Selasa, 08 Mei 2012

Berkah Di Balik Pertengkaran Suami Istri

2 opini
http://samarakita.net/
Di setiap masalah yang kita hadapi itu senantiasa ada hikmah; ada sesuatu yang dapat kita pelajari. Pelajaran yang kita dapatkan saat menghadapi masalah dalam hidup kita ini yang membantu kita berkembang dan menjadi dewasa. Akan tetapi, setiap masalah tidak otomatis memberikan pelajaran kepada kita. Berhasil tidaknya kita mendapatkan pelajaran di balik masalah kita sangat bergantung pada bagaimana kita bersikap.

Begitu juga halnya dengan masalah rumah tangga. Masalah dengan pasangan, dengan anak, dengan orang tua, dengan mertua, atau bahkan dengan pembantu (PRT) dapat memberikan pelajaran berharga bagi hidup kita, terutama dalam hal mengelola hubungan keluarga. Lagi-lagi saya tegaskan bahwa pelajaran yang dimaksud itu sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapi masalah dalam keluarga kita.

Untuk menjaga agar tulisan ini tidak melebar ke mana-mana, saya batasi topik tulisan ini ke masalah suami istri. Setelah hampir 7 tahun menikah, hubungan saya dengan istri saya sudah pasti naik turun. Kadang baik, kadang buruk. Kadang romantis, kadang sadis. Kadang erat, kadang bertengkar hebat. Menikah memang benar-benar sebuah pengalaman yang luar biasa.

Bertengkar dengan pasangan hidup kita memang memancing emosi dan menguras energi; benar-benar melelahkan. Akan tetapi, momen tersebut adalah momen yang penting untuk bertukar pikiran dan pendapat dari lubuk hati yang paling dalam. Seorang penulis buku atau artikel yang pernah saya baca menggunakan istilah the moment of truth untuk menggambarkan pertengkaran antara suami dan istri.

The Moment of Truth
Kenapa "the moment of truth"? Karena saat bertengkar dengan pasangan itu kita tidak lagi peduli dan tidak lagi sungkan. Saat bertengkar itu kita benar-benar menyuarakan pendapat kita apa adanya. Segala sesuatu yang biasa kita pendam jauh di lubuk hati kita, karena kita takut menyakiti pasangan kita, bisa jadi akan keluar satu demi satu. Semua isi hati kita pun kita keluarkan tanpa ditutup-tutupi atau diperhalus. Kita tidak lagi peduli dan tidak lagi sungkan.

Ada banyak hal yang saya pahami dari istri saya setelah saya dan istri saya bertengkar hebat. Justru momen-momen menyakitkan saat bertengkar dengan istri itu membukakan mata saya dan mencoba melihat dari sudut pandang istri saya. Dari situ saya membuka diri untuk benar-benar memahami perbedaan pendapat yang menyebabkan pertengkaran kami dan mencoba menemukan titik temu untuk menyelaraskan perbedaan kami.

Tentu saja apa yang saya lakukan itu tidak terjadi sepihak. Saya yakin istri saya pun melakukan hal yang sama. Saya yakin istri saya pun mencoba memahami saya. Saya yakin istri saya pun berusaha melihat dari sudut pandang saya dan mencoba menyelaraskan perbedaan pendapat di antara kami.

Dalam proses memahami perbedaan itu, saya pun dihadapkan pada tiga pilihan: mempertahankan pendapat saya, mengalah dan memenangkan keinginan/kebutuhan istri saya, atau mencari jalan tengah yang mengakomodir kebutuhan bersama. Idealnya tentu saja jalan tengah itu yang dipilih, tapi realita tidak memungkinkan kondisi ideal itu terus tercapai. Kadang kita memang harus kekeuh dan kadang kita memang harus mengalah.

For the Greater Good
Kata kuncinya adalah for the greater good, yaitu demi kebaikan yang lebih besar. Kebaikan yang lebih besar yang saya maksud adalah keutuhan pernikahan. Kalau kita merasa bahwa kita tidak akan bertahan tanpa mempertahankan pendapat kita, maka mengalah pada pasangan kita mungkin akan menjadi pilihan buruk. Kalau kita merasa bahwa mengalah itu lebih baik karena pasangan kita kekeuh mempertahankan pendapatnya, maka mengalah itu mungkin akan menjadi pilihan yang baik.

Apa yang terjadi kalau masing-masing pihak, baik suami maupun istri, sama-sama merasa pendapatnya harus dipertahankan? Apa yang terjadi kalau masing-masing pihak tidak mau mengalah? Kita kembalikan lagi ke frase "for the greater good" tadi. Kalau masing-masing pihak bergerak menuju keutuhan pernikahan, maka jalan tengah yang mengakomodir pihak suami dan pihak istri itu pasti akan ditemukan. Kalau masing-masing pihak hanya bergerak menuju keinginan/kebutuhannya sendiri-sendiri, maka hubungan pernikahan yang terbentuk kelak akan keropos dan rusak dengan sendirinya.

Seperti yang saya tegaskan di atas, berkah di balik pertengkaran dengan pasangan kita itu sangat bergantung pada bagaimana kita dan pasangan kita bersikap. Bila masing-masing pihak bersikap positif dan menerima perbedaan yang ada kemudian bergerak untuk menyelaraskan perbedaan yang ada, berkah di balik pertengkaran itu akan datang dengan sendirinya. Dengan begitu, di akhir pertengkaran besar sekali pun, kita akan membentuk ikatan yang jauh lebih kuat dengan pasangan hidup kita.

--
Tulisan terkait:

Rabu, 02 Mei 2012

Antara Tegas dan Keras

0 opini
http://www.zawaj.com/
Raito dan Aidan memang anak-anak yang keras kepala. Saat mereka memiliki keinginan, mereka press forward. Sayangnya tidak semua keinginan mereka selaras dengan keinginan saya dan bunda mereka. Potensi konflik pun terbuka. Kadang potensi konflik ini dapat diredam lewat mufakat, kadang potensi konflik ini berlanjut menjadi konflik yang sebenarnya.

Raito - Aidan vs. Abi. Fight!

Saat emosi mulai keluar (baca: saat saya mengernyitkan dahi, menghapus senyum, dan meniadakan intonasi lembut di suara saya), perseteruan ayah dan anak pun sulit dihindari. Saya bersikeras untuk tidak menuruti keinginan anak-anak, anak-anak pun bersikeras meminta keinginan mereka dituruti. Pada saat seperti inilah batas antara sikap tegas dan sikap keras menjadi kabur. Hal ini pasti terjadi walaupun saya sendiri sudah mampu membedakan antara tegas dan keras.

Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek itu jauh, jauh, dan jauh lebih sulit dan kompleks dibandingkan teorinya. Walaupun saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi seorang ayah yang keras, berurusan dengan dua malaikat keras kepala di rumah itu seringkali menjebak saya untuk melewati batas. Tanpa saya sadari, awan di atas kepala saya sudah mengeluarkan petir dan awan di atas kepala anak-anak saya sudah menurunkan hujan deras.

Saya akui bahwa alasan saya "bablas" dan memarahi anak itu karena saya lelah. Saat saya lelah, menyikapi kelakuan menyebalkan anak-anak saya itu menjadi perjuangan yang hebat. Apalagi saat kelakuan menyebalkan itu tidak kunjung berhenti, saya pun terpancing untuk menggunakan jalan singkat. Jalan singkat itu adalah dengan menjadi sekeras batu dan sepanas api.

Saat saya sudah terlanjur marah, nasi pun sudah menjadi bubur. Saya bersyukur bila saya sadar di tengah-tengah kemarahan saya. Tidak jarang istri saya berperan besar membantu saya meredam amarah ini. Saat saya sadar, hal pertama yang saya lakukan adalah diam. Lewat diam itu saya berusaha menenangkan hati.

Ada kalanya bahkan saya meninggalkan anak-anak saya, misalnya dengan pindah ke kamar lain, hanya untuk menenangkan diri. Setelah diri saya tenang, saya pun kembali menghadapi anak-anak saya. Pada saat itu, saya sudah mampu untuk bersikap dengan bijak. Dengan hati yang tenang, seburuk apa pun kelakuan anak-anak saya, saya selalu bisa menghadapinya dengan senyuman.

Perlu saya tegaskan bahwa peran istri saya di sini sangat besar. Saat saya marah kepada anak-anak saya, istri saya tidak serta-merta berpihak kepada anak-anak. Istri saya justru berusaha memahami kenapa saya marah dan berkenan bila saya meninggalkannya bersama anak-anak yang berteriak-teriak menangis tiada henti. Tidak terbayang bila istri saya justru berbalik menyalahkan saya saat saya marah. Bila itu terjadi, saya mungkin akan sakit hati dan semakin merasa kesal.

Bukan berarti saya merasa benar saat saya marah. Walaupun keputusan saya sendiri memang benar, marah pada anak-anak tetap saja bukan hal yang bisa saya benarkan. Saya tetap yakin bahwa marahnya saya akan memberi dampak buruk kepada anak-anak saya, misalnya membuat anak-anak saya menjadi penakut atau justru mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang pemarah.

Itulah alasannya mengapa saat saya kembali menghadapi anak-anak saya setelah saya menenangkan diri. Hal ini saya tujukan untuk mengajarkan kepada anak-anak saya bahwa marah itu tidak baik dan masalah itu dapat diselesaikan lewat kompromi/mufakat. Alhamdulillah anak-anak saya masih dekat dengan saya. Sebesar apa pun masalah mereka dengan saya, mereka selalu menerima saya saat saya bergerak mendekati mereka.

Demikian sekelumit kisah kecil saya bersama Raito dan Aidan. Kalau saya pikir-pikir, semua stres yang muncul saat konflik dengan Raito dan Aidan itu memang tidak signifikan. Pada akhirnya perbedaan keinginan antara saya dengan Raito dan Aidan berakhir baik lewat kompromi dan kesepakatan, baik dari sisi saya maupun dari sisi mereka, dan bukan lewat teriakan dan tangisan.

--
Rekomendasi: Menyiasati Marah Dalam Keluarga http://asyafrudin.blogspot.com/2011/02/menyiasati-marah-dalam-keluarga-1.html