Kamis, 08 Juli 2010

Terlambat Dewasa (2)

0 opini
Batas waktu untuk menjadi dewasa adalah hal yang sangat relatif. Walaupun begitu, masyarakat sudah mengambil perannya untuk menentukan batas waktu ini. Masyarakat pada umumnya menilai bahwa waktunya seseorang untuk menjadi dewasa antara lain saat orang itu sudah memasuki dunia kerja atau saat orang itu sudah memasuki usia menikah. Sementara besaran usia dewasa yang pasti masih bersifat relatif.

Terlambat atau tidaknya seseorang untuk menjadi dewasa memang seyogyanya dilihat dari besarnya tanggung jawab yang sudah seharusnya dia emban. Saat seseorang sudah harus mengemban tanggung jawab seberat 100 kg, maka orang itu dapat dikatakan terlambat dewasa bila dia memilih untuk mengemban hanya 10 kg saja atau bahkan melarikan diri dari tanggung jawab. Cara ini pun masih bersifat relatif karena untuk menentukan besarnya tanggung jawab yang SEHARUSNYA diemban seseorang itu pun bukan masalah mudah.

Memang tidak mudah menentukan apakah seseorang itu terlambat dewasa atau tidak sebab masalah ini umumnya bersifat subjektif. Seseorang menjadi terlambat dewasa kemungkinan besar karena orang-orang di sekitar dia menganggapnya seperti itu. Kata-kata seperti "Kamu kok masih bertingkah seperti anak kecil saja?!" atau "Kenapa kamu tidak pernah bisa bertanggung jawab dengan baik?!" merupakan tanda-tanda terlambatnya seseorang menjadi dewasa. Penilaian-penilaian ini tentunya sangat subjektif terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Terlepas dari itu, masalah yang sebenarnya bukan ada pada kata "terlambat dewasa". Masalah yang sebenarnya justru ada pada dampak keterlambatan ini, yaitu saat seseorang menjadi "tidak pernah dewasa". Seseorang yang masuk ke dalam tahap "terlambat dewasa" itu sangat dimungkinkan untuk masuk ke dalam tahap "tidak pernah dewasa". Hal ini terkait erat dengan sifat alami manusia dalam proses belajar dan berubah.

Seperti kita ketahui bersama, usia seseorang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Kemampuan belajar ini mencakup kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang baru dan menerapkan hasil belajarnya itu ke dalam hidupnya. Kemampuan belajar ini tidak terbatas pada pendidikan yang bersifat formal saja, tapi meluas kepada segala sesuatu yang dipelajari seseorang dalam hidupnya untuk kemudian membantunya membentuk sikap dan kepribadiannya sendiri.

Bersambung ...

Rabu, 07 Juli 2010

Terlambat Dewasa (1)

0 opini
Menjadi dewasa adalah sebuah proses berkesinambungan yang membutuhkan waktu lama. Saya bahkan berani mengatakan bahwa proses untuk menjadi dewasa ini adalah proses sepanjang masa. Proses menjadi dewasa yang dilalui seseorang hanya akan berhenti saat orang tersebut meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena grafik kedewasaan seseorang tidak stabil begitu saja. Setiap orang yang BERUBAH menjadi dewasa harus tetap berusaha untuk MEMPERTAHANKAN kedewasaannya. Proses mempertahankan kedewasaan ini yang menjadi tugas seumur hidup setiap orang.

Istilah “terlambat dewasa” yang menjadi judul tulisan ini lebih banyak berkaitan dengan bagian pertama dari proses menjadi dewasa yaitu BERUBAH. Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti mengalami perubahan ini. Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti mengalami proses untuk menjadi dewasa. Hanya saja kecepatan proses menjadi dewasa untuk masing-masing individu itu tidak sama.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan seseorang. Tingkat pendidikan seseorang merupakan salah satu faktor yang signifikan. Umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin terbuka pikirannya. Alhasil semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin matang pola pikirnya. Kematangan pola pikir ini menentukan tingkat kedewasaan seseorang.

Kondisi ekonomi seseorang pun dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan. Orang yang hidup dengan berbagai keterbatasan umumnya lebih mandiri ketimbang orang yang terbiasa hidup mewah. Hal ini dikarenakan orang yang terbiasa hidup mewah itu juga terbiasa dilayani. Pada umumnya sulit bagi seseorang yang terbiasa dilayani untuk tidak bergantung pada orang lain.

Pernikahan pun merupakan salah satu gerbang menuju tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Dengan menikah, setiap orang diharuskan bergerak ke arah keselerasan dengan pasangannya. Untuk melakukan hal ini tentunya diperlukan pengorbanan. Sifat egois harus dikendalikan dengan baik untuk menjaga keutuhan pernikahan dan sifat mengalah pun perlu dilestarikan. Proses mengendalikan sifat egois dan melestarikan sifat mengalah itu sendiri merupakan langkah-langkah menuju kedewasaan.

Ada banyak hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat kedewasaan seseorang. Bila ada sesuatu yang dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir, cara seseorang bersikap, dan cara seseorang bertingkah, maka sesuatu itu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kedewasaan orang itu. Faktor-faktor ini tentunya tidak sama bagi setiap orang. Kalaupun ada yang sama, besaran pengaruhnya akan berbeda untuk masing-masing individu.

Kadang ada orang lulusan S1 yang tidak lebih dewasa dibandingkan orang lulusan SMU. Kadang ada orang yang hidup mewah namun tetap bisa mengendalikan dirinya untuk menjadi mandiri. Kadang ada orang yang menikah tapi pernikahannya tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap sikap dan tingkah lakunya.

Kecepatan seseorang untuk menjadi dewasa memang berbeda-beda. Ini yang menjadi dasar mengapa ada istilah "terlambat dewasa". Perbedaan kecepatan ini yang membuat pencapaian kedewasaan setiap orang berbeda bila diukur pada usia yang sama. Ada orang yang di usia 22 tahun sudah berani mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ada orang yang di usia 28 tahun masih saja ingin hidup sebebas-bebasnya tanpa ada tanggung jawab.

Orang berusia 28 tahun pada ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh orang yang terlambat dewasa. Akan tetapi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa 28 tahun itu sebagai tolok ukur keterlambatan. Definisi "terlambat" itu sendiri sangat bergantung pada definisi "tepat waktu". Kita perlu menentukan terlebih dahulu batas waktu untuk menjadi dewasa sebelum mengatakan bahwa seseorang terlambat dewasa.

Bersambung ...

Rabu, 02 Juni 2010

How to Train Your (Viking) Son (3)

0 opini
Sambungan dari: http://asyafrudin.blogspot.com/2010/05/how-to-train-your-viking-son-2.html

Peran anak itu sendiri mungkin akan pasif bila mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Di rentang usia ini, seorang anak sangat bergantung pada keputusan-keputusan yang dibuat oleh ayahnya. Jadi ayahnya harus berperan aktif membantu anaknya berkembang. Peran anak ini akan berkembang bila mereka sudah memasuki usia remaja.

Untuk menjaga keharmonisan hubungan ayah dan anak, penting bagi seorang anak untuk menanamkan pikiran positif terhadap setiap sikap dan keputusan yang dibuat ayahnya. Setiap anak (di usia remaja atau lebih tua) harus bisa berpikir positif bahwa apa yang dilakukan ayahnya adalah demi kebaikan mereka. Dengan begitu setiap anak mampu menerima dan menjalankan saran-saran atau arahan-arahan dari ayahnya untuk disesuaikan dengan bakat dan minatnya sendiri.

Belajar dari Hiccup, sikap positif itu akan membuahkan hasil yang positif. Seorang anak tidak akan pernah berhenti berkembang bila mereka mempertahankan sikap positif. Yang penting untuk dilakukan oleh seorang anak adalah membuktikan bahwa dirinya bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Dengan potensi yang maksimal itu pun seorang anak bisa menjadi sukses walaupun berbeda dengan kesuksesan ayahnya.

Kemauan ayah untuk membimbing anak sesuai bakat dan minatnya serta kemauan anak untuk selalu berpikir positif akan terbentuk dengan mudah bila didukung dengan komunikasi yang baik di antara keduanya. Bahkan masalah yang terjadi antara Stoick dan Hiccup tidak akan terjadi bila mereka mampu berkomunikasi dengan baik.

Komunikasi adalah hal yang krusial untuk menjaga keharmonisan dalam sebuah hubungan. Oleh karena itu seorang ayah perlu menemukan cara untuk berbicara dengan anaknya dan setiap anak pun (bila mereka sudah cukup umur) perlu menemukan cara untuk berbicara dengan ayahnya. Yakinlah bahwa semua ini bukanlah hal yang mudah. Tapi kita semua tahu bahwa "No Pain, No Gain!"

Selamat melatih anak (bagi ayah) dan berlatih (bagi anak) untuk menjadi seorang manusia luar biasa!

--
Versi PDF: http://www.4shared.com/document/Vd7jfwYC/HowToTrainYourVikingSon.html