Minggu, 31 Januari 2016

Satu Lompatan Besar Menjauhi Riba

19 opini
Ilustrasi Rumah*
Segala puji bagi Allah SWT. Setelah hampir 4 tahun berurusan dengan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berbasis bunga, akhirnya saya dan istri saya berhasil migrasi ke pembiayaan berbasis syariah. Kami berhasil mengambil lompatan besar tersebut dengan melakukan take over KPR kami dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) ke Bank Syariah Mandiri (BSM). Apresiasi saya berikan khususnya kepada istri saya yang mengingatkan saya untuk melakukan take over itu saat kami memiliki cukup uang untuk menutup biaya dan denda yang akan muncul.

Sebenarnya kami sudah pernah mencoba untuk melakukan take over. Saat itu, bank tujuan take over yang kami pilih juga bank syariah. Motifnya pun sama, yaitu untuk menjauhkan diri dan keluarga dari praktek riba. Sayangnya saat itu modal kami tidak cukup untuk membiayai proses take over. Akhirnya kami memutuskan untuk menundanya sampai kami memiliki modal yang cukup.

Waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Setelah kami memiliki dana siap pakai sebesar Rp. 30.000.000, kami pun memberanikan diri untuk kembali mengurus take over KPR. Kami hanya memilih 2 bank syariah sebagai perbandingan, yaitu Bank Muamalat dan BSM. Kantor cabang yang melayani KPR pada masing-masing bank cukup kooperatif. Besarnya angsuran per bulan yang ditawarkan kedua bank tersebut pun bersaing. Akan tetapi, pilihan kami jatuh pada BSM karena bank tersebut menawarkan skema pembayaran step-up.

Apa itu skema pembayaran step-up? Skema pembayaran tersebut membagi pembayaran angsuran menjadi beberapa rentang waktu dengan besar angsuran tertentu yang meningkat secara bertahap. Dengan plafon Rp. 282.200.000 dan jangka waktu 10 tahun, skema step up yang ditawarkan BSM adalah angsuran sekitar Rp. 3.500.000 untuk tahun 1-2, angsuran sekitar Rp. 3.900.000 untuk tahun 3-5, dan angsuran sekitar Rp. 4.300.000 untuk tahun 6-10. Bila skema tersebut saya bandingkan dengan kondisi terakhir di BRI, yaitu angsuran sekitar Rp. 3.900.000 dengan sisa waktu pembayaran 11 tahun, proses take over ini jelas memiliki nilai tambah ekonomi tertentu.

Bagaimana dengan biaya dan denda saat take over? Tentu saja ada. Biaya take over dibayarkan ke BSM, yang terdiri dari biaya administrasi (atau seringkali disebut biaya appraisal), biaya legal (akad, cek sertifikat, dll.), biaya asuransi (jiwa dan kebakaran), dan cadangan blokir 1x angsuran (dengan nominal paling besar). Total biaya yang perlu saya bayarkan tidak lebih dari Rp. 15.000.000. Denda take over (setahu saya umumnya disebut denda percepatan pelunasan) yang perlu saya bayar adalah 1% dari sisa pokok utang + bunga berjalan (jumlahnya sedikit lebih tinggi dari plafon pembiayaan BSM). Saat pelunasan itu dilakukan, denda yang saya bayar tidak lebih dari Rp. 3.000.000. Bila saya perhitungkan biaya-biaya lain, totalnya tidak lebih dari Rp. 18.500.000; tidak sampai 70% dari dana yang kami siapkan.

Pasca proses take over, saya hanya perlu menunggu proses refund asuransi jiwa yang terikat dengan KPR di BRI karena proses refund tersebut diurus oleh BRI. Asuransi kebakaran pun bisa saja diurus refund-nya, tapi saya harus mengurusnya sendiri dan sepertinya nominal yang didapat tidak sebanding dengan waktu, tenaga, dan biaya yang perlu saya keluarkan. Selain urusan refund, tidak ada lagi urusan lain pasca proses take over. Done!

Secara umum, proses take over KPR dari BRI ke BSM berjalan tanpa kendala yang berarti. Prosesnya jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Semua pihak, termasuk pihak BRI, bersifat kooperatif, dokumen-dokumen tidak ada yang bermasalah, dan total uang yang harus saya keluarkan pun tidak terlalu bombastis. Hasilnya? Cicilan KPR untuk 10 tahun ke depan pun dapat diprediksi dengan jelas. Hal yang lebih penting lagi adalah saya dan istri saya berhasil membawa keluarga kami semakin jauh dari riba. Hidup ini pun terasa lebih tentram karena kami tahu bahwa kami telah mengambil keputusan yang (kemungkinan besar) diridhai Allah SWT. Alhamdulillah.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Jumat, 29 Januari 2016

Kenapa Anak Berbohong? - 2

0 opini
Kaligrafi Amaanah*
Tidak terasa sudah hampir 5 bulan saya mengabaikan blog ini. Apa daya mata tetap 2, jari tetap 10, sementara waktu untuk menulis semakin terbatas. Mungkin saya sendiri yang tidak lagi pintar meluangkan waktu untuk menulis di blog. Satu hal yang pasti, saya bertekad untuk menjaga agar blog ini tetap hidup walaupun jumlah publikasinya menurun drastis atau senantiasa fluktuatif.

Here goes....

Melanjutkan tulisan sebelumnya, Kenapa Anak Berbohong? - 1, saya ingin berbagi lebih banyak tentang alasan-alasan seorang anak berbohong, khususnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Dalam tulisan tersebut, saya mengemukakan 2 alasan umum seorang anak berbohong, yaitu karena tidak tahu atau karena tidak tahu keburukannya. Di antara alasan-alasan tersebut, alasan kedua menjadi alasan utama kenapa seorang anak berbohong. Pertanyaannya adalah kenapa seorang anak bisa tidak tahu bahwa berbohong itu buruk?

Pada kenyataannya, cepat atau lambat, seorang anak akan tahu bahwa berbohong itu buruk. Akan tetapi, akibat buruk dari kebohongan itu seringkali tertutup oleh manfaat yang dirasakan si Anak seperti selamat dari omelan atau hukuman saat berbuat salah, bebas dari tanggung jawab mengerjakan pekerjaan rumah, bebas dari tanggung jawab untuk menepati janji, tetap terlihat baik di mata orang-orang di sekitarnya, dll. Kalau kita bandingkan dengan akibat buruk berbohong seperti kehilangan kepercayaan, menambah dosa, atau hal-hal normatif lainnya, manfaat dari berbohong jelas terlihat lebih signifikan daripada akibat buruknya. Dalam kondisi tersebut, wajar bila seorang anak berbohong karena, seperti halnya manusia pada umumnya, dia akan mengorbankan akibat buruk yang kecil demi mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar.

Kesalahan persepsi tersebut akan semakin kuat terbentuk dalam diri si Anak apabila orang tuanya pun "rajin" berbohong, terutama terhadap dirinya. Contohnya anak yang ditakut-takuti orang tuanya agar si Anak mau menurut menggunakan kata-kata dengan template seperti ini: "Kalau kamu [masukkan perbuatan yang tidak disukai orang tua di sini], kamu bakal [masukkan akibat buruk yang tidak disukai anak di sini] sama [masukkan makhluk yang ditakuti anak di sini]." Awalnya si Anak percaya, tapi waktu akan menunjukkan bahwa omongan orang tuanya adalah omong kosong belaka demi membuat si Anak menurut. Kehadiran baby sitter atau PRT yang mengurus anak sehari-hari sangat mungkin memperkuat kesalahan persepsi tersebut. Contoh lainnya adalah orang tua yang menjanjikan sesuatu untuk membujuk anaknya, tapi gagal menepati janjinya. "Kalau kamu [masukkan sesuatu yang diinginkan orang tua di sini], nanti malam kita [masukkan tempat atau kegiatan yang disukai anak di sini]" atau "Besok Ayah/Ibu belikan [masukkan barang/mainan kesukaan anak di sini] kalau kamu [masukkan sesuatu yang diinginkan orang tua di sini]" adalah beberapa template yang kerap digunakan oleh para orang tua. Awalnya si Anak percaya, tapi waktu akan menunjukkan bahwa harapan dari orang tuanya adalah harapan palsu belaka demi meraih keuntungan dari si Anak.

Pinokio dan Indikator Kebohongan*
Kehadiran kakek, nenek, om, tante, abang, kakak, atau anggota keluarga mana pun mungkin akan menambah pelik kondisi di atas. Kakek dan nenek tidak lagi memiliki kekuatan fisik untuk menjaga para cucu dari tindakan atau perbuatan berbahaya sehingga kakek dan nenek cenderung menakut-nakuti agar para cucu mau menurut. Om dan tante mungkin diandalkan untuk memberikan kebahagiaan tambahan ke dalam hidup para keponakan, tapi om dan tante belum tentu bisa terus-menerus memenuhi janji-janji mereka. Abang atau kakak tidak jarang menjadikan adik-adik sebagai bahan percobaan atau objek permainan dan bohong menjadi salah satu kunci utama keberhasilan percobaan atau permainan tersebut. Apalagi kalau kita memasukkan baby sitter, PRT, teman-teman di sekitar rumah, atau teman-teman di sekolah, ada semakin banyak faktor eksternal yang semakin memperkuat kesalahan persepsi bahwa bohong itu OK, bohong itu baik, bohong itu biasa, atau bahkan bohong itu perlu.

Anggapan bahwa berbohong itu memberikan manfaat yang lebih besar juga dikuatkan oleh pola hukuman yang diterapkan orang tua, yaitu saat hukuman akibat berbohong itu sama atau bahkan lebih ringan daripada hukuman saat ketahuan berbuat salah. Contohnya saat seorang anak memecahkan masalah, maksud saya, merusak barang milik orang tuanya. Orang tua si Anak kemudian marah dan menghukum si Anak, misalnya, dengan melarang si Anak main ke luar rumah selama 1 minggu. Saat masalah yang sama terjadi lagi, si Anak akan berusaha menyelamatkan diri dari hukuman dengan berbohong. Seandainya kebohongan si Anak itu gagal dan si Anak "hanya" dilarang main ke luar rumah selama 1 minggu, si Anak akan melihat sebuah peluang. Kalau mengaku salah (jujur) dan berbohong menyebabkan akibat buruk yang sama, kenapa tidak dicoba saja berbohong. Paling tidak dengan berbohong itu ada peluang lolos sehingga berhasil menghindari hukuman.

Bila kebiasaan bohong orang tua dan orang-orang di sekitar anak digabungkan dengan ringannya risiko berbohong, anak-anak akan semakin terbiasa untuk berbohong. Dalam kondisi ini, menanamkan kejujuran di dalam diri anak-anak akan menjadi pekerjaan yang super sulit. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk berhenti berbohong. Dalam konteks mendidik anak, bohong kecil itu tidak ada, apalagi bohong putih. Anak kita hanya akan melihat kita berbohong atau tidak, terlepas dari alasan kita berbohong. Penting pula bagi setiap orang tua untuk membedakan antara risiko berbuat kesalahan dan risiko berbohong. Orang tua perlu mengapresiasi kejujuran anak yang berbuat salah. Anak yang berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri seharusnya mendapatkan hukuman yang lebih keras dibandingkan anak yang mengaku berbuat salah. Orang tua harus menegaskan bahwa berbohong itu adalah sebuah kesalahan tersendiri. Bisa dibayangkan kalau seseorang berbuat salah dan berbohong? Kesalahannya berlipat ganda, bukan?

Kembali kepada alasan anak-anak berbohong. Anak-anak akan berbohong saat mereka menganggap bahwa berbohong itu memberikan manfaat lebih daripada bersikap jujur. Anggapan ini dikuatkan dengan kebiasaan berbohong para orang tua dan orang-orang di sekitar si Anak. Pola hukuman yang tidak adil, yaitu pola hukuman yang tidak mencerminkan bahwa bohong itu lebih buruk dari berbuat salah, juga akan menguatkan anggapan bahwa berbohong itu lebih baik daripada bersikap jujur. Bila para orang tua bisa menghilangkan kebiasaan berbohong dan menunjukkan akibat buruk yang tepat saat anak-anak berbohong, anak-anak akan menganggap bahwa bersikap jujur itu lebih baik daripada berbohong. Dalam kondisi ini, menanamkan kejujuran di dalam diri anak-anak akan menjadi lebih mudah.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search