Kamis, 14 Juli 2016

Sampai Ketemu Lagi, Australia

0 opini
"Time flies when you're having fun"

Peribahasa di atas sangat tepat menggambarkan pengalaman saya di Canberra. Jumat pagi saya akan meninggalkan Canberra (Australia) untuk kembali ke Jakarta. Bekerja selama 3 bulan di Negeri Kangguru ini berlalu begitu cepat. Tidak lama lagi saya akan kembali bermain dengan kedua anak lelaki saya dan kembali meramaikan Jakarta-Tangerang dengan rutinitas harian saya.

Terlepas dari itu, hari-hari terakhir saya di Australia tetap menyenangkan. Saya masih sempat mengunjungi Royal Mint dan merasakan "keramaian" hari raya Idul Fitri di Canberra. Saya pun masih sempat mengunjungi Batemans Bay bersama istri dan anak saya. Saya bahkan masih mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan kerja ke Brisbane. Dua minggu yang padat, bukan?

Royal Mint di Canberra

Gedung Royal Mint
Make a Coin
Melbourne Press yang Dipamerkan di Bagian Pabrik
Kunjungan ke Royal Mint bersama keluarga saya merupakan hal yang baru dan menyenangkan walaupun saya bukan penggemar koin (atau mata uang apa pun secara umum). Di tempat itu, kami bisa melihat berbagai mata uang yang pernah digunakan di Australia. Kami bisa mencoba (tapi tidak kami lakukan) menggunakan mesin make a coin untuk membuat sendiri koin 1 dolar Australia. Di tempat itu juga tersedia ekshibisi sejarah mata uang di Australia, tapi bagian yang paling menarik adalah bagian pabrik. Di bagian itu, kita bisa melihat mesin-mesin, ruang kerja, dan beberapa mesin bersejarah seperti Melbourne Press.

Idul Fitri di Canberra

Menjelang Shalat Idul Fitri di Australian Institute of Sport
Suasana Pasca Shalat Idul Fitri
Gedung Arena di Australian Institute of Sport
Saat Idul Fitri, saya memutuskan untuk mengikuti pelaksanaan shalat Idul Fitri di Australian Insitute of Sport (AIS) Arena. Kenapa tidak di Masjid Canberra? Terlalu pagi. Shalat Idul Fitri di Masjid Canberra dimulai pukul 08.00, sementara di AIS Arena dimulai pukul 08.30. Untuk orang yang harus mengurus anak berumur 3 tahun di pagi hari, tambahan waktu 30 menit tentu sangat berarti. Walaupun bukan di masjid, suasananya tetap khidmat. Pelaksanaan shalat dan khutbahnya pun berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Sayangnya pagi itu sedang turun hujan sehingga saya dan keluarga saya tidak sempat berkeliling melihat-lihat lingkungan AIS.

Bagian Depan Masjid Tuggeranong
Masjid Tuggeranong
Piknik Menunggu Bus
Keesokan harinya, berhubung tidak ada keluarga yang bisa dikunjungi, kami memutuskan untuk mengunjungi Masjid Tuggeranong. Sayangnya saat kami datang, masjid tersebut dikunci. Akhirnya kami pun melaksanakan shalat Zuhur di bagian luar. Rencana kami untuk melihat-lihat masjid tersebut pun gagal. Akhirnya kami piknik sambil menunggu bus ke Tuggeranong. Rencana melihat-lihat masjid berubah menjadi melihat-lihat mal di Tuggeranong.

Kerang, Satwa, dan Pantai di Batemans Bay

Koleksi Kerang di Shell & Opal Museum
Koleksi Opal di Shell & Opal Museum
Kunjungan ke Batemans Bay lebih menyenangkan lagi. Di tempat itu, kami menyempatkan diri melihat-lihat koleksi kerang dan opal di Shell & Opal Museum setempat. Walaupun namanya museum, tapi tempat itu sebenarnya lebih mirip toko dan dikelola secara pribadi. Pemilik tempat itu bahkan sudah berencana pensiun dan menjual toko dan koleksi kerang-kerangnya. Mungkin tidak lama lagi tempat itu akan tutup atau mungkin diperluas oleh pemilik barunya.

Koala di Birdland Animal Park
Sepasang Alpaca di Birdland Animal Park
Sekumpulan Kangguru di Birdland Animal Park
Dari museum, kami beralih ke Birdland Animal Park; sejenis kebun binatang yang berisi hewan-hewan khas Australia. Di tempat itu kami akhirnya bisa melihat langsung hewan-hewan seperti wombat, koala, kangguru, burung emu, landak, dan alpaca. Selain hewan, tempat itu pun menyajikan berbagai jenis burung yang menarik untuk dilihat. Tempatnya sendiri cukup luas, tapi tidak terlalu menghabiskan tenaga untuk dijelajahi dengan jalan kaki. Kalau tidak, mungkin kami akan naik kereta keliling yang tersedia di tempat itu.

Pinggir Pantai di Batehaven
Batemans Bay dari Observation Hill Lookout
Kapal Escapade (Merinda River Cruises)
Jembatan Clyde River
Agenda terakhir di Batemans Bay adalah Merinda River Cruise, tapi kami memutuskan menghabiskan sisa waktu kami untuk jalan-jalan di sekitar pantai dan berkeliling di pusat kota. Kotanya sendiri terbilang kecil sehingga tidak banyak yang bisa dilihat di pusat kota itu. Daya tarik utama kota ini memang pantai. Kalau tidak bepergian dengan seorang balita, saya dan istri saya mungkin akan snorkeling atau menyewa kayak.

Bermalam di Brisbane


Gedung Pusat Seni
Jembatan Victoria
The Wheel of Brisbane
Kegiatan terakhir di Australia adalah kunjungan kerja ke Brisbane. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena mayoritas kegiatan saya di sana adalah mendengarkan presentasi. Akan tetapi, berhubung saya menginap satu malam, saya masih sempat berkeliling di sekitar Sungai Brisbane setelah makan malam. Tidak seperti Canberra, Brisbane masih terasa hidup bahkan di atas jam 8 malam dan Brisbane terasa begitu hangat sampai saya berani keluar di malam hari tanpa jaket atau tambahan pakaian.

Dua minggu terakhir di Australia memang terbilang padat, tapi benar-benar penuh pengalaman menyenangkan. Cara yang tepat untuk mengucapkan salam perpisahan pada Australia, khususnya Canberra. Tiga bulan boleh jadi berlalu dengan cepat, tapi kenangan-kenangan menyenangkan di kota ini membuat kunjungan singkat itu menjadi begitu berharga.

Sampai ketemu lagi, Australia!

Sabtu, 02 Juli 2016

Tarawih Super Panjang di Masjid Canberra

0 opini
Tarawih tadi malam di Masjid Canberra benar-benar berkesan karena imam shalat memimpin shalat tarawih dengan mengkhatamkan Al-Qur'an. Shalat Isya dimulai dengan bacaan surat At-Thariq. Bacaan surat pendeknya sambung-menyambung hingga ditutup dengan bacaan surat An-Nas di rakaat terakhir shalat Witir. Pelaksanaan shalatnya sendiri terbilang singkat, tapi ada beberapa kegiatan lain yang membuat keseluruhan pelaksanaan shalat tarawih tersebut menjadi super panjang.

Pertama, setelah shalat Isya selesai dan sebelum shalat tarawih dimulai, ada sesi pembacaan surat-surat di dalam Al-Qur'an oleh anak-anak. Kalau tidak salah, ada 14 orang anak yang maju ke depan untuk membaca surat pendek sesuai arahan sang Imam. Ternyata 14 anak-anak itu memang mengikuti program pelatihan membaca Al-Qur'an yang dipimpin oleh sang Imam. Mayoritas anak-anak itu membaca dengan lancar, tapi ada beberapa yang masih perlu dikoreksi. Bagian yang lucu adalah saat seorang anak berumur 3 tahun maju ke depan untuk membaca surat Al-Kautsar. Tidak hanya salah membaca, anak itu bahkan kesulitan mengikuti saat sang Imam turun tangan dan mengajarkan bacaannya secara langsung. Mungkin anak itu demam panggung. Satu hal yang pasti, kejadian itu benar-benar menghibur para jama'ah yang hadir di situ.

Si Kecil Pembaca Al-Kautsar (Depan, Tengah, Jaket Biru)
Kedua, setelah 4 rakaat pertama shalat tarawih, ada sesi ceramah. Kenapa ceramahnya tidak setelah shalat tarawih seperti di Musala Spence? Mungkin kebijakan pengurus Masjid Canberra adalah untuk memaksimalkan orang yang mendengarkan ceramah, sementara pengurus Musala Spence lebih memilih untuk mempermudah orang-orang yang perlu segera pulang setelah shalat tarawih. Saya pribadi lebih suka kebijakan Musala Spence karena saya tahu bahwa saya mendengarkan ceramah shalat tarawih itu bukan karena terjebak di tengah-tengah pelaksanaan shalat tarawih.

Ketiga, di rakaat terakhir shalat Witir, imamnya memimpin pembacaan doa. Pembacaan doa tersebut bukan dilakukan setelah shalat selesai, tapi di dalam shalat, yaitu setelah membaca surat pendek sebelum rukuk dan pada saat melaksanakan iktidal sebelum sujud. Doa pertama terbilang pendek, tapi doa kedua durasinya benar-benar panjang. Benar-... benar... panjang. Mungkin panjangnya setara dengan setengah juz di dalam Al Qur'an. Baru pertama kali saya mengikuti pembacaan doa selama itu. Badan saya sendiri sepertinya kaget karena harus berdiri selama itu di rakaat terakhir.

Bincang-bincang Pasca Shalat Tarawih
Setelah semua kegiatan selesai, waktu sudah melewati jam 9.30 malam. Dengan dihiasi pembacaan Al Qur'an, ceramah, dan doa di akhir shalat Witir, keseluruhan pelaksanaan shalat tarawih tersebut menghabiskan waktu lebih dari 2,5 jam. Masya Allah. Sebegitu lamanya, istri saya sampai khawatir karena tidak biasanya sampai jam 9 malam saya belum memberi kabar.

Masjid Canberra (dari Area Parkir)
Walaupun panjang dan lama, pengalaman shalat tarawih tersebut benar-benar berkesan. Badan memang terasa lebih lelah dari biasanya, tapi rasa lelah itu kalah dengan rasa puas yang saya peroleh dari shalat tersebut. Mungkin saya perlu lebih sering lagi mengikuti pelaksanaan shalat tarawih seperti itu.

Rabu, 15 Juni 2016

Puasa dan Tarawih di Canberra

0 opini
Tidak pernah terbayang dalam hidup saya bahwa saya akan berpuasa di negeri orang, khususnya di sebuah negara yang memiliki 4 musim. Rupanya Allah punya kehendak yang berbeda. Saya pun mendapatkan kesempatan untuk merasakan berpuasa selama musim dingin di Canberra.

Hari ini, Selasa, 14 Juni 2016, adalah hari ke-9 saya berpuasa di Canberra. Berhubung saat ini sedang musim dingin, siang hari menjadi pendek. Akibatnya waktu berpuasa pun terbilang pendek. Waktu sahur berakhir sekitar pukul 05.30 sementara waktu berbuka tiba sekitar pukul 17.00. Waktu berpuasa di Canberra saat ini tidak sampai 12 jam. Bahkan, kalau melihat waktu sahur dan berbukanya, puasa di Canberra ini ibarat makan pagi agak awal dan skip makan siang.

Di sisi lain, udara dingin kadang mengganggu konsentrasi berpuasa. Udaranya memang belum terlalu dingin, tapi udara dingin dan perut kosong seringkali tidak hidup harmonis di dalam tubuh saya. Walaupun dinginnya masih bisa dinikmati, saya tetap memilih untuk menggunakan jaket bulu angsa (baca: super tebal) sepanjang hari, bahkan saat saya berada di dalam kantor. Alternatif lain adalah dengan mengenakan baju beberapa lapis untuk menjaga kehangatan tubuh.

Ada kalanya udara dingin di sini bisa membuat badan sedikit menggigil. Contohnya Jumat lalu saat saya menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Gungahlin, angin kencang membuat udara begitu dingin sampai jari dan telapak tangan saya pun ingin bergegas masuk ke kantong celana. Untungnya bagian dalam tempat shalat Jumat itu masih hangat sehingga shalat pun bisa dilaksanakan dengan nyaman.

Masjid Gungahlin (belum selesai dibangun)
Tempat Shalat Alternatif di Area Masjid Gungahlin
Terlepas dari itu, rutinitas ibadah puasa berjalan seperti biasa. Siang puasa, malam tarawih. Tidak ada yang istimewa. Satu hal yang saya sayangkan adalah sulitnya menggapai masjid/musala dari apartemen yang saya huni untuk shalat tarawih berjamaah. Apartemen ini terletak di pusat kota Canberra, sementara Masjid Canberra, Musala Spence, tempat shalat tarawih pengganti Masjid Gungahlin, dan alternatif lainnya tidak mudah dicapai. Jalan kaki ke tempat-tempat tersebut bukan pilihan. Pilihan utama bagi saya adalah naik bus karena taksi atau Uber terlalu mahal. Masalahnya adalah tidak ada jaminan bahwa masih ada bus untuk pulang setelah shalat tarawih.

Untungnya salah satu rekan kerja di ATO menawarkan untuk mengantar pulang seandainya saya berminat untuk shalat tarawih berjamaah di Musala Spence. Akhirnya Jumat malam yang lalu, saya naik bus ke Musala Spence. Setelah buka puasa, melaksanakan shalat Maghrib, dan makan malam bersama keluarga, saya pamit berangkat ke musala tersebut. Walaupun tertinggal bus (padahal sudah lari secepat mungkin ke perhentian bus), bus berikutnya masih bisa dinaiki untuk tiba di Musala Spence sebelum tarawih dimulai. Sayangnya tertinggal bus sebelumnya itu membuat saya terlambat datang untuk ikut shalat Isya berjamaah.

Ceramah Pasca Tarawih di Musala Spence
Walaupun begitu, saya senang masih mendapat kesempatan merasakan shalat berjamaah di situ karena setiap kesempatan shalat berjamaah di Canberra ini memberi kesan tersendiri. Saya bisa bertemu dengan orang dari berbagai negara (dari berbagai benua) dengan berbagai cara shalat masing-masing. Melihat begitu banyaknya perbedaan dalam keharmonisan shalat berjamaah membuat saya semakin mencintai Islam karena Islam memang tidak mengenal warna kulit, warna rambut, tinggi badan, atau embel-embel lainnya.

Prosesi shalat tarawihnya tidak jauh berbeda dengan prosesi shalat tarawih yang pernah saya ikuti di Indonesia. Perbedaan yang benar-benar terasa adalah shalat tarawih di sini terasa lebih santai (baca: serasa shalat tarawih di rumah). Tidak ada ceramah antara shalat Isya dan shalat tarawih, tapi waktu yang disediakan masih cukup untuk istirahat. Ceramah dilakukan setelah shalat tarawih sehingga setiap orang bisa memilih untuk menghadiri ceramah atau tidak tanpa harus merasa janggal karena meninggalkan jamaah.


Shalat tarawihnya sendiri dilakukan per 2 rakaat dengan sedikit istirahat setiap selesai 4 rakaat. Tidak ada ucapan-ucapan di antara 2 rakaat shalat seperti yang biasa saya dengar dalam pelaksanaan shalat tarawih di Indonesia. Imam memulai shalat tanpa ada aba-aba tertentu seolah-olah sedang mengajak keluarganya sendiri untuk berdiri dan melaksanakan shalat. Seperti yang saya sebutkan di atas, "serasa shalat tarawih di rumah". Hadir di jamaah tersebut benar-benar sebuah kesempatan yang istimewa.

Bagaimana dengan ngabuburit? Berhubung waktu buka puasa sekitar pukul 17.00, ngabuburit tidak lagi relevan, khususnya di hari kerja. Sedikit berbeda dengan hari libur. Selain belanja, saya dan keluarga mengisi waktu siang hingga menjelang sore dengan rekreasi. Hari Minggu yang lalu, saya menyempatkan diri mengajak istri dan anak saya mengunjungi National Museum of Australia. Sesuai dugaan saya, anak saya senang bisa berlari ke sana kemari di bagian taman dalam museum tersebut. Istri saya senang bisa melihat sebagian dari Australia tempo dulu. Saya sendiri senang karena bisa menyenangkan anak dan istri saya. Gombal!

Bagian Taman di National Museum of Australia
Belenggu Narapidana Tempo Dulu
Miniatur Sydney Opera House
Demikian yang bisa saya ceritakan untuk saat ini. Terlihat dari cerita di atas bahwa sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan ini benar-benar menyenangkan bagi saya. Udara dingin memang menjadi kendala, tapi kendala itu tidak signifikan. Puasa lancar, tarawih lancar, rekreasi pun lancar. Semoga senantiasa seperti ini hingga akhir Ramadhan. Aamiin.