Selasa, 28 Juni 2011

Nasi dan Lauk dalam Pernikahan

3 opini
Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan seorang kenalan. Diskusi dilakukan secara virtual di sebuah jejaring sosial yang namanya diawali dengan huruf F dan diakhiri dengan huruf K. Diskusi yang dimaksud lebih tepat dikatakan berbalas komentar. Lebih tepat lagi kalau dikatakan komentar satu arah, bukan diskusi, karena panjangnya komentar saya benar-benar mendominasi.

Dalam obrolan virtual itu kami membicarakan makanan pokok dan makanan sampingan. Untuk selanjutnya, makanan pokok akan saya sebut nasi dan makanan sampingan akan saya sebut lauk. Saat itu kami membicarakan posisi nasi dan lauk dalam hubungan suami istri. Tentu saja yang dimaksud dengan nasi dan lauk di sini bukan nasi dan lauk dalam arti sebenarnya, tapi nasi dan lauk ini adalah perumpamaan. Sesuatu yang sifatnya pokok dalam hubungan suami istri, kami umpamakan nasi. Sesuatu yang sifatnya sampingan dalam hubungan suami istri, kami umpamakan lauk.

Untuk menjaga hubungan rumah tangga yang baik, nasi dan lauk memiliki peranan yang sama-sama penting. Keduanya diperlukan untuk membentuk hubungan suami istri yang kuat, harmonis, dan penuh kemesraan. Di awal pernikahan, nasi dan lauk akan terlihat begitu menggiurkan dan memuaskan untuk dihabiskan. Lambat laun rasa bosan pun datang. Bila makanan yang tersedia tidak bervariasi, suami atau istri mungkin akan berpikiran mencari variasi di luar rumah masing-masing.

Kalau lauk saja yang bermasalah, hubungan suami istri mungkin saja tetap bertahan. Sayangnya kemesraan yang ada di awal pernikahan dapat dipastikan akan memudar dengan segera karena suami atau istri sibuk mencari lauk di luar rumah masing-masing. Kondisi yang sama akan terjadi bila nasi yang tersedia pun bermasalah. Suami atau istri pun akan sibuk mencari nasi di tempat yang lain.

Walaupun begitu, nasi yang bermasalah akan memberi dampak negatif yang lebih besar lagi. Kalau yang pokok saja tidak tersedia sesuai harapan, kemungkinannya sangat besar seseorang akan memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Jadi dengan nasi yang bermasalah ini, kemungkinan terjadinya perceraian akan bertambah besar secara signifikan. Kalau pun tidak terjadi perceraian, suami dan istri yang terkait akan kesulitan menemukan alasan untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Oleh karena itu, nasi dan lauk itu harus diperhatikan oleh orang-orang yang menginginkan hubungan pernikahan yang kuat, harmonis, dan senantiasa mesra. Untuk hubungan pernikahan seperti ini diperlukan nasi dengan kualitas yang baik dan lauk dengan variasi yang tepat. Jangan karena sudah menikah, suami atau istri serta-merta memaksakan slogan "terima apa adanya" ke pasangan mereka. Slogan ini seharusnya digunakan sebagai pilihan terakhir. Yang perlu kita pikirkan terlebih dahulu adalah bagaimana membuat nasi dan lauk dalam pernikahan ini senantiasa menggiurkan dan memuaskan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai nasi dan lauk itu tertukar. Jangan sampai makanan pokok dan makanan sampingan itu tertukar karena keduanya memiliki peranan yang berbeda. Nasi itu berfungsi sebagai sumber energi utama. Sementara lauk memiliki fungsi sebagai pelengkap atau penyedap rasa. Keduanya sama-sama penting, tapi masing-masing memiliki derajat urgensi yang berbeda.

Contoh kongkrit dari nasi dan lauk ini antara lain akhlak dan kecantikan. Akhlak adalah pokok dan kecantikan adalah sampingan. Akhlak yang baik itu penting. Tampil cantik di depan suami pun tak kalah pentingnya. Walaupun begitu, akhlak yang baik tetap lebih diutamakan daripada kecantikan yang berfungsi sebagai pelengkap.

Kalau seorang istri hanya mengandalkan akhlak yang baik, suami akan mencari kecantikan di luar rumah. Pada kenyataannya, kecantikan ini dapat dengan mudah ditemukan tanpa dicari. Kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kemesraan dalam hubungan pernikahan antara suami dan istri akan segera memudar. Ini alasannya kenapa setiap istri perlu berusaha untuk terlihat cantik di depan suaminya.

Kalau sampai akhlak yang baik pun tidak ada dalam diri istri, suami akan lebih mudah lagi meninggalkan rumah. Kali ini yang dicari bukan sekedar kecantikan, tapi justru pengganti istri. Saat seseorang kehilangan hal yang pokok dalam hidupnya, pelengkap sebanyak apa pun tak akan pernah cukup. Dalam kondisi ini, kecantikan istri tidak lagi penting. Suami akan mencari wanita dengan akhlak yang lebih baik dengan kecantikan yang tidak jauh berbeda dengan istrinya. Bukan hanya kemesraan yang akan memudar di sini, tapi hubungan suami istri yang terjalin pun kemungkinan besar akan retak atau bahkan putus.

Yang pokok dan yang sampingan harus sama-sama dijaga sesuai dengan porsi dan prioritasnya. Porsi dan prioritas di sini mungkin berbeda untuk masing-masing pasangan. Bisa jadi hal-hal yang termasuk pokok dan hal-hal yang termasuk sampingan pun berbeda untuk masing-masing pasangan. Akhlak dan kecantikan di atas adalah contoh dari sudut pandang saya sendiri. Jangan sampai kita terpaku pada dua hal itu saja.

Saya mengambil kecantikan sebagai contoh pelengkap pun tanpa maksud tertentu. Kita bisa mengambil ketampanan sebagai contoh pelengkap dari sudut pandang seorang wanita. Ini pun sifatnya masih subjektif. Mungkin menjadi tampan bukan hal yang penting bagi para istri, tapi saya yakin suami yang berpenampilan menarik di depan istri dapat menjadi penyedap dalam hubungan suami istri.

Masih ada banyak contoh lain yang dapat kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesabaran istri dalam merawat anak-anak atau kemampuan suami menghidupi keluarga adalah contoh hal-hal pokok. Paras yang cantik atau kulit yang putih adalah contoh hal-hal sampingan. Semuanya perlu dijaga sesuai porsi dan prioritasnya dalam hubungan suami istri masing-masing pasangan. Tujuan akhirnya tentu saja demi mencapai hubungan pernikahan yang kuat, harmonis, dan senantiasa penuh kemesraan.

Jumat, 17 Juni 2011

Kembar Tapi Tak Sama

0 opini
30 hari dari sekarang, Raito dan Aidan akan berumur 3 tahun. Keduanya lahir pada tanggal 17 Juli 2008. Mereka adalah anak kembar dari saya dan istri saya yang pertama --dan insya Allah yang terakhir. Alhamdulillah mereka berdua lahir dalam keadaan sehat. Kehadiran mereka berdua telah menambah berkah ke dalam keluarga saya.

Walaupun kembar, Raito dan Aidan tidak pernah terlihat mirip. Mereka lahir dengan kondisi fisik yang berbeda. Aidan memiliki berat dan tinggi badan lebih dibandingkan Raito --yang saat ini dipanggil Abang karena keluar lebih dulu. Warna kulit Raito lebih putih dari Aidan. Wajah mereka pun sama sekali tidak terlihat mirip.

Membedakan Raito dan Aidan itu sangat mudah, walaupun mereka masih berumur 1 hari di dunia ini. Baik saya maupun istri saya tidak mengalami kesulitan membedakan mereka. Kita tidak perlu repot-repot mencari tanda seperti tahi lalat atau sejenisnya untuk membedakan mereka. Yang repot justru menegaskan perbedaan ini kepada orang-orang yang menganggap mereka sulit dibedakan.

Seiring waktu mereka bertambah besar, perbedaan mereka pun semakin menonjol. Perbedaan mereka terlihat mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Model rambut, bentuk wajah, mata, alis, hidung, mulut, postur tubuh, berat badan, tinggi badan, dan berbagai aspek fisik lainnya dari Raito dan Aidan itu tidak terlihat sama. Satu-satunya yang sama dari mereka mungkin hanya pakaian.

Pakaian yang sama pun sebenarnya bukan kehendak saya dan istri. Kami tidak keberatan membelikan baju yang berbeda untuk mereka. Kami pun membiasakan memakaikan baju yang berbeda untuk mereka. Hanya saja mereka sering minta dipakaikan baju yang sama. Sepertinya faktor iri berperan di sini. Akan tetapi, mereka lebih sering tidak keberatan menggunakan baju yang berbeda. Jadi semakin mudah membedakan mereka.

Raito dan Aidan itu benar-benar berbeda. Saya yakin bila mereka dikumpulkan dengan anak-anak sebaya mereka tanpa menggunakan pakaian yang sama, tidak akan ada orang yang mengira bahwa mereka bersaudara. Lain cerita kalau Aidan keceplosan memanggil Raito dengan panggilan "Abang". Kalau ini terjadi, mungkin orang-orang akan sadar kalau mereka bersaudara.

Perbedaan mereka tidak terbatas pada fisik. Minat, kecerdasan, dan sifat mereka secara garis besar pun berbeda. Raito, misalnya, lebih suka duduk diam dan bermain mainan seperti mobil-mobilan, balok-balok, atau sejenisnya. Sementara Aidan lebih suka permainan yang melibatkan gerakan besar seperti sepakbola. Ada kalanya Aidan pun bermain mobil-mobilan atau balok-balok. Ada kalanya pun Raito ikut bermain bola. Akan tetapi, minat mereka terlihat jelas berbeda.

Pertumbuhan mereka pun berbeda. Mungkin ini ada korelasinya dengan minat di atas. Perkembangan motorik kasar Aidan lebih menonjol daripada Raito. Sementara perkembangan motorik halus Raito lebih menonjol daripada Aidan. Aidan terlihat lebih luwes saat berlari, menendang bola, atau gerakan-gerakan besar lainnya. Sementara Raito terlihat lebih luwes saat menulis, memasang balok-balok, atau gerakan-gerakan kecil lainnya.

Sifat Raito dan Aidan pun berbeda. Raito dan Aidan sama-sama berwatak keras, tapi cara mereka menunjukan ngeyel itu berbeda. Watak keras Raito sering keluar dalam bentuk marah seperti menangis dengan volume suara yang menusuk telinga. Sementara watak keras Aidan keluar dalam bentuk merajuk tanpa meraung-raung. Sama-sama keras kepala, tapi bentuk penyalurannya berbeda. Masih banyak perbedaan sifat yang dapat saya tunjukan di sini, tapi saya rasa inti tulisan ini sudah tersampaikan dengan contoh-contoh di atas.

Satu hal yang ingin saya tegaskan, berbeda atau tidaknya mereka bukan masalah. Justru kenyataan bahwa mereka berbeda itu yang membuat saya tertarik menulis di sini. Kedua anak itu begitu berbeda seolah-olah mereka adalah kakak-adik yang kebetulan hadir di janin yang sama dalam rentang waktu yang sama. Mereka menjadi kembar karena waktu dan tempat. Seolah-olah tidak ada faktor lain yang membuat mereka menjadi kembar. Nenek (dari ibu) mereka kadang bercanda, "Mereka ini kembar apanya. Kembar kok beda."

Kembar tapi tidak sama. Raito dan Aidan memang bukan kembar identik. Saya dan istri saya berpikir bahwa mereka tumbuh dari dua sel telur yang berbeda, bukan hasil pembelahan. Bahkan sejak umur mereka 7 minggu, mereka sudah terlihat terpisah. Yang satu menempel di rahim bagian atas. Yang lainnya menempel di rahim bagian bawah. Sayangnya saya tidak bertanya lebih lanjut ke dokter yang memeriksa.

Walaupun begitu, saya yakin Raito dan Aidan hidup dari dua sel telur yang berbeda. Berdasarkan informasi yang saya temukan di Internet, Raito dan Aidan termasuk jenis kembar Fraternal. Saya tidak tahu padanan istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Kembar Fraternal ini terjadi karena ada lebih dari 1 sel telur yang dibuahi. Hal ini menjelaskan perbedaan yang ada pada diri Raito dan Aidan. Bahkan golongan darah Raito dan Aidan pun berbeda.

Mengenal perbedaan-perbedaan ini termasuk salah satu unsur menyenangkan dalam hidup saya sebagai orang tua. Bukan saya bermaksud untuk membeda-bedakan anak, tapi saya justru merasa diberi kesempatan menyikapi dua anak yang berbeda. Sesuatu yang sangat sulit walaupun saya sudah menjalaninya selama 2 tahun 11 bulan. Mendidik mereka menjadi sulit karena idealnya masing-masing dididik dan dibesarkan dengan cara yang tidak sama.

Terlepas dari itu, pengalaman mendidik Raito dan Aidan adalah pengalaman yang mengesankan. Sebenarnya ada lebih banyak hal yang dapat saya ceritakan terkait pengalaman saya mendidik mereka berdua, tapi saya rasa lebih baik segera mengakhiri tulisan yang sudah terlalu panjang ini. Semoga saya masih memiliki kesempatan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan lain seputar mendidik anak kembar di lain waktu.

--
Foto-foto Raito dan Aidan dapat dilihat dalam Picasa Web Album saya di sini:
http://picasaweb.google.com/amir.syafrudin

Kamis, 09 Juni 2011

Memutus untuk Menyambung

0 opini

Judul video yang saya sertakan di atas adalah "Disconnect to Connect". Video tersebut adalah iklan yang memperlihatkan perilaku penggunaan gadget secara umum. Walaupun iklan tersebut tidak didukung dengan data empiris seperti survei atau sejenisnya, perilaku dalam video tersebut dapat kita lihat di lingkungan sekitar kita. Bahkan mungkin saja perilaku penggunaan gadget dalam video tersebut merupakan cerminan dari perilaku kita sendiri.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi, perilaku penggunaan gadget seperti BlackBerry, smartphone berbasis Android, iPhone, dan sejenisnya memang dapat mengganggu (kalau tidak merusak) perilaku sosial seseorang di dunia nyata. Seperti yang digambarkan dalam iklan di atas, orang yang sibuk dengan gadget mereka ibarat hidup sendirian di tengah keramaian. Mereka masuk ke dalam dunia virtual masing-masing dan secara tidak langsung keluar dari dunia nyata.

Oleh karena itu, pesan moral yang ingin disampaikan iklan di atas itu jelas. Saat kita terhubung ke dunia virtual, maka hubungan kita dengan dunia nyata akan terputus. Untuk kembali terhubung ke dunia nyata, kita harus memutus hubungan kita dengan dunia virtual. Kita memang diberkahi kemampuan untuk multi tasking, tapi perhatian kita sudah pasti akan terpecah saat menghadapi lebih dari satu urusan. Mengerjakan lebih dari satu hal pada hal yang sama itu bisa dilakukan, tapi perhatian (konsentrasi) kita akan terpecah.

Saat kita chatting dengan salah seorang teman kita dan mengobrol dengan istri kita, perhatian kita akan terpecah ke teman kita dan istri kita. Pembagian perhatian ini pun tidak selalu 50:50. Bukan tidak mungkin perhatian ke teman kita justru lebih besar dibandingkan ke istri kita. Contoh lain saat kita sedang menikmati tontonan terbaru sambil menemani anak-anak kita bermain. Dapat dipastikan bahwa perhatian kita pada anak-anak kita akan berkurang. Bukan tidak mungkin 100% perhatian kita tertuju pada tontonan dan baru beralih kepada anak-anak kita bila kita sudah mendengar tangisan mereka.

Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada dunia nyata di sekitar kita saat kita menyibukan diri dengan dunia virtual. Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada perkembangan rapat yang kita ikutibila kita menyibukan diri dengan update status kita di Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya. Tidak mungkin 100% perhatian kita akan tertuju pada mendengarkan kata-kata istri kita bila kita menyibukan diri dengan Facebook, Twitter, Yahoo Messenger, WhatsApp, blogging, bermain game, atau kegiatan lainnya dengan gadget/device kita.

Ada banyak hal dalam kehidupan nyata yang akan kita lewatkan saat kita hidup dalam dunia virtual kita. Contohnya kesempatan untuk bercengkrama dengan istri atau bermain dengan anak-anak akan terlewatkan bila kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk hidup di dalam dunia jejaring sosial. Saya teringat pertengkaran sebuah pasangan yang disebabkan karena salah satu pihak meluangkan lebih banyak waktu di Facebook. Teringat juga sebuah puisi unik dari Serafina Ophelia berjudul "Ibu dan Facebook" yang berisi kritik kocak terhadap para ibu yang terlalu sering mengakses Facebook.

Teknologi hadir untuk memberikan kemudahan kepada manusia. Manusia itu sendiri yang menentukan apakah teknologi yang ada itu akan memberikan manfaat atau sebaliknya menyebabkan masalah.
Terus terang keterlibatan yang tinggi dalam dunia virtual ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Kemajuan teknologi membuat dunia virtual menjadi jauh lebih interaktif dan menyenangkan bila dibandingkan dengan dunia nyata. Kemajuan teknologi pun berperan besar untuk membuat dunia virtual ini lebih mudah dijangkau oleh banyak orang. Jadi tingginya intensitas orang-orang dalam dunia virtual lewat gadget yang mereka miliki ini dapat dimaklumi.

Tentu saja kita tidak dapat menyalahkan teknologi di sini. Teknologi hadir untuk memberikan kemudahan kepada manusia. Manusia itu sendiri yang menentukan apakah teknologi yang ada itu akan memberikan manfaat atau sebaliknya menyebabkan masalah. Saya sendiri pengguna smartphone. Alhamdulillah saya merasakan manfaatnya. Saya dapat mengakses situs web langganan, menerima dan mengirim email, mengolah spreadsheet (Excel), mengatur jadwal kegiatan, berkomunikasi lewat jejaring sosial atau platform chatting dan berbagai hal lain yang biasanya harus saya lakukan di komputer.

Saya pun merasakan celakanya. Misalnya interaksi saya lewat Facebook dan Twitter pun meningkat drastis. Seolah-olah setiap detik kehidupan saya harus dipublikasikan lewat Facebook dan Twitter itu. Status pun menjadi hal yang penting bagi saya. Interaksi saya dengan istri dan anak-anak di rumah secara garis besar berkurang karena saya sibuk dengan dunia virtual saya sendiri. Oleh karena itu saya memutuskan untuk mengurangi interaksi saya dengan dunia virtual ini.

Interaksi dengan Facebook dan Twitter saya batasi. Paling tidak saya berusaha keras untuk menegaskan kepada diri saya agar mengurangi interaksi ini selama saya di rumah bersama istri dan anak-anak. Kegiatan yang melibatkan gadget seperti bermain game, menonton film, membaca manga scanlation pun saya kurangi untuk memperbanyak waktu bersama keluarga. Pembatasan ini bukanlah hal yang mudah bagi saya, tapi paling tidak saya sudah melangkah ke arah sana.

Saya teringat sebuah poster iklan yang menggambarkan satu keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Ayahnya sedang sibuk dengan smartphone, ibu sedang sibuk dengan gadget sejenis iPad, dan anaknya sedang sibuk dengan game console. Mereka bertiga memang berkumpul bersama, tapi saya yakin mereka bertiga sedang berada di tempat yang berbeda. Saya tidak ingin memiliki keluarga seperti itu. Bukan berarti saya tidak ingin keluarga saya melek teknologi. Saya hanya tidak ingin suasana berkumpul bersama keluarga saya menjadi tidak ada artinya karena setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Dengan begitu, saya pun berusaha untuk MEMUTUS hubungan saya dengan dunia virtual untuk kembali MENYAMBUNG hubungan saya dengan dunia nyata di sekitar saya.