Rabu, 28 Januari 2015

Tiga Semester Bersama MTI GCIO

0 opini
Satu semester, dua semester, dan akhirnya tiga semester kuliah S2 berhasil saya lampaui. Keberhasilan tersebut tentu saja tidak lepas dari berbagai dukungan dan bantuan, baik moril maupun materiil, dari banyak pihak, khususnya dari istri saya sendiri. Ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas dukungan dan bantuan yang saya terima selama tiga semester. Saya hanya bisa berdoa semoga Allah SWT berkenan membalas kebaikan yang telah diberikan kepada saya dengan kebaikan yang lebih besar dan lebih banyak lagi.

Santai dengan Cara Fantastis*
Lalu ada cerita apa di balik semester ketiga perkuliahan saya? Di semester 3, beban kuliah akhirnya menurun. Beban berat yang saya rasakan karena harus mengambil lima mata kuliah di semester 1 dan 2 akhirnya terbayar. Di semester 3, saya hanya perlu mengambil dua mata kuliah dan satu mata kuliah spesial, yaitu karya akhir (tesis). Kalau dibandingkan dengan mahasiswa dari kelas reguler yang harus mengambil empat mata kuliah dan tesis (agar dapat lulus dalam tiga semester), beban kuliah saya jelas lebih ringan.

Di semester 3, frekuensi begadang saya terbilang rendah sehingga waktu tidur saya menjadi lebih teratur. Waktu di akhir pekan masih saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau mengulang materi-materi kuliah, tapi intensitasnya masih lebih rendah dibandingkan semester 1 dan 2. Saya pun tidak direpotkan dengan membuat proposal tesis karena proposal tesis yang sudah saya susun di semester 2 diterima oleh dosen pembimbing. Saya hanya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian kecil di beberapa bagian proposal saya. Intinya waktu yang saya miliki di semester 3 untuk diri sendiri, istri, dan anak-anak pun menjadi lebih banyak dibandingkan semester-semester sebelumnya.

Sayangnya kondisi "santai" itu hanya bertahan selama satu bulan. Setelah tiba waktunya untuk mulai mengerjakan tesis, yaitu saat proposal sudah disetujui secara resmi dan diterima oleh sekretariat, intensitas perkuliahan kembali meningkat. Peningkatan intensitas perkuliahan tersebut awalnya berjalan perlahan. Frekuensi begadang tidak mendadak melonjak tinggi, waktu akhir pekan tidak mendadak habis untuk urusan kuliah, dan waktu saya ke kantor (untuk mengerjakan tesis) pun masih teratur. Peningkatan intensitas perkuliahan di bulan kedua masih dapat saya kelola dengan baik.

Panik mulai menyerang saya di bulan ketiga karena perkembangan tesis saya di bulan sebelumnya meleset jauh dari target akibat munculnya kendala terkait perangkat lunak. Berhubung tesis (penelitian) saya terkait erat dengan perangkat lunak yang tersedia di kantor, perkembangan penelitian saya pun sangat bergantung pada ketersediaan perangkat lunak tersebut. Saya tidak pernah menduga bahwa pada saat yang sama dengan jalannya penelitian saya, proses pemeliharaan perangkat lunak tersebut juga dijadwalkan untuk berjalan. Saya pun harus mengalah karena proses pemeliharaan tersebut tidak dapat ditunda. Kepentingan kantor jelas lebih utama dibandingkan kepentingan satu orang mahasiswa. Singkat cerita, bulan kedua berubah menjadi bulan yang mengecewakan. Data yang saya butuhkan memang berhasil saya kumpulkan, tapi langkah penelitian selanjutnya setelah pengumpulan data itu belum berjalan sama sekali.

Hal positif di balik tersendatnya penelitian itu adalah saya bisa mencurahkan waktu untuk mengerjakan tugas-tugas dari dua mata kuliah lainnya, khususnya dari mata kuliah MITI yang tugasnya justru menumpuk di awal hingga tengah semester. Hal positif lainnya adalah saya punya lebih banyak waktu untuk memperkaya hasil tinjauan pustaka yang menjadi dasar penelitian saya. Walaupun begitu, hal-hal positif itu tidak mengubah fakta bahwa penelitian saya berjalan di tempat.

Up, up, and away!*
Bulan ketiga pun menjadi bulan untuk melakukan akselerasi penelitian. Saya pun harus memaksakan diri untuk mengerjakan penelitian saya di sore dan malam hari. Ada kalanya saya harus datang saat semua orang pulang dan pulang saat tidak ada satu orang pun yang tersisa di kantor. Ada kalanya bahkan saya bingung membagi waktu karena terbentur dengan jadwal kuliah di malam hari. Untungnya rekan-rekan kerja di kantor cukup kooperatif sehingga bersama berbagai kesulitan yang saya hadapi itu hadir pula berbagai kemudahan.

Dampak dari vakumnya bulan kedua adalah waktu yang saya butuhkan untuk melakukan percobaan dalam penelitian saya pun semakin terbatas. Akselerasi yang saya lakukan di bulan ketiga masih belum memadai sehingga saya harus bisa memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk penelitian saya. Pada akhirnya setiap hari Sabtu dan Minggu pun saya memaksakan diri untuk bekerja di kantor. Awalnya saya mengajak anak-anak saya untuk menemani saya bekerja. Sayangnya kerja saya justru tidak optimal bila ditemani anak-anak. Akhirnya istri saya yang menawarkan diri untuk menemani saya menghabiskan akhir pekan saya di kantor. Walaupun saya merasa sungkan, tawaran itu tetap saya terima. Akhirnya di bulan keempat itu saya dan istri saya lebih banyak menghabiskan akhir pekan kami di kantor saya.

Pada akhirnya, intensitas perkuliahan di semester 3 tetap lebih tinggi daripada semester-semester sebelumnya. Waktu dan energi yang diperlukan untuk melampaui semester 3 jelas lebih banyak daripada semester-semester sebelumnya. Biaya perkuliahan pun meningkat secara signifikan di semester 3, khususnya biaya yang terkait dengan tesis. Saya hanya bisa bersyukur bahwa semuanya bisa saya lampaui dengan baik tanpa perlu menambah satu semester lagi.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Sabtu, 20 September 2014

Bermain Di Khan Academy

1 opini
Selagi sempat...

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya menggunakan Khan Academy. Bagi yang belum tahu, Khan Academy adalah sebuah situs belajar online (daring) yang menyediakan materi dari berbagai subyek seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Computing (Pemrograman). Situs tersebut dapat diakses di www.khanacademy.org. Saat ini, situs tersebut memungkinkan penggunanya untuk login dengan membuat akun baru atau menggunakan akun Facebook atau akun Google yang sudah dibuat sebelumnya. Saya sendiri memilih untuk menggunakan akun Google (tidak membuat akun baru) agar inventaris akun saya tidak semakin menumpuk.

Kembali ke Khan Academy.

Logo Khan Academy*
Yang membuat saya tertarik untuk menggunakan Khan Academy adalah metode belajarnya yang interaktif; tidak hanya bersifat satu arah. Khan Academy tidak hanya menyediakan video-video yang dapat diakses penggunanya kapan pun dan di mana pun (asalkan terhubung ke Internet), tapi juga memungkinkan penggunanya untuk mencoba sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari melalui sistemnya. Metode belajar interaktif ini memang merupakan salah satu kelebihan sistem belajar daring sebagaimana saya paparkan sebelumnya di dalam tulisan saya Potensi Besar Sistem Belajar Online.

Yang disayangkan adalah metode belajar interaktif tersebut belum (atau memang "tidak") mencakup semua subyek yang ditawarkan Khan Academy. Saat ini, metode belajar interaktif ini hanya diterapkan untuk 2 (dua) subyek, yaitu Matematika dan Pemrograman. Saya sudah mencoba menjelajahi kedua subyek tersebut di Khan Academy dan proses belajarnya memang menyenangkan. Keseluruhan prosesnya yang saya maksud "menyenangkan"; bukan karena banyaknya badge (lencana) yang berhasil saya raih.

Yang lebih menarik lagi adalah fitur mastery challenge di subyek Matematika. Tidak seperti di subyek Pemrograman yang konsepnya masih diatur secara sequential (berurutan), fitur mastery challenge di subyek Matematika memungkinkan saya untuk menguji pengetahuan Matematika saya saat ini sehingga Khan Academy bisa merekomendasikan topik yang tepat untuk saya pelajari. Semakin sering saya menggunakan fitur tersebut, semakin akurat topik yang direkomendasikan untuk saya.

Cuplikan Mastery Challenge
Masih banyak hal menarik lainnya di dalam Khan Academy, tapi lebih baik tidak saya beberkan di sini. Untuk sebuah pengalaman yang menarik, akan lebih baik bila dicoba sendiri ketimbang diceritakan oleh orang lain. Saya yakin masing-masing orang akan menemukan pengalaman uniknya sendiri dalam menggunakan salah satu situs belajar daring yang menyenangkan itu.

Tapi ceritanya belum selesai.

Satu hal unik lagi di Khan Academy yang ingin saya bagi lewat tulisan ini adalah fitur coaching (bimbingan) yang ditujukan bagi para pendidik (baca: guru) dan para orang tua. Saat saya mengetahui ada fitur tersebut (seingat saya sekitar pertengahan Juli), waktunya bertepatan dengan masuknya 2 (dua) anak pertama saya ke kelas 1 SD. Saya pun segera membuatkan akun-akun baru untuk kedua anak saya agar mereka bisa segera mulai mengakses dan menggunakan Khan Academy.

Hingga saat ini, kedua anak saya masih antusias untuk "bermain" di Khan Academy. Awalnya saya mengajak mereka sesekali waktu saat the one and only laptop di rumah saya sedang tidak saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau menonton film. Saat ini, saat intensitas kuliah saya sedang turun, saya mencoba jadwal rutin bermain di Khan Academy untuk kedua anak-anak saya: 30-60 menit setiap 2 (dua) hari. Alhamdulillah mereka tidak bosan dan senantiasa bersemangat untuk bermain di Khan Academy.

Saat ini, kedua anak saya masih berkutat di bagian Early Math, yaitu bagian dari subyek Matematika yang ditujukan untuk anak kelas 1 SD. Ada beberapa konsep yang bisa mereka pahami dengan mudah, sementara beberapa konsep lainnya butuh waktu lebih lama untuk mereka pahami. Untuk konsep-konsep yang bisa mereka pahami dengan mudah, anak-anak saya bisa belajar secara mandiri. Hanya saja untuk menerjemahkan bahasa Inggris yang menjadi bahasa utama di Khan Academy itu mereka masih harus dibantu. Sementara untuk konsep-konsep yang tidak mudah mereka pahami, peran saya atau istri saya menjadi lebih besar. Selain membantu menerjemahkan bahasa Inggris, kami harus turun tangan membantu mereka memahami konsep-konsepnya. Hal ini memang agak merepotkan, tapi saat mereka sudah mulai paham, mereka bisa kembali mencoba belajar secara mandiri.

Secara garis besar, ada beberapa hal yang saya rasakan selama anak-anak menggunakan Khan Academy, yaitu:
  • Anak-anak saya masih butuh didampingi, tapi selama saya mendampingi mereka, saya harus hati-hati agar tidak memaksa mereka untuk menjawab dengan benar. Penting untuk saya ingat bahwa anak-anak harus terbiasa berbuat salah dan terus mencoba lagi agar kemandirian belajar mereka bisa terbentuk. Bila kemandirian belajar ini tidak tercapai, anak-anak saya tidak akan bisa menggunakan Khan Academy tanpa kehadiran saya. Kondisi ini justru meniadakan kelebihan sistem belajar daring yang ditawarkan Khan Academy.
  • Ada kalanya intervensi untuk menjawab soal yang sulit dijawab oleh anak-anak itu perlu saya lakukan. Hal ini saya lakukan dalam rangka mengajarkan cara menjawab soal yang mereka hadapi. Dalam kondisi seperti ini, mereka memang berhasil menjawab soal karena saya bantu, tapi Khan Academy hanya menganggap anak-anak sudah mulai memahami sebuah konsep kalau mereka berhasil menjawab  5 (lima) pertanyaan sejenis secara berturut-turut. Jadi, intervensi yang saya lakukan pada dasarnya tidak mengganggu proses belajar anak-anak saya.
  • Anak-anak perlu dibiasakan untuk memahami pertanyaan yang diberikan dan tidak menjawab hanya berdasarkan pola atau hafalan. Hal ini kerap terjadi saat anak-anak saya menggunakan Khan Academy dan menurut saya hal ini berbahaya karena berhasil menjawab pertanyaan tanpa pemahaman yang baik akan membuat fondasi belajar mereka keropos. Pada akhirnya, mereka sering kesulitan menjawab soal dengan pola yang berbeda walaupun konsepnya sama. Contohnya mereka bisa menjawab pertanyaan tentang penambahan yang soalnya dilengkai gambar/ilustrasi, tapi mereka kesulitan menjawab pertanyaan tentang penambahan yang soalnya hanya berisi teks.
  • Perhatian anak-anak pun perlu dialihkan dari pencapaian-pencapaian seperti lencana atau nilai yang umumnya didapat lewat mastery challenge. Mereka masih perlu diarahkan untuk mencoba konsep-konsep lain, misalnya yang direkomendasikan oleh Khan Academy itu sendiri. Kadang anak-anak saya malas mencoba yang lain karena dianggap terlalu sulit. Di sinilah salah satu peran penting saya sebagai orang tua, yaitu mendorong agar anak justru mau mencoba yang sulit dan berusaha memahaminya. "Kalau cuma ngerjain yang sudah ngerti sih bukan belajar dong namanya," begitu kira-kira kalimat yang sering saya lontarkan saat mereka menghindari konsep yang sulit di Khan Academy.
Masih banyak pengalaman menarik lain yang bisa saya bagi lewat tulisan ini, tapi saya rasa paparan di atas sudah cukup banyak. Intinya baik saya maupun anak-anak menikmati waktu yang kami habiskan di Khan Academy. Dalam konteks bimbingan, Khan Academy jelas membantu saya mengawasi perkembangan belajar anak-anak saya. Kalaupun saya tidak bisa terus-menerus menemani mereka bermain di Khan Academy, saya masih bisa memantau perkembangan anak-anak saya lewat sebuah dashboard yang dirancang khusus untuk para pendidik dan orang tua.

Dashboard yang berisi perkembangan belajar anak-anak
Lewat dashboard tersebut, saya bisa melihat apa saja yang sudah dikerjakan anak-anak saya, apa saja yang berhasil mereka kuasai, apa saja yang sulit mereka kuasai, dan berbagai informasi lainnya. Gambar di atas hanya menyediakan ringkasan perkembangan, tapi rinciannya tetap dapat diakses dengan mudah oleh saya. Tidak mungkin saya paparkan satu per satu informasi yang bisa saya dapatkan lewat dashboard tersebut. Yang pasti, dashboard tersebut sangat membantu saya dalam memahami perkembangan belajar anak-anak saya. Dashboard ini menjadi nilai tambah tak tergantikan yang saya dapatkan dari Khan Academy.

Ada begitu banyak pengalaman menarik selama saya menggunakan Khan Academy, baik untuk belajar sendiri maupun untuk membiasakan anak-anak saya belajar secara mandiri. Tulisan ini pada akhirnya hanya menggambarkan sedikit saja dari pengalaman menyenangkan tersebut. Satu hal yang pasti, Salman Khan sudah berhasil mendapatkan 3 (tiga) tambahan pengguna yang puas menggunakan sistem yang dikembangkannya.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Senin, 07 Juli 2014

Dua Semester Bersama MTI GCIO

6 opini
Semester 2 yang saya jalani di Program Beasiswa MTI (Magister Teknologi Informasi) GCIO (Government Chief Information Officer) sudah berakhir sejak pertengahan Juni lalu. Intensitas belajar langsung turun drastis. Waktu luang di akhir pekan tidak lagi saya habiskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau memperdalam materi-materi kuliah berikutnya. Waktu yang bisa saya curahkan untuk istri dan anak-anak saya pun langsung naik drastis. Jangankan akhir pekan, waktu di hari kerja pun bisa saya habiskan untuk bermain bersama anak-anak atau membantu istri dengan berbagai perintilan urusan rumah tangga.

Semester 2 di Program Beasiswa MTI GCIO memang edan! Intensitas perkuliahan dapat dikatakan jauh lebih tinggi daripada semester sebelumnya, padahal di semester sebelumnya saya pribadi sudah merasa kesulitan untuk mengimbangi derasnya arus perkuliahan. Mengapa begitu? Perbedaan mendasar yang membuat intensitas perkuliahan di semester 2 ini menjadi lebih tinggi daripada semester 1 adalah karena perkuliahan di semester 2 ini lebih mengarahkan mahasiswa pada isu-isu yang strategis. Hal ini, menurut saya, lebih sulit untuk dipahami dibandingkan isu-isu teknis yang harus dipahami di semester 1, apalagi banyak dari isu-isu teknis itu sudah saya hadapi dalam dunia kerja.

Tumpukan buku dan laptop*
Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 seperti Manajemen Informasi Korporat (MIK), Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI), dan Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi (PITI) mengarahkan mahasiswa untuk berpikir secara komprehensif. Mahasiswa tidak lagi dihadapkan dengan isu-isu pragmatis seperti perancangan sistem informasi, perancangan sistem basis data, atau perancangan jaringan komputer. Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 ini justru "memaksa" para mahasiswa untuk melihat dan memahami berbagai isu teknologi informasi dari sudut pandang sebuah organisasi/perusahaan. Semua isu-isu teknis memang tidak serta-merta diabaikan, tapi penekanannya sangat kuat di isu-isu strategis.

Tidak kalah menantangnya adalah mata kuliah Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah (MPPI). Walaupun sifat dasar dari mata kuliah ini agak berbeda dengan mata kuliah-mata kuliah yang saya sebutkan di atas, orientasinya tetap saja sama. MPPI ini memang lebih diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk melakukan penelitian di karya akhirnya nanti, tapi berhubung karya akhir mahasiswa Program MTI, baik Program MTI Reguler maupun Program Beasiswa MTI GCIO, bersifat terapan, studi kasus yang diangkat di karya akhir masing-masing mahasiswa pun umumnya sebuah organisasi/perusahaan (umumnya tempat bekerja dari mahasiswa terkait). Alhasil mata kuliah MPPI ini tidak hanya mengarahkan mahasiswa untuk berpikir logis dan sistematis, tapi juga untuk berpikir strategis.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya, apa susahnya berpikir strategis? Kesulitan pertama adalah bagaimana merubah pola pikir dari yang awalnya hanya berpikir tentang masalah-masalah teknis di depan mata menjadi berpikir tentang masalah-masalah perusahaan mulai dari tingkat pimpinan sampai tingkat staf. Kesulitan kedua adalah bagaimana agar pola pikir yang sudah berubah itu dapat diterapkan dalam dunia nyata. Kesulitan ketiga adalah bagaimana agar perubahan pola pikir dan penerapannya itu dapat diterapkan dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Intinya adalah bagaimana memahami berbagai materi perkuliahan yang terbilang asing, menuangkannya dalam berbagai tugas individu dan tugas kelompok yang menguras waktu dan tenaga, seraya mengatur waktu yang dimiliki agar semua materi dan tugas dari keempat mata kuliah tersebut bisa dipahami dan dikerjakan dengan baik (baca: tidak asal selesai).

Masih ada 1 tantangan lain, yaitu mata kuliah ke-5. 4 mata kuliah yang sudah saya ceritakan di atas adalah mata kuliah wajib sehingga wajib juga diambil oleh mahasiswa Program MTI Reguler. Khusus untuk mahasiswa Program Beasiswa MTI GCIO diwajibkan mengambil 5 mata kuliah. 4 mata kuliah wajib tersebut ditambah 1 mata kuliah pilihan. Saya sendiri memilih mengambil Data Mining & Business Intelligence (DMBI) karena selaras dengan minat saya. Terlepas dari itu, juggling 5 mata kuliah tentu saja bukan hal yang mudah. 4 mata kuliah wajib itu saja sudah menguras begitu banyak waktu. Tambahan 1 mata kuliah pilihan itu tentu saja akan memberikan beban tambahan kepada beban kuliah yang sudah terlampau berat.

Sebegitu beratnya kuliah di semester 2 itu?

Ya, memang berat. Tapi "berat" di sini bukan berarti tidak bisa dilampaui dengan baik. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meringankan beban kuliah di semester 2 itu. Pertama, untuk mata kuliah MIK, fokusnya ada pada pemahaman materi. Metode belajar yang terpusat pada mahasiswa membuat mata kuliah ini penuh dengan diskusi (dan pada akhirnya interpretasi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah mengupas buku teksnya secara tuntas; bukan hanya materinya, tapi juga studi kasus yang ada di dalam buku itu. Sayangnya liburan semester lalu tidak saya manfaatkan untuk melakukan ini.

Kedua, untuk mata kuliah PSSI, fokus utamanya adalah pada tugas kelompok, yaitu membuat dokumen perencanaan strategis sistem informasi untuk sebuah organisasi/perusahaan. Di sini pemahaman materi pun tidak kalah penting dengan mata kuliah MIK karena tugas kelompok itu tidak akan selesai dengan baik tanpa memahami keterkaitan antara elemen-elemen dalam proses perencanaan strategis terkait. Lalu kenapa fokus utamanya justru pada tugas dan bukan pada pemahaman materi? Karena porsi waktu yang diperlukan untuk menggali informasi dalam studi kasus itu kemungkinan akan lebih banyak. Kita perlu menuangkan proses bisnis, data, sistem informasi, infrastruktur, dan struktur organisasi pengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ada di dalam organisasi/perusahaan yang menjadi objek studi kasus kita. Ini bukan tugas mudah, apalagi kalau yang mahasiswa-mahasiswa yang bersangkutan tidak memiliki posisi strategis (hanya staf) di dalam organisasi/perusahaan tersebut. Lagi-lagi saya menyayangkan karena tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk menggali informasi-informasi ini.

Ketiga, untuk mata kuliah MPPI, fokus utamanya adalah bagaimana berpikir logis dan sistematis dalam membuat proposal karya akhir. Saya dan banyak teman-teman kuliah saya senantiasa tersandung di sini. Tugas sudah selesai dikerjakan; sebagian bahkan berhasil menulis dengan tingkat ketebalan proposal yang membuat saya tercengang. Akan tetapi, tetap saja hasilnya tidak memuaskan. Penyebabnya adalah kesalahan cara berpikir yang mengakibatkan proposal karya akhir yang dibuat menjadi tidak logis dan tidak sistematis. Masalah yang dikemukakan harus jelas dan didukung dengan fakta yang kuat dan objektif. Pertanyaan yang perlu dijawab melalui penelitian, tujuan penelitian, judul karya akhir, dan teori-teori yang dituangkan di dalam proposal harus nyambung dengan masalah yang sudah dirumuskan. Metodologi penelitian yang diusulkan pun tidak bisa sembarangan; pemilihan metodenya harus memiliki landasan teori dan alasan pemilihan yang logis. Percaya bila saya katakan semua hal itu tidak mudah, kecuali kita memang sudah berpengalaman dalam membuat proposal penelitian. Dosen pengajarnya bahkan menegaskan bahwa orang-orang yang sudah terbiasa membuat proposal (baca: proposal proyek) pun belum tentu akan lancar menulis proposal karya akhir dalam kuliah MPPI ini. Sayangnya saya tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk memperdalam pola pikir logis dan sistematis ini.

Keempat dan kelima, untuk mata kuliah PITI dan DMBI, santai! Kuliah PITI ini seperti dirancang untuk mengimbangi beban berat dari MIK + PSSI + MPPI. Kuis dan tugas individu tidak ada. Tugas kelompok memang ada, tapi isinya merupakan bagian dari isi tugas PSSI. Kalau kita bisa menemukan objek studi kasus yang "tepat", mengerjakan tugas PSSI sudah terhitung mengerjakan sebagian besar tugas PITI. Memang masih ada yang perlu disiapkan untuk tugas PITI ini, tapi tetap terbilang santai. Kuliah DMBI pun tidak jauh berbeda dengan PITI, tapi berhubung dosen pengajar mata kuliah DMBI ini tidak selalu sama setiap semester, ada kemungkinan santainya kuliah DMBI ini sangat dipengaruhi oleh faktor dosen pengajar tersebut. Walaupun begitu, bukan berarti saya meremehkan 2 mata kuliah tersebut. PITI dan DMBI memiliki bobotnya sendiri, tapi bila disandingkan dengan MIK, PSSI, dan MPPI, beban di 2 mata kuliah tersebut justru terasa ringan.

Menarik, bukan?

Satu hal yang pasti, semua mata kuliah di semester 2 itu, termasuk DMBI yang terkesan bersifat teknis, memberi dampak yang sangat besar terhadap cara berpikir saya, khususnya dalam mengarahkan saya untuk berpikir strategis, logis, dan sistematis (3-is). Dapat saya katakan bahwa perubahan besar dalam diri saya yang saya dapatkan di semester 2 itu jauh lebih besar dibandingkan yang saya dapatkan di semester 1. Perubahan yang saya rasakan bukan hanya dalam konteks bekerja, tapi dalam kehidupan secara umum. Luar biasa, bukan? Silakan dicoba sendiri.

Demikian "ulasan" kuliah semester 2 dalam Program Beasiswa MTI GCIO. Harapan saya adalah tulisan ini menjadi pengingat agar para mahasiswa Program MTI yang akan menghadapi semester 2 lebih siap dalam menghadapi terpaan materi dan tugas yang siap menghempaskan mereka. Semoga saja harapan ini menjadi kenyataan. Aamiin.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search