Selasa, 21 Desember 2010

Mengenali Masalah Anak dengan ROCCIPI

0 opini
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tentang Hukum dan Kebijakan Publik. Salah satu topik yang dibahas di dalam pelatihan itu adalah metode ROCCIPI. Metode ROCCIPI ini adalah sebuah metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Jangan sampai sebuah peraturan baru diterbitkan, tapi tidak menyelesaikan masalah sosial yang ada.

Tulisan ini tidak akan membahas mengenai hukum dan kebijakan publik atau penerapan ROCCIPI dalam mengenali masalah sosial tersebut. Tulisan ini justru ingin memperlihatkan bagaimana metode ROCCIPI itu dapat diterapkan dalam mengenali -dan pada akhirnya mengatasi- masalah dalam keluarga; terutama yang terkait dengan anak-anak.

ROCCIPI adalah singkatan dari Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, dan Ideology. Metode ini mengidentifikasi sumber masalah dari 7 (tujuh) sudut pandang, yaitu peraturan, kesempatan, kapasitas, komunikasi, minat, proses, dan ideologi. Masing-masing sudut pandang itu diteliti lebih jauh untuk menemukan sumber masalah sosial yang terjadi.

Sudut pandang di atas pun dapat diterapkan dalam mengenali masalah dalam keluarga. Misalkan anak kita mulai merokok. Apakah ini sebuah masalah dalam keluarga? Kalau memang iya, coba kita analisa sumber masalahnya dengan metode ROCCIPI. Contoh pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah sebagai berikut:
  1. Apakah aturan dalam keluarga memperbolehkan anak kita merokok?
  2. Apakah kondisi yang menyebabkan anak kita mendapatkan kesempatan untuk merokok?
  3. Apakah anak kita memang memiliki kapasitas untuk merokok?
  4. Apakah kita (orang tua) kurang mengkomunikasikan bahaya merokok?
  5. Mengapa anak kita berminat merokok?
  6. Bagaimana bentuk pemahaman anak kita tentang rokok?
Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu dapat diperluas atau diperdalam tergantung dari masalah yang dihadapi dan kondisi saat masalah itu terjadi.

Yang ingin saya garis bawahi sebenarnya bukan pada 7 (tujuh) sudut pandang tersebut. Yang lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua adalah bagaimana caranya melihat sebuah masalah secara komprehensif. Orang tua pada umumnya melihat sebuah masalah terjadi karena kurangnya peraturan. Padahal pada kenyataannya, peraturan itu hanya menjadi salah satu sumber masalah.

Mungkin saja faktor kuat masalah merokok di atas adalah kesempatan. Dengan begitu yang perlu dilakukan adalah membantu anak kita mengurangi interaksi dengan lingkungan perokok. Mungkin saja faktor lain adalah komunikasi atau kapasitas. Anak kita mungkin belum paham mengenai bahaya merokok atau kita kurang mengkomunikasikan bahaya merokok kepada anak kita.

Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam memecahkan masalah keluarga. Orang tua sebaiknya tidak terpaku pada peraturan dan peraturan saja. Metode ROCCIPI ini menegaskan bahwa sumber masalah itu tidak hanya terkait dengan peraturan dan masalah pun dapat diselesaikan tanpa harus membuat peraturan yang baru.

Perlu diperhatikan bahwa dengan sekedar menerapkan peraturan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan sekedar membuat peraturan, kita gagal melihat sumber masalah dan pada akhirnya gagal menyelesaikan masalah dari sumbernya. Dalam kondisi memaksakan peraturan seperti itu, pelanggaran terhadap peraturan kemungkinan besar akan terjadi karena sumber masalahnya masih ada.

Menjadi orang tua yang tegas, adil, dan konsisten bukan berarti menjadi orang tua yang terus-menerus membuat dan menerapkan aturan untuk mengarahkan dan mengatasi masalah dalam keluarganya. Seperti halnya metode ROCCIPI di atas, kita perlu berusaha menemukan sumber masalah dalam keluarga dan mencoba menyelesaikan masalah langsung dari sumbernya.

Rabu, 15 Desember 2010

Tegas, Adil, dan Konsisten

2 opini
Saya bukan bermaksud untuk kampanye atau bermaksud membicarakan tentang pemilihan umum. Tiga kata di atas memang dapat dijadikan kriteria pemimpin yang baik, tapi dalam tulisan ini saya bermaksud untuk berbagi tentang pola mendidik anak; tepatnya anak laki-laki.

Tegas
Tegas bukan berarti keras. Ini adalah salah satu kesalahan persepsi yang umum. Saya mendefinisikan tegas sebagai sikap kuat dalam mempertahankan pendapat, tapi pada saat yang bersamaan juga berpikiran terbuka. Menjadi ayah yang tegas berarti menyampaikan keinginan kita dan mengatur perilaku anak seraya mendengarkan apa yang ada dalam pikiran anak itu sendiri.

Bila kita hanya mendengarkan apa yang ada dalam pikiran kita sendiri, ini berarti kita sedang menjadi ayah yang keras. Umumnya kondisi ini akan menjadi lebih parah bila kita mudah marah. Yang terjadi saat anak kita menolak keinginan kita adalah bentakan atau bahkan pukulan terhadap anak. Kondisi inilah yang membuat hubungan ayah dan anak memburuk.

Akan tetapi bila kita terlalu sering mendengarkan kemauan anak, ini sama saja dengan membesarkan anak untuk menjadi pribadi yang manja. Anak kita akan memiliki semakin banyak kemauan dan akan semakin sulit mendengarkan kata-kata kita sebagai ayahnya. Kondisi ini seringkali berujung pada bentakan atau bahkan pukulan seperti di atas.

Ayah yang keras atau anak yang manja bukanlah hasil yang kita harapkan. Untuk itulah kita perlu mengedepankan sikap tegas karena ketegasan itu adalah jalan tengah untuk menghasilkan ayah yang pengertian dan anak yang penurut. Dua hal itu adalah bentuk nyata keberhasilan mendidik anak yang diharapkan baik oleh si Ayah maupun oleh si Anak.

Adil
Untuk menjadi seorang ayah yang tegas itu harus bersikap adil. Sikap adil ini memiliki korelasi yang kuat dengan sikap tegas, karena tidak mungkin seorang ayah menemukan jalan tengah saat berseberangan dengan anaknya tanpa sikap adil. Hal ini disebabkan karena anak kita membutuhkan aturan yang adil. Tanpa aturan yang adil ini, kemungkinan besar anak kita akan berontak.

Setiap sebab ada akibat, setiap pilihan ada konsekuensi, setiap aksi ada reaksi. Aturan main tersebut perlu kita kedepankan, baik terhadap anak kita atau terhadap diri kita. Itu artinya saat kita menginginkan sesuatu, kita perlu merelakan sesuatu. Sebaliknya saat anak kita menginginkan sesuatu, anak kita pun perlu merelakan sesuatu.

Saat keinginan anak datang bertubi-tubi, kita atasi dengan pilihan. Anak-anak saya sering meminta lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Pada saat seperti ini, saya memberikan pilihan. Umumnya saya meminta anak-anak saya untuk memilih setengah dari apa yang mereka mau atau paling tidak saya meminta mereka memilih satu dari apa yang mereka mau. Dalam hal ini, selain berusaha untuk bersikap tegas dan adil, saya juga ingin mengajarkan anak saya untuk tidak serakah.

Saat keinginan kita berseberangan dengan keinginan anak, kita atasi juga dengan memberikan pilihan. Contohnya saat kita ingin istirahat dan anak kita minta digendong. Dalam kondisi seperti ini saya kerap membuat pilihan. Dalam contoh istirahat dan gendong tadi, saya meminta anak saya untuk memilih dipangku atau tidak digendong sama sekali. Kemungkinannya anak saya benar-benar memilih adalah 50-50. Kadang anak saya setuju untuk dipangku, kadang anak saya kekeuh minta digendong. Biasanya saya memberi bonus di pilihan pangkuan itu, misalnya dengan menyuapi makanan atau sambil bermain. Dengan begitu kemungkinan anak-anak saya bersedia dipangku menjadi besar.

Konsisten
Bersikap tegas dan adil memang tidak mudah. Dua contoh kecil di atas pun tidak bermaksud untuk memberi kesan mudah dalam mengatur dan mendidik anak. Meminta anak saya untuk memilih 2 dari 4 atau 1 dari 2 pilihan mereka bukanlah hal yang mudah. Meminta anak saya untuk memahami kondisi kita sehingga mau menerima tawaran pilihan dari saya juga bukan hal yang mudah. Akan tetapi, konsistensi pada sikap tegas dan adil di atas sangat membantu.

Untuk membuat sikap tegas dan adil itu membuahkan hasil dalam proses mendidik anak, kita membutuhkan sikap konsisten. Saat kita sudah memberikan pilihan, usahakan untuk tidak merubahnya. Hindari mengingkari janji memberikan sesuatu kepada anak. Hindari membuat anak kecewa karena dia tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Hindari menarik kembali hukuman yang seharusnya diterima oleh anak. Hindari membuat anak ngelunjak karena menganggap ancaman hukuman dari kita hanya gertak sambal.

Sikap tegas, adil, dan konsisten adalah tiga sikap yang saya tekankan pada diri saya saat mendidik kedua anak laki-laki saya.[1] Hal ini disebabkan karena anak laki-laki memiliki kecenderungan untuk patuh kepada aturan yang dibuat oleh orang yang dihormati mereka. Anak laki-laki membutuhkan aturan yang jelas untuk mengarahkan hidup mereka dan aturan itu harus merupakan aturan yang adil. Oleh karena itu saya merasa perlu bersikap tegas, adil, dan konsisten dalam membuat aturan main dalam keluarga.

Hindari menuruti semua keinginan anak dan hindari pula memaksakan semua keinginan kita sebagai ayah. Dengarkan apa keinginan anak dan -bila memungkinkan- sampaikan pula keinginan kita. Dengan begitu kita sudah membuka jalan untuk menjadi seorang ayah yang tegas dengan aturan yang adil. Setelah itu kita pertahankan langkah kita menuju sikap tegas dan adil itu dengan bersikap konsisten.

Itu saja yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini. Semoga dapat membantu pembaca, terutama diri saya sendiri, dalam mendidik anak laki-laki mereka. Saat tulisan ini dibuat, kedua anak laki-laki hampir mencapai usia 2 tahun 6 bulan. Saya masih memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mempelajari dan menerapkan pola pendidikan anak yang baik; insya Allah.

--
[1] Perlu diperhatikan bahwa cara mendidik anak perempuan sebaiknya dibedakan dengan cara mendidik anak laki-laki, tapi saya tidak akan membahasnya dalam tulisan ini.

Selasa, 07 Desember 2010

Tahun Baru, Semangat Baru

0 opini
Momentum. Saya yakin semua orang pernah menggunakan kata ini. Setiap orang memiliki waktu dan kesempatan masing-masing untuk dijadikan tonggak atau penanda untuk sebuah perubahan yang umumnya berjalan ke arah yang lebih baik. Ibarat tim nasional sepakbola Indonesia yang ingin menjadikan AFF Suzuki Cup 2010 sebagai momentum untuk membuktikan bahwa mereka dapat dibanggakan oleh setiap warga negara Indonesia.

Tanggal 1 Muharram 1432 H ini pun dapat dijadikan momentum untuk perbaikan karakter, semangat, dan orientasi dalam hidup kita masing-masing. Kita dapat melihat satu tahun -atau bertahun-tahun- ke belakang untuk menemukan kelemahan-kelemahan yang dapat kita perbaiki dan kekuatan-kekuatan yang dapat kita asah lebih lanjut. Dalam waktu yang sama, kita dapat melihat kesempatan-kesempatan yang belum sempat kita jamah dan peluang-peluang lain yang dapat kita lakukan.

Entah itu dalam peran kita sebagai suami, ayah, anak, saudara, atasan, bawahan, rekan kerja, pengusaha, pemilik saham, atau berbagai peran lainnya, selalu ada waktu untuk introspeksi demi masa depan yang lebih baik. Bahkan dalam masing-masing peran itu pun masih banyak parameter lain yang dapat kita perbaiki atau kita tingkatkan kualitasnya. Hal ini khususnya berlaku untuk diri saya sendiri.

Saya bermaksud mengurangi kebiasaan saya untuk membaca manga. Saya benar-benar harus melakukan kontrol yang kuat untuk kebiasaan ini karena metode Kendali Kosong tidak dapat saya terapkan. Untuk seri-seri yang panjang, kebiasaan ini bisa menghabiskan waktu yang signifikan. Sementara saya sendiri merasa waktu untuk membaca manga itu dapat saya manfaatkan untuk membaca buku yang lebih bermanfaat.

Hal lain yang ingin saya lakukan adalah mempelajari bahasa Arab. Bukan karena saya akan bekerja di daerah yang menggunakan bahasa Arab, tapi karena saya merasa mempelajari bahasa Arab akan membuat saya lebih menikmati Al Qur'an. Saya kerap merasa bahwa mengerti apa yang tersurat -atau tersirat- dalam Al Qur'an akan menjadi nilai tambah yang signifikan dalam menikmati lantunan ayat-ayat Al Qur'an.

Masih ada hal lain yang ingin saya capai, tapi saya tidak ingin tulisan ini menjadi terlalu panjang. Dua contoh di atas saya paparkan dengan maksud untuk menegaskan bahwa "Semangat Baru" yang tercantum dalam judul tulisan ini memang merupakan refleksi dari harapan saya sendiri.

Satu hal lain yang pasti adalah perubahan dalam perilaku blogging. Seperti yang pernah saya tulis di Tutup Tahun Blogging pada akhir tahun lalu, blogging merupakan alternatif yang sehat untuk menyalurkan waktu luang saya. Namun akhir-akhir ini saya merasakan aktifitas blogging saya semakin tidak terkontrol dan tanpa arahan yang jelas. Niat saya untuk saat ini adalah lebih fokus pada beberapa blog saja, terutama asyafrudin.blogspot.com dan asyafrudin.posterous.com, karena saya merasa kedua blog itu yang paling merepresentasikan diri saya. Dengan "spesialisasi" seperti ini, seharusnya nilai tambah kedua blog itu dapat meningkat.

Masih banyak hal lain yang ingin saya sampaikan terkait dengan semangat baru ini, tapi saya yakin hal itu akan membuat tulisan ini bertele-tele. Tulisan ini ingin saya buat seringkas mungkin dengan maksud berbagi semangat baru di tahun baru Hijriyyah kali ini. Semoga kita semua senantiasa menjadi orang-orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang hari esoknya lebih baik dari hari ini.

Minggu, 05 Desember 2010

Kendali Kosong (Zero Control)

2 opini
The best form of control is not having to control anything.
Bentuk pengendalian yang terbaik adalah dengan tidak mengendalikan apa pun. Dengan tidak mengendalikan apa pun, pengendalian yang kita lakukan dipastikan akan berjalan sempurna tanpa ada kegagalan sedikit pun. Kita tidak akan kesulitan mengendalikan candu bila kita tidak kecanduan. Kita tidak akan kesulitan mengendalikan kebiasaan kita bila kita tidak memiliki kebiasaan itu.

Bentuk pengendalian seperti itu (untuk selanjutnya kita sebut Kendali Kosong) memang bukan hal yang berlaku untuk banyak kondisi karena memiliki kecenderungan pasif atau bahkan negatif. Kalau kita berniat untuk tidak mengendalikan apa pun, itu sama saja dengan mengatakan kita berniat untuk tidak melakukan apa pun dalam hidup kita. Hal ini sama saja dengan sikap pemalas atau bahkan sama saja dengan tidak memiliki kehidupan.

Salah satu kondisi di mana metode Kendali Kosong ini saya terapkan adalah dalam berinteraksi dengan situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter memungkinkan kita untuk mendekatkan yang jauh. Kita bisa berkomunikasi dengan semua teman kita walaupun jarak kita dengan teman-teman kita terpisah jauh. Komunikasi jarak jauh itu bisa kita lakukan dengan mudah, murah, dan -dalam beberapa kasus tertentu- menyenangkan.

Sayangnya akibat dari mendekatkan yang jauh itu, kita -secara sadar atau tidak sadar- dapat menjauhkan yang dekat. Tanpa kita sadari, kita bisa jadi sibuk dengan situs jejaring sosial itu di saat kita sedang berkumpul dengan keluarga kita. Pada akhirnya dunia maya menjadi lebih nyata ketimbang dunia nyata itu sendiri.

Lalu bentuk Kendali Kosong yang saya bicarakan ada di mana? Bentuk Kendali Kosong itu ada pada keputusan saya untuk tidak menggunakan smart phone seperti BlackBerry atau iPhone. Smart phone itu jelas mempermudah kita untuk mengakses situs jejaring sosial. Mudah dibawa, tidak perlu repot menyalakan dan mematikan, dan senantiasa terhubung ke Internet -kalau kita berlangganan. Dengan tidak memiliki smart phone, akses ke situs jejaring sosial sudah pasti terbatas. Saya tidak mungkin membawa netbook ke mana pun saya pergi. Sementara smart phone bahkan dapat dibawa ke (maaf) toilet.

Terlepas dari situs jejaring sosial, saya juga senang menghabiskan waktu dengan bermain game. Ini adalah satu alasan lain bagi saya untuk tidak memiliki smart phone. Saya tidak mau membentuk refleks membuka smart phone untuk bermain game saat saya misalnya sedang menunggu bersama istri saya, karena waktu menunggu itu bisa jadi lebih berharga bila saya manfaatkan untuk mengobrol dengan istri saya. Contoh lain adalah saat rapat. Tentu kecenderungan untuk tidak memperhatikan isi rapat yang membosankan akan menjadi lebih besar dengan kehadiran smart phone.

Contoh-contoh di atas tentu saja sifatnya spesifik, yaitu berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu dan subjektif terhadap diri saya sendiri. Selain itu saya juga tidak bermaksud menafikan manfaat dari situs jejaring sosial dan kepemilikan smart phone. Saya yakin ada banyak manfaat dari smart phone karena kalau tidak mereka mungkin akan diberi nama "not so smart phone" atau "stupid phone" atau "silly phone" atau berbagai nama aneh lainnya.