Senin, 14 Januari 2013

Pentingnya Berbangga Diri

Menyambung dari Tersambar Petir, pada tulisan kali ini saya ingin lebih menekankan pada aspek kebanggaan diri dari the boy who flew. Kebanggaan diri yang saya maksud di sini, seperti yang saya paparkan di Tersambar Petir, merupakan kompilasi tentang berbagai hal yang sudah kita capai dalam hidup kita. Kebanggaan diri di sini merupakan sebuah kumpulan pencapaian hidup yang memungkinkan kita untuk secara gamblang menegaskan bahwa diri kita itu "bernilai".

"Seberapa pentingkah menemukan kebanggaan diri kita?" Let's start with a story.

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pria bernama Joni yang jatuh cinta pada seorang wanita bernama Isabela. Sayang seribu sayang, Isabela bukanlah wanita yang mudah didapatkan. Selain kompetisi yang ketat untuk mendapatkan hatinya, Isabela sendiri memang bukan tipe wanita yang mudah "takluk" pada pesona sembarang pria.

Walaupun begitu, Joni tidak patah semangat. Bersaing dengan pria-pria yang lebih tampan atau lebih kaya tidak lantas membuat dia mundur dari kompetisi. Joni pun mulai menyusun berbagai rencana untuk merayu Isabela. Tanpa modal harta yang melimpah atau paras seorang selebriti, Joni tetap mencoba mendekati Isabela. Beberapa hari kemudian, Joni datang ke rumah Isabela sambil membawa cake buatannya sendiri. Cake itu diterima oleh Isabela dengan ucapan terima kasih. Sayangnya Isabela sama sekali tidak terlihat terkesan.

Seminggu kemudian, Joni datang lagi ke rumah Isabela dengan membawa lukisan Isabela hasil karyanya sendiri. Isabela yang terus ada di dalam pikirannya telah memberikan inspirasi kepada Joni untuk menuangkannya di atas kanvas. Hasilnya adalah lukisan seorang wanita cantik dengan senyuman yang membuat menenangkan jiwa. Lukisan itu diterima Isabela dengan ucapan terima kasih. Sayangnya Isabela pun tetap saja tidak terkesan.

Hampir 2 (dua) minggu sejak memberikan lukisan kepada Isabela, Joni datang lagi dengan membawa sweater yang dirajutnya sendiri. Besar harapan Joni agar Isabela mau memakai sweater buatannya itu. Sayangnya Joni tidak melihat harapan itu terkabul saat Isabela menerima pemberiannya. Di balik ucapan terima kasihnya, Isabela tetap saja tidak terkesan.

Joni dan Isabela? Bukan!
Joni masih tetap melanjutkan perjuangannya untuk merebut hati Isabela saat dia tiba-tiba dikejutkan kabar bahwa Isabela sedang bersiap-siap pergi. Rupanya Isabela sudah bertunangan dengan seorang pria dari negara tetangga. Joni tidak lagi melihat harapan untuk memenangkan hati Isabela. "Bagaikan punuk merindukan bulan," itu pikir Joni.

Bagaimana kelanjutan kisah Joni? Kita sama-sama tahu bahwa Joni punya dua pilihan. Joni bisa terus meratapi kegagalannya mendapatkan cinta Isabela atau Joni bisa mulai menyadari betapa banyaknya hal yang dia capai dalam usahanya mendapatkan cinta Isabela. Joni berhasil membuat cake, melukis, dan merajut dalam "kegagalannya" mendapatkan cinta Isabela. Bisa dibayangkan bukan bahwa yang berhasil dicapai Joni itu lebih besar dari apa yang gagal dicapainya?

Kita pun kerap seperti itu. Kita seringkali disibukan dengan kegagalan kita saat belajar terbang sampai-sampai kita lupa bahwa di balik kegagalan itu tersembunyi sebuah fakta. Fakta itu menunjukan bahwa kita sudah terbang, walaupun hanya beberapa (puluh) meter. Kita seringkali terlalu sibuk menyesali kegagalan kita sehingga kita tidak sadar dengan hal-hal yang berhasil kita capai dalam proses yang kita jalani.

Lalu kembali ke pertanyaan kita, "seberapa pentingkah menemukan kebanggaan diri kita?" Sepenting kebahagiaan hidup kita. Saat kita bangga dengan berbagai hal yang kita capai, kita akan mendapatkan suntikan energi untuk terus maju menembus berbagai rintangan hidup. Kebanggaan diri ini menjadi motivasi kita untuk terus berkarya walaupun diterpa kegagalan karena kita tahu bahwa di balik kegagalan itu ada satu-dua keberhasilan.

Dengan suntikan energi ini, kita akan terbebas dari penyesalan dan ratapan yang membuat hidup terasa berat. Mood kita pun dapat dipastikan akan beranjak membaik sehingga kita mampu menatap hidup dengan pandangan positif. Kebanggaan terhadap diri sendiri ini pada akhirnya akan meningkatkan rasa percaya diri kita.

Satu hal yang perlu kita ingat dalam membanggakan diri sendiri adalah kebanggaan ini membuat kita besar kepala bin angkuh. Mengacu kepada pengalaman dan pengamatan saya sendiri, batas antara sikap membanggakan diri yang positif dan membanggakan diri yang negatif (sombong) itu tipis. Jangan sampai tujuan baik kita untuk memotivasi diri sendiri dan memberikan suntikan energi untuk terus berkarya ini berdampak negatif pada lingkungan sosial kita. Jangan sampai rasa bangga terhadap berbagai keberhasilan diri kita sendiri membuat kita dijauhi orang lain karena kita dianggap sombong.

Demikian.

Here's to our self-esteem!

*Gambar ditemukan lewat Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar