Minggu, 29 Juni 2014

Berburu SD

3 opini
Akhirnya blog ini pun di-update kembali. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dan +Ratna Aditia berburu sekolah dasar (SD) untuk Raito dan Aidan. Bagi para orang tua kawakan, pengalaman kami mungkin bisa menjadi sarana hiburan dan nostalgia. Sementara bagi para orang tua pemula seperti kami, pengalaman kami ini mungkin bisa menjadi tempat untuk menemukan rekan senasib dan sepenanggungan.

Saya mulai.

Seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang tua yang bertanggung jawab, liburan sekolah kali ini kami (saya dan istri saya) manfaatkan untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke salah satu SD negeri di Tangerang. Terus terang, kami sangat awam untuk urusan daftar SD ini. Kami tidak tahu kapan pendaftaran sekolah itu dibuka, apa saja yang menjadi persyaratannya, bagaimana prosedurnya, atau berapa biayanya. Oleh karena itu, langkah pertama yang kami lakukan adalah bertanya ke beberapa SD terkait tanggal dibukanya pendaftaran. Dari informasi yang kami dapatkan, tanggal dibukanya pendaftaran untuk SD negeri itu serentak. Bila waktu pendaftaran itu sudah dekat, SD-SD negeri itu akan memasang spanduk atau sejenisnya yang akan mengumumkan tanggal dibukanya pendaftaran. Bila ada 1 (satu) SD negeri yang memasang pengumuman itu, dapat dipastikan bahwa SD-SD negeri lainnya pun sudah (atau akan) memasang pengumuman yang sama. Yang perlu kami lakukan adalah memeriksa apakah ada SD negeri yang sudah memasang pengumuman seperti itu. Hal ini kami lakukan secara berkala (selang 2 - 3 hari) sejak awal Juni.

Setelah spanduk pengumuman itu terpasang, langkah selanjutnya adalah melakukan pendaftaran. Untuk Raito dan Aidan, SD pertama yang kami sambangi adalah SD P (bukan nama sebenarnya) yang merupakan SD unggulan. Di SD P ini, untuk mendaftar saja harus mengantri. Terlihat jelas bahwa para orang tua berbondong-bondong ingin memasukan anaknya ke SD unggulan ini. Persis di sebelah SD P ini pun ada SD Q (bukan nama sebenarnya) yang sudah menjadi langganan cadangan SD unggulan (baca: cadangan SD P). Terlihat jelas bahwa setiap orang tua yang mendaftarkan anaknya di SD P itu juga mendaftarkan anaknya di SD Q; termasuk kami. Selain SD P dan SD Q, kami pun mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD R: SD negeri lain yang terlihat bonafid.

Di ketiga sekolah tersebut, baik prosedur maupun persyaratan pendaftarannya terbilang sama. Untuk persyaratannya, saya hanya perlu menyiapkan akta kelahiran asli (hanya untuk diperlihatkan), fotokopi akta kelahiran, fotokopi KTP saya, fotokopi KTP istri saya, dan fotokopi kartu keluarga; 1 (satu) rangkap untuk masing-masing anak. Yang sedikit berbeda adalah prosedurnya. Setelah kami mengisi formulir pendaftaran, SD Q dan SD R melanjutkan dengan melakukan wawancara singkat kepada Raito dan Aidan, sementara di SD P tidak ada wawancara sama sekali. Setelah semua prosedur dilewati, kami menerima tanda bukti pendaftaran yang nantinya harus dibawa saat kami akan melakukan daftar ulang; itu pun kalau Raito dan Aidan diterima. Berapa biayanya? 0 (nol) alias gratis.

Walaupun persyaratan dan prosedurnya terbilang mudah dipenuhi dan diikuti, prosesnya sendiri terbilang melelahkan karena waktu pendaftarannya sangat terbatas. Waktu pendaftaran sekolah di SD negeri, khususnya yang kami sambangi, hanya dibatasi selama 3 (tiga) hari. Di setiap harinya pun jamnya dibatasi dari pagi (sekitar pukul 07.30-08.00) sampai siang (sekitar pukul 12.00-13.00). Jadi untuk mendaftar ke beberapa SD negeri itu waktunya tidak terlalu longgar. Kami menghabiskan waktu 2 (dua) hari untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke tiga SD tersebut.

Pedih!*
Setelah proses pendaftaran selesai, yang bisa kami lakukan adalah menunggu pengumuman. Bagaimana hasilnya? Gagal total! Raito dan Aidan tidak diterima di SD P dan SD Q, sementara di SD R, Raito dan Aidan masuk ke dalam daftar tunggu; untuk menunggu tanpa kepastian. Saat kami berpikir bahwa 3 (tiga) SD itu sudah terlalu banyak, rupanya Raito dan Aidan tidak diterima di satu SD pun. Pedih!

Mengapa Raito dan Aidan bisa gagal? Apakah karena Raito dan Aidan kurang pintar? Sepertinya bukan itu alasannya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kriteria penerimaan siswa baru di SD P, Q, dan R adalah lokasi domisili dan usia calon siswa. Untuk kriteria lokasi domisili, yang diutamakan adalah jarak lokasi tempat tinggal dari lokasi SD. Semakin dekat jarak tersebut, semakin besar peluang diterimanya siswa di SD terkait. Untuk kriteria usia calon siswa, yang diutamakan adalah yang berusia 7 (tujuh) tahun, kemudian di atas 7 (tujuh) tahun, dan terakhir di bawah 7 (tujuh) tahun. Kami sempat bertanya kepada panitia penerimaan SD P mengenai tidak adanya wawancara singkat? Salah seorang panitia mengatakan "tidak perlu" karena yang diterima lebih ditentukan oleh lokasi domisili. Jadi kami berasumsi bahwa Raito dan Aidan tidak diterima di ketiga SD tersebut karena lokasi rumah kami terlalu jauh atau karena umur mereka terlalu muda.

Percaya dengan kriteria itu? Tidak terlalu.

Saya memang hanya setengah percaya dengan kriteria-kriteria yang saya paparkan di atas. Masalahnya adalah saat pengumuman itu pun tidak jelas di mana tempat tinggal dan berapa usia para calon siswa yang diterima. Yang tercantum di dalam daftar pengumuman itu hanya status "diterima" dan "tidak diterima"; khusus untuk SD R juga ada status "cadangan". Bagaimana kami bisa percaya dengan kriteria penerimaan siswa baru tersebut kalau hasil pengumumannya saja tidak terlalu transparan? Selain itu, kabar burung terkait "uang pelicin" pun masih beredaran sehingga semakin sulit bagi saya untuk mempercayai kriteria penerimaan siswa baru itu.

Terima bahwa Raito dan Aidan gagal masuk SD? 100%.

Apapun alasannya, nasi sudah menjadi bubur ayam Cirebon. Setelah rasa pedih di hati sirna, kami mencoba menentukan langkah selanjutnya. Menurut kami, berhubung Raito dan Aidan masih berumur 6 (enam) tahun, masuk SD tahun depan pun tidak masalah. Waktu luang yang mereka miliki selama menunggu datangnya tahun ajaran baru itu dapat diisi dengan mengikuti kursus-kursus seperti kursus bahasa Inggris atau komputer. Prinsipnya adalah sekolah boleh ditunda, tapi belajar harus tetap berjalan.

Walaupun begitu, tetap saja ada perasaan yang mengganjal. Istri saya merasa usaha kami belum maksimal dan mengusulkan untuk mencoba mencari SD negeri lain yang masih membuka pendaftaran. Walaupun waktu pendaftaran SD negeri yang kami tahu itu sudah tutup, kami berasumsi masih ada sekolah yang kuotanya belum penuh dan masih menerima pendaftaran di luar waktu pendaftaran yang resmi. Strategi kami pun kami ubah dari mengejar SD negeri unggulan dan cadangan unggulan menjadi mengejar SD negeri terdekat.

Alhamdulillah salah seorang tetangga pernah memberikan informasi SD negeri yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal kami, yaitu SD S (bukan nama sebenarnya). Dengan perasaan harap-harap cemas, kami pun mendatangi SD S. Saat itu, suasana di SD S sangat sepi; tidak ada tanda-tanda penerimaan siswa baru. Kami maklum karena memang waktunya sudah lewat, tapi berhubung gerbangnya terbuka, kami tetap masuk dan mencoba mencari informasi. Alhamdulillah ternyata masih ada seorang guru yang berbaik hati untuk menerima pendaftaran siswa baru. Seorang? Ya, beliau sendirian menangani pendaftaran siswa baru sementara guru-guru lain sedang mengikuti penataran di sekolah lain. Kenapa saya bisa tahu alasannya? Beliau curcol.

Intinya Raito dan Aidan diterima di SD S. Rasa pedih itu memutuskan untuk tidak datang kembali menghampiri hati kami. Baik persyaratan maupun prosedurnya mirip dengan di SD P, Q, dan R. Bedanya adalah di SD S ini, akta kelahiran asli harus diserahkan dan hanya bisa diambil kembali saat daftar ulang. Mengapa begitu? Karena SD S ini sudah terlalu sering menjadi cadangan yang tidak diambil. Dengan begitu panitia penerimaan siswa baru di SD S ini berinisiatif kalau memang orang tua siswa benar-benar berniat mendaftarkan anak mereka di SD S, mereka harus berani meninggalkan akta kelahiran anak mereka yang asli. Tanpa akta kelahiran yang asli, mendaftarkan anak di SD lain menjadi sulit (atau bahkan tidak mungkin). Kenapa saya bisa tahu sejauh ini? Guru tersebut (lagi-lagi) curcol. Selama guru tersebut curcol, saya hanya mesem-mesem sendiri; itu pun di dalam hati.

Selain masalah akta kelahiran asli yang harus diserahkan ke pihak sekolah, prosedur di SD S pun sedikit berbeda. Di SD S ini, calon siswa akan diuji kemampuannya dalam menulis, membaca, dan berhitung. Ujiannya sendiri hanya sedikit (satu halaman A4/Folio) dan penilaiannya tidak terlalu ketat, tapi terlihat sekali bahwa SD S ini lebih mengharapkan kesiapan calon siswa dalam menghadapi pelajaran-pelajaran SD yang berat dibandingkan SD-SD yang sebelumnya saya datangi. Yang juga berbeda di SD S ini adalah masalah biaya. Di SD S ini, saya harus mengeluarkan uang Rp. 20.000 untuk biaya pendaftaran per anak. Jadi saya perlu membayar Rp. 40.000 untuk biaya pendaftaran Raito dan Aidan. Inilah risiko memiliki anak kembar.

Perjuangan saya dan istri saya untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD negeri pun berakhir; dan untungnya berakhir dengan baik. Raito dan Aidan bisa segera melanjutkan sekolah tahun ini dan kami pun tidak perlu terlalu pusing mencarikan kegiatan belajar lain untuk mereka. Selanjutnya bagaimana? Tahap selanjutnya adalah daftar ulang. Entah apa yang harus kami siapkan saat daftar ulang nanti. Semoga saja urusan itu pun berakhir dengan baik.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search