Minggu, 30 Mei 2021

Pelajaran dari Soul dan Inside Out

0 opini

Piano (Gambar oleh surang)
Saya memang selalu suka film-film buatan Pixar. Animasinya memanjakan mata, alur ceritanya menarik, dan lelucon-leluconnya cukup menghibur. Mayoritas film animasi buatan Pixar sepertinya ditujukan untuk anak-anak, tapi saya perhatikan ada banyak "pelajaran" yang dapat diambil oleh para penonton di atas umur seperti saya. Bagi saya, pesan moral yang disampaikan lewat film-film Pixar sering membuka mata saya lebih lebar lagi dalam melihat dan memahami kehidupan.

Berat ya? Tidak juga. Cara saya menyampaikannya mungkin saja memberikan kesan bahwa pesan moral yang saya bicarakan adalah hal-hal yang berat, tapi kenyataannya film-film Pixar menyampaikannya secara ringan dan menghibur. Ada banyak hal yang bisa dibahas dari alur film-film Pixar, tapi dalam tulisan kali ini, saya ingin membahas 2 film saja, yaitu Soul dan Inside Out.

Sebelum saya lanjutkan, saya perlu ingatkan bahwa tulisan selanjutnya akan berisi spoiler untuk kedua film tersebut. Saya memang tidak akan membahas alurnya karena saya ingin fokus pada pesan moralnya. Walaupun begitu, risikonya cukup tinggi bahwa alurnya akan terkuak saat saya membahas pesan moralnya. Jadi, kalau Anda tidak ingin mengambil risiko itu, silakan berhenti di sini.

Kembali ke pesan moral. Pertama, Soul. Soul menyampaikan pesan penting tentang cara menikmati hidup. Di satu sisi, ada karakter yang tidak siap untuk hidup karena tidak memiliki tujuan hidup. Di sisi lain, ada karakter yang tidak siap mati karena tujuan hidupnya belum tercapai. Ternyata kedua karakter itu memiliki kesamaan, yaitu mereka sama-sama tidak (belum) mampu melihat hidup kita apa adanya.

Kita seringkali terobsesi dengan tujuan sehingga kita merasa hidup tidak bisa dimulai tanpa tujuan. Kalau kita sudah terlanjur menjalani hidup, hidup kita akan terasa tidak berarti karena kita tidak pernah mencapai tujuan itu. Pada kenyataannya hidup adalah proses dan dalam prosesnya, hidup kita memiliki makna yang lebih asalkan perhatian kita tidak hanya tertuju pada sebuah tujuan. Hidup kita juga akan lebih bermakna kalau kita mau membangun hubungan dengan orang lain.

Kedua, Inside Out. Film ini punya memiliki pesan yang kuat tentang cara kita menyikapi kehidupan, khususnya tentang sikap positif. Sikap positif dianggap sebagai hal yang krusial dalam menjalani hidup. Sikap positif dianggap benar-benar penting sampai ke tingkat yang menganggap sikap negatif sebagai sesuatu yang buruk. Menempatkan sikap positif dalam posisi yang sangat tinggi seperti itu justru berisiko merusak. Hal itu yang umumnya kita kenal dengan istilah toxic positivity.

Pada kenyataannya, menjalani hidup tidak cukup dengan modal kebahagiaan. Setiap manusia butuh merasa sedih. Setiap manusia perlu menyalurkan kesedihan. Dengan penyaluran yang tepat, kesedihan akan berangsur pudar seiring dengan datangnya rasa tenang. Pada akhirnya, kebahagiaan akan kembali mengisi hati, tapi bukan karena dipaksakan untuk bahagia seperti halnya toxic positivity. Kebahagiaan yang datang setelah redanya kesedihan biasanya akan lebih kuat dan langgeng.

Bayangkan kalau kedua pesan di atas dapat kita resapi dan terapkan dalam hidup kita. Saya yakin kita akan lebih mampu menerima kenyataan dan lebih mampu menikmati setiap langkah yang kita ambil dalam hidup kita. Kalaupun ada hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menerima kesedihan yang muncul, mencoba mengutarakannya, lalu menemukan kembali hal-hal positif dalam hidup kita. Bayangkan betapa bahagianya hidup kita kalau kita bisa melakukan semua itu. Bayangkan juga betapa bahagianya hidup anak-anak kita kalau kita mampu menularkan semua pelajaran penting itu ke dalam diri mereka agar hidup mereka juga dapat diisi dengan berbagai kebahagiaan.

Seru, bukan? Yuk!

Senin, 10 Mei 2021

5 Tahun, 1 Buku

0 opini
ASN Juga Bisa Agile
Beberapa hari yang lalu, saya membeli sebuah buku berjudul "Happiness is a Choice You Make". Tebalnya cukup signifikan, yaitu sekitar 210 halaman. Isinya juga cukup signifikan, yaitu perspektif tentang kebahagiaan dari orang-orang yang sudah berusia lanjut. Hal yang menarik adalah buku itu ditulis sejak tahun 2015 dan dipublikasikan pada tahun 2018. Penulisnya, John Leland, membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk menyelesaikan buku itu.

Ternyata menulis buku dalam waktu yang lama itu bukanlah hal yang unik. Kalau penulis kelas kakap seperti John Leland saja butuh waktu 3 tahun untuk menulis tentang happiness, wajar saja kalau saya butuh waktu 5 tahun untuk menulis ASN Juga Bisa Agile. Saya memang tidak mewawancarai dan mengikuti hidup beberapa orang narasumber seperti yang dilakukan John, tapi saya tetap berusaha untuk menulis buku yang sarat dengan hal-hal praktis, bukan hanya teori. Itu alasannya kenapa saya butuh waktu 5 tahun untuk menulis buku saya itu.

Akan tetapi, bukan itu alasan utama saya membuat post ini. Di post ini, saya ingin menegaskan bahwa waktu bukanlah faktor kunci dalam keberhasilan membuat buku. Selama 5 tahun itu, saya tidak banyak menulis. Waktu saya lebih banyak saya luangkan untuk mempelajari, mengamati, dan menjalani sendiri apa itu Agile dan bagaimana caranya menjadi Agile. Saya lakukan itu sambil menjalankan peran saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Itu yang menjadi alasan kenapa saya butuh waktu begitu lama untuk menerbitkan buku tentang ASN dan Agile.

Saya teringat pernyataan seorang rekan ASN yang mengatakan bahwa tidak semua bisa menulis buku seperti saya, apalagi bagi para ASN yang harus memikirkan code dari pagi sampai malam (baca: ASN programmer). Menurut rekan saya itu, menulis buku membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan modal berupa waktu itu yang tidak dimiliki para programmer. Saat ini, walaupun saya berlatar belakang pendidikan di bidang TI dan bekerja di unit TI, porsi kerja saya memang lebih banyak berkutat di analisis dan perancangan, bukan ngoding. Saat itu, saya mengiyakan saja pernyataan rekan saya itu karena saya sendiri menyadari bahwa menulis itu butuh waktu. Belakangan ini saya sadar bahwa "iya" yang saya sampaikan itu terus mengganjal karena saya sendiri sadar keberhasilan saya menulis buku tidak bergantung pada faktor waktu.

Coba kita hitung bersama. Tebal buku ASN Juga Bisa Agile hanya xiv + 134 halaman. Jumlah halaman yang benar-benar "berisi" hanya sekitar 120 halaman. Dari durasi 5 tahun itu, saya baru benar-benar menulis di akhir tahun 2016. Jadi, berhubung ASN Juga Bisa Agile terbit di akhir tahun 2020, kita anggap saja saya "hanya" butuh waktu 4 tahun untuk menulis buku itu. Jadi, 120 halaman dibagi 4 tahun sama dengan 30 halaman per tahun atau kira-kira 3 halaman per bulan. Apakah menulis 3 halaman A5 per bulan itu sulit? Sepertinya mudah, bukan? Sepertinya tidak sulit bagi seseorang untuk meluangkan waktu menulis 3 halaman A5 setiap bulan.

Apa mungkin maksud rekan saya itu adalah waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi yang cukup untuk dituangkan ke dalam 3 halaman A5? Waktu untuk mempelajari, mengamati, dan mengalami seperti yang saya sebutkan di atas? Waktu untuk semua itu yang sulit diluangkan setiap bulan? Jadi, walaupun menulis 3 halaman A5 setiap bulan itu mudah, tetap saja sulit meluangkan waktu untuk mendapatkan ide dan bahan tulisan. Benarkah seperti itu kondisinya? Belum tentu.

Kuncinya ...

Saya sepakat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menulis juga perlu memperhitungkan waktu untuk mengumpulkan informasi, tapi saya tetap yakin bahwa waktu bukanlah faktor kunci. Apalagi kalau tidak ada deadline, kita punya waktu sebanyak yang kita mau. Hal itu yang saya rasakan. Saya hanya ingin menulis tentang ASN dan Agile tanpa ada tekanan apa pun. Saya bahkan baru mulai mencari penerbit setelah saya benar-benar merasa puas dengan apa yang saya tulis. Semuanya "dibawa santai".

Hal yang membuat saya bertahan untuk tidak berhenti menulis selama bertahun-tahun itu hanyalah niat. Saya sudah tegaskan bahwa saya tidak memiliki tekanan apa pun. Modal saya hanya niat. Saya memiliki niat yang cukup kuat untuk terus menulis tanpa terlalu peduli berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menghasilkan sebuah buku. Saya memiliki niat yang kuat untuk mengorbankan waktu ekstra yang saya miliki untuk menulis (dan mengumpulkan informasi). Pada akhirnya, saya berhasil menulis buku bukan karena saya punya waktu untuk menulis, tapi karena saya mau meluangkan waktu untuk menulis.

Jadi, waktu bukanlah isu utama. Determinasi dan kegigihan yang menjadi faktor utama keberhasilan saya menulis buku. Seandainya saya bekerja sebagai programmer, bukan tidak mungkin saya akan tetap menulis buku, tapi waktu yang saya butuhkan mungkin akan lebih panjang. Seandainya pekerjaan saya berbeda juga tetap ada kemungkinan saya akan menulis buku, baik dengan waktu yang lebih panjang atau lebih pendek. Ada juga kemungkinan bahwa apa pun profesi saya, saya tidak akan pernah menulis buku hingga akhir hayat, tapi saya yakin, seandainya saya tidak menulis buku, waktu tetap saja bukanlah isu utama.

Senin, 03 Mei 2021

Menjadi Mantan Toxic Parent

1 opini

Mungkin ini baru pertama kalinya Anda mendengar istilah toxic parenting. Silakan googling untuk mencari tahu apa itu toxic parenting. Satu hal yang pasti, pola pengasuhan anak yang berdampak buruk itu bukanlah hal yang baru. Tingkatannya pun bervariasi mulai dari sekadar tekanan untuk berprestasi sampai kekerasan fisik demi membentuk kedisiplinan. Kenapa saya berani meyakinkan Anda bahwa toxic parenting ini bukanlah hal yang baru? Karena saya yakin Anda sudah melihat contoh dampak buruknya dalam diri orang-orang di sekitar Anda, bahkan dalam diri orang-orang yang saat ini sudah menjadi orang tua. Ya, kan?

"Apa Ada yang Namanya Toxic Parent?" (Sumber: Narasi Newsroom)

Video yang terpasang di atas merupakan salah satu contoh pembahasan singkat mengenai toxic parent yaitu para orang tua pelaku toxic parenting.  Isinya cukup bagus untuk mulai mengenal toxic parenting. Apa itu toxic parenting, apa dampak buruknya, dan bagaimana cara mengatasinya. Pertanyaan-pertanyaan dasar itu terjawab di dalam video itu, tapi saya akui pembahasannya masih menyentuh bagian permukaan. Untuk memahami toxic parenting dan solusi yang layak tentu saja tidak semudah itu, Ferguso.

Intinya toxic parent itu ada. "Buah karya"-nya pun ada. Sebagian bahkan sudah menjadi orang tua dengan kecenderungan toxic yang sama terhadap anak-anak mereka. Bayangkan bila kecenderungan itu terwujud, akhirnya anak-anak dari para toxic parent itu juga tumbuh menjadi toxic parent, kemudian mereka mendidik dan membesarkan anak-anak dengan model toxic serupa. Hal serupa terjadi secara berulang dari generasi ke generasi. Akhirnya apa yang terjadi? Pola toxic parenting menjadi warisan yang bertahan entah sampai berapa turunan.

Saya sadar tidak semua toxic parent berniat buruk. Sebagian dari mereka tulus ingin yang terbaik bagi anaknya. Mereka mendidik dan membesarkan anaknya untuk menjadi individu yang disiplin, mandiri, berprestasi, atau hal-hal positif lainnya demi kebahagiaan anaknya di masa depan. Mereka juga melakukannya agar anaknya bisa bangga terhadap dirinya sendiri. 

Masalahnya adalah para toxic parent yang bertujuan mulia itu lupa kalau anak mereka adalah individu tersendiri. Anak mereka bukanlah perpanjangan dari mereka. Anak mereka punya minat, keinginan, karakteristik, dan hal lainnya yang tidak sama dengan apa yang ada di benak dan harapan para toxic parent itu. Mereka lupa bahwa mendidik dan membesarkan anak seharusnya mengembangkan diri si Anak, bukan membuat anak menjadi persis seperti apa yang diinginkan mereka. Apakah kita termasuk para toxic parent berhati mulia itu?

Kalau kita berada dalam kondisi seperti itu, solusinya sederhana seperti yang tersurat dalam video di atas. Kita harus belajar mendengarkan isi hati dan pikiran anak kita. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan anak kita tidak semata-mata ditentukan oleh diri kita, tapi juga oleh anak kita. Dengarkan, bicarakan, lalu arahkan. Itulah 3 hal sederhana yang perlu kita lakukan terhadap anak kita masing-masing.

Saya sadar untuk benar-benar mendengarkan itu sulit. Been there, done that. Apalagi kalau kita sudah terbiasa didengarkan, sulitnya mungkin akan setengah mati. Kita harus terbiasa menahan diri dan membiarkan anak bicara sepenuh hati tanpa kita interupsi. Kita harus terbiasa menahan diri untuk tidak terlalu mengatur keinginan anak kita. Kita harus terbiasa menahan diri dan membiarkan anak kita memilih jalan ninja mereka sendiri. Namun, semua kesulitan itu sepadan.

Kita perlu melakukannya demi kebahagiaan, yaitu kebahagiaan kita bersama anak kita yang kita definisikan bersama-sama dengan anak kita. Bukankah kita terjebak dalam toxic parenting juga karena kita ingin membuat mereka bahagia? Kalau iya, mari ambil jalan yang lebih "sehat" agar kebahagiaan yang kita wujudkan bersama anak kita bukan sekadar kebahagiaan semu yang dihiasi dengan berbagai trauma kehidupan.

Yuk, bisa, yuk!