiasa hidup mewah itu juga terbiasa dilayani. Pada umumnya sulit bagi seseorang yang terbiasa dilayani untuk tidak bergantung pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan pun merupakan salah satu gerbang menuju tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Dengan menikah, setiap orang diharuskan bergerak ke arah keselerasan dengan pasangannya. Untuk melakukan hal ini tentunya diperlukan pengorbanan. Sifat egois harus dikendalikan dengan baik untuk menjaga keutuhan pernikahan dan sifat mengalah pun perlu dilestarikan. Proses mengendalikan sifat egois dan melestarikan sifat mengalah itu sendiri merupakan langkah-langkah menuju kedewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat kedewasaan seseorang. Bila ada sesuatu yang dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir, cara seseorang bersikap, dan cara seseorang bertingkah, maka sesuatu itu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan orang itu. Faktor-faktor ini tentunya tidak sama bagi setiap orang. Kalaupun ada yang sama, besaran pengaruhnya akan berbeda untuk masing-masing individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ada orang lulusan S1 yang tidak lebih dewasa dibandingkan orang lulusan SMU. Kadang ada orang yang hidup mewah namun tetap bisa mengendalikan dirinya untuk menjadi mandiri. Kadang ada orang yang menikah tapi pernikahannya tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap sikap dan tingkah  lakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan seseorang untuk menjadi dewasa memang berbeda-beda. Ini yang menjadi dasar mengapa ada istilah "terlambat dewasa". Perbedaan kecepatan ini yang membuat pencapaian kedewasaan setiap orang berbeda bila diukur pada usia yang sama. Ada orang yang di usia 22 tahun sudah berani mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ada orang yang di usia 28 tahun masih saja ingin hidup sebebas-bebasnya tanpa ada tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berusia 28 tahun pada ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh orang yang terlambat dewasa. Akan tetapi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa 28 tahun itu sebagai tolok ukur keterlambatan. Definisi "terlambat" itu sendiri sangat bergantung pada definisi "tepat waktu". Kita perlu menentukan terlebih dahulu batas waktu untuk menjadi dewasa sebelum mengatakan bahwa seseorang terlambat dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersambung ...&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7011720795831106281?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7011720795831106281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7011720795831106281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7011720795831106281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/07/terlambat-dewasa-1.html' title='Terlambat Dewasa (1)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-1412891304671043139</id><published>2010-06-02T09:04:00.002+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>How to Train Your (Viking) Son (3)</title><content type='html'>Sambungan dari: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son-2.html" target="_blank"&gt;http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son-2.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran anak itu sendiri mungkin akan pasif bila mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Di rentang usia ini, seorang anak sangat bergantung pada keputusan-keputusan yang dibuat oleh ayahnya. Jadi ayahnya harus berperan aktif membantu anaknya berkembang. Peran anak ini akan berkembang bila mereka sudah memasuki usia remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga keharmonisan hubungan ayah dan anak, penting bagi seorang anak untuk menanamkan pikiran positif terhadap setiap sikap dan keputusan yang dibuat ayahnya. Setiap anak (di usia remaja atau lebih tua) harus bisa berpikir positif bahwa apa yang dilakukan ayahnya adalah demi kebaikan mereka. Dengan begitu setiap anak mampu menerima dan menjalankan saran-saran atau arahan-arahan dari ayahnya untuk disesuaikan dengan bakat dan minatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Hiccup, &lt;b&gt;sikap positif itu akan membuahkan hasil yang positif&lt;/b&gt;. Seorang anak tidak akan pernah berhenti berkembang bila mereka mempertahankan sikap positif. Yang penting untuk dilakukan oleh seorang anak adalah membuktikan bahwa dirinya bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Dengan potensi yang maksimal itu pun seorang anak bisa menjadi sukses walaupun berbeda dengan kesuksesan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemauan ayah untuk membimbing anak sesuai bakat dan minatnya serta kemauan anak untuk selalu berpikir positif akan terbentuk dengan mudah bila didukung dengan komunikasi yang baik di antara keduanya. Bahkan masalah yang terjadi antara Stoick dan Hiccup tidak akan terjadi bila mereka mampu berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi adalah hal yang krusial untuk menjaga keharmonisan dalam sebuah hubungan. Oleh karena itu seorang ayah perlu menemukan cara untuk berbicara dengan anaknya dan setiap anak pun (bila mereka sudah cukup umur) perlu menemukan cara untuk berbicara dengan ayahnya. Yakinlah bahwa semua ini bukanlah hal yang mudah. Tapi kita semua tahu bahwa "&lt;i&gt;No Pain, No Gain!&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat melatih anak (bagi ayah) dan berlatih (bagi anak) untuk menjadi seorang manusia luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Versi PDF: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-1412891304671043139?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/1412891304671043139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/06/how-to-train-your-viking-son-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1412891304671043139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/1412891304671043139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/06/how-to-train-your-viking-son-3.html' title='How to Train Your (Viking) Son (3)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7129275493271045803</id><published>2010-05-31T09:55:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>How to Train Your (Viking) Son (2)</title><content type='html'>Sambungan dari: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son.html" target="_blank"&gt;http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun semakin ditentang oleh ayahnya, sikap positif Hiccup tidak berhenti. Hiccup justru semakin bertekad untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa menjadi seorang Viking dengan caranya sendiri; tidak dengan cara dan budaya orang Viking pada umumnya. Perjuangannya membuahkan hasil karena akhirnya ayah Hiccup mau menerima Hiccup apa adanya; lebih tepatnya menerima dengan penuh kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin banyak orang pernah mengalami hal yang serupa, baik sebagai Hiccup maupun sebagai Stoick. Akan tetapi tidak semua orang yang mengalami hal ini juga menemukan akhir yang bahagia seperti cerita Stoick dan Hiccup. Kadang perselisihan -atau lebih tepatnya kurangnya sikap saling mengerti- antara ayah dan anak itu berujung pada hubungan yang tidak harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari film tersebut dan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjaga keharmonisan hubungan ayah-anak. Dalam hal ini, masing-masing ayah dan anak memiliki peran yang vital. Keharmonisan hubungan ayah dan anak hanya bisa terbentuk dengan rasa pengertian dan kepedulian dari ayah terhadap anak dan dari anak terhadap ayah; &lt;b&gt;dua arah&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah yang sukses tentu berharap anaknya pun mengikuti jejak kesuksesannya. &lt;b&gt;Ini adalah kesalahan umum yang dilakukan seorang ayah. &lt;/b&gt;Seorang ayah hendaknya menyadari bahwa anaknya tidak sama dengan dirinya. Seorang anak memiliki jalan hidup yang berbeda dengan ayahnya. Seorang dokter yang sukses bisa jadi memiliki anak dengan bakat seni yang hebat. Seorang pegawai negeri yang sukses bisa jadi memiliki anak dengan bakat wiraswasta yang kuat. Setiap ayah harus bisa berhenti meletakan beban "menjadi seperti ayah" di pundak anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah berperan penting dalam membantu menemukan potensi yang dimiliki oleh anaknya. Setelah potensi itu ditemukan, ayah berperan untuk membantu anaknya mengasah potensi tersebut. Dengan begitu, kolaborasi ayah dan anak ini akan membentuk seorang pemuda dengan kemampuan yang hebat sesuai bakat dan minatnya sendiri; &lt;b&gt;bukan sesuai bakat dan minat ayahnya sendiri&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah perlu membiarkan anaknya mencoba banyak hal yang menarik minatnya. Kalaupun pilihan anak itu salah, biarkan mereka mengambil pilihan itu. Salah memilih itu dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk anak-anak. Yang perlu dijaga oleh para ayah adalah jangan sampai kesalahan yang dilakukan itu adalah kesalahan yang fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersambung ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Versi PDF: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7129275493271045803?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7129275493271045803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7129275493271045803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7129275493271045803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son-2.html' title='How to Train Your (Viking) Son (2)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-2825979404733735196</id><published>2010-05-30T08:39:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.675+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>How to Train Your (Viking) Son</title><content type='html'>Saya tidak pernah menyangka bahwa cerita dalam film &lt;i&gt;How to Train Your Dragon&lt;/i&gt; banyak menyinggung hubungan antara ayah dan anak. Sebelumnya saya pikir cerita itu akan terpusat pada aksi tokoh protagonis dan tidak melibatkan ayah dan anak. Saya justru membayangkan sekumpulan tokoh protagonis (entah dalam usia remaja atau lebih tua) dalam misi untuk menemukan dan melatih naga-naga sehingga dapat digunakan untuk berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TAHAal2bBoI/AAAAAAAADbI/VvVPlrXsbdY/s1600/how-to-train-your-dragon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="134" src="http://3.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TAHAal2bBoI/AAAAAAAADbI/VvVPlrXsbdY/s200/how-to-train-your-dragon.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar 1&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ternyata film &lt;i&gt;How to Train Your Dragon&lt;/i&gt; ini bercerita banyak tentang tokoh utamanya, Hiccup, yang berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa menjadi bagian dari klan Viking yang kuat. Kenyataannya hal ini sulit dilakukan karena Hiccup memiliki “keterbatasan tertentu” -sengaja saya tidak paparkan- yang membuat ayahnya tidak pernah bisa menerima dia untuk menjadi seorang Viking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak aspek hubungan ayah-anak yang dimunculkan dalam film ini. Kebanyakan aspek-aspek yang dimunculkan ini adalah aspek-aspek umum yang bisa kita temukan dalam interaksi sehari-hari antara seorang ayah dan anak laki-laki. Entah itu antara kita dengan ayah kita, antara kita dengan anak laki-laki kita, antara sepupu dengan paman kita, atau antara ayah dan anak laki-laki mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film tersebut, ayah Hiccup yang bernama Stoick adalah pemimpin bangsa Viking yang disegani. Kondisi ini kerap menjadi kendala dalam perkembangan anak karena tipe ayah yang sukses seperti Stoick ini seringkali memiliki harapan yang tinggi -bahkan terlalu tinggi- terhadap anaknya. Dalam film tersebut, Stoick benar-benar berharap Hiccup dapat tumbuh menjadi orang Viking yang dapat dia banggakan. Dan seperti yang sudah saya paparkan di atas, harapan ini bisa dikatakan sebuah mimpi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi positifnya adalah Hiccup tidak serta-merta berontak. Hiccup masih berusaha memenuhi harapan ayahnya. Tapi kenyataannya semua hal yang dilakukan Hiccup itu sia-sia. Bukannya berpikir positif terhadap usaha yang dilakukan anaknya, Stoick justru semakin kehilangan kepercayaannya kepada Hiccup. Masalah ini menjadi semakin pelik dengan buruknya komunikasi di antara mereka berdua. Baik Hiccup maupun ayahnya seperti terhalang sebuah tembok besar saat mereka mencoba menyampaikan maksud mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersambung ...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;*Gambar 1 diambil dari http://www.parentpreviews.com/legacy-pics/how-to-train-your-dragon.jpg&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Versi PDF: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-2825979404733735196?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/2825979404733735196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2825979404733735196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/2825979404733735196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son.html' title='How to Train Your (Viking) Son'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TAHAal2bBoI/AAAAAAAADbI/VvVPlrXsbdY/s72-c/how-to-train-your-dragon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-600927598028011599</id><published>2010-05-26T11:48:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T01:43:42.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>2000 Rupiah yang Tidak Halal</title><content type='html'>Pagi ini saya mendapat kesempatan untuk &lt;i&gt;naik&lt;/i&gt; kendaraan umum (Bus 46) tanpa bayar. Bukan karena saya merupakan personil kepolisian atau militer, bukan juga karena Bus 46 itu sedang mengadakan promo. Penyebab utamanya adalah keteledoran sang Kondektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus 46 yang saya tumpangi itu memiliki 3 pintu masuk penumpang, yaitu depan, tengah, dan belakang. Saya masuk dari pintu belakang dan Alhamdulillah mendapat tempat duduk di bagian belakang bus. Setelah saya menyusul beberapa penumpang lain lewat pintu belakang bus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan dari Slipi sampai kantor, Kondektur tidak kunjung bergerak ke belakang. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Entah karena dia tidak melihat ada penumpang yang masuk dari belakang atau bagaimana. Yang pasti Kondektur bergerak tidak jauh dari bagian tengah bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung bus agak padat -maklum &lt;i&gt;rush hour&lt;/i&gt;- saya memutuskan menyiapkan uang 2.000 rupiah untuk dibayarkan kepada Kondektur saat saya turun. Tapi harapan tidak bertemu dengan kenyataan. Saat saya turun di halte dekat kantor, Kondektur itu justru berada di dalam bus -tidak di pinggir pintu seperti kondektur pada umumnya. Alhasil uang 2.000 rupiah itu masih saya pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, saya memasukan uang itu ke saku belakang celana untuk memisahkannya dengan uang saya yang lain. Saya langsung jalan ke kantor. Sesampainya di kantor, saya mampir ke masjid kantor dan mencari kotak amal. Uang 2.000 rupiah itu saya masukan ke dalam kotak amal dengan diniatkan atas nama siapa pun orang yang seharusnya mendapatkan uang itu -mungkin antara Kondektur, Supir, atau Pengelola bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari masjid, saya kembali ke kantor dan meneruskan aktifitas seperti biasa tanpa lagi memikirkan masalah uang 2.000 rupiah itu -kecuali saat saya membuat tulisan ini. Saya tidak tahu apakah langkah yang saya lakukan itu benar atau tidak. Mungkin seharusnya saya kejar Kondektur itu ke bagian tengah bus untuk memberikan uang 2.000 rupiah itu. Tapi sayangnya pilihan yang terakhir itu agak sulit saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, perasaan bersalah saya hilang saat uang itu masuk ke dalam kotak amal. Paling tidak saya tahu bahwa uang itu tidak akan saya gunakan untuk kepentingan saya dan keluarga saya. Walaupun jumlah 2.000 itu kecil, saya tetap menganggap uang itu bukan hak saya. Semoga saja apa yang saya lakukan sudah mengembalikan uang itu kepada yang berhak, walaupun saya melakukannya secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim memang selayaknya menjaga kebersihan nafkahnya. Dengan menjaga dari yang kecil, harapannya yang besar pun ikut terjaga. Kalau untuk uang 2.000 rupiah saja saya tidak mau mengambil yang kotor, maka untuk uang yang jumlahnya besar pun -misalnya 25 milyar- tidak akan saya ambil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-600927598028011599?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/600927598028011599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/2000-rupiah-yang-tidak-halal.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/600927598028011599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/600927598028011599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/2000-rupiah-yang-tidak-halal.html' title='2000 Rupiah yang Tidak Halal'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-7681062734871819037</id><published>2010-05-14T15:19:00.003+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:13.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Tiga Tahap Pertumbuhan Anak Laki-Laki (3)</title><content type='html'>Sambungan dari: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki-2.html" target="_blank"&gt;http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki-2.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap terakhir adalah usia tiga belas tahun sampai seterusnya. Pada tahap ini, anak laki-laki pada dasarnya masih dalam tahap belajar menjadi laki-laki. Perbedaan yang mencolok dengan tahap sebelumnya adalah pergeseran minat anak dari ayah ke pria dewasa pada umumnya. Pada tahap ini, perhatian anak laki-laki akan tertuju pada dunia yang lebih luas. Peran ayah dan ibu di tahap ini akan menurun, tapi jangan sampai anak laki-laki itu dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa pendamping. Yang paling penting di tahap pertumbuhan ini adalah menemukan pria dengan taraf pemikiran yang matang -selain anggota keluarga- untuk membantu anak laki-laki belajar menjadi pria yang bertanggung jawab dan mandiri di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap pertumbuhan ketiga ini, seorang anak laki-laki mulai memiliki keinginan untuk mengambil peran dalam masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membiarkan anak laki-lakinya mengambil peran sambil senantiasa memantau perkembangan anaknya dari jauh. Sekali lagi saya tegaskan bahwa hal yang penting dalam tahap ini adalah menemukan pendamping atau pembimbing yang tepat. Dengan begitu anak laki-laki tidak merasa dirinya dikekang tapi dalam waktu yang sama tetap dijaga agar tidak mengambil peran yang salah. Keberhasilan menemukan sosok pria dewasa yang mampu membimbing seorang anak laki-laki merupakan faktor utama dalam menentukan berhasil atau tidaknya anak laki-laki menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kita berhasil menemukan pembimbing atau tidak, anak laki-laki pun akan dengan sendirinya mencari. Jika seorang anak laki-laki merasa tidak berhasil menemukannya, mereka akan beralih kepada teman-teman mereka. Teman-teman mereka itu yang akan menjadi pembimbing anak laki-laki kita. Kalau itu sudah terjadi, kelompok yang terbentuk itu adalah sekelompok orang yang saling membimbing tanpa kualifikasi yang memadai untuk membimbing. Wajar saja akhirnya kalau sekelompok anak laki-laki itu suka memberontak, tidak peduli dengan lingkungannya, suka merusak, atau bahkan terjerumus pada hal-hal negatif seperti seks bebas atau obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin banyak orang tua akan sependapat kalau anak laki-laki di usia tiga belas tahun ke atas cenderung tidak mau mendengarkan orang tuanya. Pada saat yang sama, anak laki-laki di usia ini justru lebih mendengarkan kata-kata orang lain. Kalau orang tua memaksakan pendapatnya, kemungkinan besar hasilnya adalah pertengkaran antara orang tua dan anak. Kalau saja anak laki-laki di usia ini memiliki pria dewasa yang mengawasinya, pertengkaran orang tua dan anak itu dapat dihindari dan anak itu pun tidak akan mendapat celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya pada tahap pertumbuhan yang ketiga ini, setiap anak laki-laki sedang berusaha menemukan jati dirinya. Mereka mungkin akan mencoba berbagai hal baru yang mereka temukan di dunia luar. Orang tua yang terlalu mengekang mereka pasti akan mendapat perlawanan. Kalau anak laki-laki tidak dapat melawan orang tuanya secara frontal, maka dapat dipastikan mereka akan &lt;i&gt;main belakang&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan anak laki-laki itu menemukan sendiri jati diri mereka. Yang dapat dilakukan oleh orang tua pada hakikatnya adalah menjaga agar mereka tidak salah melangkah. Walaupun keberadaan pria dewasa lain sebagai pembimbing itu penting, peran orang tua masih tetap vital dalam menentukan langkah-langkah yang diambil anaknya untuk menemukan peran dan jati diri mereka dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bidduplh, Steve. 2005. &lt;i&gt;Raising Boys&lt;/i&gt;, alih bahasa oleh Daniel Wirajaya, S.S. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Versi PDF: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/ez1IdbOm/TigaTahapPertumbuhanAnakLakiLa.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/ez1IdbOm/TigaTahapPertumbuhanAnakLakiLa.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040729483019543697-7681062734871819037?l=asyafrudin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asyafrudin.blogspot.com/feeds/7681062734871819037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7681062734871819037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040729483019543697/posts/default/7681062734871819037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki-3.html' title='Tiga Tahap Pertumbuhan Anak Laki-Laki (3)'/><author><name>Amir Syafrudin</name><uri>https://profiles.google.com/112470967017240320766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040729483019543697.post-5546814814423748417</id><published>2010-05-12T15:14:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T01:06:50.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak'/><title type='text'>Tiga Tahap Pertumbuhan Anak Laki-Laki (2)</title><content type='html'>Sambungan dari: &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki.html" target="_blank"&gt;http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/tiga-tahap-pertumbuhan-anak-laki-laki.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahap selanjutnya, dari usia enam tahun sampai tiga belas tahun, peran ayah menjadi signifikan. Steve Biddulph menyebutkan bahwa pada usia enam tahun itu seolah-olah “tombol” untuk menjadi laki-laki dalam diri anak laki-laki ini dihidupkan. Pada usia ini, anak laki-laki semakin mendekat kepada pria-pria yang ada di dekatnya. Entah itu ayahnya, pamannya, atau sosok pria lain di dekatnya, anak laki-laki itu akan mendekat karena mereka ingin “belajar menjadi laki-laki”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, menurut saya, tombol kelaki-lakian itu belum tentu selalu dihidupkan di usia enam tahun. Saya rasa waktu untuk menghidupkan tombol ini kembali kepada kedekatan seorang anak laki-laki dengan para pria di sekitarnya. Seorang anak bisa saja menghidupkan tombol kelaki-lakian ini sebelum usia enam tahun kalau dia cukup dekat dengan ayahnya. Sebaliknya seorang anak bisa jadi menghidupkan tombol kelaki-lakian ini setelah melewati usia enam tahun karena dia terlalu bergantung pada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya pada tahap kedua dalam hidup anak laki-laki ini, mereka sedang belajar untuk menjadi laki-laki. Seorang anak perlu mengunduh perangkat lunak -meminjam istilah Steve Biddulph- kelaki-lakian dari pria terdekat di sekitarnya. Peran ayah di sini tentunya sangat besar karena seharusnya sosok pria terdekat dengan seorang anak adalah ayahnya. Di tahap ini, seorang ayah HARUS berusaha menyediakan waktu (dan kadar pengertian yang memadai) bagi anak-anaknya sehingga anaknya pun tidak kebingungan menemukan sosok pria yang bisa dia tiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran ayah di tahap ini memang sangat besar, tapi bukan berarti peran ibu hilang sama sekali. Ibu dengan kelembutannya tetap diperlukan kehadirannya. Salah satu alasan penting kehadiran ibu adalah agar anak laki-laki ini tetap mempertahankan sikap lembut yang ada di dalam dirinya. Saat ayahnya menjadi terlalu tegas (atau bahkan kasar), sikap lembut dalam anak laki-laki akan timbul. Bila dia tidak menemukan tempat untuk menyalurkan kelembutannya, anak laki-laki ini akan menutup diri dari kelembutan dan akan tumbuh menjadi laki-laki yang tegang dan rapuh. Dengan adanya ibu, anak laki-laki tahu bahwa kelembutannya itu baik dan akan selalu disambut oleh ibu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dijaga dalam kaitannya dengan peran ibu adalah porsi. Seberapa sering anak laki-laki itu kembali kepada ibunya, seberapa banyak perhatian ibu yang mereka butuhkan, seberapa dekat mereka dengan ibunya. Pertanyaan-pertanyaan itu yang perlu diperhatikan. Jangan sampai niat baik untuk mempertahankan kelembutan yang dimiliki anak laki-
