Kamis, 29 Juni 2023

Pengalaman Tes IELTS Untuk Seleksi Beasiswa LPDP

0 opini

Ada 3 hal besar yang perlu saya siapkan sewaktu mendaftar Beasiswa LPDP. Ketiga hal itu adalah IELTS, Esai, dan Proposal Riset. Proposal Riset hanya diminta dari para pendaftar jenjang studi S3, sementara IELTS dan Esai harus dipenuhi pendaftar dari jenjang studi S2 dan S3.

Dari semua itu, bagian yang paling berat adalah IELTS. Sebenarnya LPDP membuka beberapa opsi, tapi saya memilih yang paling feasible: IELTS. Saat itu saya benar-benar mengejar waktu dan hanya IELTS yang dapat saya peroleh hasilnya sebelum pendaftaran Beasiswa LPDP ditutup.

Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya mencoba LPDP pertama kali di Tahap 2 Tahun 2022. Saat itu, waktu yang tersisa untuk mendaftar agak mepet. Di waktu yang terbatas itu, saya mencari tempat untuk mendapatkan skor tes Bahasa Inggris sesuai kriteria LPDP.

Setelah browsing sana-sini, saya menemukan slot kosong untuk tes IELTS berbasis komputer di IALF Gading Serpong. Biaya tesnya cukup mengguncang cashflow, yaitu Rp3.000.000, tapi tetap saya jalani. Saya pikir, walaupun mahal, hasil tesnya bisa saya pakai selama 2 tahun ke depan.

Pendaftaran dan pembayaran saya lakukan pada tanggal 24 Juli 2022. Jadwal tes saya tanggal 28 Juli 2022. Saya hanya punya waktu 4 hari untuk mempersiapkan diri. Semua itu saya lakukan karena saya ingin mengejar pendaftaran Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2022 saat itu.

Saya beruntung karena sejak kecil saya tidak pernah mengalami kesulitan dengan Bahasa Inggris. Namun, tes IETLS itu menjadi tes Bahasa Inggris pertama saya yang mencakup speaking skill. Jadi, perasaan saya campur aduk antara rasa senang mencoba hal baru dan rasa takut gagal.

Dalam waktu 4 hari itu, saya browsing mencari contoh atau simulasi tes IELTS. Beruntung informasi seperti itu sudah sangat mudah ditemukan di YouTube. Saya pelajari mekanisme tes yang akan saya jalani nanti, baik listening, reading, writing, maupun speaking.

Satu hal yang meleset dari perhatian saya adalah bahwa tes IELTS ini menggunakan UK English. Isunya adalah selama ini saya lebih banyak bermain dengan US English. Hal itu menjadi tantangan tersendiri di bagian listening karena pengucapan UK English berbeda dengan US English.

Ada 1 cerita konyol saat saya tes, khususnya di bagian listening. Setiap sesi, peserta diberi kesempatan untuk membaca pertanyaan yang ada sebelum audio diputar agar peserta tahu informasi apa yang harus mereka cari. Di salah satu sesi listening, saya seperti kehilangan fokus.

Di sesi konyol itu, saya lupa membaca pertanyaan yang ada di waktu yang disediakan. Saya santai saja mendengarkan obrolan antara 2 orang yang sedang diputar. Saat audio selesai, saya kaget. Untungnya obrolan mereka nyangkut dan saya bisa menjawab pertanyaan di sesi itu.

Reading dan writing dapat saya jalani dengan baik. Materinya bukan sesuatu yang bisa saya temukan dalam hidup saya sehari-hari. Saya masih bisa mencernanya, tapi di bagian writing, hal itu menjadi menantang karena kosakata saya masih terbatas.

Di bagian Speaking, saya juga terhambat di kosakata. Walaupun topik yang dibahas sangat erat dengan hidup sehari-hari seperti kota kelahiran atau akun favorit di Twitter, saya masih tidak terlalu lancar berbicara. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya kurang latihan.

Walaupun begitu, secara umum, saya masih bisa melewati semua bagian tes itu dengan baik. Sesuai dugaan, speaking dan writing saya ada di band 7. Tidak tinggi, tapi cukup baik. Untungnya listening dan reading saya ada di band 8,5 sehingga hasil akhir tes IELTS saya adalah band 8.

Hasil tes saya keluar dalam hitungan hari, yaitu tanggal 2 Agustus 2022. Sesuai harapan saya, saya bisa menggunakan tes IELTS itu untuk mendaftar di Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2022. Semua waktu, tenaga, dan uang yang keluar untuk tes bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Rabu, 28 Juni 2023

Gagal Sebelum Lulus Seleksi Beasiswa LPDP

0 opini

Seleksi Beasiswa LPDP yang pertama kali saya ikuti adalah Tahap 2 Tahun 2022. Saat itu, saya gagal di Seleksi Substansi. Kegagalan itu sebenarnya sulit saya terima, tapi bisa saya maklumi, karena saya berada di tengah-tengah antara siap dan tidak siap melanjutkan studi S3.

Bagian wawancara (dalam Seleksi Substansi) yang membekas adalah pembahasan proposal riset. Proposal saya tidak didukung oleh referensi yang kuat. Saya hanya mencantumkan 1 jurnal dalam referensi, sementara sisanya berisi peraturan dan dokumen non-jurnal, termasuk riset internal.

Saya juga terbilang masih hijau dalam urusan prospek kuliah S3. Saat itu, walaupun saya sudah mengontak banyak akademisi di berbagai universitas, belum ada yang memberikan respons. Jadi, dalam wawancara itu, saya tidak bisa bercerita banyak tentang rencana studi S3 saya.

Saya hanya bisa bercerita panjang-lebar tentang nilai tambah riset saya, baik terhadap diri saya, karir saya, instansi tempat saya bekerja, atau masyarakat secara umum. Akan tetapi, begitu saya ditanya nilai tambah riset itu di sisi akademis, saya tidak bisa berkomentar banyak.

Hal itu sepertinya sangat diperhatikan para pewawancara dan "kegagapan" saya sepertinya membuat saya dinilai tidak siap melanjutkan studi S3. Saya menyadari hal itu, tapi kenapa saya sulit menerimanya? Karena menurut saya kesiapan itu bisa saya wujudkan di masa depan.

Referensi bisa saya perkuat. Saya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kuat terkait riset yang saya ingin lakukan. Supervisor bisa saya cari karena masih ada banyak universitas yang belum saya jajaki. Mungkin para pewawancara tidak mau mengambil risiko, tapi saya maklum.

Maju ke Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 1 Tahun 2023, semua itu teratasi. Alhamdulillaah. Referensi dalam proposal, walaupun tidak terlalu kredibel, dapat saya perkaya dengan banyak jurnal. Saya juga sudah terhubung dengan seorang profesor yang mau menerima saya sebagai PhD student.

Semua keberhasilan itu bisa saya ceritakan dalam wawancara di Seleksi Tahap 1 Tahun 2023. Jalannya wawancara di tahap ini menjadi lebih meyakinkan bagi saya dibandingkan tahap sebelumnya. Paling tidak saya tidak lagi mengalami momen speechless seperti di tahap sebelumnya.

Walaupun lebih meyakinkan, saya tetap waswas. Penilaian tetap ada di tangan para pewawancara yang, tentu saja, subjektif. Saya berdoa kepada Allah Swt. agar saya tidak perlu mengikuti seleksi lagi untuk yang ketiga kalinya. Doa saya ternyata dikabulkan. Alhamdulillaah.

Dari pengalaman gagal dan akhirnya lulus seleksi itu akhirnya saya tegaskan, "Kuncinya ada di Seleksi Substansi". Akan tetapi, semua tetap dimulai dari Seleksi Administrasi, bahkan sebelum itu. Semua persiapan saya untuk mencapai kondisi saat diwawancarai itu yang menjadi kunci.

Bagaimana persiapannya? Tentu saja terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Niat saya memang membahasnya satu per satu, sedikit demi sedikit, supaya tidak terlalu banyak informasi yang harus dibahas dalam 1 waktu. Saya akan bercerita lagi di tulisan berikutnya. Insyaa Allaah.

Selasa, 27 Juni 2023

Lulus Seleksi Beasiswa LPDP

0 opini

Kabar yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Hari Kamis, 8 Juni 2023, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengumumkan hasil seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Tahap 1 Tahun 2023. Dengan izin Allah Swt., saya dinyatakan lulus. Alhamdulillaah.

Saya mengikuti seleksi beasiswa itu untuk melanjutkan studi S3. Saya berniat untuk melanjutkan studi S3 itu di luar negeri. Negara tujuan saya adalah Selandia Baru. Beasiswa itu dapat mengakomodir semua kebutuhan itu. Jadi, saat pendaftarannya dibuka, saya langsung daftar. 

Berhubung saya bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN), saya pilih program yang bersifat targeted untuk PNS, TNI, dan Polri. Bagian kepegawaian di kantor saya juga mendukung penuh dari sisi administrasi sehingga prosesnya lebih mudah. Persiapannya juga berjalan lancar.

Seleksi itu sendiri terdiri dari 3 tahap, yaitu Administrasi, Bakat Skolastik, dan Substansi. Berdasarkan pengalaman saya, Seleksi Administrasi hanya memeriksa kelengkapan data dan dokumen. Potensi akademik diukur di Seleksi Bakat Skolastik. Seleksi Substansi, ya, substansial.

Data yang harus disiapkan cukup banyak. Data yang diminta mencakup data diri, data keluarga, riwayat pekerjaan, riwayat pendidikan, pengalaman riset, prestasi, karya ilmiah, konferensi/seminar, dll. Yang paling menonjol adalah Bahasa Inggris, Esai, dan Proposal Riset.

Semua persyaratan yang diminta dapat saya siapkan dengan baik sehingga Seleksi Administrasi dapat saya lewati tanpa kendala berarti. Tes-tes di dalam Seleksi Bakat Skolastik juga dapat saya selesaikan dengan baik. Soal-soalnya memang menantang, tapi saya tetap bisa lulus.

Kuncinya ada di Seleksi Substansi. Seleksi Substansi itu dilakukan melalui wawancara. Semua berkas yang saya serahkan saat Seleksi Administrasi menjadi bahan wawancara. Kabarnya yang digali pewawancara adalah keaslian dan kesiapan. Itu juga dapat saya lewati dengan baik.

Skor Seleksi Bakat Skolastik saya adalah 220. Skor yang cukup baik untuk potensi akademik orang yang usianya berkepala 4. Skor Seleksi Substansi saya adalah 958. Skor itu sepertinya terbilang tinggi, tapi saya tidak tahu apa sebenarnya yang membuat skor saya setinggi itu.

Saya bermaksud membahas semuanya satu per satu. Siapa tahu ada yang bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya lulus seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP ini. Supaya tulisan ini tidak terlalu panjang, saya akan lanjutkan di tulisan berikutnya. Insyaa Allaah. 

Kamis, 22 Juni 2023

Gagal Verifikasi Wajah Di PermataMobile X

0 opini

Akhirnya urusan verifikasi wajah selesai dengan baik, tapi prosesnya cukup lama.

Beberapa hari yang lalu, saya protes ke Permata Bank karena verifikasi wajah saat registrasi mobile banking (PermataMobile X) selalu gagal. Saya sudah coba pagi, siang, sore, dan malam selama berhari-hari, tapi tetap gagal. Pencahayaan sudah diatur. Reinstall aplikasi sudah berkali-kali. Gagal!

Saya sempat datang ke kantor cabang, tapi di sana hanya dibantu melakukan hal yang sudah saya coba berkali-kali. Saya pergi dengan tangan hampa. Saya agak kecewa karena maksud saya datang ke kantor cabang adalah untuk verifikasi langsung, tapi ternyata tidak bisa.

Hati sudah berniat tutup rekening, tapi dari akun Twitter PermataCare menyarankan saya mengajukan komplain lewat email. Apa bedanya? Menurut mereka, komplain lewat email dapat ditindaklanjuti lebih jauh di sisi teknis. Masak? Memang benar. Akar masalah verifikasi wajah itu akhirnya terlihat.

Isunya ternyata pada data. Data saya sejak saya buka rekening di Permata Bank tidak pernah diubah. Akibatnya verifikasi wajah dilakukan berdasarkan nomor Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang DULU saya gunakan saat buka rekening. Sampai unta masuk ke lubang jarum juga tidak akan berhasil.

Yang "menyebalkan" adalah kenapa kemungkinan data mismatch itu tidak muncul saat saya datang ke kantor cabang. Mungkin ada kesenjangan informasi antara customer service (CS) saat itu dengan petugas Permata Bank yang ada di balik email. Akibat kesenjangan itu, mereka hampir kehilangan 1 pelanggan.

Akhirnya saya datang LAGI ke kantor cabang. Di sana, saya langsung bilang mau update data. Setelah CS mengubah data saya, saya registrasi lagi di mobile banking dan, seperti kata Dora, berhasil!

Batal, deh, tutup rekening.