Tak terasa sudah 1 (satu) bulan lebih saya tidak menulis di sini. Penyebabnya tentu saja antara tidak ada waktu atau memang tidak ada ide; mungkin juga tidak ada minat. Satu hal yang pasti, kehadiran Yelena telah menyita banyak waktu senggang saya. Apalagi saya kehilangan satu tenaga untuk membantu di rumah, tentu saja keterlibatan saya dalam mengurus Yelena menjadi lebih penting.
Yang patut saya syukuri adalah timing. Saat "berbagai tekanan eksternal" membuat saya dan istri saya berpikir untuk menambah anak, kami memutuskan bahwa waktu yang tepat adalah setelah Raito dan Aidan berusia 5 (lima) tahun. Alasan utamanya adalah karena kami berharap di usia 5 (lima) tahun itu Raito dan Aidan sudah cukup mandiri dan tidak lagi terlalu bergantung pada orang tuanya.
Alhamdulillah harapan kami menjadi kenyataan. Pola didikan kami yang mengarahkan Raito dan Aidan untuk terbiasa hidup mandiri pun membuahkan hasil. Saat ini, Raito dan Aidan sudah bisa makan sendiri, pakai baju sendiri, buang air kecil sendiri, bangun pagi sendiri, frekuensi mengompol saat tidur malam pun sampai ke level 0%, dan melakukan berbagai aktivitas sendiri. Mereka bisa melakukan hampir semua keterampilan mendasar tanpa perlu bantuan dari orang dewasa, baik dari pembantu maupun orang tua mereka.
Mereka tidak lagi butuh perhatian dan pengawasan ekstra sebagaimana saat mereka berumur 3 (tiga) tahun. Mereka tidak lagi harus ditemani orang dewasa saat mereka bermain. Mereka tetap senang bila saya atau istri saya menemani mereka main, tapi kehadiran kami sudah tidak lagi mandatory. Selain itu, salah satu keuntungan mereka terlahir kembar dengan jenis kelamin yang sama adalah mereka tidak pernah kesulitan menemukan teman bermain.
Jarak 5 (lima) tahun adalah keputusan yang tepat. Saya bersyukur perihal timing karena walaupun kehadiran Yelena terbilang mendadak, waktunya masih sesuai dengan harapan. Raito dan Aidan tidak menganggap Yelena sebagai saingan baru dalam kompetisi mencari perhatian ayah dan ibu. Sebaliknya, Raito dan Aidan dengan mudah menerima Yelena sebagai adik yang perlu dirawat dan dilindungi oleh mereka; tidak terdeteksi adanya kecemburuan internal yang dipancarkan oleh Raito atau Aidan.
Kemandirian Raito dan Aidan di usia 5 (lima) tahun ini bukan hanya masalah "perhatian", tapi juga mengurangi beban rumah tangga dengan signifikan. Dampak positif yang paling terasa adalah pada jumlah pembantu rumah tangga. Sebelumnya kami membutuhkan 2 (dua) orang pembantu rumah tangga untuk "mengendalikan" masing-masing anak. Saat ini, 1 (satu) orang pembantu pun sudah mencukupi untuk membantu mengurus Raito dan Aidan. Contoh yang paling nyata adalah urusan makan. Saat ini, Raito dan Aidan tidak perlu lagi disuapi saat makan. Jadi waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menyuapi Raito dan Aidan dapat dialihkan ke urusan lain.
Intinya ada pada dua kata, yaitu "perhatian" dan "kemandirian". Di usia 5 tahun, Raito dan Aidan membutuhkan lebih sedikit perhatian dari orang tuanya dan sudah memiliki keterampilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka memang tidak sepenuhnya berdiri sendiri, tapi setidaknya mereka cukup mandiri untuk membiarkan saya dan istri saya meluangkan lebih banyak waktu untuk mengurus Yelena.
Satu-satunya kendala yang saya rasakan adalah saya harus membiasakan kembali semua proses mengurus anak. Popoknya, ompolnya, begadangnya, rewelnya, lelahnya, dan berbagai perintilan lain yang saya hadapi bersama Raito dan Aidan akhirnya terulang kembali bersama Yelena; perbedaannya adalah kuantitas dan frekuensinya menurun 50%. Dengan mengambil jarak 5 (lima) tahun ini, repotnya mengurus anak kadang terasa bertele-tele.
Kenapa tidak sekalian repot saja? Kenapa tidak sekalian menambah anak saat Raito dan Aidan berusia 2 (dua) tahun? Ini hanya masalah pilihan. Saya dan istri saya memilih untuk memaksimalkan perhatian yang bisa kami berikan kepada Raito dan Aidan sebelum kami mengalihkannya kepada anak lain. Walau bagaimana pun, perhatian kami pasti akan diarahkan kepada anak yang lebih membutuhkan kami. Dengan begitu, waktu dan tenaga yang biasa kami curahkan untuk Raito dan Aidan akan berkurang secara signifikan. Hal ini yang kami hindari. Kami tidak ingin Raito dan Aidan membuat "pengorbanan" sebesar itu demi kehadiran seorang adik.
Pada kenyataannya, Yelena hadir saat Raito dan Aidan berusia 5 (lima) tahun. Yelena hadir saat Raito dan Aidan sudah terbiasa melakukan banyak hal tanpa bantuan orang dewasa. Yelena hadir saat perhatian yang dibutuhkan oleh Raito dan Aidan dari kami sudah jauh berkurang. Kondisi ini yang ingin saya syukuri karena meladeni Yelena pun menjadi jauh lebih mudah.
Tampilkan postingan dengan label Kembar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kembar. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 Agustus 2013
Sabtu, 22 Desember 2012
Rapor Pertama Raito Aidan
Akhirnya setelah 1 (satu) semester bersenang-senang belajar di TK setempat, Raito dan Aidan pun menerima rapor pertama mereka. Inilah rapor pertama dalam hidup mereka; salah satu indikator penting yang akan menentukan arah bimbingan saya dan ibu mereka. Tentu saja yang deg-degan saat menerima rapor itu bukan Raito dan Aidan, tapi justru saya dan ibu mereka.
Sejak Raito dan Aidan baru belajar merangkak, saya dan ibu mereka mencoba untuk terus memperhatikan perkembangan kecerdasan dan keterampilan mereka. Dengan perbedaan yang begitu kontras di antara mereka, kami sudah menduga bahwa mereka memiliki bakat dan minat yang juga berbeda. Ya, mereka memang beda. Bukan hanya beda di paras, warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, dan berbagai segi fisik lainnya, mereka pun berbeda dalam tahap-tahap perkembangan mereka.
Aidan lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Dia lebih dulu belajar berbalik badan, merangkak, merambat, dan pada akhirnya berjalan. Perbandingan yang paling kontras adalah saat Aidan sudah gemar merangkak dan merambat, Raito masih merayap gaya dada. Benar-benar sebuah kenangan manis mengingat hal itu. Raito sendiri lebih unggul dalam perkembangan motorik halus. Cara dia memegang dan menggenggam sesuatu, terutama alat tulis, memperlihatkan keunggulannya dibandingkan Aidan. Genggaman Raito begitu kuat sampai Aidan yang badannya lebih besar pun lebih sering kalah saat merekatarik tambang tarik-menarik berebut mainan.
Seiring waktu, perkembangan mereka berjalan stabil. Saya tidak merasakan kekurangan apa pun dalam perkembangan fisik dan mental Raito dan Aidan. Hanya saja saat masuk TK, saat mereka akhirnya berhadapan dengan "pendidikan formal", Raito mulai terlihat dominan. Perkembangan Raito terlihat lebih baik dibandingkan Aidan dalam banyak hal. Ini yang saya lihat langsung di rapor mereka.
Raito unggul dalam menghafal, berbicara (bercerita), menggambar, melukis, berhitung, dan banyak hal lainnya. Bahkan, yang cukup mengherankan, Raito pun lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Ini kesimpulan singkat yang saya dapatkan dari membandingkan rapor mereka. Hanya saja Raito ini dinilai kurang dalam urusan manajemen emosi, sementara Aidan dapat dikatakan unggul dalam hal menahan diri.
Pada titik ini, saya yakin para penggemar bagian otak akan mengatakan Raito itu dominan otak kirinya. Sementara Aidan sendiri lebih dominan otak kanannya. Hal itu mungkin saja benar, tapi saya masih menganggap pemisahan seperti itu terlalu dini untuk anak seusia mereka. Saya sendiri merasa, setelah membaca beberapa karakteristik otak-kiri dan otak-kanan, saya bisa memaksimalkan kedua bagian otak itu. Kalau saya yang sudah "uzur" saja bisa, saya pun yakin kedua anak-anak saya yang masih berumur 4,5 tahun itu masih bisa berkembang lebih jauh lagi.
Lalu bagaimana dengan "kekalahan" Aidan? Sampai saat ini saya lebih cenderung menduga bahwa Aidan termasuk tipe orang yang tidak suka dengan metode pengajaran formal di kelas. Raito sendiri memang lebih mudah untuk fokus pada sesuatu, sementara Aidan perlu dibangkitkan terlebih dahulu minatnya untuk bisa fokus. Kalau mereka sudah fokus pada sesuatu, saya tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan kemampuan mereka untuk memperhatikan dan mempelajari sesuatu itu.
Jadi fokus saya dan ibu mereka lebih kepada Aidan; tentu saja dengan tidak melupakan Raito. Yang perlu kami cari tahu untuk saat ini adalah bagaimana meningkatkan minat belajar Aidan dan membiasakan Aidan untuk fokus (tidak mudah teralihkan). Kalau kami berhasil melakukan itu, kami rasa tidak sulit bagi Aidan untuk tetap keep up dengan metode pengajaran formal di kelas.
Sejak Raito dan Aidan baru belajar merangkak, saya dan ibu mereka mencoba untuk terus memperhatikan perkembangan kecerdasan dan keterampilan mereka. Dengan perbedaan yang begitu kontras di antara mereka, kami sudah menduga bahwa mereka memiliki bakat dan minat yang juga berbeda. Ya, mereka memang beda. Bukan hanya beda di paras, warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, dan berbagai segi fisik lainnya, mereka pun berbeda dalam tahap-tahap perkembangan mereka.
Aidan lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Dia lebih dulu belajar berbalik badan, merangkak, merambat, dan pada akhirnya berjalan. Perbandingan yang paling kontras adalah saat Aidan sudah gemar merangkak dan merambat, Raito masih merayap gaya dada. Benar-benar sebuah kenangan manis mengingat hal itu. Raito sendiri lebih unggul dalam perkembangan motorik halus. Cara dia memegang dan menggenggam sesuatu, terutama alat tulis, memperlihatkan keunggulannya dibandingkan Aidan. Genggaman Raito begitu kuat sampai Aidan yang badannya lebih besar pun lebih sering kalah saat mereka
Seiring waktu, perkembangan mereka berjalan stabil. Saya tidak merasakan kekurangan apa pun dalam perkembangan fisik dan mental Raito dan Aidan. Hanya saja saat masuk TK, saat mereka akhirnya berhadapan dengan "pendidikan formal", Raito mulai terlihat dominan. Perkembangan Raito terlihat lebih baik dibandingkan Aidan dalam banyak hal. Ini yang saya lihat langsung di rapor mereka.
Raito unggul dalam menghafal, berbicara (bercerita), menggambar, melukis, berhitung, dan banyak hal lainnya. Bahkan, yang cukup mengherankan, Raito pun lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Ini kesimpulan singkat yang saya dapatkan dari membandingkan rapor mereka. Hanya saja Raito ini dinilai kurang dalam urusan manajemen emosi, sementara Aidan dapat dikatakan unggul dalam hal menahan diri.
Pada titik ini, saya yakin para penggemar bagian otak akan mengatakan Raito itu dominan otak kirinya. Sementara Aidan sendiri lebih dominan otak kanannya. Hal itu mungkin saja benar, tapi saya masih menganggap pemisahan seperti itu terlalu dini untuk anak seusia mereka. Saya sendiri merasa, setelah membaca beberapa karakteristik otak-kiri dan otak-kanan, saya bisa memaksimalkan kedua bagian otak itu. Kalau saya yang sudah "uzur" saja bisa, saya pun yakin kedua anak-anak saya yang masih berumur 4,5 tahun itu masih bisa berkembang lebih jauh lagi.
Lalu bagaimana dengan "kekalahan" Aidan? Sampai saat ini saya lebih cenderung menduga bahwa Aidan termasuk tipe orang yang tidak suka dengan metode pengajaran formal di kelas. Raito sendiri memang lebih mudah untuk fokus pada sesuatu, sementara Aidan perlu dibangkitkan terlebih dahulu minatnya untuk bisa fokus. Kalau mereka sudah fokus pada sesuatu, saya tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan kemampuan mereka untuk memperhatikan dan mempelajari sesuatu itu.
Jadi fokus saya dan ibu mereka lebih kepada Aidan; tentu saja dengan tidak melupakan Raito. Yang perlu kami cari tahu untuk saat ini adalah bagaimana meningkatkan minat belajar Aidan dan membiasakan Aidan untuk fokus (tidak mudah teralihkan). Kalau kami berhasil melakukan itu, kami rasa tidak sulit bagi Aidan untuk tetap keep up dengan metode pengajaran formal di kelas.
Rabu, 07 September 2011
Seminggu Tanpa Pembantu
Pembantu Rumah Tangga (PRT) adalah aset yang berharga; sangat berharga. Kehadiran mereka di dalam tempat tinggal kita memang sangat membantu. Banyak sekali pekerjaan yang mereka tangani sehingga memungkinkan kita memiliki lebih banyak waktu untuk diri kita dan keluarga kita sendiri. Hidup terasa lebih berat tanpa kehadiran PRT. Lebay? Mungkin saja.
Idul Fitri adalah waktu yang paling tepat untuk mengukur nilai PRT dalam kehidupan kita. Sejak semua PRT pamit Cuti Lebaran mulai dari tanggal 28 Agustus 2011, saya dan istri berjibaku mengurus rumah dan keluarga. Rutinitas harian kami pun berubah total. Dari yang biasanya bekerja di belakang meja, pekerjaan kami berubah menjadi urusan bersih-bersih rumah dan menjaga anak-anak.
Bagian sebagian orang, mengurus rumah dan anak adalah pekerjaan mudah; karena sudah terbiasa. Bagi kami (lebih tepatnya bagi saya), mengurus rumah dan anak bukanlah perkara mudah. Bahkan urusan bersih-bersih rumah terasa berat (baca: melelahkan dan membosankan). Untungnya urusan masak-memasak dapat ditangani oleh istri saya. Pengeluaran rumah tangga pun tidak terlalu boros untuk membeli makanan dari luar rumah. Urusan mencuci pakaian pun ditangani istri saya dengan baik, walaupun akhirnya harus mengalah dan mengandalkan jasa cuci kiloan.
Akan tetapi, urusan yang paling menantang buat saya adalah urusan anak-anak. Urusan mandi, makan, toilet, tidur, menenangkan saat marah dan menangis, melerai saat bertengkar, menemani mereka main dan menonton, dan berbagai urusan lainnya, adalah urusan yang jauh lebih melelahkan dibandingkan urusan rumah. Kalau urusan rumah menghabiskan energi lahir, urusan anak-anak itu menghabiskan energi batin. Bagi saya, kehabisan energi batin (capek ati) itu jauh lebih melelahkan dibandingkan kehabisan energi lahir (capek doank).
Untungnya prinsip No Pain No Gain tetap berlaku. Tanpa kehadiran PRT selama Cuti Lebaran ini, saya dan istri saya kembali merasakan pengalaman mengurus anak 24/7. Tidak ada satu detik pun dalam hidup kami tanpa kehadiran anak-anak selama masa Cuti Lebaran ini. Walaupun melelahkan, banyak hal menyenangkan yang kami alami bersama. Banyak pula hal baru (tapi lama) yang saya dan istri saya temukan selama berinteraksi dengan anak-anak kami, Raito dan Aidan.
Anger Management
Di hari-hari biasa, interaksi saya dengan anak-anak itu terbatas pada malam hari saja, kecuali di akhir pekan. Di akhir pekan, saya bisa menghabiskan waktu seharian bersama anak-anak saya. Sangat terasa sekali bedanya selama Cuti Lebaran ini. Naik turunnya emosi saat menghadapi tingkah polah anak-anak benar-benar seperti mengendarai roller coaster. Di satu waktu saya dapat tertawa lepas melihat tingkah laku anak-anak, sementara di waktu yang lain saya merasa ingin menjitaki mereka satu per satu melihat keras kepalanya mereka.
Saya sendiri sadar bahwa mengelola amarah memang tidak pernah semudah membaca berbagai kata-kata bijak atau petunjuk-petunjuk praktis dalam teori pengelolaan amarah. Hanya saja mengurus anak-anak selama PRT tidak ada ini benar-benar membuka mata saya akan sulitnya mengelola amarah. Pada akhirnya, metode-metode pengelolaan amarah (emosi) yang biasa saya terapkan pun seolah-olah tidak memiliki pengaruh apa pun. Sulit sekali mengelola amarah di tengah-tengah keluarga. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.
Sesi Makan yang Melelahkan
Salah satu waktu yang membuat saya ingin menjitaki Raito dan Aidan itu adalah sesi makan, baik makan pagi, makan siang, maupun makan malam. Waktu yang dibutuhkan untuk menyuapi satu anak saja antara 1 s.d. 2 jam. Untung saya dan istri saya bekerja paralel (masing-masing menyuapi 1 anak). Kalau sampai saya atau istri saya harus menyuapi 2 anak, itu artinya butuh waktu 2 s.d. 4 jam untuk menyuapi Raito dan Aidan.
Terlepas dari anger management, satu hal yang saya sadari lewat sesi makan anak-anak adalah anak-anak itu lebih mudah makan saat mereka lapar. Sebelumnya anak-anak saya memiliki jadwal makan pagi, siang, dan malam yang teratur. Akan tetapi, jadwal makan mereka ini kelihatannya tidak sesuai dengan waktu lapar mereka. Oleh karena itu, mereka seringkali terlihat ogah-ogahan saat disuapi.
Saat jadwal makan mereka disesuaikan dengan waktu lapar mereka, sesi makan menjadi lebih cepat. Apalagi kalau makanan yang disajikan adalah makanan favorit mereka. Sesi makan anak-anak dapat berubah menjadi menyenangkan. Mereka kenyang, kami (saya dan istri) senang. Kami pun jadi punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain (baca: istirahat).
Kerja Tim
Hal lain yang membekas dalam benak saya selama PRT mengambil Cuti Lebaran adalah kerja tim. Tim yang mana? Tentu saja duet antara saya dan istri saya. Bahu-membahu bersama istri untuk mengurus rumah dan anak-anak jelas membuat semua urusan terasa lebih ringan. Ada kalanya kami bekerja paralel, ada kalanya kami bekerja bergantian. Tujuan akhirnya adalah semua urusan yang harus dikerjakan itu masuk ke dalam status Completed.
Dalam konteks mengurus anak-anak, kerja tim ini menjadi lebih penting lagi. Kaitannya sangat erat dengan mengelola amarah yang saya paparkan di atas. Saat saya sudah tidak tahan lagi menyikapi tingkah laku Raito dan Aidan, istri saya masuk dan menggantikan. Hal yang sama pun berlaku sebaliknya. Dengan begitu, tidak ada satu pun dari kami yang harus memaksakan diri menahan emosi kami di depan anak-anak.
Masih banyak lagi pengalaman lain yang dapat saya tuangkan dalam tulisan ini, tapi saya rasa tulisan ini akan menjadi terlalu panjang dan tidak nyaman untuk dibaca. Saya yakin Anda (yang sedang membaca tulisan ini) pun memiliki pengalaman yang serupa (tapi tak sama) dengan pengalaman saya ini; terutama kalau Anda memiliki 2 anak laki-laki kembar berumur 3 tahun yang tingkahnya ingin membuat Anda mengeluarkan kamehameha. Silakan berbagi pengalaman hidup Anda tanpa PRT di bagian komentar.
Idul Fitri adalah waktu yang paling tepat untuk mengukur nilai PRT dalam kehidupan kita. Sejak semua PRT pamit Cuti Lebaran mulai dari tanggal 28 Agustus 2011, saya dan istri berjibaku mengurus rumah dan keluarga. Rutinitas harian kami pun berubah total. Dari yang biasanya bekerja di belakang meja, pekerjaan kami berubah menjadi urusan bersih-bersih rumah dan menjaga anak-anak.
Bagian sebagian orang, mengurus rumah dan anak adalah pekerjaan mudah; karena sudah terbiasa. Bagi kami (lebih tepatnya bagi saya), mengurus rumah dan anak bukanlah perkara mudah. Bahkan urusan bersih-bersih rumah terasa berat (baca: melelahkan dan membosankan). Untungnya urusan masak-memasak dapat ditangani oleh istri saya. Pengeluaran rumah tangga pun tidak terlalu boros untuk membeli makanan dari luar rumah. Urusan mencuci pakaian pun ditangani istri saya dengan baik, walaupun akhirnya harus mengalah dan mengandalkan jasa cuci kiloan.
Akan tetapi, urusan yang paling menantang buat saya adalah urusan anak-anak. Urusan mandi, makan, toilet, tidur, menenangkan saat marah dan menangis, melerai saat bertengkar, menemani mereka main dan menonton, dan berbagai urusan lainnya, adalah urusan yang jauh lebih melelahkan dibandingkan urusan rumah. Kalau urusan rumah menghabiskan energi lahir, urusan anak-anak itu menghabiskan energi batin. Bagi saya, kehabisan energi batin (capek ati) itu jauh lebih melelahkan dibandingkan kehabisan energi lahir (capek doank).
Untungnya prinsip No Pain No Gain tetap berlaku. Tanpa kehadiran PRT selama Cuti Lebaran ini, saya dan istri saya kembali merasakan pengalaman mengurus anak 24/7. Tidak ada satu detik pun dalam hidup kami tanpa kehadiran anak-anak selama masa Cuti Lebaran ini. Walaupun melelahkan, banyak hal menyenangkan yang kami alami bersama. Banyak pula hal baru (tapi lama) yang saya dan istri saya temukan selama berinteraksi dengan anak-anak kami, Raito dan Aidan.
Anger Management
Di hari-hari biasa, interaksi saya dengan anak-anak itu terbatas pada malam hari saja, kecuali di akhir pekan. Di akhir pekan, saya bisa menghabiskan waktu seharian bersama anak-anak saya. Sangat terasa sekali bedanya selama Cuti Lebaran ini. Naik turunnya emosi saat menghadapi tingkah polah anak-anak benar-benar seperti mengendarai roller coaster. Di satu waktu saya dapat tertawa lepas melihat tingkah laku anak-anak, sementara di waktu yang lain saya merasa ingin menjitaki mereka satu per satu melihat keras kepalanya mereka.
Saya sendiri sadar bahwa mengelola amarah memang tidak pernah semudah membaca berbagai kata-kata bijak atau petunjuk-petunjuk praktis dalam teori pengelolaan amarah. Hanya saja mengurus anak-anak selama PRT tidak ada ini benar-benar membuka mata saya akan sulitnya mengelola amarah. Pada akhirnya, metode-metode pengelolaan amarah (emosi) yang biasa saya terapkan pun seolah-olah tidak memiliki pengaruh apa pun. Sulit sekali mengelola amarah di tengah-tengah keluarga. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.
Sesi Makan yang Melelahkan
Salah satu waktu yang membuat saya ingin menjitaki Raito dan Aidan itu adalah sesi makan, baik makan pagi, makan siang, maupun makan malam. Waktu yang dibutuhkan untuk menyuapi satu anak saja antara 1 s.d. 2 jam. Untung saya dan istri saya bekerja paralel (masing-masing menyuapi 1 anak). Kalau sampai saya atau istri saya harus menyuapi 2 anak, itu artinya butuh waktu 2 s.d. 4 jam untuk menyuapi Raito dan Aidan.
Terlepas dari anger management, satu hal yang saya sadari lewat sesi makan anak-anak adalah anak-anak itu lebih mudah makan saat mereka lapar. Sebelumnya anak-anak saya memiliki jadwal makan pagi, siang, dan malam yang teratur. Akan tetapi, jadwal makan mereka ini kelihatannya tidak sesuai dengan waktu lapar mereka. Oleh karena itu, mereka seringkali terlihat ogah-ogahan saat disuapi.
Saat jadwal makan mereka disesuaikan dengan waktu lapar mereka, sesi makan menjadi lebih cepat. Apalagi kalau makanan yang disajikan adalah makanan favorit mereka. Sesi makan anak-anak dapat berubah menjadi menyenangkan. Mereka kenyang, kami (saya dan istri) senang. Kami pun jadi punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain (baca: istirahat).
Kerja Tim
Hal lain yang membekas dalam benak saya selama PRT mengambil Cuti Lebaran adalah kerja tim. Tim yang mana? Tentu saja duet antara saya dan istri saya. Bahu-membahu bersama istri untuk mengurus rumah dan anak-anak jelas membuat semua urusan terasa lebih ringan. Ada kalanya kami bekerja paralel, ada kalanya kami bekerja bergantian. Tujuan akhirnya adalah semua urusan yang harus dikerjakan itu masuk ke dalam status Completed.
Dalam konteks mengurus anak-anak, kerja tim ini menjadi lebih penting lagi. Kaitannya sangat erat dengan mengelola amarah yang saya paparkan di atas. Saat saya sudah tidak tahan lagi menyikapi tingkah laku Raito dan Aidan, istri saya masuk dan menggantikan. Hal yang sama pun berlaku sebaliknya. Dengan begitu, tidak ada satu pun dari kami yang harus memaksakan diri menahan emosi kami di depan anak-anak.
Masih banyak lagi pengalaman lain yang dapat saya tuangkan dalam tulisan ini, tapi saya rasa tulisan ini akan menjadi terlalu panjang dan tidak nyaman untuk dibaca. Saya yakin Anda (yang sedang membaca tulisan ini) pun memiliki pengalaman yang serupa (tapi tak sama) dengan pengalaman saya ini; terutama kalau Anda memiliki 2 anak laki-laki kembar berumur 3 tahun yang tingkahnya ingin membuat Anda mengeluarkan kamehameha. Silakan berbagi pengalaman hidup Anda tanpa PRT di bagian komentar.
Selasa, 09 Agustus 2011
Kamus Bahasa Raito Aidan
Sebelumnya saya pernah menulis kamus mikro dengan judul yang sama: Kamus Bahasa Raito Aidan. Kamus mikro tersebut saya publikasikan di blog ini pada tanggal 22 Januari 2010. Saat itu Raito dan Aidan masih berumur 1,5 tahun. Kata-kata mereka saat itu agak sulit dimengerti. Kalau saya bukan orang tua mereka, dapat dipastikan saya tidak akan bisa memahami satu pun kata-kata mereka.
Kali ini saya putuskan untuk memperbaharui Kamus Bahasa Raito Aidan. Tentu saja isinya adalah kata-kata Raito dan Aidan yang sering saya dengar akhir-akhir ini. Kata-kata mereka sebenarnya lebih mudah dimengerti, tapi selalu saja ada kata-kata yang terdengar lucu di telinga orang dewasa. Di bawah ini adalah 20 kata-kata Raito Aidan pilihan saya yang saya rasa unik dan lucu:
Selamat mendidik anak kembar.
Kali ini saya putuskan untuk memperbaharui Kamus Bahasa Raito Aidan. Tentu saja isinya adalah kata-kata Raito dan Aidan yang sering saya dengar akhir-akhir ini. Kata-kata mereka sebenarnya lebih mudah dimengerti, tapi selalu saja ada kata-kata yang terdengar lucu di telinga orang dewasa. Di bawah ini adalah 20 kata-kata Raito Aidan pilihan saya yang saya rasa unik dan lucu:
- jamban :: gambar; bukan toilet
- puttinja :: fruit ninja; bukan "sesuatu yang tidak pantas saya sebutkan di sini"
- tutuwis :: tulis-tulis; maksudnya minta pensil warna untuk menjamban (menggambar)
- buwut :: huruf
- tabuk penyaman :: sabuk pengaman; sama sekali tidak nyaman
- micompon :: mikrofon
- lobon :: mengobrol
- binton :: badminton
- coan :: koran
- tana :: celana; bukan tanah
- teja :: kerja
- belennan :: berenang
- timcacih :: terima kasih
- mamici :: permisi
- cowwi :: sorry; kata "maaf" tingkat lanjut
- tateja :: tidak sengaja
- bucan :: bukan
- tunju :: tunggu
- helo ben helo ma ju pen :: hello friends, hello my good friends; lirik lagu pembukaan Pororo
- duit :: duit; entah kenapa untuk urusan duit tidak ada kesalahan pengucapan
- Ada pola tertentu pada kesalahan pengucapan Raito dan Aidan, misalnya huruf "s" diganti dengan "c" atau huruf "c" diganti dengan "t", tapi tetap saja ribet untuk menjelaskan pola ini secara sistematis.
- Ada beberapa kesalahan pengucapan yang cepat membaik seiring penggunaan, tapi ada juga yang awet. Contoh yang awet ini adalah buwut. Alasannya mungkin karena "h", "r", dan "f" itu sulit diucapkan.
- Walaupun pengucapan mereka salah, mereka tetap tahu pengucapan yang benar. Kalau saya meniru pengucapan mereka yang salah itu, mereka akan bilang kalau ucapan saya itu salah. Contohnya seperti dialog di bawah ini:
Saya: "Ini apa, Aidan?"
Aidan: "tana."
Saya: "Oh, tana."
Aidan: "bucan. Ini tana."
Saya: "Iya, tana."
Aidan: "bucan. Ini tana."
Saya: "Oh, celana."
Aidan: "Iya."
Selamat mendidik anak kembar.
Jumat, 17 Juni 2011
Kembar Tapi Tak Sama
30 hari dari sekarang, Raito dan Aidan akan berumur 3 tahun. Keduanya lahir pada tanggal 17 Juli 2008. Mereka adalah anak kembar dari saya dan istri saya yang pertama --dan insya Allah yang terakhir. Alhamdulillah mereka berdua lahir dalam keadaan sehat. Kehadiran mereka berdua telah menambah berkah ke dalam keluarga saya.
Walaupun kembar, Raito dan Aidan tidak pernah terlihat mirip. Mereka lahir dengan kondisi fisik yang berbeda. Aidan memiliki berat dan tinggi badan lebih dibandingkan Raito --yang saat ini dipanggil Abang karena keluar lebih dulu. Warna kulit Raito lebih putih dari Aidan. Wajah mereka pun sama sekali tidak terlihat mirip.
Membedakan Raito dan Aidan itu sangat mudah, walaupun mereka masih berumur 1 hari di dunia ini. Baik saya maupun istri saya tidak mengalami kesulitan membedakan mereka. Kita tidak perlu repot-repot mencari tanda seperti tahi lalat atau sejenisnya untuk membedakan mereka. Yang repot justru menegaskan perbedaan ini kepada orang-orang yang menganggap mereka sulit dibedakan.
Seiring waktu mereka bertambah besar, perbedaan mereka pun semakin menonjol. Perbedaan mereka terlihat mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Model rambut, bentuk wajah, mata, alis, hidung, mulut, postur tubuh, berat badan, tinggi badan, dan berbagai aspek fisik lainnya dari Raito dan Aidan itu tidak terlihat sama. Satu-satunya yang sama dari mereka mungkin hanya pakaian.
Pakaian yang sama pun sebenarnya bukan kehendak saya dan istri. Kami tidak keberatan membelikan baju yang berbeda untuk mereka. Kami pun membiasakan memakaikan baju yang berbeda untuk mereka. Hanya saja mereka sering minta dipakaikan baju yang sama. Sepertinya faktor iri berperan di sini. Akan tetapi, mereka lebih sering tidak keberatan menggunakan baju yang berbeda. Jadi semakin mudah membedakan mereka.
Raito dan Aidan itu benar-benar berbeda. Saya yakin bila mereka dikumpulkan dengan anak-anak sebaya mereka tanpa menggunakan pakaian yang sama, tidak akan ada orang yang mengira bahwa mereka bersaudara. Lain cerita kalau Aidan keceplosan memanggil Raito dengan panggilan "Abang". Kalau ini terjadi, mungkin orang-orang akan sadar kalau mereka bersaudara.
Perbedaan mereka tidak terbatas pada fisik. Minat, kecerdasan, dan sifat mereka secara garis besar pun berbeda. Raito, misalnya, lebih suka duduk diam dan bermain mainan seperti mobil-mobilan, balok-balok, atau sejenisnya. Sementara Aidan lebih suka permainan yang melibatkan gerakan besar seperti sepakbola. Ada kalanya Aidan pun bermain mobil-mobilan atau balok-balok. Ada kalanya pun Raito ikut bermain bola. Akan tetapi, minat mereka terlihat jelas berbeda.
Pertumbuhan mereka pun berbeda. Mungkin ini ada korelasinya dengan minat di atas. Perkembangan motorik kasar Aidan lebih menonjol daripada Raito. Sementara perkembangan motorik halus Raito lebih menonjol daripada Aidan. Aidan terlihat lebih luwes saat berlari, menendang bola, atau gerakan-gerakan besar lainnya. Sementara Raito terlihat lebih luwes saat menulis, memasang balok-balok, atau gerakan-gerakan kecil lainnya.
Sifat Raito dan Aidan pun berbeda. Raito dan Aidan sama-sama berwatak keras, tapi cara mereka menunjukan ngeyel itu berbeda. Watak keras Raito sering keluar dalam bentuk marah seperti menangis dengan volume suara yang menusuk telinga. Sementara watak keras Aidan keluar dalam bentuk merajuk tanpa meraung-raung. Sama-sama keras kepala, tapi bentuk penyalurannya berbeda. Masih banyak perbedaan sifat yang dapat saya tunjukan di sini, tapi saya rasa inti tulisan ini sudah tersampaikan dengan contoh-contoh di atas.
Satu hal yang ingin saya tegaskan, berbeda atau tidaknya mereka bukan masalah. Justru kenyataan bahwa mereka berbeda itu yang membuat saya tertarik menulis di sini. Kedua anak itu begitu berbeda seolah-olah mereka adalah kakak-adik yang kebetulan hadir di janin yang sama dalam rentang waktu yang sama. Mereka menjadi kembar karena waktu dan tempat. Seolah-olah tidak ada faktor lain yang membuat mereka menjadi kembar. Nenek (dari ibu) mereka kadang bercanda, "Mereka ini kembar apanya. Kembar kok beda."
Kembar tapi tidak sama. Raito dan Aidan memang bukan kembar identik. Saya dan istri saya berpikir bahwa mereka tumbuh dari dua sel telur yang berbeda, bukan hasil pembelahan. Bahkan sejak umur mereka 7 minggu, mereka sudah terlihat terpisah. Yang satu menempel di rahim bagian atas. Yang lainnya menempel di rahim bagian bawah. Sayangnya saya tidak bertanya lebih lanjut ke dokter yang memeriksa.
Walaupun begitu, saya yakin Raito dan Aidan hidup dari dua sel telur yang berbeda. Berdasarkan informasi yang saya temukan di Internet, Raito dan Aidan termasuk jenis kembar Fraternal. Saya tidak tahu padanan istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Kembar Fraternal ini terjadi karena ada lebih dari 1 sel telur yang dibuahi. Hal ini menjelaskan perbedaan yang ada pada diri Raito dan Aidan. Bahkan golongan darah Raito dan Aidan pun berbeda.
Mengenal perbedaan-perbedaan ini termasuk salah satu unsur menyenangkan dalam hidup saya sebagai orang tua. Bukan saya bermaksud untuk membeda-bedakan anak, tapi saya justru merasa diberi kesempatan menyikapi dua anak yang berbeda. Sesuatu yang sangat sulit walaupun saya sudah menjalaninya selama 2 tahun 11 bulan. Mendidik mereka menjadi sulit karena idealnya masing-masing dididik dan dibesarkan dengan cara yang tidak sama.
Terlepas dari itu, pengalaman mendidik Raito dan Aidan adalah pengalaman yang mengesankan. Sebenarnya ada lebih banyak hal yang dapat saya ceritakan terkait pengalaman saya mendidik mereka berdua, tapi saya rasa lebih baik segera mengakhiri tulisan yang sudah terlalu panjang ini. Semoga saya masih memiliki kesempatan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan lain seputar mendidik anak kembar di lain waktu.
--
Foto-foto Raito dan Aidan dapat dilihat dalam Picasa Web Album saya di sini:
http://picasaweb.google.com/amir.syafrudin
Walaupun kembar, Raito dan Aidan tidak pernah terlihat mirip. Mereka lahir dengan kondisi fisik yang berbeda. Aidan memiliki berat dan tinggi badan lebih dibandingkan Raito --yang saat ini dipanggil Abang karena keluar lebih dulu. Warna kulit Raito lebih putih dari Aidan. Wajah mereka pun sama sekali tidak terlihat mirip.
Membedakan Raito dan Aidan itu sangat mudah, walaupun mereka masih berumur 1 hari di dunia ini. Baik saya maupun istri saya tidak mengalami kesulitan membedakan mereka. Kita tidak perlu repot-repot mencari tanda seperti tahi lalat atau sejenisnya untuk membedakan mereka. Yang repot justru menegaskan perbedaan ini kepada orang-orang yang menganggap mereka sulit dibedakan.
Seiring waktu mereka bertambah besar, perbedaan mereka pun semakin menonjol. Perbedaan mereka terlihat mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Model rambut, bentuk wajah, mata, alis, hidung, mulut, postur tubuh, berat badan, tinggi badan, dan berbagai aspek fisik lainnya dari Raito dan Aidan itu tidak terlihat sama. Satu-satunya yang sama dari mereka mungkin hanya pakaian.
Pakaian yang sama pun sebenarnya bukan kehendak saya dan istri. Kami tidak keberatan membelikan baju yang berbeda untuk mereka. Kami pun membiasakan memakaikan baju yang berbeda untuk mereka. Hanya saja mereka sering minta dipakaikan baju yang sama. Sepertinya faktor iri berperan di sini. Akan tetapi, mereka lebih sering tidak keberatan menggunakan baju yang berbeda. Jadi semakin mudah membedakan mereka.
Raito dan Aidan itu benar-benar berbeda. Saya yakin bila mereka dikumpulkan dengan anak-anak sebaya mereka tanpa menggunakan pakaian yang sama, tidak akan ada orang yang mengira bahwa mereka bersaudara. Lain cerita kalau Aidan keceplosan memanggil Raito dengan panggilan "Abang". Kalau ini terjadi, mungkin orang-orang akan sadar kalau mereka bersaudara.
Perbedaan mereka tidak terbatas pada fisik. Minat, kecerdasan, dan sifat mereka secara garis besar pun berbeda. Raito, misalnya, lebih suka duduk diam dan bermain mainan seperti mobil-mobilan, balok-balok, atau sejenisnya. Sementara Aidan lebih suka permainan yang melibatkan gerakan besar seperti sepakbola. Ada kalanya Aidan pun bermain mobil-mobilan atau balok-balok. Ada kalanya pun Raito ikut bermain bola. Akan tetapi, minat mereka terlihat jelas berbeda.
Pertumbuhan mereka pun berbeda. Mungkin ini ada korelasinya dengan minat di atas. Perkembangan motorik kasar Aidan lebih menonjol daripada Raito. Sementara perkembangan motorik halus Raito lebih menonjol daripada Aidan. Aidan terlihat lebih luwes saat berlari, menendang bola, atau gerakan-gerakan besar lainnya. Sementara Raito terlihat lebih luwes saat menulis, memasang balok-balok, atau gerakan-gerakan kecil lainnya.
Sifat Raito dan Aidan pun berbeda. Raito dan Aidan sama-sama berwatak keras, tapi cara mereka menunjukan ngeyel itu berbeda. Watak keras Raito sering keluar dalam bentuk marah seperti menangis dengan volume suara yang menusuk telinga. Sementara watak keras Aidan keluar dalam bentuk merajuk tanpa meraung-raung. Sama-sama keras kepala, tapi bentuk penyalurannya berbeda. Masih banyak perbedaan sifat yang dapat saya tunjukan di sini, tapi saya rasa inti tulisan ini sudah tersampaikan dengan contoh-contoh di atas.
Satu hal yang ingin saya tegaskan, berbeda atau tidaknya mereka bukan masalah. Justru kenyataan bahwa mereka berbeda itu yang membuat saya tertarik menulis di sini. Kedua anak itu begitu berbeda seolah-olah mereka adalah kakak-adik yang kebetulan hadir di janin yang sama dalam rentang waktu yang sama. Mereka menjadi kembar karena waktu dan tempat. Seolah-olah tidak ada faktor lain yang membuat mereka menjadi kembar. Nenek (dari ibu) mereka kadang bercanda, "Mereka ini kembar apanya. Kembar kok beda."
Kembar tapi tidak sama. Raito dan Aidan memang bukan kembar identik. Saya dan istri saya berpikir bahwa mereka tumbuh dari dua sel telur yang berbeda, bukan hasil pembelahan. Bahkan sejak umur mereka 7 minggu, mereka sudah terlihat terpisah. Yang satu menempel di rahim bagian atas. Yang lainnya menempel di rahim bagian bawah. Sayangnya saya tidak bertanya lebih lanjut ke dokter yang memeriksa.
Walaupun begitu, saya yakin Raito dan Aidan hidup dari dua sel telur yang berbeda. Berdasarkan informasi yang saya temukan di Internet, Raito dan Aidan termasuk jenis kembar Fraternal. Saya tidak tahu padanan istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Kembar Fraternal ini terjadi karena ada lebih dari 1 sel telur yang dibuahi. Hal ini menjelaskan perbedaan yang ada pada diri Raito dan Aidan. Bahkan golongan darah Raito dan Aidan pun berbeda.
Mengenal perbedaan-perbedaan ini termasuk salah satu unsur menyenangkan dalam hidup saya sebagai orang tua. Bukan saya bermaksud untuk membeda-bedakan anak, tapi saya justru merasa diberi kesempatan menyikapi dua anak yang berbeda. Sesuatu yang sangat sulit walaupun saya sudah menjalaninya selama 2 tahun 11 bulan. Mendidik mereka menjadi sulit karena idealnya masing-masing dididik dan dibesarkan dengan cara yang tidak sama.
Terlepas dari itu, pengalaman mendidik Raito dan Aidan adalah pengalaman yang mengesankan. Sebenarnya ada lebih banyak hal yang dapat saya ceritakan terkait pengalaman saya mendidik mereka berdua, tapi saya rasa lebih baik segera mengakhiri tulisan yang sudah terlalu panjang ini. Semoga saya masih memiliki kesempatan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan lain seputar mendidik anak kembar di lain waktu.
--
Foto-foto Raito dan Aidan dapat dilihat dalam Picasa Web Album saya di sini:
http://picasaweb.google.com/amir.syafrudin
Rabu, 14 Oktober 2009
Saat Anak Tumbuh dan Berkembang
Salah satu kebahagiaan menjadi seorang ayah adalah melihat anaknya (atau dalam kasus saya berarti kedua anaknya) tumbuh dan berkembang. Saat belajar membalikan badan, saat belajar merangkak, saat belajar duduk, saat belajar berdiri, saat belajar berjalan, saat belajar bergoyang mengikuti irama musik, semuanya adalah peristiwa-peristiwa yang menarik dan indah untuk dikenang.
Itu hanya melihat dari satu sisi perkembangan anak. Masih banyak lagi perkembangan anak yang dapat diperhatikan, seperti kemampuan untuk menggenggam, respon terhadap suara (atau lebih spesifik ke respon terhadap panggilan), respon terhadap warna atau gambar, kemampuan untuk meniru, dan berbagai perkembangan anak lainnya.
Itu pun hanya melihat dari perkembangan seorang anak. Kalau kita diberkahi dengan lebih dari satu anak (baca: kembar), maka perkembangan anak-anak kita akan menjadi lebih menarik untuk diperhatikan. Mulai dari perkembangan masing-masing anak sampai bagaimana anak-anak kita berinteraksi antara satu dengan yang lain adalah kesempatan berharga untuk mendapatkan pengalaman yang menarik.
Dalam keluarga saya, Raito dan Aidan telah berbagi banyak pengalaman dengan ayah dan ibunya. Tingkah laku mereka saat tumbuh dan berkembang hingga berumur hampir 15 bulan benar-benar sesuatu yang patut dikenang. Saya dan istri senantiasa tertawa geli saat kami melihat foto atau video mereka yang sempat kami abadikan.
Hal yang paling segar dalam ingatan saya adalah kemampuan respon mereka. Aidan dan Raito sudah mulai mengerti maksud dari ucapan saya dan istri saya. Saya pernah meminta tolong Aidan mengambilkan kunci mobil yang tergeletak di lantai. Kunci mobil itu memang tergeletak di sana karena dilempar Aidan sendiri. Setelah beberapa kali mengulang permintaan itu, Aidan akhirnya mengambil kunci itu kemudian menyerahkannya kepada saya. Kejadian ini benar-benar membekas dalam pikiran saya.
Raito sebenarnya mampu memberikan respon yang sama. Saat diminta mengambilkan sesuatu, Raito akan berjalan mengambil barang yang diminta. Kemudian dia berjalan menghampiri orang yang meminta sambil menyodorkan barang itu ke orang tersebut. Akan tetapi, saat orang itu hendak mengambil barang itu dari tangan Raito, Raito akan menarik tangannya kemudian ngeloyor sambil tersenyum. Sepertinya dia meledek. Kalau saya yang menjadi korban ledekan Raito, saya akan kejar, tangkap, dan kelitiki Raito sekuat tenaga.
Kemampuan berbicara Raito dan Aidan pun sudah mencapai tahap yang lucu. Raito dan Aidan sering mengajak saya, istri saya, atau orang lain di rumah untuk berbicara. Mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak mungkin kita mengerti, tapi cara mereka berbicara benar-benar serius seolah-olah kita mengerti maksud mereka. Pada saat-saat seperti ini seringkali terjadi miskomunikasi akut, yaitu miskomunikasi tanpa ada peluang memperjelas kesalahpahaman yang timbul.
Masih banyak lagi hal-hal baru yang Raito dan Aidan dapat lakukan, seperti meniru irama lagu, menaiki tangga, mencium pipi orang tuanya, atau melompat dari kepala tempat tidur. Semua hal baru ini adalah pengalaman yang berharga bagi saya dan istri saya. Saya rasa semua orang tua pun akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya saat melihat anak mereka tumbuh besar. Saya merekomendasikan agar para orang tua tidak melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Itu hanya melihat dari satu sisi perkembangan anak. Masih banyak lagi perkembangan anak yang dapat diperhatikan, seperti kemampuan untuk menggenggam, respon terhadap suara (atau lebih spesifik ke respon terhadap panggilan), respon terhadap warna atau gambar, kemampuan untuk meniru, dan berbagai perkembangan anak lainnya.
Itu pun hanya melihat dari perkembangan seorang anak. Kalau kita diberkahi dengan lebih dari satu anak (baca: kembar), maka perkembangan anak-anak kita akan menjadi lebih menarik untuk diperhatikan. Mulai dari perkembangan masing-masing anak sampai bagaimana anak-anak kita berinteraksi antara satu dengan yang lain adalah kesempatan berharga untuk mendapatkan pengalaman yang menarik.
Dalam keluarga saya, Raito dan Aidan telah berbagi banyak pengalaman dengan ayah dan ibunya. Tingkah laku mereka saat tumbuh dan berkembang hingga berumur hampir 15 bulan benar-benar sesuatu yang patut dikenang. Saya dan istri senantiasa tertawa geli saat kami melihat foto atau video mereka yang sempat kami abadikan.
Hal yang paling segar dalam ingatan saya adalah kemampuan respon mereka. Aidan dan Raito sudah mulai mengerti maksud dari ucapan saya dan istri saya. Saya pernah meminta tolong Aidan mengambilkan kunci mobil yang tergeletak di lantai. Kunci mobil itu memang tergeletak di sana karena dilempar Aidan sendiri. Setelah beberapa kali mengulang permintaan itu, Aidan akhirnya mengambil kunci itu kemudian menyerahkannya kepada saya. Kejadian ini benar-benar membekas dalam pikiran saya.
Raito sebenarnya mampu memberikan respon yang sama. Saat diminta mengambilkan sesuatu, Raito akan berjalan mengambil barang yang diminta. Kemudian dia berjalan menghampiri orang yang meminta sambil menyodorkan barang itu ke orang tersebut. Akan tetapi, saat orang itu hendak mengambil barang itu dari tangan Raito, Raito akan menarik tangannya kemudian ngeloyor sambil tersenyum. Sepertinya dia meledek. Kalau saya yang menjadi korban ledekan Raito, saya akan kejar, tangkap, dan kelitiki Raito sekuat tenaga.
Kemampuan berbicara Raito dan Aidan pun sudah mencapai tahap yang lucu. Raito dan Aidan sering mengajak saya, istri saya, atau orang lain di rumah untuk berbicara. Mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak mungkin kita mengerti, tapi cara mereka berbicara benar-benar serius seolah-olah kita mengerti maksud mereka. Pada saat-saat seperti ini seringkali terjadi miskomunikasi akut, yaitu miskomunikasi tanpa ada peluang memperjelas kesalahpahaman yang timbul.
Masih banyak lagi hal-hal baru yang Raito dan Aidan dapat lakukan, seperti meniru irama lagu, menaiki tangga, mencium pipi orang tuanya, atau melompat dari kepala tempat tidur. Semua hal baru ini adalah pengalaman yang berharga bagi saya dan istri saya. Saya rasa semua orang tua pun akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya saat melihat anak mereka tumbuh besar. Saya merekomendasikan agar para orang tua tidak melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sabtu, 18 Juli 2009
Parenting - Year 2
As of yesterday, Raito and Aidan was officially alive for 365 days in a row. That means today is the first day towards the second year of my hardships parenting life. Today should be the day where I learn past parenting mistakes so that I will be able to prevent them from happening in the future. However, this post was not meant to share such things. In this post, I feel like sharing the growth progress of Raito and Aidan.
Around a month ago, I wrote similar stuff about Raito and Aidan. In this post, I'll just share some updates and maybe more details on how those twins grew up. It might be interesting if we look at the fact that they are twins.
I've mentioned earlier in this blog that Raito and Aidan are Fraternal Twins. They are far from identical. Even strangers could tell them apart in no time. Have a look at their pictures below. Raito is the one on the left. Both pictures were taken around a month after they were born.
If, for instance, both of them got separated before they understand that they're brothers and then they were reunited more than a decade in the future, I'm sure they won't notice that they are twins. As they grow older, it is to be expected that they become less and less look like each other.
Back to their growth progress, both of them actually differs from one another. I'll start with the basic, that is weight and height. Aidan is a little taller, bigger, and heavier than Raito. Last time they were checked, Aidan left Raito by 0.9 kg. Why such a big gap? They did share the same food and milk. They even had the exact same eating schedule. The reason for such a big gap remains a mystery. All that really matters is that both of them are healthy.
Being smaller does not necessarily grows slower. Raito was the first to be able to make sounds. At that time, it felt like Raito was able to respond when someone talks to him. If I remember correctly, Raito was able to smile back at other people. Aidan, on the other hand, remained silent all the while giving a gloomy expression. Fortunately, as of today, both of them are considerably responsive.
Although Aidan is a little late in terms of speaking, he is able to went ahead of Raito in terms of movement. Aidan was first to be able to roll, crawl, or walk although Raito was not that far behind. As of today, Aidan is able to walk without any help while Raito still needs someone to hold him while he walk.
However, even though Aidan is more capable in moving his body, I noticed that Raito was much better in holding objects in his hand. Raito had quite a good grip when he's holding something. That same something would be easier to slip away in Aidan's hand. One of the funny thing regarding this matter is that Aidan had difficulties in controlling his throw. When Aidan is trying to throw something, that something might end up thrown backward or sometimes upward and then went back down to hit Aidan's head. It was hilarious.
That's all I can share for now. I might share more about this in the future. One thing is for sure, twins does not necessarily grow in similar speed or phase. Though this might be true for identical twins, all twins basically have their own life apart from their twin brothers or sisters. They might have some kind of special bond between each other, but that does not mean they MUST be considered as one.
This post was not meant to compare Raito and Aidan. This post was actually written to prove the point that twins shouldn't always be considered as the same human beings between one and another. This might not be easy for identical twins, but I stand by my opinion that twins should be treated as single individuals without always being attached to their twin brothers or sisters.
--
Online Pictures of Raito and Aidan:
My Baby Twins
Double Team
Raito Aidan - Semester I
Raito Aidan - Semester II
Random Raito Aidan
Around a month ago, I wrote similar stuff about Raito and Aidan. In this post, I'll just share some updates and maybe more details on how those twins grew up. It might be interesting if we look at the fact that they are twins.
I've mentioned earlier in this blog that Raito and Aidan are Fraternal Twins. They are far from identical. Even strangers could tell them apart in no time. Have a look at their pictures below. Raito is the one on the left. Both pictures were taken around a month after they were born.
If, for instance, both of them got separated before they understand that they're brothers and then they were reunited more than a decade in the future, I'm sure they won't notice that they are twins. As they grow older, it is to be expected that they become less and less look like each other.
Being smaller does not necessarily grows slower. Raito was the first to be able to make sounds. At that time, it felt like Raito was able to respond when someone talks to him. If I remember correctly, Raito was able to smile back at other people. Aidan, on the other hand, remained silent all the while giving a gloomy expression. Fortunately, as of today, both of them are considerably responsive.
Although Aidan is a little late in terms of speaking, he is able to went ahead of Raito in terms of movement. Aidan was first to be able to roll, crawl, or walk although Raito was not that far behind. As of today, Aidan is able to walk without any help while Raito still needs someone to hold him while he walk.
That's all I can share for now. I might share more about this in the future. One thing is for sure, twins does not necessarily grow in similar speed or phase. Though this might be true for identical twins, all twins basically have their own life apart from their twin brothers or sisters. They might have some kind of special bond between each other, but that does not mean they MUST be considered as one.
This post was not meant to compare Raito and Aidan. This post was actually written to prove the point that twins shouldn't always be considered as the same human beings between one and another. This might not be easy for identical twins, but I stand by my opinion that twins should be treated as single individuals without always being attached to their twin brothers or sisters.
--
Online Pictures of Raito and Aidan:
My Baby Twins
Double Team
Raito Aidan - Semester I
Raito Aidan - Semester II
Random Raito Aidan
Langganan:
Postingan (Atom)
