Tampilkan postingan dengan label Kejujuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejujuran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 April 2021

Bohong Lagi, Belajar Lagi

0 opini

Detektor Bohong Individu*
Salah satu anak saya berbohong lagi. Dia melakukannya di bulan Ramadan, bulan yang seharusnya menjadi bulan untuk menahan diri dari keburukan. Dia melakukannya juga demi hal yang trivial, yaitu tidak mau kalah dari saudaranya dalam target membaca Al-Qur`an. Insiden kebohongan itu berhasil kami tangani dengan baik. Guncangan yang terjadi sudah terlewati dan hidup sudah kembali normal, tapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Terlepas dari itu, ada beberapa pelajaran penting yang saya rasa perlu saya ceritakan di sini.

Pertama, gengsi adalah kunci. Walaupun saya sudah wanti-wanti kepada anak-anak saya bahwa mereka tidak harus bisa melakukan apa yang dilakukan saudaranya, gengsi tetap saja muncul. Rasa tidak mau kalah tetap mampu menguasai pikiran anak-anak dan membuat mereka melakukan cara-cara curang agar tidak tertinggal. Itu yang mendorong salah satu anak saya untuk berbohong.

Kedua, berbohong adalah pilihan. Saat ada masalah, berbohong untuk menutupi sumber masalah atau untuk menghindari masalah akan selalu menjadi pilihan. Ada orang-orang yang mampu menahan diri dari berbohong, tapi kemampuan anak-anak masih mudah dikalahkan oleh nafsu mereka masing-masing. Itu alasannya kenapa anak saya berbohong. Dia tahu berbohong itu salah, tapi dia tidak mampu menahan diri dan memutuskan untuk berbohong demi gengsi.

Ketiga, bosan itu manusiawi. Sebaik apa pun sebuah kegiatan, kalau hal itu dilakukan terus-menerus, rasa bosan pasti akan datang. Itulah alasannya kenapa kebaikan itu lebih baik dilakukan sedikit-sedikit karena rasa bosannya akan lebih membebani bila dilakukan dalam jumlah banyak. Itu yang dirasakan oleh anak saya. Gengsi memang mendorong anak saya untuk berbohong, tapi rasa bosan juga memiliki peran krusial di situ. Gengsi untuk tetap "bersaing", tapi bosan untuk tetap bersaing membuat berbohong menjadi pilihan terbaik (baca: termudah).

Keempat, masalah dengan anak adalah berkah yang tersamarkan. Bila kita menyikapinya seperti sebuah kotoran yang harus dibuang keluar, berkah itu tidak akan sampai. Kita perlu menyikapinya sebagai sebuah kesempatan untuk lebih mengenal anak. Apa saja yang menjadi gengsinya, apa saja yang membuat dia bosan, apa saja yang mendorong dia untuk berbohong, sekuat apa tekad dia untuk menjadi orang jujur, kenapa dia tidak mau terbuka, dan banyak sekali pertanyaan lain yang dapat terjawab asalkan kita mau menanggapi masalah dia dengan bijaksana.

Tentu saja masih ada banyak pelajaran lain yang bisa saya bagikan di sini. Apalagi kalau terkait bohong, ada banyak sekali hal yang dapat saya temukan dalam diri anak-anak saya karena di balik kebohongan itu ada hal-hal yang sengaja disembunyikan dan menunggu untuk ditemukan. Asalkan kita cukup lihai menyelami masalah anak, semua itu dapat kita ungkap satu per satu. Ya, kan? 

--

*Gambar ditemukan lewat Google Search

Jumat, 16 April 2021

Belajar Kemunafikan dari Attack on Titan

0 opini

Attack on Titan (Sumber: wallpaperaccess.com)
Satu hal yang menarik dari Attack on Titan (AoT) musim 3 (iya, saya telat mengikuti) adalah soal kemunafikan manusia. Kemunafikan yang, untuk orang-orang seusia saya, sudah sering tertangkap mata, tapi bagi anak-anak remaja, masih terbilang aneh. Kemunafikan yang berhasil mengabaikan kebenaran demi memenuhi nafsu.

Perhatian: Tulisan di bawah ini berisi spoiler (bagi penonton AoT lain yang telat seperti saya).

Saya lupa kejadiannya di episode berapa dalam AoT musim 3. Satu hal yang saya ingat adalah di adegan itu, salah satu anak saya nyeletuk soal sikap "aneh" para pejabat dalam dunia di balik dinding yang sempit itu. Saat itu, mereka mendapat kabar bahwa tembok lapisan kedua jebol lagi dan titan pun merangsek masuk. Idealnya, saat itu terjadi, gerbang di tembok lapisan pertama dibuka agar evakuasi para penduduk area lapisan kedua dapat masuk ke lapisan pertama.

Berhubung areanya berbentuk lingkaran dengan pusat pemerintahan di tengah, semakin dekat ke tengah, semakin kecil areanya. Itu artinya jumlah penduduk di area lingkaran kedua jauh lebih banyak dari area lingkaran pertama. Bila penduduk di area lingkaran kedua dibiarkan masuk ke lingkaran area pertama, kita bisa bayangkan masalah baru yang akan muncul seperti kekurangan suplai makanan, tempat tinggal, atau penghidupan yang dapat mengakibatkan tingkat kejahatan meningkat.

Pilihan yang sulit, bukan? Akhirnya para pejabat itu memutuskan untuk tidak membukakan akses evakuasi, tapi demi apa? Apakah demi menyelamatkan penduduk di area lingkaran pertama? Tidak. Ternyata para pejabat itu menolak pilihan evakuasi demi diri mereka sendiri. Mereka tidak mau hidup mereka menjadi lebih sulit lagi karena harus menanggung hidup orang-orang dari lingkaran kedua.

Menyedihkan ya? Di adegan itulah celetuk itu muncul. Anak saya bertanya kenapa sikap mereka seperti itu. Sikap seperti itu sudah pernah muncul di musim 2, tapi orang yang melakukannya adalah pengusaha yang sekadar mengutamakan harta bendanya. Dampak negatif keegoisan si Pengusaha tidak masif seperti keegoisan para pejabat. Dampak yang masif itu sepertinya menjadi pemicu bagi salah satu anak saya sehingga mereka merasakan ketidakwajaran keputusan itu.

Ekspresi anak saya saat itu agak lucu. Celetuk dia begitu polos dan tulus bertanya kenapa orang-orang itu bisa mengabaikan begitu banyak nyawa demi kepentingan segelintir orang. Saya pun "terpaksa" menjelaskan kepadanya bahwa kondisi itu nyata. Contoh yang paling nyata adalah adanya korupsi di tengah pandemi Covid-19. Hal yang lebih parah lagi adalah korupsi itu dilakukan pada dana bantuan sosial untuk penanganan Covid-19.

Saya jelaskan lebih jauh lagi bahwa hal itu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kelakuan seorang anak yang sembunyi-sembunyi main gim dan berbohong untuk menutupinya. Prinsipnya sama: ada nafsu yang tidak bisa diredam, lalu melakukan segala cara untuk memenuhi nafsu itu. Saya sampaikan itu sambil tersenyum lebar, sementara anak saya tersenyum getir karena sadar dirinya sedang disindir.

Kejadian itu tidak berlangsung lama. Kami hanya berhenti menonton sejenak untuk membahas itu semua. Kami segera melanjutkan menonton. Mudah-mudahan saja diskusi ringan-tapi-berat itu dapat mereka ingat dan membawa dampak positif terhadap hidup mereka. Paling tidak mereka tidak perlu kaget lagi kalau kemunafikan sejenis muncul lagi di episode-episode AoT selanjutnya atau bahkan di episode-episode hidup mereka di masa depan.

Jumat, 29 Januari 2016

Kenapa Anak Berbohong? - 2

0 opini
Kaligrafi Amaanah*
Tidak terasa sudah hampir 5 bulan saya mengabaikan blog ini. Apa daya mata tetap 2, jari tetap 10, sementara waktu untuk menulis semakin terbatas. Mungkin saya sendiri yang tidak lagi pintar meluangkan waktu untuk menulis di blog. Satu hal yang pasti, saya bertekad untuk menjaga agar blog ini tetap hidup walaupun jumlah publikasinya menurun drastis atau senantiasa fluktuatif.

Here goes....

Melanjutkan tulisan sebelumnya, Kenapa Anak Berbohong? - 1, saya ingin berbagi lebih banyak tentang alasan-alasan seorang anak berbohong, khususnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Dalam tulisan tersebut, saya mengemukakan 2 alasan umum seorang anak berbohong, yaitu karena tidak tahu atau karena tidak tahu keburukannya. Di antara alasan-alasan tersebut, alasan kedua menjadi alasan utama kenapa seorang anak berbohong. Pertanyaannya adalah kenapa seorang anak bisa tidak tahu bahwa berbohong itu buruk?

Pada kenyataannya, cepat atau lambat, seorang anak akan tahu bahwa berbohong itu buruk. Akan tetapi, akibat buruk dari kebohongan itu seringkali tertutup oleh manfaat yang dirasakan si Anak seperti selamat dari omelan atau hukuman saat berbuat salah, bebas dari tanggung jawab mengerjakan pekerjaan rumah, bebas dari tanggung jawab untuk menepati janji, tetap terlihat baik di mata orang-orang di sekitarnya, dll. Kalau kita bandingkan dengan akibat buruk berbohong seperti kehilangan kepercayaan, menambah dosa, atau hal-hal normatif lainnya, manfaat dari berbohong jelas terlihat lebih signifikan daripada akibat buruknya. Dalam kondisi tersebut, wajar bila seorang anak berbohong karena, seperti halnya manusia pada umumnya, dia akan mengorbankan akibat buruk yang kecil demi mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar.

Kesalahan persepsi tersebut akan semakin kuat terbentuk dalam diri si Anak apabila orang tuanya pun "rajin" berbohong, terutama terhadap dirinya. Contohnya anak yang ditakut-takuti orang tuanya agar si Anak mau menurut menggunakan kata-kata dengan template seperti ini: "Kalau kamu [masukkan perbuatan yang tidak disukai orang tua di sini], kamu bakal [masukkan akibat buruk yang tidak disukai anak di sini] sama [masukkan makhluk yang ditakuti anak di sini]." Awalnya si Anak percaya, tapi waktu akan menunjukkan bahwa omongan orang tuanya adalah omong kosong belaka demi membuat si Anak menurut. Kehadiran baby sitter atau PRT yang mengurus anak sehari-hari sangat mungkin memperkuat kesalahan persepsi tersebut. Contoh lainnya adalah orang tua yang menjanjikan sesuatu untuk membujuk anaknya, tapi gagal menepati janjinya. "Kalau kamu [masukkan sesuatu yang diinginkan orang tua di sini], nanti malam kita [masukkan tempat atau kegiatan yang disukai anak di sini]" atau "Besok Ayah/Ibu belikan [masukkan barang/mainan kesukaan anak di sini] kalau kamu [masukkan sesuatu yang diinginkan orang tua di sini]" adalah beberapa template yang kerap digunakan oleh para orang tua. Awalnya si Anak percaya, tapi waktu akan menunjukkan bahwa harapan dari orang tuanya adalah harapan palsu belaka demi meraih keuntungan dari si Anak.

Pinokio dan Indikator Kebohongan*
Kehadiran kakek, nenek, om, tante, abang, kakak, atau anggota keluarga mana pun mungkin akan menambah pelik kondisi di atas. Kakek dan nenek tidak lagi memiliki kekuatan fisik untuk menjaga para cucu dari tindakan atau perbuatan berbahaya sehingga kakek dan nenek cenderung menakut-nakuti agar para cucu mau menurut. Om dan tante mungkin diandalkan untuk memberikan kebahagiaan tambahan ke dalam hidup para keponakan, tapi om dan tante belum tentu bisa terus-menerus memenuhi janji-janji mereka. Abang atau kakak tidak jarang menjadikan adik-adik sebagai bahan percobaan atau objek permainan dan bohong menjadi salah satu kunci utama keberhasilan percobaan atau permainan tersebut. Apalagi kalau kita memasukkan baby sitter, PRT, teman-teman di sekitar rumah, atau teman-teman di sekolah, ada semakin banyak faktor eksternal yang semakin memperkuat kesalahan persepsi bahwa bohong itu OK, bohong itu baik, bohong itu biasa, atau bahkan bohong itu perlu.

Anggapan bahwa berbohong itu memberikan manfaat yang lebih besar juga dikuatkan oleh pola hukuman yang diterapkan orang tua, yaitu saat hukuman akibat berbohong itu sama atau bahkan lebih ringan daripada hukuman saat ketahuan berbuat salah. Contohnya saat seorang anak memecahkan masalah, maksud saya, merusak barang milik orang tuanya. Orang tua si Anak kemudian marah dan menghukum si Anak, misalnya, dengan melarang si Anak main ke luar rumah selama 1 minggu. Saat masalah yang sama terjadi lagi, si Anak akan berusaha menyelamatkan diri dari hukuman dengan berbohong. Seandainya kebohongan si Anak itu gagal dan si Anak "hanya" dilarang main ke luar rumah selama 1 minggu, si Anak akan melihat sebuah peluang. Kalau mengaku salah (jujur) dan berbohong menyebabkan akibat buruk yang sama, kenapa tidak dicoba saja berbohong. Paling tidak dengan berbohong itu ada peluang lolos sehingga berhasil menghindari hukuman.

Bila kebiasaan bohong orang tua dan orang-orang di sekitar anak digabungkan dengan ringannya risiko berbohong, anak-anak akan semakin terbiasa untuk berbohong. Dalam kondisi ini, menanamkan kejujuran di dalam diri anak-anak akan menjadi pekerjaan yang super sulit. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk berhenti berbohong. Dalam konteks mendidik anak, bohong kecil itu tidak ada, apalagi bohong putih. Anak kita hanya akan melihat kita berbohong atau tidak, terlepas dari alasan kita berbohong. Penting pula bagi setiap orang tua untuk membedakan antara risiko berbuat kesalahan dan risiko berbohong. Orang tua perlu mengapresiasi kejujuran anak yang berbuat salah. Anak yang berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri seharusnya mendapatkan hukuman yang lebih keras dibandingkan anak yang mengaku berbuat salah. Orang tua harus menegaskan bahwa berbohong itu adalah sebuah kesalahan tersendiri. Bisa dibayangkan kalau seseorang berbuat salah dan berbohong? Kesalahannya berlipat ganda, bukan?

Kembali kepada alasan anak-anak berbohong. Anak-anak akan berbohong saat mereka menganggap bahwa berbohong itu memberikan manfaat lebih daripada bersikap jujur. Anggapan ini dikuatkan dengan kebiasaan berbohong para orang tua dan orang-orang di sekitar si Anak. Pola hukuman yang tidak adil, yaitu pola hukuman yang tidak mencerminkan bahwa bohong itu lebih buruk dari berbuat salah, juga akan menguatkan anggapan bahwa berbohong itu lebih baik daripada bersikap jujur. Bila para orang tua bisa menghilangkan kebiasaan berbohong dan menunjukkan akibat buruk yang tepat saat anak-anak berbohong, anak-anak akan menganggap bahwa bersikap jujur itu lebih baik daripada berbohong. Dalam kondisi ini, menanamkan kejujuran di dalam diri anak-anak akan menjadi lebih mudah.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Sabtu, 15 Agustus 2015

Kenapa Anak Berbohong? - 1

4 opini
Masih tentang kejujuran.

Sebelumnya saya bercerita bahwa untuk menumbuhkan[1] sifat jujur dalam diri anak-anak itu diperlukan sikap tegas, adil, dan konsisten. Tegas dengan menyatakan bahwa bohong itu salah, adil dengan ikut bersikap jujur, terutama saat berurusan dengan anak-anak, dan konsisten dalam menerapkan semua itu. Bila kita bisa menerapkan ketiga sikap tersebut, sifat jujur akan lebih mudah tumbuh di dalam diri anak-anak; cepat atau lambat.

Walaupun begitu, ada baiknya kita pun mencari tahu berbagai alasan anak-anak kita berbohong. Kenapa kita perlu mencari informasi tentang itu? Karena untuk memenangkan perang, kita perlu mengenali musuh kita. Jadi, untuk menumbuhkan sifat jujur dalam anak-anak kita, kita pun perlu mengenali alasan-alasan kenapa anak-anak kita berbohong. Dengan mengenali berbagai penyebab anak-anak berbohong, kita akan memiliki peluang yang lebih baik untuk mencegah munculnya kebiasaan berbohong. Pada akhirnya, bila kebiasaan berbohong tak kunjung muncul, sifat jujur pun akan lebih mudah tumbuh dalam diri anak-anak kita.

Kaligrafi Amaanah*
Ada 2 alasan mendasar yang membuat seorang anak berbohong. Pertama, seorang anak berbohong karena dia tidak tahu apa itu berbohong. Ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Anak-anak kita dilahirkan ke dunia ini tanpa tahu apa itu berbohong. Kita yang bertanggung jawab untuk menjelaskan apa itu berbohong kepada anak-anak kita. Bagaimana mungkin anak-anak kita bisa berhenti berbohong kalau mereka sendiri tidak tahu apa itu "berbohong", bukan?

Mengajarkan apa itu berbohong tentu saja tidak membutuhkan kelas atau sesi khusus. Tanpa kita ajarkan pun anak-anak kita akan mengetahui sendiri apa itu yang dimaksud dengan berbohong. Mereka bisa mengetahuinya dari mengamati tingkah laku orang-orang di sekitar mereka, dari buku yang mereka baca, dari serial televisi atau film yang mereka tonton, atau bahkan dari pengalaman mereka sendiri. Walaupun begitu, kita perlu memastikan bahwa anak-anak kita sudah tahu apa itu berbohong sebelum kita mulai mengajarkan mereka tentang kejujuran.

Kedua, seorang anak berbohong karena dia tidak tahu bahwa berbohong itu buruk. Kalaupun anak-anak kita sudah mengerti apa itu berbohong, mereka tetap akan berbohong selama mereka menganggap berbohong itu baik. Kita lagi-lagi berperan penting untuk menjelaskan kenapa berbohong itu buruk kepada anak-anak kita. Kalau anak-anak kita tidak mengetahui buruknya sebuah kebohongan, kenapa mereka harus berhenti berbohong?

Mengajarkan keburukan dari berbohong kepada anak-anak kita tentu lebih sulit daripada sekedar mengajarkan apa itu berbohong. Apalagi kalau anak-anak kita sudah mulai (atau bahkan terbiasa) berbohong, mengajarkan keburukan dari berbohong akan menjadi lebih sulit lagi. Salah satu penyebabnya adalah karena anak kita sudah merasakan "manfaat" berbohong, misalnya untuk menutupi kesalahan yang mereka lakukan dan menyelamatkan mereka dari murka ayah-bunda. Kondisi ini yang menjadi tantangan besar kita dalam menumbuhkan sifat jujur ke dalam diri anak-anak kita.

Saat anak-anak kita sudah menyadari bahwa berbohong itu salah, atau paling tidak memberikan akibat buruk bagi diri mereka sendiri, mereka akan berhenti berbohong dengan sendirinya. Kejujuran pun akan tumbuh dengan sendirinya di dalam diri anak-anak kita. "Pohon kejujuran" itu pun bukan sekedar tumbuh, tapi tumbuh dengan subur karena hati anak-anak kita sudah menjadi "tanah" yang gembur dan cocok bagi pohon tersebut.

Dua alasan di atas merupakan alasan-alasan mendasar yang dapat "mendorong" seorang anak berbohong. Alasan yang menarik untuk dikupas lebih lanjut adalah alasan kedua, yaitu ketidaktahuan seorang anak bahwa berbohong itu buruk. Kenapa menarik? Karena ketidaktahuan anak mengenai keburukan berbohong itu memiliki beberapa alasan turunan yang membuat seorang anak menganggap bahwa berbohong itu baik. Tulisan mengenai alasan-alasan turunan tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan berikutnya; insya Allah.

--
[1] Saya sengaja menggunakan kata "menumbuhkan", bukan "menanamkan", karena saya pun yakin bahwa sifat jujur itu sudah ada di dalam diri setiap anak. Hal yang perlu kita lakukan adalah membantu mereka menumbuhkan sifat jujur itu agar tidak hilang ditelan pragmatisme.

*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 14 Juni 2015

Jujur Pangkal Baik - 2

0 opini
Melanjutkan tulisan sebelumnya: Jujur Pangkal Baik.

Membiasakan anak-anak untuk bersikap jujur itu memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Hal yang penting untuk dilakukan adalah bersikap tegas, adil, dan konsisten. Saya sudah pernah menulis tentang menjadi ayah yang tegas, adil, dan konsisten sebelumnya, tapi dalam tulisan ini, konteksnya akan saya batasi pada menumbuhkan sikap jujur dalam diri anak-anak.

Tegas
Being Firm*
Untuk menumbuhkan sikap jujur pada diri anak-anak, setiap orang tua harus bersikap tegas dalam menolak segala sikap yang berbau kebohongan. Saya sendiri terbilang ekstrim dalam hal ini karena berbohong untuk bercanda pun saya tegaskan sebagai sesuatu yang salah. Bila saya memergoki anak saya berbohong dalam konteks bercanda, saya tetap tegur mereka dan mengingatkan mereka bahwa perbuatan mereka itu tidak benar.

Ketegasan di atas sebenarnya merupakan cerminan dari ajaran Islam tentang kebohongan. Dalam Islam, bohong itu tidak dapat dibenarkan kecuali untuk hal-hal yang bersifat darurat. Ada beberapa kondisi tertentu yang dapat membenarkan kebohongan dalam ajaran Islam, tapi bercanda bukanlah salah satunya. Itulah alasannya kenapa saya tidak membiarkan anak-anak saya berbohong, walaupun hanya untuk haha-hihi semata.

Kadar kebohongan itu sendiri bervariasi. Kadang hanya untuk bercanda, kadang untuk menutupi suatu insiden atau perbuatan buruk. Oleh karena itu, kadar penolakan yang saya terapkan pun harus disesuaikan dengan kadar kebohongan yang dilakukan oleh anak saya. Contohnya kalau bohong yang dilakukan hanya sebatas bercanda, penolakan yang saya lakukan hanya sebatas teguran lisan. Itu pun dengan syarat mereka mau menyesali perbuatan mereka. Kalau bohong yang dilakukan sudah sampai ke tingkat menutupi suatu insiden atau perbuatan buruk, penolakan yang saya lakukan bisa saya tingkatkan sampai mencabut kebutuhan sekunder atau tersier yang mereka nikmati.

Adil
Being Fair*
Setelah tegas, datanglah adil. Dalam konteks menumbuhkan sikap jujur dalam diri anak-anak, bersikap adil berarti tidak hanya menuntut anak-anak untuk tidak berbohong, tapi juga menuntut diri kita sendiri sebagai orang tua untuk tidak berbohong; terutama di depan anak-anak kita. Jelas tidak adil bila kita menuntut anak kita untuk senantiasa jujur, sementara kita sendiri dengan mudahnya berbohong.

Kadang kita berbohong tanpa kita sadari. Mungkin karena kita sudah terbiasa berbohong saat bercanda atau saat merasa kepepet, kebiasaan itu pun muncul begitu saja di depan anak-anak kita; bahkan saat kita sudah berniat untuk tidak berbohong. Contohnya adalah saat kita menakut-nakuti anak kita dengan adanya hantu atau monster, kita sedang berbohong karena kita tahu hantu atau monster itu tidak ada. Contoh lainnya adalah saat kita tidak menepati janji kita, misalnya membatalkan janji membelikan sesuatu atau mengajak anak kita jalan-jalan ke suatu tempat karena kita malas, kita pun sedang berbohong. Kalaupun kita tidak merasa diri kita berbohong, anak-anak kita tetap akan menganggap kita mengucapkan sesuatu yang tidak benar. Dan itu, bagi anak-anak kita, adalah berbohong.

Kalau kita masih berbohong kepada (atau di hadapan) anak-anak kita, anak-anak akan menganggap kita curang karena hanya bisa menyuruh tanpa bisa melakukan. Anak-anak kita pun akan mulai menganggap enteng kejujuran karena orang tua mereka sendiri ternyata masih berbohong. Pada akhirnya usaha untuk menumbuhkan sikap jujur di dalam diri anak-anak tidak akan tercapai; bukan karena mereka tidak mau, tapi karena kita yang tidak adil.

Konsisten
Being Consistent*
Untuk melengkapi tegas dan adil, kita pun harus bisa bersikap konsisten. Berdasarkan pengalaman saya, bersikap tegas dan adil itu sulit, tapi bersikap konsisten dalam ketegasan dan keadilan itu jauh lebih sulit lagi. Tantangan sebenarnya dalam bersikap tegas dan adil itu justru muncul saat kita berusaha untuk tetap konsisten.

Saat ingin konsisten bersikap tegas, kita kadang merasa kasihan kepada anak kita sehingga kita mulai mengendurkan sikap tegas kita. Saat sikap tegas kita naik-turun seperti itu, kepatuhan anak-anak untuk tetap bersikap jujur pun akan naik-turun. Bukan tidak mungkin naik-turunnya sikap tegas kita justru dianggap sebagai sebuah kelemahan yang dapat dieksploitasi oleh anak-anak kita.

Saat ingin konsisten bersikap adil, kita kadang merasa malas dan lebih banyak menuntut ketimbang memberi contoh. Saat sikap adil kita naik-turun seperti itu, kepatuhan anak-anak untuk tetap bersikap jujur pun akan naik-turun. Bukan tidak mungkin naik-turunnya sikap adil kita justru membuat anak-anak kita semakin tidak menghormati dan mematuhi kita.

Sikap tegas, adil, dan konsisten adalah tiga sikap yang terus saya tekankan pada diri saya dalam hal mendidik anak. Tantangannya tidak sedikit, tapi hasil akhirnya pun sangat memuaskan. Anak-anak saya tumbuh dengan menyadari bahwa bohong itu salah. Saat tulisan ini dibuat, sesekali waktu mereka masih berbohong, tapi mereka masih mau menyadari kesalahan mereka dan meminta maaf saat mereka berbohong; bahkan saat bercanda. Hasil akhir yang lebih memuaskan lagi adalah saya pun tumbuh menjadi orang tua yang dapat dipercaya. Mereka mungkin saja tidak mempercayai kata-kata seseorang, tapi mereka percaya penuh dengan kata-kata saya walaupun apa yang saya katakan sama persis dengan yang mereka dengar dari orang tersebut.

Demikian pengalaman yang bisa saya ceritakan lewat tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat membantu kita, terutama diri saya sendiri, dalam menumbuhkan sikap jujur dalam diri anak-anak kita. Aamiin.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 24 Mei 2015

Jujur Pangkal Baik

0 opini
Kaca Retak*
Jujur pangkal baik. Itulah salah satu prinsip hidup yang saya pegang hingga saat ini. Prinsip hidup tersebut mulai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya sejak saya duduk di bangku kelas 3 SMA, yaitu saat saya dipergoki mencontek pada waktu ulangan Sejarah. Saya tidak tahu persis pemicunya, tapi kepergok mencontek saat itu menumbuhkan penyesalan yang sangat mendalam dalam hati saya sehingga saya memutuskan untuk tidak lagi mencontek. Bukan hanya itu, saya pun memutuskan untuk tidak lagi berbohong.

Ternyata keputusan untuk tidak lagi berbohong itu membawa kebaikan yang jauh lebih besar. Bagaimana tidak? Semua hal-hal buruk yang biasa saya lakukan dan saya tutupi dengan kebohongan lambat laun berkurang seiring dengan berkurangnya kebohongan yang saya lakukan. Berhubung saya tidak mau lagi berbohong, saya pun "terpaksa" mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk saya. Dengan berhenti berbohong, saya tidak hanya berubah menjadi orang yang jujur, tapi saya pun berubah menjadi orang yang lebih baik.

Prinsip hidup tersebut yang ingin saya wariskan kepada anak-anak saya. Saya ingin anak-anak saya memahami dan menyadari bahwa kejujuran adalah sifat dasar yang harus mereka miliki. Saya ingin anak-anak saya memahami dan menyadari bahwa kejujuran adalah bagian penting yang tidak boleh "hilang" dari seorang manusia. Saya ingin anak-anak saya memahami dan menyadari bahwa kejujuran adalah modal dasar seorang manusia untuk tumbuh menjadi manusia yang baik.

Tentu saja saya tidak akan menunggu sampai anak-anak saya duduk di bangku kelas 3 SMA untuk menanamkan sikap jujur dalam diri mereka. Sebaliknya saya ingin menanamkan sikap jujur itu sedini mungkin karena semakin tua seseorang, semakin sulit pula membentuk kepribadian mereka. Itulah alasannya kenapa saya mulai membiasakan anak-anak saya untuk bersikap jujur (dan tidak pernah berbohong) sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SD.

Prosesnya tentu saja bertahap. Saya tentu saja mengawalinya dengan memperkenalkan konsep jujur dan bohong. Kenapa konsep bohong juga perlu diperkenalkan? Tujuannya adalah agar anak-anak saya memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai "jujur" dan "tidak jujur". Jangan sampai hal-hal yang "tidak jujur" dianggap sebagai hal-hal yang "jujur" atau juga sebaliknya. Pengenalan konsep-konsep ini pun berjalan secara perlahan karena kemampuan anak-anak di kelas 1 SD untuk memahami sebuah konsep itu memang masih sangat terbatas.

Walaupun begitu, memperkenalkan konsep jujur dan bohong pada anak-anak berusia 6-7 tahun itu mudah kok. Tantangan sebenarnya ada pada proses "membiasakan". Justru membiasakan anak-anak untuk bersikap jujur itu yang sangat jauh dari mudah. Ada 2 tantangan utama dalam proses tersebut. Pertama, saya sebagai orang tua harus SELALU bersikap jujur, khususnya saat berurusan dengan anak-anak. Kedua, anak-anak saya tetap bisa belajar berbohong dari sumber lain dan mulai menganggap bahwa berbohong itu memang perlu dilakukan. Kedua tantangan itu kerap menghabiskan energi yang tidak sedikit.

Membiasakan anak-anak untuk bersikap jujur itu memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Hal yang penting untuk dilakukan adalah... siap-siap berangkat shalat Isya dan melanjutkan tulisan ini di kesempatan berikutnya. Insya Allah.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Kamis, 08 Maret 2012

Tentang Nabi Yusuf

1 opini
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf:2)
Di dalam surat Yusuf ini, Allah banyak bercerita mengenai Nabi Yusuf a.s.. Ceritanya bermula dari mimpi Nabi Yusuf a.s. yang merupakan tanda-tanda kenabian beliau. Ceritanya berlanjut dengan makar (konspirasi) saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. untuk "menyingkirkan" beliau karena mereka iri akan kenabian yang diterima Nabi Yusuf a.s.. Sebagaimana yang kita tahu bersama, saudara-saudara mereka memutuskan untuk menyingkirkan Nabi Yusuf a.s. dengan cara memasukan beliau ke dalam sumur.

Nabi Yusuf a.s. ditemukan oleh musafir-musafir yang sedang mengambil air dari sumur tersebut. Beliau pun segera dijual oleh musafir-musafir itu dengan harga murah. Para musafir ini berpikir bahwa Nabi Yusuf a.s. ini adalah milik seseorang. Oleh karena itu, Nabi Yusuf a.s. segera dijual (dengan harga murah) sebelum ditemukan pemiliknya.

Nabi Yusuf a.s. dibeli oleh seorang raja Mesir bernama Qithfir. Raja Mesir ini berkata kepada istrinya (yang bernama Zulaikha): "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak."[1] Dengan izin Allah, Nabi Yusuf a.s. justru menemukan kehidupan yang baik setelah dibuang oleh saudara-saudara beliau. Akan tetapi, setelah Nabi Yusuf a.s. dewasa, Zulaikha justru menggoda beliau. Dengan izin Allah, beliau berhasil menahan diri dari godaan Zulaikha.
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?" (QS. Yusuf:25)
Dalam ayat di atas diceritakan bahwa Nabi Yusuf a.s. akhirnya difitnah saat beliau mencoba menghindar dari godaan Zulaikha. Ayat-ayat selanjutnya bercerita bagaimana Nabi Yusuf a.s. itu berhasil dibebaskan dari tuduhan Zulaikha dengan melihat posisi koyaknya baju gamis beliau.

Cerita tentang kehidupan Nabi Yusuf pun terus berlanjut. Mulai dari ayat 30 s.d. ayat 35, surat Yusuf bercerita bagaimana Nabi Yusuf a.s. akhirnya tetap dipenjara walaupun beliau tidak bersalah. Di dalam penjara, Nabi Yusuf a.s. justru mendapatkan kesempatan untuk berdakwah sebagaimana diceritakan dari ayat 36 s.d. ayat 42. Di dalam dakwahnya ini Allah memperlihatkan mukjizat Nabi Yusuf a.s. yang mampu menakwilkan mimpi penghuni penjara yang lain.

Nabi Yusuf a.s. tetap dipenjara selama beberapa tahun[2]. Saat beliau dipenjara, beliau mendapatkan kesempatan untuk menakwilkan mimpi raja saat tidak satu orang pun tidak dapat menakwilkan mimpi raja itu sebagaimana tertuang dalam ayat 43 s.d. ayat 49. Kebenaran pun akhirnya sampai kepada raja dan Nabi Yusuf a.s. mendapatkan kesempatan untuk bebas dari penjara. Walaupun begitu, Nabi Yusuf a.s. tidak serta merta keluar dari penjara sebelum membuktikan bahwa beliau memang benar-benar tidak berkhianat dengan menggoda Zulaikha (istri raja).
Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka." {*} Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu[+1] ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya." Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar." {*} (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. (QS. Yusuf:50 - 52)
Setelah keluar dari penjara, dikisahkan bahwa Nabi Yusuf a.s. akhirnya diberikan kedudukan yang tinggi, yaitu sebagai bendaharawan negara. Bagian ini begitu mengena karena memperlihatkan bagaimana Nabi Yusuf a.s. akhirnya mendapatkan kedudukan yang tinggi karena keteguhannya bertahan sebagai manusia yang jujur dan dapat dipercaya. Sebuah kisah yang jarang kita temukan di antara para pemimpin/wakil rakyat kita saat ini.

Kisah tentang Nabi Yusuf a.s. berlanjut dengan pertemuan beliau dengan saudara-saudaranya. Bagian ini cukup panjang dan diceritakan mulai dari ayat 58 s.d. ayat 93. Bagian ini bercerita tentang kedatangan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. ke Mesir menghadap pembesar-pembesar Mesir untuk meminta bantuan bahan makanan.

Ceritanya agak panjang (36 ayat) untuk saya uraikan di dalam tulisan ini. Inti dari cerita pertemuan ini adalah siasat Nabi Yusuf a.s. untuk dapat bertemu kembali dengan saudara beliau yang bernama Bunyamin dan menahan Bunyamin agar dapat tinggal di Mesir bersama Nabi Yusuf a.s. Kisah pertemuan Nabi Yusuf a.s. dengan Bunyamin ini yang akhirnya berlanjut dengan kisah pertemuan Nabi Yusuf a.s. dengan kedua orang tuanya. Semua itu memungkinkan dengan izin Allah SWT.
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud[+2] kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf:100)
Sebagai penutup, saya kutip doa Nabi Yusuf a.s. menjelang akhir surat Yusuf dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf:101)
Satu hal yang saya pelajari dari cerita tentang Nabi Yusuf a.s. ini adalah bagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. untuk "melenyapkan" Nabi Yusuf a.s. itu tidak berjalan sesuai rencana. Pada akhirnya justru siasat Nabi Yusuf a.s. yang diizinkan oleh Allah SWT untuk berjalan sesuai rencana. Pada saat itu terungkaplah kekuasaan Allah yang tidak terkalahkan siasatnya. Hal yang sama juga berlaku pada siasat Zulaikha yang ingin menjebak Nabi Yusuf a.s. saat Nabi Yusuf a.s. menolak godaannya.

Hanya saja bukti kekuasaan Allah itu tidak datang begitu saja. Bahkan untuk seorang nabi seperti Nabi Yusuf a.s. pun bukti kekuasaan Allah itu datang perlahan dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kesabaran dan kejujuran Nabi Yusuf a.s. yang menjadi "perantara" datangnya bukti kekuasaan Allah.

Bagaimana dengan kita? Wallahu a'lam.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:111)
--
[1]Al-Qur'an surat Yusuf ayat 21.
[2]Al-Qur'an surat Yusuf ayat 42.
[+1]Yang dimaksud dengan keadaanmu ialah pendapat wanita-wanita itu tentang Yusuf a.s. apakah dia terpengaruh oleh godaan itu atau tidak.
[+2]Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud ibadah.

Jumat, 12 Agustus 2011

Menjadi Ayah (dan Suami) di Bulan Ramadhan

0 opini
Bagi umat Islam, bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan. Di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim sudah pasti melaksanakan ibadah puasa. Tentu saja puasa yang dimaksud bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga puasa dalam konteks menahan amarah dan syahwat. Di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim pun tidak akan sungkan beramal. Frekuensi shalat sunnah diperbanyak, sedekah diperbanyak, semangat bekerja semakin tinggi, kejujuran semakin kokoh, dan berbagai kebaikan lain yang diperbanyak dan diperkuat selama bulan Ramadhan ini.

Di bulan Ramadhan ini, seiring dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas amal baik yang dilakukan, kebaikan dalam diri seseorang pun akan meningkat. Bahkan dapat dikatakan bahwa di bulan Ramadhan ini, setiap Muslim akan mencapai titik maksimal kebaikan masing-masing. Kejujuran akan dimaksimalkan, integritas pun ikut dimaksimalkan, profesionalisme pun pada akhirnya menjadi maksimal. Masih banyak lagi kebaikan lain yang dimaksimalkan dalam diri setiap Muslim yang berpuasa di bulan ini.

Hal yang sama juga dapat terjadi dalam menjalankan peran kita sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami di tengah-tengah keluarga kita. Di bulan Ramadhan ini, kita pun dapat memaksimalkan kebaikan yang ada dalam diri kita sebagai seorang ayah dan seorang suami. Kebaikan maksimal ini dapat kita terapkan dalam keluarga kita lewat kiat-kiat berikut ini:
  1. Memaksimalkan kesabaran.
    Bulan Ramadhan adalah bulan paling kondusif untuk mengelola amarah (bahasa gaulnya: anger management). Bukan hanya kita, tapi orang-orang di sekitar kita pun mengelola amarah mereka di bulan ini. Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah bulan yang paling tepat untuk memaksimalkan kesabaran. Kita dapat menekan frekuensi amarah di tengah keluarga kita dengan menyikapi setiap masalah dalam keluarga dengan bijaksana.
  2. Memaksimalkan sesi makan sahur dan berbuka.
    Saya yakin kita semua pernah mendengar betapa pentingnya sesi makan bersama keluarga. Sesi makan ini sangat baik bila dimanfaatkan sebagai media komunikasi dengan istri dan anak-anak kita. Akan tetapi, mewujudkan sesi makan bersama keluarga ini kadang sulit; umumnya karena alasan pekerjaan. Di bulan ramadhan ini, sesi makan bersama akan semakin mudah terwujud lewat sahur bersama dan buka puasa bersama. Tidak hanya nuansa kebersamaan yang ada dalam sahur dan buka puasa bersama keluarga kita, tapi nuansa religius yang ada pun akan membantu mempererat kebersamaan itu.
  3. Memaksimalkan keteladanan.
    Mulai dari meningkatkan kesabaran dan kebijaksanaan sampai meningkatkan kuantitas (dan juga kualitas) kebersamaan dengan istri dan anak-anak kita, kita secara tidak langsung telah menjadi teladan yang baik dalam keluarga kita. Akan lebih baik kalau kita juga mulai membiasakan kebaikan-kebaikan kecil seperti membantu pekerjaan istri, menemani anak-anak bermain, atau lainnya. Dengan begitu, hubungan kita dengan keluarga akan bertambah erat sehingga keteladanan kita akan memiliki dampak yang lebih mendalam.
Masih banyak kiat-kiat lain yang dapat kita terapkan dalam keluarga kita selama bulan Ramadhan. Penerapannya sendiri kembali kepada masing-masing ayah (atau suami) karena kondisi keluarga setiap orang itu berbeda. Saya sendiri saat ini fokus pada tiga kiat yang sudah saya sebutkan di atas. Alhamdulillah saya pun merasakan manfaatnya.

Dengan lebih bersabar menyikapi masalah dalam keluarga, hati saya menjadi lebih tenang. Hal ini dikarenakan kemarahan saya itu seringkali menimbulkan penyesalan dalam diri saya sendiri. Selain itu, istri dan anak-anak saya pun menyikapi perbaikan sifat saya ini dengan perubahan positif. Yang paling terlihat adalah perubahan pada anak-anak saya. Tanpa keterlibatan emosi (atau rasa takut), anak-anak saya menjadi lebih berani mengakui kesalahan mereka dan tidak segan-segan meminta maaf.

Dengan adanya sesi makan sahur, saya punya waktu lebih banyak bersama istri saya. Anak-anak saya sendiri belum mencapai usia yang cukup untuk ikut berpuasa. Makan sahur berdua bersama istri saya memberikan waktu ekstra untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar cerita; salah satu proses yang layak dilakukan untuk menjaga keterbukaan dan keharmonisan. Hal yang sama juga berlaku untuk sesi buka puasa. Bedanya adalah anak-anak saya ikut terlibat dalam sesi buka puasa tersebut.

Untuk keteladanan sebenarnya konsekuensi dari dua perubahan di atas, yaitu semakin mempererat hubungan saya dengan istri dan anak-anak. Hubungan yang erat ini yang memungkinkan saya menjadi teladan bagi istri dan anak-anak saya. Tidak mungkin saya menjadi teladan kalau istri dan anak-anak saya itu tidak menyukai saya. Pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan saya (yang baik) pun dapat dengan mudah mereka lihat dan ikuti. Dampak positifnya adalah saya tidak perlu repot-repot memaksa mereka (terutama anak-anak saya) untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan saya.

Pada intinya, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk memaksimalkan kebaikan. Dengan begitu, bulan Ramadhan ini dapat kita manfaatkan untuk menjadi seorang ayah (atau suami) yang lebih baik bagi anak-anak dan istri kita. Tentu saja dengan harapan bahwa kebaikan yang kita bentuk selama Ramadhan ini akan tetap langgeng sampai Ramadhan berikutnya; bahkan sampai akhir hayat.

Rabu, 10 November 2010

Mengenal Batasan Integritas

0 opini
Dalam kondisi ideal, integritas tidak mengenal batas. Sikap jujur dan profesional yang kerap kali disandingkan dengan integritas sudah sepantasnya tidak mengenal batas. Dapat dikatakan bahwa dalam kondisi ideal, pilihannya adalah menjaga integritas atau mati. Akan tetapi, dunia nyata bukanlah kondisi ideal.

Di dunia ini, integritas jelas mengenal batas. Kadang batasan itu diakibatkan oleh pengaruh eksternal, kadang batasan itu disebabkan oleh pengaruh internal. Masing-masing sisi, eksternal atau internal, memiliki variasinya masing-masing. Variasinya pun bergantung pada waktu dan tempat integritas itu diterapkan oleh seseorang.

Dalam dunia kerja, batasan integritas itu datang dari berbagai arah. Untuk bawahan, batasan integritas datang dari atasan. Bawahan akan menjaga sikap di hadapan para atasannya untuk menghindari hukuman. Untuk atasan, batasan integritas datang dari bawahan. Atasan senantiasa menjaga sikap untuk menghindari rasa malu di hadapan bawahannya. Rekan kerja pun memiliki pengaruh tersendiri. Seseorang bisa jadi menjaga sikap saat berada di sekitar rekan-rekannya.

Dengan pola yang pragmatis seperti itu, integritas menjadi salah satu topeng dalam panggung sandiwara pekerjaan atau kasarnya sebuah bentuk kemunafikan. Integritas hanya dijaga agar terhindar dari hukuman dan rasa malu. Saat seseorang merasa aman dari hukuman dan rasa malu ini, integritas tidak lagi penting untuk dipertahankan.

Saat integritas diperlakukan sebagai topeng, maka tidak heran bila kita melihat banyak pejabat korupsi. Tidak juga kita perlu heran melihat banyak orang selingkuh. Tidak perlu heran bila kita melihat banyak orang pergi meninggalkan kantornya saat jam kerja. Jangan pula heran saat berbagai bentuk penyimpangan, besar atau kecil, terus terjadi di sekitar kita.

Integritas sepantasnya dibatasi oleh diri kita sendiri. Bagi seorang muslim, integritas justru dibatasi oleh keberadaan Allah. Saya sendiri memilih Allah untuk mengawasi integritas saya karena saya sadar manusia itu sering dibohongi dirinya sendiri. Dengan kehadiran Allah dalam hidup saya, saya yakin tidak akan ada yang luput dari pengawasan. Kebohongan sekecil apa pun yang kita lakukan akan diketahui oleh Allah. Kebenaran sekecil apa pun yang kita lakukan akan diketahui oleh Allah. Kondisi seperti ini yang dapat membuat integritas menjadi tanpa batas karena tidak ada pengawas yang lebih baik selain Allah.

Saya sering tegaskan kepada diri saya bahwa istilah terlalu jujur itu sering dipakai secara berlebihan. Bila Anda membocorkan rahasia negara saat peperangan, Anda bisa dikatakan terlalu jujur. Saat Anda membeberkan lokasi keluarga Anda pada kelompok penculik, Anda bisa dikatakan terlalu jujur. Tapi saat Anda mengakui bahwa Anda terlambat masuk kantor saat rekapitulasi absensi mengatakan sebaliknya, ini adalah sebuah bentuk kejujuran; bukan terlalu jujur. Saat atasan tidak di tempat dan Anda bersikeras untuk tetap bekerja, ini adalah sebuah bentuk kejujuran; bukan terlalu jujur.

Bila semua orang membiasakan hidup jujur dimulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar, integritas akan terjaga dengan mudah. Dalam kondisi seperti ini, integritas berubah dari sekedar topeng menjadi bagian dari wajah -tidak akan lepas dalam kondisi apa pun. Dan dalam kondisi seperti ini, proses perbaikan individu, masyarakat, bangsa dan negara akan menjadi optimal.

Sudahkah kita hidup jujur hari ini?

Tulisan terkait:
Terlalu Jujur - http://asyafrudin.blogspot.com/2009/10/terlalu-jujur.html

Senin, 26 Oktober 2009

Terlalu Jujur

2 opini
Bohong adalah salah satu ciri orang munafik. Bohong bukanlah bagian dari kepribadian seorang Muslim. Bohong dapat dilakukan dalam keadaan terpaksa, tapi bukan berarti bohong seperti ini dibenarkan. Bohong dalam keadaan terpaksa adalah perbuatan dosa yang diampuni (dimaafkan). Itu artinya bohong dalam keadaan apa pun tetap berdosa. Hanya saja dalam beberapa kondisi tertentu, dosa tersebut dapat (bukan pasti) diampuni.

Saat kita memandang kebohongan sebagai sesuatu yang dibenarkan, peluang kita akan memandang remeh kebohongan itu akan meningkat. Namun apabila kita menegaskan bahwa bohong dalam kondisi apa pun adalah perbuatan dosa, kita akan lebih berhati-hati dalam berbohong. Kita pun akan lebih berhati-hati dalam menentukan kondisi terpaksa yang mengharuskan kita berbohong.

Garis batas keterpaksaan ini sayangnya bersifat subjektif. Sulit sekali menemukan panduan yang objektif untuk menentukan apakah sebuah kebohongan itu dilakukan karena terpaksa atau sekedar cari selamat. Perbedaan garis batas keterpaksaan ini yang menjadi dasar adanya istilah "terlalu jujur".

Saya ambil contoh pengalaman pribadi saja. Saya pernah beberapa kali terlambat tiba di kantor. Absensi di kantor masih dilakukan secara manual. Setiap pegawai cukup mengisi buku absen sesuai keyakinan masing-masing; bukan sesuai kenyataan. Menyikapi keterlambatan saya, saya tetap saja mengisi absen sesuai jam kedatangan. Terlambat berapa menit pun, saya isi sesuai kenyataan walaupun saya sadar bahwa pada setiap keterlambatan ada potongan gaji 1,25%.

Suatu kali saya mendengar celetukan seorang rekan kerja. Dengan nada bercanda, rekan saya mengatakan bahwa saya terlalu jujur. Pada saat itu saya hanya tersenyum. Saya tidak terlalu ingat bagaimana saya meresponnya. Satu hal yang pasti, istilah "terlalu jujur" itu menyangkut dalam pikiran saya. Hal itu mungkin candaan, tapi bagi saya kejujuran adalah topik yang harus disikapi dengan serius; asalkan tidak terlalu serius.

Saya berpikir saat celetukan terlalu jujur itu terlontar, saya merasa bahwa kejujuran saya itu dianggap berlebihan atau tidak pada tempatnya. Hal ini jelas membuat saya bingung. Bagian mana dari kejujuran saya yang tidak pada tempatnya? Bagian mana dari kejujuran saya yang berlebihan?

Walaupun begitu, saya sadar bahwa perbedaan pemikiran ini terjadi karena adanya perbedaan garis batas keterpaksaan yang membolehkan kejujuran. Bagi diri saya, memanipulasi jam kedatangan saat terlambat masuk kantor bukanlah sebuah kebohongan yang dapat diampuni. Bagi orang lain mungkin berlaku sebaliknya.

Alasan saya untuk tidak pernah berbohong saat terlambat karena saya tidak pernah menemukan alasan keterpaksaan tersebut. Walaupun alasannya untuk menghindari rapor merah kehadiran atau mencegah terjadinya pemotongan gaji, tetap saja saya tidak merasa terpaksa. Apalagi bila hal ini dikaitkan dengan menghindari pemotongan gaji 1,25%. Itu artinya untuk setiap manipulasi jam kedatangan, saya berhasil menyelamatkan 1,25% potongan gaji. Hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa 1,25% tersebut merupakan hasil kebohongan. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Contoh yang saya berikan di atas memang contoh kecil. Namun saya rasa justru contoh kecil tersebut menjadi fundamental. Orang pada umumnya lebih peduli pada kebohongan-kebohongan yang besar. Akhirnya orang pun terbiasa melakukan kebohongan-kebohongan yang kecil. Padahal dosa pada hakikatnya adalah dosa. Menghitung besar atau kecilnya dosa sama saja dengan mempertaruhkan nasib kita di akhirat kelak.

Referensi: