Kamis, 31 Maret 2011

Uang Setan Dimakan Setan

1 opini
"... Penipu Laporan Pajak = SETAN, setelah dicurigai lalu diperiksa oleh petugas pajak ditemukan kebohongan dari jumlah yang seharusnya disetor kepada negara melalui BANK atau KANTOR POS. Lalu si SETAN menggunakan kemampuan uangnya untuk menyogok petugas pajak SETAN sehingga pajaknya tidak diperbaiki sebagaimana mestinya. Jadilah istilah "uang SETAN dimakan SETAN".

Fakta di lapangan seiring adanya kasus gayus:
1.Seorang pembeli sayur yang seorang PNS berseragam mengatakan "ngapain bayar pajak, cuma buat bikin kaya orang pajak". dan apa yg saya dengar berikutnya sangat mengejutkan. Ibu penjual sayur berkata "ya makanya bayar pajaknya ke bank om, jangan sama orang pajaknya".
Bisa dibayangkan betapa gelinya saya waktu itu. seorang Pegawai Negeri Sipil, yang setiap bulannya dapat penghasilan yang uangnya berasal dari Pajak, dengan tidak tahu malunya bicara seperti itu.
2.dari beberapa kejadian seperti itu dapat saya simpulkan seperti pepatah "Tong Kosong Nyaring Bunyinya". Orang-orang yang paling keras menyuarakan "STOP MEMBAYAR PAJAK" adalah salah satu dari SETAN penipu pajak, dan yg lain adalah orang-orang yang sama sekali tidak pernah melaporkan pajak ataupun membayar pajak. ..."
Kutipan di atas merupakan salah satu komentar yang dituangkan dalam blog bicarapajak.blogspot.com. Tidak semua isi komentar tersebut saya kutip di atas. Klik di sini untuk membaca versi selengkapnya dari komentar tersebut.

Komentar di atas secara gamblang menegaskan aspek lain dalam menilai kasus-kasus pajak, yaitu keberadaan wajib pajak bermasalah. Saat sorotan dalam kasus-kasus perpajakan ditujukan kepada pegawai dan instansi perpajakan negeri ini, faktor wajib pajak sama sekali tidak diperhatikan. Padahal faktanya kasus-kasus perpajakan itu tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Selalu ada faktor aparat perpajakan dan wajib pajak dalam setiap korupsi di bidang perpajakan.

Meminjam istilah "kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan", maka terlihat jelas bahwa korupsi yang dilakukan aparat perpajakan tidak mungkin dilakukan kalau wajib pajak tidak membuka peluang. Jadi wajib pajak pun bersalah karena membuka peluang korupsi. Wajib pajak seperti ini justru menjadi kaki tangan pelaku korupsi perpajakan; bukan sebagai korban. Korban dari korupsi perpajakan ini adalah rakyat, yaitu orang-orang yang berhak mendapatkan kesejahteraan dari kas negara.

Jadi jangan lagi kita salah kaprah menilai pelaku-pelaku kejahatan dalam korupsi perpajakan. Arahkan jari kita tidak hanya pada aparat perpajakan yang terlibat, tetapi juga pada para wajib pajak yang mendapatkan keuntungan lewat manipulasi data perpajakan. Mereka itulah orang-orang egois yang mengedepankan kepentingan dan keuntungan pribadi dengan mengorbankan kepentingan umum.

Rabu, 23 Maret 2011

Kepentingan Umum atau Kepentingan Saya?

0 opini
Bicara soal keteraturan sosial yang didasari kesadaran untuk mengutamakan kepentingan umum, saya teringat akan banyak insiden dalam hidup saya sehari-hari yang menunjukan kondisi sebaliknya. Contoh yang paling sering saya temukan adalah saat seorang pengendara motor berjalan santai di tengah jalan sambil mengirim pesan dengan BlackBerry miliknya.

Contoh lain, yang masih sangat segar di ingatan, adalah saat seorang supir angkot mengisi bensin dan membiarkan mesinnya menyala seraya menerima telepon masuk. Mungkin supir itu tidak tahu resiko menyalakan mesin dan menerima telpon saat mengisi bensin, tapi yang sulit ditolerir adalah saat supir itu tidak terlalu peduli saat ditegur petugas SPBU.

Mungkin akibat kesembronoan yang sama itu mobil saya akhirnya kena serempet sedan dari arah berlawanan yang keluar dari jalur. Saya sempat berpikir pengendara sedan itu sedang sibuk dengan _smartphone_ miliknya sehingga dia tidak memperhatikan jalan. Apalagi setelah kejadian itu dia sama sekali tidak berhenti walau untuk sekedar meminta maaf.

Sehari sebelum tulisan ini saya buat, sebuah sepeda motor selip saat memaksa menyalip dari sisi kiri kendaraan lain. Posisi motor itu tidak jauh di depan motor saya. Untung saya menjaga jarak aman sehingga saya tidak menabrak motor itu saat saya injak rem mendadak.

Pengendara motor yang cek SMS atau menerima telepon cukup sering saya temui. Sepertinya mereka lebih memilih mengambil resiko menabrak atau ditabrak ketimbang berhenti sebentar saat cek SMS atau terima telepon. Pengendara mobil pun tak sedikit yang melakukan hal tersebut.

Ada lagi contoh lain, yaitu saat dua motor berjalan bersampingan. Saat mengendarai motornya itu mereka mengobrol. Tentunya mudah untuk kita bayangkan dua motor berjalan bersampingan dengan kecepatan rendah. Hal ini benar-benar mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain.

Contoh lain tentunya segudang. Contohnya ada baik di antara pengendara motor maupun di antara pengendara mobil. Itu baru bicara contoh orang-orang yang tidak peduli kepentingan umum di jalan raya. Belum bicara keegoisan di tempat-tempat lain selain jalan raya.

Pengendara yang mengambil dua lahan parkir untuk memarkir mobilnya. Orang yang menyelak antrian di kasir _hypermarket_. Perokok yang merokok di kantor, angkutan umum, atau tempat umum lainnya. Orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Dan masih banyak lagi contoh ketidakpedulian terhadap kepentingan umum.

Potret orang-orang yang mengutamakan kepentingan masing-masing itu pada akhirnya dapat menggambarkan karakter masyarakat yang rapuh. Masyarakat yang kepedulian sosialnya hanya muncul saat terjadi bencana besar. Itu pun datangnya dari balik zona nyaman masing-masing individu. Saat zona nyaman itu belum terbentuk, kepedulian sosial tenggelam ditelan ombak kepedulian pribadi dan golongan.

Setiap muslim tentunya tahu bahwa berjamaah itu lebih baik dibandingkan sendirian; mulai dari shalat hingga perbuatan baik lainnya. Jepang yang dilanda gempa, tsunami, dan radiasi nuklir beberapa waktu yang lalu pun sudah membuktikan hal ini. Kalau kita semua hanya mementingkan diri kita sendiri, maka kita tidak akan pernah menjadi kelompok, masyarakat, dan bangsa yang kuat dan tahan goncangan.

Rabu, 16 Maret 2011

Jepang dan Islam

1 opini
Sifat-sifat buruk seseorang umumnya terkuak saat seseorang sedang dalam keadaan terjepit. Dalam kondisi kritis, seseorang bisa kehilangan kesabaran dan menjadi emosional. Dalam kondisi kritis, seseorang tidak lagi peduli pada orang lain dan menjadi pribadi yang egois. Bila ada orang yang dapat menahan sifat-sifat buruknya dalam kondisi terjepit, maka orang ini pantas diacungi jempol. Bila ada sebuah bangsa yang dapat menahan sifat-sifat buruk mereka dalam krisis, maka bangsa ini pantas diacungi jempol.

Berbagai media meliput kondisi keteraturan sosial yang terjadi di Jepang saat mereka harus menghadapi gempa, tsunami, dan nuklir. Setiap orang yang membaca berita ini tentu kagum dengan keteguhan karakter yang ditunjukan setiap masyarakat di Jepang. Terlihat jelas bahwa keegoisan dapat ditekan sehingga setiap individu tetap mengutamakan kepentingan umum. Sebuah sikap dasar yang pada akhirnya membentuk keteraturan sosial di Jepang saat ini.

Kalau saja mayoritas masyarakat Jepang adalah pemeluk agama Islam yang taat, kita tidak perlu merasa heran. Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperhatikan kepentingan orang lain seperti halnya memperhatikan kepentingan sendiri. Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak egois dan serakah. Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak bertindak kasar (anarkis). Keteraturan sosial mudah dicapai seandainya anggota masyarakat menerapkan nilai-nilai Islam dalam hidup mereka sehari-hari.

Tapi kenyataannya justru terbalik. Karakter bangsa Jepang tidak dapat dikatakan dipengaruhi oleh anggota masyarakat yang beragama Islam. Justru karakter bangsa Jepang dapat dikatakan warisan leluhur; sebuah karakter kuat yang sudah ada sejak lama. Sebaliknya negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam justru memiliki karakter yang terbilang bobrok.

Terorisme yang digulirkan atas nama Islam, aksi anarkis atas nama Islam, konflik berkepanjangan antara Indonesia dan Malaysia, para diktator yang memimpin Tunisia, Mesir, dan Libya, atau individu-individu di Arab Saudi yang kerap kali menyiksa para pembantu mereka. Entah berapa banyak lagi contoh keburukan-keburukan yang diperlihatkan oleh masyarakat Islam.

Untuk memperbaiki citra Islam yang terpuruk, setiap muslim perlu mencontoh masyarakat Jepang. Setiap muslim perlu mencontoh keteraturan sosial yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Jepang. Setiap muslim perlu mencontoh kepedulian sosial yang tetap ada di tengah goncangan bencana yang dihadapi masyarakat Jepang. Dunia sudah menunjukan bahwa decak kagum itu datang dari keteguhan, kepedulian, dan kedisplinan dan bukan dari aksi anarkis, terorisme, atau sikap eksklusif.

Kamis, 03 Maret 2011

Memberi Makan Anak Tanpa Repot

0 opini
Berikut adalah 6 kebiasaan makan anak-anak yang tidak menyenangkan dan tidak sehat dan cara-cara mengatasinya. Hal yang juga perlu diingat adalah makanan sebaiknya digunakan sebagai makanan, bukan sebagai hadiah atau hukuman. Dalam jangka panjang, makanan yang dijadikan imbalan atau suap biasanya menciptakan lebih banyak masalah ketimbang menjadi solusi.

Tantangan dalam Memberi Makan Anak dan Solusinya

Pilih-pilih Makanan: Hanya mau satu jenis makanan setiap kali makan

Solusi: Biarkan anak makan apa yang dia inginkan selama jenis makanan yang dia pilih itu sehat. Pastikan anak merasa lapar saat makan dan tawarkan makanan lain selain makanan pilihan dia. Tetap tawarkan makanan pilihan anak selama dia menginginkannya. Setelah beberapa hari, anak mungkin akan mencoba makanan lain. Pola makan seperti ini jarang berlangsung cukup lama untuk menyebabkan masalah lainnya.

Mogok Makan: Menolak makanan yang ada; dapat berakibat short-order cook syndrome*

Solusi: Pastikan anak lapar ketika waktu makan datang. Jangan tawarkan jus, minuman manis, atau makanan ringan terlalu dekat dengan waktu makan. Sediakan roti gandum atau roti lainnya serta buah saat anak-anak makan, sehingga ada berbagai pilihan yang mungkin anak suka. Kita harus bersikap mendukung pilihan anak, tapi juga menentukan batasan yang diperlukan. Jangan takut untuk membiarkan anak kelaparan jika ia tidak mau makan apa yang disajikan.

Kebiasaan Menonton TV: Ingin menonton TV pada waktu makan

Solusi: Matikan TV. Menonton TV saat makan akan mengganggu interaksi dalam keluarga dan pola makan anak. Hargai waktu yang dihabiskan bersama saat makan. Seringkali ini adalah satu-satunya waktu di siang hari saat keluarga bisa berkumpul bersama-sama.

Para Pengeluh: merengek atau mengeluh tentang makanan yang disajikan

Solusi: Pertama minta anak untuk makan makanan lain yang disajikan. Jika anak menolak, minta anak pergi ke kamarnya atau duduk tenang jauh dari meja makan sampai waktu makan selesai. Jangan biarkan dia membawa makanan, ikut makan makanan pencuci mulut, atau makan makanan apa pun sampai waktu makan berikutnya atau sampai waktu makan kudapan.

The Great American White Diet: Makan hanya roti, kentang, makaroni dan susu

Solusi: Hindari menekan anak untuk makan makanan lain. Memberi perhatian berlebihan pada kebiasaan makan seperti ini hanya memperkuat keinginan anak untuk membatasi makanan. Terus tawarkan berbagai jenis makanan dari semua kelompok makanan. Dorong anak untuk merasakan biji-bijian serta makanan merah, oranye, dan hijau. Pada akhirnya anak akan pindah ke makanan lain.**

Takut Makanan Baru: Menolak mencoba makanan baru

Solusi: Terus perkenalkan dan perkuat dorongan terhadap jenis makanan baru dari waktu ke waktu. Mungkin diperlukan banyak percobaan sebelum anak siap untuk mencicipi makanan baru ... dan banyak mencicipi sebelum anak benar-benar menyukainya. Sebuah titik awal yang baik adalah meminta anak untuk memperbolehkan sedikit jenis makanan baru untuk ditaruh di piringnya. Jangan paksa anak untuk mencoba makanan baru. Perlu juga diingat bahwa Anda (orang tua) adalah panutan. Jadi pastikan anak Anda melihat Anda menikmati makanan baru tersebut.

Catatan: Jangan memberi makan anak-anak yang masih kecil lebih dari 4 suapan makanan pada kecuali makanan tersebut dicincang sepenuhnya. Makanan berikut menimbulkan resiko tersedak: kacang-kacangan dan biji, potongan daging atau keju, hot dog, anggur utuh, potongan buah (seperti apel), popcorn, sayuran mentah, permen yang keras dan lengket, serta permen karet. Selai kacang bisa menimbulkan resiko tersedak untuk anak-anak di bawah umur 2 tahun.

--
Diterjemahkan dari Hassle-Free Meal Time, http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/pages/Hassle-Free-Meal-Time.aspx, diakses tanggal 3 Maret 2011.

* Informasi lebih lanjut tentang short-order cook syndrome:
** Agak sulit menerjemahkan bagian The Great American White Diet. Pada dasarnya kebiasaan ini adalah kebiasaan makan makanan netral (tanpa rasa) seperti susu yang netral atau nasi. Solusinya adalah tetap membiarkan anak makan makanan netral tersebut sambil menawarkan jenis makanan lain.