Senin, 26 Oktober 2009

Terlalu Jujur

2 opini
Bohong adalah salah satu ciri orang munafik. Bohong bukanlah bagian dari kepribadian seorang Muslim. Bohong dapat dilakukan dalam keadaan terpaksa, tapi bukan berarti bohong seperti ini dibenarkan. Bohong dalam keadaan terpaksa adalah perbuatan dosa yang diampuni (dimaafkan). Itu artinya bohong dalam keadaan apa pun tetap berdosa. Hanya saja dalam beberapa kondisi tertentu, dosa tersebut dapat (bukan pasti) diampuni.

Saat kita memandang kebohongan sebagai sesuatu yang dibenarkan, peluang kita akan memandang remeh kebohongan itu akan meningkat. Namun apabila kita menegaskan bahwa bohong dalam kondisi apa pun adalah perbuatan dosa, kita akan lebih berhati-hati dalam berbohong. Kita pun akan lebih berhati-hati dalam menentukan kondisi terpaksa yang mengharuskan kita berbohong.

Garis batas keterpaksaan ini sayangnya bersifat subjektif. Sulit sekali menemukan panduan yang objektif untuk menentukan apakah sebuah kebohongan itu dilakukan karena terpaksa atau sekedar cari selamat. Perbedaan garis batas keterpaksaan ini yang menjadi dasar adanya istilah "terlalu jujur".

Saya ambil contoh pengalaman pribadi saja. Saya pernah beberapa kali terlambat tiba di kantor. Absensi di kantor masih dilakukan secara manual. Setiap pegawai cukup mengisi buku absen sesuai keyakinan masing-masing; bukan sesuai kenyataan. Menyikapi keterlambatan saya, saya tetap saja mengisi absen sesuai jam kedatangan. Terlambat berapa menit pun, saya isi sesuai kenyataan walaupun saya sadar bahwa pada setiap keterlambatan ada potongan gaji 1,25%.

Suatu kali saya mendengar celetukan seorang rekan kerja. Dengan nada bercanda, rekan saya mengatakan bahwa saya terlalu jujur. Pada saat itu saya hanya tersenyum. Saya tidak terlalu ingat bagaimana saya meresponnya. Satu hal yang pasti, istilah "terlalu jujur" itu menyangkut dalam pikiran saya. Hal itu mungkin candaan, tapi bagi saya kejujuran adalah topik yang harus disikapi dengan serius; asalkan tidak terlalu serius.

Saya berpikir saat celetukan terlalu jujur itu terlontar, saya merasa bahwa kejujuran saya itu dianggap berlebihan atau tidak pada tempatnya. Hal ini jelas membuat saya bingung. Bagian mana dari kejujuran saya yang tidak pada tempatnya? Bagian mana dari kejujuran saya yang berlebihan?

Walaupun begitu, saya sadar bahwa perbedaan pemikiran ini terjadi karena adanya perbedaan garis batas keterpaksaan yang membolehkan kejujuran. Bagi diri saya, memanipulasi jam kedatangan saat terlambat masuk kantor bukanlah sebuah kebohongan yang dapat diampuni. Bagi orang lain mungkin berlaku sebaliknya.

Alasan saya untuk tidak pernah berbohong saat terlambat karena saya tidak pernah menemukan alasan keterpaksaan tersebut. Walaupun alasannya untuk menghindari rapor merah kehadiran atau mencegah terjadinya pemotongan gaji, tetap saja saya tidak merasa terpaksa. Apalagi bila hal ini dikaitkan dengan menghindari pemotongan gaji 1,25%. Itu artinya untuk setiap manipulasi jam kedatangan, saya berhasil menyelamatkan 1,25% potongan gaji. Hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa 1,25% tersebut merupakan hasil kebohongan. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Contoh yang saya berikan di atas memang contoh kecil. Namun saya rasa justru contoh kecil tersebut menjadi fundamental. Orang pada umumnya lebih peduli pada kebohongan-kebohongan yang besar. Akhirnya orang pun terbiasa melakukan kebohongan-kebohongan yang kecil. Padahal dosa pada hakikatnya adalah dosa. Menghitung besar atau kecilnya dosa sama saja dengan mempertaruhkan nasib kita di akhirat kelak.

Referensi:

Rabu, 21 Oktober 2009

6 Langkah Menuju Bank Indonesia

221 opini
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai pengalaman saya mengikuti seleksi penerimaan pegawai Bank Indonesia (BI). Yang saya ingat, seleksi tersebut melibatkan 6 (enam) tahap seleksi mulai dari seleksi administrasi hingga wawancara. Beberapa hal yang bisa saya ceritakan mengenai masing-masing tahap seleksi tersebut akan saya paparkan di bawah.

Perlu saya ingatkan bahwa apa yang saya paparkan di sini mengacu pada pengalaman saya saat mengikuti seleksi penerimaan pegawai BI pada tahun 2007.

Seleksi Administrasi
Pertama, Seleksi Administrasi. Tahap seleksi ini dilakukan setelah para pelamar melakukan registrasi yang bersifat online. Kriteria kelulusan tentunya mengacu pada kriteria kelulusan dasar yang terkait dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal, latar belakang pendidikan, dan umur untuk masing-masing jenjang pendidikan.

General Aptitude Test
Kedua, General Aptitude Test. Tes ini mencakup pengetahuan akademik dan pengetahuan umum. Isi tesnya mencakup Matematika, Bahasa Indonesia, dan soal-soal pengetahuan umum. Sebelum tes dimulai, panitia akan melakukan pemeriksaan terhadap berkas-berkas pelamar untuk melihat apakah data yang dimasukan saat registrasi online sama itu sesuai kenyataan atau tidak.

Ada beberapa pelamar yang harus meninggalkan ruangan tes karena berkas-berkasnya dianggap tidak valid. Saat itu, salah satu pelamar yang meninggalkan ruangan itu duduk di depan saya saat tes tersebut. Pengalaman yang cukup menegangkan mengingat itu adalah tahap seleksi pertama.

Tes Pengetahuan Tertulis
Ketiga, Tes Pengetahuan Tertulis. Tes ini merupakan Tes Pengetahuan Umum Perbankan dan Tes Disiplin Ilmu. Berhubung latar belakang pendidikan saya adalah Ilmu Komputer, soal-soal tentang algoritma pemrograman pun keluar. Selain algoritma pemrograman, ada juga beberapa soal yang menyinggung sisi bisnis dalam pengembangan aplikasi komputer; bahkan perangkat keras pun tidak luput ditanyakan.

Untuk Pengetahuan Umum Perbankan sangat sulit ditebak. Sepertinya lebih banyak pengetahuan ekonomi yang ditanyakan ketimbang pengetahuan perbankan itu sendiri. Untuk orang yang jarang bersentuhan dengan dunia perbankan seperti saya tentu sulit untuk menjawab soal-soal dalam tes ini.

Tes Bahasa Inggris dan Psikotes
Keempat, Tes Bahasa Inggris dan Psikotes. Tes Bahasa Inggris merupakan tes yang wajib diikuti oleh para pelamar bila tidak sanggup menyediakan sertifikat TOEFL dengan batas nilai yang sudah ditentukan. Saya terpaksa mengikuti tes ini karena saya memang tidak pernah mengambil ujian TOEFL atau sejenisnya.

Tes Psikotesnya sendiri sebenarnya cukup sederhana. Saya sudah beberapa kali mengikuti tes psikotes di beberapa seleksi. Kalau saya bandingkan dengan tes psikotes yang pernah saya lakukan, Tes Psikotes dalam seleksi penerimaan pegawai BI ini terbilang mudah dan tidak terlalu melelahkan.

Tes Pemeriksaan Kesehatan dan Psikiatri
Kelima, Tes Pemeriksaan Kesehatan dan Psikiatri. Untuk tes ini pelamar harus siap jasmani dan rohani. Tes Pemeriksaan Kesehatan dan Psikiatri ini bertujuan untuk memastikan bahwa pelamar itu berbadan sehat dan berpikiran waras. Rangkaian pemeriksaan kesehatan dilakukan di RSPAD Gatot Subroto sementara tes Psikiatri dilakukan di tempat (dan juga hari) yang terpisah.

Wawancara
Keenam, Wawancara. Tahap ini adalah tahap terakhir dalam proses seleksi. Yang diuji tidak hanya kompetensi pelamar tapi juga kemampuan mempresentasikan diri masing-masing. Wawancara dilakukan oleh satu tim pewawancara berjumlah 4 orang.

Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan mengenai tahap proses seleksi penerimaan calon pegawai BI yang pernah saya lewati. Saya tegaskan kembali bahwa semua yang saya paparkan di atas mengacu pada pengalaman pertama saya mengikuti seleksi tersebut. Semoga yang saya paparkan di atas dapat membantu para pelamar untuk lebih bersiap diri.

Update (16 September 2012)
Berhubung tulisan ini terkait erat dengan pengalaman saya mengikuti seleksi penerimaan pegawai Bank Indonesia di tahun 2007, saya tidak lagi merasa kompeten menjawab pertanyaan yang diajukan. Oleh karena itu, bagian komentar untuk blog post ini saya tutup. Harap maklum.

Senin, 19 Oktober 2009

Mengejar Lowongan Bank Indonesia

20 opini
Bank Indonesia (BI) kembali membuka lowongan. Seleksi penerimaan calon pegawai melalui PCPM XXIX sudah dibuka. Pelamar yang berminat dapat masuk ke situs http://www.rekrutmenbi.com/ dan melakukan pendaftaran online.

Terus terang kesempatan untuk bergabung di BI merupakan kesempatan yang menarik. 2 (dua) tahun yang lalu, tahun 2007, saya mencoba melamar. Saat itu untuk pertama kalinya saya mencoba melamar ke BI. Lowongan yang dibuka saat saya melamar itu tidak hanya untuk PCPM, tapi juga untuk MLE. Saya memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung dan memilih MLE. Peluang diterima di MLE memang lebih kecil karena seingat saya posisi yang ditawarkan hanya untuk 12 orang saja.

Proses seleksi BI saat itu membutuhkan waktu yang lama. Untuk menunggu hasil seleksi per tahap saja kadang butuh waktu bulanan. Jadi wajar saja untuk mengikuti proses seleksi sampai selesai itu setiap pelamar perlu bersabar menanti kabar selama berbulan-bulan.

Tahap dalam seleksi penerimaan pegawai yang saya ikuti di tahun 2007 adalah sebagai berikut:
  1. Registrasi: 54.000 lebih pelamar terdaftar.
  2. Seleksi Administrasi: 17.574 pelamar bertahan.
  3. General Aptitude Test: 2.592 pelamar bertahan (untuk daerah Jakarta).
  4. Tes Pengetahuan Tertulis.
  5. Tes Bahasa Inggris dan Psikotes.
  6. Tes Pemeriksaan Kesehatan dan Psikiatri.
  7. Wawancara.
Tahap dalam seleksi penerimaan pegawai berdasarkan FAQ di situs registrasi online di atas (http://www.rekrutmenbi.com/FAQ.html#17) adalah sebagai berikut:
  1. Aplikasi Online.
  2. Tes Bahasa Inggris.
  3. Tes Psikometri.
  4. Tes Pengetahuan Umum.
  5. Diskusi Grup.
  6. Wawancara.
Perbedaan terbesar ada pada urutan tes yang dilakukan. Itu pun kalau memang urutannya seperti di atas. Tahap-tahap proses seleksinya sendiri tidak jauh berbeda. Di tahun 2007 juga ada bagian diskusi grup. Seingat saya diskusi grup itu dilakukan pada rentang waktu yang sama dengan Tes Pengetahuan Tertulis.

Persiapan untuk menjalani proses seleksi ini sebaiknya tidak setengah-setengah. Saya sendiri menyesali kegagalan saya karena saya merasa persiapan saya tidak maksimal. Saya bermaksud membeberkan kembali pengalaman proses seleksi yang sudah saya jalani untuk membantu persiapan seleksi. Sayangnya pengalaman ini akan saya beberkan dalam tulisan yang terpisah. Bagi yang berminat silakan menunggu tulisan selanjutnya.

Update (16 September 2012)
Berhubung tulisan ini terkait erat dengan pengalaman saya mengikuti seleksi penerimaan pegawai Bank Indonesia di tahun 2007, saya tidak lagi merasa kompeten menjawab pertanyaan yang diajukan. Oleh karena itu, bagian komentar untuk blog post ini saya tutup. Harap maklum.

Rabu, 14 Oktober 2009

Saat Anak Tumbuh dan Berkembang

0 opini
Salah satu kebahagiaan menjadi seorang ayah adalah melihat anaknya (atau dalam kasus saya berarti kedua anaknya) tumbuh dan berkembang. Saat belajar membalikan badan, saat belajar merangkak, saat belajar duduk, saat belajar berdiri, saat belajar berjalan, saat belajar bergoyang mengikuti irama musik, semuanya adalah peristiwa-peristiwa yang menarik dan indah untuk dikenang.

Itu hanya melihat dari satu sisi perkembangan anak. Masih banyak lagi perkembangan anak yang dapat diperhatikan, seperti kemampuan untuk menggenggam, respon terhadap suara (atau lebih spesifik ke respon terhadap panggilan), respon terhadap warna atau gambar, kemampuan untuk meniru, dan berbagai perkembangan anak lainnya.

Itu pun hanya melihat dari perkembangan seorang anak. Kalau kita diberkahi dengan lebih dari satu anak (baca: kembar), maka perkembangan anak-anak kita akan menjadi lebih menarik untuk diperhatikan. Mulai dari perkembangan masing-masing anak sampai bagaimana anak-anak kita berinteraksi antara satu dengan yang lain adalah kesempatan berharga untuk mendapatkan pengalaman yang menarik.

Dalam keluarga saya, Raito dan Aidan telah berbagi banyak pengalaman dengan ayah dan ibunya. Tingkah laku mereka saat tumbuh dan berkembang hingga berumur hampir 15 bulan benar-benar sesuatu yang patut dikenang. Saya dan istri senantiasa tertawa geli saat kami melihat foto atau video mereka yang sempat kami abadikan.

Hal yang paling segar dalam ingatan saya adalah kemampuan respon mereka. Aidan dan Raito sudah mulai mengerti maksud dari ucapan saya dan istri saya. Saya pernah meminta tolong Aidan mengambilkan kunci mobil yang tergeletak di lantai. Kunci mobil itu memang tergeletak di sana karena dilempar Aidan sendiri. Setelah beberapa kali mengulang permintaan itu, Aidan akhirnya mengambil kunci itu kemudian menyerahkannya kepada saya. Kejadian ini benar-benar membekas dalam pikiran saya.

Raito sebenarnya mampu memberikan respon yang sama. Saat diminta mengambilkan sesuatu, Raito akan berjalan mengambil barang yang diminta. Kemudian dia berjalan menghampiri orang yang meminta sambil menyodorkan barang itu ke orang tersebut. Akan tetapi, saat orang itu hendak mengambil barang itu dari tangan Raito, Raito akan menarik tangannya kemudian ngeloyor sambil tersenyum. Sepertinya dia meledek. Kalau saya yang menjadi korban ledekan Raito, saya akan kejar, tangkap, dan kelitiki Raito sekuat tenaga.

Kemampuan berbicara Raito dan Aidan pun sudah mencapai tahap yang lucu. Raito dan Aidan sering mengajak saya, istri saya, atau orang lain di rumah untuk berbicara. Mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak mungkin kita mengerti, tapi cara mereka berbicara benar-benar serius seolah-olah kita mengerti maksud mereka. Pada saat-saat seperti ini seringkali terjadi miskomunikasi akut, yaitu miskomunikasi tanpa ada peluang memperjelas kesalahpahaman yang timbul.

Masih banyak lagi hal-hal baru yang Raito dan Aidan dapat lakukan, seperti meniru irama lagu, menaiki tangga, mencium pipi orang tuanya, atau melompat dari kepala tempat tidur. Semua hal baru ini adalah pengalaman yang berharga bagi saya dan istri saya. Saya rasa semua orang tua pun akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya saat melihat anak mereka tumbuh besar. Saya merekomendasikan agar para orang tua tidak melewatkan kesempatan berharga seperti ini.

Senin, 12 Oktober 2009

Tidak Ada Larangan Pacaran dalam Islam

63 opini
Yang saya tahu, Islam tidak pernah melarang pacaran. Baik secara langsung melalui Al Quran atau melalui hadits Rasulullah Muhammad SAW, Allah tidak pernah secara eksplisit melarang umat Islam untuk berpacaran. Kenapa akhirnya pacaran menjadi sesuatu yang dilarang dalam Islam? Alasannya adalah karena pacaran ini mendekati hal-hal yang benar-benar dilarang dalam Islam.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisaa':110)
Mulai dari berduaan dengan lawan jenis, bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, atau bahkan bergerak lebih jauh sampai melakukan hubungan seksual. Semua itu pada dasarnya tidak dapat dibenarkan dalam Islam. Setiap aktifitas yang terkait dengan pacaran pada akhirnya bertentangan dengan ajaran Islam. Ini yang menyebabkan kenapa pacaran itu menjadi sesuatu yang dilarang dalam Islam.

Jadi larangan itu ada pada aktifitas dalam pacaran, pacaran itu sendiri tidak dilarang. Kalau aktifitas dalam pacaran itu halal, maka larangan untuk pacaran akan hilang sama sekali. Contoh yang paling mudah adalah pacaran setelah menikah. Dengan menikah, hubungan dengan pasangan Anda menjadi halal dalam Islam, kecuali jika pasangan Anda bukan lawan jenis. Jadi mudah untuk mengatakan bahwa pacaran setelah menikah adalah halal karena aktifitas dalam pacaran setelah menikah itu halal.

Contoh tersebut sepertinya adalah satu-satunya bentuk pacaran yang dihalalkan dalam Islam. Saat kita berduaan dengan lawan jenis, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, atau bahkan melakukan aktifitas yang sangat intim, hanya pernikahan yang jelas-jelas menghalalkannya. Saya tidak pernah menemukan contoh lain yang benar-benar menghalalkan hubungan asmara antara lawan jenis yang bukan muhrim selain pernikahan.

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa pacaran sebelum menikah itu bisa dilakukan sesuai koridor Islam. Istilahnya adalah "pacaran Islami". Sayangnya definisi pacaran Islami itu ada di daerah abu-abu. Daerah yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam Islam. Saya pribadi tidak ingin mempersoalkan masalah pacaran Islami ini karena kemungkinan besar akan berujung pada debat kusir. Lebih baik kita memilih mengelola pernikahan yang dibentuk tanpa pacaran ketimbang senantiasa ribut mempersoalkan definisi pacaran Islami itu sendiri.

--
Versi PDF: http://www.4shared.com/file/180803681/55ce4449/TidakAdaLaranganPacarandalamIs.html

Jumat, 09 Oktober 2009

Collaborative Twitter (Part 2)

4 opini
I never thought I'll be publishing two posts in a row about Twitter collaboration. I guess I learned one thing. If you have a new idea, Google it. That would help you determined whether your idea is actually new or not. If your idea is old then at least you'll acquire more information on the subject to further expand it.

Back to collaborative Twitter. At the time being I have found two sites offering just that. These sites are cotweet.com and tweetfunnel.com. There is a good chance there are more sites offering similar service. I'll let Google tell you more.

I've done a small research on both sites said to offer collaboration in Twitter. In general, both sites does offer similar functionality. I refrain from going into details because Twitter collaboration only involves two major function which is enabling one Twitter user to update multiple Twitter accounts and enabling one Twitter account to be updated by multiple users. It's a many-to-many relationship.

I decided to test one of the mentioned sites; that is cotweet.com. I spent some time browsing through its features. Going from one interface to another. Clicking from one link to another. Then I signed out. My conclusion is if people want to have other Twitter users updating their account, they can use these services.

However, from my point of view, the service is not complete. Actually, it lacks one single feature that I hope would show up in such services. That is the ability for a single Twitter user to choose which Twitter accounts are available for collaboration.

Based on my experience in cotweet.com, the trigger came from the account owners. Each account owner chooses Twitter users that is eligible to update his/her account. It doesn't go the other way around. I might be mistaken but I didn't find anything close to this functionality in cotweet.com.

My idea of having a collaborative Twitter service is to enable social accounts to be updated by infinite number of Twitter users. Hence, if an account wants to have collaboration, it simply published itself as being "open". Next, other Twitter users could sign-up to collaborate in that account.

From a social point of view, collaboration means from you to you. So there is no sense of having only the owner picking other users one by one. Anyone could collaborate. Though I have to admit, if we see this from a business point of view then I agree that the owner should have a complete control of whoever is updating his/her account. If we're talking weather or traffic, anyone could collaborate. If we're talking brand images, only selected people could collaborate.

Will there ever be such social collaborative Twitter service or am I missing something?

Rabu, 07 Oktober 2009

Collaborative Twitter

0 opini
I wonder what it would be like if Twitter support multiple authors in one account. That way more than one user could update the status of one user. Wait! That last sentence isn't right. What good will it brings to have multiple users update the status of a single user?

In terms of status, the idea would be hilarious; or even absurd. Status updates should reflect the status of the user itself instead of the status coming from an infinite number of users. Celebs on Twitter might need this, but why the additional functionality? They can simply hand their credentials to someone they trusted (read: hired) to update their Twitter status on their behalf. It's that simple. No need for additional feature in Twitter.

However, users on Twitter are obviously not limited to people. Twitter users might as well be something that someone wants to enroll in Twitter so that the whole world -wide web- knows the status of that something. Twitter users could be anything from people, companies, organizations, traffic reports, weather reports, situations in a conflicted area, or anything. Yes, anything.

With multiple users updating a single Twitter account, we can have the updates coming from multiple sources into a single stream. Let's say there is exist a Twitter account named @jakartadamned. Through that account, Twitter users from Jakarta could collaborate just by sending updates on the traffics in each location. Others could easily follow that account to get updates on Jakarta's latest traffic. So at this point, I simply want to point out that with one Twitter account and multiple users, we can extend the use of Twitter.

Some might say, "why not simply follow every users with updates on Jakarta traffic?" The point of having this kind of feature is to have a Twitter account dedicated on a single topic with as many source as possible. Instead of following a bunch of Twitter users, we only have to follow one. Instead having the updates come from a single user or a limited number of users, we can have the updates coming from as many users as possible.

Of course there is a small change of updating and following habit from this ...
to this ...
I'm sure nobody will notice the difference.

I've managed to make a simple web application where I enable more than one user to update a single Twitter account. The process flow should be something like this:
  1. Twitter user @acbs -this is a sample- enrolls his/her account so that other Twitter users can send updates to this account.
  2. Other Twitter users sign-up. In this phase, these Twitter users will acquire a key to enable authentication when they perform updates.
  3. @acbs validates and give permissions.
  4. Validated Twitter users can update @acbs.
Easy! Will be easier if supported natively by Twitter. :)

There's all there is to it. Unfortunately I can't publish my experiment. I'm lacking the fund, the time, and any other required resources to test it in public. That being said, I'm really looking forward to see how people would respond to this.

Senin, 05 Oktober 2009

Mengakali Blokir URL (Bagian 2)

3 opini
Tulisan saya sebelumnya tentang Mengakali Blokir URL berisi penjelasan yang cukup sederhana untuk mengatasi blokir dengan cara memanipulasi URL (Uniform Resource Locator) situs tujuan. Intinya kita dapat menembus blokir URL dengan cara mengakses salah satu bentuk IP Address dari URL yang kita tuju.

Walau terlihat sederhana, cara seperti itu sebenarnya tidak mudah. Umumnya kita akan mengalami kesulitan bila sebuah situs ternyata memiliki lebih dari satu IP Address yang diakses lewat 1 (satu) URL. Untuk kasus seperti ini kadang situs yang kita tuju tidak memperbolehkan akses langsung lewat IP Address.

Cara blokir URL yang paling sederhana sebenarnya adalah dengan menggunakan situs online proxy. Situs ini memiliki karakter yang sama seperti proxy server pada umumnya, yaitu untuk menyembunyikan identitas (terutama IP Address) user/klien yang ada di belakangnya.

Akan tetapi dalam konteks mengatasi blokir URL, online proxy ini justru berfungsi untuk menyembunyikan URL tujuan kita. Contohnya www.indowebproxy.com. Di halaman utama situs tersebut langsung tersedia sebuah isian untuk memasukan URL situs tujuan kita. Masukan URL yang kita tuju pada isian "Enter a Url To Browse Anonymously" kemudian klik tombol "Surf Anonymously". Anda akan diarahkan pada URL tujuan Anda, tapi URL yang terlihat pada browser Anda adalah "http://cgi.embedproxies.com/index.php/...".

Mudah, bukan?

Informasi ini sebenarnya bukan hal yang baru karena situs seperti www.indowebproxy.com itu bertebaran di Internet. Kalau ternyata www.indowebproxy.com juga diblokir, cukup akses Google Search dan masukan kata kunci "online proxy". Dari situ Anda akan punya akses ke banyak online proxy lainnya. Untuk saat ini saya sendiri lebih sering menggunakan www.zend2.com. Alternatif lain pilihan saya untuk saat ini adalah www.indowebproxy.com dan www.vtunnel.com.

YANG PERLU DIINGAT dalam penggunaan situs seperti ini username dan password. Mungkin kita merasa perlu mengakses situs yang mengharuskan kita memasukan username dan password seperti www.facebook.com. Kalau kita menggunakan online proxy, kita perlu ingat bahwa username dan password kita melewati online proxy tersebut terlebih dahulu untuk kemudian diteruskan ke situs tujuan kita. Oleh karena itu, saya sarankan para pengguna Internet untuk tidak sembarangan dalam menggunakan online proxy.

Semoga bermanfaat!

Tulisan terkait:
Mengakali Blokir URL

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

Kamis, 01 Oktober 2009

500 Rupiah

2 opini
Saat ini uang sejumlah 500 Rupiah mungkin tidak terlalu berarti. Sebuah gorengan yang mungkin hanya sebesar telapak tangan dihargai 500 Rupiah. 500 Rupiah hanya dapat dibelikan 3 butir permen. Aqua kemasan gelas pun harganya 500 Rupiah. Kecil sekali arti uang 500 Rupiah itu.

Tapi tidak semua orang menganggap kecil uang 500 Rupiah itu. Kondektur bus tidak mungkin membiarkan penumpangnya membayar ongkos kurang 500 Rupiah. Penumpang bus pun sebaliknya tidak akan rela bila uang kembalian yang diterima kurang 500 Rupiah. Sekecil apa pun nilai 500 Rupiah itu, 1 juta Rupiah tetap tidak akan menjadi 1 juta Rupiah tanpa kehadiran 500 Rupiah.

Kenaikan tarif tol sebesar 500 Rupiah yang diberlakukan sejak tanggal 28 September 2009 pun disikapi dengan cara yang berbeda. Untuk para pemilik kendaraan pribadi (roda empat atau lebih) tentu tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan ini. Pengeluaran transportasi hariannya mungkin bertambah sebesar beberapa ribu Rupiah saja. Pengaruhnya terhadap pengeluaran bulanan mungkin tidak terlalu signifikan, kecuali yang bersangkutan cukup sering menggunakan tol.

Untuk pengelola kendaraan umum hal ini mungkin merupakan kenaikan yang signifikan. Walau bagaimana pun, mereka tidak akan mau rugi sepeser pun. Mereka akan mencari solusi agar setoran tetap jalan tapi penghasilan tetap tidak berkurang. Mungkin akan terjadi penyesuaian tarif untuk beberapa angkutan umum. Sayangnya saya belum menemukan informasi apa pun mengenai kenaikan tarif ini.

Akan tetapi ada satu bus yang saya tahu pasti mengalami kenaikan tarif. Kebetulan saya adalah pengguna setia bus tersebut. Bus yang saya maksud adalah bus ekonomi P100 jurusan Cikokol (Tangerang)-Senen. Bus ini sehari-hari menggunakan tol Jakarta-Merak. Bus ini melewati 2 (dua) gerbang tol dalam rutenya, yaitu gerbang tol Karang Tengah dan Kebon Jeruk. Tarif tol untuk kendaraan tipe bus P100 mengalami kenaikan 500 Rupiah di kedua gerbang tersebut. Dengan alasan kenaikan tarif tol ini, tarif bus itu pun dinaikan 500 Rupiah dari 2.500 Rupiah menjadi 3.000 Rupiah.

Pertama kali saya mengetahui kenaikan tarif ini, saya langsung curiga ini adalah alasan yang dibuat-buat. Walaupun begitu, saya tidak mau ribut dan membayar tarif 3.000 Rupiah itu. Kenyataannya tidak semua orang menyimpan kekecewaannya. Ada seorang penumpang yang mempertanyakan kenaikan tarif ini, "Masa' tol naek 500 terus semua penumpang juga nambah 500?" Kira-kira begitu celetuk penumpang tersebut.

Argumentasinya masuk akal. Memang sebesar apa kerugian yang ditanggung pengelola bus P100 itu akibat kenaikan tarif tol. 1 kali jalan, 2 kali gerbang tol. Itu artinya bus P100 harus membayar 1.000 Rupiah lebih banyak untuk tol. Dengan hanya membawa 30 penumpang, bus itu sudah mendapatkan tambahan pemasukan 15.000 Rupiah (30 x 50 Rupiah). Itu artinya bus itu mendapat untung 14.000 Rupiah.

Dari kenyataan ini saja penumpang bus sudah merasa dirugikan. Wajar saja kalau orang merasa alasan kenaikan tarif tol itu dibuat-buat. Apalagi di bus itu sama sekali tidak terlihat pengumuman resmi -dalam bentuk apa pun- mengenai perubahan tarif. Sungguh memprihatinkan melihat usaha mencari uang tanpa peduli perasaan orang lain seperti ini.

Seperti inilah kondisi Jakarta. Nilai uang 500 Rupiah mungkin kecil. Sebagian orang mungkin menganggapnya tidak berharga. Akan tetapi tidak sedikit orang yang mau perang urat syaraf hanya untuk mendapatkan uang 500 Rupiah ini. Kondisi sosial di Jakarta memang timpang.