Minggu, 16 Januari 2022

Tanpa Gim, Tanpa Proyek (2)

0 opini
Game Over oleh Freepik

Sambungan dari Tanpa Gim, Tanpa Proyek (1)

Pilihan untuk berhenti mengerjakan proyek pribadi tidak langsung diterima oleh anak-anak saya. Mereka masih mencoba mengikuti kemauan saya agar mereka terus mengerjakan proyek yang sudah disepakati sebelumnya. Hal-hal seperti membangun keterampilan, memperluas wawasan, atau mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dijadikan alasan untuk terus mengerjakan proyek. Tapi, apa yang terucap sudah tidak lagi terlihat. Cara mereka mengerjakan proyek pribadi mereka sudah jelas menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersemangat. Sangat jelas terlihat bahwa mereka melakukan itu hanya demi main gim setiap hari. Kesimpulannya, proyek pribadi tetap berhenti.

Seminggu setelah kesepakatan itu kami buat, saya tanyakan kembali kesan mereka setelah 1 minggu tidak mengerjakan proyek. Untungnya kami sudah terbiasa melakukan pertemuan keluarga setiap pekan. Jadi, waktu untuk melakukan evaluasi terhadap kesepakatan di dalam keluarga selalu tersedia. Di pertemuan keluarga itu, salah satu anak saya menyatakan bahwa tidak mengerjakan proyek itu "biasa saja." Saudaranya justru berkata, "enak." Walaupun mereka terlihat sungkan mengutarakan itu, tapi itu adalah ungkapan yang jujur. Saya terima jawaban mereka apa adanya.

Akhirnya kami sepakat untuk meniadakan proyek pribadi sampai waktu yang tidak ditentukan. Berhubung proyek pribadi sepaket dengan waktu main gim di hari kerja, tidak ada proyek berarti tidak ada waktu main gim di hari kerja. Akan tetapi, kesempatan untuk main gim di hari kerja itu masih saya buka. Syaratnya hanya 1, yaitu mereka harus meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang ekstra. Argumen saya sederhana. Main gim di hari kerja itu, kan, ekstra dan untuk mendapatkan sesuatu yang ekstra, kita juga perlu upaya ekstra.

Secara tidak langsung, saya masih berharap mereka mengerjakan sesuatu di luar urusan akademis dan rutinitas sehari-hari mereka. Secara tidak langsung, saya masih berharap mereka mengerjakan proyek pribadi. Bedanya, kali ini saya memberikan kebebasan mutlak kepada mereka untuk memilih apa yang mau mereka kerjakan dan kapan mereka mengerjakannya. Hak dan kewajibannya sama, tapi tidak terlalu mengikat seperti sebelumnya.

Seminggu setelah kesepakatan itu dibuat, lagi-lagi di dalam pertemuan keluarga, saya evaluasi kembali "kebebasan" yang mereka dapatkan. Berhubung saya sesekali work from home (WFH), saya melihat sendiri bahwa mereka merasa lebih nyaman tanpa proyek. Walaupun tidak lagi bisa main gim setiap hari, hidup mereka tetap terlihat lebih santai. Saya sempatkan diri untuk menanyakan soal "upaya ekstra" mereka selama seminggu terakhir untuk melihat apakah ada yang akan main gim setiap hari di minggu berikutnya. Tidak ada satu pun yang melakukannya. Tapi, tidak ada satu pun yang terlihat menyesal, walaupun itu berarti hanya main gim di akhir pekan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, kondisinya masih sama. Mereka hidup tanpa gim, tanpa proyek. Durasinya belum terlalu lama karena kondisi ini dimulai sejak awal Januari. Jadi, perubahannya baru berjalan selama 2 minggu. Mungkin minggu depan mereka berubah pikiran, mungkin sampai akhir tahun kondisinya akan tetap sama. Siapa yang tahu, kan? Satu hal yang pasti, sebelum mereka menemukan proyek yang mereka senang lakukan tanpa paksaan, sepertinya kondisi tanpa gim (di hari kerja) dan tanpa proyek ini lebih baik bagi mereka. 

Minggu, 09 Januari 2022

Tanpa Gim, Tanpa Proyek (1)

0 opini

 

Gamer oleh Freepik

Kemudahan akses, pengaruh lingkungan, dan pengaruh iklan membuat gim tidak pernah lepas dari pikiran anak-anak. Kalau bisa main gim 24/7, anak-anak pasti akan melakukannya. Kalau waktu main gim itu dibatasi, anak-anak mungkin saja merasa terkekang atau bahkan tertekan. Oleh karena itu, waktu main gim adalah sesuatu yang perlu diatur dengan baik di dalam keluarga agar kepuasan bermain dapat diperoleh anak-anak tanpa main gim secara berlebihan.

Di dalam keluarga saya, waktu main gim anak-anak sudah mengalami beberapa kali perubahan. Awalnya anak-anak saya hanya main gim di gawai saya dan mainnya hanya di akhir pekan. Setelah ada cukup uang untuk membeli gawai baru, anak-anak memiliki gawai bersama untuk dipakai main gim bergantian, tapi waktu mainnya tetap hanya di akhir pekan. Setelah mereka cukup besar untuk memiliki gawai sendiri, mereka bebas mengatur gim di gawai masing-masing, tapi waktu main gim mereka tetap hanya di akhir pekan.

Sayangnya anak-anak saya terlalu cerdas untuk menahan diri main gim hanya di akhir pekan. Mereka sering menemukan cara curang untuk bisa main gim di luar waktu yang ditentukan, yaitu di hari kerja. Saat kecurangan-kecurangan itu bermunculan, saya mencoba mengatasinya dengan menegur dan menutup semua celah yang terbongkar. Akan tetapi, cara seperti itu melelahkan. Siapa yang tidak lelah kucing-kucingan dengan anak sendiri? Mau kita sikapi dengan keras, kasihan. Mau kita biarkan, semakin liar. Betul, kan?

Akhirnya saya dan istri saya sepakat memberikan sedikit waktu bermain di hari kerja, yaitu dari pukul 16.00 s.d. pukul 17.30. Kami tawarkan pilihan itu kepada anak-anak kami dengan syarat mereka mau melakukan upaya ekstra, yaitu dengan mengerjakan proyek pribadi. Bagi kami, itu adalah solusi menang-menang. Mereka menang karena bisa main gim di luar akhir pekan. Kami menang karena bisa membiasakan mereka melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dalam hidup mereka. Untungnya mereka setuju.

Waktu main gim tambahan itu berlaku untuk semua anak-anak saya, tapi proyek pribadi hanya dikerjakan oleh kedua anak remaja saya. Anak saya yang paling kecil tidak memiliki proyek pribadi. Waktunya sudah cukup banyak terpakai untuk mengerjakan bahasa di Duolingo dan Matematika di Khan Academy. Kedua anak remaja saya juga memiliki target harian menggunakan 2 aplikasi itu, tapi kecepatan mereka menyelesaikan target harian dan mengatur waktu jauh lebih baik daripada adik mereka. Jadi, tambahan urusan berupa proyek pribadi itu hanya berlaku untuk kedua anak remaja saya.

Saya juga jelaskan kepada kedua anak saya bahwa adanya proyek itu punya beberapa manfaat. Pertama, proyek pribadi membantu kita membangun keterampilan atau memperluas wawasan di luar rutinitas sehari-hari kita. Kedua, membuat diri kita menjadi lebih bermanfaat dengan menghasilkan sesuatu yang positif dalam hidup kita. Ketiga, yang paling pragmatis, membantu mengisi waktu luang agar waktu itu tidak berbalik menjerumuskan ke dalam hal-hal yang merusak hidup kita. Namanya juga remaja, kan?

Berhubung mereka tidak bisa memutuskan proyek sendiri, saya menyarankan 2 alternatif: membuat gim atau mengulas buku. Mereka sudah menulis beberapa ulasan yang dipublikasikan di blog pribadi mereka, tapi untuk pembuatan gim, mandek. Mereka berhasil membuat dengan meniru dan mengubah gim yang dibagikan oleh orang lain, tapi mereka terus saja kesulitan untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru. Saya tidak bisa cerita terlalu banyak di sini. Satu hal yang pasti, belum ada gim buatan mereka yang mau mereka publikasikan.

Kesepakatan untuk bermain gim di hari kerja dan mengerjakan proyek pribadi itu berjalan lancar, tapi lama-lama rasa jenuh itu muncul dan terus menguat. Walaupun mereka sungkan mengakuinya, saya bisa pastikan motivasi mereka untuk mengerjakan proyek pribadi itu mulai sirna. Puncaknya ada di akhir tahun 2021, yaitu di masa liburan sekolah. Pada saat itu, saya akhirnya menawarkan pilihan bagi anak-anak saya untuk berhenti mengerjakan proyek.

Bersambung ...