Minggu, 28 April 2019

Menemukan Moment dan Attachment dalam #AgileParenting

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya sempat membahas pentingnya kebahagiaan dan dialog dalam mendidik anak. Inspirasi tulisan itu datang dari beberapa video dalam channel Youtube milik Indonesia Morning Show yang menampilkan Ibu Elly Risman. Melalui channel yang sama, saya juga menemukan dua hal lain yang tidak kalah penting dalam urusan mendidik anak: moment dan attachment.

Dalam perjalanan membesarkan anak, Ibu Elly menjelaskan bahwa para orang tua perlu mengambil waktu untuk menciptakan moment dan attachment. Dari penjelasan beliau, saya menangkap bahwa yang dimaksud dengan moment adalah momen-momen yang dapat dikenang oleh orang tua bersama anak-anak mereka, sementara attachment adalah ikatan batin yang terbentuk antara orang tua dengan anak-anak mereka. Moment dan attachment bukan menjadi tujuan mendidik anak, tapi perlu diciptakan dalam perjalanan panjang membesarkan anak.

"Efek samping" yang dimaksud di atas seharusnya memiliki manfaat tersendiri. Sayangnya saya belum berhasil menemukan penjelasan lebih lanjut dari Ibu Elly. Walaupun begitu, saya pribadi memang melihat kedua hal itu sebagai hal yang penting dalam mendidik anak.

Korelasi Moment dan Attachment
Korelasinya sederhana. Salah satu cara paling efektif mendidik anak adalah dengan menjadi teladan. Ingin anak jujur, kita harus jujur. Ingin anak bersikap sopan, kita harus bersikap sopan. Ingin anak rajin, kita harus rajin. Akan tetapi, anak-anak tidak akan meneladani kita kalau hati mereka tidak dekat dengan kita. Itulah alasannya kenapa kita butuh attachment yang sehat antara kita dengan anak-anak kita. Dengan kedekatan hati yang cukup (dan tidak berlebihan), anak-anak akan semakin memperhatikan kita, meniru kita, dan menjadikan kita sebagai teladan mereka.


Moment yang berkesan dibutuhkan untuk melestarikan attachment. Kita sama-sama tahu bahwa attachment yang kuat antara anak-anak dan orang tua akan otomatis terbentuk saat anak-anak tersebut lahir ke dunia ini. Permasalahannya adalah kekuatan attachment itu akan terus berkurang. Setiap interaksi kita dengan anak-anak kita berpotensi mengurangi atau bahkan menggerus attachment tersebut. Selain itu, seiring bertambahnya usia, anak-anak kita pun akan semakin menjauh dari diri kita.

Dengan memperbanyak moment yang layak untuk dikenang, "perangkat" untuk menjaga kekuatan attachment antara kita dengan anak-anak kita akan semakin banyak. Tentu saja moment ini bukan satu-satunya cara untuk memperkuat attachment, tapi pengalaman saya mengatakan bahwa fungsi moment ini sangat signifikan. Manfaatnya terasa signifikan tidak hanya bagi anak-anak kita, tapi juga bagi diri kita sendiri. Entah berapa kali attachment yang rusak akibat adanya masalah dan kekecewaan dalam keluarga saya segera terobati, tapi tidak secara instan, saat saya melihat foto-foto keluarga saya.

Moment membantu menyuburkan attachment. Sebaliknya pun berlaku sama. Attachment yang memadai membantu menciptakan moment. Saat attachment sedang kuat, saat itulah waktu yang tepat untuk menciptakan moment. Bepergian, berenang, jogging, nonton bareng, atau aktivitas apa pun akan memiliki kesan tersendiri bila dilakukan saat attachment antara kita dan anak-anak kita sedang berada di puncak (tapi tidak harus di Puncak, Bogor).


Transfer Nilai-Nilai Kebaikan
Kembali ke manfaat moment dan attachment dalam konteks mendidik anak. Seperti diceritakan di atas, salah satu alasan dibutuhkannya moment dan attachment adalah untuk memudahkan transfer nilai-nilai baik dalam diri orang tua ke anak-anak. Attachment merupakan jembatan yang kita butuhkan untuk melakukan transfer tersebut. Entah itu lewat teladan atau lewat dialog, bila tidak ada attachment yang cukup, transfer tersebut akan mengalami kendala.

Bila attachment antara kita dan anak-anak kita sangat sedikit atau bahkan tidak ada, efeknya justru berbanding terbalik. Alih-alih transfer nilai-nilai kebaikan, anak-anak kita justru menolak transfer tersebut dan, mungkin saja sebagai pernyataan protes, menumbuhkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang ingin kita tumbuhkan. Itulah salah satu alasan kenapa kita sering melihat sikap atau sifat yang bertolak belakang antara seseorang dengan anaknya.

Bila kita pikirkan dengan seksama, korelasi antara kebahagiaan, dialog, attachment, sampai moment terlihat sangat jelas. Semua itu adalah hal-hal yang perlu kita wujudkan selama kita mendidik dan membesarkan anak. Sayangnya semua itu tidak dapat dicapai dengan jentikan jari, walaupun kita meminjam Infinity Gauntlet dari Thanos. Butuh banyak waktu dan tenaga untuk membentuk semua itu, tapi bila hasilnya adalah keluarga yang harmonis, kenapa tidak?

Kamis, 28 Februari 2019

Merumuskan Prinsip-Prinsip #AgileParenting

0 opini
Salah satu akar masalah dalam parenting adalah tidak adanya prinsip yang jelas. Tanpa prinsip, risiko terjadinya kekacauan akan semakin tinggi karena parenting dilakukan tanpa batas-batas yang jelas. Prinsip dalam parenting seharusnya menjadi hal yang penting karena hal itu akan menentukan metode yang kita pilih dalam  parenting. Tidak hanya itu, prinsip juga menjadi indikator bahwa parenting memiliki arah atau tujuan yang jelas, bukan sekadar mengikuti arus, sehingga hasilnya akan lebih baik.

Dalam Agile Parenting pun seharusnya prinsip itu ada. Kumpulan value dalam sebuah manifesto sungguh jauh dari cukup untuk bisa diterapkan dalam hidup. Sudah selayaknya manifesto tersebut diturunkan menjadi kumpulan prinsip-prinsip yang dapat membantu kita menentukan metode yang tepat untuk menerapkan value dalam manifesto tersebut. Permasalahannya adalah menemukan prinsip itu bukanlah hal yang mudah.

Saya sempat bertanya ke beberapa orang tua terkait prinsip mereka dalam parenting, tapi saya belum mendapatkan hasil yang memadai. Sebagian bahkan masih menyamakan prinsip dengan tujuan. Akhirnya saya kembali ke Agile Manifesto for Software Development dan mencoba menggali prinsip-prinsip yang relevan. Saya kembali dengan prinsip-prinsip di bawah ini:
  1. Happiness is the primary measure of success in raising children.
  2. Our highest priority is nurture self-efficacy within our children.
  3. Embrace changes in our children to help them reach their full potential.
  4. Make time to interact with our children as frequently as possible.
  5. Parents and children should work together as a team.
  6. Parenting is about motivating instead of directing. Support and trust our children to do what needs to be done.
  7. The most effective and efficient form of interaction is face-to-face conversation.
  8. Parenting should be consistent indefinitely.
  9. There is no one right way of parenting. Continuous attention to good parenting practices enhances agility.
  10. Simplicity, the art of parenting without draining all our energy, is essential.
  11. Both parents should actively involved in parenting.
  12. Even parents make mistakes. At regular intervals, reflect on how to be better and adjust accordingly.
Versi bahasa Indonesianya di bawah ini:
  1. Kebahagiaan adalah ukuran utama kesuksesan dalam membesarkan anak-anak.
  2. Prioritas utama kita adalah menumbuhkan kemandirian dalam diri anak-anak kita.
  3. Rangkul perubahan yang muncul dalam diri anak-anak kita untuk membantu memaksimalkan potensi mereka.
  4. Cari waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak kita sesering mungkin.
  5. Orang tua dan anak-anak harus bekerja sama sebagai tim.
  6. Mendidik anak berarti memotivasi, bukan memerintah. Dukung dan beri kepercayaan bagi anak-anak kita untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan.
  7. Bentuk interaksi paling efektif dan efisien adalah tatap muka.
  8. Mendidik anak harus konsisten tanpa batas waktu.
  9. Tidak ada satu cara yang benar dalam mendidik anak. Perhatian yang berkelanjutan terhadap metode parenting yang baik akan membuat kita lebih tangkas.
  10. Kesederhanaan, seni mendidik anak tanpa menghabiskan energi kita, adalah kunci.
  11. Kedua orang tua harus terlibat aktif dalam mendidik anak.
  12. Bahkan orang tua berbuat salah. Secara periodik, pikirkan bagaimana menjadi lebih baik dan lakukan perubahan yang dibutuhkan.
Ingin rasanya segera menjadikan prinsip-prinsip itu menjadi bagian dari Agile Parenting, tapi tentunya belum lengkap kalau belum mendengar pendapat dari orang tua yang lain terkait hal ini. Jadi, ada masukan?

Senin, 28 Januari 2019

Menemukan Kebahagiaan dan Dialog lewat #AgileParenting

0 opini
Perjalanan saya untuk menjadi orang tua yang lebih baik masih berlanjut. Saya masih membiasakan diri untuk belajar tentang parenting atau pembinaan keluarga secara umum. Beberapa video di channel Youtube milik Indonesia Morning Show NET dengan tema parenting menampilkan Ibu Elly Risman. Dalam beberapa video tersebut, saya sempat menangkap Ibu Elly menyampaikan ada 2 hal yang hilang dalam keluarga, yaitu kebahagiaan dan dialog.


I was like... "Itu dia!" Dalam hati tentunya. Tidak mungkin teriak di ruang publik.

Fokus pada kebahagiaan dan dialog sebenarnya sudah saya terapkan sejak beberapa bulan yang lalu, khususnya saat saya mulai menerapkan Agile Parenting dalam keluarga saya. Dalam Agile Parenting, kebahagiaan menjadi tujuan utama dalam membina keluargasementara dialog menjadi kunci utama untuk menemukan kebahagiaan tersebut, baik kebahagiaan anak-anak maupun kebahagiaan saya dan istri saya sebagai orang tua. Jadi, mendengar Ibu Elly Risman berbicara tentang hilangnya kebahagiaan dan dialog justru menegaskan bahwa konsep Agile Parenting yang saya coba terapkan sudah berada di jalan yang benar.

Dalam Agile Parenting Manifesto, saya menegaskan bahwa kebahagiaan lebih penting daripada peringkat dan prestasi. Hal tersebut sengajar saya tegaskan karena saya sering terjebak dalam definisi kebahagiaan yang kurang tepat, yaitu definisi kebahagiaan yang tidak lepas dari peringkat dan prestasi. Saya tidak ingin terus-menerus mendorong anak-anak saya untuk mencapai peringkat yang tinggi atau prestasi yang berlimpah seolah-olah semua itu akan menjamin kebahagiaan mereka. Saya ingin menghindar dari pola mendidik anak-anak yang mengarahkan untuk mengejar peringkat dan prestasi tanpa melihat kembali apakah benar peringkat dan prestasi itu membuat anak-anak bahagia.

Agile Parenting Manifesto pun saya arahkan pada kolaborasi dan interaksi. Saya ingin membangun kebiasaan berdialog dalam keluarga yang melibatkan tidak hanya saya dan istri saya, tapi juga anak-anak saya. Berdialog perlu dibedakan dengan berkomunikasi karena berkomunikasi belum tentu berjalan dua arah. Untuk membiasakan berdialog, saya perlu membentuk kebiasaan mendengarkan. Dengan membiasakan diri mendengarkan isi hati dan pikiran anak-anak, saya ingin mewujudkan dialog yang sehat. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi saya untuk memahami kebutuhan anak-anak saya dan mewujudkan kebahagiaan di dalam keluarga saya.

Saat tulisan ini dibuat, keluarga saya sudah memulai rutinitas pertemuan keluarga seminggu sekali. Dalam pertemuan itu, kami membiasakan diri menyampaikan semua unek-unek yang dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Kami bergantian menyampaikan hal-hal yang kami anggap penting, sementara anggota keluarga yang lain memperhatikan dengan seksama. Ada banyak hal yang terungkap lewat pertemuan tersebut; hal-hal yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Pertemuan tersebut sepertinya menciptakan situasi yang kondusif bagi saya, istri saya, dan anak-anak saya untuk benar-benar bercerita apa adanya.

Pertanyaan utamanya adalah mampukah pertemuan keluarga itu membantu kami menemukan kebahagiaan? Ya. Anak-anak kami akhirnya mendapatkan waktu dan kesempatan untuk mengutarakan masalah-masalah yang mereka pendam, sementara saya dan istri saya mendapatkan waktu dan kesempatan untuk menjelaskan banyak hal yang sepertinya tidak tersampaikan saat terjadinya masalah dalam keluarga.

Cerita lebih rinci tentang pertemuan keluarga tersebut rencananya akan saya tuangkan dalam tulisan lain. Untuk saat ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa keluarga saya sudah mulai menemukan wujud dari Agile Parenting Manifesto, khususnya bagian collaboration. Metode tersebut sepertinya cocok untuk diterapkan dalam keluarga saya. Jadi, kemungkinan besar kami akan mempertahankan pertemuan keluarga mingguan tersebut.