Tampilkan postingan dengan label Ayah Super. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah Super. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2022

Ayah Boleh Curhat

0 opini

Minggu lalu saya membuat tulisan singkat bahwa dalam parenting, orang tua juga perlu memperhatikan perasaan dan kebutuhannya sendiri. Hal itu bisa dilakukan. Jadi, perasaan dan kebutuhan anak dan orang tua diusahakan agar berjalan beriringan.

Hari ini, saya mendapat kesempatan untuk mempraktikkan (lagi) apa yang saya tulis pekan lalu. Hari ini, setelah sekian banyak isu dengan anak-anak, saya meminta waktu mereka untuk mendengarkan uneg-uneg saya. Ya, saya curhat tentang anak-anak saya langsung ke anak-anak saya. 

Saya mulai dengan menjelaskan kepada anak-anak saya bahwa setiap isu di dalam keluarga juga memiliki dampak buruk untuk saya sendiri. Saat saya menegur mereka, bukan hanya mereka yang merasa tidak nyaman, saya juga sama. Bukan hanya mereka yang sakit hati, saya juga. 

Dari situ saya tegaskan bahwa kalaupun sudah disepakati ada konsekuensi dari setiap masalah, mereka memang dirugikan, tapi bukan berarti saya tidak kecewa. Kekecewaan, sekecil apa pun itu, kalau terjadi berulang-ulang, akan menumpuk juga. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. 

Mereka memang konsekuen. Apa yang menjadi konsekuensi, mereka jalani. Contohnya kalau disepakati bahwa konsekuensinya adalah tidak main gim, mereka tidak main gim. Masalahnya adalah konsekuen menjalani konsekuensi tidak otomatis menyembuhkan rasa kesal yang terlanjur menumpuk. 

"Kalian terus-menerus menyakiti hati Abi," kata saya, "Rasanya ingin pergi." Saya tegaskan juga soal rasa jenuh saya menghadapi berbagai masalah yang muncul, khususnya yang berulang. Saya ceritakan dampak buruknya secara utuh terhadap semangat saya mendidik mereka. 

Curhatnya cukup panjang, tapi setelah curhat, hati ini terasa plong. Rasa kesal yang saya tahan akhirnya lepas dengan cara yang baik. Saya merasa puas karena didengarkan. Rasa "ingin pergi" menghilang begitu saja dan saya bersemangat kembali untuk tetap terlibat mendidik mereka. 

Jumat, 13 Juli 2018

Mendidik Anak dengan #AgileParenting

0 opini
Tulisan kali ini ditujukan sebagai "terjemahan bebas" dari #HowToRaiseAHuman with Agile Parenting. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan konsep Agile Parenting yang ingin saya terapkan dalam hidup saya sendiri. Bagi orang yang sudah mengenal Agile, konsep Agile Parenting yang akan saya tuangkan di sini akan mudah dipahami. Bagi orang yang baru tahu dengan istilah Agile, konsep Agile Parenting pun akan mudah dipahami. Mudah dipahami; bukan mudah diterapkan.

Mari kita mulai.

Perjalanan saya di dunia Agile secara resmi berjalan sejak tahun 2015. Saat itu pekerjaan saya menuntut saya memperdalam tentang Agile agar Agile dapat menjadi bagian dari budaya organisasi tempat saya bekerja, yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Hasilnya hingga saat ini saya sudah membuat kajian, menyusun kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan, mempublikasikan karya tulis di Majalah InfoKomputer, dan memperoleh sertifikat Professional Scrum Master. Sayangnya dampak positifnya terhadap DJP masih sangat minim.

Memahami Agile Lewat Permainan Draw Something
Agile yang saya maksud di atas dapat didefinisikan sebagai berikut:
Agile adalah pola pikir atau cara kerja yang fokus pada pembuatan produk yang berguna (bukan dokumentasi yang komprehensif) melalui kolaborasi bersama pengguna (bukan mengandalkan dokumen atau perjanjian), mengadopsi perubahan yang perlu dilakukan (bukan berpegang teguh pada rencana yang dibuat sebelumnya), dan memaksimalkan individu-individu yang terlibat dan interaksi antarindividu (bukan bergantung pada proses dan perangkat).
Pola pikir atau cara kerja tersebut sebenarnya cocok untuk diterapkan di berbagai bidang, bahkan di luar dunia kerja. Akan tetapi, saya baru menyadari bahwa Agile pun dapat diterapkan oleh para orang tua dalam mendidik anak setelah saya menonton video TED Talk oleh Bruce Feiler yang berjudul Agile programming for you family.

Paparan Bruce Feiler dalam video tersebut memang menarik, tapi bagi saya, materi yang dibahas terlalu teknis karena dia sudah membahas metode-metode yang dapat digunakan dalam Agile parenting. Metode-metode tersebut memang penting, tapi pemahaman terhadap Agile tetap harus dimulai dari nilai-nilainya. Memahami Agile dari nilai-nilai tersebut memungkinkan kita untuk memahami Agile secara utuh. Bila kita memulainya dari metode, risikonya adalah kita akan membatasi Agile hanya pada metode tersebut.

Keluarga Agile
Saya pun mencoba mencari informasi lebih lanjut terkait Agile parenting dan berhasil menemukan Agile Parenting Manifesto yang disusun oleh Geof Lory. Sayangnya manifesto tersebut bukanlah manifesto yang saya cari. Manifesto yang disusun oleh Geof Lory itu terlalu rumit bagi saya. Menurut saya, Agile itu harus sederhana. Paling tidak, Agile itu harus mulai dari sederhana. Kesederhanaan merupakan intisari dari Agile karena Agile menghindari pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan. Itulah alasannya kenapa saya menyusun Agile Parenting Manifesto versi saya sendiri.


Agile Parenting Manifesto

We are uncovering better ways of raising children and forming families by doing it and helping other parents do it. Through this work we have come to value:

happiness over grades and achievements
responding to changes over following a parenting plan
children collaboration over rewards and punishments negotiation
parents, children, and interactions over parenting styles and rules

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.


Mudah dicerna, bukan?

Pertama, happiness.

Happiness (kebahagiaan), baik untuk anak-anak maupun orang tua, harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan dalam membesarkan anak dan membentuk keluarga. Kebahagiaan jauh lebih penting daripada nilai, prestasi, atau ukuran lainnya. Hal itu bahkan lebih penting daripada kesuksesan itu sendiri. Seberapa penting kebahagiaan? Cobalah menonton paparan dari Nadine Burke Haris tentang dampak negatif dari masa kecil yang buruk dan paparan dari Julie Lythcott-Haim tentang membesarkan anak-anak yang sukses dengan cara membuat mereka bahagia. Keduanya menjelaskan pentingnya kebahagiaan dengan baik.

Kedua, responding to changes.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus responding to changes (tanggap terhadap perubahan) di dalam keluarga, baik dalam diri anak-anak maupun orang tua. Pengalaman baru, kebutuhan baru, lingkungan baru, pekerjaan baru, dan semua hal baru yang akan datang di masa depan harus ditanggapi dengan tepat. Rencana parenting, yaitu rencana yang kita buat seumur hidup kita untuk menjamin masa depan anak-anak kita, adalah awal yang baik. Akan tetapi, tetap berpegang teguh pada rencana itu bukanlah ide yang baik. Mengharapkan rencana kita dapat selalu mengikuti perubahan yang akan datang akan sangat membebani kita dan anak-anak kita. Jadi, bersikap responsif adalah cara yang tepat. Ubah rencana parenting kita untuk menyesuaikan dengan setiap perubahan yang muncul dalam hidup kita.

Ketiga, children collaboration.

Untuk menjadi responsif, kita harus mulai dengan memahami perubahan yang sedang atau akan terjadi. Untuk memahaminya, kita harus mulai dengan mendengarkan anak-anak. Saya berasumsi bahwa kita telah membuka telinga kita untuk mendengarkan pasangan kita. Dengan berkolaborasi bersama anak-anak dalam pengambilan keputusan, besar kemungkinan kita dapat menumbuhkan perilaku yang lebih baik dan memberikan lebih sedikit tekanan bagi seluruh keluarga. Cara ini sebaiknya menjadi pilihan utama daripada terus-menerus menggunakaan sistem rewards and punishment (penghargaan dan hukuman). Dengan meminta anak-anak mengatakan apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka, besar kemungkinan kita untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan keluarga kita. Dengan demikian, kita dapat merespons dengan tepat.

Intermeso: Kata yang baku adalah respons; bukan respon.

Keempat, parents, children, and interactions.

Yang tidak kalah penting adalah setiap individu di dalam keluarga dan interaksinya. Bukankah itu bagian dari kolaborasi? Belum tentu. Ada kemungkinan kita berkolaborasi dengan semua anggota keluarga, tetapi keputusan yang diambil dan tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan pemikiran dan kebutuhan anak-anak kita. Dengan Agile parenting, anak-anak diberdayakan. Membuat keputusan, sampai titik tertentu, perlu menyertakan suara anak-anak. Mengambil tindakan pun perlu melibatkan anak-anak sesuai dengan kemampuan mereka. Interaksi adalah kunci dalam melibatkan atau memberdayakan anak-anak. Kita masih dapat menggunakan gaya pengasuhan tertentu atau membuat aturan tertentu dalam rumah tangga kita dan membiarkan anak-anak mengikutinya. Namun, melibatkan semua anggota keluarga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Paparan singkat di atas sebaiknya dibiarkan meresap terlebih dahulu. Dengan begitu, kita dapat memahami bagaimana menerapkan pola pikir Agile untuk menjalankan peran kita sebagai orang tua. Bila pola pikir itu sudah meresap cukup dalam, kita dapat mulai membicarakan metode atau aspek-aspek lain yang relevan dalam Agile parenting.

Rabu, 13 Juni 2018

#HowToRaiseAHuman with Agile Parenting

2 opini
First of all, why English? That's because I want to participate in NPR's "How To Raise A Human" series. I know that I've committed to blog in Indonesian to maximize my impact in the majority of my audience, but the hashtag #HowToRaiseAHuman is quite tempting. So, to accommodate both needs, I'll be writing in English for this post and I'll write the Indonesian version in my next post. Insyaa Allaah.

Let's get started.

This blog post is meant to answer a good question: "What's the one thing you wish someone had told you before you became a parent?" This question intrigued me because during my "transformation" efforts in the last few months, I was asking a similar question to myself: "What do I need to know to become a better parent and a better husband?" or "What do I need to do to become a better parent and a better husband?" Apparently Agile parenting has some of the answers I needed.

Work of a group of participants in one of my Agile trainings
I come across Agile a couple of years ago in my work. I work in the IT field, specifically in software development. For me, understanding and implementing Agile is a must. It's not some fancy high-level term or just another hype. It's actually a new mind set and a new way of working that focuses on creating working products (instead of comprehensive documentation) through collaborating with customers (instead of relying on documents and agreements), responding to required changes (instead of sticking to a single plan), and improving involved individuals and their interactions (instead of highly relying on processes and tools). However, it was not until I watched Bruce Feiler's TED talk that I realize that Agile is also applicable to run my family.

To be honest, no matter how exciting Bruce's talk was, it was still way too technical because he was already talking about techniques to implement Agile parenting. I understand that these techniques are important, but I prefer to start with the set of values, i.e. the manifesto. In my opinion, understanding the values allows us to really understand what Agile is all about while going ahead with techniques might mislead us to think that Agile is limited to these techniques. Thus, I embark on a journey, i.e. googling, to understand more about Agile parenting and stumbled upon Geof Lory's Agile Parenting Manifesto. Unfortunately, after reading, and re-reading, the manifesto, I find it was a bit too complex for me.

The Agile Parenting Manifesto
Being Agile should be simple. At least, it should start simple. As in Agile for software development, simplicity should be essential. So, I decided to put together my own version of the Agile Parenting Manifesto.
My Agile family

Agile Parenting Manifesto

We are uncovering better ways of raising children and forming families by doing it and helping other parents do it. Through this work we have come to value:

happiness over grades and achievements
responding to changes over following a parenting plan
children collaboration over rewards and punishments negotiation
parents, children, and interactions over parenting styles and rules

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.


Quite easy to comprehend, no?

Happiness, for both children and parents, should be the primary measurements of success in raising children and forming families. Happiness is much more important than grades, achievements, or other measurements of success. It's even more important than success itself. How important is happiness? Try watching Nadine Burke Haris' talk about the negative impact of adverse childhood experience and Julie Lythcott-Haims' talk about raising successful kids by focusing on making them happy. They put together the importance of happiness remarkably well.

To achieve happiness, we should be responsive to changes inside the family, children and parents alike. New experience, new needs, new environment, new jobs, and all new things coming in the future should be responded accordingly. A parenting plan, i.e. the plan that we as parents have been making our entire life to guarantee the future of our children, is a good start, but strictly sticking to that plan might not be a good idea. Expecting our plan to always keep up with the coming changes might put a lot of burden to us and our children. Thus, being responsive is the way to go. Change our plan according to the changes that pops up in our life.

To be responsive, we should start with understanding the changes. To understand, we should start with listening to children. This is assuming that we have already opened our ears to our spouse. Having our children collaborate with us to determine the path for our family might result in better behavior and less stress for the whole family compared to keeping up with rewards and punishments. By having the kids say what's inside their mind and heart, we can come to understand what really suits the needs of our family. Thus, we can respond accordingly.

What's also important are the individuals inside the family and their interactions. Isn't that what collaboration is about? Not necessarily. There's a chance that we collaborate with all the family members, but when it comes to making decisions and doing what's required, we left out our children. With Agile parenting, children are empowered. Making decisions, to a certain point, should include votes from the children. Doing what's required should involve the children according to the best of their capacity. Interactions is a key point in making such involvement or empowerment feasible. We can still use certain parenting styles or set up certain rules in our household and let the children follow them. However, involving all family members in the process builds a higher sense of belonging and accountability.

The Agile Techniques

Our family in Habitica
Now that we got the basics figured out, we can move on to techniques. A board, possibly with post-its, containing tasks or goals, do we need it? Yes; to visualize our current plan on what defines our happiness and how we should achieve them. There are also other alternatives to this board. My favorite is the life gamification app called Habitica. Rewards and punishments, do we need them? Yes; to make our children take the family plan more seriously. Styles Weekly meetings, do we need them? Yes; to accommodate collaboration on creating the family plan and modifying it as needed. Daily meetings, do we need them? Yes; to accommodate interactions and to respond against emerging changes. The list goes on.

In choosing these "Agile" techniques, be sure to understand each of their purpose. If a technique doesn't meet any purpose, it's safe to discard it no matter how many parents are using it. If a technique is required to implement any of the manifesto, and it's not going to be a burden, then by all means, use it even if no one in this world uses it. One Agile parent might use different techniques from another Agile parent. That is normal because techniques highly depends on the circumstances and the condition of the family; values don't. As long as we share the same values, we're doing the "same" Agile parenting.

The Positive Impact

One of my son's weekly projects (it's a brick table rack)
At the time of writing this blog post, I'm already in my 4th months of doing Agile parenting. I signed up myself and two of my sons in Habitica. My wife refused saying it was not her style. Oh, well. Nevertheless, we put our plans, tasks, rewards, punishments, and everything we could think of in Habitica. We're doing the weekly meetings to discuss what went well in the past week and what should we do in the next week. We're doing the daily meetings to check on our tasks. Okay, I'll be honest. We're doing the daily meetings to play on Habitica so that we know how many damage, experience, gold, and items that we get in the last 24 hours. Fun! We might add more techniques as our Agile family understand more of who we are and what we need, but for now, it's just Habitica and the meetings.

How does it really impact my family life? My children are taking more responsibility with their tasks. This is probably to avoid taking heavy damage in Habitica. Fortunately, they're doing those tasks because they want to, not just because I want them to. They're also more aware of the future, at least one week ahead. They realize that what they're doing are important. Parenting has also been less stressful. At the very least, it's less scolding and anger. Whenever something goes wrong, we go to Habitica to enforce any required punishments. I postponed my "lectures" until the daily meeting or even the weekly meeting where the situation is calmer. Not only were those lectures more concise and fair, it seems my children were also better at digesting what I said because it's less clouded with emotion. The children also got the opportunity to voice their opinion; and defense.

In all, it's been great. I'm seeing great improvements in our relationship and communication as a family. I guess Agile parenting works for me and my family. I am still learning though. I still spend some time to read articles, books, and watch videos about parenting. I believe there's still plenty of room for improvements. The only regret I have right now is that I wish I knew about this before I became a parent or at least right after I'm doing Agile in my work. That could definitely save a lot of work, time, and stress.

Minggu, 13 Mei 2018

WTV, Dads!

0 opini
Langkah kongkrit dari "RTM, Dads!" dalam hidup saya adalah dengan meluangkan waktu 15 menit per hari untuk menyerap ilmu terkait parenting. Sampai saat ini, saya masih belum bisa konsisten melakukannya setiap hari. Pada kenyataannya, meluangkan waktu 15 menit per hari di tengah-tengah rutinitas kerja dan aktivitas akhir pekan itu tidak mudah, tapi dari waktu-waktu yang berhasil saya luangkan, saya mendapatkan banyak informasi baru yang dapat saya terapkan dalam mendidik anak-anak saya.

Dalam waktu yang singkat tersebut, saya lebih memilih menonton video daripada membaca artikel. Bukan berarti saya tidak mau Read the Manual, tapi saat ini, dengan dukungan kuota rollover yang membludak, saya lebih memilih Watch the Video (WTV). Bagi saya video memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dalam belajar. Lewat video, saya tidak hanya menangkap pesan lewat kata-kata, tapi juga lewat intonasi dan bahasa tubuh. Belajar dengan menonton pun sepertinya tidak mudah membuat saya bosan. Berhubung saya memilih video, maka tempat yang tempat untuk menyerap banyak ilmu adalah ...

Youtube? Bukan. Vimeo? Nope. Tempat yang tempat untuk duduk manis menyerap ilmu dan membuka wawasan dengan menonton video adalah TED (www.ted.com) karena tempat itu memang tempatnya ideas yang worth sharing. Saya tidak bermaksud mengkerdilkan raksasa-raksasa video seperti Youtube dan Vimeo, apalagi di Youtube dan Vimeo pun tersedia channel TED. Saya memilih TED karena distraction di TED sangat minim. Dalam tulisan ini, saya akan berbagi video-video dalam TED terkait parenting yang saya anggap layak untuk ditonton karena membuka wawasan dan memberikan inspirasi kepada saya sebagai seorang ayah. Silakan cek beberapa video di bawah ini.

Video pertama berjudul "How childhood trauma affects health across a lifetime". Dalam video ini, Nadine Burke Harris berbicara bagaimana trauma masa kecil dapat meningkatkan risiko terkena penyakit saat anak terkait mencapai usia dewasa. Lewat video ini, saya mengenal istilah adverse childhood experiences (ACE) atau pengalaman masa kecil yang buruk. Tidak hanya itu, korelasi antara masa kecil yang buruk ke perilaku buruk (seperti saat dewasa ke lebih berisiko terkena penyakit ternyata lebih pendek. Rupanya masa kecil yang buruk punya hubungan langsung ke lebih berisiko terkena penyakit walaupun orang yang bersangkutan tidak memiliki perilaku buruk saat dewasa. Video ini menjadi pengingat yang kuat bagi saya untuk lebih mementingkan kebahagiaan dalam hidup anak-anak saya.


Video kedua yang saya rekomendasikan berjudul "How to raise successful kids -- without over-parenting". Dalam video ini, Julie Lythcott-Haims (yang namanya sulit untuk diketik) berbicara tentang definisi sukses dalam hidup seorang anak. Kesuksesan seorang anak seringkali dikaitkan oleh orang tuanya dengan nilai akademis atau prestasi lainnya. Video ini mengingatkan saya bahwa definisi sukses dalam hidup seorang anak itu jauh lebih luas dari apa yang dilihat kita sebagai orang tua. Ada baiknya para orang tua lebih fokus pada kebahagiaan anak agar para anak dapat menemukan sendiri kesuksesannya melalui bimbingan (bukan paksaan) orang tua mereka masing-masing. Bagian yang menarik dari video ini adalah bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan pada akhirnya kesuksesan itu, para orang tua butuh cinta dan ... chores (tugas di rumah). Bagaimana korelasinya? Silakan tonton sendiri.


Video ketiga (dan terakhir) yang ingin saya rekomendasikan berjudul "Agile Programming -- for your family". Sebagai seorang "Praktisi Agile", saya senyum-senyum sendiri saat menonton video ini. Walaupun terkesan dipaksakan, Bruce Feiler dapat memperlihatkan apa saja aspek-aspek dalam Agile yang dapat diterapkan dalam mendidik anak-anak di rumah. Beberapa di antara aspek tersebut adalah kesiapan untuk beradaptasi terhadap perkembangan anak dan keterlibatan anak dalam menentukan hidup mereka sendiri. Ada beberapa aspek Agile yang spot on, tapi tentu saja butuh banyak paragraf untuk membahasnya. Pada intinya, video ini melengkapi cinta dan chores yang dibicarakan oleh  Julie Lythcott-Haims (yang namanya masih sulit untuk diketik hingga saat ini).


Ada beberapa video lain yang juga menarik dengan pembahasan yang lebih spesifik seperti "Let's teach for mastery -- not test scores" oleh Sal Khan (pendiri Khan Academy), "This company pays kids to do their math homework" oleh Mohamah Jebara, atau "A delightful way to teach kids about computers" oleh Linda Liukas. Masing-masing video memiliki informasi yang unik untuk memperkaya "persenjataan" kita dalam mendidik anak-anak kita. Selain tiga video itu, masih ada banyak video lain yang tidak kalah informatif dan menginspirasi bagi para orang tua.

Seperti tulisan sebelumnya, tulisan kali ini pun ditujukan untuk mengajak para ayah (dan para ibu), termasuk diri saya sendiri, kembali belajar. Belajar bagaimana mengubah persepsi agar menjadikan kebahagiaan anak-anak sebagai prioritas utama dan juga belajar bagaimana mencapainya. Perjalanan itu tentu saja tidak singkat dan sangat mungkin akan kita lakukan seumur hidup kita, tapi semua itu tetap layak dilakukan demi menumbuhkan anak-anak yang bahagia, sukses, dan pada akhirnya bersyukur atau bahkan bangga telah memiliki kita sebagai orang tua mereka.

Jumat, 13 April 2018

RTM, Dads!

0 opini
Demi menjaga konsistensi dalam menulis, saya memaksa diri saya untuk mempublikasikan sebuah blog post setiap tanggal 13 pukul 13.00. Hal itu tentu saja tidak berarti saya akan menulis selama sebulan penuh sehingga menghasilkan tulisan yang berbobot atau bahkan layak dipublikasikan di media yang lebih formal. "Pemaksaan" itu hanya memaksa saya untuk berbagi sesuatu di blog ini setiap bulan, seringan apa pun bobotnya. Dengan berbagi, saya juga memaksa diri saya untuk belajar, baik dari pengalaman, pengamatan, maupun dari sumber eksternal lainnya. Tanpa belajar, apa yang mau dibagi?
Waktu kita untuk mendidik anak akan terus berkurang, sementara kemampuan kita untuk mendidik anak tidak akan bertambah tanpa usaha kita. 
"Belajar" merupakan tema tulisan saya kali ini. "RTM" di dalam judul tulisan ini merupakan singkatan dari "Read the Manual" yang dapat diterjemahkan menjadi "Bacalah Petunjuknya". "RTM, Dads!" dapat diartikan sebagai panggilan kepada para ayah, termasuk diri saya sendiri, untuk kembali membaca petunjuk (belajar) tentang mendidik anak. Belajar tentang mendidik anak adalah salah satu cara menjadi ayah yang proaktif. Dengan bersikap proaktif, mendidik anak memang terasa sulit, tapi pada hakikatnya tetap lebih mudah. Bila kita bersikap reaktif, yaitu hanya jumpalitan saat muncul masalah pada anak kita, proses mendidik anak sangat mungkin akan menjadi lebih sulit karena saat kita bereaksi, ada kemungkinan masalahnya sudah menjadi terlalu besar.

Contohnya dalam masalah bullying. Bila kita bersifat reaktif, saat kita tahu bahwa anak kita sudah menjadi korban bullying, penyelesaian masalahnya mungkin akan sulit karena anak kita sudah terlanjur tidak percaya diri dan tidak lagi merasa aman saat berinteraksi dengan teman-temannya. Kita tidak melakukan banyak hal dalam mempersiapkan anak kita menyikapi bullying, tapi pada akhirnya kita lebih repot lagi saat anak kita menjadi korban bullying. Seandainya kita bersifat proaktif, masalah bullying itu mungkin bisa segera dideteksi dan ditangani. Bahkan masalah bullying itu mungkin saja tidak dialami oleh anak kita karena kita sudah terbiasa melakukan hal-hal yang dapat mencegah anak kita menjadi korban bullying.

Dari ilustrasi di atas, kita bisa melihat betapa pentingnya bagi seorang ayah untuk belajar. Dengan belajar, kita bisa lebih siap menghadapi perubahan-perubahan yang muncul seiring dengan tumbuhnya anak kita. Kita bisa tahu langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk membentuk perilaku baik dalam diri anak kita. Kita pun bisa tahu langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki perilaku buruk dalam diri anak kita atau bahkan mencegah munculnya perilaku buruk itu. Kita bisa tahu bagaimana menemukan keseimbangan antara tegas dan keras atau antara lembut dan memanjakan. Kita bisa tahu jauh lebih banyak lagi asalkan kita mau belajar.

Sumber eksternal terkait pendidikan anak sangat banyak. Buku-buku tentang pendidikan anak masih banyak dijual di toko-toko buku, baik elektronik maupun konvensional. Artikel-artikel tentang pendidikan anak yang terpercaya pun banyak tersebar di Internet. Apalagi jaman now, saat kuota dan kecepatan Internet begitu tinggi (untuk daerah-daerah tertentu), ayah-ayah yang tidak suka membaca dapat beralih ke Youtube atau sejenisnya untuk menonton video-video tentang pendidikan anak. Apa pun medianya, di mana pun tempatnya, belajar. Itu intinya.

Saya sendiri sempat lama tidak belajar. Di awal perjalanan saya menjadi ayah, saya memang sempat tekun mencari ilmu tentang mendidik anak. Sayangnya seiring waktu, ketekunan itu tenggelam ditelan rutinitas hidup, khususnya pekerjaan kantor. Ditambah lagi dengan perasaan "cukup" yang timbul dalam hati, minat saya untuk menggali lebih dalam tentang pendidikan anak justru semakin menurun. Untungnya saya menemukan momen yang menyadarkan saya bahwa saya memang butuh lebih banyak belajar untuk mendidik anak-anak saya menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sejak saat itu, saya senantiasa meluangkan waktu untuk membaca buku, artikel, atau menonton video tentang membangun keluarga dan mendidik anak.

Saya yakin setiap ayah pun pernah mengalami momen-momen seperti yang saya alami. Kalau salah satu momen tersebut berhasil membawa perubahan, bagus. Kalau sampai saat ini belum ada perubahan, tunggu apa lagi? Anak kita akan terus tumbuh, baik kita bersikap proaktif maupun reaktif. Waktu kita untuk mendidik anak akan terus berkurang, sementara kemampuan kita untuk mendidik anak tidak akan bertambah tanpa usaha kita. Tanyakan kepada diri kita, "Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Selasa, 13 Maret 2018

Jangan Injak Kaki Ibu

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pentingnya menghindari dikotomi antara peran ayah dan ibu. Semakin pudar dikotomi tersebut, semakin baik kerja sama antara ayah dan ibu dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Semakin baik kerja sama tersebut, semakin besar peluang seorang ayah untuk menjadi ayah super.

Akan tetapi, seorang ayah tetap harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik untuk memaksimalkan peran dalam mengurus rumah tangga justru berbalik menyusahkan istri. Ibaratnya saat seseorang ingin berdansa dengan istrinya, jangan sampai dia menginjak kaki istrinya. Sakit.

Pertama, perihal pengambilan keputusan. Saat bekerja sama mengurus rumah tangga, seorang suami perlu memberi ruang bagi istri untuk mengambil keputusan baik yang sifatnya besar maupun trivial. Jadwal tidur anak-anak, posisi furnitur, atau apa pun juga, bila memang bukan sesuatu yang urgent, berikan kesempatan bagi istri untuk memutuskan. Bila ada keputusan istri yang mengganjal, utamakan negosiasi. Bila ada kesempatan untuk mengalah, lebih baik mengalah (untuk menang).

Sekilas hal di atas terkesan mudah. Kita mungkin merasa sudah melakukannya. Tapi pengalaman saya mengatakan sebaliknya. Saat kita sudah terjun ke lapangan, keinginan untuk mengatur dan mengambil keputusan itu perlahan-lahan menguat. Keinginan agar segalanya berjalan sesuai keputusan kita pun muncul. Pada saat itu, menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada istri menjadi hal yang sulit. Penting bagi kita untuk berlapang dada dan menerima keputusan istri.

Kedua, perihal persepsi masyarakat. Masyarakat Indonesia secara umum masih canggung saat melihat seorang ayah memandikan anak, menyuapi anak, membersihkan rumah, menggendong anak, membawa barang-barang, atau mengerjakan "pekerjaan ibu" lainnya. Bukan tidak mungkin seorang ayah yang terlalu aktif justru membentuk persepsi negatif terhadap istrinya. Masyarakat akan melihat istrinya sebagai wanita yang manja, malas, atau tidak tahu diri. Oleh karena itu, kita perlu melihat sikon agar bantuan kita tidak berbalik merusak citra istri kita.

Lagi-lagi hal di atas pun terkesan mudah. Tapi pada kenyataannya hal tersebut memberikan tantangan tersendiri. Kita perlu tahu kapan waktunya untuk turun tangan dan kapan waktunya untuk menahan diri, terutama di tempat umum. Bukan hanya di tempat umum, kita pun perlu memperhatikan hal tersebut di tengah-tengah keluarga besar kita. Pada intinya, kita berusaha meminimalkan kesalahpahaman terhadap cara kita bekerja sama dengan istri kita dalam mengurus rumah tangga.
Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung.
Dua hal di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan oleh seorang ayah super. Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung. Bila kondisi itu tercapai, kerja sama antara seorang ayah super dengan pasangannya akan menjadi lebih optimal.

Selasa, 13 Februari 2018

Menghindari Dikotomi Peran Ayah dan Ibu

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya membahas tentang penggunaan istilah "ayah super". Istilah tersebut, walaupun sering digunakan, pada hakikatnya hanya merujuk kepada "ayah normal" yang terlihat super akibat penggunaan standar yang terlalu rendah. Tolok ukur yang digunakan adalah para ayah pada umumnya sehingga para ayah super pun terlihat super. Seandainya tolok ukur yang digunakan adalah para ibu pada umumnya, para ayah super mungkin tidak akan terlihat super; mereka akan terlihat normal. Walaupun begitu, demi kemudahan dan kenyamanan bersama, saya tetap akan menggunakan istilah "ayah super" untuk menggambarkan para ayah normal tersebut.

Di dalam diri para ayah super, tingkat kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga merupakan sifat yang mendasar. Saya tidak pernah menemukan seorang "ayah super" yang tidak memiliki kedua karateristik tersebut. Akan tetapi, peduli dan mau saja tidak akan cukup. Kepedulian dan kemauan itu harus disertai dengan perubahan dalam pola pikir dan perilaku.

Salah satu perubahan pola pikir yang perlu dilakukan untuk menjadi ayah super adalah dengan membuang jauh-jauh pembagian yang saklek (dikotomi) antara peran ayah dan ibu. Seorang ayah harus berhenti memandang bahwa tugas ayah adalah mencari penghidupan, sementara urusan rumah tangga, termasuk mendidik anak-anak, menjadi tugas ibu. Bila dikotomi peran tersebut masih ada, kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga menjadi terbatas. Ayah tersebut mungkin akan mulai membantu pekerjaan di rumah, menemani anak bermain, melakukan ini, melakukan itu, dan banyak hal lain, tapi ayah tersebut hanya akan bermain di luar lingkaran "kekuasaan" istrinya.
Ayah tersebut bahkan mungkin akan menyadari bahwa tugas istrinya sebenarnya adalah tugasnya.
Saat dikotomi peran tersebut dapat dihilangkan, seorang ayah akan menyadari bahwa tugas istrinya adalah tugasnya juga. Ayah tersebut bahkan mungkin akan menyadari bahwa tugas istrinya sebenarnya adalah tugasnya. Dia yang seharusnya mengurus rumah tangga. Dia yang seharusnya mendidik anak-anak. Dia yang seharusnya melakukan apa yang istrinya biasa lakukan di rumah. Apa yang dilakukan istrinya adalah bantuan, bukan kewajiban.

Tanpa adanya dikotomi peran tersebut, kontribusi seorang ayah akan jauh lebih maksimal. Tanggung jawab mengurus rumah tangga dan anak-anak, termasuk mengurus istrinya, akan diambil alih oleh ayah tersebut. Semua urusan rumah tangga akan dia lakukan secara maksimal. Lingkaran "kekuasaan" istrinya menjadi kabur atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Setiap hal yang dilakukan istrinya menjadi sesuatu yang lebih bernilai karena bukan lagi dianggap sebagai kewajiban. Rasa terima kasih kepada istrinya pun meningkat secara signifikan.

Pada intinya, ayah super akan benar-benar menjadi ayah super bila dia tidak lagi membedakan antara peran ayah dan ibu. Mengurus cucian, membersihkan rumah, memandikan anak, menyuapi anak, atau perintilan lainnya tidak lagi menjadi urusan istri, tapi menjadi urusan bersama. Ayah super akan memilih untuk bekerja sama dengan istrinya, bukan sama-sama kerja.

Satu hal penting yang perlu diingat adalah kondisi di atas tidak selalu merupakan hal yang baik. Tidak selamanya seorang ayah yang sangat terlibat dalam urusan rumah tangga itu baik. Ada kalanya justru lebih baik saat seorang ayah keluar dari lingkaran "kekuasaan" istrinya. Kapankah itu? Saya akan bahas dalam tulisan selanjutnya. Insyaa Allaah.

Sabtu, 13 Januari 2018

Saya Bukan Ayah Super

0 opini
Saya pernah mencoba bertanya di lingkaran pertemanan Facebook saya tentang definisi ayah super. Sayangnya tidak ada satu teman pun yang berkenan memberikan komentar serius. Mungkin definisi ayah super memang tidak jelas atau memang tidak ada yang berminat memberikan komentar? Entahlah. Berhubung tidak ada yang merespon, pertanyaan itu pun tenggelam seiring waktu.

Saya pun beralih ke Google. Hasil Googling dengan kata kunci "ayah super adalah" [diakses tanggal 9 Januari 2018] tidak sepenuhnya relevan. Ada informasi tentang tipe ayah berdasarkan chat dengan anak gadisnya, ayah super di anime, profil Facebook bernama Ayah Super, dan bisnis daring dengan nama domain ayahsuper-dot-com. Sementara itu, informasi yang relevan mencakup ciri-ciri ayah super bagi balita, berita tentang ayah (super) yang mengadopsi 4 orang anak dengan disabilitas, dan pergeseran tradisi di Korea Selatan akibat semakin banyaknya ayah yang meluangkan waktu untuk mengurus anak-anaknya.

Hasil penelusuran hingga halaman ke 3 hasil pencarian Google tersebut tidak memberikan informasi tambahan, tapi tetap menegaskan bahwa julukan ayah super itu memang ada. Julukan ayah super itu ada karena ada ayah-ayah yang mau melakukan sesuatu yang lebih daripada para ayah pada umumnya. Ayah-ayah ini memiliki tingkat kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga. Kepedulian dan kemauan yang super itu yang mendorong munculnya istilah ayah super.

Saya sendiri pernah dijuluki ayah super. Alasannya? Tidak jauh berbeda dengan alasan munculnya istilah ayah super di atas, yaitu karena saya melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh para ayah umumnya. Padahal saya hanya melakukan apa yang biasa dilakukan istri saya seperti memandikan, menyuapi, mengajar (misalnya mengajar Iqra'), atau sekadar menemani anak-anak bermain. Itu pun porsinya masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan istri saya. Lalu kenapa saya mendapat julukan super padahal istri saya jelas-jelas lebih super? Menurut saya, hal itu disebabkan karena standar yang digunakan dalam konteks ayah super ini adalah standar yang, mohon maaf, rendah.
Seandainya kita ubah tolok ukur ayah super itu menjadi para ibu pada umumnya, maka ayah-ayah super itu akan terlihat normal.
Ayah super menjadi ayah super karena mereka dibandingkan dengan para ayah pada umumnya, padahal apa yang dilakukan ayah super itu adalah hal-hal yang biasa dilakukan oleh para ibu pada umumnya. Seandainya kita ubah tolok ukur ayah super itu menjadi para ibu pada umumnya, maka ayah-ayah super itu akan terlihat normal. Para ayah super itu akan menjadi ayah-ayah normal. Kalau ayah-ayah super itu pada hakikatnya adalah ayah-ayah normal, bagaimana dengan ayah-ayah yang normal? Silakan dipikirkan.

Kembali ke konteks tulisan ini. Kalaupun saya banyak terlibat dalam urusan domestik, bukan berarti saya adalah ayah super. Saya hanya ayah normal. Hal-hal "super" yang saya lakukan sebagai ayah adalah hal-hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang ayah. Bukan hanya "sewajarnya", tapi bahkan "sepantasnya". Memang sudah sepantasnya seorang ayah bekerja sama dengan pasangannya dalam urusan rumah tangga, walaupun energinya sudah terpakai untuk mencari nafkah. Sebaliknya, tidak sepantasnya seorang ayah membiarkan pasangannya mengurus urusan rumah tangga sendirian.

Dari cerita di atas, terlihat jelas bahwa saya memang bukan ayah super. Saya hanya ayah normal. Saya hanya melakukan apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang ayah. Tidak lebih, bahkan mungkin masih kurang. Bagaimana dengan Anda?

Minggu, 29 Juni 2014

Berburu SD

3 opini
Akhirnya blog ini pun di-update kembali. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dan +Ratna Aditia berburu sekolah dasar (SD) untuk Raito dan Aidan. Bagi para orang tua kawakan, pengalaman kami mungkin bisa menjadi sarana hiburan dan nostalgia. Sementara bagi para orang tua pemula seperti kami, pengalaman kami ini mungkin bisa menjadi tempat untuk menemukan rekan senasib dan sepenanggungan.

Saya mulai.

Seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang tua yang bertanggung jawab, liburan sekolah kali ini kami (saya dan istri saya) manfaatkan untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke salah satu SD negeri di Tangerang. Terus terang, kami sangat awam untuk urusan daftar SD ini. Kami tidak tahu kapan pendaftaran sekolah itu dibuka, apa saja yang menjadi persyaratannya, bagaimana prosedurnya, atau berapa biayanya. Oleh karena itu, langkah pertama yang kami lakukan adalah bertanya ke beberapa SD terkait tanggal dibukanya pendaftaran. Dari informasi yang kami dapatkan, tanggal dibukanya pendaftaran untuk SD negeri itu serentak. Bila waktu pendaftaran itu sudah dekat, SD-SD negeri itu akan memasang spanduk atau sejenisnya yang akan mengumumkan tanggal dibukanya pendaftaran. Bila ada 1 (satu) SD negeri yang memasang pengumuman itu, dapat dipastikan bahwa SD-SD negeri lainnya pun sudah (atau akan) memasang pengumuman yang sama. Yang perlu kami lakukan adalah memeriksa apakah ada SD negeri yang sudah memasang pengumuman seperti itu. Hal ini kami lakukan secara berkala (selang 2 - 3 hari) sejak awal Juni.

Setelah spanduk pengumuman itu terpasang, langkah selanjutnya adalah melakukan pendaftaran. Untuk Raito dan Aidan, SD pertama yang kami sambangi adalah SD P (bukan nama sebenarnya) yang merupakan SD unggulan. Di SD P ini, untuk mendaftar saja harus mengantri. Terlihat jelas bahwa para orang tua berbondong-bondong ingin memasukan anaknya ke SD unggulan ini. Persis di sebelah SD P ini pun ada SD Q (bukan nama sebenarnya) yang sudah menjadi langganan cadangan SD unggulan (baca: cadangan SD P). Terlihat jelas bahwa setiap orang tua yang mendaftarkan anaknya di SD P itu juga mendaftarkan anaknya di SD Q; termasuk kami. Selain SD P dan SD Q, kami pun mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD R: SD negeri lain yang terlihat bonafid.

Di ketiga sekolah tersebut, baik prosedur maupun persyaratan pendaftarannya terbilang sama. Untuk persyaratannya, saya hanya perlu menyiapkan akta kelahiran asli (hanya untuk diperlihatkan), fotokopi akta kelahiran, fotokopi KTP saya, fotokopi KTP istri saya, dan fotokopi kartu keluarga; 1 (satu) rangkap untuk masing-masing anak. Yang sedikit berbeda adalah prosedurnya. Setelah kami mengisi formulir pendaftaran, SD Q dan SD R melanjutkan dengan melakukan wawancara singkat kepada Raito dan Aidan, sementara di SD P tidak ada wawancara sama sekali. Setelah semua prosedur dilewati, kami menerima tanda bukti pendaftaran yang nantinya harus dibawa saat kami akan melakukan daftar ulang; itu pun kalau Raito dan Aidan diterima. Berapa biayanya? 0 (nol) alias gratis.

Walaupun persyaratan dan prosedurnya terbilang mudah dipenuhi dan diikuti, prosesnya sendiri terbilang melelahkan karena waktu pendaftarannya sangat terbatas. Waktu pendaftaran sekolah di SD negeri, khususnya yang kami sambangi, hanya dibatasi selama 3 (tiga) hari. Di setiap harinya pun jamnya dibatasi dari pagi (sekitar pukul 07.30-08.00) sampai siang (sekitar pukul 12.00-13.00). Jadi untuk mendaftar ke beberapa SD negeri itu waktunya tidak terlalu longgar. Kami menghabiskan waktu 2 (dua) hari untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke tiga SD tersebut.

Pedih!*
Setelah proses pendaftaran selesai, yang bisa kami lakukan adalah menunggu pengumuman. Bagaimana hasilnya? Gagal total! Raito dan Aidan tidak diterima di SD P dan SD Q, sementara di SD R, Raito dan Aidan masuk ke dalam daftar tunggu; untuk menunggu tanpa kepastian. Saat kami berpikir bahwa 3 (tiga) SD itu sudah terlalu banyak, rupanya Raito dan Aidan tidak diterima di satu SD pun. Pedih!

Mengapa Raito dan Aidan bisa gagal? Apakah karena Raito dan Aidan kurang pintar? Sepertinya bukan itu alasannya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kriteria penerimaan siswa baru di SD P, Q, dan R adalah lokasi domisili dan usia calon siswa. Untuk kriteria lokasi domisili, yang diutamakan adalah jarak lokasi tempat tinggal dari lokasi SD. Semakin dekat jarak tersebut, semakin besar peluang diterimanya siswa di SD terkait. Untuk kriteria usia calon siswa, yang diutamakan adalah yang berusia 7 (tujuh) tahun, kemudian di atas 7 (tujuh) tahun, dan terakhir di bawah 7 (tujuh) tahun. Kami sempat bertanya kepada panitia penerimaan SD P mengenai tidak adanya wawancara singkat? Salah seorang panitia mengatakan "tidak perlu" karena yang diterima lebih ditentukan oleh lokasi domisili. Jadi kami berasumsi bahwa Raito dan Aidan tidak diterima di ketiga SD tersebut karena lokasi rumah kami terlalu jauh atau karena umur mereka terlalu muda.

Percaya dengan kriteria itu? Tidak terlalu.

Saya memang hanya setengah percaya dengan kriteria-kriteria yang saya paparkan di atas. Masalahnya adalah saat pengumuman itu pun tidak jelas di mana tempat tinggal dan berapa usia para calon siswa yang diterima. Yang tercantum di dalam daftar pengumuman itu hanya status "diterima" dan "tidak diterima"; khusus untuk SD R juga ada status "cadangan". Bagaimana kami bisa percaya dengan kriteria penerimaan siswa baru tersebut kalau hasil pengumumannya saja tidak terlalu transparan? Selain itu, kabar burung terkait "uang pelicin" pun masih beredaran sehingga semakin sulit bagi saya untuk mempercayai kriteria penerimaan siswa baru itu.

Terima bahwa Raito dan Aidan gagal masuk SD? 100%.

Apapun alasannya, nasi sudah menjadi bubur ayam Cirebon. Setelah rasa pedih di hati sirna, kami mencoba menentukan langkah selanjutnya. Menurut kami, berhubung Raito dan Aidan masih berumur 6 (enam) tahun, masuk SD tahun depan pun tidak masalah. Waktu luang yang mereka miliki selama menunggu datangnya tahun ajaran baru itu dapat diisi dengan mengikuti kursus-kursus seperti kursus bahasa Inggris atau komputer. Prinsipnya adalah sekolah boleh ditunda, tapi belajar harus tetap berjalan.

Walaupun begitu, tetap saja ada perasaan yang mengganjal. Istri saya merasa usaha kami belum maksimal dan mengusulkan untuk mencoba mencari SD negeri lain yang masih membuka pendaftaran. Walaupun waktu pendaftaran SD negeri yang kami tahu itu sudah tutup, kami berasumsi masih ada sekolah yang kuotanya belum penuh dan masih menerima pendaftaran di luar waktu pendaftaran yang resmi. Strategi kami pun kami ubah dari mengejar SD negeri unggulan dan cadangan unggulan menjadi mengejar SD negeri terdekat.

Alhamdulillah salah seorang tetangga pernah memberikan informasi SD negeri yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal kami, yaitu SD S (bukan nama sebenarnya). Dengan perasaan harap-harap cemas, kami pun mendatangi SD S. Saat itu, suasana di SD S sangat sepi; tidak ada tanda-tanda penerimaan siswa baru. Kami maklum karena memang waktunya sudah lewat, tapi berhubung gerbangnya terbuka, kami tetap masuk dan mencoba mencari informasi. Alhamdulillah ternyata masih ada seorang guru yang berbaik hati untuk menerima pendaftaran siswa baru. Seorang? Ya, beliau sendirian menangani pendaftaran siswa baru sementara guru-guru lain sedang mengikuti penataran di sekolah lain. Kenapa saya bisa tahu alasannya? Beliau curcol.

Intinya Raito dan Aidan diterima di SD S. Rasa pedih itu memutuskan untuk tidak datang kembali menghampiri hati kami. Baik persyaratan maupun prosedurnya mirip dengan di SD P, Q, dan R. Bedanya adalah di SD S ini, akta kelahiran asli harus diserahkan dan hanya bisa diambil kembali saat daftar ulang. Mengapa begitu? Karena SD S ini sudah terlalu sering menjadi cadangan yang tidak diambil. Dengan begitu panitia penerimaan siswa baru di SD S ini berinisiatif kalau memang orang tua siswa benar-benar berniat mendaftarkan anak mereka di SD S, mereka harus berani meninggalkan akta kelahiran anak mereka yang asli. Tanpa akta kelahiran yang asli, mendaftarkan anak di SD lain menjadi sulit (atau bahkan tidak mungkin). Kenapa saya bisa tahu sejauh ini? Guru tersebut (lagi-lagi) curcol. Selama guru tersebut curcol, saya hanya mesem-mesem sendiri; itu pun di dalam hati.

Selain masalah akta kelahiran asli yang harus diserahkan ke pihak sekolah, prosedur di SD S pun sedikit berbeda. Di SD S ini, calon siswa akan diuji kemampuannya dalam menulis, membaca, dan berhitung. Ujiannya sendiri hanya sedikit (satu halaman A4/Folio) dan penilaiannya tidak terlalu ketat, tapi terlihat sekali bahwa SD S ini lebih mengharapkan kesiapan calon siswa dalam menghadapi pelajaran-pelajaran SD yang berat dibandingkan SD-SD yang sebelumnya saya datangi. Yang juga berbeda di SD S ini adalah masalah biaya. Di SD S ini, saya harus mengeluarkan uang Rp. 20.000 untuk biaya pendaftaran per anak. Jadi saya perlu membayar Rp. 40.000 untuk biaya pendaftaran Raito dan Aidan. Inilah risiko memiliki anak kembar.

Perjuangan saya dan istri saya untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD negeri pun berakhir; dan untungnya berakhir dengan baik. Raito dan Aidan bisa segera melanjutkan sekolah tahun ini dan kami pun tidak perlu terlalu pusing mencarikan kegiatan belajar lain untuk mereka. Selanjutnya bagaimana? Tahap selanjutnya adalah daftar ulang. Entah apa yang harus kami siapkan saat daftar ulang nanti. Semoga saja urusan itu pun berakhir dengan baik.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search