Selasa, 13 November 2018

Bulan Keenam Bersama #AgileParenting

0 opini
Rekap sedikit ya.

Saya sudah menyandang status ayah sejak Juli 2008; lebih dari 10 tahun yang lalu. Minat saya untuk menjadi ayah yang baik langsung muncul sejak kelahiran kedua anak laki-laki saya. Saat itu peluangnya memang ada. Saya sedang tidak memiliki pekerjaan tetap. Jadi, saya pun bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak saya.

Sayangnya perjalanan panjang saya menjadi ayah memang tidak terarah. Saya memang cukup sering menulis tentang suka-duka dan pengalaman saya menjadi ayah, tapi semuanya serba reaktif. Saya tidak meluangkan waktu yang khusus untuk mempelajari seluk-beluk per-ayah-an. Mungkin bisa dikatakan saya hanya menjalani hidup saya sebagai seorang ayah dan mencoba mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut. Perkembangan saya tentu saja sangat terbatas karena saya tidak mencari ilmu dari sumber lain.

Sebenarnya di awal perjalanan itu, saya masih meluangkan waktu untuk membaca buku tentang parenting. Satu buku yang berkesan bagi saya adalah Raising Boys karya Steve Biddulph (versi Bahasa Indonesia):
  • yang merupakan hadiah pernikahan;
  • yang diberikan oleh salah satu teman saya;
  • yang saya tidak ingat lagi teman yang mana;
  • yang sedang saya baca ulang saat ini.
Walaupun kedua anak laki-laki saya sudah menginjak usia 10 tahun, buku tersebut masih relevan.

Lompat ke akhir tahun lalu.

Desember tahun lalu usia saya resmi mencapai 35 tahun. Saya jadikan momen itu sebagai momentum untuk berbenah diri. Pada saat itu saya memutuskan untuk melakukan perbaikan yang signifikan dalam hidup saya. Pada saat itu saya menyadari betapa jauhnya arus rutinitas telah membawa saya melenceng jauh dari harapan saya. Pada saat itu saya memilih untuk mengoreksi ambisi saya dan mengambil kendali arah hidup saya, termasuk dalam hal parenting.

Sejak saat itu saya mencoba meluangkan waktu untuk menggali banyak ilmu tentang parenting, baik dari artikel, buku, maupun video. Saya pun meluangkan waktu untuk memikirkan kembali mengenai posisi saya sebagai ayah, khususnya bagaimana caranya agar peran saya sebagai ayah tidak berbenturan dengan peran istri saya sebagai ibu. Wawasan saya pun terbuka dan terus terbuka seiring munculnya momen-momen aha! yang saya temukan.

Lompat lagi ke pertengahan tahun ini.

Salah satu momen aha! yang saya temukan dalam hal parenting adalah Agile Parenting. Agile Parenting bukan sesuatu yang spesial. Saya justru menemukannya saat saya menjelajahi dunia per-ayah-an, khususnya di bagian yang menggunakan bahasa Inggris. Bagi seorang praktisi Agile seperti saya, konsep ini tentu saja menarik.

Saya pun memutuskan untuk memperdalam Agile Parenting. Saya melihat bahwa pola pikir Agile yang sederhana dan tepat guna dapat diterapkan di dalam konteks parenting. Apa pun metode yang dipilih untuk mendidik anak-anak kita, pola pikir Agile dapat membantu para orang tua menemukan kebahagiaan yang mereka impikan bersama anak-anak mereka. Perjalanan saya dalam dunia Agile Parenting pun dimulai.

Lompat lagi ke saat ini.

Lalu apa yang terjadi setelah bulan keenam? Banyak, tapi saya belum bisa menguraikan semuanya. Satu hal yang pasti, komunikasi adalah kunci. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang sehat antara setiap anggota keluarga, yaitu saat setiap anggota keluarga dapat mengutarakan pendapatnya tanpa takut disalahkan dan memang didengarkan. Komunikasi semacam itu akan membantu kita untuk memahami perasaan anggota keluarga yang lain dan pada akhirnya membentuk ikatan yang lebih kuat.

Otoritas orang tua dalam keluarga tetap tidak hilang. Dengan komunikasi yang sehat, otoritas itu justru dapat digunakan tanpa tekanan yang berlebihan terhadap anak. Orang tua pun dapat mengambil keputusan atau melakukan tindakan dengan lebih adil tanpa harus kehilangan otoritasnya. Hierarki dalam keluarga tetap ada, tapi bukan untuk dibesar-besarkan.

Letupan amarah dalam keluarga dapat diminimalkan. Apapun masalahnya, komunikasi menjadi pilihan utama untuk mencari solusi. Komunikasi yang sehat dilakukan bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tapi sekadar mencari tahu siapa yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Fokusnya tetap mencari apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya, bahkan bagaimana mencegahnya agar tidak terjadi lagi di masa depan. Saat fokus setiap anggota keluarga adalah mencari solusi, alasan untuk marah perlahan memudar, bahkan menghilang.

PR-nya?

Masih banyak. Agile Parenting Manifesto sepertinya masih perlu disesuaikan. Manifesto itu pun sepertinya masih perlu dilengkapi dengan prinsip-prinsip yang sesuai agar penerapan manifesto tersebut lebih terarah. Metode atau teknik yang relevan pun baru sebagian saya temukan. Penerapannya pun belum rutin. Jadi, saya belum bisa banyak bercerita tentang metode atau teknik tersebut. Rasanya mumet memikirkan itu semua, tapi worth the effort. Bila ada hal lain yang menarik tentang Agile Parenting, saya akan bagikan di sini. Insyaa Allaah.

Stay tuned.