Jumat, 13 Juli 2018

Mendidik Anak dengan #AgileParenting

Tulisan kali ini ditujukan sebagai "terjemahan bebas" dari #HowToRaiseAHuman with Agile Parenting. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan konsep Agile Parenting yang ingin saya terapkan dalam hidup saya sendiri. Bagi orang yang sudah mengenal Agile, konsep Agile Parenting yang akan saya tuangkan di sini akan mudah dipahami. Bagi orang yang baru tahu dengan istilah Agile, konsep Agile Parenting pun akan mudah dipahami. Mudah dipahami; bukan mudah diterapkan.

Mari kita mulai.

Perjalanan saya di dunia Agile secara resmi berjalan sejak tahun 2015. Saat itu pekerjaan saya menuntut saya memperdalam tentang Agile agar Agile dapat menjadi bagian dari budaya organisasi tempat saya bekerja, yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Hasilnya hingga saat ini saya sudah membuat kajian, menyusun kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan, mempublikasikan karya tulis di Majalah InfoKomputer, dan memperoleh sertifikat Professional Scrum Master. Sayangnya dampak positifnya terhadap DJP masih sangat minim.

Memahami Agile Lewat Permainan Draw Something
Agile yang saya maksud di atas dapat didefinisikan sebagai berikut:
Agile adalah pola pikir atau cara kerja yang fokus pada pembuatan produk yang berguna (bukan dokumentasi yang komprehensif) melalui kolaborasi bersama pengguna (bukan mengandalkan dokumen atau perjanjian), mengadopsi perubahan yang perlu dilakukan (bukan berpegang teguh pada rencana yang dibuat sebelumnya), dan memaksimalkan individu-individu yang terlibat dan interaksi antarindividu (bukan bergantung pada proses dan perangkat).
Pola pikir atau cara kerja tersebut sebenarnya cocok untuk diterapkan di berbagai bidang, bahkan di luar dunia kerja. Akan tetapi, saya baru menyadari bahwa Agile pun dapat diterapkan oleh para orang tua dalam mendidik anak setelah saya menonton video TED Talk oleh Bruce Feiler yang berjudul Agile programming for you family.

Paparan Bruce Feiler dalam video tersebut memang menarik, tapi bagi saya, materi yang dibahas terlalu teknis karena dia sudah membahas metode-metode yang dapat digunakan dalam Agile parenting. Metode-metode tersebut memang penting, tapi pemahaman terhadap Agile tetap harus dimulai dari nilai-nilainya. Memahami Agile dari nilai-nilai tersebut memungkinkan kita untuk memahami Agile secara utuh. Bila kita memulainya dari metode, risikonya adalah kita akan membatasi Agile hanya pada metode tersebut.

Keluarga Agile
Saya pun mencoba mencari informasi lebih lanjut terkait Agile parenting dan berhasil menemukan Agile Parenting Manifesto yang disusun oleh Geof Lory. Sayangnya manifesto tersebut bukanlah manifesto yang saya cari. Manifesto yang disusun oleh Geof Lory itu terlalu rumit bagi saya. Menurut saya, Agile itu harus sederhana. Paling tidak, Agile itu harus mulai dari sederhana. Kesederhanaan merupakan intisari dari Agile karena Agile menghindari pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan. Itulah alasannya kenapa saya menyusun Agile Parenting Manifesto versi saya sendiri.


Agile Parenting Manifesto

We are uncovering better ways of raising children and forming families by doing it and helping other parents do it. Through this work we have come to value:

happiness over grades and achievements
responding to changes over following a parenting plan
children collaboration over rewards and punishments negotiation
parents, children, and interactions over parenting styles and rules

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.


Mudah dicerna, bukan?

Pertama, happiness.

Happiness (kebahagiaan), baik untuk anak-anak maupun orang tua, harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan dalam membesarkan anak dan membentuk keluarga. Kebahagiaan jauh lebih penting daripada nilai, prestasi, atau ukuran lainnya. Hal itu bahkan lebih penting daripada kesuksesan itu sendiri. Seberapa penting kebahagiaan? Cobalah menonton paparan dari Nadine Burke Haris tentang dampak negatif dari masa kecil yang buruk dan paparan dari Julie Lythcott-Haim tentang membesarkan anak-anak yang sukses dengan cara membuat mereka bahagia. Keduanya menjelaskan pentingnya kebahagiaan dengan baik.

Kedua, responding to changes.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus responding to changes (tanggap terhadap perubahan) di dalam keluarga, baik dalam diri anak-anak maupun orang tua. Pengalaman baru, kebutuhan baru, lingkungan baru, pekerjaan baru, dan semua hal baru yang akan datang di masa depan harus ditanggapi dengan tepat. Rencana parenting, yaitu rencana yang kita buat seumur hidup kita untuk menjamin masa depan anak-anak kita, adalah awal yang baik. Akan tetapi, tetap berpegang teguh pada rencana itu bukanlah ide yang baik. Mengharapkan rencana kita dapat selalu mengikuti perubahan yang akan datang akan sangat membebani kita dan anak-anak kita. Jadi, bersikap responsif adalah cara yang tepat. Ubah rencana parenting kita untuk menyesuaikan dengan setiap perubahan yang muncul dalam hidup kita.

Ketiga, children collaboration.

Untuk menjadi responsif, kita harus mulai dengan memahami perubahan yang sedang atau akan terjadi. Untuk memahaminya, kita harus mulai dengan mendengarkan anak-anak. Saya berasumsi bahwa kita telah membuka telinga kita untuk mendengarkan pasangan kita. Dengan berkolaborasi bersama anak-anak dalam pengambilan keputusan, besar kemungkinan kita dapat menumbuhkan perilaku yang lebih baik dan memberikan lebih sedikit tekanan bagi seluruh keluarga. Cara ini sebaiknya menjadi pilihan utama daripada terus-menerus menggunakaan sistem rewards and punishment (penghargaan dan hukuman). Dengan meminta anak-anak mengatakan apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka, besar kemungkinan kita untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan keluarga kita. Dengan demikian, kita dapat merespons dengan tepat.

Intermeso: Kata yang baku adalah respons; bukan respon.

Keempat, parents, children, and interactions.

Yang tidak kalah penting adalah setiap individu di dalam keluarga dan interaksinya. Bukankah itu bagian dari kolaborasi? Belum tentu. Ada kemungkinan kita berkolaborasi dengan semua anggota keluarga, tetapi keputusan yang diambil dan tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan pemikiran dan kebutuhan anak-anak kita. Dengan Agile parenting, anak-anak diberdayakan. Membuat keputusan, sampai titik tertentu, perlu menyertakan suara anak-anak. Mengambil tindakan pun perlu melibatkan anak-anak sesuai dengan kemampuan mereka. Interaksi adalah kunci dalam melibatkan atau memberdayakan anak-anak. Kita masih dapat menggunakan gaya pengasuhan tertentu atau membuat aturan tertentu dalam rumah tangga kita dan membiarkan anak-anak mengikutinya. Namun, melibatkan semua anggota keluarga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Paparan singkat di atas sebaiknya dibiarkan meresap terlebih dahulu. Dengan begitu, kita dapat memahami bagaimana menerapkan pola pikir Agile untuk menjalankan peran kita sebagai orang tua. Bila pola pikir itu sudah meresap cukup dalam, kita dapat mulai membicarakan metode atau aspek-aspek lain yang relevan dalam Agile parenting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar