Senin, 12 Oktober 2009

Tidak Ada Larangan Pacaran dalam Islam

Yang saya tahu, Islam tidak pernah melarang pacaran. Baik secara langsung melalui Al Quran atau melalui hadits Rasulullah Muhammad SAW, Allah tidak pernah secara eksplisit melarang umat Islam untuk berpacaran. Kenapa akhirnya pacaran menjadi sesuatu yang dilarang dalam Islam? Alasannya adalah karena pacaran ini mendekati hal-hal yang benar-benar dilarang dalam Islam.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisaa':110)
Mulai dari berduaan dengan lawan jenis, bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, atau bahkan bergerak lebih jauh sampai melakukan hubungan seksual. Semua itu pada dasarnya tidak dapat dibenarkan dalam Islam. Setiap aktifitas yang terkait dengan pacaran pada akhirnya bertentangan dengan ajaran Islam. Ini yang menyebabkan kenapa pacaran itu menjadi sesuatu yang dilarang dalam Islam.

Jadi larangan itu ada pada aktifitas dalam pacaran, pacaran itu sendiri tidak dilarang. Kalau aktifitas dalam pacaran itu halal, maka larangan untuk pacaran akan hilang sama sekali. Contoh yang paling mudah adalah pacaran setelah menikah. Dengan menikah, hubungan dengan pasangan Anda menjadi halal dalam Islam, kecuali jika pasangan Anda bukan lawan jenis. Jadi mudah untuk mengatakan bahwa pacaran setelah menikah adalah halal karena aktifitas dalam pacaran setelah menikah itu halal.

Contoh tersebut sepertinya adalah satu-satunya bentuk pacaran yang dihalalkan dalam Islam. Saat kita berduaan dengan lawan jenis, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, atau bahkan melakukan aktifitas yang sangat intim, hanya pernikahan yang jelas-jelas menghalalkannya. Saya tidak pernah menemukan contoh lain yang benar-benar menghalalkan hubungan asmara antara lawan jenis yang bukan muhrim selain pernikahan.

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa pacaran sebelum menikah itu bisa dilakukan sesuai koridor Islam. Istilahnya adalah "pacaran Islami". Sayangnya definisi pacaran Islami itu ada di daerah abu-abu. Daerah yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam Islam. Saya pribadi tidak ingin mempersoalkan masalah pacaran Islami ini karena kemungkinan besar akan berujung pada debat kusir. Lebih baik kita memilih mengelola pernikahan yang dibentuk tanpa pacaran ketimbang senantiasa ribut mempersoalkan definisi pacaran Islami itu sendiri.

--
Versi PDF: http://www.4shared.com/file/180803681/55ce4449/TidakAdaLaranganPacarandalamIs.html

33 umpan balik:

  1. klu dengan pacaran bisa mendekatkan Qt ma Allah gmn ????/
    pa dilarang juga ???/

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan saya sok tau,
      tapi saya punya pendapat dikit ni buat pertanyaan anda..

      biar saya jlaskan, anda pacaran itu karna memiliki hawa nafsu, jadi, walau pun anda dkat dgan allah tapi pacaan percuma aja.,
      allah mlarang kita untuk pcaran,,
      yg ada itu ta'aruf bkan pacaran..

      lihat nie :
      Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhori: 5066)

      itu dia, lbih baik, bila anda uda ckup umur, lngsung aja nikahi.,
      jgn dipacari, krna pada saat anda pacaran, setan slalu mnggoda, dan anda bsa trjerumus.,
      itu mkanya tidak ada istilah pacaran..

      Hapus
  2. DI TUNGGU JWABANNYA YUA ........

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas komentarnya.

    Pacaran, seperti yang saya jelaskan di atas, itu tidak pernah dilarang dalam Islam. Hanya saja aktifitas yang umumnya ada dalam pacaran itu yang dilarang. Itu yang menyebabkan munculnya pendapat yang melarang pacaran.

    Berduaan dengan lawan jenis saja tidak diperbolehkan dalam Islam karena hal itu membuka peluang godaan syaithan. Padahal pacaran itu umumnya membuka diri untuk hal-hal yang lebih jauh dari sekedar berduaan. Kalau kita melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam, apakah itu selaras dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT? Ibaratnya Anda ingin membangun rumah dengan merontokan fondasi-fondasinya. Walaupun rumah itu bisa berdiri, fondasinya tetap keropos. Rumah itu hanya menunggu waktunya untuk runtuh.

    Satu hal yang sering saya tegaskan pada diri saya sendiri adalah bahwasanya perangkap syaithan itu justru lebih banyak yang terlihat baik. Kalau memang sudah jelas terlihat buruk, tidak ada manusia yang akan terjebak. Dengan satu atau lebih alasan, pacaran mungkin terlihat bisa mendekatkan diri kepada Allah. Namun pada hakikatnya, pacaran itu tetap saja membuka diri kepada bisikan syaithan.

    BalasHapus
  4. bagaiman kalu ,kita mau kenal dengan serang ewek di neGRI INI,tanpa melalui hubungan seperti pacaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mmang klu habis kenal mau anda pacari..
      yg ada2 aja anda nie.,.

      kita bleh knal, tapi jgn sampai anda pacaan sama dia.,.

      klu anda suka,anda langsung saja tunang/nikahi dia..
      klu mang gk mau, berarti itu bkan jodoh anda,,
      ingat jodoh ditangan allah.,.,
      jgan takut anda,yg pnting anda yakin.,,.

      ingat, tidak ada istilah pacaran.,tetapi yg ada ta'arufan.,.

      Hapus
  5. Ketemu langsung dengan cewek itu juga bisa. Kalau mau menjaga diri dari godaan syaithan, sertakan orang ketiga dalam pertemuan itu. Pilihan orang ketiga yang paling baik menurut saya adalah cowok yang menjadi muhrim cewek itu.

    Orang ketiga ini sebenarnya punya fungsi lebih selain sebagai "penjaga". Orang ini justru bisa menjadi narasumber yang kompeten untuk memberikan informasi mengenai sifat dan keseharian si cewek. Untuk itu, orang ketiga ini haruslah orang yang kenal dekat dengan cewek itu dan berani bercerita apa adanya tentang cewek itu.

    BalasHapus
  6. apakah dosa pacaran itu bisa di ampuni???

    seperti kita tahu manusia tak luput dari kesalahan, kadang bertaubat kadang mengulangi, semakin pintar si iblis itu menggoda manusia. tapi apalah daya kita, hanya iman yang kuat dan ampunan dari ALLAH SWT, yg memberikan kita jalan menuju ridhonya.

    BalasHapus
  7. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan berkuasa mengampuni segala dosa yang dilakukan manusia. Akan tetapi, pengampunan dosa itu tidak sembarangan diberikan. Ritual paling umum untuk mendapatkan pengampunan dosa adalah dengan bertaubat secara sungguh-sungguh, yaitu menyesali perbuatan dosanya dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

    Saya sendiri yakin perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang berpacaran dapat diampuni asalkan yang melakukan mau bersungguh-sungguh bertaubat. Saya yakin Allah akan membantu setiap orang yang mau menjaga dirinya dari perbuatan dosa.

    BalasHapus
  8. Saya termasuk salah satu otang yang bimbang dengan keputusan pacaran atau tidak,,
    bagaimana cara menjelaskan kepada pasangan agar tidak berpacaran? sementara perilaku bersentuhan tangan pun tak pernah terjadi,,,
    Saya tidak ingin menyakiti dia, saya ingin dia mengerti keputusan saya,,
    tapi bagaimana caranya? adakah kata-kata yang bisa membuatnya menerima keputusan saya?

    Oya sebelumnya,, masalah ini pernah saya bahas dengan nya,, tapi dia menolak, tidak pulang ke rumah, dan akhirnya sakit asma nya kambuh cukup parah,,

    BalasHapus
  9. Waduh! Bingung juga menyikapi kondisi seperti itu.

    Sebelumnya perlu saya tegaskan kalau saya hanya orang awam dalam Islam. Jadi jawaban saya kemungkinan besar merefleksikan pandangan pribadi saya.

    Kalau dalam kasus Anonim, solusi paling mudah adalah menikah. Anonim tidak perlu bubar dengan pacarnya dan pacarnya pun tidak perlu kambuh asmanya. Tapi menikah jelas jauh dari solusi yang diharapkan di sini.

    Ada beberapa hal yang bisa saya sarankan. Pertama, Anonim tegaskan bahwa pacaran itu tidak diridhai Allah kepada pacar Anonim. Sesungguhnya ridha Allah itu lebih berarti ketimbang dunia dan seisinya. Tidak ada yang lebih penting dari Allah. Walaupun itu berarti harus menyakiti perasaan seseorang.

    Kedua, Anonim mengutamakan perasaan pacar dan terus berpacaran. Alasan yang digunakan adalah keterpaksaan karena tidak ingin pacar Anonim mengalami masalah psikologis dan jatuh sakit. Hal ini kemungkinan besar akan memperpanjang dilema yang ada di hati Anonim mengenai pacaran.

    Masing-masing keputusan di atas ada efek sampingnya. Terserah kepada Anonim mana efek samping yang mau Anonim ambil. Perlu diingat bahwa Allah itu Maha Pengampun, tapi yang diampuni adalah mereka yang sungguh-sungguh bertaubat.

    Solusi ketiga, yang menurut saya paling moderat, adalah dengan tetap berhubungan dengan pacar Anonim seperti biasa. Hanya saja Anonim perlu menarik diri sedikit demi sedikit. Selain itu Anonim tetap perlu memberikan pengertian kepada pacar Anonim.

    Untuk solusi yang ketiga ini, coba dekatkan pacar Anonim kepada Allah. Kuatkan keyakinan pacar Anonim kepada Allah. Kalau keyakinan kepada Allah itu kuat, maka keputusan untuk tidak pacaran itu menjadi mudah.

    Ambil contoh wanita yang diminta memakai jilbab. Jangan melulu ditegaskan mengenai pentingnya jilbab. Jangan melulu membicarakan masalah jilbab. Coba dekatkan dulu wanita itu kepada Allah. Niscaya keinginan menutup aurat akan datang sendirinya.

    Itu saja dari saya. Semoga membantu.

    BalasHapus
  10. Makasi atas sarannya..

    saya lebih cenderung memilih solusi ke 3,,
    smoga bisa berjalan lancar,,
    ^^

    BalasHapus
  11. saya pernah berdebat dengan seseorang tentang hal pacaran, saya bilang pacaran itu dilarang oleh agama islam karena unsur-unsur yang diharamkan.. namun orang tersebut bilang seperti ini.. " pacarannya yang standar ajah... cuman nonton atau makan, gak lebih... daripada nanti saya malah homo(menyukai sesama jenis) lebih baik sya pacaran yang standar ..klau disuruh nikah sy blom siap...

    menurut anda gimana????

    BalasHapus
  12. saya pernah berdebat dengan seseorang tentang hal pacaran, saya bilang pacaran itu dilarang oleh agama islam karena unsur-unsur yang diharamkan.. namun orang tersebut bilang seperti ini.. " pacarannya yang standar ajah... cuman nonton atau makan, gak lebih... daripada nanti saya malah homo(menyukai sesama jenis) lebih baik sya pacaran yang standar ..klau disuruh nikah sy blom siap...

    menurut anda gimana????

    BalasHapus
  13. @aini:
    "Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah penglihatan, zina lisan adalah perkataan dimana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya." (HR. Bukhori)

    Hadits di atas dapat dijadikan dasar untuk menghindari pacaran sebelum menikah karena zina itu tidak terbatas pada hubungan fisik. Apa iya dengan nonton dan makan "saja" dapat dikategorikan menghindari zina? Menurut saya tidak. Apalagi kalau melihat fenomena pacaran jaman sekarang, saya rasa tidak akan berhenti pada nonton dan makan saja. Tentunya ada sesi saling telpon, SMS, atau komunikasi dalam bentuk lain yang sulit -atau bahkan tidak mungkin- terlepas dari zina.

    Kalau alasan yang digunakan untuk membenarkan pacaran adalah agar tidak homo, itu sama saja keluar dari kandang singa untuk masuk kandang macan. Sama saja dengan menjaga diri dari satu perbuatan dosa dengan melakukan perbuatan dosa yang lain. Menurut saya alasan ini tidak logis -mungkin juga dibuat-buat sebagai pembenaran belaka.

    Kalaupun seseorang belum siap untuk menikah, apa iya pacaran jalan keluarnya? Saya tidak yakin bahwa ketidaksiapan untuk menikah dapat membenarkan zina (pacaran). Saya yakin masih ada metode lain untuk menjaga diri agar tetap lurus sebelum kita siap menikah. Kasarnya adalah kita perlu mencari pengalihan dan sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang dapat memicu keinginan kita untuk zina, baik zina kecil maupun besar.

    Jadi pada dasarnya menjadikan pacaran sebagai alasan agar tidak homo karena belum siap menikah itu tidak logis. Ini pendapat saya pribadi terhadap contoh kasus yang diberikan.

    Terlepas dari logis atau tidaknya pembenaran tersebut, Allah memang mengampuni perbuatan dosa yang dilakukan karena terpaksa. Contohnya antara lain membunuh orang lain untuk membela diri. Membunuh orang lain ini adalah perbuatan dosa, tapi Allah berkenan mengampuni dosa ini karena dilakukan secara terpaksa untuk membela diri.

    Mungkin saja seseorang itu pacaran karena terpaksa (harus saya akui, kemungkinannya kecil). Pacaran yang dilakukan karena terpaksa ini mungkin akan mendapatkan ampunan oleh Allah. Tapi tetap saja pacaran itu tidak luput dari zina dan zina itu adalah perbuatan dosa. Terlepas dari diampuni atau tidaknya oleh Allah, orang yang berpacaran itu berarti melakukan perbuatan dosa. Apakah kita ingin hidup kita diwarnai dengan perbuatan dosa terus-menerus? Dalam hal ini kita perlu berhati-hati karena menyepelekan perbuatan dosa itu berarti menyepelekan Allah SWT.

    Itu saja dari saya. Maaf kalau balasannya terlalu panjang.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  14. thanks for sharing, sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  15. Asalamualaikum...

    Zina itu memang bermacam-macam..

    ada zina mata
    zina telinga
    zina tangan
    zina kering
    zina pikiran
    zina perasaan
    zina hati
    zina basah

    dan tak perlu panjang lebar lagi,...pacaran itu boleh atau tidak,biarkan hati yang menjawab,.jangan nafsu yang menjawab..

    alasan apapun tentang di bolehkannya pacaran,.jelaslah itu hanya nafsu yang mencari logika...

    Wasalam..

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum . . .
    saya memang pernah melakukan sustu hubungan yg bernama "pacaran" ,namun setelah sy mengetahui bahwa aktifitas dlm pacaran itu d larang dlm islam sy memutuskan untuk tidak berpacaran lg dg pacar sy .
    namun ,sy merasa sgt berdosa sekali karena sy telah menyakiti persaan pacar sy .dia marah2 kpd sy dan memusuhi sy ,sy sdh menjelaskan alasan keputusan sy tp pacar sy tetap tidak memperdulikannya .
    sedangkan sahabat sy yg awalny baik d depan sy ,dia selalu mendukung sy malah menghianati sy dg berpacaran dg pacar sy .jujur sy merasa terjianati oleh sikap sahabat sy ,n sy merasa cemburu karena sy msh menyimpan rasa sayang kpd pacar sy .
    lalu apa yg harus sy lakukan dg keadaan ini ??

    BalasHapus
  17. Wa'alaikumsalam.

    Sebelumnya saya minta maaf karena telat memberikan respon.

    Sebelumnya ijinkan saya mendo'akan agar Anonim diberikan pahala yang berlipat ganda karena berani memutuskan untuk tidak pacaran. Saya juga do'akan agar Anonim tetap berpegang teguh pada keputusannya untuk menjauh zina (tidak pacaran). Semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran kepada Anonim untuk bertahan di jalan yang Allah ridhai.

    Menyakiti perasaan pacar Anonim adalah resiko yang memang harus Anonim ambil. Wajar saja bila pacar Anonim marah kepada Anonim. Siapa sih yang mau hubungannya putus? Tapi marahnya pacar Anonim itu mungkin saja akibat termakan godaan syaithan. Dugaan ini semakin kuat lagi apabila pacar Anonim memang benar tidak peduli dengan alasan Anonim untuk tidak berpacaran. Dalam kondisi ini, saya rasa Anonim tetap perlu mengambil sikap. Tentu saja "sikap" yang saya maksud di sini adalah dengan tetap tidak berpacaran.

    Lalu bagaimana dengan pengkhianatan sahabat dan rasa cemburu yang Anonim alami? Saya rasa ini bagian dari cobaan yang Allah berikan. Setiap kali kita memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Allah, Allah pasti akan menguji keteguhan hati kita. Pada saat yang sama, syaithan pun akan bergegas menggoda kita untuk kembali menjauh dari Allah. Salah satu tipu daya syaithan ini adalah dengan menimbulkan keraguan di dalam hati kita. Jadi, dalam kasus Anonim, mungkin saja rasa sayang yang masih tersimpan dan rasa cemburu akibat pengkhianatan sahabat itu tidak lain dari bentuk nyata tipu daya syaithan dan ujian dari Allah.

    Yang dapat saya sarankan bagi Anonim adalah terus mendekatkan diri kepada Allah. Perbanyak ibadah-ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al Qur'an, mengikuti pengajian, atau ibadah lainnya yang Anonim berkenan untuk lakukan. Mohon bantuan kepada Allah untuk menghilangkan segala keraguan di dalam hati Anonim. Saya yakin setiap usaha yang ikhlas dari Anonim akan mendatangkan balasan kebaikan yang berlimpah.

    Saya do'akan semoga Anonim mendapat petunjuk dari Allah. Saya do'akan semoga Anonim diberikan kesabaran menghadapi kegundahan hati Anonim saat ini. Saya do'akan semoga Anonim tetap konsisten menggapai ridha Allah. Saya do'akan semoga Anonim dipertemukan dengan pasangan lain yang memiliki pemahaman yang sama dengan Anonim.

    Itu saja dari saya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  18. Saya ikut bertanya mengenai pandangan saudara, tentang pacaran....
    sebenarnya, kenapa dan bagaimana pacaran itu dikalangan umat muslim begitu mengakar bahkan dikalangan beberapa pemuda muslim hal itu seperti dijadikan hal wajib dalam masa-masa mudanya...?
    Dan sebenarnya siapa orang pertama atau awal mula budaya pacaran itu ada dikalangan umat islam...

    BalasHapus
  19. saya tertarik dengan ulasan saudara, ditunggu jawabannya y...

    BalasHapus
  20. Terima kasih atas ajakan diskusinya, tapi sampai saat ini saya jarang sekali mencari tahu sejarah pacaran itu sendiri. Siapa yang memulai dan bagaimana pacaran itu ada di kalangan umat Islam, saya tidak bisa menjawab. Saya sendiri kesulitan menemukan sumber jawaban untuk pertanyaan tersebut.

    Yang saya lihat masih sebatas kondisi saat ini. Saya melihat pacaran sebagai produk budaya, bukan produk Islam. Mungkin pacaran sudah ada sejak lama dan Islam justru datang untuk membatasi kebiasaan pacaran itu. Sama halnya seperti kebiasaan seorang pria memiliki istri banyak. Dalam hal ini, Islam datang dan membatasinya menjadi maksimal 4 orang istri.

    Kalau kita bicara budaya, menelusurinya akan semakin sulit. Paling tidak hal ini sulit bagi saya yang tidak memiliki wawasan yang memadai tentang sejarah. Yang saya tahu, pacaran itu sudah ada sejak jaman kakek dan nenek saya. Caranya saja yang mungkin berbeda, tapi istilah pacaran itu memiliki makna yang sama. Kalau saya bicara kakek-nenek, jaman penjajahan sepertinya perlu diperhatikan juga untuk menelusuri asal mula pacaran.

    Terus terang saya pribadi tidak terlalu tertarik mencari tahu asal-usulnya karena asal-usul pacaran itu tidak relevan dengan hukumnya dalam Islam. Yang relevan adalah perilaku orang-orang yang berpacaran itu sendiri. Kalau perilakunya menerobos larangan Allah, maka selayaknya pacaran itu ditinggalkan. Kalau perilakukan tidak menerobos larangan Allah, silakan saja pacaran.

    Walaupun begitu, saya pribadi pesimis. Sepertinya tidak mungkin pacaran itu tidak melanggar larangan Allah. Kalaupun tidak melanggar, kemungkinan besar kita tidak menyadarinya saja; bukan berarti tidak melanggar.

    Akhir kata, paparan panjang di atas tetap tidak menjawab pertanyaan asal mula pacaran. Kalau memang Mas Anonim berkenan memberi tambahan informasi, saya dengan senang hati akan menerimanya.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  21. berarti tidak dilarang dan tidak berdosa kan jika kita berpacaran, tapi tidak melanggar aturan agama, hanya sebatas status dan keterdekatan?

    BalasHapus
  22. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Israa' ayat 32: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."

    Jadi, semua perbuatan yang mendekati zina itu sudah jelas dilarang dalam Islam. Berhubung praktik pacaran pada umumnya berisi perbuatan-perbuatan yang mendekati zina, maka pacaran pun sudah jelas dilarang dalam Islam. Kalau pacaran yang kita lakukan hanya sebatas status dan kedekatan, kita tanyakan kembali ke hati kita. Apakah mungkin pacaran itu bisa benar-benar bersih dari zina? Saya sendiri ragu. Kita mungkin bisa menjaga diri untuk tidak berduaan, berpegangan tangan, atau apa pun, tapi dorongan hati kita sudah pasti sulit dibendung; apalagi kalau kita sudah "dekat" dengan pacar kita. Justru "kedekatan" itu yang akan dimanfaatkan syaithan untuk menjerumuskan kita.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  23. tp masa harus diakhiri hubunganny, padahal dia udah buat banyak perubahan baik ke saya, dan dia motivasi besar saya

    BalasHapus
  24. Kalau memang sudah terlanjur pacaran, dilema yang seperti lala alami itu pasti ada. Saya yakin lala bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Bahkan beberapa orang yang berkomentar di sini pun pada dasarnya mengalami dilema yang sama.

    Pertama, kita perlu tegaskan bahwa Allah melarang kita mendekati zina. Berhubung pacaran itu mendekati zina, maka pacaran itu dilarang dalam Islam. Aturan dasarnya sebenarnya sesederhana itu. Justru hati dan pikiran manusia yang sering membuat aturan Allah terkesan njelimet dan menyulitkan.

    Kalau kita bisa tegas dengan aturan Allah di atas, pilihan untuk tidak pacaran itu menjadi keharusan. "Perubahan yang baik" itu tentu saja adalah hal yang baik dan patut dipertahankan. Akan tetapi, kalau lala memang ingin terus menjadi baik, bukankah lala perlu melakukannya dengan cara yang diridhai Allah? Kalau lala terus berpacaran demi mempertahankan "perubahan yang baik", itu artinya lala sedang mengejar kebaikan dengan cara yang tidak diridhai Allah.

    Sesungguhnya setiap petunjuk ke jalan yang lurus itu datangnya dari Allah; bukan dari pacar atau manusia mana pun. Kalau Allah berkenan, maka lala pasti akan mendapat petunjuk dan motivasi untuk berbuat baik dari arah (tempat) yang lain. Saya yakin Allah tidak akan memberikan petunjuknya lewat cara-cara yang Allah sendiri tidak ridhai. Mungkin saja "perubahan yang baik" yang lala alami adalah ujian dari Allah karena saat ini lala harus memutuskan pilih pacar atau Allah. :)

    Itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga lala berkenan. Keputusan akhir ada di tangan lala karena lala juga yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari hisab kelak.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  25. Subhanallah. saya setuju sekali dengan pendapat penulis. cara berfikir yang luas dan masuk di akal dan logika. sebenarnya, selama ini saya bingung dalam menghadapi teman saya yang pacaran dan mengingatkannya. menurut anda, bagaimana cara mengingatkannya? lalu, bagaimana jika saya sudah mengingatkannya sejak lama tapi tidak dihiraukan? apakah boleh saya membiarkan ia untuk memilih karena dia sudah baligh dan dapat berfikir serta memilih yang baik? kemudian, bagaimanakah dengan hts(hubungan tanpa status) yang juga marak di kalangan orang yang tidak mau disebut pacaran?
    terimakasih atas jawaban dan tulisan yang menginspirasi saya :)

    BalasHapus
  26. Pacaran itu melibatkan syahwat, baik sekedar rasa suka dengan lawan jenis maupun yang melibatkan birahi (seks). Sulit sekali melawan syahwat -yang menjadi andalan syaithan dalam menjerumuskan manusia- hanya dengan mengandalkan logika. Jadi, wajar saja kalau berbagai cara yang kita gunakan untuk mengingatkan orang terhadap bahaya pacaran itu akan mental dengan mudah.

    Menurut saya, untuk bisa menjauhi pacaran, kita perlu mendekat kepada Allah. Dengan begitu kita mengganti cinta kita kepada pacar kita dengan cinta kepada Allah. Saat cinta kita kepada Allah itu lebih besar daripada cinta kita kepada pacar kita, maka proses meninggalkan pacar (dan pacaran tentunya) akan menjadi lebih mudah.

    Yang bisa kita lakukan bila yang pacaran adalah teman, keluarga, atau orang yang dekat dengan kita hanyalah dengan mengingatkan dan mengajak orang itu mendekat kepada Allah. Itu pun tidak dengan cara yang memaksa karena memang tidak ada paksaan dalam Islam. Cara yang dapat digunakan tentu saja cara-cara yang persuasif (membujuk) dan harus konsisten dilakukan.

    Pada akhirnya semua kembali kepada orang yang bersangkutan. Kalau orang ini tidak bersedia meninggalkan pacaran, saya rasa kita cukup mendo'akan saja agar orang ini diberi petunjuk oleh Allah untuk menjauhi zina. Siapa tahu petunjuk yang dibutuhkan orang ini tidak datang lewat kita, melainkan lewat jalan lain.

    Perihal hubungan tanpa status, cukup kembalikan saja kepada aturan dalam Islam. Yang perlu diperhatikan tetap pada perilaku yang mendekati zina, apa pun nama hubungannya. Kalau memang perilaku pihak-pihak yang terkait dalam hubungan tersebut mendekati zina, tetap harus dijauhi. Bahkan "tunangan", yang juga marak terjadi di dalam masyarakat kita, dapat menjerumuskan kita kepada zina.

    Banyak orang yang menganggap bahwa dengan bertunangan itu sudah dipastikan akan berakhir dengan pernikahan. Akibatnya pasangan yang sudah bertunangan merasa lebih "bebas" untuk berinteraksi atau berdekatan. Padahal pada kenyataannya yang benar-benar membuat yang haram menjadi halal itu hanya ijab qabul yang sah; bukan tukar cincin atau embel-embel lain dalam tunangan. Jadi, inti larangannya bukan pada nama hubungannya, tapi pada perilaku di dalam hubungan itu.

    Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  27. jd bagaimana cara yg harus kita lakukan (yg diridhai Allah) kalau kita ingin mendapatkan jodoh yg terbaik dan disertai dengan keyakinan hati tanpa pacaran?

    BalasHapus
  28. Pertanyaan ini senantiasa sulit dijawab, karena jawaban dari pertanyaan ini seolah-olah membenturkan iman dan logika. Kenapa begitu? Logika kita mengatakan untuk mendapatkan jodoh yang baik itu dilakukan dengan cara mengenal calon pasangan kita. Caranya tentu saja lewat pacaran. Di lain pihak, mayoritas (bahkan mungkin semua) aktivitas yang dilakukan dalam pacaran itu dilarang oleh Allah SWT. Bertentangan bukan? :D

    Kenyataannya tidak seperti itu. Untuk mengenal seseorang itu bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dengan bertanya kepada saudaranya atau bertanya kepada teman dekatnya. Justru harapannya jawaban yang didapat dari pihak ketiga seperti ini akan lebih objektif karena tidak melibatkan pihak yang sedang "dinilai".

    Bagaimana teknis pelaksanaan metode pendekatan seperti di atas? Jawabannya tentu saja panjang. Ada banyak referensi lain yang dapat menjawab pertanyaan ini secara komprehensif. Satu hal yang ingin saya tegaskan adalah mendapatkan jodoh yang baik tanpa pacaran itu bisa dilakukan.

    Itu dulu dari saya. Terima kasih sudah berkenan berdiskusi. :)

    BalasHapus
  29. yg jelas dengan pacaran itu tidak mendapatkan pahala. bahkan karena pacaran dapat dikategorikan mendekati zina, maka berarti berdosa hukumnya. sangat jelas itu hukum dan haditsnya.

    jadi jangan pernah memaksakan suatu hukum dalam qur'an/hadits menurut keinginan hawa nafsu manusia atau selera manusia, tapi ikuti sesuai takarannya dan bertanyalah pada orang2 yang ahli dalam memahami hal tsb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju.

      Terima kasih atas masukannya.

      Hapus