Official Gmail Blog: Create your Google Profile
Google launched their own version of public profile. As far as I know, it's been there for years. Just now they decided to boost it a little by allowing Google Users to add more information to their profile.
It's not rich; not when compared to other social networking sites such as Facebook or Friendster. Actually I find it quite simple, except for the part where you can actually put up your "Superpower" in your profile. I guess the Google team always have time for jokes.
Nevertheless, I took the liberty of having another profile to attend to. The main reason behind it was because I'm curious of what Google has to offer in the future. Why? Because looking at the progress in Gmail (the all time beta-status email service), it seems the Google team likes to lay it piece by piece. So maybe Google profile could have more to offer than just showing my profile at the bottom of U.S. name-query search pages; this is most unlikely looking at the fact that my name is Amir Syafrudin.
In any case, enjoy a Google Profile if you will. You might (or might not) find something interesting in it. While you're at it, why not spare your time and have a look at my profile.
Minggu, 10 Mei 2009
Selasa, 05 Mei 2009
Gali Lubang Tutup Lubang
1 Mei 2009 akhirnya aku menerima penghasilan pertamaku sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penghasilan pertama ini bukan gaji atau tunjangan. DJP (Direktorat Jenderal Pajak) lebih suka menyebutnya Uang Tunggu, karena uang itu memang hadir untuk ditunggu, ditunggu, dan terus ditunggu.
Uang Tunggu itu berfungsi sebagai bantalan untuk meringankan beban para calon CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Kalau tidak begitu, para calon CPNS itu harus menunggu berbulan-bulan sebelum resmi diangkat sebagai CPNS dan berhak menerima 80% dari gaji + tunjangan. Dalam konteks "Besar pasak daripada tiang", keberadaan Uang Tunggu membantu memperkecil pasak tersebut.
Banyak rekan-rekan saya yang mungkin menyegerakan menutup lubang-lubang yang sudah digali selama beberapa bulan terakhir ini. Sementara saya lebih mengutamakan mencegah galian-galian baru untuk beberapa bulan ke depan. Saya dan istri mungkin bisa berhemat, tapi Raito dan Aidan tidak tahu-menahu tebal-tipisnya keuangan keluarga saya. Alhamdulillah tambahan pemasukan dari Uang Tunggu itu bisa membantu saya membeli cadangan bubur, susu, bahkan pakaian baru untuk kedua anak saya.
Seharusnya mulai bulan depan Uang Tunggu itu akan keluar secara rutin. Semoga saja kondisi itu benar adanya sehingga saya (atau rekan-rekan saya yang lain) tidak perlu lagi menunggu berbulan-bulan seperti kondisi sebelumnya. Khusus buat saya, kondisi pas-pasan seperti itu membuat saya bertambah sensitif terhadap pengeluaran. Setiap pengeluaran ekstra selalu membuat saya menghela nafas. Semakin banyak pengeluaran ekstra membuat saya semakin bingung. Alhamdulillah saya tidak mengalami stres berkepanjangan.
Saya sempat teringat seorang rekan pernah nyeletuk, "DJP sebagai instansi yang memungut pajak sebagai penghasilan negara kok sulit sekali membayar pegawai-pegawai barunya?" Sindiran itu mungkin tidak relevan karena ada instansi lain yang terlibat dalam masalah pembayaran tersebut. Namun hal itu dapat menjadi cerminan betapa besarnya seseorang menunggu pembayaran yang tak kunjung datang.
Sepertinya untuk menjadi PNS itu butuh modal finansial. Bukan modal finansial untuk otomatis diterima dengan merekayasa hasil seleksi. Bukan juga modal finansial untuk menentukan lokasi penempatan. Calon CPNS perlu modal finansial untuk menjaga diri mereka dari menggali lubang-lubang yang tidak diperlukan.
Uang Tunggu itu berfungsi sebagai bantalan untuk meringankan beban para calon CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Kalau tidak begitu, para calon CPNS itu harus menunggu berbulan-bulan sebelum resmi diangkat sebagai CPNS dan berhak menerima 80% dari gaji + tunjangan. Dalam konteks "Besar pasak daripada tiang", keberadaan Uang Tunggu membantu memperkecil pasak tersebut.
Banyak rekan-rekan saya yang mungkin menyegerakan menutup lubang-lubang yang sudah digali selama beberapa bulan terakhir ini. Sementara saya lebih mengutamakan mencegah galian-galian baru untuk beberapa bulan ke depan. Saya dan istri mungkin bisa berhemat, tapi Raito dan Aidan tidak tahu-menahu tebal-tipisnya keuangan keluarga saya. Alhamdulillah tambahan pemasukan dari Uang Tunggu itu bisa membantu saya membeli cadangan bubur, susu, bahkan pakaian baru untuk kedua anak saya.
Seharusnya mulai bulan depan Uang Tunggu itu akan keluar secara rutin. Semoga saja kondisi itu benar adanya sehingga saya (atau rekan-rekan saya yang lain) tidak perlu lagi menunggu berbulan-bulan seperti kondisi sebelumnya. Khusus buat saya, kondisi pas-pasan seperti itu membuat saya bertambah sensitif terhadap pengeluaran. Setiap pengeluaran ekstra selalu membuat saya menghela nafas. Semakin banyak pengeluaran ekstra membuat saya semakin bingung. Alhamdulillah saya tidak mengalami stres berkepanjangan.
Saya sempat teringat seorang rekan pernah nyeletuk, "DJP sebagai instansi yang memungut pajak sebagai penghasilan negara kok sulit sekali membayar pegawai-pegawai barunya?" Sindiran itu mungkin tidak relevan karena ada instansi lain yang terlibat dalam masalah pembayaran tersebut. Namun hal itu dapat menjadi cerminan betapa besarnya seseorang menunggu pembayaran yang tak kunjung datang.
Sepertinya untuk menjadi PNS itu butuh modal finansial. Bukan modal finansial untuk otomatis diterima dengan merekayasa hasil seleksi. Bukan juga modal finansial untuk menentukan lokasi penempatan. Calon CPNS perlu modal finansial untuk menjaga diri mereka dari menggali lubang-lubang yang tidak diperlukan.
Minggu, 26 April 2009
Plagiarism is a Crime | Plagiarisme adalah Kejahatan
Note: Indonesian version of this post is available at the end of this post
--
What if ...
What if the result of a research you've conducted for so long was claimed as the work of one of the professor in your department?
What if every little details you've come up with and resulted as a beautiful novel got hijacked by another writer?
What if your original and -perhaps one and only- brilliant idea was presented to your superior as coming from your colleague?
What if the money you've collected from saving for a whole year was used to hold your brother's birthday party without even thanking you?
I bet it hurts to know that someone else is using something belonged to you without even telling you about it. It could hurt even more if that someone was a complete stranger. We might reconsider if it was our brother, our friend, or our colleague, but I don't think that's the case with a total stranger.
That is what plagiarism is all about. Yes, plagiarism is stealing. Claiming another person's work as your own work is no different from stealing. You'd have to be desperate enough -or naive enough- to say the opposite.
The Internet, with Google Search as the main entrance, opens a wide opportunity to plagiarism. I don't blame Google on this one. They provide an excellent search result. It's us -the Internet users- that should be blamed for plagiarism. No matter how hard someone tried to protect his work, plagiarists would always find a way to counter those protections.
Us as Internet users should learn how to appreciate the work of others even in the slightest way. If we read something good, copied something brilliant, downloaded something useful, then the least we can do is put up a link pointing to our source instead of claiming it as your own.
Read this post in Bahasa Indonesia ...
Coba bayangkan ...
Bagaimana rasanya bila hasil riset yang Anda lakukan dalam waktu yang lama justru diakui sebagai hasil kerja salah seorang profesor di tempat Anda?
Bagaimana rasanya semua inspirasi yang Anda tuangkan ke dalam sebuah novel yang menarik dibajak oleh penulis lain?
Bagaimana rasanya bila hasil pemikiran Anda disampaikan ke atasan Anda sebagai hasil kerja rekan Anda?
Bagaimana rasanya bila uang yang Anda kumpulkan selama setahun malah digunakan untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun saudara Anda?
Saya rasa kita semua akan sakit hati saat kita tahu bahwa barang milik kita digunakan orang lain tanpa sepengetahuan kita. Sakitnya mungkin akan terasa lebih apabila orang lain itu adalah orang yang tidak kita kenal. Kita mungkin masih bisa memberikan toleransi yang cukup bila orang lain itu adalah kenalan kita.
Itu yang saya maksud dengan plagiarisme. Mengakui hasil kerja orang lain sebagai hasil kerja sendiri tidak jauh berbeda dengan mencuri. Anda harus menjadi orang yang benar-benar naif -atau memang putus asa mencari inspirasi- untuk mengatakan yang sebaliknya.
Internet, dengan bantuan mesin pencari Google, adalah tempat yang membuka banyak kesempatan plagiarisme. Saya tidak bermaksud menyalahkan Google karena letak kesalahan ada pada diri kita semua para pengguna Internet. Sejauh apa pun perlindungan yang digunakan seseorang untuk melindungi karyanya, sejauh itu pula seorang plagiat akan menemukan cara untuk mengalahkan mekanisme perlindungan itu.
Kita para pengguna Internet perlu belajar menghargai hasil kerja (karya) orang lain lewat cara sekecil apa pun. Kalau kita membaca sesuatu yang menarik, meniru pemikiran cerdas, mengunduh sesuatu yang bermanfaat, maka hal terkecil yang kita bisa lakukan adalah mencantumkan referensi yang sesuai dan bukan mengakuinya sebagai jerih payah kita sendiri.
Close please ...
--
What if ...
What if the result of a research you've conducted for so long was claimed as the work of one of the professor in your department?
What if every little details you've come up with and resulted as a beautiful novel got hijacked by another writer?
What if your original and -perhaps one and only- brilliant idea was presented to your superior as coming from your colleague?
What if the money you've collected from saving for a whole year was used to hold your brother's birthday party without even thanking you?
I bet it hurts to know that someone else is using something belonged to you without even telling you about it. It could hurt even more if that someone was a complete stranger. We might reconsider if it was our brother, our friend, or our colleague, but I don't think that's the case with a total stranger.
That is what plagiarism is all about. Yes, plagiarism is stealing. Claiming another person's work as your own work is no different from stealing. You'd have to be desperate enough -or naive enough- to say the opposite.
The Internet, with Google Search as the main entrance, opens a wide opportunity to plagiarism. I don't blame Google on this one. They provide an excellent search result. It's us -the Internet users- that should be blamed for plagiarism. No matter how hard someone tried to protect his work, plagiarists would always find a way to counter those protections.
Us as Internet users should learn how to appreciate the work of others even in the slightest way. If we read something good, copied something brilliant, downloaded something useful, then the least we can do is put up a link pointing to our source instead of claiming it as your own.
Read this post in Bahasa Indonesia ...
Coba bayangkan ...
Bagaimana rasanya bila hasil riset yang Anda lakukan dalam waktu yang lama justru diakui sebagai hasil kerja salah seorang profesor di tempat Anda?
Bagaimana rasanya semua inspirasi yang Anda tuangkan ke dalam sebuah novel yang menarik dibajak oleh penulis lain?
Bagaimana rasanya bila hasil pemikiran Anda disampaikan ke atasan Anda sebagai hasil kerja rekan Anda?
Bagaimana rasanya bila uang yang Anda kumpulkan selama setahun malah digunakan untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun saudara Anda?
Saya rasa kita semua akan sakit hati saat kita tahu bahwa barang milik kita digunakan orang lain tanpa sepengetahuan kita. Sakitnya mungkin akan terasa lebih apabila orang lain itu adalah orang yang tidak kita kenal. Kita mungkin masih bisa memberikan toleransi yang cukup bila orang lain itu adalah kenalan kita.
Itu yang saya maksud dengan plagiarisme. Mengakui hasil kerja orang lain sebagai hasil kerja sendiri tidak jauh berbeda dengan mencuri. Anda harus menjadi orang yang benar-benar naif -atau memang putus asa mencari inspirasi- untuk mengatakan yang sebaliknya.
Internet, dengan bantuan mesin pencari Google, adalah tempat yang membuka banyak kesempatan plagiarisme. Saya tidak bermaksud menyalahkan Google karena letak kesalahan ada pada diri kita semua para pengguna Internet. Sejauh apa pun perlindungan yang digunakan seseorang untuk melindungi karyanya, sejauh itu pula seorang plagiat akan menemukan cara untuk mengalahkan mekanisme perlindungan itu.
Kita para pengguna Internet perlu belajar menghargai hasil kerja (karya) orang lain lewat cara sekecil apa pun. Kalau kita membaca sesuatu yang menarik, meniru pemikiran cerdas, mengunduh sesuatu yang bermanfaat, maka hal terkecil yang kita bisa lakukan adalah mencantumkan referensi yang sesuai dan bukan mengakuinya sebagai jerih payah kita sendiri.
Close please ...
Langganan:
Postingan (Atom)