Minggu, 08 Mei 2016

ANU, Telstra Tower, dan Gungahlin

0 opini
Judul asli: Minggu III di Canberra: ANU, Telstra Tower, dan Gungahlin
--
Minggu ini saya memutuskan untuk merasakan suasana shalat Jumat yang diselenggarakan di Australian National University (ANU). Setelah hampir setengah jam jalan kaki dari kantor, saya berhasil menemukan tempat shalat Jumat itu. Lokasinya memanfaatkan salah satu lapangan basket di sport hall. Suasananya terbilang menarik karena sudah lama sekali sejak saya shalat Jumat bersama dengan para mahasiswa. Sayangnya sound system yang digunakan kurang nendang sehingga khutbah Jumat tidak terdengar jelas.

Pasca Shalat Jumat di Lapangan Basket ANU
Waktunya Beres-Beres
Setelah shalat Jumat, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lingkungan kampus ANU. Lingkungannya benar-benar membuat saya rindu dengan masa-masa kuliah di kampus UI Depok. Banyak bangunan-bangunan unik, pohon di sana-sini, sarana olah raga siap pakai, dan yang paling penting, sebuah musala kecil sebagai pusat kegiatan mahasiswa muslim di ANU.

Computer Science & Information Technology
(Kalau Tidak Salah) Gedung Penelitian Kimia
Fellows Oval
Pusat Kegiatan Mahasiswa Muslim
ANU Bebas Rokok
Centre for Arab & Islamic Studies
Beralih ke Telstra Tower. Setelah mempelajari seluk-beluk rute dan jadwal bus, saya memberanikan diri mengajak istri dan anak saya ke Telstra Tower, salah satu bangunan khas di Canberra, yang berada di puncak Black Mountain. Kami ke sana dengan bus 981 yang merupakan tourist loop, yaitu bus yang rutenya dirancang untuk melewati tempat-tempat wisata di Canberra. Perjalanan di dalam bus itu seperti sedang bepergian ke luar kota, terutama saat bus itu meliuk-liuk menuju ke puncak Black Mountain.

Telstra Tower
Miniatur Telstra Tower
Pesawat Telepon Kuno yang Dipamerkan di Telstra Tower
Indoor Viewing Deck
Puncak Telstra Tower dari Open Viewing Deck
Pemandangan dari Open Viewing Deck
Kotak Pos Tertinggi Di Canberra
Hari Jumat ke ANU, hari Sabtu ke Telstra Tower, lalu hari Minggu ke mana? Setelah minggu lalu kami menjelajahi daerah selatan Australian Capital Territory (ACT), yaitu daerah Tuggeranong, hari Minggu ini kami memutuskan untuk bepergian ke daerah utara ACT, yaitu daerah Gungahlin. Sayangnya hujan tidak kunjung berhenti, kami pun hanya menyempatkan diri mampir ke beberapa tempat belanja seperti The Reject Shop, Coles, Pacifik Halal Meats, dan Aldi untuk memuaskan rasa ingin tahu kami terhadap produk-produk yang halal atau murah.

Satu hal menarik terjadi di Coles. Kasir tempat kami membayar belanjaan kami adalah seorang muslimah yang ramah. Saat dia melihat kami membeli sebungkus beef jerky, dia langsung bertanya kepada kami. "Is this for you?" Begitu tanya si Kasir. "It's not halal." Begitu penjelasan singkat yang diberikannya. Sayangnya saya sudah lebih dulu berselancar menemukan informasi bahwa beef jerky itu halal. Setelah kami memperlihatkan logo halal di balik bungkusnya, dia langsung tersenyum.

Area Parkir Dekat Aldi Gungahlin
Hujan yang Tak Kunjung Berhenti
Jack Link's Beef Jerky Berlogo Halal
Demikian pengalaman saya selama minggu ketiga di Canberra. Masih ada lebih banyak cerita lagi seiring waktu saya tinggal di Canberra hingga 8-9 minggu ke depan. Insya Allah. Seperti biasa, foto-foto lain yang sempat saya ambil dapat diakses di https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98.

Minggu, 01 Mei 2016

Beradaptasi di Canberra

0 opini
Judul asli: Minggu II di Canberra: Adaptasi dan ANZAC
-- 
Minggu kedua di Canberra pun berakhir. Cerita utama di minggu kedua ini adalah tentang adaptasi, tapi sebelumnya saya mulai dulu dengan berbagi cerita tentangan peringatan hari ANZAC. Hari ANZAC, yang diperingati setiap tanggal 25 April di Australia dan Selandia Baru, dapat disamakan dengan hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November di Indonesia. Saya beruntung dapat melihat langsung (melalui monitor super besar) parade para veteran perang Australia di Australian War Memorial.

Barisan Parade Pembuka Upacara ANZAC
Beberapa Saat Sebelum Barisan Parade Bergerak
Monitor Super Besar untuk Mereka yang Terlambat Datang
Parade berjalan agak lama karena memang ada banyak veteran perang yang ikut menghadiri parade tersebut. Saya pribadi salut dengan antusiasme warga Canberra untuk menghadiri parade tersebut. Tidak hanya para orang tua yang hadir di situ. Saya melihat banyak anak-anak dan remaja-remaja yang ikut hadir mengikuti parade tersebut. Mereka rela berpanas-panasan untuk memperingati perjuangan para tentara mereka di berbagai medan perang. Australia definitely remembers.

Beralih ke cerita utama, adaptasi di Canberra tidak bisa dibilang mudah, tapi untungnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Masjid dan musala bukanlah hal yang lazim di Canberra, tapi saya beruntung karena kantor Australian Taxation Office (ATO) tempat saya bekerja masih menyediakan sebuah prayer room yang dapat digunakan untuk shalat. Sebuah wash room pun disediakan sehingga saya (dan pegawai muslim lainnya) tidak perlu menggunakan wastafel di toilet untuk berwudhu.

Bagaimana dengan shalat Jumat? Masjid Canberra letaknya cukup jauh dari kantor ATO tersebut, tapi saya beruntung karena salah satu komunitas Islam di Canberra menyelenggarakan shalat Jumat di sebuah aula yang letaknya tidak jauh dari kantor ATO tempat saya bekerja. Jumat di minggu pertama, saya melaksanakan shalat Jumat di aula itu. Jumat minggu kedua, saya menebeng kendaraan salah satu pegawai muslim ATO untuk shalat di Masjid Canberra. Pada intinya, saya mendapatkan kemudahan dalam hal melaksanakan shalat. Akan tetapi, berhubung adzan jarang (atau hampir tidak pernah) terdengar, saya harus mengandalkan aplikasi untuk mengingatkan saya akan waktu shalat.

Tempat Bermain Di Pekarangan Masjid Canberra
Tantangan adaptasi yang lebih besar justru muncul saat mencari makanan halal. Menemukan makanan halal di Canberra tidak semudah membalik bungkus makanan dan menemukan sertifikat halal. Saya harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, baik dari teman-teman yang pernah tinggal di Australia, pegawai-pegawai muslim di kantor ATO, atau sekedar googling ke situs-situs yang dapat dipercaya. Produk-produk yang kemasannya mencantumkan sertifikat halal memang ada, tapi kabarnya ada sejenis gerakan boikot yang membuat sebagian produsen memilih untuk tidak mencantumkan sertifikat tersebut di kemasan produk mereka. Kondisi yang sama sepertinya juga berlaku untuk restoran-restoran yang tersebar di berbagai penjuru Canberra. Untungnya masih ada toko seperti Jabal Halal Market dan restoran seperti PappaRich yang menjual bahan makanan dan makanan halal sehingga mencari makanan halal di Canberra tidak perlu dianalogikan dengan mencari jarum di tumpukan jerami.

Contoh Produk dengan Sertifikat Halal di Kemasannya
Selain soal shalat dan makanan, masih ada beberapa hal lain yang melengkapi "indahnya" proses adaptasi di Canberra, seperti toilet yang hanya dilengkapi tisu (tanpa air untuk cebok) atau cuaca musim gugur yang terasa dingin saat matahari ada di atas kepala kita. Akan tetapi, belum ada satu pun yang dapat dikatakan sebagai penghalang. Semua tantangan beradaptasi bisa teratasi dengan baik. Semoga saja kondisi seperti ini terus bertahan hingga waktunya saya pulang kembali ke Indonesia pertengahan Juli nanti. Aamiin.

Sebelum saya tutup tulisan ini, saya ceritakan dulu soal saya "ditodong" A$ 5 oleh seorang wanita. Saat itu pukul 6 sore. Saya dalam perjalanan pulang sehabis belanja bersama teman-teman saya. Berhubung apartemen kami tidak jauh dari pusat perbelanjaan, kami hanya perlu jalan kaki untuk belanja kebutuhan-kebutuhan harian. Di sebuah perempatan jalan, saat kami sedang menunggu lampu hijau untuk menyeberang jalan, tiba-tiba seorang wanita menghampiri saya. Tanpa basa-basi, dia langsung meminta A$ 5 dari saya untuk "get a drink". Saya spontan menolak, tapi, karena lampu hijau itu tak kunjung menyala, wanita itu terus saja meminta uang dari saya. Seiring penolakan dari saya, alasannya berubah dari "get a drink" menjadi "find something to eat" dan dari tidak punya uang menjadi punya A$ 4. Di dalam hati saya hanya berpikir, "Ini lampu kapan hijaunya siiih?"

Teman-teman saya sengaja tidak menggubris wanita itu. Saya pribadi mencoba untuk tidak menggubris. Beberapa warga lokal yang juga menunggu untuk menyeberang pun tidak menggubris wanita itu. Sayangnya determinasi wanita itu untuk mendapatkan A$ 5 cukup kuat untuk terus-menerus memborbardir saya dengan "I only need 5 dollars," atau "Why can't you help me, mate." Sampai akhirnya lampu hijau untuk menyeberang itu menyala dan wanita itu langsung berbalik sambil berkata "Okay." Waktu yang tadinya terasa berjalan lambat berubah menjadi normal kembali saat lampu hijau itu menyala. Dan saya pun berjalan menuju kebebasan. Fiuh!

Sebenarnya ada insiden serupa tapi tak sama dengan insiden di atas, yaitu saat seorang wanita mendekati saya, istri saya, dan si Kecil, lalu tiba-tiba berkata, "This is my family!" Saat itu, saya langsung teringat dengan si Wanita 5 Dolar. Saya dan keluarga saya segera berjalan menjauh. Wanita itu sempat mengikuti kami sambil berteriak, "... my family," berkali-kali. Untungnya tidak ada lampu hijau penyeberangan jalan yang harus kami tunggu sehingga wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk mengakui kami sebagai keluarganya.

Itu saja yang bisa saya ceritakan kali ini. Bila kondisinya memungkinkan, saya akan kembali berbagi cerita tentang Canberra di waktu dan tempat yang sama. Untuk mengakses foto-foto yang saya ambil selama saya di Canberra, silakan cek album online ini: https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98.

Minggu, 24 April 2016

Tentramnya Hidup di Canberra

0 opini
Judul asli: Minggu I di Canberra: Tentram
--
Akhirnya blog ini pun di-update kembali.

Seminggu sudah berlalu sejak saya menginjakkan kaki di Canberra. Walaupun Canberra merupakan ibu kota negara Australia, kota ini jauh dari kesan semrawut. Jalan raya terasa lengang bahkan saat jam sibuk. Jarang sekali saya melihat kemacetan di jalan-jalan Canberra. Orang-orang yang lalu-lalang memang terbilang banyak, tapi trotoarnya begitu luas sehingga jalan kaki pun tetap terasa nyaman.

Jalan di Canberra
Angkutan umum di sini terbilang handal. Bus di sini termasuk alat transportasi utama. Rute-rutenya jelas dan waktu kedatangannya pun masih bisa diprediksi. Akan tetapi, masih banyak mobil pribadi yang berseliweran di jalan-jalan Canberra. Satu hal yang sangat kontras dengan Jakarta adalah motor. Jarang sekali saya melihat orang yang mengendarai motor di sini. Justru jumlah pengendara sepeda jauh lebih banyak dari jumlah pengendara motor. Tidak terlalu mengherankan melihat kota ini menyediakan begitu banyak tempat parkir sepeda. Selain itu, bus-bus pun dilengkapi rak sepeda di bagian depannya untuk mengakomodir para pengendara sepeda yang harus menggunakan bus dalam perjalanannya.

Tempat Perhentian Bus
Bagian Dalam Bus
Semua yang sudah saya ceritakan di atas mampu memberikan rasa tentram tersendiri bagi pendatang seperti saya, apalagi kalau saya membandingkannya dengan hiruk pikuk Jakarta. Akan tetapi, bagian yang paling saya suka dari suasana kota ini adalah sisi "hijau"-nya. Hampir di setiap ruas jalan, saya bisa melihat pohon yang rindang di sisi kanan dan sisi kiri jalan. Bagian tengah jalan (yang berfungsi sebagai pemisah jalur) pun dihiasi dengan pepohonan. Ditambah lagi dengan taman-taman yang tersebar di berbagai penjuru kota, Canberra menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali.

Pepohonan di Area Pertokoan
Tempat Bersantai di Siang Hari
Di rentang waktu tertentu, rasa tentram yang ditawarkan kota ini bisa berubah menjadi rasa sepi. Kenapa begitu? Karena aktivitas di kota ini sudah mulai redup di sore hari. Mayoritas toko sudah tutup pada jam 5 sore; penanda redupnya aktivitas yang signifikan. Jam 7 malam pun jalan-jalan sudah sepi. Bagi pendatang yang belum kenal medan seperti saya, tidak banyak yang bisa saya lakukan di malam hari selain menghabiskan waktu di apartemen.

Walaupun begitu, satu minggu terakhir di Canberra tetap terasa menyenangkan. Sayangnya hanya itu saja yang bisa saya ceritakan lewat tulisan ini. Masih ada banyak hal lain yang ingin saya ceritakan melalui blog ini, seperti mencari makanan halal, mencari tempat shalat Jumat, jalan kaki ke bandara, atau "ditodong" $5 oleh seorang wanita. Biar waktu yang menentukan kapan cerita-cerita itu akan tertuang ke dalam blog ini.