Senin, 09 Januari 2012

At-Taubah

3 opini
At-Taubah: Satu-satunya surat dalam Al-Qur'an yang tidak diawali dengan lafadz basmalah. Surat ini berisi firman-firman Allah yang tegas dan keras tentang berjihad (berperang) di jalan Allah. Saya sebut tegas karena berjihad ini bukanlah pilihan. Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah tidak selayaknya menolak untuk berjihad tanpa ada uzur yang sangat kuat.

Saya sebut keras karena Allah tidak menampakan kelembutannya dalam perintah berjihad ini. Allah SWT seolah-olah tidak memberikan toleransi sedikit pun mengenai keharusan berjihad bagi orang-orang yang beriman. Sebegitu kerasnya perintah Allah sampai orang-orang yang membuat-buat alasan (dengan berdusta) untuk tidak ikut berjihad dijanjikan adzab yang pedih. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Memang tidak semua ayat dalam surat At-Taubah ini tentang berjihad di jalan Allah. Akan tetapi, secara garis besar, ayat-ayat dalam surat At-Taubah ini tidak lepas dari peringatan-peringatan keras dari Allah kepada orang-orang kafir, fasik, dan munafik. Peringatan-peringatan keras ini senantiasa diakhiri dengan peringatan akan adzab yang pedih dan kekal. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Tidak banyak yang dapat saya paparkan dari surat At-Taubah. Hikmah yang saya dapatkan untuk saat ini pada dasarnya hanya beberapa paragraf di atas. Di bawah ini saya cantumkan beberapa ayat yang sengaja saya kutip dari surat tersebut:
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At-Taubah:20)
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. (QS. At-Taubah:25)
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS. At-Taubah:35)
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[1]. (QS. At-Taubah:40)
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah:51)
Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah:54)
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah:68)
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah:72)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:100)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:111)
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (QS. At-Taubah:116)
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah:122)
--
[1] Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi SAW, maka Allah s.w.t. memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi SAW. Karena itu maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.

Kamis, 05 Januari 2012

Mengajar di STAN

2 opini
Pagi ini saya memutuskan untuk mencoba menggunakan 2 (dua) monitor untuk komputer kerja saya. Alasannya karena memang ada 1 (satu) monitor tidak terpakai di ruangan kerja saya dan karena saya sendiri ingin memperbesar luas desktop saya. Setelah mengubek-ubek ruangan kerja untuk mencari kabel DVI, saya baru sadar kalau PC saya tidak dilengkapi video card yang mendukung DVI. Alhasil semua usaha saya sia-sia.

Lalu apa hubungannya dengan mengajar di STAN? Kita akan ke arah sana.

Berhubung meja saya sudah terlanjur berantakan, saya pun memutuskan untuk cuci gudang; atau cuci meja? Posisi monitor saya ubah, letak file box saya sesuaikan, dan tentu saja dokumen-dokumen dan kertas-kertas tidak terpakai saya buang. Ternyata ada banyak dokumen dan kertas yang statusnya sudah layak buang. Akhirnya saya menemukan cara untuk sedikit mengosongkan meja kerja saya.

Lalu apa hubungannya dengan mengajar di STAN? Ada dalam paragraf di bawah ini.

Di tengah-tengah tumpukan dokumen dan kertas itu saya menemukan berkas-berkas saya saat saya mengajar di STAN pada tahun 2011 (tahun lalu). Mulai dari surat tugas, buku dan presentasi untuk bahan ajar, soal-soal ujian, jawaban-jawaban ujian yang sudah saya beri nilai, sampai catatan kesan dan pesan dari para mahasiswa, semuanya membawa kembali kenangan manis dan pahit saat saya mengajar di STAN.

Yang paling berkesan tentu saja catatan kesan dan pesan dari para mahasiswa saya. Alhamdulillah komentar-komentar yang diberikan itu banyak yang positif. Yang saya maksud positif di sini bukan hanya komentar-komentar manis yang berpotensi membuat saya sombong, tapi juga termasuk kritik-kritik pedas, tajam, dan membangun terhadap saya.

Saya pun menyempatkan diri untuk membaca kembali semua catatan kesan dan pesan itu satu per satu. Sebagian catatan kesan dan pesan itu bernuansa serius. Sebegitu seriusnya sampai catatan kesan dan pesan yang seharusnya anonymous itu diberi nama oleh yang bersangkutan. Kata-kata yang dipilih pun memberikan kesan yang formal dan diplomatis.

Sebagian lainnya bernuansa canda. Sebegitu terasa candanya sampai-sampai saya merasa yang menulis itu sedang tertawa puas saat menulis kesan dan pesan miliknya. Ada pula yang bernuansa islami di dalam kesan dan pesannya. Kenapa? Karena dia memberi nama "Hamba Allah" di dalam kesan dan pesannya.

Kritik-kritik yang disampaikan lebih banyak bersifat teknis; mulai dari ketersediaan bahan mengajar untuk mahasiswa, durasi mata kuliah yang terlalu lama, sampai kesiapan sarana dan prasarana untuk praktek. Kritik-kritik yang terkait dengan cara saya mengajar tidak terlalu banyak. Sepertinya saya menjadi salah satu dosen favorit yang cara mengajarnya tidak terlalu membosankan atau bahkan menyenangkan.

Berhubung kesan dan pesan itu dibuat saat kuliah terakhir menjelang ujian akhir semester, tidak sedikit mahasiswa yang menyelipkan keinginannya untuk mendapatkan nilai A. Sayangnya kesan dan pesan itu dibuat tanpa nama. Jadi, mahasiswa-mahasiswa itu pun pukul rata menuangkan harapan nilai A untuk semuanya tanpa kecuali. Inilah salah satu contoh peribahasa "dikasih hati minta jantung".

Dibalik semua permintaan nilai A itu, ada satu yang agak unik. Kata-katanya seperti ini, "kalau ada nilai mahasiswa yang masih kurang, tolong dibantu pak." Diplomatis sekali bukan? Dalam hal ini, kemungkinannya ada dua. Pertama, yang bersangkutan adalah mahasiswa yang memang merasa nilainya kurang. Kedua, yang bersangkutan adalah ketua kelas memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap teman-teman kuliahnya.

Komentar-komentar konyol lucu itu tidak sedikit. Ada komentar seperti ini: "belajar asik, nilai ujian bagus, ilmu masuk, lanjutkan pak." Sepertinya yang bersangkutan ini anggota partai politik tertentu yang warna dominan lambangnya itu biru (atau ungu?). Ada juga komentar berlebayan seperti, "bapak terlalu sempurna bagi saya". Sebuah komentar yang membuat saya tertawa lepas sepenuh hati.

Kalau saya tuangkan semuanya, post ini akan menjadi panjang bukan kepalang hanya untuk bercerita tentang kesan dan pesan saja. Secara garis besar, keputusan saya untuk menerima tawaran mengajar di STAN tahun lalu adalah keputusan yang berakhir menyenangkan. Saya bersyukur dapat mengalahkan keraguan saya untuk mengajar kembali dan meneriwa tawaran tersebut.

Bagaimana dengan tahun ini? Tidak lagi.

Saat ini saya sudah memutuskan untuk tidak lagi mengajar di STAN karena materi kuliah yang cocok untuk diajarkan oleh praktisi teknologi informasi (TI) seperti saya itu terbatas. Mata kuliah yang saya ajar sebelumnya memang nyerempet dengan dunia TI, tapi materi yang diajarkan lebih ke arah penggunaan sebuah sistem informasi. Saat mengajar itu saya lebih merasa seperti trainer dalam sebuah kelas training ketimbang seorang dosen di sebuah kelas perguruan tinggi.

Sepertinya saya lebih suka mengajar materi kuliah yang TI banget. Saya membayangkan materi kuliah yang terkait dengan pemrograman, analisa dan desain sistem, manajemen proyek, atau materi-materi lain yang ... TI banget. Satu hal yang pasti, pengalaman mengajar di STAN itu telah membangkitkan minat mengajar saya yang telah tertidur pulas. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mencari tempat yang mau menerima saya sebagai pengajar dan mencari waktu luang untuk mengajar di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang suami dan ayah dari dua anak laki-laki yang super caper.

Senin, 02 Januari 2012

Blogging 2012

4 opini
2012 telah tiba. Sebagai seorang blogger, saya ingin memanfaatkan momentum pergantian tahun ini untuk melihat kembali perjalanan blogging saya; terutama di tahun 2011. Sepertinya ada banyak hal yang dapat saya cuplik dari aktivitas blogging saya tahun lalu. Saya mulai!

Satu hal yang patut saya acungi jempol adalah keberhasilan saya untuk menahan diri dari menghapus blog-blog saya yang tidak lagi saya update, yaitu islam-awam.blogspot.com dan bicarapajak.blogspot.com. Rupanya masih saja ada pembaca yang mengunjungi kedua blog tersebut. Bahkan sesekali waktu masih saja ada pembaca yang berkenan memberikan komentar.

Saya pribadi berasumsi bahwa tulisan-tulisan di dalam kedua blog tersebut masih dapat memberikan manfaat bagi orang lain, walaupun manfaat yang diberikan tidak terlalu besar. Itulah alasannya saya tidak lagi menghapus blog-blog yang tidak lagi saya urus. Sebelumnya saya pernah menghapus beberapa blog dan di dalam blog-blog tersebut ternyata ada beberapa tulisan yang berguna. Saya pun menyesali keputusan saya menghapus blog-blog tersebut.

Moving on ...

Hari ini, 2 Januari 2012, blog yang masih saya pelihara hanya 3 (tiga): blog ini (Another Story), Bagaimana Cara, dan Teknokrasi. Another Story dan Bagaimana Cara adalah dua blog yang sudah lama saya miliki. Kedua blog tersebut lahir pada tahun 2008 berselang beberapa bulan. Another Story hadir sebagai tempat saya menuangkan tulisan-tulisan yang terkait dengan kehidupan pribadi saya, sementara Bagaimana Cara hadir sebagai tempat saya menuangkan berbagai jenis tips, trik, atau tutorial yang saya buat sendiri. Saya sengaja menegaskan bagian "yang saya buat sendiri" karena saya tidak ingin Bagaimana Cara berkembang menjadi blog hasil copy-paste.

Teknokrasi sendiri adalah blog yang baru lahir. Blog ini saya buat pada bulan Februari 2011 sebagai tempat untuk menuangkan opini saya seputar teknologi informasi dan birokrasi. Sesuai dengan pekerjaan saya sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang berkutat di bidang teknologi informasi, saya rasa Teknokrasi akan menjadi tempat yang tepat untuk menuangkan pengalaman saya yang terkait dengan pekerjaan. Dengan topik "pekerjaan" teralihkan ke Teknokrasi, tulisan-tulisan di Another Story pun semakin personal.

Saya memang suka mengelompokan. Saya paling tidak tahan dengan sesuatu yang campur aduk, kecuali gado-gado, salad, ketoprak, rujak, atau sejenisnya. Inilah alasannya kenapa saya memiliki banyak blog. Saya bermaksud mengarahkan Another Story menjadi blog yang berisi tulisan-tulisan tentang membina keluarga. Jadi, saya sengaja menambah 1 (blog) lagi, yaitu Teknokrasi, untuk memisahkan antara tulisan-tulisan tentang keluarga dengan tulisan-tulisan seputar minat dan profesi saya di bidang teknologi informasi.

Terlalu serius dan rumit? Itulah saya. Ada hal-hal yang di mata orang lain sepele, tapi bagi saya hal tersebut justru saya urus sepenuh hati. Salah satunya adalah blogging. Blog adalah salah satu ruang bagi saya untuk mengimplementasikan salah satu tujuan hidup saya, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain semaksimal mungkin. Pada awalnya idealisme ini saya tuangkan lewat Bagaimana Cara. Tidak lama kemudian idealisme ini saya tularkan ke Another Story. Teknokrasi pun sama. Blog ini lahir dengan membawa idealisme ini.

Bagaimana Cara merupakan wujud nyata implementasi idealisme tersebut. Blog yang sampai saat ini baru berisi 50 post berhasil menembus angka 100.000 page views. Bagi orang lain, angka 100.000 itu mungkin biasa saja. Bagi saya, angka 100.000 itu adalah pencapaian yang luar biasa. Saya, yang sering menghapus blog saya sendiri ini, tidak pernah menyangka page views di Bagaimana Cara akan mencapai 6 digit di tahun 2011. Dua post dengan page views terbanyak adalah Membuat Kartu Tanda Pencari Kerja (Kartu Kuning) dan Urus STNK Hilang.

Another Story sendiri memang tidak selaris Bagaimana Cara, tapi dari sisi interaksi (komentar yang diberikan pembaca) tidak tertinggal terlalu jauh dari Bagaimana Cara. Kelihatannya banyak pembaca lebih senang membicarakan hal-hal yang personal (di Another Story) dibandingkan dengan hal-hal yang formal (di Bagaimana Cara). Semoga saja Another Story dan Bagaimana Cara akan terus berkembang. Perihal Teknokrasi, kita tunggu saja tanggal mainnya.

Yang perlu saya pikirkan sekarang adalah bagaimana cara meluangkan waktu untuk blogging. Prioritas saya tentu saja ada pada keluarga dan pekerjaan. Sampai saat ini saya masih mampu mencuri waktu istirahat di kantor dan di rumah untuk menulis, tapi tetap saja aktivitas blogging saya jauh dari konsisten. 15 post yang saya buat untuk Bagaimana Cara di tahun 2011 tidak tersebar merata di setiap bulan, padahal saya bermaksud untuk mempublikasikan minimal 1 setiap bulan. Saya sepertinya kesulitan membagi waktu untuk 3 (tiga) blog. Hal ini terlihat jelas dari timpangnya jumlah post di masing-masing blog: 53 untuk Another Story, 15 untuk Bagaimana Cara, dan 13 untuk Teknokrasi.

Ketimpangan ini kadang menjadi dilema. Keinginan saya untuk memisahkan blog sesuai tema terbentur dengan keinginan saya untuk menghasilkan tulisan dengan konsisten. Akhirnya saya memenangkan keinginan untuk memisahkan blog itu dengan harapan dapat membagi waktu blogging saya dengan lebih baik lagi. Tetap saja yang saya utamakan adalah tercapainya tujuan saya dengan menulis di blog, yaitu menjadi seorang blogger yang memberikan manfaat lewat tulisan karyanya sendiri.

Saya pribadi tidak ingin menjadi blogger yang terobsesi dengan statistik. Memang benar statistik seperti yang saya paparkan di atas menjadi ego-booster tersendiri bagi saya, tapi saya tidak ingin gelap mata dan dikendalikan oleh keinginan untuk membuat blog yang populer. Justru yang benar-benar memberikan rasa puas bagi diri saya adalah komentar-komentar yang, baik secara eksplisit maupun implisit, menyatakan bahwa tulisan saya memang benar-benar memberikan manfaat.

Semoga di tahun 2012 ini saya masih bisa mempertahankan blog-blog saya beserta idealisme di balik mereka. Semoga Another Story, Bagaimana Cara, dan Teknokrasi semakin kaya dengan tulisan-tulisan yang informatif, edukatif, stimulatif, dan "-if -if" positif lainnya. Semoga saya dapat terus bertahan menjadi seorang blogger yang memberikan manfaat lewat tulisannya. Aamiin.