Minggu, 29 Mei 2016

Boat Cruise dan Spence

0 opini
Judul asli: Minggu VI di Canberra: Boat Cruise dan Spence
-- 
Akhir pekan ke-6 di Canberra ini tidak dihiasi dengan banyak aktivitas. Saya menghabiskan hari Sabtu dengan sedikit pekerjaan dan banyak tidur siang, tapi hari Minggu saya menyempatkan diri mengajak istri dan anak saya berkeliling danau Burley Griffin di tengah kota Canberra. Aktivitas yang tepat untuk melepas kepergian musim gugur di tahun ini.

Kapal untuk Berkeliling Danau Burley Griffin
Kapten Kapal Memberi Narasi Sepanjang Perjalanan
Pemandangan di Sekitar Danau
Berkeliling danau Burley Griffin di atas kapal itu menarik bukan hanya karena pemandangannya. Pemandangannya memang menarik, tapi pengetahuan dan wawasan si Pemilik Kapal tentang Canberra (yang dituangkan lewat narasinya) justru lebih menarik lagi. Selama perjalanan, si Pemilik Kapal tidak hanya memperlihatkan berbagai gedung atau tugu peringatan, tapi juga menceritakan banyak kisah (sebagian lucu) di balik bangunan-bangunan tersebut.

Setelah menghabiskan sekitar 1 jam di atas danau, demi memuaskan rasa ingin tahu saya, kami bergegas menuju ke sebuah musala di daerah Spence. Musala Spence ini masuk ke dalam daftar tempat shalat yang pernah saya kunjungi di Canberra setelah prayer room di kantor, function room di Theo Notaras Multicultural Centre ("centre", bukan "center"), Masjid Canberra, dan sport hall di Australian National University. Target berikutnya adalah sebuah masjid di Gungahlin yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.

Bagian Dalam Musala Spence
Ruang Baca di Musala Spence
Selain 2 aktivitas di atas, tidak ada lagi hal yang istimewa di akhir pekan ini. Tak apalah. Paling tidak tulisan kali ini tidak lagi panjang seperti beberapa tulisan sebelumnya. Bagi yang ingin melihat foto-foto lain seputar suasana di Canberra, silakan cek tautan ini: https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98

Minggu, 22 Mei 2016

National Arboretum, Old Bus Depot Markets, dan Fyshwick

0 opini
Judul asli: Minggu V di Canberra: Arboretum, Bus Depot, dan Fyshwick
-- 
Di akhir pekan ke-5 di Canberra, saya menyempatkan diri untuk mengajak istri dan anak saya mengunjungi National Arboretum. Sesuai namanya, tempat wisata ini penuh dengan pepohonan sejauh mata memandang. Sayangnya, berhubung kami mengandalkan bus lokal untuk bepergian, kami hanya sempat melihat National Bonsai and Penjing Collection dan Margaret Withlam Pavilion.

National Bonsai and Penjing Collection
Bonsai Paling Menarik yang Pernah Saya Lihat
Rupanya National Bonsai and Penjing Collection memiliki koleksi yang terbilang banyak. Terus terang baru pertama kali saya melihat bonsai sebanyak itu. Awalnya saya pikir bonsai itu hanya bonsai, yaitu tanaman yang dibuat dalam bentuk kecil, tapi saya salah. Ternyata bonsai itu karya seni dan butuh puluhan tahun untuk membuat bonsai menjadi karya seni yang menarik. Di Jakarta ada tempat wisata sejenis tidak ya?

Margaret Whitlam Pavilion pun tidak kalah menarik. Bangunan tersebut sebenarnya bukan bagian dari atraksi karena bangunan tersebut merupakan bangunan yang disewakan untuk keperluan pribadi. Pengunjung memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam, tapi membayangkan mengadakan resepsi pernikahan di situ sepertinya menarik. Sayangnya saya sudah menikah dan sepertinya konyol kalau saya dan istri saya harus mengadakan resepsi pernikahan lagi.

Margaret Whitlam Pavilion dari Kejauhan
Tampak Depan Margaret Whitlam Pavilion
Satu hal lagi yang menarik di National Arboretum adalah Pod Playground. Tempat bermain anak-anak itu tidak terlalu luas, tapi cukup memuaskan bagi anak-anak. Sayangnya satu-satunya sarana bermain yang bisa digunakan gadis mungil berusia tiga tahun hanya ayunan. Atraksi lainnya hanya bisa dinikmati oleh anak-anak SD.

Pod Playground
The Pod!
Keesokan harinya (Minggu), kami memutuskan untuk berkunjung ke Fyshwick. Fyshwick adalah daerah di sebelah barat Canberra. Di daerah itu, ada sebuah pasar bernama Fyshwick Fresh Food Markets. Tapi sebelum kami mengunjungi pasar tersebut, ada pasar lain yang kami kunjungi sebelumnya, yaitu Old Bus Depot Markets.

Old Bus Depot Markets
Bagian Dalam Old Bus Depot Markets
Old Bus Depot Markets ini hanya buka setiap hari Minggu dan barang-barang yang dijual lebih banyak produk lokal. Produk-produk yang dijual bervariasi mulai dari pakaian, lukisan, perhiasan, hingga makanan. Rasanya tepat bila istri saya mengatakan pasar ini seperti pasar kaget. Sayangnya tidak ada yang bisa membuat saya atau istri saya mengeluarkan uang dari dompet kami. Mungkin lain kali.

Setelah menghabiskan hampir satu jam berkeliling di pasar tersebut, kami pun pindah ke pasar berikutnya, Fyshwick Fresh Food Markets. Alasan kami mengunjungi Fyshwick lebih cenderung kepada kewajiban. Kami sudah mengunjungi 3 mata angin Canberra, yaitu daerah selatan (Tuggeranong), utara (Gungahlin), dan barat (Belconnen). Dengan mengunjungi Fyshwick di timur Canberra, lengkap sudah petualangan kami di Australian Capital Territory.

Fyshwick Fresh Food Markets 
Half Chicken dan Chicken Burger
Tujuan utama kami di Fyshwick Fresh Food Markets adalah toko bernama Halal Poultry. Sebagaimana berbagai toko halal di Canberra, Halal Poultry juga menjual daging-daging mentah yang halal. Bedanya toko ini juga menjual makanan siap saji sehingga kami memutuskan untuk mencoba memakan ayam goreng dan burger ayam. Bagaimana kesannya? Porsinya besar, daging ayamnya lembut, harganya terbilang murah. Layak untuk menjadi alternatif tempat makan halal di daerah Fyshwick.

Demikian akhir pekan ke-5 saya di Canberra. Entah cerita apa yang bisa saya tuangkan di pekan berikutnya. Biar waktu yang menentukan.

--
Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini: https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98

Minggu, 15 Mei 2016

Dari ATO hingga Cockington Green Gardens

0 opini
Judul asli: Minggu IV di Canberra: ATO, Parliament House, dll
--
Sudah 4 minggu saya bermukim di Canberra, tapi saya belum pernah benar-benar menceritakan dalam rangka apa saya ada di sini. Ada yang sebegitu penasaran mengenai hal tersebut sampai rela bertanya dan meladeni ngeles-nya saya di Twitter. Terus terang, saya pun akan penasaran saat mengetahui bahwa saya tiba-tiba terbang dan bermukim di Canberra karena saya memang bukan tipe orang yang suka bepergian. Saya butuh alasan yang kuat untuk pergi keluar kota, apalagi keluar negeri. Dan alasan yang kuat untuk bermukin di Canberra adalah pe-ker-ja-an.

Salah satu bentuk hubungan kerja sama antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Australian Taxation Office (ATO) yang baru saja dibentuk adalah program secondment. Menurut Google Translate, secondment dapat diartikan "penugasan", "penempatan", atau "diperbantukan". Saya termasuk salah satu pegawai DJP yang ikut serta dalam program secondment tersebut. Jadi, dapat dikatakan bahwa saat ini saya sedang diperbantukan di ATO. Sebagai apa? Sebagai kuli kode. Mengerjakan apa? Migrasi sebuah aplikasi agar mendukung teknologi terbaru. Aplikasi dan teknologi apa? Rahasia.

Saya tidak mungkin berbagi informasi terkait pekerjaan saya di ATO, tapi saya bisa berbagi sedikit tentang suasana kerja di sini. Satu hal yang paling menonjol di ATO adalah waktu kerja yang fleksibel. Durasi kerja per hari adalah 7 jam 21 menit. Kami memiliki keleluasaaan untuk datang dan pergi selama kantor dibuka, yaitu antara jam 7 pagi dan jam 7 malam, asalkan kami mampu memenuhi durasi kerja per hari tersebut. Saya memilih jam kerja yang konsisten dari pukul 08:10 hingga 16:30 (durasi kerja 7 jam 20 menit dikurangi waktu istirahat 1 jam). Cukup menyenangkan bukan?

Ruangan kerja di kantor ATO tempat saya bekerja terbilang nyaman. Salah satu alasannya karena cubicle para pegawai benar-benar lengang sehingga privasi lebih terjaga dan ruang gerak pun lebih luas. Break room yang disediakan untuk pegawai pun fully-furnished dengan microwave, toaster, coffee maker, refrigerator, dan vending machine. Pemandangan ke luar break room pun menarik. Berhubung gedung kantor tempat saya bekerja ada di tengah kota Canberra dan posisinya melintang dari utara ke selatan, pemandangan di luar jendela break room dihiasi dengan Black Mountain (di break room sisi timur) atau Mount Ainslie (di break room sisi barat). Silakan dilihat foto-fotonya di bawah ini.

Mount Ainslie (diambil dari break room sisi barat)
Black Mountain (diambil dari break room sisi timur)
(Di balik kaca) Ruang Printer dan Mesin Fotokopi
Fully Furnished Break Room
Break Room
My Cubicle
(Satu-satunya) Prayer Room
Prayer Room yang disediakan untuk para pegawai muslim tidak jauh berbeda dengan musola yang banyak ditemukan di gedung-gedung kantor dan pusat perbelanjaan di Jakarta. Akan tetapi, prayer room ini cukup terawat sehingga jauh dari kesan kotor dan sumpek. Fungsinya lebih cenderung seperti masjid karena di ruangan itu para pegawai muslim "janjian" untuk melaksanakan shalat berjamaah di awal waktu; bukan sekedar tempat shalat kelas dua yang digunakan saat tidak sempat ke masjid. Adzan pun turut dikumandangkan di prayer room ini.

Secara keseluruhan, bekerja di ATO melalui program secondment cukup menyenangkan. Tentu saja ada faktor-faktor lain selain ruangan kerja dan fleksibilitas jam kerja yang membuat hal tersebut menyenangkan, tapi saya tidak mungkin menceritakannya di sini. Sebagian tidak bisa saya ceritakan, sebagian lainnya tidak pantas pula saya ceritakan.

Lalu bagaimana dengan acara akhir pekan kali ini?

Akhir pekan kali ini terbilang padat karya. Sabtu siang, salah seorang pegawai ATO bernama Hari berkenan menemani (baca: mengantar menggunakan mobilnya untuk menemani) saya dan rekan-rekan saya untuk berkeliling kota Canberra. Ada 3 tempat yang kami kunjungi bersama Hari, yaitu Parliament House, National Museum, dan Mount Ainslie. Masing-masing tempat wisata itu memiliki daya tarik tersendiri.

Dengan mendatangi Parliament House, kita bisa membayangkan perkembangan pemerintahan di Canberra dan apa saja yang mereka hasilkan. Ada banyak hal yang dipamerkan di Parliament House, tapi hal yang paling menarik bagi saya adalah Apology to Australia's Indigenous Peoples (Kenapa ada "s" setelah "people" ya?), yaitu sebuah permintaan maaf resmi dari parlemen Australia (yang mewakili seluruh Australia) kepada penduduk asli Australia (Aborigin).

Apology to Australia's Indigenous Peoples
Bagian lain dari Parliament House yang juga menarik adalah bagian atap. Saya tidak menyangka bahwa bagian atap gedung itu dihiasi oleh rerumputan sehingga terlihat menyatu dengan pemandangan kota Canberra. Menurut penjelasan Hari, kondisi tersebut dirancang untuk menegaskan bahwa para anggota parlemen (yang ada di dalam gedung) berada di bawah masyarakat Canberra (dan warga negara Australia secara keseluruhan). Posisi "di bawah" itu menunjukkan tugas para anggota parlemen, yaitu menopang kehidupan seluruh warga negara Australia.

Pemandangan dari Atap Parliament House
Lokasi berikutnya adalah National Museum. Kalau kita mau melihat berbagai hal menarik di Australia, di sini tempatnya. National Museum menampilkan berbagai hal unik yang ada di Australia mulai dari entah kapan di masa lampau. Tempat ini juga memiliki 2 bagian yang menarik untuk anak-anak, yaitu Kspace dan area bermain yang tidak saya ingat namanya.

Area Bermain (yang tidak saya ingat namanya)
Kspace
Bagaimana dengan Mount Ainslie? Kami tiba di sana sekitar pukul 6 sore dan hari sudah mulai gelap. Jadi kami bisa melihat kota Canberra yang bercahaya di malam hari. Pemandangannya tentu saja indah. Sayangnya hanya itu saja yang menarik dari Mount Ainslie malam itu. Mungkin kalau kami datang lebih siang, kami masih sempat menjelajahi gunung tersebut dan bertemu dengan kangguru.

Canberra dari Puncak Mount Ainslie
Beacon di Puncak Mount Ainslie
Setelah Mount Ainslie, Hari mengantar kami kembali ke apartemen. Pengalaman yang menyenangkan di hari Sabtu tanpa harus sibuk mencari jadwal dan rute bus. Selesai? Belum. Keesokan harinya (Minggu), saya bersama keluarga saya (ya, ganti tim) menyempatkan diri mengunjungi Cockington Green Gardens. Cockington Green Gardens pada dasarnya "hanya" sebuah taman yang berisi miniatur bangunan-bangunan megah dari berbagai kota dan negara. Daya tarik utamanya adalah kereta mini yang dapat ditumpangi pengunjung untuk berkeliling di dalam taman tersebut. Sayangnya kami kurang beruntung karena kereta mini itu justru sedang tidak beroperasi saat kami berkunjung.

Cockington Green Gardens Official Car?
Miniatur Candi Borobudur
Sekian.

Foto-foto lainnya, seperti biasa, dapat dilihat di sini: https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98

Minggu, 08 Mei 2016

ANU, Telstra Tower, dan Gungahlin

0 opini
Judul asli: Minggu III di Canberra: ANU, Telstra Tower, dan Gungahlin
--
Minggu ini saya memutuskan untuk merasakan suasana shalat Jumat yang diselenggarakan di Australian National University (ANU). Setelah hampir setengah jam jalan kaki dari kantor, saya berhasil menemukan tempat shalat Jumat itu. Lokasinya memanfaatkan salah satu lapangan basket di sport hall. Suasananya terbilang menarik karena sudah lama sekali sejak saya shalat Jumat bersama dengan para mahasiswa. Sayangnya sound system yang digunakan kurang nendang sehingga khutbah Jumat tidak terdengar jelas.

Pasca Shalat Jumat di Lapangan Basket ANU
Waktunya Beres-Beres
Setelah shalat Jumat, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lingkungan kampus ANU. Lingkungannya benar-benar membuat saya rindu dengan masa-masa kuliah di kampus UI Depok. Banyak bangunan-bangunan unik, pohon di sana-sini, sarana olah raga siap pakai, dan yang paling penting, sebuah musala kecil sebagai pusat kegiatan mahasiswa muslim di ANU.

Computer Science & Information Technology
(Kalau Tidak Salah) Gedung Penelitian Kimia
Fellows Oval
Pusat Kegiatan Mahasiswa Muslim
ANU Bebas Rokok
Centre for Arab & Islamic Studies
Beralih ke Telstra Tower. Setelah mempelajari seluk-beluk rute dan jadwal bus, saya memberanikan diri mengajak istri dan anak saya ke Telstra Tower, salah satu bangunan khas di Canberra, yang berada di puncak Black Mountain. Kami ke sana dengan bus 981 yang merupakan tourist loop, yaitu bus yang rutenya dirancang untuk melewati tempat-tempat wisata di Canberra. Perjalanan di dalam bus itu seperti sedang bepergian ke luar kota, terutama saat bus itu meliuk-liuk menuju ke puncak Black Mountain.

Telstra Tower
Miniatur Telstra Tower
Pesawat Telepon Kuno yang Dipamerkan di Telstra Tower
Indoor Viewing Deck
Puncak Telstra Tower dari Open Viewing Deck
Pemandangan dari Open Viewing Deck
Kotak Pos Tertinggi Di Canberra
Hari Jumat ke ANU, hari Sabtu ke Telstra Tower, lalu hari Minggu ke mana? Setelah minggu lalu kami menjelajahi daerah selatan Australian Capital Territory (ACT), yaitu daerah Tuggeranong, hari Minggu ini kami memutuskan untuk bepergian ke daerah utara ACT, yaitu daerah Gungahlin. Sayangnya hujan tidak kunjung berhenti, kami pun hanya menyempatkan diri mampir ke beberapa tempat belanja seperti The Reject Shop, Coles, Pacifik Halal Meats, dan Aldi untuk memuaskan rasa ingin tahu kami terhadap produk-produk yang halal atau murah.

Satu hal menarik terjadi di Coles. Kasir tempat kami membayar belanjaan kami adalah seorang muslimah yang ramah. Saat dia melihat kami membeli sebungkus beef jerky, dia langsung bertanya kepada kami. "Is this for you?" Begitu tanya si Kasir. "It's not halal." Begitu penjelasan singkat yang diberikannya. Sayangnya saya sudah lebih dulu berselancar menemukan informasi bahwa beef jerky itu halal. Setelah kami memperlihatkan logo halal di balik bungkusnya, dia langsung tersenyum.

Area Parkir Dekat Aldi Gungahlin
Hujan yang Tak Kunjung Berhenti
Jack Link's Beef Jerky Berlogo Halal
Demikian pengalaman saya selama minggu ketiga di Canberra. Masih ada lebih banyak cerita lagi seiring waktu saya tinggal di Canberra hingga 8-9 minggu ke depan. Insya Allah. Seperti biasa, foto-foto lain yang sempat saya ambil dapat diakses di https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98.

Minggu, 01 Mei 2016

Beradaptasi di Canberra

0 opini
Judul asli: Minggu II di Canberra: Adaptasi dan ANZAC
-- 
Minggu kedua di Canberra pun berakhir. Cerita utama di minggu kedua ini adalah tentang adaptasi, tapi sebelumnya saya mulai dulu dengan berbagi cerita tentangan peringatan hari ANZAC. Hari ANZAC, yang diperingati setiap tanggal 25 April di Australia dan Selandia Baru, dapat disamakan dengan hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November di Indonesia. Saya beruntung dapat melihat langsung (melalui monitor super besar) parade para veteran perang Australia di Australian War Memorial.

Barisan Parade Pembuka Upacara ANZAC
Beberapa Saat Sebelum Barisan Parade Bergerak
Monitor Super Besar untuk Mereka yang Terlambat Datang
Parade berjalan agak lama karena memang ada banyak veteran perang yang ikut menghadiri parade tersebut. Saya pribadi salut dengan antusiasme warga Canberra untuk menghadiri parade tersebut. Tidak hanya para orang tua yang hadir di situ. Saya melihat banyak anak-anak dan remaja-remaja yang ikut hadir mengikuti parade tersebut. Mereka rela berpanas-panasan untuk memperingati perjuangan para tentara mereka di berbagai medan perang. Australia definitely remembers.

Beralih ke cerita utama, adaptasi di Canberra tidak bisa dibilang mudah, tapi untungnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Masjid dan musala bukanlah hal yang lazim di Canberra, tapi saya beruntung karena kantor Australian Taxation Office (ATO) tempat saya bekerja masih menyediakan sebuah prayer room yang dapat digunakan untuk shalat. Sebuah wash room pun disediakan sehingga saya (dan pegawai muslim lainnya) tidak perlu menggunakan wastafel di toilet untuk berwudhu.

Bagaimana dengan shalat Jumat? Masjid Canberra letaknya cukup jauh dari kantor ATO tersebut, tapi saya beruntung karena salah satu komunitas Islam di Canberra menyelenggarakan shalat Jumat di sebuah aula yang letaknya tidak jauh dari kantor ATO tempat saya bekerja. Jumat di minggu pertama, saya melaksanakan shalat Jumat di aula itu. Jumat minggu kedua, saya menebeng kendaraan salah satu pegawai muslim ATO untuk shalat di Masjid Canberra. Pada intinya, saya mendapatkan kemudahan dalam hal melaksanakan shalat. Akan tetapi, berhubung adzan jarang (atau hampir tidak pernah) terdengar, saya harus mengandalkan aplikasi untuk mengingatkan saya akan waktu shalat.

Tempat Bermain Di Pekarangan Masjid Canberra
Tantangan adaptasi yang lebih besar justru muncul saat mencari makanan halal. Menemukan makanan halal di Canberra tidak semudah membalik bungkus makanan dan menemukan sertifikat halal. Saya harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, baik dari teman-teman yang pernah tinggal di Australia, pegawai-pegawai muslim di kantor ATO, atau sekedar googling ke situs-situs yang dapat dipercaya. Produk-produk yang kemasannya mencantumkan sertifikat halal memang ada, tapi kabarnya ada sejenis gerakan boikot yang membuat sebagian produsen memilih untuk tidak mencantumkan sertifikat tersebut di kemasan produk mereka. Kondisi yang sama sepertinya juga berlaku untuk restoran-restoran yang tersebar di berbagai penjuru Canberra. Untungnya masih ada toko seperti Jabal Halal Market dan restoran seperti PappaRich yang menjual bahan makanan dan makanan halal sehingga mencari makanan halal di Canberra tidak perlu dianalogikan dengan mencari jarum di tumpukan jerami.

Contoh Produk dengan Sertifikat Halal di Kemasannya
Selain soal shalat dan makanan, masih ada beberapa hal lain yang melengkapi "indahnya" proses adaptasi di Canberra, seperti toilet yang hanya dilengkapi tisu (tanpa air untuk cebok) atau cuaca musim gugur yang terasa dingin saat matahari ada di atas kepala kita. Akan tetapi, belum ada satu pun yang dapat dikatakan sebagai penghalang. Semua tantangan beradaptasi bisa teratasi dengan baik. Semoga saja kondisi seperti ini terus bertahan hingga waktunya saya pulang kembali ke Indonesia pertengahan Juli nanti. Aamiin.

Sebelum saya tutup tulisan ini, saya ceritakan dulu soal saya "ditodong" A$ 5 oleh seorang wanita. Saat itu pukul 6 sore. Saya dalam perjalanan pulang sehabis belanja bersama teman-teman saya. Berhubung apartemen kami tidak jauh dari pusat perbelanjaan, kami hanya perlu jalan kaki untuk belanja kebutuhan-kebutuhan harian. Di sebuah perempatan jalan, saat kami sedang menunggu lampu hijau untuk menyeberang jalan, tiba-tiba seorang wanita menghampiri saya. Tanpa basa-basi, dia langsung meminta A$ 5 dari saya untuk "get a drink". Saya spontan menolak, tapi, karena lampu hijau itu tak kunjung menyala, wanita itu terus saja meminta uang dari saya. Seiring penolakan dari saya, alasannya berubah dari "get a drink" menjadi "find something to eat" dan dari tidak punya uang menjadi punya A$ 4. Di dalam hati saya hanya berpikir, "Ini lampu kapan hijaunya siiih?"

Teman-teman saya sengaja tidak menggubris wanita itu. Saya pribadi mencoba untuk tidak menggubris. Beberapa warga lokal yang juga menunggu untuk menyeberang pun tidak menggubris wanita itu. Sayangnya determinasi wanita itu untuk mendapatkan A$ 5 cukup kuat untuk terus-menerus memborbardir saya dengan "I only need 5 dollars," atau "Why can't you help me, mate." Sampai akhirnya lampu hijau untuk menyeberang itu menyala dan wanita itu langsung berbalik sambil berkata "Okay." Waktu yang tadinya terasa berjalan lambat berubah menjadi normal kembali saat lampu hijau itu menyala. Dan saya pun berjalan menuju kebebasan. Fiuh!

Sebenarnya ada insiden serupa tapi tak sama dengan insiden di atas, yaitu saat seorang wanita mendekati saya, istri saya, dan si Kecil, lalu tiba-tiba berkata, "This is my family!" Saat itu, saya langsung teringat dengan si Wanita 5 Dolar. Saya dan keluarga saya segera berjalan menjauh. Wanita itu sempat mengikuti kami sambil berteriak, "... my family," berkali-kali. Untungnya tidak ada lampu hijau penyeberangan jalan yang harus kami tunggu sehingga wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk mengakui kami sebagai keluarganya.

Itu saja yang bisa saya ceritakan kali ini. Bila kondisinya memungkinkan, saya akan kembali berbagi cerita tentang Canberra di waktu dan tempat yang sama. Untuk mengakses foto-foto yang saya ambil selama saya di Canberra, silakan cek album online ini: https://goo.gl/photos/AB7nnRW6Fbkpeav98.