Senin, 31 Desember 2012

Tersambar Petir

2 opini
Once upon a time, there was a boy.

Kalau saya melihat kembali ke masa lalu, saya bisa melihat bahwa hidup saya senantiasa mengikuti arus. Mulai dari kecil hingga saya lulus kuliah, saya tidak bisa pungkiri bahwa hidup saya cuma gitu-gitu doank. Contohnya dalam konteks pendidikan formal. Saya masuk SD agar bisa masuk SMP, saya masuk SMP agar bisa masuk SMA, dan saya masuk SMA agar bisa kuliah.

Padahal di beberapa kesempatan, saya merasa ada hal-hal yang seharusnya bisa merubah hidup saya. Saya sempat diterima di SMA 3 Bandung; sebuah SMA unggulan. Sayangnya saya tidak bisa mengoptimalkan motivasi belajar saya di sana. Saat kelas 3 SMA, saya pindah ke SMA 1 Ciputat karena alasan domisili. Di SMA ini, saya mendadak menonjol (dari sebelumnya biasa saja di SMA 3). Saya bahkan mendapatkan kesempatan untuk ikut seleksi Olimpiade Fisika. Kesempatan ini pun tidak saya maksimalkan.

Kuliah pun bagi saya tidak lebih dari rangkaian pendidikan formal yang perlu saya lewati untuk mendapatkan pekerjaan kelak. Saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, tapi tempat kuliah ini tidak jauh berbeda dengan SMA. Kampus ini bagi saya hanya tempat untuk mendapatkan nilai yang bagus agar peluang kerja saya meningkat. Hidup saya seolah-olah diarahkan oleh apa yang umum saja; benar-benar seperti mengikuti arus. Nothing special.

Once upon a time, there was a boy who wanted to fly.

Hanya saja saya memang merasakan sebuah perbedaan yang signifikan dalam hidup saya di akhir kuliah saya. Pada saat itu saya yakin interaksi saya dengan Islam yang telah merubah sikap saya terhadap hidup. Saya tidak lagi sekedar mengikuti arus, tapi saya mulai berenang menentukan arah saya sendiri. Saya ingin kehadiran saya menjadi signifikan. I wanted to make a difference. Walaupun pada saat itu keinginan untuk make a difference ini agak rancu dengan keinginan untuk pamer.

Saya lulus kuliah dengan IPK di atas 3 (tiga). 2 (dua) semester terakhir menjadi medan tempur untuk memaksimalkan nilai-nilai di SKS yang tersisa. Saya ingin mengambil langkah pertama untuk membuat perbedaan di dunia ini dengan mendapatkan IPK yang "memuaskan". Saya ingin mendapatkan peluang kerja yang menantang dan menarik. Untuk melakukan itu, saya pikir IPK 3 (tiga) koma sekian adalah awal yang baik. Or is it?

Saya pindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain; trying to make a difference. Di setiap pekerjaan, saya senantiasa ingin menjadi seseorang yang signifikan. Sayangnya saya tidak pernah merasa berhasil menggapai itu. Terus terang saya sendiri tidak merasa memiliki motivasi yang cukup untuk menjadi signifikan. Hampir di setiap pekerjaan yang saya geluti, saya selalu mengawali dengan semangat dan pada akhirnya kehilangan semangat itu seiring waktu.

Saya selalu ingin sukses, saya selalu ingin menjadi yang terbaik, saya selalu ingin menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki pengaruh yang signifikan. Lulus kuliah, menikah, mempunyai anak, dan bekerja di berbagai tempat sepertinya tidak membantu saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Have I really made a difference in my life to date?

Once upon a time, there was a boy who flew.

Pada kenyataannya, saya sudah membuat perbedaan untuk saya dan orang-orang di sekitar saya. Saya sudah berhasil menjadi pribadi yang kehadirannya signifikan. Saya sudah berhasil melakukan banyak hal walaupun tidak dapat dikatakan "luar biasa". Indeed, I made a difference.

Saat saya sadari, IPK 3 (tiga) yang saya dapatkan saat kuliah S1 berhasil membawa saya ke pekerjaan saya sekarang. Kemampuan teknis yang saya miliki serta pengalaman-pengalaman dari berbagai tempat kerja saya sebelumnya telah membawa saya ke posisi yang penting di tempat kerja saya sekarang. Saya berhasil menjadi pekerja yang diperhitungkan dan dipercaya. Semua itu pada akhirnya "terbukti" saat saya diberi kepercayaan untuk memikul beban sebagai salah satu pegawai terbaik. Pemikiran dan hasil kerja saya telah membawa pengaruh yang cukup signifikan untuk diperhitungkan oleh para atasan.

Menikah di usia menjelang 23 tahun juga sebuah pencapaian yang luar biasa bagi saya. Jelas bahwa saya berhasil melewati berbagai tantangan kehidupan pernikahan dan membentuk hubungan penuh kasih sayang dengan istri saya. Memiliki anak kembar di usia menjelang 26 tahun memperpanjang rangkaian pencapaian yang saya lakukan dalam kehidupan berumah-tangga. Saya berhasil menjadi ayah yang luar biasa. Saya bisa menandingi istri saya dalam berbagai urusan merawat dan mendidik anak. Satu-satunya hal yang tidak bisa saya lakukan adalah memproduksi air susu untuk anak-anak saya.

Dalam dunia blogging pun "karir" saya memang tidak cemerlang. Saya bukan seorang "seleb blog", tapi kumpulan blog saya sudah berhasil mencapai ratusan ribu page views dengan Bagaimana Cara meraup lebih dari 200.000 page views. Yang lebih penting lagi adalah begitu banyaknya komentar (sebagian besar berupa pertanyaan) di blog Bagaimana Cara yang bisa saya jawab. Hal ini yang menjadi tolok ukur saya bahwa tulisan saya berhasil membantu orang lain.

Dan masih banyak lagi pencapaian dalam hidup saya yang bisa saya ceritakan, tapi tulisan berisi riwayat hidup saya ini sudah terlalu panjang. Satu hal yang ingin saya tegaskan adalah tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membangga-banggakan diri saya sendiri. Tulisan ini sebenarnya hanya sebatas self-proclamation bahwa saya sudah terbang; saya bukan lagi seseorang yang hanya ingin terbang. Saya sudah terbang, saya sudah membuat perbedaan, saya sudah menjadi pribadi yang signifikan.

Once upon a time, there was a boy who continued flying in search for another great adventure.

[Bersambung...]

*Tulisan ini terinspirasi oleh film Struck by Lightning
**Semua gambar ditemukan lewat Google

Sabtu, 22 Desember 2012

Rapor Pertama Raito Aidan

0 opini
Akhirnya setelah 1 (satu) semester bersenang-senang belajar di TK setempat, Raito dan Aidan pun menerima rapor pertama mereka. Inilah rapor pertama dalam hidup mereka; salah satu indikator penting yang akan menentukan arah bimbingan saya dan ibu mereka. Tentu saja yang deg-degan saat menerima rapor itu bukan Raito dan Aidan, tapi justru saya dan ibu mereka.

Sejak Raito dan Aidan baru belajar merangkak, saya dan ibu mereka mencoba untuk terus memperhatikan perkembangan kecerdasan dan keterampilan mereka. Dengan perbedaan yang begitu kontras di antara mereka, kami sudah menduga bahwa mereka memiliki bakat dan minat yang juga berbeda. Ya, mereka memang beda. Bukan hanya beda di paras, warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, dan berbagai segi fisik lainnya, mereka pun berbeda dalam tahap-tahap perkembangan mereka.

Aidan lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Dia lebih dulu belajar berbalik badan, merangkak, merambat, dan pada akhirnya berjalan. Perbandingan yang paling kontras adalah saat Aidan sudah gemar merangkak dan merambat, Raito masih merayap gaya dada. Benar-benar sebuah kenangan manis mengingat hal itu. Raito sendiri lebih unggul dalam perkembangan motorik halus. Cara dia memegang dan menggenggam sesuatu, terutama alat tulis, memperlihatkan keunggulannya dibandingkan Aidan. Genggaman Raito begitu kuat sampai Aidan yang badannya lebih besar pun lebih sering kalah saat mereka tarik tambang tarik-menarik berebut mainan.

Seiring waktu, perkembangan mereka berjalan stabil. Saya tidak merasakan kekurangan apa pun dalam perkembangan fisik dan mental Raito dan Aidan. Hanya saja saat masuk TK, saat mereka akhirnya berhadapan dengan "pendidikan formal", Raito mulai terlihat dominan. Perkembangan Raito terlihat lebih baik dibandingkan Aidan dalam banyak hal. Ini yang saya lihat langsung di rapor mereka.

Raito unggul dalam menghafal, berbicara (bercerita), menggambar, melukis, berhitung, dan banyak hal lainnya. Bahkan, yang cukup mengherankan, Raito pun lebih unggul dalam perkembangan motorik kasar. Ini kesimpulan singkat yang saya dapatkan dari membandingkan rapor mereka. Hanya saja Raito ini dinilai kurang dalam urusan manajemen emosi, sementara Aidan dapat dikatakan unggul dalam hal menahan diri.

Pada titik ini, saya yakin para penggemar bagian otak akan mengatakan Raito itu dominan otak kirinya. Sementara Aidan sendiri lebih dominan otak kanannya. Hal itu mungkin saja benar, tapi saya masih menganggap pemisahan seperti itu terlalu dini untuk anak seusia mereka. Saya sendiri merasa, setelah membaca beberapa karakteristik otak-kiri dan otak-kanan, saya bisa memaksimalkan kedua bagian otak itu. Kalau saya yang sudah "uzur" saja bisa, saya pun yakin kedua anak-anak saya yang masih berumur 4,5 tahun itu masih bisa berkembang lebih jauh lagi.

Lalu bagaimana dengan "kekalahan" Aidan? Sampai saat ini saya lebih cenderung menduga bahwa Aidan termasuk tipe orang yang tidak suka dengan metode pengajaran formal di kelas. Raito sendiri memang lebih mudah untuk fokus pada sesuatu, sementara Aidan perlu dibangkitkan terlebih dahulu minatnya untuk bisa fokus. Kalau mereka sudah fokus pada sesuatu, saya tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan kemampuan mereka untuk memperhatikan dan mempelajari sesuatu itu.

Jadi fokus saya dan ibu mereka lebih kepada Aidan; tentu saja dengan tidak melupakan Raito. Yang perlu kami cari tahu untuk saat ini adalah bagaimana meningkatkan minat belajar Aidan dan membiasakan Aidan untuk fokus (tidak mudah teralihkan). Kalau kami berhasil melakukan itu, kami rasa tidak sulit bagi Aidan untuk tetap keep up dengan metode pengajaran formal di kelas.