Tampilkan postingan dengan label Agile Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agile Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Agustus 2023

Meruntuhkan Tembok Pemisah Anak dan Orang Tua

0 opini

Meruntuhkan tembok yang sudah terlanjur berdiri membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Hal yang sama berlaku untuk "tembok" antara saya dan kedua anak laki-laki saya. Butuh lebih dari ngobrol santai sambil jalan ke masjid untuk benar-benar merobohkan tembok itu.

Jalan panjang untuk merobohkan tembok itu saya mulai sejak tahun 2018. Saat itu, setelah bertahun-tahun berkutat dengan Agile, saya mulai menerapkan hal-hal positif dalam Agile ke dalam cara saya mendidik anak. Penerapannya mencakup teori (fondasi) sampai praktik yang relevan.

Sebagai fondasinya, saya menyusun Agile Parenting Manifesto saya sendiri. Manifesto itu menyontek isi Manifesto Agile yang asli, yaitu Manifesto for Agile Software Development. Saya ubah isinya agar Manifesto yang saya buat sesuai dengan konteks mendidik dan membesarkan anak.

Manifesto untuk Agile Parenting yang saya susun dapat dibaca di sini: https://asyafrudin.blogspot.com/2018/07/mendidik-anak-dengan-agileparenting.html

Inti dari Manifesto itu adalah mengutamakan kebahagiaan semua anggota keluarga, baik anak-anak maupun orang tua. Kebahagiaan didefinisikan bersama-sama melalui komunikasi yang positif dan terbuka. Untuk memaksimalkan keterbukaan, pastikan ada toleransi dan fleksibilitas.

Sejak saat itu, setiap praktik parenting yang saya lakukan terus mengacu ke Manifesto itu. Mulai dari membiasakan family meeting, lebih toleran terhadap masalah, sampai membuat kesepakatan internal rumah tangga, dasarnya adalah Manifesto itu. Pola parenting saya berubah drastis.

Perlahan-lahan kedua anak laki-laki saya lebih berani membuka diri. Frekuensi mereka bercerita, termasuk bercerita soal masalah, ikut meningkat. Masalah tetap ada, tapi lebih sedikit yang disembunyikan. Akibatnya kuantitas kebohongan dan silat lidah mereka juga menurun.

Upaya saya untuk menahan diri dari marah juga memberikan hasil positif. Semakin sedikit kebohongan, semakin mudah bagi saya untuk fokus pada masalah yang ada. Dengan begitu, saya bisa lebih bijak menghadapi masalah di tengah keluarga, khususnya yang terkait dengan anak-anak.

Setelah 5 tahun lebih menerapkan Agile Parenting, hasilnya memang positif. Anak-anak saya sendiri bahkan mengaku, lewat obrolan kami, bahwa mereka berdua merasa lebih nyaman berinteraksi dengan saya. Saya juga merasa lebih nyaman berinteraksi dengan mereka berdua.

Sayangnya sisa-sisa tembok yang runtuh itu masih ada. Kebohongan masih terdeteksi sesekali waktu. "Pemberontakan" yang tersembunyi juga masih saya pergoki walaupun saya berkali-kali minta mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Namun, trennya tetap ke arah yang lebih baik.

Hal yang menarik adalah kecepatan runtuhnya tembok itu berbeda di antara kedua anak laki-laki saya. Salah satu dari mereka kelihatannya memiliki luka yang lebih dalam di masa kecilnya. Alhasil proses untuk menjadi lebih terbuka juga membutuhkan waktu yang lebih lama.

Hal itu membuat saya menyadari bahwa anak-anak butuh pendekatan yang personal dan privat. Setiap anak butuh komunikasi dan interaksi yang sesuai dengan kondisi masing-masing dan saya harus merespons hal itu. Mungkin saya bisa bagikan juga ceritanya, tapi tidak di sini.

Satu hal yang pasti, obrolan yang terjadi saat kami bersama-sama pergi shalat berjamaah adalah hasil dari perbaikan komunikasi dan interaksi. Obrolan itu menjadi bagian dari keterbukaan yang kami butuhkan di tengah keluarga kami. Semoga saja hal ini bisa kami pertahankan. Aamiin.

***

Sumber: https://twitter.com/asyafrudin/status/1690932699408814080

Senin, 14 Agustus 2023

Mengikat Hati Anak dengan Shalat Berjamaah

0 opini

Ada banyak alasan mengajak anak ke masjid. Kita bisa mengenalkan anak pada berbagai kegiatan di masjid mulai dari shalat berjamaah, mengaji, tidur, sampai main petak umpet. Kita bisa mengenalkan anak pada adab di masjid seperti mengutamakan shalat daripada main petak umpet.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah ikatan. Mengajak anak shalat di samping kita dan melanjutkannya dengan berzikir, apabila dilakukan secara konsisten, akan menjadi salah satu cara membentuk ikatan antara kita dengan anak kita. Namun, kita tidak bisa berhenti di situ.

Ikatan akan terbentuk bila shalat dan zikir menjadi bagian dari rangkaian interaksi yang kita bangun bersama anak-anak kita. Obrolan dan canda dalam perjalanan pergi dan pulang dari masjid juga tidak kalah penting. Prosesnya harus kita rangkul secara menyeluruh.

Saya merasakan hal itu dengan anak saya yang paling kecil. Berhubung dia perempuan, saya tidak membiasakan dia pergi ke masjid. Mungkin alasan dia hanya sebatas ingin bermain bersama teman-temannya, tapi dia selalu ingin pergi ke masjid bersama saya. Alhamdulillaah.

Hampir setiap hari kami selalu berjalan bergandengan tangan ke masjid. Subuh, Magrib, dan Isya menjadi We-Time untuk saya dan anak bungsu saya itu. Di akhir pekan, Zuhur dan Asar juga sama. Kadang kami naik motor, kadang sepeda. Apapun modanya, kebersamaan itu terus terjaga.

Dalam kebersamaan itu kami bertukar cerita. Ceritanya cenderung ringan, tapi kadang serius seperti masalah dengan teman atau isu di sekolah. Kadang saya sendiri yang memulai pembicaraan serius. Ada kalanya obrolan itu menjadi pembuka untuk membahas sesuatu yang lebih penting.

Tentu saja kondisinya tidak selalu kondusif. Ada kalanya mood saya atau anak saya sedang tidak baik. Akhirnya kebersamaan itu hanya sebatas sama-sama jalan pada waktu yang sama. Namun, ada kalanya mood itu membaik karena kami mau bertanya atau bercerita tentang masalah kami.

Ya, benar. Kalau saya diam saja, anak saya itu berani bertanya ada masalah apa. Saat saya menjawab dan bercerita, ada belenggu yang lepas dari hati saya sehingga mood saya membaik. Kalaupun saya tidak bisa ceritakan, rasanya tetap lebih plong saat kita merasa diperhatikan, kan?

Hal itu bersifat resiprokal. Kalau dia diam saja, giliran saya yang bertanya ada masalah apa. Kadang dia mau menceritakan hal yang membuat dia gundah, tapi kadang dia menahannya. Apapun pilihannya, kelihatannya dia tetap mendapatkan mood booster yang sama dari perhatian saya.

Pengalaman positif itu terus saya rasakan. Saya ceritakan juga pengalaman itu kepada istri saya. Saya melihat kebersamaan itu, walaupun kecil, sebagai sesuatu yang berharga. Saya yakin istri saya juga bisa mengambil manfaatnya kalau dia ikut mendampingi anak saya ke masjid.

Satu hal yang saya sesali adalah hal itu tidak saya dapatkan bersama kedua anak laki-laki saya yang pertama. Saya bahkan secara aktif membiasakan mereka shalat berjamaah di masjid. Namun, kuantitas (atau mungkin kualitas) kebersamaan yang sama tidak saya rasakan bersama mereka.

Saya sadari bahwa saya lebih sering bersikap keras saat membesarkan kedua anak laki-laki saya. Saat saya berhasil menjadi lebih bijaksana, "tembok" antara saya dan mereka sudah terlanjur berdiri. Anak bungsu saya lebih beruntung karena tumbuh bersama saya yang lebih dewasa.

Untungnya tembok yang menjadi pemisah itu masih bisa diruntuhkan sedikit demi sedikit. Walaupun tidak seintens dengan adik mereka, suasana akrab saat kami pergi ke masjid bersama masih terbentuk. Obrolan dan canda masih muncul sesekali waktu. Pengalamannya tetap menyenangkan.

Satu hal yang pasti, kebersamaan yang saya rasakan bersama anak-anak saya adalah bagian dari kebersamaan yang lebih besar dalam hidup kami. Komunikasi dan interaksi positif memang harus dibentuk dalam setiap kesempatan yang ada. Shalat berjamaah di masjid adalah salah satunya.

***

Sumber: https://twitter.com/asyafrudin/status/1690932675086032897

Minggu, 20 November 2022

Ayah Boleh Curhat

0 opini

Minggu lalu saya membuat tulisan singkat bahwa dalam parenting, orang tua juga perlu memperhatikan perasaan dan kebutuhannya sendiri. Hal itu bisa dilakukan. Jadi, perasaan dan kebutuhan anak dan orang tua diusahakan agar berjalan beriringan.

Hari ini, saya mendapat kesempatan untuk mempraktikkan (lagi) apa yang saya tulis pekan lalu. Hari ini, setelah sekian banyak isu dengan anak-anak, saya meminta waktu mereka untuk mendengarkan uneg-uneg saya. Ya, saya curhat tentang anak-anak saya langsung ke anak-anak saya. 

Saya mulai dengan menjelaskan kepada anak-anak saya bahwa setiap isu di dalam keluarga juga memiliki dampak buruk untuk saya sendiri. Saat saya menegur mereka, bukan hanya mereka yang merasa tidak nyaman, saya juga sama. Bukan hanya mereka yang sakit hati, saya juga. 

Dari situ saya tegaskan bahwa kalaupun sudah disepakati ada konsekuensi dari setiap masalah, mereka memang dirugikan, tapi bukan berarti saya tidak kecewa. Kekecewaan, sekecil apa pun itu, kalau terjadi berulang-ulang, akan menumpuk juga. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. 

Mereka memang konsekuen. Apa yang menjadi konsekuensi, mereka jalani. Contohnya kalau disepakati bahwa konsekuensinya adalah tidak main gim, mereka tidak main gim. Masalahnya adalah konsekuen menjalani konsekuensi tidak otomatis menyembuhkan rasa kesal yang terlanjur menumpuk. 

"Kalian terus-menerus menyakiti hati Abi," kata saya, "Rasanya ingin pergi." Saya tegaskan juga soal rasa jenuh saya menghadapi berbagai masalah yang muncul, khususnya yang berulang. Saya ceritakan dampak buruknya secara utuh terhadap semangat saya mendidik mereka. 

Curhatnya cukup panjang, tapi setelah curhat, hati ini terasa plong. Rasa kesal yang saya tahan akhirnya lepas dengan cara yang baik. Saya merasa puas karena didengarkan. Rasa "ingin pergi" menghilang begitu saja dan saya bersemangat kembali untuk tetap terlibat mendidik mereka. 

Minggu, 13 November 2022

Orang Tua juga Butuh Diperhatikan

0 opini

Parenting umumnya fokus pada kebutuhan, perasaan, bakat, dan minat anak. Hal itu memberi kesan kalau orang tua tidak perlu diperhatikan. Pengamatan dan pengalaman saya justru melihat hasil parenting akan lebih optimal kalau setiap orang, yaitu anak dan orang tua, diperhatikan. 

Contoh ketimpangannya banyak. Pertama, saat anak sedih, simpati dan empati berdatangan, tapi saat orang tua sedih, responnya hanya "Sabar, ya." Kedua, upaya ekstra diberikan untuk mengembangkan bakat/minat anak, tapi untuk minat orang tua, tidak usah repot-repot. 

Ketimpangan itu memang wajar karena orang tua memang perlu berkorban demi anaknya. Akan tetapi, bayangkan kalau orang tua yang sedih juga mendapatkan simpati atau empati. Bayangkan kalau minat orang tua juga diperhatikan, lalu diselaraskan dengan minat anaknya. Keren, kan? 

Maksud saya adalah di balik pengorbanan orang tua, kebahagiaan mereka tidak harus dikorbankan. Orang tua juga butuh ruang aman untuk berkeluh kesah. Orang tua juga butuh waktu dan tempat untuk melakukan apa yang dia sukai, bukan hanya melakukan apa yang menjadi kewajibannya. 

Nah, bayangkan kalau perhatian terhadap orang tua itu juga masuk dalam kerangka parenting. Dalam kondisi itu, bukan hanya anak-anak yang menjadi obyek parenting, tapi orang tua juga. Walaupun intensitasnya berbeda, minimal orang tua tidak perlu cuek terhadap dirinya sendiri. 

Itu artinya orang tua bisa mengupayakan kebahagiaan anaknya tanpa harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Hal yang dicari adalah jalan tengah. Parenting tidak berhenti di "anak butuh apa", tapi juga melihat "orang tua butuh apa" dan "komprominya bagaimana". 

Tujuan besarnya adalah meningkatkan keterlibatan. Orang tua yang tahu kalau dirinya juga diperhatikan sangat mungkin akan lebih terlibat (dan lebih bertanggung jawab) dalam parenting. Saat itu terjadi, ikatan antara orang tua dan anak akan lebih mudah terbentuk. 

---

Artikel ini berhubungan dengan urgensi moment dan attachment dalam parenting. Pembahasan singkat mengenai moment dan attachment itu dapat dibaca di sini: Menemukan Moment dan Attachment dalam #AgileParenting

Minggu, 16 Januari 2022

Tanpa Gim, Tanpa Proyek (2)

0 opini
Game Over oleh Freepik

Sambungan dari Tanpa Gim, Tanpa Proyek (1)

Pilihan untuk berhenti mengerjakan proyek pribadi tidak langsung diterima oleh anak-anak saya. Mereka masih mencoba mengikuti kemauan saya agar mereka terus mengerjakan proyek yang sudah disepakati sebelumnya. Hal-hal seperti membangun keterampilan, memperluas wawasan, atau mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dijadikan alasan untuk terus mengerjakan proyek. Tapi, apa yang terucap sudah tidak lagi terlihat. Cara mereka mengerjakan proyek pribadi mereka sudah jelas menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersemangat. Sangat jelas terlihat bahwa mereka melakukan itu hanya demi main gim setiap hari. Kesimpulannya, proyek pribadi tetap berhenti.

Seminggu setelah kesepakatan itu kami buat, saya tanyakan kembali kesan mereka setelah 1 minggu tidak mengerjakan proyek. Untungnya kami sudah terbiasa melakukan pertemuan keluarga setiap pekan. Jadi, waktu untuk melakukan evaluasi terhadap kesepakatan di dalam keluarga selalu tersedia. Di pertemuan keluarga itu, salah satu anak saya menyatakan bahwa tidak mengerjakan proyek itu "biasa saja." Saudaranya justru berkata, "enak." Walaupun mereka terlihat sungkan mengutarakan itu, tapi itu adalah ungkapan yang jujur. Saya terima jawaban mereka apa adanya.

Akhirnya kami sepakat untuk meniadakan proyek pribadi sampai waktu yang tidak ditentukan. Berhubung proyek pribadi sepaket dengan waktu main gim di hari kerja, tidak ada proyek berarti tidak ada waktu main gim di hari kerja. Akan tetapi, kesempatan untuk main gim di hari kerja itu masih saya buka. Syaratnya hanya 1, yaitu mereka harus meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang ekstra. Argumen saya sederhana. Main gim di hari kerja itu, kan, ekstra dan untuk mendapatkan sesuatu yang ekstra, kita juga perlu upaya ekstra.

Secara tidak langsung, saya masih berharap mereka mengerjakan sesuatu di luar urusan akademis dan rutinitas sehari-hari mereka. Secara tidak langsung, saya masih berharap mereka mengerjakan proyek pribadi. Bedanya, kali ini saya memberikan kebebasan mutlak kepada mereka untuk memilih apa yang mau mereka kerjakan dan kapan mereka mengerjakannya. Hak dan kewajibannya sama, tapi tidak terlalu mengikat seperti sebelumnya.

Seminggu setelah kesepakatan itu dibuat, lagi-lagi di dalam pertemuan keluarga, saya evaluasi kembali "kebebasan" yang mereka dapatkan. Berhubung saya sesekali work from home (WFH), saya melihat sendiri bahwa mereka merasa lebih nyaman tanpa proyek. Walaupun tidak lagi bisa main gim setiap hari, hidup mereka tetap terlihat lebih santai. Saya sempatkan diri untuk menanyakan soal "upaya ekstra" mereka selama seminggu terakhir untuk melihat apakah ada yang akan main gim setiap hari di minggu berikutnya. Tidak ada satu pun yang melakukannya. Tapi, tidak ada satu pun yang terlihat menyesal, walaupun itu berarti hanya main gim di akhir pekan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, kondisinya masih sama. Mereka hidup tanpa gim, tanpa proyek. Durasinya belum terlalu lama karena kondisi ini dimulai sejak awal Januari. Jadi, perubahannya baru berjalan selama 2 minggu. Mungkin minggu depan mereka berubah pikiran, mungkin sampai akhir tahun kondisinya akan tetap sama. Siapa yang tahu, kan? Satu hal yang pasti, sebelum mereka menemukan proyek yang mereka senang lakukan tanpa paksaan, sepertinya kondisi tanpa gim (di hari kerja) dan tanpa proyek ini lebih baik bagi mereka. 

Minggu, 09 Januari 2022

Tanpa Gim, Tanpa Proyek (1)

0 opini

 

Gamer oleh Freepik

Kemudahan akses, pengaruh lingkungan, dan pengaruh iklan membuat gim tidak pernah lepas dari pikiran anak-anak. Kalau bisa main gim 24/7, anak-anak pasti akan melakukannya. Kalau waktu main gim itu dibatasi, anak-anak mungkin saja merasa terkekang atau bahkan tertekan. Oleh karena itu, waktu main gim adalah sesuatu yang perlu diatur dengan baik di dalam keluarga agar kepuasan bermain dapat diperoleh anak-anak tanpa main gim secara berlebihan.

Di dalam keluarga saya, waktu main gim anak-anak sudah mengalami beberapa kali perubahan. Awalnya anak-anak saya hanya main gim di gawai saya dan mainnya hanya di akhir pekan. Setelah ada cukup uang untuk membeli gawai baru, anak-anak memiliki gawai bersama untuk dipakai main gim bergantian, tapi waktu mainnya tetap hanya di akhir pekan. Setelah mereka cukup besar untuk memiliki gawai sendiri, mereka bebas mengatur gim di gawai masing-masing, tapi waktu main gim mereka tetap hanya di akhir pekan.

Sayangnya anak-anak saya terlalu cerdas untuk menahan diri main gim hanya di akhir pekan. Mereka sering menemukan cara curang untuk bisa main gim di luar waktu yang ditentukan, yaitu di hari kerja. Saat kecurangan-kecurangan itu bermunculan, saya mencoba mengatasinya dengan menegur dan menutup semua celah yang terbongkar. Akan tetapi, cara seperti itu melelahkan. Siapa yang tidak lelah kucing-kucingan dengan anak sendiri? Mau kita sikapi dengan keras, kasihan. Mau kita biarkan, semakin liar. Betul, kan?

Akhirnya saya dan istri saya sepakat memberikan sedikit waktu bermain di hari kerja, yaitu dari pukul 16.00 s.d. pukul 17.30. Kami tawarkan pilihan itu kepada anak-anak kami dengan syarat mereka mau melakukan upaya ekstra, yaitu dengan mengerjakan proyek pribadi. Bagi kami, itu adalah solusi menang-menang. Mereka menang karena bisa main gim di luar akhir pekan. Kami menang karena bisa membiasakan mereka melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dalam hidup mereka. Untungnya mereka setuju.

Waktu main gim tambahan itu berlaku untuk semua anak-anak saya, tapi proyek pribadi hanya dikerjakan oleh kedua anak remaja saya. Anak saya yang paling kecil tidak memiliki proyek pribadi. Waktunya sudah cukup banyak terpakai untuk mengerjakan bahasa di Duolingo dan Matematika di Khan Academy. Kedua anak remaja saya juga memiliki target harian menggunakan 2 aplikasi itu, tapi kecepatan mereka menyelesaikan target harian dan mengatur waktu jauh lebih baik daripada adik mereka. Jadi, tambahan urusan berupa proyek pribadi itu hanya berlaku untuk kedua anak remaja saya.

Saya juga jelaskan kepada kedua anak saya bahwa adanya proyek itu punya beberapa manfaat. Pertama, proyek pribadi membantu kita membangun keterampilan atau memperluas wawasan di luar rutinitas sehari-hari kita. Kedua, membuat diri kita menjadi lebih bermanfaat dengan menghasilkan sesuatu yang positif dalam hidup kita. Ketiga, yang paling pragmatis, membantu mengisi waktu luang agar waktu itu tidak berbalik menjerumuskan ke dalam hal-hal yang merusak hidup kita. Namanya juga remaja, kan?

Berhubung mereka tidak bisa memutuskan proyek sendiri, saya menyarankan 2 alternatif: membuat gim atau mengulas buku. Mereka sudah menulis beberapa ulasan yang dipublikasikan di blog pribadi mereka, tapi untuk pembuatan gim, mandek. Mereka berhasil membuat dengan meniru dan mengubah gim yang dibagikan oleh orang lain, tapi mereka terus saja kesulitan untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru. Saya tidak bisa cerita terlalu banyak di sini. Satu hal yang pasti, belum ada gim buatan mereka yang mau mereka publikasikan.

Kesepakatan untuk bermain gim di hari kerja dan mengerjakan proyek pribadi itu berjalan lancar, tapi lama-lama rasa jenuh itu muncul dan terus menguat. Walaupun mereka sungkan mengakuinya, saya bisa pastikan motivasi mereka untuk mengerjakan proyek pribadi itu mulai sirna. Puncaknya ada di akhir tahun 2021, yaitu di masa liburan sekolah. Pada saat itu, saya akhirnya menawarkan pilihan bagi anak-anak saya untuk berhenti mengerjakan proyek.

Bersambung ...

Minggu, 05 Desember 2021

Self-Organizing Family

0 opini

Keluarga (Gambar oleh www.freepik.com)

Kesannya luar biasa, ya, "Self-Organizing Family", padahal intinya hanya sebuah keluarga yang mandiri. Keluarga yang mandiri itu adalah keluarga yang mampu mengelola masalah dan mencari jalan keluarnya sendiri. Keluarga itu juga merupakan keluarga yang mampu mengurus dirinya sendiri tanpa mengandalkan pihak eksternal seperti pembantu rumah tangga (PRT), kakek-nenek, atau anggota keluarga besar lain. Keluarga yang mandiri itu yang ingin saya bicarakan dalam tulisan ini.

Hal yang memicu saya untuk menulis tentang self-organizing family adalah kenyataan bahwa hampir genap 1 tahun keluarga saya hidup tanpa PRT. Urusan bersih-bersih dibagi secara proporsional antara saya, istri saya, dan ketiga anak saya. Urusan makan, saat istri tidak sempat masak, kami serahkan ke GoFood atau GrabFood. Saya biasanya menggunakan GrabFood karena diskonnya lebih banyak daripada GoFood.

Saya cukup sering memesan GrabFood sampai-sampai akun saya terus bertahan di tingkat Platinum. Manfaatnya juga ... Eh, kenapa malah membahas GrabFood, ya? Kembali ke keluarga.

Kondisi semua serba dari rumah, yaitu kerja dan sekolah, juga memiliki andil membentuk lingkungan yang kondusif untuk keluarga yang mandiri. Urusan bersih-bersih sepertinya tidak mungkin kami tangani sendiri kalau saya dan istri harus ke kantor, sementara anak-anak juga harus ke sekolah. Selain itu, pengawasan terhadap anak-anak juga lebih mudah dilakukan saat saya atau istri saya ada di rumah.

Awalnya memang sulit, terutama saat PRT kami izin pulang dan tidak kembali lagi tanpa kabar bulan Desember lalu. Untungnya anak-anak saya tidak keberatan hidup tanpa PRT. Kami menyepakati beberapa penyesuaian untuk hidup lebih mandiri dan menurunkan beberapa standar, misalnya standar kebersihan rumah atau kerapian pakaian, agar urusan rumah tangga dapat kami tangani tanpa menjadi beban yang berlebihan. Saya bahkan membeli vacuum cleaner (2 kali) untuk memastikan rumah tetap bersih, terutama saat anak-anak saya yang bertugas bersih-bersih rumah.

Kalau saya ceritakan satu per satu penyesuaian yang kami lakukan, sepertinya akan terlalu panjang untuk dituangkan di sini. Pada intinya, kepergian PRT itu menjadi pemicu utama kemandirian kami sebagai sebuah keluarga, sementara kondisi kerja dan sekolah dari rumah membuat upaya membentuk kemandirian itu menjadi lebih kondusif. Sayangnya kemandirian itu belum benar-benar teruji karena saya dan istri saya masih ada di rumah untuk membantu dan mengawasi anak-anak.

Menguji Kemandirian

Sampai tiba waktunya saya dan istri saya harus pergi berdua saja. Saat itu bulan Oktober, 10 bulan sejak kami dan anak-anak kami mengurus kebutuhan kami sendiri. Kami diskusikan kepergian itu bersama anak-anak kami karena kami ingin mendengar pendapat mereka. Singkatnya, mereka lebih memilih bertahan di rumah bertiga saja daripada harus menginap di rumah kakek-nenek mereka. Mereka cukup percaya diri untuk menjalankan rutinitas harian tanpa kehadiran bapak-ibu mereka selama beberapa hari. Soal makan, bagaimana? Nasi bisa dimasak sendiri. Sisanya, ya, pesan-antar.

Antara optimis dan nekat karena kepepet, saya dan istri saya berangkat sesuai rencana. Anak-anak kami tetap di rumah sesuai pilihan mereka. Komunikasi kami jaga secara berkala. Pengawasan kami lakukan secara jarak jauh semampu kami. Bagaimana hasilnya? Rumah masih utuh, isinya juga tidak kurang satu apa pun, anak-anak tetap sehat, masalah (yang besar atau signifikan) juga tidak ada. Komunikasi saja yang kadang tidak berjalan lancar sehingga muncul kekhawatiran sesekali waktu. Secara garis besar, mereka sukses hidup tanpa pengawasan yang konstan dari kami.

Bagian yang "seru" adalah saat kakek-nenek mereka tahu kalau saya dan istri saya pergi begitu saja meninggalkan anak-anak kami tanpa memberi tahu mereka. Alasannya sederhana, kalau kami beri tahu mereka, kemandirian itu tidak akan terlihat, kan? Sayangnya logika itu tidak mudah diterima oleh kakek-nenek mereka dan ... Intinya, masalah sempat muncul, tapi reda dengan sendirinya. Mungkin kakek-nenek mereka sudah lelah berurusan dengan orang tua yang tidak konvensional seperti kami.

Beberapa hari yang lalu, hal itu terjadi lagi. Bedanya kali ini si Kecil Lucu ikut pergi bersama kami. Kedua anak remaja kami lagi-lagi memilih untuk tetap di rumah. Salah satu alasannya karena masa ujian masih berlangsung. Kalau harus bepergian, walaupun tujuannya dekat, waktu untuk belajar akan berkurang dan ada risiko kelelahan sehingga tidak bersemangat untuk belajar. Tapi, mereka mengakui bahwa sebenarnya mereka sedang malas bepergian. Jadi, keputusan untuk pergi bertiga saja tidak sulit dicapai. Hasilnya, bagaimana? Tidak jauh berbeda dengan cerita sebelumnya, bahkan lebih baik lagi karena mereka berhasil meluangkan waktu belajar sendiri tanpa diawasi orang tua mereka.

Oya, bagi yang penasaran, kami pergi bukan tanpa pertimbangan. Rumah kami ada di dalam sebuah cluster yang aman dari masalah seperti maling atau sejenisnya. Petugas keamanan di cluster juga tidak asing lagi dengan keluarga kami dan mudah dihubungi saat dibutuhkan. Rukun tetangga kami juga cukup akrab. Kami terbiasa untuk saling menjaga dan membantu saat yang lain ada masalah. Jadi, risiko ancaman eksternal cukup rendah di lingkungan sekitar rumah kami.

Menjaga Kemandirian

Saat tulisan ini dibuat, kami sudah kembali menggunakan PRT, tapi tidak menginap. Tempat kerja saya dan istri saya sudah mulai kembali ke rutinitas bekerja dari kantor. Anak-anak kami juga sudah mulai masuk sekolah walaupun hanya 1-2 kali per minggu. Untungnya jadwal masuk sekolah mereka berbeda-beda sehingga rumah kami tidak pernah kosong melompong. PRT bertugas menyapu, mengepel, menyetrika, dan bersih-bersih secara umum, tapi hanya dari hari Senin s.d. Jumat. Sabtu dan Minggu, urusan rumah tangga tetap kami tangani sendiri.

Di masa depan nanti, apalagi saat pandemi Covid-19 dianggap selesai dan semua kembali normal, rutinitas kami sekeluarga juga akan kembali normal seperti sebelum pandemi. Kami mungkin akan kembali mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan urusan rumah tangga kami. Walaupun begitu, saya tetap optimis kemandirian yang sudah kami bentuk tidak akan hilang begitu saja, khususnya kemampuan anak-anak kami untuk mengambil keputusan sendiri dan menjalaninya secara bertanggung jawab.

Minggu, 30 Mei 2021

Pelajaran dari Soul dan Inside Out

0 opini

Piano (Gambar oleh surang)
Saya memang selalu suka film-film buatan Pixar. Animasinya memanjakan mata, alur ceritanya menarik, dan lelucon-leluconnya cukup menghibur. Mayoritas film animasi buatan Pixar sepertinya ditujukan untuk anak-anak, tapi saya perhatikan ada banyak "pelajaran" yang dapat diambil oleh para penonton di atas umur seperti saya. Bagi saya, pesan moral yang disampaikan lewat film-film Pixar sering membuka mata saya lebih lebar lagi dalam melihat dan memahami kehidupan.

Berat ya? Tidak juga. Cara saya menyampaikannya mungkin saja memberikan kesan bahwa pesan moral yang saya bicarakan adalah hal-hal yang berat, tapi kenyataannya film-film Pixar menyampaikannya secara ringan dan menghibur. Ada banyak hal yang bisa dibahas dari alur film-film Pixar, tapi dalam tulisan kali ini, saya ingin membahas 2 film saja, yaitu Soul dan Inside Out.

Sebelum saya lanjutkan, saya perlu ingatkan bahwa tulisan selanjutnya akan berisi spoiler untuk kedua film tersebut. Saya memang tidak akan membahas alurnya karena saya ingin fokus pada pesan moralnya. Walaupun begitu, risikonya cukup tinggi bahwa alurnya akan terkuak saat saya membahas pesan moralnya. Jadi, kalau Anda tidak ingin mengambil risiko itu, silakan berhenti di sini.

Kembali ke pesan moral. Pertama, Soul. Soul menyampaikan pesan penting tentang cara menikmati hidup. Di satu sisi, ada karakter yang tidak siap untuk hidup karena tidak memiliki tujuan hidup. Di sisi lain, ada karakter yang tidak siap mati karena tujuan hidupnya belum tercapai. Ternyata kedua karakter itu memiliki kesamaan, yaitu mereka sama-sama tidak (belum) mampu melihat hidup kita apa adanya.

Kita seringkali terobsesi dengan tujuan sehingga kita merasa hidup tidak bisa dimulai tanpa tujuan. Kalau kita sudah terlanjur menjalani hidup, hidup kita akan terasa tidak berarti karena kita tidak pernah mencapai tujuan itu. Pada kenyataannya hidup adalah proses dan dalam prosesnya, hidup kita memiliki makna yang lebih asalkan perhatian kita tidak hanya tertuju pada sebuah tujuan. Hidup kita juga akan lebih bermakna kalau kita mau membangun hubungan dengan orang lain.

Kedua, Inside Out. Film ini punya memiliki pesan yang kuat tentang cara kita menyikapi kehidupan, khususnya tentang sikap positif. Sikap positif dianggap sebagai hal yang krusial dalam menjalani hidup. Sikap positif dianggap benar-benar penting sampai ke tingkat yang menganggap sikap negatif sebagai sesuatu yang buruk. Menempatkan sikap positif dalam posisi yang sangat tinggi seperti itu justru berisiko merusak. Hal itu yang umumnya kita kenal dengan istilah toxic positivity.

Pada kenyataannya, menjalani hidup tidak cukup dengan modal kebahagiaan. Setiap manusia butuh merasa sedih. Setiap manusia perlu menyalurkan kesedihan. Dengan penyaluran yang tepat, kesedihan akan berangsur pudar seiring dengan datangnya rasa tenang. Pada akhirnya, kebahagiaan akan kembali mengisi hati, tapi bukan karena dipaksakan untuk bahagia seperti halnya toxic positivity. Kebahagiaan yang datang setelah redanya kesedihan biasanya akan lebih kuat dan langgeng.

Bayangkan kalau kedua pesan di atas dapat kita resapi dan terapkan dalam hidup kita. Saya yakin kita akan lebih mampu menerima kenyataan dan lebih mampu menikmati setiap langkah yang kita ambil dalam hidup kita. Kalaupun ada hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menerima kesedihan yang muncul, mencoba mengutarakannya, lalu menemukan kembali hal-hal positif dalam hidup kita. Bayangkan betapa bahagianya hidup kita kalau kita bisa melakukan semua itu. Bayangkan juga betapa bahagianya hidup anak-anak kita kalau kita mampu menularkan semua pelajaran penting itu ke dalam diri mereka agar hidup mereka juga dapat diisi dengan berbagai kebahagiaan.

Seru, bukan? Yuk!

Senin, 03 Mei 2021

Menjadi Mantan Toxic Parent

1 opini

Mungkin ini baru pertama kalinya Anda mendengar istilah toxic parenting. Silakan googling untuk mencari tahu apa itu toxic parenting. Satu hal yang pasti, pola pengasuhan anak yang berdampak buruk itu bukanlah hal yang baru. Tingkatannya pun bervariasi mulai dari sekadar tekanan untuk berprestasi sampai kekerasan fisik demi membentuk kedisiplinan. Kenapa saya berani meyakinkan Anda bahwa toxic parenting ini bukanlah hal yang baru? Karena saya yakin Anda sudah melihat contoh dampak buruknya dalam diri orang-orang di sekitar Anda, bahkan dalam diri orang-orang yang saat ini sudah menjadi orang tua. Ya, kan?

"Apa Ada yang Namanya Toxic Parent?" (Sumber: Narasi Newsroom)

Video yang terpasang di atas merupakan salah satu contoh pembahasan singkat mengenai toxic parent yaitu para orang tua pelaku toxic parenting.  Isinya cukup bagus untuk mulai mengenal toxic parenting. Apa itu toxic parenting, apa dampak buruknya, dan bagaimana cara mengatasinya. Pertanyaan-pertanyaan dasar itu terjawab di dalam video itu, tapi saya akui pembahasannya masih menyentuh bagian permukaan. Untuk memahami toxic parenting dan solusi yang layak tentu saja tidak semudah itu, Ferguso.

Intinya toxic parent itu ada. "Buah karya"-nya pun ada. Sebagian bahkan sudah menjadi orang tua dengan kecenderungan toxic yang sama terhadap anak-anak mereka. Bayangkan bila kecenderungan itu terwujud, akhirnya anak-anak dari para toxic parent itu juga tumbuh menjadi toxic parent, kemudian mereka mendidik dan membesarkan anak-anak dengan model toxic serupa. Hal serupa terjadi secara berulang dari generasi ke generasi. Akhirnya apa yang terjadi? Pola toxic parenting menjadi warisan yang bertahan entah sampai berapa turunan.

Saya sadar tidak semua toxic parent berniat buruk. Sebagian dari mereka tulus ingin yang terbaik bagi anaknya. Mereka mendidik dan membesarkan anaknya untuk menjadi individu yang disiplin, mandiri, berprestasi, atau hal-hal positif lainnya demi kebahagiaan anaknya di masa depan. Mereka juga melakukannya agar anaknya bisa bangga terhadap dirinya sendiri. 

Masalahnya adalah para toxic parent yang bertujuan mulia itu lupa kalau anak mereka adalah individu tersendiri. Anak mereka bukanlah perpanjangan dari mereka. Anak mereka punya minat, keinginan, karakteristik, dan hal lainnya yang tidak sama dengan apa yang ada di benak dan harapan para toxic parent itu. Mereka lupa bahwa mendidik dan membesarkan anak seharusnya mengembangkan diri si Anak, bukan membuat anak menjadi persis seperti apa yang diinginkan mereka. Apakah kita termasuk para toxic parent berhati mulia itu?

Kalau kita berada dalam kondisi seperti itu, solusinya sederhana seperti yang tersurat dalam video di atas. Kita harus belajar mendengarkan isi hati dan pikiran anak kita. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan anak kita tidak semata-mata ditentukan oleh diri kita, tapi juga oleh anak kita. Dengarkan, bicarakan, lalu arahkan. Itulah 3 hal sederhana yang perlu kita lakukan terhadap anak kita masing-masing.

Saya sadar untuk benar-benar mendengarkan itu sulit. Been there, done that. Apalagi kalau kita sudah terbiasa didengarkan, sulitnya mungkin akan setengah mati. Kita harus terbiasa menahan diri dan membiarkan anak bicara sepenuh hati tanpa kita interupsi. Kita harus terbiasa menahan diri untuk tidak terlalu mengatur keinginan anak kita. Kita harus terbiasa menahan diri dan membiarkan anak kita memilih jalan ninja mereka sendiri. Namun, semua kesulitan itu sepadan.

Kita perlu melakukannya demi kebahagiaan, yaitu kebahagiaan kita bersama anak kita yang kita definisikan bersama-sama dengan anak kita. Bukankah kita terjebak dalam toxic parenting juga karena kita ingin membuat mereka bahagia? Kalau iya, mari ambil jalan yang lebih "sehat" agar kebahagiaan yang kita wujudkan bersama anak kita bukan sekadar kebahagiaan semu yang dihiasi dengan berbagai trauma kehidupan.

Yuk, bisa, yuk!

Minggu, 25 April 2021

Bohong Lagi, Belajar Lagi

0 opini

Detektor Bohong Individu*
Salah satu anak saya berbohong lagi. Dia melakukannya di bulan Ramadan, bulan yang seharusnya menjadi bulan untuk menahan diri dari keburukan. Dia melakukannya juga demi hal yang trivial, yaitu tidak mau kalah dari saudaranya dalam target membaca Al-Qur`an. Insiden kebohongan itu berhasil kami tangani dengan baik. Guncangan yang terjadi sudah terlewati dan hidup sudah kembali normal, tapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Terlepas dari itu, ada beberapa pelajaran penting yang saya rasa perlu saya ceritakan di sini.

Pertama, gengsi adalah kunci. Walaupun saya sudah wanti-wanti kepada anak-anak saya bahwa mereka tidak harus bisa melakukan apa yang dilakukan saudaranya, gengsi tetap saja muncul. Rasa tidak mau kalah tetap mampu menguasai pikiran anak-anak dan membuat mereka melakukan cara-cara curang agar tidak tertinggal. Itu yang mendorong salah satu anak saya untuk berbohong.

Kedua, berbohong adalah pilihan. Saat ada masalah, berbohong untuk menutupi sumber masalah atau untuk menghindari masalah akan selalu menjadi pilihan. Ada orang-orang yang mampu menahan diri dari berbohong, tapi kemampuan anak-anak masih mudah dikalahkan oleh nafsu mereka masing-masing. Itu alasannya kenapa anak saya berbohong. Dia tahu berbohong itu salah, tapi dia tidak mampu menahan diri dan memutuskan untuk berbohong demi gengsi.

Ketiga, bosan itu manusiawi. Sebaik apa pun sebuah kegiatan, kalau hal itu dilakukan terus-menerus, rasa bosan pasti akan datang. Itulah alasannya kenapa kebaikan itu lebih baik dilakukan sedikit-sedikit karena rasa bosannya akan lebih membebani bila dilakukan dalam jumlah banyak. Itu yang dirasakan oleh anak saya. Gengsi memang mendorong anak saya untuk berbohong, tapi rasa bosan juga memiliki peran krusial di situ. Gengsi untuk tetap "bersaing", tapi bosan untuk tetap bersaing membuat berbohong menjadi pilihan terbaik (baca: termudah).

Keempat, masalah dengan anak adalah berkah yang tersamarkan. Bila kita menyikapinya seperti sebuah kotoran yang harus dibuang keluar, berkah itu tidak akan sampai. Kita perlu menyikapinya sebagai sebuah kesempatan untuk lebih mengenal anak. Apa saja yang menjadi gengsinya, apa saja yang membuat dia bosan, apa saja yang mendorong dia untuk berbohong, sekuat apa tekad dia untuk menjadi orang jujur, kenapa dia tidak mau terbuka, dan banyak sekali pertanyaan lain yang dapat terjawab asalkan kita mau menanggapi masalah dia dengan bijaksana.

Tentu saja masih ada banyak pelajaran lain yang bisa saya bagikan di sini. Apalagi kalau terkait bohong, ada banyak sekali hal yang dapat saya temukan dalam diri anak-anak saya karena di balik kebohongan itu ada hal-hal yang sengaja disembunyikan dan menunggu untuk ditemukan. Asalkan kita cukup lihai menyelami masalah anak, semua itu dapat kita ungkap satu per satu. Ya, kan? 

--

*Gambar ditemukan lewat Google Search

Minggu, 18 April 2021

Proyek Pertama Raito: Ulasan Buku

0 opini

Sharks (rpaldebaran.wordpress.com)
Secara umum, Agile sangat identik dengan pengelolaan proyek. Proyek yang dikelola biasanya proyek yang dilakukan oleh sebuah organisasi, baik kecil maupun besar. Akan tetapi, bukan berarti Agile tidak dapat digunakan untuk mengelola proyek hobi.

Hal itu yang saya lakukan bersama anak-anak saya. Saya mendorong mereka untuk menumbuhkan minat di luar gim dan memiliki keterampilan di luar akademis. Saya mendorong mereka untuk menemukan dan menekuni sesuatu yang mereka suka, tapi tetap memiliki manfaat jangka panjang.

Jumat lalu, Raito, anak pertama saya, secara resmi berhasil menghasilkan sesuatu yang terukur, yaitu sebuah situs berisi ulasan buku. Awalnya dia hanya ingin menulis ulasan buku, tapi setelah kami berdiskusi, proyek itu berubah dari membuat ulasan buku menjadi mempublikasikan ulasan buku di Internet. Saat ini, dia sudah menulis 3 ulasan buku yang dia publikasikan di rpaldebaran.wordpress.com. Ulasan buku lainnya menyusul. Akhirnya Raito berhasil menyelesaikan proyek pertamanya. 

Sebenarnya proyek "pertama" Raito ini bukanlah yang pertama. Dia pernah memilih pemrograman dan mulai belajar JavaScript, HTML, dan CSS di Khan Academy. Setelah itu, dia pindah ke platform lain seperti Tynker yang menawarkan lebih banyak variasi dalam belajar pemrograman. Akan tetapi, semua itu tidak berakhir bahagia. Dalam perjalanannya, Raito kehilangan minat dalam pemrograman. Dia masih suka bermain dengan logika yang ada di pemrograman, tapi hal itu tidak cukup untuk menahan semangatnya membuat program-program baru.

Kembali ke ulasan buku, hasilnya memang lebih sederhana daripada sebuah program, tapi dia melakukannya hampir semuanya secara mandiri. Mulai dari membaca buku berbahasa Inggris, membuat ulasan berbahasa Indonesia, sampai membuat situs di Wordpress, dia lakukan sendiri. Dalam prosesnya, saya juga meminta dia untuk terlebih dahulu membuat ringkasan bukunya dalam bahasa Indonesia. Jadi, dengan proyek yang sederhana itu, dia telah belajar menerjemahkan, belajar menulis, dan belajar membuat situs dengan Wordpress. Jauh lebih menarik daripada menyibukan diri dengan chatting di WhatsApp atau menonton video lucu di YouTube, bukan?

Berbeda dengan Raito, Aidan memiliki jalannya sendiri. Walaupun sebelumnya dia mencoba hal serupa dengan Raito di Khan Academy dan Tynker dan sampai saat ini masih juga belum berhasil membuat program apa pun, minat dia dalam pemrograman masih ada. Dia pernah mencoba ikut beralih ke ulasan buku, tapi dia dengan tegas memutuskan it's not for me. Saat ini, dia masih mencoba sana-sini untuk menemukan tempat belajar yang bisa mengarahkan dia untuk menghasilkan sesuatu yang nyata secara mandiri. Semoga saja dia berhasil menemukannya.

Jumat, 16 April 2021

Belajar Kemunafikan dari Attack on Titan

0 opini

Attack on Titan (Sumber: wallpaperaccess.com)
Satu hal yang menarik dari Attack on Titan (AoT) musim 3 (iya, saya telat mengikuti) adalah soal kemunafikan manusia. Kemunafikan yang, untuk orang-orang seusia saya, sudah sering tertangkap mata, tapi bagi anak-anak remaja, masih terbilang aneh. Kemunafikan yang berhasil mengabaikan kebenaran demi memenuhi nafsu.

Perhatian: Tulisan di bawah ini berisi spoiler (bagi penonton AoT lain yang telat seperti saya).

Saya lupa kejadiannya di episode berapa dalam AoT musim 3. Satu hal yang saya ingat adalah di adegan itu, salah satu anak saya nyeletuk soal sikap "aneh" para pejabat dalam dunia di balik dinding yang sempit itu. Saat itu, mereka mendapat kabar bahwa tembok lapisan kedua jebol lagi dan titan pun merangsek masuk. Idealnya, saat itu terjadi, gerbang di tembok lapisan pertama dibuka agar evakuasi para penduduk area lapisan kedua dapat masuk ke lapisan pertama.

Berhubung areanya berbentuk lingkaran dengan pusat pemerintahan di tengah, semakin dekat ke tengah, semakin kecil areanya. Itu artinya jumlah penduduk di area lingkaran kedua jauh lebih banyak dari area lingkaran pertama. Bila penduduk di area lingkaran kedua dibiarkan masuk ke lingkaran area pertama, kita bisa bayangkan masalah baru yang akan muncul seperti kekurangan suplai makanan, tempat tinggal, atau penghidupan yang dapat mengakibatkan tingkat kejahatan meningkat.

Pilihan yang sulit, bukan? Akhirnya para pejabat itu memutuskan untuk tidak membukakan akses evakuasi, tapi demi apa? Apakah demi menyelamatkan penduduk di area lingkaran pertama? Tidak. Ternyata para pejabat itu menolak pilihan evakuasi demi diri mereka sendiri. Mereka tidak mau hidup mereka menjadi lebih sulit lagi karena harus menanggung hidup orang-orang dari lingkaran kedua.

Menyedihkan ya? Di adegan itulah celetuk itu muncul. Anak saya bertanya kenapa sikap mereka seperti itu. Sikap seperti itu sudah pernah muncul di musim 2, tapi orang yang melakukannya adalah pengusaha yang sekadar mengutamakan harta bendanya. Dampak negatif keegoisan si Pengusaha tidak masif seperti keegoisan para pejabat. Dampak yang masif itu sepertinya menjadi pemicu bagi salah satu anak saya sehingga mereka merasakan ketidakwajaran keputusan itu.

Ekspresi anak saya saat itu agak lucu. Celetuk dia begitu polos dan tulus bertanya kenapa orang-orang itu bisa mengabaikan begitu banyak nyawa demi kepentingan segelintir orang. Saya pun "terpaksa" menjelaskan kepadanya bahwa kondisi itu nyata. Contoh yang paling nyata adalah adanya korupsi di tengah pandemi Covid-19. Hal yang lebih parah lagi adalah korupsi itu dilakukan pada dana bantuan sosial untuk penanganan Covid-19.

Saya jelaskan lebih jauh lagi bahwa hal itu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kelakuan seorang anak yang sembunyi-sembunyi main gim dan berbohong untuk menutupinya. Prinsipnya sama: ada nafsu yang tidak bisa diredam, lalu melakukan segala cara untuk memenuhi nafsu itu. Saya sampaikan itu sambil tersenyum lebar, sementara anak saya tersenyum getir karena sadar dirinya sedang disindir.

Kejadian itu tidak berlangsung lama. Kami hanya berhenti menonton sejenak untuk membahas itu semua. Kami segera melanjutkan menonton. Mudah-mudahan saja diskusi ringan-tapi-berat itu dapat mereka ingat dan membawa dampak positif terhadap hidup mereka. Paling tidak mereka tidak perlu kaget lagi kalau kemunafikan sejenis muncul lagi di episode-episode AoT selanjutnya atau bahkan di episode-episode hidup mereka di masa depan.

Minggu, 11 April 2021

Pertemuan Keluarga Spesial Ramadan

0 opini

Pertemuan Mingguan Keluarga Array
Minggu, pukul 10 pagi, kami melakukan pertemuan mingguan keluarga kami seperti biasa. Sesuai namanya, pertemuan itu kami lakukan seminggu sekali setiap hari Minggu pukul 10 pagi. Waktu pertemuan itu kami sepakati bersama. Jadi, setiap orang dalam anggota keluarga kami, termasuk Si Kecil Lucu sudah tahu bahwa setiap hari Minggu pukul 10 pagi, kami harus meluangkan waktu pribadi kami untuk urusan keluarga.

Berhubung 2 hari lagi Ramadan tiba, pertemuan kami kali ini lebih banyak membicarakan rutinitas keluarga yang perlu disesuaikan selama bulan Ramadan. Apalagi sudah berbulan-bulan kami mengurus rumah dan keluarga secara mandiri (tanpa pembantu rumah tangga), rutinitas keluarga seperti bersih-bersih rumah tentu saja harus disesuaikan. Jangan sampai ada yang "pingsan" akibat kecapaian saat menyapu dan mengepel rumah.

Pada pertemuan kali ini, kami juga membahas soal game time, yaitu waktu bermain gim. Akibat sebuah insiden yang tidak bisa saya bicarakan di sini, saya sempat memangkas waktu bermain gim ketiga anak saya. Ibarat tukang cukur, saat itu saya babat rambut mereka sampai sependek 3 mm, termasuk rambut Si Kecil Lucu. Saat itu mereka sangat kecewa, padahal saya sudah berbaik hati tidak memotong rambut mereka sampai plontos. Setelah beberapa minggu berlalu, hari ini saya dan istri saya bersedia untuk kembali membiarkan mereka memilih model rambut sendiri, tapi dengan pilihan terbatas.

Ada juga hal-hal rutin yang kami bahas di setiap pertemuan seperti ibadah harian atau target belajar harian. Seperti halnya orang tua pada umumnya, saya dan istri saya juga membiasakan anak-anak kami agar terbiasa mengembangkan karakter dan keterampilan mereka. Ibadah, bagi kami, termasuk urusan pengembangan karakter. Belajar, sebagaimana umumnya, termasuk urusan pengembangan keterampilan. Kami ajak mereka untuk memperkuat pelajaran sekolah menggunakan platform belajar daring seperti Khan Academy atau Duolingo. Di luar pelajaran sekolah, kami juga mendorong mereka untuk memiliki proyek tertentu sesuai minat mereka.

Dari pertemuan keluarga kali ini, kami berkolaborasi dan berhasil menyusun jadwal rutinitas keluarga spesial Ramadan. Game time juga disepakati sesuai usulan anak-anak dengan beberapa batasan dari saya dan istri saya. Inspeksi terhadap ibadah harian, belajar harian, atau proyek berjalan lancar, tapi terlalu panjang untuk saya bicarakan di sini. Setiap topik berhasil kami bahas sampai tuntas dengan beberapa catatan yang harus ditindaklanjuti di luar pertemuan itu. Semua pertanyaan terjawab, setiap isu berhasil ditangani, dan semua orang senang.

Minggu, 28 April 2019

Menemukan Moment dan Attachment dalam #AgileParenting

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya sempat membahas pentingnya kebahagiaan dan dialog dalam mendidik anak. Inspirasi tulisan itu datang dari beberapa video dalam channel Youtube milik Indonesia Morning Show yang menampilkan Ibu Elly Risman. Melalui channel yang sama, saya juga menemukan dua hal lain yang tidak kalah penting dalam urusan mendidik anak: moment dan attachment.

Dalam perjalanan membesarkan anak, Ibu Elly menjelaskan bahwa para orang tua perlu mengambil waktu untuk menciptakan moment dan attachment. Dari penjelasan beliau, saya menangkap bahwa yang dimaksud dengan moment adalah momen-momen yang dapat dikenang oleh orang tua bersama anak-anak mereka, sementara attachment adalah ikatan batin yang terbentuk antara orang tua dengan anak-anak mereka. Moment dan attachment bukan menjadi tujuan mendidik anak, tapi perlu diciptakan dalam perjalanan panjang membesarkan anak.

"Efek samping" yang dimaksud di atas seharusnya memiliki manfaat tersendiri. Sayangnya saya belum berhasil menemukan penjelasan lebih lanjut dari Ibu Elly. Walaupun begitu, saya pribadi memang melihat kedua hal itu sebagai hal yang penting dalam mendidik anak.

Korelasi Moment dan Attachment
Korelasinya sederhana. Salah satu cara paling efektif mendidik anak adalah dengan menjadi teladan. Ingin anak jujur, kita harus jujur. Ingin anak bersikap sopan, kita harus bersikap sopan. Ingin anak rajin, kita harus rajin. Akan tetapi, anak-anak tidak akan meneladani kita kalau hati mereka tidak dekat dengan kita. Itulah alasannya kenapa kita butuh attachment yang sehat antara kita dengan anak-anak kita. Dengan kedekatan hati yang cukup (dan tidak berlebihan), anak-anak akan semakin memperhatikan kita, meniru kita, dan menjadikan kita sebagai teladan mereka.


Moment yang berkesan dibutuhkan untuk melestarikan attachment. Kita sama-sama tahu bahwa attachment yang kuat antara anak-anak dan orang tua akan otomatis terbentuk saat anak-anak tersebut lahir ke dunia ini. Permasalahannya adalah kekuatan attachment itu akan terus berkurang. Setiap interaksi kita dengan anak-anak kita berpotensi mengurangi atau bahkan menggerus attachment tersebut. Selain itu, seiring bertambahnya usia, anak-anak kita pun akan semakin menjauh dari diri kita.

Dengan memperbanyak moment yang layak untuk dikenang, "perangkat" untuk menjaga kekuatan attachment antara kita dengan anak-anak kita akan semakin banyak. Tentu saja moment ini bukan satu-satunya cara untuk memperkuat attachment, tapi pengalaman saya mengatakan bahwa fungsi moment ini sangat signifikan. Manfaatnya terasa signifikan tidak hanya bagi anak-anak kita, tapi juga bagi diri kita sendiri. Entah berapa kali attachment yang rusak akibat adanya masalah dan kekecewaan dalam keluarga saya segera terobati, tapi tidak secara instan, saat saya melihat foto-foto keluarga saya.

Moment membantu menyuburkan attachment. Sebaliknya pun berlaku sama. Attachment yang memadai membantu menciptakan moment. Saat attachment sedang kuat, saat itulah waktu yang tepat untuk menciptakan moment. Bepergian, berenang, jogging, nonton bareng, atau aktivitas apa pun akan memiliki kesan tersendiri bila dilakukan saat attachment antara kita dan anak-anak kita sedang berada di puncak (tapi tidak harus di Puncak, Bogor).


Transfer Nilai-Nilai Kebaikan
Kembali ke manfaat moment dan attachment dalam konteks mendidik anak. Seperti diceritakan di atas, salah satu alasan dibutuhkannya moment dan attachment adalah untuk memudahkan transfer nilai-nilai baik dalam diri orang tua ke anak-anak. Attachment merupakan jembatan yang kita butuhkan untuk melakukan transfer tersebut. Entah itu lewat teladan atau lewat dialog, bila tidak ada attachment yang cukup, transfer tersebut akan mengalami kendala.

Bila attachment antara kita dan anak-anak kita sangat sedikit atau bahkan tidak ada, efeknya justru berbanding terbalik. Alih-alih transfer nilai-nilai kebaikan, anak-anak kita justru menolak transfer tersebut dan, mungkin saja sebagai pernyataan protes, menumbuhkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang ingin kita tumbuhkan. Itulah salah satu alasan kenapa kita sering melihat sikap atau sifat yang bertolak belakang antara seseorang dengan anaknya.

Bila kita pikirkan dengan seksama, korelasi antara kebahagiaan, dialog, attachment, sampai moment terlihat sangat jelas. Semua itu adalah hal-hal yang perlu kita wujudkan selama kita mendidik dan membesarkan anak. Sayangnya semua itu tidak dapat dicapai dengan jentikan jari, walaupun kita meminjam Infinity Gauntlet dari Thanos. Butuh banyak waktu dan tenaga untuk membentuk semua itu, tapi bila hasilnya adalah keluarga yang harmonis, kenapa tidak?

Kamis, 28 Februari 2019

Merumuskan Prinsip-Prinsip #AgileParenting

0 opini
Salah satu akar masalah dalam parenting adalah tidak adanya prinsip yang jelas. Tanpa prinsip, risiko terjadinya kekacauan akan semakin tinggi karena parenting dilakukan tanpa batas-batas yang jelas. Prinsip dalam parenting seharusnya menjadi hal yang penting karena hal itu akan menentukan metode yang kita pilih dalam  parenting. Tidak hanya itu, prinsip juga menjadi indikator bahwa parenting memiliki arah atau tujuan yang jelas, bukan sekadar mengikuti arus, sehingga hasilnya akan lebih baik.

Dalam Agile Parenting pun seharusnya prinsip itu ada. Kumpulan value dalam sebuah manifesto sungguh jauh dari cukup untuk bisa diterapkan dalam hidup. Sudah selayaknya manifesto tersebut diturunkan menjadi kumpulan prinsip-prinsip yang dapat membantu kita menentukan metode yang tepat untuk menerapkan value dalam manifesto tersebut. Permasalahannya adalah menemukan prinsip itu bukanlah hal yang mudah.

Saya sempat bertanya ke beberapa orang tua terkait prinsip mereka dalam parenting, tapi saya belum mendapatkan hasil yang memadai. Sebagian bahkan masih menyamakan prinsip dengan tujuan. Akhirnya saya kembali ke Agile Manifesto for Software Development dan mencoba menggali prinsip-prinsip yang relevan. Saya kembali dengan prinsip-prinsip di bawah ini:
  1. Happiness is the primary measure of success in raising children.
  2. Our highest priority is nurture self-efficacy within our children.
  3. Embrace changes in our children to help them reach their full potential.
  4. Make time to interact with our children as frequently as possible.
  5. Parents and children should work together as a team.
  6. Parenting is about motivating instead of directing. Support and trust our children to do what needs to be done.
  7. The most effective and efficient form of interaction is face-to-face conversation.
  8. Parenting should be consistent indefinitely.
  9. There is no one right way of parenting. Continuous attention to good parenting practices enhances agility.
  10. Simplicity, the art of parenting without draining all our energy, is essential.
  11. Both parents should actively involved in parenting.
  12. Even parents make mistakes. At regular intervals, reflect on how to be better and adjust accordingly.
Versi bahasa Indonesianya di bawah ini:
  1. Kebahagiaan adalah ukuran utama kesuksesan dalam membesarkan anak-anak.
  2. Prioritas utama kita adalah menumbuhkan kemandirian dalam diri anak-anak kita.
  3. Rangkul perubahan yang muncul dalam diri anak-anak kita untuk membantu memaksimalkan potensi mereka.
  4. Cari waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak kita sesering mungkin.
  5. Orang tua dan anak-anak harus bekerja sama sebagai tim.
  6. Mendidik anak berarti memotivasi, bukan memerintah. Dukung dan beri kepercayaan bagi anak-anak kita untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan.
  7. Bentuk interaksi paling efektif dan efisien adalah tatap muka.
  8. Mendidik anak harus konsisten tanpa batas waktu.
  9. Tidak ada satu cara yang benar dalam mendidik anak. Perhatian yang berkelanjutan terhadap metode parenting yang baik akan membuat kita lebih tangkas.
  10. Kesederhanaan, seni mendidik anak tanpa menghabiskan energi kita, adalah kunci.
  11. Kedua orang tua harus terlibat aktif dalam mendidik anak.
  12. Bahkan orang tua berbuat salah. Secara periodik, pikirkan bagaimana menjadi lebih baik dan lakukan perubahan yang dibutuhkan.
Ingin rasanya segera menjadikan prinsip-prinsip itu menjadi bagian dari Agile Parenting, tapi tentunya belum lengkap kalau belum mendengar pendapat dari orang tua yang lain terkait hal ini. Jadi, ada masukan?

Senin, 28 Januari 2019

Menemukan Kebahagiaan dan Dialog lewat #AgileParenting

0 opini
Perjalanan saya untuk menjadi orang tua yang lebih baik masih berlanjut. Saya masih membiasakan diri untuk belajar tentang parenting atau pembinaan keluarga secara umum. Beberapa video di channel Youtube milik Indonesia Morning Show NET dengan tema parenting menampilkan Ibu Elly Risman. Dalam beberapa video tersebut, saya sempat menangkap Ibu Elly menyampaikan ada 2 hal yang hilang dalam keluarga, yaitu kebahagiaan dan dialog.


I was like... "Itu dia!" Dalam hati tentunya. Tidak mungkin teriak di ruang publik.

Fokus pada kebahagiaan dan dialog sebenarnya sudah saya terapkan sejak beberapa bulan yang lalu, khususnya saat saya mulai menerapkan Agile Parenting dalam keluarga saya. Dalam Agile Parenting, kebahagiaan menjadi tujuan utama dalam membina keluargasementara dialog menjadi kunci utama untuk menemukan kebahagiaan tersebut, baik kebahagiaan anak-anak maupun kebahagiaan saya dan istri saya sebagai orang tua. Jadi, mendengar Ibu Elly Risman berbicara tentang hilangnya kebahagiaan dan dialog justru menegaskan bahwa konsep Agile Parenting yang saya coba terapkan sudah berada di jalan yang benar.

Dalam Agile Parenting Manifesto, saya menegaskan bahwa kebahagiaan lebih penting daripada peringkat dan prestasi. Hal tersebut sengajar saya tegaskan karena saya sering terjebak dalam definisi kebahagiaan yang kurang tepat, yaitu definisi kebahagiaan yang tidak lepas dari peringkat dan prestasi. Saya tidak ingin terus-menerus mendorong anak-anak saya untuk mencapai peringkat yang tinggi atau prestasi yang berlimpah seolah-olah semua itu akan menjamin kebahagiaan mereka. Saya ingin menghindar dari pola mendidik anak-anak yang mengarahkan untuk mengejar peringkat dan prestasi tanpa melihat kembali apakah benar peringkat dan prestasi itu membuat anak-anak bahagia.

Agile Parenting Manifesto pun saya arahkan pada kolaborasi dan interaksi. Saya ingin membangun kebiasaan berdialog dalam keluarga yang melibatkan tidak hanya saya dan istri saya, tapi juga anak-anak saya. Berdialog perlu dibedakan dengan berkomunikasi karena berkomunikasi belum tentu berjalan dua arah. Untuk membiasakan berdialog, saya perlu membentuk kebiasaan mendengarkan. Dengan membiasakan diri mendengarkan isi hati dan pikiran anak-anak, saya ingin mewujudkan dialog yang sehat. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi saya untuk memahami kebutuhan anak-anak saya dan mewujudkan kebahagiaan di dalam keluarga saya.

Saat tulisan ini dibuat, keluarga saya sudah memulai rutinitas pertemuan keluarga seminggu sekali. Dalam pertemuan itu, kami membiasakan diri menyampaikan semua unek-unek yang dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Kami bergantian menyampaikan hal-hal yang kami anggap penting, sementara anggota keluarga yang lain memperhatikan dengan seksama. Ada banyak hal yang terungkap lewat pertemuan tersebut; hal-hal yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Pertemuan tersebut sepertinya menciptakan situasi yang kondusif bagi saya, istri saya, dan anak-anak saya untuk benar-benar bercerita apa adanya.

Pertanyaan utamanya adalah mampukah pertemuan keluarga itu membantu kami menemukan kebahagiaan? Ya. Anak-anak kami akhirnya mendapatkan waktu dan kesempatan untuk mengutarakan masalah-masalah yang mereka pendam, sementara saya dan istri saya mendapatkan waktu dan kesempatan untuk menjelaskan banyak hal yang sepertinya tidak tersampaikan saat terjadinya masalah dalam keluarga.

Cerita lebih rinci tentang pertemuan keluarga tersebut rencananya akan saya tuangkan dalam tulisan lain. Untuk saat ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa keluarga saya sudah mulai menemukan wujud dari Agile Parenting Manifesto, khususnya bagian collaboration. Metode tersebut sepertinya cocok untuk diterapkan dalam keluarga saya. Jadi, kemungkinan besar kami akan mempertahankan pertemuan keluarga mingguan tersebut.

Jumat, 28 Desember 2018

Mengobati Rasa Lelah Dalam Parenting

0 opini
Harapan akan membuka ruang bagi datangnya kekecewaan. Semakin tinggi harapan kita, semakin dahsyat kekecewaan yang akan kita rasakan bila harapan itu tidak terwujud. Hal yang sama juga berlaku saat kita menjalankan peran kita sebagai orang tua. Semakin tinggi harapan kita pada anak-anak kita, semakin nyeri hati kita saat harapan itu tidak tercapai. Rasa nyeri itu tidak selalu mudah hilang. Ada kalanya rasa nyeri itu bertahan, lalu bertambah seiring datangnya kekecewaan yang lain. Sampai akhirnya rasa nyeri itu berubah menjadi rasa lelah yang menghampiri seluruh kujur tubuh kita dan menyedot habis energi kita, lahir dan batin.

Anda pernah mengalaminya? Kalau Anda belum pernah mengalaminya, ada 2 kemungkinan. Pertama, Anda selalu mampu menyikapi setiap masalah dalam parenting secara positif. Kedua, Anda belum menjadi orang tua. Kemungkinan pertama sepertinya tidak masuk akal, kecuali Anda adalah malaikat atau makhluk yang tidak memiliki emosi.

Saya asumsikan saja bahwa Anda, seperti saya, pernah mengalami rasa lelah dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang tidak kenal lelah saat hinggap di tubuh kita. Rasa lelah yang kadang menyebabkan mati rasa. Rasa lelah yang membuat kita tidak peduli pada anak-anak kita dan ingin melarikan diri dari tanggung jawab kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang sama yang membuat saya menulis tentang perasaan gagal yang saya rasakan dalam mendidik anak-anak saya: Gagal Mendidik Anak.

Gagal Mendidik Anak
Dalam "Gagal Mendidik Anak", saya menulis tentang usaha saya untuk mengalahkan perasaan gagal tersebut. Caranya sederhana, yaitu dengan melihat eksistensi anak-anak saya secara utuh. Tujuannya adalah agar saya tidak terlalu fokus melihat hal-hal negatif dalam diri anak-anak saya. Cara tersebut membuat saya semakin menyadari banyaknya hal-hal positif dalam diri mereka, membuat saya semakin mampu menghargai mereka apa adanya, dan pada akhirnya membuat saya mampu mengalahkan perasaan gagal yang terus menguat.

Cara tersebut memang sederhana. Terlalu sederhana? Mungkin saja. Di balik itu sebenarnya masih banyak proses lain yang harus dilewati. Satu hal yang pasti harus dilakukan adalah cool down (menenangkan diri). Saat ada terlalu banyak hal negatif yang harus dihadapi, menenangkan diri merupakan sesuatu yang super penting. Lakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk menenangkan diri. Dalam proses itu, bukan setelahnya, cobalah untuk mengingat kembali hal-hal positif dalam diri anak-anak kita dan kenangan-kenangan indah bersama anak-anak kita. Semua itu akan membantu menghilangkan rasa gagal dan tentu saja rasa lelah dalam parenting.

Kabar Baik Terkait Rasa Lelah
Kabar baiknya adalah mengobati rasa lelah itu tidak terbatas pada "mengubah sudut pandang". Dalam sebuah artikel yang berjudul The Surprising Good News About Parental Burnout, masih ada hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengobati rasa lelah dalam parenting. Satu hal penting yang ditegaskan dalam tulisan tersebut adalah rasa lelah itu ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh karakter orang tua. Walaupun perilaku anak-anak, kondisi sosial dan ekonomi, keberadaan pasangan, serta faktor eksternal lainnya juga berpengaruh, dampaknya tidak sebesar kondisi internal (karakter) orang tua terkait.

Kenapa hal itu menjadi kabar baik? Karena kondisi eksternal itu jauh lebih sulit untuk diubah atau diperbaiki daripada kondisi eksternal. Mengubah perilaku anak-anak? Sulit. Mengubah kondisi sosial atau ekonomi? Lebih sulit lagi. Mengubah keberadaan pasangan? Tidak juga mudah. Mengubah karakter orang tua terkait? Jauh lebih mudah. Rupanya saya sudah berada dalam jalur yang tepat. Saat saya merasa gagal, saya terlebih dahulu mengubah sudut pandang saya agar perasaan gagal itu tidak terus-menerus memojokkan saya. Tidak hanya itu, saya menemukan sumber energi baru untuk terus melanjutkan peran saya sebagai orang tua. Lewat "The Surprising Good News About Parental Burnout", saya menemukan lebih banyak cara untuk mendapatkan energi tersebut.

Nikmati Waktu Kita
Pertama, nikmati waktu yang kita habiskan dalam urusan mendidik anak. Seringkali kita terlalu fokus mendidik anak menjadi sempurna sampai kita lupa bahwa kesempurnaan itu bukanlah tujuan utama kita. Waktu kita pun kita maksimalkan untuk hal-hal yang kita anggap penting sampai kita kehabisan waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Apakah semua itu layak untuk dilakukan? Apakah semua itu menyenangkan untuk dilakukan? Mungkinkah kita menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk merasakan lelah tanpa mendapatkan hasil yang berarti?

Mintalah Bantuan
Kedua, mintalah bantuan dalam mengurus anak. Kita harus menyadari bahwa energi kita terbatas, sementara pekerjaan mengurus anak seperti tidak ada ujungnya. Saat kita mulai merasa lelah, mintalah bantuan. Pasangan kita adalah kandidat utama untuk memberikan bantuan pada kita. Kalau tidak ada yang bisa membantu, termasuk pasangan kita, tunda atau bahkan abaikan apa pun itu yang perlu kita lakukan, kecuali akibatnya fatal bila tidak dilakukan. Bila bantuan itu datang, percayakan hasilnya pada orang yang membantu. Apa pun hasilnya, terima. Kalau kita tidak siap menerima kondisi itu, lebih baik tunda atau bahkan abaikan.

Atasi Konflik Dengan Cara Positif
Ketiga, atasi konflik dengan cara yang positif. Apa itu cara yang positif? Cara yang tidak negatif. Ada 2 cara negatif yang perlu kita hindari: inkonsistensi dan paksaan. Inkonsistensi akan membuat anak kita ngelunjak. Mereka akan terus menabrak batasan dengan harapan dapat mendobrak atau minimal melonggarkan batasan tersebut. Paksaan akan membuat anak berontak dengan harapan dapat memenangkan "pertempuran" melawan kita. Sikap yang konsisten dan tanpa paksaan akan memudahkan kita mengendalikan konflik yang kerap muncul dalam mendidik anak.

Kenali Pilihanmu
Keempat, sadari bahwa kita punya pilihan dan kita berhak memilih. Kita melihat banyak "panduan" dan "citra" parenting yang baik di berbagai media, termasuk blog ini, tapi bukan berarti kita harus mengikutinya. Tidak pernah ada satu cara yang benar dalam urusan parenting. Jadi, kita berhak memilih cara kita menghabiskan waktu mendidik anak-anak kita. Kalau waktu kita habis hanya untuk mendidik anak kita menjadi anak super, lalu membuat kita dan anak kita kelelahan, itu adalah pilihan kita. Dalam contoh itu, minimal kita punya 2 pilihan: menurunkan standar parenting kita atau menikmati semua rasa lelah itu.
Tekanan itu pasti. Tertekan itu pilihan.
Hindari Fokus yang Berlebihan pada Hasil
Kelima, hindari fokus yang berlebihan pada hasil agar kita dapat menjalani, benar-benar menjalani, setiap proses dalam mendidik anak. Ada kalanya kita hanya perlu hadir di samping anak-anak kita tanpa harus memberi nasihat kepada mereka. Kita tidak perlu merespons setiap hal dengan cara terbaik yang terpikir oleh kita. Ada kalanya yang perlu kita lakukan hanya hadir, duduk manis, dan mendengarkan dengan baik.

Berbagai cara yang dijelaskan di atas dapat menjadi amunisi berharga saat kita kelelahan dalam parenting. Paling tidak setiap hal tersebut dapat kita jadikan cermin untuk berkaca dan benar-benar memikirkan cara atau metode yang kita gunakan dalam parenting. Pada akhirnya, hal yang penting adalah menemukan cara untuk mengobati rasa lelah, mendapatkan kembali energi baru, dan terus menikmati hidup kita sebagai orang tua.

Selasa, 13 November 2018

Bulan Keenam Bersama #AgileParenting

0 opini
Rekap sedikit ya.

Saya sudah menyandang status ayah sejak Juli 2008; lebih dari 10 tahun yang lalu. Minat saya untuk menjadi ayah yang baik langsung muncul sejak kelahiran kedua anak laki-laki saya. Saat itu peluangnya memang ada. Saya sedang tidak memiliki pekerjaan tetap. Jadi, saya pun bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak saya.

Sayangnya perjalanan panjang saya menjadi ayah memang tidak terarah. Saya memang cukup sering menulis tentang suka-duka dan pengalaman saya menjadi ayah, tapi semuanya serba reaktif. Saya tidak meluangkan waktu yang khusus untuk mempelajari seluk-beluk per-ayah-an. Mungkin bisa dikatakan saya hanya menjalani hidup saya sebagai seorang ayah dan mencoba mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut. Perkembangan saya tentu saja sangat terbatas karena saya tidak mencari ilmu dari sumber lain.

Sebenarnya di awal perjalanan itu, saya masih meluangkan waktu untuk membaca buku tentang parenting. Satu buku yang berkesan bagi saya adalah Raising Boys karya Steve Biddulph (versi Bahasa Indonesia):
  • yang merupakan hadiah pernikahan;
  • yang diberikan oleh salah satu teman saya;
  • yang saya tidak ingat lagi teman yang mana;
  • yang sedang saya baca ulang saat ini.
Walaupun kedua anak laki-laki saya sudah menginjak usia 10 tahun, buku tersebut masih relevan.

Lompat ke akhir tahun lalu.

Desember tahun lalu usia saya resmi mencapai 35 tahun. Saya jadikan momen itu sebagai momentum untuk berbenah diri. Pada saat itu saya memutuskan untuk melakukan perbaikan yang signifikan dalam hidup saya. Pada saat itu saya menyadari betapa jauhnya arus rutinitas telah membawa saya melenceng jauh dari harapan saya. Pada saat itu saya memilih untuk mengoreksi ambisi saya dan mengambil kendali arah hidup saya, termasuk dalam hal parenting.

Sejak saat itu saya mencoba meluangkan waktu untuk menggali banyak ilmu tentang parenting, baik dari artikel, buku, maupun video. Saya pun meluangkan waktu untuk memikirkan kembali mengenai posisi saya sebagai ayah, khususnya bagaimana caranya agar peran saya sebagai ayah tidak berbenturan dengan peran istri saya sebagai ibu. Wawasan saya pun terbuka dan terus terbuka seiring munculnya momen-momen aha! yang saya temukan.

Lompat lagi ke pertengahan tahun ini.

Salah satu momen aha! yang saya temukan dalam hal parenting adalah Agile Parenting. Agile Parenting bukan sesuatu yang spesial. Saya justru menemukannya saat saya menjelajahi dunia per-ayah-an, khususnya di bagian yang menggunakan bahasa Inggris. Bagi seorang praktisi Agile seperti saya, konsep ini tentu saja menarik.

Saya pun memutuskan untuk memperdalam Agile Parenting. Saya melihat bahwa pola pikir Agile yang sederhana dan tepat guna dapat diterapkan di dalam konteks parenting. Apa pun metode yang dipilih untuk mendidik anak-anak kita, pola pikir Agile dapat membantu para orang tua menemukan kebahagiaan yang mereka impikan bersama anak-anak mereka. Perjalanan saya dalam dunia Agile Parenting pun dimulai.

Lompat lagi ke saat ini.

Lalu apa yang terjadi setelah bulan keenam? Banyak, tapi saya belum bisa menguraikan semuanya. Satu hal yang pasti, komunikasi adalah kunci. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang sehat antara setiap anggota keluarga, yaitu saat setiap anggota keluarga dapat mengutarakan pendapatnya tanpa takut disalahkan dan memang didengarkan. Komunikasi semacam itu akan membantu kita untuk memahami perasaan anggota keluarga yang lain dan pada akhirnya membentuk ikatan yang lebih kuat.

Otoritas orang tua dalam keluarga tetap tidak hilang. Dengan komunikasi yang sehat, otoritas itu justru dapat digunakan tanpa tekanan yang berlebihan terhadap anak. Orang tua pun dapat mengambil keputusan atau melakukan tindakan dengan lebih adil tanpa harus kehilangan otoritasnya. Hierarki dalam keluarga tetap ada, tapi bukan untuk dibesar-besarkan.

Letupan amarah dalam keluarga dapat diminimalkan. Apapun masalahnya, komunikasi menjadi pilihan utama untuk mencari solusi. Komunikasi yang sehat dilakukan bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tapi sekadar mencari tahu siapa yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Fokusnya tetap mencari apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya, bahkan bagaimana mencegahnya agar tidak terjadi lagi di masa depan. Saat fokus setiap anggota keluarga adalah mencari solusi, alasan untuk marah perlahan memudar, bahkan menghilang.

PR-nya?

Masih banyak. Agile Parenting Manifesto sepertinya masih perlu disesuaikan. Manifesto itu pun sepertinya masih perlu dilengkapi dengan prinsip-prinsip yang sesuai agar penerapan manifesto tersebut lebih terarah. Metode atau teknik yang relevan pun baru sebagian saya temukan. Penerapannya pun belum rutin. Jadi, saya belum bisa banyak bercerita tentang metode atau teknik tersebut. Rasanya mumet memikirkan itu semua, tapi worth the effort. Bila ada hal lain yang menarik tentang Agile Parenting, saya akan bagikan di sini. Insyaa Allaah.

Stay tuned.

Sabtu, 13 Oktober 2018

Kukatakan Ini Karena Kucinta Kamu

0 opini
Streak untuk selalu publikasi di tanggal 13 pukul 13.00 setiap bulan akhirnya patah. Berhubung ada "pesanan" untuk menulis dari Majalah InfoKomputer, waktu untuk menulis di blog pun dikorbankan. Untungnya ada sedikit bahan untuk dituangkan dalam waktu yang singkat.

Here goes.

Tulisan kali ini masih terkait dengan agile parenting, khususnya manifesto "parents, children, and interactions over parenting styles and rules." Manifesto tersebut menegaskan bahwa dalam agile parenting, interaksi dalam keluarga itu lebih penting daripada cara atau aturan tertentu dalam proses mendidik anak-anak. Saya yakin semua orang tua tahu akan hal ini, tapi sejauh apa kita "tahu" tentang interaksi dalam keluarga?

Saya sendiri tidak banyak tahu. Ketidaktahuan saya semakin diperkuat saat saya membaca buku "Kukatakan ini karena Kucinta Kamu" karya Deborah Tannen. Buku itu membahas tentang seni berbicara dalam keluarga. Penggunaan kata "seni" sepertinya ditujukan untuk menegaskan bahwa untuk bisa berbicara dalam keluarga membutuhkan keahlian. Dari dua bab pertama saja saya berhasil membuka banyak pintu menuju pengetahuan baru tentang interaksi dan komunikasi dalam keluarga.

Dalam bab 1, saya menemukan bahwa pesan tersirat memiliki dampak yang kuat saat kita berkomunikasi dalam keluarga. Dampaknya bahkan lebih kuat daripada kata-kata yang diucapkan (tersurat). Walaupun pesan tersurat yang disampaikan tidak bermasalah, pesan tersirat tetap berisiko menimbulkan masalah. Setiap anggota keluarga perlu mengenali pesan-pesan tersirat tersebut dan mencoba menyampaikannya agar lebih memahami satu sama lain.

Dalam bab 2, saya menemukan bahwa ikatan dalam keluarga berjalan beriringan dengan kontrol. Sayangnya pemahaman yang kurang tepat antara ikatan dan kontrol juga berisiko menimbulkan masalah. Misalnya seorang anak menganggap bahwa ibunya terlalu mengatur dirinya. Si Anak hanya bisa melihatnya dari sudut pandang kontrol karena memang hanya itu yang dirasakan si Anak. Sebaliknya Si Ibu justru melihatnya dari sudut pandang ikatan karena mengatur anaknya merupakan wujud dari ikatan hati yang kuat terhadap anaknya.

Masalah muncul karena si Anak tidak mau terus-menerus diatur oleh ibunya. Dia tidak bisa memahami bahwa kontrol dari ibunya itu ditujukan sebagai wujud kasih sayang ibunya kepadanya. Sebaliknya si Ibu akan merasa kesal atau marah karena anaknya tidak bisa diatur. Dia tidak bisa memahami bahwa ikatan yang dia rasakan membuat anaknya merasa tertekan. Seandainya setiap anggota keluarga dapat memahami bahwa dalam ikatan ada kontrol dan dalam kontrol ada ikatan, risiko timbulnya masalah dapat lebih dikendalikan.

Ada lagi? Sayangnya tidak. Saya baru selesai membaca sampai bab 2. Jadi, tidak banyak yang bisa saya ceritakan lewat tulisan ini. Seiring waktu, saya akan share satu per satu sesuai hasil pemahaman saya. Satu hal yang pasti, buku karya Deborah Tannen itu benar-benar menarik. Tidak hanya para orang tua yang akan mendapatkan pelajaran-pelajaran penting dengan membaca buku itu, tapi juga para calon orang tua dan setiap anggota keluarga.

Kamis, 13 September 2018

Menjadi Orang Tua Tanpa Tertekan

0 opini
Terus terang saya tidak tahu harus mulai dari mana. Topik yang saya pilih kali ini terkait erat dengan tekanan saat menjadi orang tua. Topik ini menarik untuk dibahas karena setiap orang tua mengalaminya. Tentu saja menarik untuk membahas bagaimana tekanan-tekanan itu muncul dan bagaimana mengatasinya agar kita dapat menjadi orang tua yang lebih bahagia. Sayangnya semakin lama saya memikirkan topik ini, semakin sulit untuk menentukan apa yang sebenarnya dapat saya tuangkan dalam sebuah blog post singkat. Untungnya masalah itu bisa saya atasi dan saya putuskan untuk mengubah topik dari "tekanan" menjadi "tertekan".


Untuk membahas "tertekan", kita perlu mulai dari "tekanan" karena kondisi tertekan hanya muncul saat ada tekanan. Terkait tekanan ini, saya menemukan sebuah video menarik berjudul "Why Moms Are Miserable" pada channel TEDx Talks. Video itu membahas secara spesifik tentang tekanan yang dirasakan oleh para ibu dan dampak negatifnya terhadap kehidupan para ibu tersebut. Ada satu kutipan menarik dari video tersebut:
If we're working mom, we feel guilty. If we're working mom, we feel judged. We second guess and stress over all the parenting decisions that we make and all too often we feel like failures and frauds.
Kutipan di atas memberikan gambaran seolah-olah apa pun yang dilakukan seorang ibu, hidupnya akan selalu penuh dengan tekanan. Apakah pekerjaan, karir, atau penghasilan sendiri dapat membantu meningkatkan kualitas hidup para ibu? Dalam beberapa hal, ya. Sayangnya tekanan-tekanan itu tetap ada dan tetap merusak kehidupan para ibu, baik mereka sadari maupun tidak.

Hal di atas tentu saja tidak menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi para ibu atau para ayah. Kita belum bicara tekanan dari para kakek dan nenek, para om dan tante, atau standar parenting yang datang dari publik. Kita belum bicara berbagai varian tekanan mulai dari persaingan di sekolah sampai kompetisi yang muncul akibat global market. Seolah-olah segala hal di dunia ini dapat menjadi sumber tekanan bagi para orang tua, padahal pada kenyataannya ... memang seperti itu.

Untungnya "tekanan" tidak sama dengan "tertekan". Tertekan merupakan akibat dari adanya tekanan, tapi akibat itu hanya muncul bila kita membiarkannya untuk muncul. Untungnya kita masih memiliki kendali terhadap kondisi tertekan sehingga sebanyak apa pun tekanan dalam hidup kita, pada hakikatnya kita masih bisa hidup tanpa tertekan. Jadi, hidup tanpa tertekan bukan berarti hidup tanpa tekanan, tapi hidup tanpa membiarkan tekanan mempengaruhi hidup kita.

Cara hidup di atas selaras dengan salah satu prinsip parenting yang saya temukan dalam artikel yang berjudul No Pressure Parenting. Hidup tanpa tertekan merupakan salah satu prinsip yang dibutuhkan kita agar kita dapat menemukan kebahagiaan dalam mendidik dan membesarkan anak. Kalau kita bekerja, kita tidak perlu merasa bersalah saat kita tidak meluangkan 24 jam waktu kita untuk keluarga kita. Selama kita masih menjadikan keluarga sebagai prioritas dan bekerja demi keluarga kita, waktu yang tidak kita luangkan bersama adalah pengorbanan yang perlu dilakukan. Kita tidak perlu mengambil hati berbagai anggapan dan penilaian dari orang lain terhadap cara kita mengurus keluarga kita asalkan kita sudah sepenuh hati memikirkan dan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kita.

Kita pun tidak perlu menjadi martir bagi keluarga kita. Saya pernah membahas soal martir ini dalam sebuah tulisan terpisah (hasil menerjemahkan dari tulisan lain) yang berjudul "Ibu, Bukan Martir." Walaupun tulisan itu membahas tentang para ibu, tips dan triknya masih relevan bagi para ayah. Dalam tulisan tersebut, ada 6 hal yang perlu dilakukan oleh para orang tua agar tidak menjadi martir dalam mendidik dan membesarkan anak. Keenam hal tersebut adalah:
  1. Saya akan mengingatkan diri saya setiap hari bahwa waktu saya bersama anak-anak saya itu sangat berharga.
  2. Saya akan mengurus diri saya.
  3. Saya bukan ibu yang sempurna.
  4. Saya akan mengutamakan pernikahan saya.
  5. Saya akan menghargai teman-teman saya.
  6. Saya akan mengutamakan makan malam bersama keluarga.
Penjelasan lebih jauh mengenai masing-masing hal di atas dapat dibaca langsung di "Ibu, Bukan Martir". Terkait dengan teman, video yang saya bahas di atas pun secara spesifik membahas tentang teman. Video tersebut menjelaskan bahwa menghabiskan waktu bersama teman adalah salah satu cara untuk mengatasi tekanan. Teman yang dimaksud tentu saja bukan sembarang teman, bukan sekadar teman dengan status teman, dan bukan pula teman yang begitu saja kita temukan lewat jejaring sosial. Teman yang dimaksud adalah teman yang dapat membantu kita menghilangkan perasaan terasing saat kita sedang terpuruk, bukan sebaliknya membuat kita semakin merasa terpuruk dalam pengasingan.

Pada intinya, kita sebagai orang tua harus mampu mengendalikan tekanan. Pilih tekanan mana yang boleh mempengaruhi hidup kita untuk mendorong kita menjadi orang tua yang lebih baik. Pilih pula tekanan mana yang tidak boleh mempengaruhi hidup kita agar kita tidak hidup dengan perasaan tertekan (baca: depresi). Jangan sampai kita menghabiskan seluruh waktu dan energi kita hanya untuk mati demi membawa keluarga kita menuju hidup yang lebih baik.

Agile Parenting
Dalam konteks ini, Agile Parenting Manifesto sangat relevan, khususnya terkait happiness (kebahagiaan). Kebahagiaan dalam Agile Parenting tidak boleh dibatasi pada kebahagiaan anak-anak semata. Kebahagiaan yang dimaksud adalah kebahagiaan setiap anggota keluarga, termasuk ibu dan ayah. Kita sebagai orang tua perlu memikirkan cara agar diri kita menjadi (lebih) bahagia karena kebahagiaan tersebut akan menjadi sumber energi untuk terus mendidik dan membesarkan anak-anak kita menjadi orang-orang yang bahagia.

Kalau definisi kebahagiaan kita adalah tercapainya kebahagiaan anak-anak, yaitu kita tidak memiliki definisi kebahagiaan tersendiri, kita harus belajar menikmati proses mencapai kebahagiaan anak-anak kita. Itulah alasannya kenapa kita perlu meluangkan waktu untuk "merawat" diri kita, baik fisik kita maupun mental kita. Jangan sampai pengorbanan yang kita berikan hanya membuat kita lelah tanpa ada hasil yang dapat kita rasakan secara langsung.

Mengingat pentingnya kebahagiaan tersebut, maka penting bagi kita untuk membedakan antara tekanan dan tertekan. Penting bagi kita untuk mengabaikan tekanan-tekanan yang tidak relevan dan berdampak negatif agar hidup kita tidak "diwarnai" dengan perasaan tertekan. Penting bagi kita untuk mendorong keluar tekanan-tekanan negatif yang sudah terlanjur masuk ke dalam hati kita dan menjaganya agar tidak masuk lagi. Penting bagi kita untuk mengganti warna hitam akibat tekanan-tekanan negatif tersebut dengan warna-warna yang cerah dari kenangan-kenangan bahagia bersama keluarga kita. Dengan begitu, perasaan tertekan dapat ditekan (keluar) dan kebahagiaan akan menghiasi proses mendidik dan membesarkan anak-anak kita.