Jumat, 28 Desember 2018

Mengobati Rasa Lelah Dalam Parenting

0 opini
Harapan akan membuka ruang bagi datangnya kekecewaan. Semakin tinggi harapan kita, semakin dahsyat kekecewaan yang akan kita rasakan bila harapan itu tidak terwujud. Hal yang sama juga berlaku saat kita menjalankan peran kita sebagai orang tua. Semakin tinggi harapan kita pada anak-anak kita, semakin nyeri hati kita saat harapan itu tidak tercapai. Rasa nyeri itu tidak selalu mudah hilang. Ada kalanya rasa nyeri itu bertahan, lalu bertambah seiring datangnya kekecewaan yang lain. Sampai akhirnya rasa nyeri itu berubah menjadi rasa lelah yang menghampiri seluruh kujur tubuh kita dan menyedot habis energi kita, lahir dan batin.

Anda pernah mengalaminya? Kalau Anda belum pernah mengalaminya, ada 2 kemungkinan. Pertama, Anda selalu mampu menyikapi setiap masalah dalam parenting secara positif. Kedua, Anda belum menjadi orang tua. Kemungkinan pertama sepertinya tidak masuk akal, kecuali Anda adalah malaikat atau makhluk yang tidak memiliki emosi.

Saya asumsikan saja bahwa Anda, seperti saya, pernah mengalami rasa lelah dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang tidak kenal lelah saat hinggap di tubuh kita. Rasa lelah yang kadang menyebabkan mati rasa. Rasa lelah yang membuat kita tidak peduli pada anak-anak kita dan ingin melarikan diri dari tanggung jawab kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang sama yang membuat saya menulis tentang perasaan gagal yang saya rasakan dalam mendidik anak-anak saya: Gagal Mendidik Anak.

Gagal Mendidik Anak
Dalam "Gagal Mendidik Anak", saya menulis tentang usaha saya untuk mengalahkan perasaan gagal tersebut. Caranya sederhana, yaitu dengan melihat eksistensi anak-anak saya secara utuh. Tujuannya adalah agar saya tidak terlalu fokus melihat hal-hal negatif dalam diri anak-anak saya. Cara tersebut membuat saya semakin menyadari banyaknya hal-hal positif dalam diri mereka, membuat saya semakin mampu menghargai mereka apa adanya, dan pada akhirnya membuat saya mampu mengalahkan perasaan gagal yang terus menguat.

Cara tersebut memang sederhana. Terlalu sederhana? Mungkin saja. Di balik itu sebenarnya masih banyak proses lain yang harus dilewati. Satu hal yang pasti harus dilakukan adalah cool down (menenangkan diri). Saat ada terlalu banyak hal negatif yang harus dihadapi, menenangkan diri merupakan sesuatu yang super penting. Lakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk menenangkan diri. Dalam proses itu, bukan setelahnya, cobalah untuk mengingat kembali hal-hal positif dalam diri anak-anak kita dan kenangan-kenangan indah bersama anak-anak kita. Semua itu akan membantu menghilangkan rasa gagal dan tentu saja rasa lelah dalam parenting.

Kabar Baik Terkait Rasa Lelah
Kabar baiknya adalah mengobati rasa lelah itu tidak terbatas pada "mengubah sudut pandang". Dalam sebuah artikel yang berjudul The Surprising Good News About Parental Burnout, masih ada hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengobati rasa lelah dalam parenting. Satu hal penting yang ditegaskan dalam tulisan tersebut adalah rasa lelah itu ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh karakter orang tua. Walaupun perilaku anak-anak, kondisi sosial dan ekonomi, keberadaan pasangan, serta faktor eksternal lainnya juga berpengaruh, dampaknya tidak sebesar kondisi internal (karakter) orang tua terkait.

Kenapa hal itu menjadi kabar baik? Karena kondisi eksternal itu jauh lebih sulit untuk diubah atau diperbaiki daripada kondisi eksternal. Mengubah perilaku anak-anak? Sulit. Mengubah kondisi sosial atau ekonomi? Lebih sulit lagi. Mengubah keberadaan pasangan? Tidak juga mudah. Mengubah karakter orang tua terkait? Jauh lebih mudah. Rupanya saya sudah berada dalam jalur yang tepat. Saat saya merasa gagal, saya terlebih dahulu mengubah sudut pandang saya agar perasaan gagal itu tidak terus-menerus memojokkan saya. Tidak hanya itu, saya menemukan sumber energi baru untuk terus melanjutkan peran saya sebagai orang tua. Lewat "The Surprising Good News About Parental Burnout", saya menemukan lebih banyak cara untuk mendapatkan energi tersebut.

Nikmati Waktu Kita
Pertama, nikmati waktu yang kita habiskan dalam urusan mendidik anak. Seringkali kita terlalu fokus mendidik anak menjadi sempurna sampai kita lupa bahwa kesempurnaan itu bukanlah tujuan utama kita. Waktu kita pun kita maksimalkan untuk hal-hal yang kita anggap penting sampai kita kehabisan waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Apakah semua itu layak untuk dilakukan? Apakah semua itu menyenangkan untuk dilakukan? Mungkinkah kita menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk merasakan lelah tanpa mendapatkan hasil yang berarti?

Mintalah Bantuan
Kedua, mintalah bantuan dalam mengurus anak. Kita harus menyadari bahwa energi kita terbatas, sementara pekerjaan mengurus anak seperti tidak ada ujungnya. Saat kita mulai merasa lelah, mintalah bantuan. Pasangan kita adalah kandidat utama untuk memberikan bantuan pada kita. Kalau tidak ada yang bisa membantu, termasuk pasangan kita, tunda atau bahkan abaikan apa pun itu yang perlu kita lakukan, kecuali akibatnya fatal bila tidak dilakukan. Bila bantuan itu datang, percayakan hasilnya pada orang yang membantu. Apa pun hasilnya, terima. Kalau kita tidak siap menerima kondisi itu, lebih baik tunda atau bahkan abaikan.

Atasi Konflik Dengan Cara Positif
Ketiga, atasi konflik dengan cara yang positif. Apa itu cara yang positif? Cara yang tidak negatif. Ada 2 cara negatif yang perlu kita hindari: inkonsistensi dan paksaan. Inkonsistensi akan membuat anak kita ngelunjak. Mereka akan terus menabrak batasan dengan harapan dapat mendobrak atau minimal melonggarkan batasan tersebut. Paksaan akan membuat anak berontak dengan harapan dapat memenangkan "pertempuran" melawan kita. Sikap yang konsisten dan tanpa paksaan akan memudahkan kita mengendalikan konflik yang kerap muncul dalam mendidik anak.

Kenali Pilihanmu
Keempat, sadari bahwa kita punya pilihan dan kita berhak memilih. Kita melihat banyak "panduan" dan "citra" parenting yang baik di berbagai media, termasuk blog ini, tapi bukan berarti kita harus mengikutinya. Tidak pernah ada satu cara yang benar dalam urusan parenting. Jadi, kita berhak memilih cara kita menghabiskan waktu mendidik anak-anak kita. Kalau waktu kita habis hanya untuk mendidik anak kita menjadi anak super, lalu membuat kita dan anak kita kelelahan, itu adalah pilihan kita. Dalam contoh itu, minimal kita punya 2 pilihan: menurunkan standar parenting kita atau menikmati semua rasa lelah itu.
Tekanan itu pasti. Tertekan itu pilihan.
Hindari Fokus yang Berlebihan pada Hasil
Kelima, hindari fokus yang berlebihan pada hasil agar kita dapat menjalani, benar-benar menjalani, setiap proses dalam mendidik anak. Ada kalanya kita hanya perlu hadir di samping anak-anak kita tanpa harus memberi nasihat kepada mereka. Kita tidak perlu merespons setiap hal dengan cara terbaik yang terpikir oleh kita. Ada kalanya yang perlu kita lakukan hanya hadir, duduk manis, dan mendengarkan dengan baik.

Berbagai cara yang dijelaskan di atas dapat menjadi amunisi berharga saat kita kelelahan dalam parenting. Paling tidak setiap hal tersebut dapat kita jadikan cermin untuk berkaca dan benar-benar memikirkan cara atau metode yang kita gunakan dalam parenting. Pada akhirnya, hal yang penting adalah menemukan cara untuk mengobati rasa lelah, mendapatkan kembali energi baru, dan terus menikmati hidup kita sebagai orang tua.

Selasa, 13 November 2018

Bulan Keenam Bersama #AgileParenting

0 opini
Rekap sedikit ya.

Saya sudah menyandang status ayah sejak Juli 2008; lebih dari 10 tahun yang lalu. Minat saya untuk menjadi ayah yang baik langsung muncul sejak kelahiran kedua anak laki-laki saya. Saat itu peluangnya memang ada. Saya sedang tidak memiliki pekerjaan tetap. Jadi, saya pun bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak saya.

Sayangnya perjalanan panjang saya menjadi ayah memang tidak terarah. Saya memang cukup sering menulis tentang suka-duka dan pengalaman saya menjadi ayah, tapi semuanya serba reaktif. Saya tidak meluangkan waktu yang khusus untuk mempelajari seluk-beluk per-ayah-an. Mungkin bisa dikatakan saya hanya menjalani hidup saya sebagai seorang ayah dan mencoba mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut. Perkembangan saya tentu saja sangat terbatas karena saya tidak mencari ilmu dari sumber lain.

Sebenarnya di awal perjalanan itu, saya masih meluangkan waktu untuk membaca buku tentang parenting. Satu buku yang berkesan bagi saya adalah Raising Boys karya Steve Biddulph (versi Bahasa Indonesia):
  • yang merupakan hadiah pernikahan;
  • yang diberikan oleh salah satu teman saya;
  • yang saya tidak ingat lagi teman yang mana;
  • yang sedang saya baca ulang saat ini.
Walaupun kedua anak laki-laki saya sudah menginjak usia 10 tahun, buku tersebut masih relevan.

Lompat ke akhir tahun lalu.

Desember tahun lalu usia saya resmi mencapai 35 tahun. Saya jadikan momen itu sebagai momentum untuk berbenah diri. Pada saat itu saya memutuskan untuk melakukan perbaikan yang signifikan dalam hidup saya. Pada saat itu saya menyadari betapa jauhnya arus rutinitas telah membawa saya melenceng jauh dari harapan saya. Pada saat itu saya memilih untuk mengoreksi ambisi saya dan mengambil kendali arah hidup saya, termasuk dalam hal parenting.

Sejak saat itu saya mencoba meluangkan waktu untuk menggali banyak ilmu tentang parenting, baik dari artikel, buku, maupun video. Saya pun meluangkan waktu untuk memikirkan kembali mengenai posisi saya sebagai ayah, khususnya bagaimana caranya agar peran saya sebagai ayah tidak berbenturan dengan peran istri saya sebagai ibu. Wawasan saya pun terbuka dan terus terbuka seiring munculnya momen-momen aha! yang saya temukan.

Lompat lagi ke pertengahan tahun ini.

Salah satu momen aha! yang saya temukan dalam hal parenting adalah Agile Parenting. Agile Parenting bukan sesuatu yang spesial. Saya justru menemukannya saat saya menjelajahi dunia per-ayah-an, khususnya di bagian yang menggunakan bahasa Inggris. Bagi seorang praktisi Agile seperti saya, konsep ini tentu saja menarik.

Saya pun memutuskan untuk memperdalam Agile Parenting. Saya melihat bahwa pola pikir Agile yang sederhana dan tepat guna dapat diterapkan di dalam konteks parenting. Apa pun metode yang dipilih untuk mendidik anak-anak kita, pola pikir Agile dapat membantu para orang tua menemukan kebahagiaan yang mereka impikan bersama anak-anak mereka. Perjalanan saya dalam dunia Agile Parenting pun dimulai.

Lompat lagi ke saat ini.

Lalu apa yang terjadi setelah bulan keenam? Banyak, tapi saya belum bisa menguraikan semuanya. Satu hal yang pasti, komunikasi adalah kunci. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang sehat antara setiap anggota keluarga, yaitu saat setiap anggota keluarga dapat mengutarakan pendapatnya tanpa takut disalahkan dan memang didengarkan. Komunikasi semacam itu akan membantu kita untuk memahami perasaan anggota keluarga yang lain dan pada akhirnya membentuk ikatan yang lebih kuat.

Otoritas orang tua dalam keluarga tetap tidak hilang. Dengan komunikasi yang sehat, otoritas itu justru dapat digunakan tanpa tekanan yang berlebihan terhadap anak. Orang tua pun dapat mengambil keputusan atau melakukan tindakan dengan lebih adil tanpa harus kehilangan otoritasnya. Hierarki dalam keluarga tetap ada, tapi bukan untuk dibesar-besarkan.

Letupan amarah dalam keluarga dapat diminimalkan. Apapun masalahnya, komunikasi menjadi pilihan utama untuk mencari solusi. Komunikasi yang sehat dilakukan bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tapi sekadar mencari tahu siapa yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Fokusnya tetap mencari apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya, bahkan bagaimana mencegahnya agar tidak terjadi lagi di masa depan. Saat fokus setiap anggota keluarga adalah mencari solusi, alasan untuk marah perlahan memudar, bahkan menghilang.

PR-nya?

Masih banyak. Agile Parenting Manifesto sepertinya masih perlu disesuaikan. Manifesto itu pun sepertinya masih perlu dilengkapi dengan prinsip-prinsip yang sesuai agar penerapan manifesto tersebut lebih terarah. Metode atau teknik yang relevan pun baru sebagian saya temukan. Penerapannya pun belum rutin. Jadi, saya belum bisa banyak bercerita tentang metode atau teknik tersebut. Rasanya mumet memikirkan itu semua, tapi worth the effort. Bila ada hal lain yang menarik tentang Agile Parenting, saya akan bagikan di sini. Insyaa Allaah.

Stay tuned.

Sabtu, 13 Oktober 2018

Kukatakan Ini Karena Kucinta Kamu

0 opini
Streak untuk selalu publikasi di tanggal 13 pukul 13.00 setiap bulan akhirnya patah. Berhubung ada "pesanan" untuk menulis dari Majalah InfoKomputer, waktu untuk menulis di blog pun dikorbankan. Untungnya ada sedikit bahan untuk dituangkan dalam waktu yang singkat.

Here goes.

Tulisan kali ini masih terkait dengan agile parenting, khususnya manifesto "parents, children, and interactions over parenting styles and rules." Manifesto tersebut menegaskan bahwa dalam agile parenting, interaksi dalam keluarga itu lebih penting daripada cara atau aturan tertentu dalam proses mendidik anak-anak. Saya yakin semua orang tua tahu akan hal ini, tapi sejauh apa kita "tahu" tentang interaksi dalam keluarga?

Saya sendiri tidak banyak tahu. Ketidaktahuan saya semakin diperkuat saat saya membaca buku "Kukatakan ini karena Kucinta Kamu" karya Deborah Tannen. Buku itu membahas tentang seni berbicara dalam keluarga. Penggunaan kata "seni" sepertinya ditujukan untuk menegaskan bahwa untuk bisa berbicara dalam keluarga membutuhkan keahlian. Dari dua bab pertama saja saya berhasil membuka banyak pintu menuju pengetahuan baru tentang interaksi dan komunikasi dalam keluarga.

Dalam bab 1, saya menemukan bahwa pesan tersirat memiliki dampak yang kuat saat kita berkomunikasi dalam keluarga. Dampaknya bahkan lebih kuat daripada kata-kata yang diucapkan (tersurat). Walaupun pesan tersurat yang disampaikan tidak bermasalah, pesan tersirat tetap berisiko menimbulkan masalah. Setiap anggota keluarga perlu mengenali pesan-pesan tersirat tersebut dan mencoba menyampaikannya agar lebih memahami satu sama lain.

Dalam bab 2, saya menemukan bahwa ikatan dalam keluarga berjalan beriringan dengan kontrol. Sayangnya pemahaman yang kurang tepat antara ikatan dan kontrol juga berisiko menimbulkan masalah. Misalnya seorang anak menganggap bahwa ibunya terlalu mengatur dirinya. Si Anak hanya bisa melihatnya dari sudut pandang kontrol karena memang hanya itu yang dirasakan si Anak. Sebaliknya Si Ibu justru melihatnya dari sudut pandang ikatan karena mengatur anaknya merupakan wujud dari ikatan hati yang kuat terhadap anaknya.

Masalah muncul karena si Anak tidak mau terus-menerus diatur oleh ibunya. Dia tidak bisa memahami bahwa kontrol dari ibunya itu ditujukan sebagai wujud kasih sayang ibunya kepadanya. Sebaliknya si Ibu akan merasa kesal atau marah karena anaknya tidak bisa diatur. Dia tidak bisa memahami bahwa ikatan yang dia rasakan membuat anaknya merasa tertekan. Seandainya setiap anggota keluarga dapat memahami bahwa dalam ikatan ada kontrol dan dalam kontrol ada ikatan, risiko timbulnya masalah dapat lebih dikendalikan.

Ada lagi? Sayangnya tidak. Saya baru selesai membaca sampai bab 2. Jadi, tidak banyak yang bisa saya ceritakan lewat tulisan ini. Seiring waktu, saya akan share satu per satu sesuai hasil pemahaman saya. Satu hal yang pasti, buku karya Deborah Tannen itu benar-benar menarik. Tidak hanya para orang tua yang akan mendapatkan pelajaran-pelajaran penting dengan membaca buku itu, tapi juga para calon orang tua dan setiap anggota keluarga.

Kamis, 13 September 2018

Menjadi Orang Tua Tanpa Tertekan

0 opini
Terus terang saya tidak tahu harus mulai dari mana. Topik yang saya pilih kali ini terkait erat dengan tekanan saat menjadi orang tua. Topik ini menarik untuk dibahas karena setiap orang tua mengalaminya. Tentu saja menarik untuk membahas bagaimana tekanan-tekanan itu muncul dan bagaimana mengatasinya agar kita dapat menjadi orang tua yang lebih bahagia. Sayangnya semakin lama saya memikirkan topik ini, semakin sulit untuk menentukan apa yang sebenarnya dapat saya tuangkan dalam sebuah blog post singkat. Untungnya masalah itu bisa saya atasi dan saya putuskan untuk mengubah topik dari "tekanan" menjadi "tertekan".


Untuk membahas "tertekan", kita perlu mulai dari "tekanan" karena kondisi tertekan hanya muncul saat ada tekanan. Terkait tekanan ini, saya menemukan sebuah video menarik berjudul "Why Moms Are Miserable" pada channel TEDx Talks. Video itu membahas secara spesifik tentang tekanan yang dirasakan oleh para ibu dan dampak negatifnya terhadap kehidupan para ibu tersebut. Ada satu kutipan menarik dari video tersebut:
If we're working mom, we feel guilty. If we're working mom, we feel judged. We second guess and stress over all the parenting decisions that we make and all too often we feel like failures and frauds.
Kutipan di atas memberikan gambaran seolah-olah apa pun yang dilakukan seorang ibu, hidupnya akan selalu penuh dengan tekanan. Apakah pekerjaan, karir, atau penghasilan sendiri dapat membantu meningkatkan kualitas hidup para ibu? Dalam beberapa hal, ya. Sayangnya tekanan-tekanan itu tetap ada dan tetap merusak kehidupan para ibu, baik mereka sadari maupun tidak.

Hal di atas tentu saja tidak menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi para ibu atau para ayah. Kita belum bicara tekanan dari para kakek dan nenek, para om dan tante, atau standar parenting yang datang dari publik. Kita belum bicara berbagai varian tekanan mulai dari persaingan di sekolah sampai kompetisi yang muncul akibat global market. Seolah-olah segala hal di dunia ini dapat menjadi sumber tekanan bagi para orang tua, padahal pada kenyataannya ... memang seperti itu.

Untungnya "tekanan" tidak sama dengan "tertekan". Tertekan merupakan akibat dari adanya tekanan, tapi akibat itu hanya muncul bila kita membiarkannya untuk muncul. Untungnya kita masih memiliki kendali terhadap kondisi tertekan sehingga sebanyak apa pun tekanan dalam hidup kita, pada hakikatnya kita masih bisa hidup tanpa tertekan. Jadi, hidup tanpa tertekan bukan berarti hidup tanpa tekanan, tapi hidup tanpa membiarkan tekanan mempengaruhi hidup kita.

Cara hidup di atas selaras dengan salah satu prinsip parenting yang saya temukan dalam artikel yang berjudul No Pressure Parenting. Hidup tanpa tertekan merupakan salah satu prinsip yang dibutuhkan kita agar kita dapat menemukan kebahagiaan dalam mendidik dan membesarkan anak. Kalau kita bekerja, kita tidak perlu merasa bersalah saat kita tidak meluangkan 24 jam waktu kita untuk keluarga kita. Selama kita masih menjadikan keluarga sebagai prioritas dan bekerja demi keluarga kita, waktu yang tidak kita luangkan bersama adalah pengorbanan yang perlu dilakukan. Kita tidak perlu mengambil hati berbagai anggapan dan penilaian dari orang lain terhadap cara kita mengurus keluarga kita asalkan kita sudah sepenuh hati memikirkan dan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kita.

Kita pun tidak perlu menjadi martir bagi keluarga kita. Saya pernah membahas soal martir ini dalam sebuah tulisan terpisah (hasil menerjemahkan dari tulisan lain) yang berjudul "Ibu, Bukan Martir." Walaupun tulisan itu membahas tentang para ibu, tips dan triknya masih relevan bagi para ayah. Dalam tulisan tersebut, ada 6 hal yang perlu dilakukan oleh para orang tua agar tidak menjadi martir dalam mendidik dan membesarkan anak. Keenam hal tersebut adalah:
  1. Saya akan mengingatkan diri saya setiap hari bahwa waktu saya bersama anak-anak saya itu sangat berharga.
  2. Saya akan mengurus diri saya.
  3. Saya bukan ibu yang sempurna.
  4. Saya akan mengutamakan pernikahan saya.
  5. Saya akan menghargai teman-teman saya.
  6. Saya akan mengutamakan makan malam bersama keluarga.
Penjelasan lebih jauh mengenai masing-masing hal di atas dapat dibaca langsung di "Ibu, Bukan Martir". Terkait dengan teman, video yang saya bahas di atas pun secara spesifik membahas tentang teman. Video tersebut menjelaskan bahwa menghabiskan waktu bersama teman adalah salah satu cara untuk mengatasi tekanan. Teman yang dimaksud tentu saja bukan sembarang teman, bukan sekadar teman dengan status teman, dan bukan pula teman yang begitu saja kita temukan lewat jejaring sosial. Teman yang dimaksud adalah teman yang dapat membantu kita menghilangkan perasaan terasing saat kita sedang terpuruk, bukan sebaliknya membuat kita semakin merasa terpuruk dalam pengasingan.

Pada intinya, kita sebagai orang tua harus mampu mengendalikan tekanan. Pilih tekanan mana yang boleh mempengaruhi hidup kita untuk mendorong kita menjadi orang tua yang lebih baik. Pilih pula tekanan mana yang tidak boleh mempengaruhi hidup kita agar kita tidak hidup dengan perasaan tertekan (baca: depresi). Jangan sampai kita menghabiskan seluruh waktu dan energi kita hanya untuk mati demi membawa keluarga kita menuju hidup yang lebih baik.

Agile Parenting
Dalam konteks ini, Agile Parenting Manifesto sangat relevan, khususnya terkait happiness (kebahagiaan). Kebahagiaan dalam Agile Parenting tidak boleh dibatasi pada kebahagiaan anak-anak semata. Kebahagiaan yang dimaksud adalah kebahagiaan setiap anggota keluarga, termasuk ibu dan ayah. Kita sebagai orang tua perlu memikirkan cara agar diri kita menjadi (lebih) bahagia karena kebahagiaan tersebut akan menjadi sumber energi untuk terus mendidik dan membesarkan anak-anak kita menjadi orang-orang yang bahagia.

Kalau definisi kebahagiaan kita adalah tercapainya kebahagiaan anak-anak, yaitu kita tidak memiliki definisi kebahagiaan tersendiri, kita harus belajar menikmati proses mencapai kebahagiaan anak-anak kita. Itulah alasannya kenapa kita perlu meluangkan waktu untuk "merawat" diri kita, baik fisik kita maupun mental kita. Jangan sampai pengorbanan yang kita berikan hanya membuat kita lelah tanpa ada hasil yang dapat kita rasakan secara langsung.

Mengingat pentingnya kebahagiaan tersebut, maka penting bagi kita untuk membedakan antara tekanan dan tertekan. Penting bagi kita untuk mengabaikan tekanan-tekanan yang tidak relevan dan berdampak negatif agar hidup kita tidak "diwarnai" dengan perasaan tertekan. Penting bagi kita untuk mendorong keluar tekanan-tekanan negatif yang sudah terlanjur masuk ke dalam hati kita dan menjaganya agar tidak masuk lagi. Penting bagi kita untuk mengganti warna hitam akibat tekanan-tekanan negatif tersebut dengan warna-warna yang cerah dari kenangan-kenangan bahagia bersama keluarga kita. Dengan begitu, perasaan tertekan dapat ditekan (keluar) dan kebahagiaan akan menghiasi proses mendidik dan membesarkan anak-anak kita.

Senin, 13 Agustus 2018

Buruk Perilaku Anak, Jangan Dibela

0 opini
Pernahkah Anda secara langsung melihat orang tua yang datang membela anaknya di depan orang lain walaupun anaknya itu yang salah? Mungkin ada pula yang pernah melihat orang tua yang memarahi anak orang lain karena anak orang lain itu menyakiti anaknya padahal anaknya sendiri yang mulai membuat masalah? Saya pernah. Pertama kali saya melihat insiden semacam itu adalah saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya tidak terlalu ingat rincian kejadiannya karena saat itu saya masih duduk di bangku kelas 1 atau 2. Satu hal yang pasti, saat itu ada orang tua yang datang ke sekolah untuk membela anaknya yang dipukul oleh anak lain.

Ucok
Orang tua itu adalah ayah dari Ucok (bukan nama sebenarnya). Sebelum Ayah Ucok datang ke sekolahnya Ucok, Ucok sedang berkelahi dengan Ujang (bukan nama sebenarnya). Kenapa Ucok berkelahi dengan Ujang? Saya pun tidak ingat. Tidak lama kemudian, Ucup (bukan nama sebenarnya) datang melerai mereka, tapi entah kenapa perkelahian beralih menjadi Ucok vs. Ucup. Mungkin Ucok tidak terima Ucup ikut campur karena urusan dengan Ujang belum selesai. Alasan persisnya saya pun tidak ingat.

Dalam perkelahian Ucok vs. Ucup, Ucup yang menang. Pukulan yang masuk terakhir adalah pukulan Ucup dan pukulan itu memupuskan semangat Ucok untuk terus bertahan. Seharusnya keributan pun usai, tapi entah siapa yang memberi kabar kepada Ayah Ucok, tidak lama kemudian Ayah Ucok mendatangi Ucup. Keributan berlanjut saat Ayah Ucok memberi pelajaran tersendiri kepada Ucup. Pada akhirnya, Ucok menang, tapi tetap kalah. Ucok menang karena Ucup mungkin kapok berurusan dengan Ucup, tapi Ucok kalah karena kemenangan yang dia peroleh adalah kemenangan semu.

Dari cerita di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan Ayah Ucok jelas tidak bijaksana. Hari ini anak kita berkelahi, minggu depan, atau bahkan besok, mereka sudah berbaikan kembali. Mungkin saja mereka tidak akan berbaikan lagi, tapi urusan mereka adalah urusan mereka. Akan lebih bijaksana bila Ayah Ucok mengajari Ucok bagaimana cara mengatasi masalahnya, bukan justru membela dia tanpa mencari tahu sumber masalahnya. Apakah usia Ucok masih terlalu muda? Menurut saya, tidak. Anak-anak seusia itu dapat diajari bagaimana cara menyikapi masalah sejak dini sesuai kapasitas mereka. Bahkan anak usia tiga tahun sekalipun dapat diajari bagaimana menyikapi masalah dengan temannya.

Tindakan Ayah Ucok justru berisiko membuat masalah yang lebih besar, yaitu mengubah masalah antara anak-anak menjadi masalah antara orang tua. Bukan tidak mungkin Ayah Ucup juga bertindak tanpa pikir panjang sehingga perseteruan Ucok vs. Ucup berubah menjadi Ayah Ucok vs. Ayah Ucup. Hal itu mungkin saja terjadi sementara Ucok dan Ucup sendiri sudah berbaikan. Konyol, bukan?

Selain itu, ada dampak buruk yang lebih besar lagi, yaitu pada diri Ucok. Apa yang Ucok rasakan bila ayahnya secara konsisten membela dia tanpa melihat siapa yang benar atau siapa yang salah? Apalagi kalau terbukti memang Ucok yang salah, bagaimana perasaan dia bila ayahnya terus membela? Bukankah kondisi seperti itu akan menumbuhkan sifat egois dan manja dalam diri Ucok? Bukankah Ucok berisiko tumbuh menjadi seseorang yang merasa dirinya selalu menang walaupun dia salah? Kalau kondisi itu dibiarkan, Ucok akan tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah.

Cerita di atas sebenarnya bukan sesuatu yang unik. Dengan sedikit googling, saya menemukan sebuah post di Facebook oleh Veronica Hanny Arsanty Tan yang menampung banyak cerita serupa. Dari post tersebut terlihat bahwa perilaku membela anak tanpa melihat kesalahan anak merupakan perilaku yang ada di dalam diri banyak orang tua atau orang tuanya orang tua (kakek-nenek). Dari semua cerita itu, jelas bahwa sumber masalahnya adalah para orang tua yang lebay dalam membela anak-anak mereka.



Ino
Kembali ke saat ini, saya mendengar cerita tentang Ino (bukan nama sebenarnya). Ino dan Ucok mengalami insiden serupa. Entah kapan persisnya, saya mendengar cerita bahwa Ino ditegur oleh temannya karena sebuah kesalahan yang dia lakukan. Teguran dari temannya itu terbatas pada kesalahan Ino saja; tidak merembet ke urusan-urusan pribadi Ino. Tegurannya pun sebenarnya hanya sindiran. Sakit di hati, mungkin. Sakit secara fisik, tidak mungkin.

Beberapa hari kemudian, kabar beredar bahwa Ayah Ino menegur temannya Ino. Entah apa yang dikatakan Ayah Ino, tapi hal itu cukup untuk membuat temannya Ino merasa kesal. Temannya Ino sempat mendatangi Ino dan mencoba berbaikan. Terlepas dari berhasil atau tidaknya usaha berbaikan tersebut, sepertinya temannya Ino tetap memutuskan untuk menjauh dari Ino. Sepertinya dia berpikiran bahwa lebih baik Ino dibiarkan berbuat salah daripada ditegur karena teguran itu justru mendatangkan masalah lain yang lebih besar.

Kisah Ino setali tiga uang dengan kisah Ucok; beda tipis. Perbedaannya adalah Ucok masih anak-anak, sementara Ino sudah pantas memiliki anak. Ucok mengalami masalah di sekolahnya, sementara Ino mengalami masalah di pekerjaannya. Walaupun Ino sudah bekerja, Ayah Ino masih saja melakukan intervensi dalam masalah yang dihadapi anaknya seolah-olah Ino masih duduk di bangku sekolah dasar. Kalau dalam kasus Ucok saja terlihat bahwa sikap Ayah Ucok itu tidak bijaksana, apalagi dalam kasus Ino.

Saya membayangkan saat Ucok besar nanti. Mungkinkah Ucok tumbuh menjadi Ino? Terlepas dari perbedaan nama (dan jenis kelamin yang tercermin lewat namanya), saya rasa tidak aneh bila Ucok tumbuh menjadi laki-laki yang hidup di balik perlindungan ayahnya seperti halnya Ino. Ucok akan sangat bergantung pada ayahnya karena setiap kali Ucok menghadapi masalah, ayahnya akan turun tangan.

Agile Parenting
Apa kaitannya cerita Ucok dan Ino dengan Agile Parenting? Kaitannya dengan pernyataan pertama dalam Agile Parenting Manifesto, yaitu happiness (kebahagiaan) over grades and achievements. Dalam Agile Parenting, kebahagiaan menjadi tolok ukur utama dalam mendidik anak dan membentuk keluarga. Jadi, wajar saja bila orang tua melindungi anaknya dari hal-hal yang dapat mengganggu kebahagiaan anak. Akan tetapi, memastikan kebahagiaan anak itu bukan dengan memaksa orang lain untuk terus mengalah atau memaklumi perilaku buruk anak kita. Justru kita perlu mengajari anak kita untuk mendapatkan kebahagiaan itu tanpa mengganggu kebahagiaan orang lain. Kita perlu mengajari anak kita untuk menjadi manusia, bukan dewa.

Kembali ke cerita-cerita di atas, kita dapat memaklumi sikap lebay yang ditunjukkan Ayah Ucok dan Ayah Ino. Ayah Ucok ingin Ucok bahagia, maka Ayah Ucok memberi pelajaran kepada Ucup agar Ucup tidak lagi mengganggu Ucok. Sayangnya Ayah Ucok tidak menyadari dirinya sudah memberi contoh yang buruk kepada Ucok dengan lebih mementingkan Ucok walaupun mungkin saja Ucok yang pertama kali membuat masalah. Ayah Ino pun tidak jauh berbeda karena Ayah Ino pun sudah memberi contoh yang buruk kepada Ino bahwa kebahagiaannya lebih penting daripada bekerja secara profesional.

Seandainya Ayah Ucok mau bersabar, menunggu Ucok pulang, berbicara dengan Ucok, mencari sumber masalahnya, dan, bila memang Ucok yang bersalah, menegur dan mengajari Ucok bagaimana berteman dengan baik, Ucok akan mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya. Seandainya Ayah Ino pun mau bersabar, berbicara dengan Ino, menegur dan mengajari Ino tentang profesionalisme, Ino pun akan mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya. Sayangnya bukan jalan baik itu yang dipilih oleh Ayah Ucok dan Ayah Ino.

Mengutip salah satu tulisan dalam post milik Veronica Hanny Arsanty Tan di atas, setiap orang tua selayaknya prepare their kids for the world, not the world for their kids. Anak kita perlu kita bentuk untuk siap menghadapi dunia, bukan dunia yang kita bentuk untuk menghadapi (memaklumi) anak kita. Saat anak kita berperilaku buruk dan mengganggu orang lain, jangan dibela. Jelaskan kepada anak kita bahwa perilaku itu buruk dan perilaku itu harus diubah agar mereka dapat tumbuh menjadi orang yang baik. Jelaskan kepada anak kita bahwa kebahagiaannya itu penting, tapi kebahagiaan itu tidak boleh didapatkan dengan menyakiti atau mengganggu orang lain.

--
Kesamaan cerita di atas dan kejadian di dunia nyata hanya kebetulan belaka. Kalau memang hal itu terjadi, semoga menjadi sarana introspeksi bagi para ayah yang bersangkutan.

Jumat, 13 Juli 2018

Mendidik Anak dengan #AgileParenting

0 opini
Tulisan kali ini ditujukan sebagai "terjemahan bebas" dari #HowToRaiseAHuman with Agile Parenting. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan konsep Agile Parenting yang ingin saya terapkan dalam hidup saya sendiri. Bagi orang yang sudah mengenal Agile, konsep Agile Parenting yang akan saya tuangkan di sini akan mudah dipahami. Bagi orang yang baru tahu dengan istilah Agile, konsep Agile Parenting pun akan mudah dipahami. Mudah dipahami; bukan mudah diterapkan.

Mari kita mulai.

Perjalanan saya di dunia Agile secara resmi berjalan sejak tahun 2015. Saat itu pekerjaan saya menuntut saya memperdalam tentang Agile agar Agile dapat menjadi bagian dari budaya organisasi tempat saya bekerja, yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Hasilnya hingga saat ini saya sudah membuat kajian, menyusun kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan, mempublikasikan karya tulis di Majalah InfoKomputer, dan memperoleh sertifikat Professional Scrum Master. Sayangnya dampak positifnya terhadap DJP masih sangat minim.

Memahami Agile Lewat Permainan Draw Something
Agile yang saya maksud di atas dapat didefinisikan sebagai berikut:
Agile adalah pola pikir atau cara kerja yang fokus pada pembuatan produk yang berguna (bukan dokumentasi yang komprehensif) melalui kolaborasi bersama pengguna (bukan mengandalkan dokumen atau perjanjian), mengadopsi perubahan yang perlu dilakukan (bukan berpegang teguh pada rencana yang dibuat sebelumnya), dan memaksimalkan individu-individu yang terlibat dan interaksi antarindividu (bukan bergantung pada proses dan perangkat).
Pola pikir atau cara kerja tersebut sebenarnya cocok untuk diterapkan di berbagai bidang, bahkan di luar dunia kerja. Akan tetapi, saya baru menyadari bahwa Agile pun dapat diterapkan oleh para orang tua dalam mendidik anak setelah saya menonton video TED Talk oleh Bruce Feiler yang berjudul Agile programming for you family.

Paparan Bruce Feiler dalam video tersebut memang menarik, tapi bagi saya, materi yang dibahas terlalu teknis karena dia sudah membahas metode-metode yang dapat digunakan dalam Agile parenting. Metode-metode tersebut memang penting, tapi pemahaman terhadap Agile tetap harus dimulai dari nilai-nilainya. Memahami Agile dari nilai-nilai tersebut memungkinkan kita untuk memahami Agile secara utuh. Bila kita memulainya dari metode, risikonya adalah kita akan membatasi Agile hanya pada metode tersebut.

Keluarga Agile
Saya pun mencoba mencari informasi lebih lanjut terkait Agile parenting dan berhasil menemukan Agile Parenting Manifesto yang disusun oleh Geof Lory. Sayangnya manifesto tersebut bukanlah manifesto yang saya cari. Manifesto yang disusun oleh Geof Lory itu terlalu rumit bagi saya. Menurut saya, Agile itu harus sederhana. Paling tidak, Agile itu harus mulai dari sederhana. Kesederhanaan merupakan intisari dari Agile karena Agile menghindari pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan. Itulah alasannya kenapa saya menyusun Agile Parenting Manifesto versi saya sendiri.


Agile Parenting Manifesto

We are uncovering better ways of raising children and forming families by doing it and helping other parents do it. Through this work we have come to value:

happiness over grades and achievements
responding to changes over following a parenting plan
children collaboration over rewards and punishments negotiation
parents, children, and interactions over parenting styles and rules

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.


Mudah dicerna, bukan?

Pertama, happiness.

Happiness (kebahagiaan), baik untuk anak-anak maupun orang tua, harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan dalam membesarkan anak dan membentuk keluarga. Kebahagiaan jauh lebih penting daripada nilai, prestasi, atau ukuran lainnya. Hal itu bahkan lebih penting daripada kesuksesan itu sendiri. Seberapa penting kebahagiaan? Cobalah menonton paparan dari Nadine Burke Haris tentang dampak negatif dari masa kecil yang buruk dan paparan dari Julie Lythcott-Haim tentang membesarkan anak-anak yang sukses dengan cara membuat mereka bahagia. Keduanya menjelaskan pentingnya kebahagiaan dengan baik.

Kedua, responding to changes.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus responding to changes (tanggap terhadap perubahan) di dalam keluarga, baik dalam diri anak-anak maupun orang tua. Pengalaman baru, kebutuhan baru, lingkungan baru, pekerjaan baru, dan semua hal baru yang akan datang di masa depan harus ditanggapi dengan tepat. Rencana parenting, yaitu rencana yang kita buat seumur hidup kita untuk menjamin masa depan anak-anak kita, adalah awal yang baik. Akan tetapi, tetap berpegang teguh pada rencana itu bukanlah ide yang baik. Mengharapkan rencana kita dapat selalu mengikuti perubahan yang akan datang akan sangat membebani kita dan anak-anak kita. Jadi, bersikap responsif adalah cara yang tepat. Ubah rencana parenting kita untuk menyesuaikan dengan setiap perubahan yang muncul dalam hidup kita.

Ketiga, children collaboration.

Untuk menjadi responsif, kita harus mulai dengan memahami perubahan yang sedang atau akan terjadi. Untuk memahaminya, kita harus mulai dengan mendengarkan anak-anak. Saya berasumsi bahwa kita telah membuka telinga kita untuk mendengarkan pasangan kita. Dengan berkolaborasi bersama anak-anak dalam pengambilan keputusan, besar kemungkinan kita dapat menumbuhkan perilaku yang lebih baik dan memberikan lebih sedikit tekanan bagi seluruh keluarga. Cara ini sebaiknya menjadi pilihan utama daripada terus-menerus menggunakaan sistem rewards and punishment (penghargaan dan hukuman). Dengan meminta anak-anak mengatakan apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka, besar kemungkinan kita untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan keluarga kita. Dengan demikian, kita dapat merespons dengan tepat.

Intermeso: Kata yang baku adalah respons; bukan respon.

Keempat, parents, children, and interactions.

Yang tidak kalah penting adalah setiap individu di dalam keluarga dan interaksinya. Bukankah itu bagian dari kolaborasi? Belum tentu. Ada kemungkinan kita berkolaborasi dengan semua anggota keluarga, tetapi keputusan yang diambil dan tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan pemikiran dan kebutuhan anak-anak kita. Dengan Agile parenting, anak-anak diberdayakan. Membuat keputusan, sampai titik tertentu, perlu menyertakan suara anak-anak. Mengambil tindakan pun perlu melibatkan anak-anak sesuai dengan kemampuan mereka. Interaksi adalah kunci dalam melibatkan atau memberdayakan anak-anak. Kita masih dapat menggunakan gaya pengasuhan tertentu atau membuat aturan tertentu dalam rumah tangga kita dan membiarkan anak-anak mengikutinya. Namun, melibatkan semua anggota keluarga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Paparan singkat di atas sebaiknya dibiarkan meresap terlebih dahulu. Dengan begitu, kita dapat memahami bagaimana menerapkan pola pikir Agile untuk menjalankan peran kita sebagai orang tua. Bila pola pikir itu sudah meresap cukup dalam, kita dapat mulai membicarakan metode atau aspek-aspek lain yang relevan dalam Agile parenting.

Rabu, 13 Juni 2018

#HowToRaiseAHuman with Agile Parenting

2 opini
First of all, why English? That's because I want to participate in NPR's "How To Raise A Human" series. I know that I've committed to blog in Indonesian to maximize my impact in the majority of my audience, but the hashtag #HowToRaiseAHuman is quite tempting. So, to accommodate both needs, I'll be writing in English for this post and I'll write the Indonesian version in my next post. Insyaa Allaah.

Let's get started.

This blog post is meant to answer a good question: "What's the one thing you wish someone had told you before you became a parent?" This question intrigued me because during my "transformation" efforts in the last few months, I was asking a similar question to myself: "What do I need to know to become a better parent and a better husband?" or "What do I need to do to become a better parent and a better husband?" Apparently Agile parenting has some of the answers I needed.

Work of a group of participants in one of my Agile trainings
I come across Agile a couple of years ago in my work. I work in the IT field, specifically in software development. For me, understanding and implementing Agile is a must. It's not some fancy high-level term or just another hype. It's actually a new mind set and a new way of working that focuses on creating working products (instead of comprehensive documentation) through collaborating with customers (instead of relying on documents and agreements), responding to required changes (instead of sticking to a single plan), and improving involved individuals and their interactions (instead of highly relying on processes and tools). However, it was not until I watched Bruce Feiler's TED talk that I realize that Agile is also applicable to run my family.

To be honest, no matter how exciting Bruce's talk was, it was still way too technical because he was already talking about techniques to implement Agile parenting. I understand that these techniques are important, but I prefer to start with the set of values, i.e. the manifesto. In my opinion, understanding the values allows us to really understand what Agile is all about while going ahead with techniques might mislead us to think that Agile is limited to these techniques. Thus, I embark on a journey, i.e. googling, to understand more about Agile parenting and stumbled upon Geof Lory's Agile Parenting Manifesto. Unfortunately, after reading, and re-reading, the manifesto, I find it was a bit too complex for me.

The Agile Parenting Manifesto
Being Agile should be simple. At least, it should start simple. As in Agile for software development, simplicity should be essential. So, I decided to put together my own version of the Agile Parenting Manifesto.
My Agile family

Agile Parenting Manifesto

We are uncovering better ways of raising children and forming families by doing it and helping other parents do it. Through this work we have come to value:

happiness over grades and achievements
responding to changes over following a parenting plan
children collaboration over rewards and punishments negotiation
parents, children, and interactions over parenting styles and rules

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.


Quite easy to comprehend, no?

Happiness, for both children and parents, should be the primary measurements of success in raising children and forming families. Happiness is much more important than grades, achievements, or other measurements of success. It's even more important than success itself. How important is happiness? Try watching Nadine Burke Haris' talk about the negative impact of adverse childhood experience and Julie Lythcott-Haims' talk about raising successful kids by focusing on making them happy. They put together the importance of happiness remarkably well.

To achieve happiness, we should be responsive to changes inside the family, children and parents alike. New experience, new needs, new environment, new jobs, and all new things coming in the future should be responded accordingly. A parenting plan, i.e. the plan that we as parents have been making our entire life to guarantee the future of our children, is a good start, but strictly sticking to that plan might not be a good idea. Expecting our plan to always keep up with the coming changes might put a lot of burden to us and our children. Thus, being responsive is the way to go. Change our plan according to the changes that pops up in our life.

To be responsive, we should start with understanding the changes. To understand, we should start with listening to children. This is assuming that we have already opened our ears to our spouse. Having our children collaborate with us to determine the path for our family might result in better behavior and less stress for the whole family compared to keeping up with rewards and punishments. By having the kids say what's inside their mind and heart, we can come to understand what really suits the needs of our family. Thus, we can respond accordingly.

What's also important are the individuals inside the family and their interactions. Isn't that what collaboration is about? Not necessarily. There's a chance that we collaborate with all the family members, but when it comes to making decisions and doing what's required, we left out our children. With Agile parenting, children are empowered. Making decisions, to a certain point, should include votes from the children. Doing what's required should involve the children according to the best of their capacity. Interactions is a key point in making such involvement or empowerment feasible. We can still use certain parenting styles or set up certain rules in our household and let the children follow them. However, involving all family members in the process builds a higher sense of belonging and accountability.

The Agile Techniques

Our family in Habitica
Now that we got the basics figured out, we can move on to techniques. A board, possibly with post-its, containing tasks or goals, do we need it? Yes; to visualize our current plan on what defines our happiness and how we should achieve them. There are also other alternatives to this board. My favorite is the life gamification app called Habitica. Rewards and punishments, do we need them? Yes; to make our children take the family plan more seriously. Styles Weekly meetings, do we need them? Yes; to accommodate collaboration on creating the family plan and modifying it as needed. Daily meetings, do we need them? Yes; to accommodate interactions and to respond against emerging changes. The list goes on.

In choosing these "Agile" techniques, be sure to understand each of their purpose. If a technique doesn't meet any purpose, it's safe to discard it no matter how many parents are using it. If a technique is required to implement any of the manifesto, and it's not going to be a burden, then by all means, use it even if no one in this world uses it. One Agile parent might use different techniques from another Agile parent. That is normal because techniques highly depends on the circumstances and the condition of the family; values don't. As long as we share the same values, we're doing the "same" Agile parenting.

The Positive Impact

One of my son's weekly projects (it's a brick table rack)
At the time of writing this blog post, I'm already in my 4th months of doing Agile parenting. I signed up myself and two of my sons in Habitica. My wife refused saying it was not her style. Oh, well. Nevertheless, we put our plans, tasks, rewards, punishments, and everything we could think of in Habitica. We're doing the weekly meetings to discuss what went well in the past week and what should we do in the next week. We're doing the daily meetings to check on our tasks. Okay, I'll be honest. We're doing the daily meetings to play on Habitica so that we know how many damage, experience, gold, and items that we get in the last 24 hours. Fun! We might add more techniques as our Agile family understand more of who we are and what we need, but for now, it's just Habitica and the meetings.

How does it really impact my family life? My children are taking more responsibility with their tasks. This is probably to avoid taking heavy damage in Habitica. Fortunately, they're doing those tasks because they want to, not just because I want them to. They're also more aware of the future, at least one week ahead. They realize that what they're doing are important. Parenting has also been less stressful. At the very least, it's less scolding and anger. Whenever something goes wrong, we go to Habitica to enforce any required punishments. I postponed my "lectures" until the daily meeting or even the weekly meeting where the situation is calmer. Not only were those lectures more concise and fair, it seems my children were also better at digesting what I said because it's less clouded with emotion. The children also got the opportunity to voice their opinion; and defense.

In all, it's been great. I'm seeing great improvements in our relationship and communication as a family. I guess Agile parenting works for me and my family. I am still learning though. I still spend some time to read articles, books, and watch videos about parenting. I believe there's still plenty of room for improvements. The only regret I have right now is that I wish I knew about this before I became a parent or at least right after I'm doing Agile in my work. That could definitely save a lot of work, time, and stress.

Minggu, 13 Mei 2018

WTV, Dads!

0 opini
Langkah kongkrit dari "RTM, Dads!" dalam hidup saya adalah dengan meluangkan waktu 15 menit per hari untuk menyerap ilmu terkait parenting. Sampai saat ini, saya masih belum bisa konsisten melakukannya setiap hari. Pada kenyataannya, meluangkan waktu 15 menit per hari di tengah-tengah rutinitas kerja dan aktivitas akhir pekan itu tidak mudah, tapi dari waktu-waktu yang berhasil saya luangkan, saya mendapatkan banyak informasi baru yang dapat saya terapkan dalam mendidik anak-anak saya.

Dalam waktu yang singkat tersebut, saya lebih memilih menonton video daripada membaca artikel. Bukan berarti saya tidak mau Read the Manual, tapi saat ini, dengan dukungan kuota rollover yang membludak, saya lebih memilih Watch the Video (WTV). Bagi saya video memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dalam belajar. Lewat video, saya tidak hanya menangkap pesan lewat kata-kata, tapi juga lewat intonasi dan bahasa tubuh. Belajar dengan menonton pun sepertinya tidak mudah membuat saya bosan. Berhubung saya memilih video, maka tempat yang tempat untuk menyerap banyak ilmu adalah ...

Youtube? Bukan. Vimeo? Nope. Tempat yang tempat untuk duduk manis menyerap ilmu dan membuka wawasan dengan menonton video adalah TED (www.ted.com) karena tempat itu memang tempatnya ideas yang worth sharing. Saya tidak bermaksud mengkerdilkan raksasa-raksasa video seperti Youtube dan Vimeo, apalagi di Youtube dan Vimeo pun tersedia channel TED. Saya memilih TED karena distraction di TED sangat minim. Dalam tulisan ini, saya akan berbagi video-video dalam TED terkait parenting yang saya anggap layak untuk ditonton karena membuka wawasan dan memberikan inspirasi kepada saya sebagai seorang ayah. Silakan cek beberapa video di bawah ini.

Video pertama berjudul "How childhood trauma affects health across a lifetime". Dalam video ini, Nadine Burke Harris berbicara bagaimana trauma masa kecil dapat meningkatkan risiko terkena penyakit saat anak terkait mencapai usia dewasa. Lewat video ini, saya mengenal istilah adverse childhood experiences (ACE) atau pengalaman masa kecil yang buruk. Tidak hanya itu, korelasi antara masa kecil yang buruk ke perilaku buruk (seperti saat dewasa ke lebih berisiko terkena penyakit ternyata lebih pendek. Rupanya masa kecil yang buruk punya hubungan langsung ke lebih berisiko terkena penyakit walaupun orang yang bersangkutan tidak memiliki perilaku buruk saat dewasa. Video ini menjadi pengingat yang kuat bagi saya untuk lebih mementingkan kebahagiaan dalam hidup anak-anak saya.


Video kedua yang saya rekomendasikan berjudul "How to raise successful kids -- without over-parenting". Dalam video ini, Julie Lythcott-Haims (yang namanya sulit untuk diketik) berbicara tentang definisi sukses dalam hidup seorang anak. Kesuksesan seorang anak seringkali dikaitkan oleh orang tuanya dengan nilai akademis atau prestasi lainnya. Video ini mengingatkan saya bahwa definisi sukses dalam hidup seorang anak itu jauh lebih luas dari apa yang dilihat kita sebagai orang tua. Ada baiknya para orang tua lebih fokus pada kebahagiaan anak agar para anak dapat menemukan sendiri kesuksesannya melalui bimbingan (bukan paksaan) orang tua mereka masing-masing. Bagian yang menarik dari video ini adalah bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan pada akhirnya kesuksesan itu, para orang tua butuh cinta dan ... chores (tugas di rumah). Bagaimana korelasinya? Silakan tonton sendiri.


Video ketiga (dan terakhir) yang ingin saya rekomendasikan berjudul "Agile Programming -- for your family". Sebagai seorang "Praktisi Agile", saya senyum-senyum sendiri saat menonton video ini. Walaupun terkesan dipaksakan, Bruce Feiler dapat memperlihatkan apa saja aspek-aspek dalam Agile yang dapat diterapkan dalam mendidik anak-anak di rumah. Beberapa di antara aspek tersebut adalah kesiapan untuk beradaptasi terhadap perkembangan anak dan keterlibatan anak dalam menentukan hidup mereka sendiri. Ada beberapa aspek Agile yang spot on, tapi tentu saja butuh banyak paragraf untuk membahasnya. Pada intinya, video ini melengkapi cinta dan chores yang dibicarakan oleh  Julie Lythcott-Haims (yang namanya masih sulit untuk diketik hingga saat ini).


Ada beberapa video lain yang juga menarik dengan pembahasan yang lebih spesifik seperti "Let's teach for mastery -- not test scores" oleh Sal Khan (pendiri Khan Academy), "This company pays kids to do their math homework" oleh Mohamah Jebara, atau "A delightful way to teach kids about computers" oleh Linda Liukas. Masing-masing video memiliki informasi yang unik untuk memperkaya "persenjataan" kita dalam mendidik anak-anak kita. Selain tiga video itu, masih ada banyak video lain yang tidak kalah informatif dan menginspirasi bagi para orang tua.

Seperti tulisan sebelumnya, tulisan kali ini pun ditujukan untuk mengajak para ayah (dan para ibu), termasuk diri saya sendiri, kembali belajar. Belajar bagaimana mengubah persepsi agar menjadikan kebahagiaan anak-anak sebagai prioritas utama dan juga belajar bagaimana mencapainya. Perjalanan itu tentu saja tidak singkat dan sangat mungkin akan kita lakukan seumur hidup kita, tapi semua itu tetap layak dilakukan demi menumbuhkan anak-anak yang bahagia, sukses, dan pada akhirnya bersyukur atau bahkan bangga telah memiliki kita sebagai orang tua mereka.

Jumat, 13 April 2018

RTM, Dads!

0 opini
Demi menjaga konsistensi dalam menulis, saya memaksa diri saya untuk mempublikasikan sebuah blog post setiap tanggal 13 pukul 13.00. Hal itu tentu saja tidak berarti saya akan menulis selama sebulan penuh sehingga menghasilkan tulisan yang berbobot atau bahkan layak dipublikasikan di media yang lebih formal. "Pemaksaan" itu hanya memaksa saya untuk berbagi sesuatu di blog ini setiap bulan, seringan apa pun bobotnya. Dengan berbagi, saya juga memaksa diri saya untuk belajar, baik dari pengalaman, pengamatan, maupun dari sumber eksternal lainnya. Tanpa belajar, apa yang mau dibagi?
Waktu kita untuk mendidik anak akan terus berkurang, sementara kemampuan kita untuk mendidik anak tidak akan bertambah tanpa usaha kita. 
"Belajar" merupakan tema tulisan saya kali ini. "RTM" di dalam judul tulisan ini merupakan singkatan dari "Read the Manual" yang dapat diterjemahkan menjadi "Bacalah Petunjuknya". "RTM, Dads!" dapat diartikan sebagai panggilan kepada para ayah, termasuk diri saya sendiri, untuk kembali membaca petunjuk (belajar) tentang mendidik anak. Belajar tentang mendidik anak adalah salah satu cara menjadi ayah yang proaktif. Dengan bersikap proaktif, mendidik anak memang terasa sulit, tapi pada hakikatnya tetap lebih mudah. Bila kita bersikap reaktif, yaitu hanya jumpalitan saat muncul masalah pada anak kita, proses mendidik anak sangat mungkin akan menjadi lebih sulit karena saat kita bereaksi, ada kemungkinan masalahnya sudah menjadi terlalu besar.

Contohnya dalam masalah bullying. Bila kita bersifat reaktif, saat kita tahu bahwa anak kita sudah menjadi korban bullying, penyelesaian masalahnya mungkin akan sulit karena anak kita sudah terlanjur tidak percaya diri dan tidak lagi merasa aman saat berinteraksi dengan teman-temannya. Kita tidak melakukan banyak hal dalam mempersiapkan anak kita menyikapi bullying, tapi pada akhirnya kita lebih repot lagi saat anak kita menjadi korban bullying. Seandainya kita bersifat proaktif, masalah bullying itu mungkin bisa segera dideteksi dan ditangani. Bahkan masalah bullying itu mungkin saja tidak dialami oleh anak kita karena kita sudah terbiasa melakukan hal-hal yang dapat mencegah anak kita menjadi korban bullying.

Dari ilustrasi di atas, kita bisa melihat betapa pentingnya bagi seorang ayah untuk belajar. Dengan belajar, kita bisa lebih siap menghadapi perubahan-perubahan yang muncul seiring dengan tumbuhnya anak kita. Kita bisa tahu langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk membentuk perilaku baik dalam diri anak kita. Kita pun bisa tahu langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki perilaku buruk dalam diri anak kita atau bahkan mencegah munculnya perilaku buruk itu. Kita bisa tahu bagaimana menemukan keseimbangan antara tegas dan keras atau antara lembut dan memanjakan. Kita bisa tahu jauh lebih banyak lagi asalkan kita mau belajar.

Sumber eksternal terkait pendidikan anak sangat banyak. Buku-buku tentang pendidikan anak masih banyak dijual di toko-toko buku, baik elektronik maupun konvensional. Artikel-artikel tentang pendidikan anak yang terpercaya pun banyak tersebar di Internet. Apalagi jaman now, saat kuota dan kecepatan Internet begitu tinggi (untuk daerah-daerah tertentu), ayah-ayah yang tidak suka membaca dapat beralih ke Youtube atau sejenisnya untuk menonton video-video tentang pendidikan anak. Apa pun medianya, di mana pun tempatnya, belajar. Itu intinya.

Saya sendiri sempat lama tidak belajar. Di awal perjalanan saya menjadi ayah, saya memang sempat tekun mencari ilmu tentang mendidik anak. Sayangnya seiring waktu, ketekunan itu tenggelam ditelan rutinitas hidup, khususnya pekerjaan kantor. Ditambah lagi dengan perasaan "cukup" yang timbul dalam hati, minat saya untuk menggali lebih dalam tentang pendidikan anak justru semakin menurun. Untungnya saya menemukan momen yang menyadarkan saya bahwa saya memang butuh lebih banyak belajar untuk mendidik anak-anak saya menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sejak saat itu, saya senantiasa meluangkan waktu untuk membaca buku, artikel, atau menonton video tentang membangun keluarga dan mendidik anak.

Saya yakin setiap ayah pun pernah mengalami momen-momen seperti yang saya alami. Kalau salah satu momen tersebut berhasil membawa perubahan, bagus. Kalau sampai saat ini belum ada perubahan, tunggu apa lagi? Anak kita akan terus tumbuh, baik kita bersikap proaktif maupun reaktif. Waktu kita untuk mendidik anak akan terus berkurang, sementara kemampuan kita untuk mendidik anak tidak akan bertambah tanpa usaha kita. Tanyakan kepada diri kita, "Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Selasa, 13 Maret 2018

Jangan Injak Kaki Ibu

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pentingnya menghindari dikotomi antara peran ayah dan ibu. Semakin pudar dikotomi tersebut, semakin baik kerja sama antara ayah dan ibu dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Semakin baik kerja sama tersebut, semakin besar peluang seorang ayah untuk menjadi ayah super.

Akan tetapi, seorang ayah tetap harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik untuk memaksimalkan peran dalam mengurus rumah tangga justru berbalik menyusahkan istri. Ibaratnya saat seseorang ingin berdansa dengan istrinya, jangan sampai dia menginjak kaki istrinya. Sakit.

Pertama, perihal pengambilan keputusan. Saat bekerja sama mengurus rumah tangga, seorang suami perlu memberi ruang bagi istri untuk mengambil keputusan baik yang sifatnya besar maupun trivial. Jadwal tidur anak-anak, posisi furnitur, atau apa pun juga, bila memang bukan sesuatu yang urgent, berikan kesempatan bagi istri untuk memutuskan. Bila ada keputusan istri yang mengganjal, utamakan negosiasi. Bila ada kesempatan untuk mengalah, lebih baik mengalah (untuk menang).

Sekilas hal di atas terkesan mudah. Kita mungkin merasa sudah melakukannya. Tapi pengalaman saya mengatakan sebaliknya. Saat kita sudah terjun ke lapangan, keinginan untuk mengatur dan mengambil keputusan itu perlahan-lahan menguat. Keinginan agar segalanya berjalan sesuai keputusan kita pun muncul. Pada saat itu, menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada istri menjadi hal yang sulit. Penting bagi kita untuk berlapang dada dan menerima keputusan istri.

Kedua, perihal persepsi masyarakat. Masyarakat Indonesia secara umum masih canggung saat melihat seorang ayah memandikan anak, menyuapi anak, membersihkan rumah, menggendong anak, membawa barang-barang, atau mengerjakan "pekerjaan ibu" lainnya. Bukan tidak mungkin seorang ayah yang terlalu aktif justru membentuk persepsi negatif terhadap istrinya. Masyarakat akan melihat istrinya sebagai wanita yang manja, malas, atau tidak tahu diri. Oleh karena itu, kita perlu melihat sikon agar bantuan kita tidak berbalik merusak citra istri kita.

Lagi-lagi hal di atas pun terkesan mudah. Tapi pada kenyataannya hal tersebut memberikan tantangan tersendiri. Kita perlu tahu kapan waktunya untuk turun tangan dan kapan waktunya untuk menahan diri, terutama di tempat umum. Bukan hanya di tempat umum, kita pun perlu memperhatikan hal tersebut di tengah-tengah keluarga besar kita. Pada intinya, kita berusaha meminimalkan kesalahpahaman terhadap cara kita bekerja sama dengan istri kita dalam mengurus rumah tangga.
Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung.
Dua hal di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan oleh seorang ayah super. Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung. Bila kondisi itu tercapai, kerja sama antara seorang ayah super dengan pasangannya akan menjadi lebih optimal.

Selasa, 13 Februari 2018

Menghindari Dikotomi Peran Ayah dan Ibu

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya membahas tentang penggunaan istilah "ayah super". Istilah tersebut, walaupun sering digunakan, pada hakikatnya hanya merujuk kepada "ayah normal" yang terlihat super akibat penggunaan standar yang terlalu rendah. Tolok ukur yang digunakan adalah para ayah pada umumnya sehingga para ayah super pun terlihat super. Seandainya tolok ukur yang digunakan adalah para ibu pada umumnya, para ayah super mungkin tidak akan terlihat super; mereka akan terlihat normal. Walaupun begitu, demi kemudahan dan kenyamanan bersama, saya tetap akan menggunakan istilah "ayah super" untuk menggambarkan para ayah normal tersebut.

Di dalam diri para ayah super, tingkat kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga merupakan sifat yang mendasar. Saya tidak pernah menemukan seorang "ayah super" yang tidak memiliki kedua karateristik tersebut. Akan tetapi, peduli dan mau saja tidak akan cukup. Kepedulian dan kemauan itu harus disertai dengan perubahan dalam pola pikir dan perilaku.

Salah satu perubahan pola pikir yang perlu dilakukan untuk menjadi ayah super adalah dengan membuang jauh-jauh pembagian yang saklek (dikotomi) antara peran ayah dan ibu. Seorang ayah harus berhenti memandang bahwa tugas ayah adalah mencari penghidupan, sementara urusan rumah tangga, termasuk mendidik anak-anak, menjadi tugas ibu. Bila dikotomi peran tersebut masih ada, kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga menjadi terbatas. Ayah tersebut mungkin akan mulai membantu pekerjaan di rumah, menemani anak bermain, melakukan ini, melakukan itu, dan banyak hal lain, tapi ayah tersebut hanya akan bermain di luar lingkaran "kekuasaan" istrinya.
Ayah tersebut bahkan mungkin akan menyadari bahwa tugas istrinya sebenarnya adalah tugasnya.
Saat dikotomi peran tersebut dapat dihilangkan, seorang ayah akan menyadari bahwa tugas istrinya adalah tugasnya juga. Ayah tersebut bahkan mungkin akan menyadari bahwa tugas istrinya sebenarnya adalah tugasnya. Dia yang seharusnya mengurus rumah tangga. Dia yang seharusnya mendidik anak-anak. Dia yang seharusnya melakukan apa yang istrinya biasa lakukan di rumah. Apa yang dilakukan istrinya adalah bantuan, bukan kewajiban.

Tanpa adanya dikotomi peran tersebut, kontribusi seorang ayah akan jauh lebih maksimal. Tanggung jawab mengurus rumah tangga dan anak-anak, termasuk mengurus istrinya, akan diambil alih oleh ayah tersebut. Semua urusan rumah tangga akan dia lakukan secara maksimal. Lingkaran "kekuasaan" istrinya menjadi kabur atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Setiap hal yang dilakukan istrinya menjadi sesuatu yang lebih bernilai karena bukan lagi dianggap sebagai kewajiban. Rasa terima kasih kepada istrinya pun meningkat secara signifikan.

Pada intinya, ayah super akan benar-benar menjadi ayah super bila dia tidak lagi membedakan antara peran ayah dan ibu. Mengurus cucian, membersihkan rumah, memandikan anak, menyuapi anak, atau perintilan lainnya tidak lagi menjadi urusan istri, tapi menjadi urusan bersama. Ayah super akan memilih untuk bekerja sama dengan istrinya, bukan sama-sama kerja.

Satu hal penting yang perlu diingat adalah kondisi di atas tidak selalu merupakan hal yang baik. Tidak selamanya seorang ayah yang sangat terlibat dalam urusan rumah tangga itu baik. Ada kalanya justru lebih baik saat seorang ayah keluar dari lingkaran "kekuasaan" istrinya. Kapankah itu? Saya akan bahas dalam tulisan selanjutnya. Insyaa Allaah.

Sabtu, 13 Januari 2018

Saya Bukan Ayah Super

0 opini
Saya pernah mencoba bertanya di lingkaran pertemanan Facebook saya tentang definisi ayah super. Sayangnya tidak ada satu teman pun yang berkenan memberikan komentar serius. Mungkin definisi ayah super memang tidak jelas atau memang tidak ada yang berminat memberikan komentar? Entahlah. Berhubung tidak ada yang merespon, pertanyaan itu pun tenggelam seiring waktu.

Saya pun beralih ke Google. Hasil Googling dengan kata kunci "ayah super adalah" [diakses tanggal 9 Januari 2018] tidak sepenuhnya relevan. Ada informasi tentang tipe ayah berdasarkan chat dengan anak gadisnya, ayah super di anime, profil Facebook bernama Ayah Super, dan bisnis daring dengan nama domain ayahsuper-dot-com. Sementara itu, informasi yang relevan mencakup ciri-ciri ayah super bagi balita, berita tentang ayah (super) yang mengadopsi 4 orang anak dengan disabilitas, dan pergeseran tradisi di Korea Selatan akibat semakin banyaknya ayah yang meluangkan waktu untuk mengurus anak-anaknya.

Hasil penelusuran hingga halaman ke 3 hasil pencarian Google tersebut tidak memberikan informasi tambahan, tapi tetap menegaskan bahwa julukan ayah super itu memang ada. Julukan ayah super itu ada karena ada ayah-ayah yang mau melakukan sesuatu yang lebih daripada para ayah pada umumnya. Ayah-ayah ini memiliki tingkat kepedulian dan kemauan yang tinggi untuk terlibat dalam urusan rumah tangga. Kepedulian dan kemauan yang super itu yang mendorong munculnya istilah ayah super.

Saya sendiri pernah dijuluki ayah super. Alasannya? Tidak jauh berbeda dengan alasan munculnya istilah ayah super di atas, yaitu karena saya melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh para ayah umumnya. Padahal saya hanya melakukan apa yang biasa dilakukan istri saya seperti memandikan, menyuapi, mengajar (misalnya mengajar Iqra'), atau sekadar menemani anak-anak bermain. Itu pun porsinya masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan istri saya. Lalu kenapa saya mendapat julukan super padahal istri saya jelas-jelas lebih super? Menurut saya, hal itu disebabkan karena standar yang digunakan dalam konteks ayah super ini adalah standar yang, mohon maaf, rendah.
Seandainya kita ubah tolok ukur ayah super itu menjadi para ibu pada umumnya, maka ayah-ayah super itu akan terlihat normal.
Ayah super menjadi ayah super karena mereka dibandingkan dengan para ayah pada umumnya, padahal apa yang dilakukan ayah super itu adalah hal-hal yang biasa dilakukan oleh para ibu pada umumnya. Seandainya kita ubah tolok ukur ayah super itu menjadi para ibu pada umumnya, maka ayah-ayah super itu akan terlihat normal. Para ayah super itu akan menjadi ayah-ayah normal. Kalau ayah-ayah super itu pada hakikatnya adalah ayah-ayah normal, bagaimana dengan ayah-ayah yang normal? Silakan dipikirkan.

Kembali ke konteks tulisan ini. Kalaupun saya banyak terlibat dalam urusan domestik, bukan berarti saya adalah ayah super. Saya hanya ayah normal. Hal-hal "super" yang saya lakukan sebagai ayah adalah hal-hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang ayah. Bukan hanya "sewajarnya", tapi bahkan "sepantasnya". Memang sudah sepantasnya seorang ayah bekerja sama dengan pasangannya dalam urusan rumah tangga, walaupun energinya sudah terpakai untuk mencari nafkah. Sebaliknya, tidak sepantasnya seorang ayah membiarkan pasangannya mengurus urusan rumah tangga sendirian.

Dari cerita di atas, terlihat jelas bahwa saya memang bukan ayah super. Saya hanya ayah normal. Saya hanya melakukan apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang ayah. Tidak lebih, bahkan mungkin masih kurang. Bagaimana dengan Anda?