Senin, 07 Juli 2014

Dua Semester Bersama MTI GCIO

3 opini
Semester 2 yang saya jalani di Program Beasiswa MTI (Magister Teknologi Informasi) GCIO (Government Chief Information Officer) sudah berakhir sejak pertengahan Juni lalu. Intensitas belajar langsung turun drastis. Waktu luang di akhir pekan tidak lagi saya habiskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau memperdalam materi-materi kuliah berikutnya. Waktu yang bisa saya curahkan untuk istri dan anak-anak saya pun langsung naik drastis. Jangankan akhir pekan, waktu di hari kerja pun bisa saya habiskan untuk bermain bersama anak-anak atau membantu istri dengan berbagai perintilan urusan rumah tangga.

Semester 2 di Program Beasiswa MTI GCIO memang edan! Intensitas perkuliahan dapat dikatakan jauh lebih tinggi daripada semester sebelumnya, padahal di semester sebelumnya saya pribadi sudah merasa kesulitan untuk mengimbangi derasnya arus perkuliahan. Mengapa begitu? Perbedaan mendasar yang membuat intensitas perkuliahan di semester 2 ini menjadi lebih tinggi daripada semester 1 adalah karena perkuliahan di semester 2 ini lebih mengarahkan mahasiswa pada isu-isu yang strategis. Hal ini, menurut saya, lebih sulit untuk dipahami dibandingkan isu-isu teknis yang harus dipahami di semester 1, apalagi banyak dari isu-isu teknis itu sudah saya hadapi dalam dunia kerja.

Tumpukan buku dan laptop*
Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 seperti Manajemen Informasi Korporat (MIK), Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI), dan Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi (PITI) mengarahkan mahasiswa untuk berpikir secara komprehensif. Mahasiswa tidak lagi dihadapkan dengan isu-isu pragmatis seperti perancangan sistem informasi, perancangan sistem basis data, atau perancangan jaringan komputer. Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 ini justru "memaksa" para mahasiswa untuk melihat dan memahami berbagai isu teknologi informasi dari sudut pandang sebuah organisasi/perusahaan. Semua isu-isu teknis memang tidak serta-merta diabaikan, tapi penekanannya sangat kuat di isu-isu strategis.

Tidak kalah menantangnya adalah mata kuliah Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah (MPPI). Walaupun sifat dasar dari mata kuliah ini agak berbeda dengan mata kuliah-mata kuliah yang saya sebutkan di atas, orientasinya tetap saja sama. MPPI ini memang lebih diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk melakukan penelitian di karya akhirnya nanti, tapi berhubung karya akhir mahasiswa Program MTI, baik Program MTI Reguler maupun Program Beasiswa MTI GCIO, bersifat terapan, studi kasus yang diangkat di karya akhir masing-masing mahasiswa pun umumnya sebuah organisasi/perusahaan (umumnya tempat bekerja dari mahasiswa terkait). Alhasil mata kuliah MPPI ini tidak hanya mengarahkan mahasiswa untuk berpikir logis dan sistematis, tapi juga untuk berpikir strategis.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya, apa susahnya berpikir strategis? Kesulitan pertama adalah bagaimana merubah pola pikir dari yang awalnya hanya berpikir tentang masalah-masalah teknis di depan mata menjadi berpikir tentang masalah-masalah perusahaan mulai dari tingkat pimpinan sampai tingkat staf. Kesulitan kedua adalah bagaimana agar pola pikir yang sudah berubah itu dapat diterapkan dalam dunia nyata. Kesulitan ketiga adalah bagaimana agar perubahan pola pikir dan penerapannya itu dapat diterapkan dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Intinya adalah bagaimana memahami berbagai materi perkuliahan yang terbilang asing, menuangkannya dalam berbagai tugas individu dan tugas kelompok yang menguras waktu dan tenaga, seraya mengatur waktu yang dimiliki agar semua materi dan tugas dari keempat mata kuliah tersebut bisa dipahami dan dikerjakan dengan baik (baca: tidak asal selesai).

Masih ada 1 tantangan lain, yaitu mata kuliah ke-5. 4 mata kuliah yang sudah saya ceritakan di atas adalah mata kuliah wajib sehingga wajib juga diambil oleh mahasiswa Program MTI Reguler. Khusus untuk mahasiswa Program Beasiswa MTI GCIO diwajibkan mengambil 5 mata kuliah. 4 mata kuliah wajib tersebut ditambah 1 mata kuliah pilihan. Saya sendiri memilih mengambil Data Mining & Business Intelligence (DMBI) karena selaras dengan minat saya. Terlepas dari itu, juggling 5 mata kuliah tentu saja bukan hal yang mudah. 4 mata kuliah wajib itu saja sudah menguras begitu banyak waktu. Tambahan 1 mata kuliah pilihan itu tentu saja akan memberikan beban tambahan kepada beban kuliah yang sudah terlampau berat.

Sebegitu beratnya kuliah di semester 2 itu?

Ya, memang berat. Tapi "berat" di sini bukan berarti tidak bisa dilampaui dengan baik. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meringankan beban kuliah di semester 2 itu. Pertama, untuk mata kuliah MIK, fokusnya ada pada pemahaman materi. Metode belajar yang terpusat pada mahasiswa membuat mata kuliah ini penuh dengan diskusi (dan pada akhirnya interpretasi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah mengupas buku teksnya secara tuntas; bukan hanya materinya, tapi juga studi kasus yang ada di dalam buku itu. Sayangnya liburan semester lalu tidak saya manfaatkan untuk melakukan ini.

Kedua, untuk mata kuliah PSSI, fokus utamanya adalah pada tugas kelompok, yaitu membuat dokumen perencanaan strategis sistem informasi untuk sebuah organisasi/perusahaan. Di sini pemahaman materi pun tidak kalah penting dengan mata kuliah MIK karena tugas kelompok itu tidak akan selesai dengan baik tanpa memahami keterkaitan antara elemen-elemen dalam proses perencanaan strategis terkait. Lalu kenapa fokus utamanya justru pada tugas dan bukan pada pemahaman materi? Karena porsi waktu yang diperlukan untuk menggali informasi dalam studi kasus itu kemungkinan akan lebih banyak. Kita perlu menuangkan proses bisnis, data, sistem informasi, infrastruktur, dan struktur organisasi pengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ada di dalam organisasi/perusahaan yang menjadi objek studi kasus kita. Ini bukan tugas mudah, apalagi kalau yang mahasiswa-mahasiswa yang bersangkutan tidak memiliki posisi strategis (hanya staf) di dalam organisasi/perusahaan tersebut. Lagi-lagi saya menyayangkan karena tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk menggali informasi-informasi ini.

Ketiga, untuk mata kuliah MPPI, fokus utamanya adalah bagaimana berpikir logis dan sistematis dalam membuat proposal karya akhir. Saya dan banyak teman-teman kuliah saya senantiasa tersandung di sini. Tugas sudah selesai dikerjakan; sebagian bahkan berhasil menulis dengan tingkat ketebalan proposal yang membuat saya tercengang. Akan tetapi, tetap saja hasilnya tidak memuaskan. Penyebabnya adalah kesalahan cara berpikir yang mengakibatkan proposal karya akhir yang dibuat menjadi tidak logis dan tidak sistematis. Masalah yang dikemukakan harus jelas dan didukung dengan fakta yang kuat dan objektif. Pertanyaan yang perlu dijawab melalui penelitian, tujuan penelitian, judul karya akhir, dan teori-teori yang dituangkan di dalam proposal harus nyambung dengan masalah yang sudah dirumuskan. Metodologi penelitian yang diusulkan pun tidak bisa sembarangan; pemilihan metodenya harus memiliki landasan teori dan alasan pemilihan yang logis. Percaya bila saya katakan semua hal itu tidak mudah, kecuali kita memang sudah berpengalaman dalam membuat proposal penelitian. Dosen pengajarnya bahkan menegaskan bahwa orang-orang yang sudah terbiasa membuat proposal (baca: proposal proyek) pun belum tentu akan lancar menulis proposal karya akhir dalam kuliah MPPI ini. Sayangnya saya tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk memperdalam pola pikir logis dan sistematis ini.

Keempat dan kelima, untuk mata kuliah PITI dan DMBI, santai! Kuliah PITI ini seperti dirancang untuk mengimbangi beban berat dari MIK + PSSI + MPPI. Kuis dan tugas individu tidak ada. Tugas kelompok memang ada, tapi isinya merupakan bagian dari isi tugas PSSI. Kalau kita bisa menemukan objek studi kasus yang "tepat", mengerjakan tugas PSSI sudah terhitung mengerjakan sebagian besar tugas PITI. Memang masih ada yang perlu disiapkan untuk tugas PITI ini, tapi tetap terbilang santai. Kuliah DMBI pun tidak jauh berbeda dengan PITI, tapi berhubung dosen pengajar mata kuliah DMBI ini tidak selalu sama setiap semester, ada kemungkinan santainya kuliah DMBI ini sangat dipengaruhi oleh faktor dosen pengajar tersebut. Walaupun begitu, bukan berarti saya meremehkan 2 mata kuliah tersebut. PITI dan DMBI memiliki bobotnya sendiri, tapi bila disandingkan dengan MIK, PSSI, dan MPPI, beban di 2 mata kuliah tersebut justru terasa ringan.

Menarik, bukan?

Satu hal yang pasti, semua mata kuliah di semester 2 itu, termasuk DMBI yang terkesan bersifat teknis, memberi dampak yang sangat besar terhadap cara berpikir saya, khususnya dalam mengarahkan saya untuk berpikir strategis, logis, dan sistematis (3-is). Dapat saya katakan bahwa perubahan besar dalam diri saya yang saya dapatkan di semester 2 itu jauh lebih besar dibandingkan yang saya dapatkan di semester 1. Perubahan yang saya rasakan bukan hanya dalam konteks bekerja, tapi dalam kehidupan secara umum. Luar biasa, bukan? Silakan dicoba sendiri.

Demikian "ulasan" kuliah semester 2 dalam Program Beasiswa MTI GCIO. Harapan saya adalah tulisan ini menjadi pengingat agar para mahasiswa Program MTI yang akan menghadapi semester 2 lebih siap dalam menghadapi terpaan materi dan tugas yang siap menghempaskan mereka. Semoga saja harapan ini menjadi kenyataan. Aamiin.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 29 Juni 2014

Berburu SD

2 opini
Akhirnya blog ini pun di-update kembali. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dan +Ratna Aditia berburu sekolah dasar (SD) untuk Raito dan Aidan. Bagi para orang tua kawakan, pengalaman kami mungkin bisa menjadi sarana hiburan dan nostalgia. Sementara bagi para orang tua pemula seperti kami, pengalaman kami ini mungkin bisa menjadi tempat untuk menemukan rekan senasib dan sepenanggungan.

Saya mulai.

Seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang tua yang bertanggung jawab, liburan sekolah kali ini kami (saya dan istri saya) manfaatkan untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke salah satu SD negeri di Tangerang. Terus terang, kami sangat awam untuk urusan daftar SD ini. Kami tidak tahu kapan pendaftaran sekolah itu dibuka, apa saja yang menjadi persyaratannya, bagaimana prosedurnya, atau berapa biayanya. Oleh karena itu, langkah pertama yang kami lakukan adalah bertanya ke beberapa SD terkait tanggal dibukanya pendaftaran. Dari informasi yang kami dapatkan, tanggal dibukanya pendaftaran untuk SD negeri itu serentak. Bila waktu pendaftaran itu sudah dekat, SD-SD negeri itu akan memasang spanduk atau sejenisnya yang akan mengumumkan tanggal dibukanya pendaftaran. Bila ada 1 (satu) SD negeri yang memasang pengumuman itu, dapat dipastikan bahwa SD-SD negeri lainnya pun sudah (atau akan) memasang pengumuman yang sama. Yang perlu kami lakukan adalah memeriksa apakah ada SD negeri yang sudah memasang pengumuman seperti itu. Hal ini kami lakukan secara berkala (selang 2 - 3 hari) sejak awal Juni.

Setelah spanduk pengumuman itu terpasang, langkah selanjutnya adalah melakukan pendaftaran. Untuk Raito dan Aidan, SD pertama yang kami sambangi adalah SD P (bukan nama sebenarnya) yang merupakan SD unggulan. Di SD P ini, untuk mendaftar saja harus mengantri. Terlihat jelas bahwa para orang tua berbondong-bondong ingin memasukan anaknya ke SD unggulan ini. Persis di sebelah SD P ini pun ada SD Q (bukan nama sebenarnya) yang sudah menjadi langganan cadangan SD unggulan (baca: cadangan SD P). Terlihat jelas bahwa setiap orang tua yang mendaftarkan anaknya di SD P itu juga mendaftarkan anaknya di SD Q; termasuk kami. Selain SD P dan SD Q, kami pun mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD R: SD negeri lain yang terlihat bonafid.

Di ketiga sekolah tersebut, baik prosedur maupun persyaratan pendaftarannya terbilang sama. Untuk persyaratannya, saya hanya perlu menyiapkan akta kelahiran asli (hanya untuk diperlihatkan), fotokopi akta kelahiran, fotokopi KTP saya, fotokopi KTP istri saya, dan fotokopi kartu keluarga; 1 (satu) rangkap untuk masing-masing anak. Yang sedikit berbeda adalah prosedurnya. Setelah kami mengisi formulir pendaftaran, SD Q dan SD R melanjutkan dengan melakukan wawancara singkat kepada Raito dan Aidan, sementara di SD P tidak ada wawancara sama sekali. Setelah semua prosedur dilewati, kami menerima tanda bukti pendaftaran yang nantinya harus dibawa saat kami akan melakukan daftar ulang; itu pun kalau Raito dan Aidan diterima. Berapa biayanya? 0 (nol) alias gratis.

Walaupun persyaratan dan prosedurnya terbilang mudah dipenuhi dan diikuti, prosesnya sendiri terbilang melelahkan karena waktu pendaftarannya sangat terbatas. Waktu pendaftaran sekolah di SD negeri, khususnya yang kami sambangi, hanya dibatasi selama 3 (tiga) hari. Di setiap harinya pun jamnya dibatasi dari pagi (sekitar pukul 07.30-08.00) sampai siang (sekitar pukul 12.00-13.00). Jadi untuk mendaftar ke beberapa SD negeri itu waktunya tidak terlalu longgar. Kami menghabiskan waktu 2 (dua) hari untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke tiga SD tersebut.

Pedih!*
Setelah proses pendaftaran selesai, yang bisa kami lakukan adalah menunggu pengumuman. Bagaimana hasilnya? Gagal total! Raito dan Aidan tidak diterima di SD P dan SD Q, sementara di SD R, Raito dan Aidan masuk ke dalam daftar tunggu; untuk menunggu tanpa kepastian. Saat kami berpikir bahwa 3 (tiga) SD itu sudah terlalu banyak, rupanya Raito dan Aidan tidak diterima di satu SD pun. Pedih!

Mengapa Raito dan Aidan bisa gagal? Apakah karena Raito dan Aidan kurang pintar? Sepertinya bukan itu alasannya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kriteria penerimaan siswa baru di SD P, Q, dan R adalah lokasi domisili dan usia calon siswa. Untuk kriteria lokasi domisili, yang diutamakan adalah jarak lokasi tempat tinggal dari lokasi SD. Semakin dekat jarak tersebut, semakin besar peluang diterimanya siswa di SD terkait. Untuk kriteria usia calon siswa, yang diutamakan adalah yang berusia 7 (tujuh) tahun, kemudian di atas 7 (tujuh) tahun, dan terakhir di bawah 7 (tujuh) tahun. Kami sempat bertanya kepada panitia penerimaan SD P mengenai tidak adanya wawancara singkat? Salah seorang panitia mengatakan "tidak perlu" karena yang diterima lebih ditentukan oleh lokasi domisili. Jadi kami berasumsi bahwa Raito dan Aidan tidak diterima di ketiga SD tersebut karena lokasi rumah kami terlalu jauh atau karena umur mereka terlalu muda.

Percaya dengan kriteria itu? Tidak terlalu.

Saya memang hanya setengah percaya dengan kriteria-kriteria yang saya paparkan di atas. Masalahnya adalah saat pengumuman itu pun tidak jelas di mana tempat tinggal dan berapa usia para calon siswa yang diterima. Yang tercantum di dalam daftar pengumuman itu hanya status "diterima" dan "tidak diterima"; khusus untuk SD R juga ada status "cadangan". Bagaimana kami bisa percaya dengan kriteria penerimaan siswa baru tersebut kalau hasil pengumumannya saja tidak terlalu transparan? Selain itu, kabar burung terkait "uang pelicin" pun masih beredaran sehingga semakin sulit bagi saya untuk mempercayai kriteria penerimaan siswa baru itu.

Terima bahwa Raito dan Aidan gagal masuk SD? 100%.

Apapun alasannya, nasi sudah menjadi bubur ayam Cirebon. Setelah rasa pedih di hati sirna, kami mencoba menentukan langkah selanjutnya. Menurut kami, berhubung Raito dan Aidan masih berumur 6 (enam) tahun, masuk SD tahun depan pun tidak masalah. Waktu luang yang mereka miliki selama menunggu datangnya tahun ajaran baru itu dapat diisi dengan mengikuti kursus-kursus seperti kursus bahasa Inggris atau komputer. Prinsipnya adalah sekolah boleh ditunda, tapi belajar harus tetap berjalan.

Walaupun begitu, tetap saja ada perasaan yang mengganjal. Istri saya merasa usaha kami belum maksimal dan mengusulkan untuk mencoba mencari SD negeri lain yang masih membuka pendaftaran. Walaupun waktu pendaftaran SD negeri yang kami tahu itu sudah tutup, kami berasumsi masih ada sekolah yang kuotanya belum penuh dan masih menerima pendaftaran di luar waktu pendaftaran yang resmi. Strategi kami pun kami ubah dari mengejar SD negeri unggulan dan cadangan unggulan menjadi mengejar SD negeri terdekat.

Alhamdulillah salah seorang tetangga pernah memberikan informasi SD negeri yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal kami, yaitu SD S (bukan nama sebenarnya). Dengan perasaan harap-harap cemas, kami pun mendatangi SD S. Saat itu, suasana di SD S sangat sepi; tidak ada tanda-tanda penerimaan siswa baru. Kami maklum karena memang waktunya sudah lewat, tapi berhubung gerbangnya terbuka, kami tetap masuk dan mencoba mencari informasi. Alhamdulillah ternyata masih ada seorang guru yang berbaik hati untuk menerima pendaftaran siswa baru. Seorang? Ya, beliau sendirian menangani pendaftaran siswa baru sementara guru-guru lain sedang mengikuti penataran di sekolah lain. Kenapa saya bisa tahu alasannya? Beliau curcol.

Intinya Raito dan Aidan diterima di SD S. Rasa pedih itu memutuskan untuk tidak datang kembali menghampiri hati kami. Baik persyaratan maupun prosedurnya mirip dengan di SD P, Q, dan R. Bedanya adalah di SD S ini, akta kelahiran asli harus diserahkan dan hanya bisa diambil kembali saat daftar ulang. Mengapa begitu? Karena SD S ini sudah terlalu sering menjadi cadangan yang tidak diambil. Dengan begitu panitia penerimaan siswa baru di SD S ini berinisiatif kalau memang orang tua siswa benar-benar berniat mendaftarkan anak mereka di SD S, mereka harus berani meninggalkan akta kelahiran anak mereka yang asli. Tanpa akta kelahiran yang asli, mendaftarkan anak di SD lain menjadi sulit (atau bahkan tidak mungkin). Kenapa saya bisa tahu sejauh ini? Guru tersebut (lagi-lagi) curcol. Selama guru tersebut curcol, saya hanya mesem-mesem sendiri; itu pun di dalam hati.

Selain masalah akta kelahiran asli yang harus diserahkan ke pihak sekolah, prosedur di SD S pun sedikit berbeda. Di SD S ini, calon siswa akan diuji kemampuannya dalam menulis, membaca, dan berhitung. Ujiannya sendiri hanya sedikit (satu halaman A4/Folio) dan penilaiannya tidak terlalu ketat, tapi terlihat sekali bahwa SD S ini lebih mengharapkan kesiapan calon siswa dalam menghadapi pelajaran-pelajaran SD yang berat dibandingkan SD-SD yang sebelumnya saya datangi. Yang juga berbeda di SD S ini adalah masalah biaya. Di SD S ini, saya harus mengeluarkan uang Rp. 20.000 untuk biaya pendaftaran per anak. Jadi saya perlu membayar Rp. 40.000 untuk biaya pendaftaran Raito dan Aidan. Inilah risiko memiliki anak kembar.

Perjuangan saya dan istri saya untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD negeri pun berakhir; dan untungnya berakhir dengan baik. Raito dan Aidan bisa segera melanjutkan sekolah tahun ini dan kami pun tidak perlu terlalu pusing mencarikan kegiatan belajar lain untuk mereka. Selanjutnya bagaimana? Tahap selanjutnya adalah daftar ulang. Entah apa yang harus kami siapkan saat daftar ulang nanti. Semoga saja urusan itu pun berakhir dengan baik.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 16 Februari 2014

Mengejar 6 Mbps

2 opini
Internet Cepat*
Saya sudah berlangganan FirstMedia sejak Raito dan Aidan lahir. Itu artinya saya sudah menjadi pelanggan FirstMedia selama 5,5 tahun lebih. Bahkan selama saya berkali-kali pindah tempat tinggal, saya tetap menjadi pelanggan FirstMedia; sampai detik ini. Tidak pernah ada kendala signifikan selama saya berlangganan FirstMedia. Satu-satunya masalah "besar" yang saya alami adalah masalah kenaikan harga.

Berhubung tidak pernah ada kontrak yang jelas perihal jangka waktu berlangganan, kenaikan harga yang terjadi terkesan sepihak. Tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa biaya sewa bulanan saya akan mengalami kenaikan; untungnya masih ada pemberitahuan. Tentu saja tidak mudah bagi saya untuk menerima kenaikan harga, sehingga masalah kenaikan harga ini berujung pada masalah lain, yaitu sulitnya menghubungi customer service (CS) FirstMedia.

Ceritanya bermula sejak saya pindah ke rumah baru bulan Juni 2013 lalu. Saat itu saya memutuskan untuk kembali memilih FirstMedia sebagai penyedia layanan televisi kabel (produknya bernama HomeCable) dan Internet (produknya bernama FastNet). Saya mulai aktif berlangganan sekitar bulan Juli atau Agustus 2013; saya agak lupa pastinya. Saat itu saya berlangganan paket DLite (salah satu paket kombinasi HomeCable dan FastNet) dengan biaya 280 ribu rupiah per bulan. Tiba-tiba pada bulan Desember 2013 atau Januari 2014, saya menerima surat pemberitahuan mengenai kenaikan harga yang berlaku mulai Februari 2014. Nilai tambah yang paling nyata dari kenaikan harga ini adalah kecepatan Internet akan ditambah dari up to 2 Mbps menjadi up to 6 Mbps.

Walaupun nilai tambahnya menggiurkan, kenaikan harga dari 280 ribu rupiah per bulan menjadi 340 ribu per bulan (belum termasuk PPN 10%) adalah kenaikan harga yang signifikan (baca: sulit untuk dibayar). Saya memutuskan untuk menghubungi CS FirstMedia untuk downgrade ke paket yang lebih murah. CS pertama yang berhasil saya hubungi mengatakan downgrade itu bisa dilakukan ke paket Family yang sewa bulanannya memang lebih murah daripada paket DLite. Konsekuensinya adalah layanan HomeCable akan dikurangi beberapa saluran dan layanan FastNet akan diturunkan menjadi up to 1 Mbps. Kecepatan yang rendah itu membuat saya memutuskan untuk menunda proses downgrade.

Beberapa minggu kemudian, saya berubah pikiran. Saya memutuskan untuk melanjutkan proses downgrade. Saya pun kembali menghubungi CS FirstMedia. Sayangnya informasi yang diberikan CS ini berbeda dengan yang sebelumnya. CS kedua ini mengatakan bahwa proses downgrade itu tidak bisa dilakukan.  Paket Family memang ada, tapi tidak lagi dijual ke pelanggan. Itu artinya yang masih menggunakan paket Family adalah pelanggan-pelanggan lama yang (cukup beruntung) sudah berlangganan paket Family sejak awal mereka berlangganan. Pilihan saya pun akhirnya terbatas menjadi 2, yaitu antara merogoh saku lebih dalam untuk membayar lebih atau memutus langganan FirstMedia. Komunikasi dengan CS FirstMedia pun berakhir.

Beberapa minggu kemudian, tagihan bulanan FirstMedia pun sudah memperlihatkan kenaikan harga. Ya, saya memutuskan untuk tidak memutus langganan. Saya memutuskan untuk mencoba menikmati kecepatan 6 Mbps daripada harus repot-repot mencari penyedia layanan televisi kabel dan Internet yang lain. Ternyata saat saya melakukan pengecekan kecepatan (menggunakan layanan speedtest.net), kecepatan mengunduh masih terbatas di sekitar angka 2 Mbps.

Akhirnya saya kembali menghubungi CS FirstMedia. Lagi-lagi saya mendapatkan informasi baru; sebuah informasi yang seharusnya saya temukan jauh-jauh hari (saat pemberitahuan kenaikan harga). CS yang menerima telepon saya mengatakan bahwa paket DLite ini ada 2 jenis, yaitu paket DLite Lama dan paket DLite Baru. Kecepatan koneksi Internet saya masih terbatas di 2 Mbps karena paket saya masih versi lama. Rupanya membayar dengan harga yang baru tidak otomatis mendapatkan kecepatan 6 Mbps.

Kecepatan 6 Mbps ini akan diberikan sesuai permintaan pelanggan karena konsekuensinya adalah beberapa saluran di layanan HomeCable akan dihentikan. Sepertinya hal ini yang membuat transisi dari 2 Mbps ke 6 Mbps tidak otomatis. Tapi mengapa informasi penting seperti ini tidak langsung disampaikan kepada pelanggan? Kenapa tidak disampaikan lewat surat pemberitahuan kenaikan harga atau kenapa tidak disampaikan melalui email seperti halnya tagihan bulanan? Hal-hal seperti ini justru memancing pelanggan untuk berpikiran negatif, bukan?

Pada akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke DLite Baru dan perjalanan panjang berurusan dengan CS FirstMedia pun (semoga saja) berakhir di sini. Saya tidak terlalu memperhatikan saluran apa saja yang "hilang" dari layanan HomeCable di rumah saya, tapi bisa saya pastikan bahwa kecepatan koneksi Inernet saya sudah meningkat jauh (lihat gambar di samping). Yang saya sayangkan adalah butuh berkali-kali menelepon CS untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dan hasil yang memuaskan seperti ini. Konyol, bukan?

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search