Sabtu, 20 September 2014

Bermain Di Khan Academy

3 opini
Selagi sempat...

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya menggunakan Khan Academy. Bagi yang belum tahu, Khan Academy adalah sebuah situs belajar online (daring) yang menyediakan materi dari berbagai subyek seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Computing (Pemrograman). Situs tersebut dapat diakses di www.khanacademy.org. Saat ini, situs tersebut memungkinkan penggunanya untuk login dengan membuat akun baru atau menggunakan akun Facebook atau akun Google yang sudah dibuat sebelumnya. Saya sendiri memilih untuk menggunakan akun Google (tidak membuat akun baru) agar inventaris akun saya tidak semakin menumpuk.

Kembali ke Khan Academy.

Logo Khan Academy*
Yang membuat saya tertarik untuk menggunakan Khan Academy adalah metode belajarnya yang interaktif; tidak hanya bersifat satu arah. Khan Academy tidak hanya menyediakan video-video yang dapat diakses penggunanya kapan pun dan di mana pun (asalkan terhubung ke Internet), tapi juga memungkinkan penggunanya untuk mencoba sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari melalui sistemnya. Metode belajar interaktif ini memang merupakan salah satu kelebihan sistem belajar daring sebagaimana saya paparkan sebelumnya di dalam tulisan saya Potensi Besar Sistem Belajar Online.

Yang disayangkan adalah metode belajar interaktif tersebut belum (atau memang "tidak") mencakup semua subyek yang ditawarkan Khan Academy. Saat ini, metode belajar interaktif ini hanya diterapkan untuk 2 (dua) subyek, yaitu Matematika dan Pemrograman. Saya sudah mencoba menjelajahi kedua subyek tersebut di Khan Academy dan proses belajarnya memang menyenangkan. Keseluruhan prosesnya yang saya maksud "menyenangkan"; bukan karena banyaknya badge (lencana) yang berhasil saya raih.

Yang lebih menarik lagi adalah fitur mastery challenge di subyek Matematika. Tidak seperti di subyek Pemrograman yang konsepnya masih diatur secara sequential (berurutan), fitur mastery challenge di subyek Matematika memungkinkan saya untuk menguji pengetahuan Matematika saya saat ini sehingga Khan Academy bisa merekomendasikan topik yang tepat untuk saya pelajari. Semakin sering saya menggunakan fitur tersebut, semakin akurat topik yang direkomendasikan untuk saya.

Cuplikan Mastery Challenge
Masih banyak hal menarik lainnya di dalam Khan Academy, tapi lebih baik tidak saya beberkan di sini. Untuk sebuah pengalaman yang menarik, akan lebih baik bila dicoba sendiri ketimbang diceritakan oleh orang lain. Saya yakin masing-masing orang akan menemukan pengalaman uniknya sendiri dalam menggunakan salah satu situs belajar daring yang menyenangkan itu.

Tapi ceritanya belum selesai.

Satu hal unik lagi di Khan Academy yang ingin saya bagi lewat tulisan ini adalah fitur coaching (bimbingan) yang ditujukan bagi para pendidik (baca: guru) dan para orang tua. Saat saya mengetahui ada fitur tersebut (seingat saya sekitar pertengahan Juli), waktunya bertepatan dengan masuknya 2 (dua) anak pertama saya ke kelas 1 SD. Saya pun segera membuatkan akun-akun baru untuk kedua anak saya agar mereka bisa segera mulai mengakses dan menggunakan Khan Academy.

Hingga saat ini, kedua anak saya masih antusias untuk "bermain" di Khan Academy. Awalnya saya mengajak mereka sesekali waktu saat the one and only laptop di rumah saya sedang tidak saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau menonton film. Saat ini, saat intensitas kuliah saya sedang turun, saya mencoba jadwal rutin bermain di Khan Academy untuk kedua anak-anak saya: 30-60 menit setiap 2 (dua) hari. Alhamdulillah mereka tidak bosan dan senantiasa bersemangat untuk bermain di Khan Academy.

Saat ini, kedua anak saya masih berkutat di bagian Early Math, yaitu bagian dari subyek Matematika yang ditujukan untuk anak kelas 1 SD. Ada beberapa konsep yang bisa mereka pahami dengan mudah, sementara beberapa konsep lainnya butuh waktu lebih lama untuk mereka pahami. Untuk konsep-konsep yang bisa mereka pahami dengan mudah, anak-anak saya bisa belajar secara mandiri. Hanya saja untuk menerjemahkan bahasa Inggris yang menjadi bahasa utama di Khan Academy itu mereka masih harus dibantu. Sementara untuk konsep-konsep yang tidak mudah mereka pahami, peran saya atau istri saya menjadi lebih besar. Selain membantu menerjemahkan bahasa Inggris, kami harus turun tangan membantu mereka memahami konsep-konsepnya. Hal ini memang agak merepotkan, tapi saat mereka sudah mulai paham, mereka bisa kembali mencoba belajar secara mandiri.

Secara garis besar, ada beberapa hal yang saya rasakan selama anak-anak menggunakan Khan Academy, yaitu:
  • Anak-anak saya masih butuh didampingi, tapi selama saya mendampingi mereka, saya harus hati-hati agar tidak memaksa mereka untuk menjawab dengan benar. Penting untuk saya ingat bahwa anak-anak harus terbiasa berbuat salah dan terus mencoba lagi agar kemandirian belajar mereka bisa terbentuk. Bila kemandirian belajar ini tidak tercapai, anak-anak saya tidak akan bisa menggunakan Khan Academy tanpa kehadiran saya. Kondisi ini justru meniadakan kelebihan sistem belajar daring yang ditawarkan Khan Academy.
  • Ada kalanya intervensi untuk menjawab soal yang sulit dijawab oleh anak-anak itu perlu saya lakukan. Hal ini saya lakukan dalam rangka mengajarkan cara menjawab soal yang mereka hadapi. Dalam kondisi seperti ini, mereka memang berhasil menjawab soal karena saya bantu, tapi Khan Academy hanya menganggap anak-anak sudah mulai memahami sebuah konsep kalau mereka berhasil menjawab  5 (lima) pertanyaan sejenis secara berturut-turut. Jadi, intervensi yang saya lakukan pada dasarnya tidak mengganggu proses belajar anak-anak saya.
  • Anak-anak perlu dibiasakan untuk memahami pertanyaan yang diberikan dan tidak menjawab hanya berdasarkan pola atau hafalan. Hal ini kerap terjadi saat anak-anak saya menggunakan Khan Academy dan menurut saya hal ini berbahaya karena berhasil menjawab pertanyaan tanpa pemahaman yang baik akan membuat fondasi belajar mereka keropos. Pada akhirnya, mereka sering kesulitan menjawab soal dengan pola yang berbeda walaupun konsepnya sama. Contohnya mereka bisa menjawab pertanyaan tentang penambahan yang soalnya dilengkai gambar/ilustrasi, tapi mereka kesulitan menjawab pertanyaan tentang penambahan yang soalnya hanya berisi teks.
  • Perhatian anak-anak pun perlu dialihkan dari pencapaian-pencapaian seperti lencana atau nilai yang umumnya didapat lewat mastery challenge. Mereka masih perlu diarahkan untuk mencoba konsep-konsep lain, misalnya yang direkomendasikan oleh Khan Academy itu sendiri. Kadang anak-anak saya malas mencoba yang lain karena dianggap terlalu sulit. Di sinilah salah satu peran penting saya sebagai orang tua, yaitu mendorong agar anak justru mau mencoba yang sulit dan berusaha memahaminya. "Kalau cuma ngerjain yang sudah ngerti sih bukan belajar dong namanya," begitu kira-kira kalimat yang sering saya lontarkan saat mereka menghindari konsep yang sulit di Khan Academy.
Masih banyak pengalaman menarik lain yang bisa saya bagi lewat tulisan ini, tapi saya rasa paparan di atas sudah cukup banyak. Intinya baik saya maupun anak-anak menikmati waktu yang kami habiskan di Khan Academy. Dalam konteks bimbingan, Khan Academy jelas membantu saya mengawasi perkembangan belajar anak-anak saya. Kalaupun saya tidak bisa terus-menerus menemani mereka bermain di Khan Academy, saya masih bisa memantau perkembangan anak-anak saya lewat sebuah dashboard yang dirancang khusus untuk para pendidik dan orang tua.

Dashboard yang berisi perkembangan belajar anak-anak
Lewat dashboard tersebut, saya bisa melihat apa saja yang sudah dikerjakan anak-anak saya, apa saja yang berhasil mereka kuasai, apa saja yang sulit mereka kuasai, dan berbagai informasi lainnya. Gambar di atas hanya menyediakan ringkasan perkembangan, tapi rinciannya tetap dapat diakses dengan mudah oleh saya. Tidak mungkin saya paparkan satu per satu informasi yang bisa saya dapatkan lewat dashboard tersebut. Yang pasti, dashboard tersebut sangat membantu saya dalam memahami perkembangan belajar anak-anak saya. Dashboard ini menjadi nilai tambah tak tergantikan yang saya dapatkan dari Khan Academy.

Ada begitu banyak pengalaman menarik selama saya menggunakan Khan Academy, baik untuk belajar sendiri maupun untuk membiasakan anak-anak saya belajar secara mandiri. Tulisan ini pada akhirnya hanya menggambarkan sedikit saja dari pengalaman menyenangkan tersebut. Satu hal yang pasti, Salman Khan sudah berhasil mendapatkan 3 (tiga) tambahan pengguna yang puas menggunakan sistem yang dikembangkannya.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Senin, 07 Juli 2014

Dua Semester Bersama MTI GCIO

6 opini
Semester 2 yang saya jalani di Program Beasiswa MTI (Magister Teknologi Informasi) GCIO (Government Chief Information Officer) sudah berakhir sejak pertengahan Juni lalu. Intensitas belajar langsung turun drastis. Waktu luang di akhir pekan tidak lagi saya habiskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau memperdalam materi-materi kuliah berikutnya. Waktu yang bisa saya curahkan untuk istri dan anak-anak saya pun langsung naik drastis. Jangankan akhir pekan, waktu di hari kerja pun bisa saya habiskan untuk bermain bersama anak-anak atau membantu istri dengan berbagai perintilan urusan rumah tangga.

Semester 2 di Program Beasiswa MTI GCIO memang edan! Intensitas perkuliahan dapat dikatakan jauh lebih tinggi daripada semester sebelumnya, padahal di semester sebelumnya saya pribadi sudah merasa kesulitan untuk mengimbangi derasnya arus perkuliahan. Mengapa begitu? Perbedaan mendasar yang membuat intensitas perkuliahan di semester 2 ini menjadi lebih tinggi daripada semester 1 adalah karena perkuliahan di semester 2 ini lebih mengarahkan mahasiswa pada isu-isu yang strategis. Hal ini, menurut saya, lebih sulit untuk dipahami dibandingkan isu-isu teknis yang harus dipahami di semester 1, apalagi banyak dari isu-isu teknis itu sudah saya hadapi dalam dunia kerja.

Tumpukan buku dan laptop*
Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 seperti Manajemen Informasi Korporat (MIK), Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI), dan Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi (PITI) mengarahkan mahasiswa untuk berpikir secara komprehensif. Mahasiswa tidak lagi dihadapkan dengan isu-isu pragmatis seperti perancangan sistem informasi, perancangan sistem basis data, atau perancangan jaringan komputer. Mata kuliah-mata kuliah di semester 2 ini justru "memaksa" para mahasiswa untuk melihat dan memahami berbagai isu teknologi informasi dari sudut pandang sebuah organisasi/perusahaan. Semua isu-isu teknis memang tidak serta-merta diabaikan, tapi penekanannya sangat kuat di isu-isu strategis.

Tidak kalah menantangnya adalah mata kuliah Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah (MPPI). Walaupun sifat dasar dari mata kuliah ini agak berbeda dengan mata kuliah-mata kuliah yang saya sebutkan di atas, orientasinya tetap saja sama. MPPI ini memang lebih diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk melakukan penelitian di karya akhirnya nanti, tapi berhubung karya akhir mahasiswa Program MTI, baik Program MTI Reguler maupun Program Beasiswa MTI GCIO, bersifat terapan, studi kasus yang diangkat di karya akhir masing-masing mahasiswa pun umumnya sebuah organisasi/perusahaan (umumnya tempat bekerja dari mahasiswa terkait). Alhasil mata kuliah MPPI ini tidak hanya mengarahkan mahasiswa untuk berpikir logis dan sistematis, tapi juga untuk berpikir strategis.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya, apa susahnya berpikir strategis? Kesulitan pertama adalah bagaimana merubah pola pikir dari yang awalnya hanya berpikir tentang masalah-masalah teknis di depan mata menjadi berpikir tentang masalah-masalah perusahaan mulai dari tingkat pimpinan sampai tingkat staf. Kesulitan kedua adalah bagaimana agar pola pikir yang sudah berubah itu dapat diterapkan dalam dunia nyata. Kesulitan ketiga adalah bagaimana agar perubahan pola pikir dan penerapannya itu dapat diterapkan dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Intinya adalah bagaimana memahami berbagai materi perkuliahan yang terbilang asing, menuangkannya dalam berbagai tugas individu dan tugas kelompok yang menguras waktu dan tenaga, seraya mengatur waktu yang dimiliki agar semua materi dan tugas dari keempat mata kuliah tersebut bisa dipahami dan dikerjakan dengan baik (baca: tidak asal selesai).

Masih ada 1 tantangan lain, yaitu mata kuliah ke-5. 4 mata kuliah yang sudah saya ceritakan di atas adalah mata kuliah wajib sehingga wajib juga diambil oleh mahasiswa Program MTI Reguler. Khusus untuk mahasiswa Program Beasiswa MTI GCIO diwajibkan mengambil 5 mata kuliah. 4 mata kuliah wajib tersebut ditambah 1 mata kuliah pilihan. Saya sendiri memilih mengambil Data Mining & Business Intelligence (DMBI) karena selaras dengan minat saya. Terlepas dari itu, juggling 5 mata kuliah tentu saja bukan hal yang mudah. 4 mata kuliah wajib itu saja sudah menguras begitu banyak waktu. Tambahan 1 mata kuliah pilihan itu tentu saja akan memberikan beban tambahan kepada beban kuliah yang sudah terlampau berat.

Sebegitu beratnya kuliah di semester 2 itu?

Ya, memang berat. Tapi "berat" di sini bukan berarti tidak bisa dilampaui dengan baik. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meringankan beban kuliah di semester 2 itu. Pertama, untuk mata kuliah MIK, fokusnya ada pada pemahaman materi. Metode belajar yang terpusat pada mahasiswa membuat mata kuliah ini penuh dengan diskusi (dan pada akhirnya interpretasi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah mengupas buku teksnya secara tuntas; bukan hanya materinya, tapi juga studi kasus yang ada di dalam buku itu. Sayangnya liburan semester lalu tidak saya manfaatkan untuk melakukan ini.

Kedua, untuk mata kuliah PSSI, fokus utamanya adalah pada tugas kelompok, yaitu membuat dokumen perencanaan strategis sistem informasi untuk sebuah organisasi/perusahaan. Di sini pemahaman materi pun tidak kalah penting dengan mata kuliah MIK karena tugas kelompok itu tidak akan selesai dengan baik tanpa memahami keterkaitan antara elemen-elemen dalam proses perencanaan strategis terkait. Lalu kenapa fokus utamanya justru pada tugas dan bukan pada pemahaman materi? Karena porsi waktu yang diperlukan untuk menggali informasi dalam studi kasus itu kemungkinan akan lebih banyak. Kita perlu menuangkan proses bisnis, data, sistem informasi, infrastruktur, dan struktur organisasi pengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ada di dalam organisasi/perusahaan yang menjadi objek studi kasus kita. Ini bukan tugas mudah, apalagi kalau yang mahasiswa-mahasiswa yang bersangkutan tidak memiliki posisi strategis (hanya staf) di dalam organisasi/perusahaan tersebut. Lagi-lagi saya menyayangkan karena tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk menggali informasi-informasi ini.

Ketiga, untuk mata kuliah MPPI, fokus utamanya adalah bagaimana berpikir logis dan sistematis dalam membuat proposal karya akhir. Saya dan banyak teman-teman kuliah saya senantiasa tersandung di sini. Tugas sudah selesai dikerjakan; sebagian bahkan berhasil menulis dengan tingkat ketebalan proposal yang membuat saya tercengang. Akan tetapi, tetap saja hasilnya tidak memuaskan. Penyebabnya adalah kesalahan cara berpikir yang mengakibatkan proposal karya akhir yang dibuat menjadi tidak logis dan tidak sistematis. Masalah yang dikemukakan harus jelas dan didukung dengan fakta yang kuat dan objektif. Pertanyaan yang perlu dijawab melalui penelitian, tujuan penelitian, judul karya akhir, dan teori-teori yang dituangkan di dalam proposal harus nyambung dengan masalah yang sudah dirumuskan. Metodologi penelitian yang diusulkan pun tidak bisa sembarangan; pemilihan metodenya harus memiliki landasan teori dan alasan pemilihan yang logis. Percaya bila saya katakan semua hal itu tidak mudah, kecuali kita memang sudah berpengalaman dalam membuat proposal penelitian. Dosen pengajarnya bahkan menegaskan bahwa orang-orang yang sudah terbiasa membuat proposal (baca: proposal proyek) pun belum tentu akan lancar menulis proposal karya akhir dalam kuliah MPPI ini. Sayangnya saya tidak memanfaatkan liburan semester yang lalu untuk memperdalam pola pikir logis dan sistematis ini.

Keempat dan kelima, untuk mata kuliah PITI dan DMBI, santai! Kuliah PITI ini seperti dirancang untuk mengimbangi beban berat dari MIK + PSSI + MPPI. Kuis dan tugas individu tidak ada. Tugas kelompok memang ada, tapi isinya merupakan bagian dari isi tugas PSSI. Kalau kita bisa menemukan objek studi kasus yang "tepat", mengerjakan tugas PSSI sudah terhitung mengerjakan sebagian besar tugas PITI. Memang masih ada yang perlu disiapkan untuk tugas PITI ini, tapi tetap terbilang santai. Kuliah DMBI pun tidak jauh berbeda dengan PITI, tapi berhubung dosen pengajar mata kuliah DMBI ini tidak selalu sama setiap semester, ada kemungkinan santainya kuliah DMBI ini sangat dipengaruhi oleh faktor dosen pengajar tersebut. Walaupun begitu, bukan berarti saya meremehkan 2 mata kuliah tersebut. PITI dan DMBI memiliki bobotnya sendiri, tapi bila disandingkan dengan MIK, PSSI, dan MPPI, beban di 2 mata kuliah tersebut justru terasa ringan.

Menarik, bukan?

Satu hal yang pasti, semua mata kuliah di semester 2 itu, termasuk DMBI yang terkesan bersifat teknis, memberi dampak yang sangat besar terhadap cara berpikir saya, khususnya dalam mengarahkan saya untuk berpikir strategis, logis, dan sistematis (3-is). Dapat saya katakan bahwa perubahan besar dalam diri saya yang saya dapatkan di semester 2 itu jauh lebih besar dibandingkan yang saya dapatkan di semester 1. Perubahan yang saya rasakan bukan hanya dalam konteks bekerja, tapi dalam kehidupan secara umum. Luar biasa, bukan? Silakan dicoba sendiri.

Demikian "ulasan" kuliah semester 2 dalam Program Beasiswa MTI GCIO. Harapan saya adalah tulisan ini menjadi pengingat agar para mahasiswa Program MTI yang akan menghadapi semester 2 lebih siap dalam menghadapi terpaan materi dan tugas yang siap menghempaskan mereka. Semoga saja harapan ini menjadi kenyataan. Aamiin.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 29 Juni 2014

Berburu SD

3 opini
Akhirnya blog ini pun di-update kembali. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dan +Ratna Aditia berburu sekolah dasar (SD) untuk Raito dan Aidan. Bagi para orang tua kawakan, pengalaman kami mungkin bisa menjadi sarana hiburan dan nostalgia. Sementara bagi para orang tua pemula seperti kami, pengalaman kami ini mungkin bisa menjadi tempat untuk menemukan rekan senasib dan sepenanggungan.

Saya mulai.

Seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang tua yang bertanggung jawab, liburan sekolah kali ini kami (saya dan istri saya) manfaatkan untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke salah satu SD negeri di Tangerang. Terus terang, kami sangat awam untuk urusan daftar SD ini. Kami tidak tahu kapan pendaftaran sekolah itu dibuka, apa saja yang menjadi persyaratannya, bagaimana prosedurnya, atau berapa biayanya. Oleh karena itu, langkah pertama yang kami lakukan adalah bertanya ke beberapa SD terkait tanggal dibukanya pendaftaran. Dari informasi yang kami dapatkan, tanggal dibukanya pendaftaran untuk SD negeri itu serentak. Bila waktu pendaftaran itu sudah dekat, SD-SD negeri itu akan memasang spanduk atau sejenisnya yang akan mengumumkan tanggal dibukanya pendaftaran. Bila ada 1 (satu) SD negeri yang memasang pengumuman itu, dapat dipastikan bahwa SD-SD negeri lainnya pun sudah (atau akan) memasang pengumuman yang sama. Yang perlu kami lakukan adalah memeriksa apakah ada SD negeri yang sudah memasang pengumuman seperti itu. Hal ini kami lakukan secara berkala (selang 2 - 3 hari) sejak awal Juni.

Setelah spanduk pengumuman itu terpasang, langkah selanjutnya adalah melakukan pendaftaran. Untuk Raito dan Aidan, SD pertama yang kami sambangi adalah SD P (bukan nama sebenarnya) yang merupakan SD unggulan. Di SD P ini, untuk mendaftar saja harus mengantri. Terlihat jelas bahwa para orang tua berbondong-bondong ingin memasukan anaknya ke SD unggulan ini. Persis di sebelah SD P ini pun ada SD Q (bukan nama sebenarnya) yang sudah menjadi langganan cadangan SD unggulan (baca: cadangan SD P). Terlihat jelas bahwa setiap orang tua yang mendaftarkan anaknya di SD P itu juga mendaftarkan anaknya di SD Q; termasuk kami. Selain SD P dan SD Q, kami pun mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD R: SD negeri lain yang terlihat bonafid.

Di ketiga sekolah tersebut, baik prosedur maupun persyaratan pendaftarannya terbilang sama. Untuk persyaratannya, saya hanya perlu menyiapkan akta kelahiran asli (hanya untuk diperlihatkan), fotokopi akta kelahiran, fotokopi KTP saya, fotokopi KTP istri saya, dan fotokopi kartu keluarga; 1 (satu) rangkap untuk masing-masing anak. Yang sedikit berbeda adalah prosedurnya. Setelah kami mengisi formulir pendaftaran, SD Q dan SD R melanjutkan dengan melakukan wawancara singkat kepada Raito dan Aidan, sementara di SD P tidak ada wawancara sama sekali. Setelah semua prosedur dilewati, kami menerima tanda bukti pendaftaran yang nantinya harus dibawa saat kami akan melakukan daftar ulang; itu pun kalau Raito dan Aidan diterima. Berapa biayanya? 0 (nol) alias gratis.

Walaupun persyaratan dan prosedurnya terbilang mudah dipenuhi dan diikuti, prosesnya sendiri terbilang melelahkan karena waktu pendaftarannya sangat terbatas. Waktu pendaftaran sekolah di SD negeri, khususnya yang kami sambangi, hanya dibatasi selama 3 (tiga) hari. Di setiap harinya pun jamnya dibatasi dari pagi (sekitar pukul 07.30-08.00) sampai siang (sekitar pukul 12.00-13.00). Jadi untuk mendaftar ke beberapa SD negeri itu waktunya tidak terlalu longgar. Kami menghabiskan waktu 2 (dua) hari untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke tiga SD tersebut.

Pedih!*
Setelah proses pendaftaran selesai, yang bisa kami lakukan adalah menunggu pengumuman. Bagaimana hasilnya? Gagal total! Raito dan Aidan tidak diterima di SD P dan SD Q, sementara di SD R, Raito dan Aidan masuk ke dalam daftar tunggu; untuk menunggu tanpa kepastian. Saat kami berpikir bahwa 3 (tiga) SD itu sudah terlalu banyak, rupanya Raito dan Aidan tidak diterima di satu SD pun. Pedih!

Mengapa Raito dan Aidan bisa gagal? Apakah karena Raito dan Aidan kurang pintar? Sepertinya bukan itu alasannya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kriteria penerimaan siswa baru di SD P, Q, dan R adalah lokasi domisili dan usia calon siswa. Untuk kriteria lokasi domisili, yang diutamakan adalah jarak lokasi tempat tinggal dari lokasi SD. Semakin dekat jarak tersebut, semakin besar peluang diterimanya siswa di SD terkait. Untuk kriteria usia calon siswa, yang diutamakan adalah yang berusia 7 (tujuh) tahun, kemudian di atas 7 (tujuh) tahun, dan terakhir di bawah 7 (tujuh) tahun. Kami sempat bertanya kepada panitia penerimaan SD P mengenai tidak adanya wawancara singkat? Salah seorang panitia mengatakan "tidak perlu" karena yang diterima lebih ditentukan oleh lokasi domisili. Jadi kami berasumsi bahwa Raito dan Aidan tidak diterima di ketiga SD tersebut karena lokasi rumah kami terlalu jauh atau karena umur mereka terlalu muda.

Percaya dengan kriteria itu? Tidak terlalu.

Saya memang hanya setengah percaya dengan kriteria-kriteria yang saya paparkan di atas. Masalahnya adalah saat pengumuman itu pun tidak jelas di mana tempat tinggal dan berapa usia para calon siswa yang diterima. Yang tercantum di dalam daftar pengumuman itu hanya status "diterima" dan "tidak diterima"; khusus untuk SD R juga ada status "cadangan". Bagaimana kami bisa percaya dengan kriteria penerimaan siswa baru tersebut kalau hasil pengumumannya saja tidak terlalu transparan? Selain itu, kabar burung terkait "uang pelicin" pun masih beredaran sehingga semakin sulit bagi saya untuk mempercayai kriteria penerimaan siswa baru itu.

Terima bahwa Raito dan Aidan gagal masuk SD? 100%.

Apapun alasannya, nasi sudah menjadi bubur ayam Cirebon. Setelah rasa pedih di hati sirna, kami mencoba menentukan langkah selanjutnya. Menurut kami, berhubung Raito dan Aidan masih berumur 6 (enam) tahun, masuk SD tahun depan pun tidak masalah. Waktu luang yang mereka miliki selama menunggu datangnya tahun ajaran baru itu dapat diisi dengan mengikuti kursus-kursus seperti kursus bahasa Inggris atau komputer. Prinsipnya adalah sekolah boleh ditunda, tapi belajar harus tetap berjalan.

Walaupun begitu, tetap saja ada perasaan yang mengganjal. Istri saya merasa usaha kami belum maksimal dan mengusulkan untuk mencoba mencari SD negeri lain yang masih membuka pendaftaran. Walaupun waktu pendaftaran SD negeri yang kami tahu itu sudah tutup, kami berasumsi masih ada sekolah yang kuotanya belum penuh dan masih menerima pendaftaran di luar waktu pendaftaran yang resmi. Strategi kami pun kami ubah dari mengejar SD negeri unggulan dan cadangan unggulan menjadi mengejar SD negeri terdekat.

Alhamdulillah salah seorang tetangga pernah memberikan informasi SD negeri yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal kami, yaitu SD S (bukan nama sebenarnya). Dengan perasaan harap-harap cemas, kami pun mendatangi SD S. Saat itu, suasana di SD S sangat sepi; tidak ada tanda-tanda penerimaan siswa baru. Kami maklum karena memang waktunya sudah lewat, tapi berhubung gerbangnya terbuka, kami tetap masuk dan mencoba mencari informasi. Alhamdulillah ternyata masih ada seorang guru yang berbaik hati untuk menerima pendaftaran siswa baru. Seorang? Ya, beliau sendirian menangani pendaftaran siswa baru sementara guru-guru lain sedang mengikuti penataran di sekolah lain. Kenapa saya bisa tahu alasannya? Beliau curcol.

Intinya Raito dan Aidan diterima di SD S. Rasa pedih itu memutuskan untuk tidak datang kembali menghampiri hati kami. Baik persyaratan maupun prosedurnya mirip dengan di SD P, Q, dan R. Bedanya adalah di SD S ini, akta kelahiran asli harus diserahkan dan hanya bisa diambil kembali saat daftar ulang. Mengapa begitu? Karena SD S ini sudah terlalu sering menjadi cadangan yang tidak diambil. Dengan begitu panitia penerimaan siswa baru di SD S ini berinisiatif kalau memang orang tua siswa benar-benar berniat mendaftarkan anak mereka di SD S, mereka harus berani meninggalkan akta kelahiran anak mereka yang asli. Tanpa akta kelahiran yang asli, mendaftarkan anak di SD lain menjadi sulit (atau bahkan tidak mungkin). Kenapa saya bisa tahu sejauh ini? Guru tersebut (lagi-lagi) curcol. Selama guru tersebut curcol, saya hanya mesem-mesem sendiri; itu pun di dalam hati.

Selain masalah akta kelahiran asli yang harus diserahkan ke pihak sekolah, prosedur di SD S pun sedikit berbeda. Di SD S ini, calon siswa akan diuji kemampuannya dalam menulis, membaca, dan berhitung. Ujiannya sendiri hanya sedikit (satu halaman A4/Folio) dan penilaiannya tidak terlalu ketat, tapi terlihat sekali bahwa SD S ini lebih mengharapkan kesiapan calon siswa dalam menghadapi pelajaran-pelajaran SD yang berat dibandingkan SD-SD yang sebelumnya saya datangi. Yang juga berbeda di SD S ini adalah masalah biaya. Di SD S ini, saya harus mengeluarkan uang Rp. 20.000 untuk biaya pendaftaran per anak. Jadi saya perlu membayar Rp. 40.000 untuk biaya pendaftaran Raito dan Aidan. Inilah risiko memiliki anak kembar.

Perjuangan saya dan istri saya untuk mendaftarkan Raito dan Aidan ke SD negeri pun berakhir; dan untungnya berakhir dengan baik. Raito dan Aidan bisa segera melanjutkan sekolah tahun ini dan kami pun tidak perlu terlalu pusing mencarikan kegiatan belajar lain untuk mereka. Selanjutnya bagaimana? Tahap selanjutnya adalah daftar ulang. Entah apa yang harus kami siapkan saat daftar ulang nanti. Semoga saja urusan itu pun berakhir dengan baik.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Minggu, 16 Februari 2014

Mengejar 6 Mbps

4 opini
Internet Cepat*
Saya sudah berlangganan FirstMedia sejak Raito dan Aidan lahir. Itu artinya saya sudah menjadi pelanggan FirstMedia selama 5,5 tahun lebih. Bahkan selama saya berkali-kali pindah tempat tinggal, saya tetap menjadi pelanggan FirstMedia; sampai detik ini. Tidak pernah ada kendala signifikan selama saya berlangganan FirstMedia. Satu-satunya masalah "besar" yang saya alami adalah masalah kenaikan harga.

Berhubung tidak pernah ada kontrak yang jelas perihal jangka waktu berlangganan, kenaikan harga yang terjadi terkesan sepihak. Tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa biaya sewa bulanan saya akan mengalami kenaikan; untungnya masih ada pemberitahuan. Tentu saja tidak mudah bagi saya untuk menerima kenaikan harga, sehingga masalah kenaikan harga ini berujung pada masalah lain, yaitu sulitnya menghubungi customer service (CS) FirstMedia.

Ceritanya bermula sejak saya pindah ke rumah baru bulan Juni 2013 lalu. Saat itu saya memutuskan untuk kembali memilih FirstMedia sebagai penyedia layanan televisi kabel (produknya bernama HomeCable) dan Internet (produknya bernama FastNet). Saya mulai aktif berlangganan sekitar bulan Juli atau Agustus 2013; saya agak lupa pastinya. Saat itu saya berlangganan paket DLite (salah satu paket kombinasi HomeCable dan FastNet) dengan biaya 280 ribu rupiah per bulan. Tiba-tiba pada bulan Desember 2013 atau Januari 2014, saya menerima surat pemberitahuan mengenai kenaikan harga yang berlaku mulai Februari 2014. Nilai tambah yang paling nyata dari kenaikan harga ini adalah kecepatan Internet akan ditambah dari up to 2 Mbps menjadi up to 6 Mbps.

Walaupun nilai tambahnya menggiurkan, kenaikan harga dari 280 ribu rupiah per bulan menjadi 340 ribu per bulan (belum termasuk PPN 10%) adalah kenaikan harga yang signifikan (baca: sulit untuk dibayar). Saya memutuskan untuk menghubungi CS FirstMedia untuk downgrade ke paket yang lebih murah. CS pertama yang berhasil saya hubungi mengatakan downgrade itu bisa dilakukan ke paket Family yang sewa bulanannya memang lebih murah daripada paket DLite. Konsekuensinya adalah layanan HomeCable akan dikurangi beberapa saluran dan layanan FastNet akan diturunkan menjadi up to 1 Mbps. Kecepatan yang rendah itu membuat saya memutuskan untuk menunda proses downgrade.

Beberapa minggu kemudian, saya berubah pikiran. Saya memutuskan untuk melanjutkan proses downgrade. Saya pun kembali menghubungi CS FirstMedia. Sayangnya informasi yang diberikan CS ini berbeda dengan yang sebelumnya. CS kedua ini mengatakan bahwa proses downgrade itu tidak bisa dilakukan.  Paket Family memang ada, tapi tidak lagi dijual ke pelanggan. Itu artinya yang masih menggunakan paket Family adalah pelanggan-pelanggan lama yang (cukup beruntung) sudah berlangganan paket Family sejak awal mereka berlangganan. Pilihan saya pun akhirnya terbatas menjadi 2, yaitu antara merogoh saku lebih dalam untuk membayar lebih atau memutus langganan FirstMedia. Komunikasi dengan CS FirstMedia pun berakhir.

Beberapa minggu kemudian, tagihan bulanan FirstMedia pun sudah memperlihatkan kenaikan harga. Ya, saya memutuskan untuk tidak memutus langganan. Saya memutuskan untuk mencoba menikmati kecepatan 6 Mbps daripada harus repot-repot mencari penyedia layanan televisi kabel dan Internet yang lain. Ternyata saat saya melakukan pengecekan kecepatan (menggunakan layanan speedtest.net), kecepatan mengunduh masih terbatas di sekitar angka 2 Mbps.

Akhirnya saya kembali menghubungi CS FirstMedia. Lagi-lagi saya mendapatkan informasi baru; sebuah informasi yang seharusnya saya temukan jauh-jauh hari (saat pemberitahuan kenaikan harga). CS yang menerima telepon saya mengatakan bahwa paket DLite ini ada 2 jenis, yaitu paket DLite Lama dan paket DLite Baru. Kecepatan koneksi Internet saya masih terbatas di 2 Mbps karena paket saya masih versi lama. Rupanya membayar dengan harga yang baru tidak otomatis mendapatkan kecepatan 6 Mbps.

Kecepatan 6 Mbps ini akan diberikan sesuai permintaan pelanggan karena konsekuensinya adalah beberapa saluran di layanan HomeCable akan dihentikan. Sepertinya hal ini yang membuat transisi dari 2 Mbps ke 6 Mbps tidak otomatis. Tapi mengapa informasi penting seperti ini tidak langsung disampaikan kepada pelanggan? Kenapa tidak disampaikan lewat surat pemberitahuan kenaikan harga atau kenapa tidak disampaikan melalui email seperti halnya tagihan bulanan? Hal-hal seperti ini justru memancing pelanggan untuk berpikiran negatif, bukan?

Pada akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke DLite Baru dan perjalanan panjang berurusan dengan CS FirstMedia pun (semoga saja) berakhir di sini. Saya tidak terlalu memperhatikan saluran apa saja yang "hilang" dari layanan HomeCable di rumah saya, tapi bisa saya pastikan bahwa kecepatan koneksi Inernet saya sudah meningkat jauh (lihat gambar di samping). Yang saya sayangkan adalah butuh berkali-kali menelepon CS untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dan hasil yang memuaskan seperti ini. Konyol, bukan?

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Jumat, 24 Januari 2014

Satu Semester Bersama MTI GCIO

25 opini
Tidak lama lagi, semester kedua kuliah akan segera dimulai. Waktu untuk bersantai menikmati cuaca dingin akibat hujan berkepanjangan pun akan segera berakhir. Bersamaan dengan itu, rutinitas perkuliahan seperti pulang malam akibat kuliah malam, begadang dan menghabiskan akhir pekan untuk membaca materi-materi kuliah dan mengerjakan tugas, dan berbagai rutinitas melelahkan (dan kadang menjemukan) lainnya akan segera dimulai. Untuk menyambut kedatangan semester kedua ini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya di semester pertama.

Cerita yang akan saya sampaikan di sini pada dasarnya adalah kelanjutan dari tulisan saya "MTI GCIO, Saya Datang!". Saya resmi diterima sebagai penerima beasiswa GCIO dari Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) pada tanggal 19 Mei 2013, tapi saya baru mulai kuliah di awal September 2013. Jadwal perkuliahan tentu saja mengikuti jadwal perkuliahan program S2 yang saya pilih, yaitu Magister Teknologi Informasi (MTI) di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), Universitas Indonesia (UI).

Total penerima beasiswa GCIO di MTI Fasilkom UI, termasuk diri saya, ada 34 orang. Apakah angka "34" ini mencerminkan kuota penerima beasiswa? Entahlah. Intinya kelas menjadi ramai karena 34 orang itu dikumpulkan menjadi 1 (satu) kelas. Tidak hanya ramai, tapi juga bervariasi karena mereka datang dari berbagai instansi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Selain banyaknya teman kuliah, kabar baik lainnya adalah insentif dalam bentuk "biaya operasional" yang diberikan setiap bulannya kepada penerima beasiswa itu benar adanya. Setelah berbulan-bulan bergalau ria karena insentif itu tak kunjung cair, ditambah lagi informasi yang simpang siur tentang ada atau tidaknya insentif tersebut, akhirnya kegalauan itu sirna setelah rapelan insentif cair di bulan November.

Satu-satunya hal yang membuat saya kecewa adalah jumlah mata kuliah per semester. Program beasiswa GCIO ini hanya menanggung biaya kuliah untuk 3 (tiga) semester. Bila seorang penerima beasiswa harus kuliah lebih dari 3 (tiga) semester, maka dia harus menanggung biaya kuliahnya sendiri. Sungguh mengenaskan bila hal ini terjadi; kecuali yang bersangkutan memiliki alasan dan dukungan dana yang kuat. Dengan jumlah semester yang lebih sedikit dari jumlah semester kuliah S2 pada umumnya, saya berasumsi jumlah kredit yang harus diambil pun lebih sedikit dari biasanya. Ternyata asumsi saya salah.
Jumlah kredit yang harus diambil selama 3 (tiga) semester itu sama dengan jumlah kredit yang harus diambil selama 4 (empat) semester seperti halnya mahasiswa umum. Ini berarti jumlah kredit per semester harus lebih banyak dari biasanya. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar jumlah mata kuliah di semester ketiga yang diambil bersamaan dengan pembuatan tesis tidak terlalu banyak. Pengaturan yang dilakukan berujung pada 5 (lima) mata kuliah di semester pertama, 5 (lima) mata kuliah di semester kedua, dan 2 (dua) mata kuliah di semester ketiga; belum termasuk tesis. Angka "5" mungkin terbilang kecil, tapi saya pribadi sebenarnya berharap tidak mengambil lebih dari 4 (empat) mata kuliah per semester.

Bagi saya, dampak dari 1 (satu) mata kuliah ini terasa signifikan. Ada momen-momen saat saya berpikir betapa tidak nyamannya mengambil 5 (lima) mata kuliah sekaligus di semester pertama lalu. Momen-momen seperti ini membuat saya berpikir "seandainya hanya 4 (empat mata kuliah)...". Rutinitas perkuliahan yang melelahkan di awal tulisan ini memang benar adanya. Saya tidak membesar-besarkan saat saya menyebutkan bahwa akhir pekan saya habis untuk mengerjakan tugas atau membaca kembali materi-materi kuliah.

Walaupun begitu, semester pertama dapat saya lewati dengan baik. Determinasi saya untuk serius belajar didukung penuh oleh istri saya. Istri saya menerima dengan baik kenyataan bahwa saya tidak bisa terlalu banyak terlibat dalam mengurus anak-anak dan bahwa niat saya untuk mencari penghasilan tambahan (karena sebagian besar gaji saya dipotong saat kuliah) harus dibatalkan. Istri saya sendiri yang melarang saya untuk memaksakan diri mencari penghasilan tambahan. Dia bahkan mengatakan sebaiknya waktu di luar urusan kuliah itu saya manfaatkan untuk keluarga atau untuk beristirahat. Istri yang superrr, bukan?

Masih banyak lagi pengalaman yang bisa saya ceritakan selama semester pertama, mulai dari dosen-dosennya, materi-materi kuliahnya, tugas-tugas kelompoknya, ujian-ujiannya, makan sore dan makan malamnya, dan berbagai hal lainnya. Sebagian di antaranya lucu, menarik, menantang, dan menyenangkan. Sebagian lainnya melelahkan, membosankan, dan menyebalkan. Sayangnya tulisan ini sudah mencapai paragraf kesembilan (baca: sudah cukup panjang). Jadi cerita lainnya akan saya tuangkan dalam tulisan lain; insya Allah.

Kamis, 09 Januari 2014

Rumah Ramah Batita

0 opini
Tepat tanggal 4 Januari 2014, Yelena Pramudita Amira memasuki bulan ke-7 dalam hidupnya. 6 bulan penuh suka dan duka sudah kami (saya dan +Ratna Aditia) lewati bersama Yelena; Raito dan Aidan tentu saja tidak ketinggalan. Sedikit ceritanya bisa ditemukan di 19 Hari Kemudian. Di bulan ke-7 ini, waktunya bagi Yelena untuk makan MPASI (Makanan Pendamping ASI) dan bagi saya untuk mulai merapikan barang-barang yang dapat dijangkaunya saat dia belajar berdiri dan berjalan kelak.

Soket Listrik*
Momennya memang tepat. Yelena memasuki bulan ke-7 saat saya sedang libur kuliah. Hal ini menjadi pengingat bahwa waktu libur kuliah ini harus saya manfaatkan untuk membuat rumah saya menjadi lebih ramah batita. Membuat rumah menjadi ramah batita ini sebenarnya bukan urusan rumit, tapi kalau tidak dilakukan bisa berakibat fatal. Fatal seperti apa? Contoh paling sederhana adalah soket listrik yang terlalu rendah. Soket listrik yang terlalu rendah membuka kesempatan bagi seorang batita untuk memasukan jari mungilnya ke dalam soket listrik itu dan menimbulkan risiko terkena sengatan listrik. Untuk meminimalisir risiko ini, soket listrik yang terlalu rendah harus ditutup dengan baik.

Tujuan dari membuat rumah ramah batita adalah untuk meminimalisir risiko-risiko yang sejenis dengan contoh soket listrik yang rendah di atas. Untungnya bagi saya, urusan listrik ini tidak menjadi pikiran karena semua soket listrik di rumah saya tingginya mencapai kisaran 1,5 meter. Yang tersisa adalah memastikan bahwa tidak ada kabel-kabel ekstensi yang posisinya dapat dijangkau oleh Yelena. Hal ini bukan masalah besar.

Selepas urusan listrik, hal berikutnya yang perlu disesuaikan adalah meja-meja pendek. Meja-meja pendek yang mudah goyah (umumnya yang berkaki tunggal) dan meja-meja pendek dengan ujung lancip perlu diperhatikan. Di antara meja-meja pendek ini, perhatian utama saya tujukan pada meja yang mudah goyah karena risiko tertimpa meja dan risiko akibat tertimpa meja itu cukup besar. Untuk urusan meja-meja pendek ini pun tidak menjadi pikiran bagi saya karena meja-meja pendek di rumah saya bukan tipe yang mudah jatuh. Langkah ekstra yang dapat diambil adalah memberi lapisan tumpul pada ujung meja yang lancip, tetapi langkah ekstra ini tidak saya ambil karena alasan yang tidak bisa saya ceritakan di sini (baca: malas).

Kunci Tempel
Setali tiga uang dengan meja adalah laci/lemari, yaitu laci-laci/lemari-lemari berposisi rendah yang tidak memiliki kunci. Untuk perabot seperti ini, alternatif paling praktis adalah dengan membeli sejenis kunci yang bisa ditempel. Dengan begitu, saya tidak perlu repot-repot pasang baut dan merusak laci/lemari yang saya miliki. Di rumah saya saat ini hanya ada 1 (satu) set laci seperti itu sehingga saya tidak perlu membeli terlalu banyak kunci tempel. Dari beberapa pilihan yang ada, kunci tempel yang saya gunakan ada 2 (dua) jenis seperti pada gambar di atas. Kunci tempel seperti di atas memang praktis karena mudah dipasang, tapi seperti yang dikatakan kawan saya, +Aresto Yudo, kunci seperti ini mungkin tidak bertahan terlalu lama seiring dengan bertambah kuatnya daya betot Yelena.

Rak Tempel
Setelah listrik, meja dan berbagai laci/lemari, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah peralatan/dekorasi. Perabot-perabot rumah harus saya amankan dari jangkauan Yelena kelak. Beruntung saya dan istri bukan tipe orang yang gemar menghias rumah sehingga urusan perabot ini tidak terlalu rumit. Satu-satunya hal yang perlu saya pikirkan adalah trio dekoder TV kabel-modem Internet-WiFi Router. Hal ini yang memaksa saya untuk membeli bor listrik, papan kayu (beserta penyangganya), dan perlengkapan lainnya untuk membuat rak tembok sederhana seperti gambar di samping.

Satu hal lagi yang perlu saya perhatikan adalah masalah akses. Yelena pasti akan pergi ke mana saja dia mau dan tempat-tempat seperti dapur, kamar mandi, atau bahkan di luar rumah merupakan petualangan baru yang senantiasa menarik bagi dirinya. Akses seperti ini perlu diperhatikan karena masing-masing lokasi membawa risikonya sendiri, misalnya dapur dengan perabot dapurnya, kamar mandi dengan licinnya, dan luar rumah dengan... segala risikonya.

Pagar Untuk Batita*
Langkah paling mudah untuk urusan akses ini adalah dengan membeli pagar buatan yang umumnya terbuat dari bahan plastik seperti pada gambar di samping. Pagar buatan ini jelas lebih praktis bila dibandingkan dengan harus menambah pintu kecil untuk menjaga agar Yelena tidak keluyuran. Walaupun begitu, saya pribadi tidak terlalu ambil pusing untuk urusan akses ini. Yang saya lakukan adalah menegaskan kepada setiap orang dewasa di rumah saya bahwa Yelena tidak boleh ditinggal sendirian. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa Yelena tidak akan melakukan aktivitas yang memiliki risiko tinggi.

Urusan akses ini menjadi penting bagi para batita yang tinggal di rumah bertingkat. Salah satu anggota keluarga saya sendiri pernah mengalami musibah terkait urusan akses ini, yaitu saat anaknya jatuh dari lantai 2 ke lantai 1. Saat itu anaknya yang sedang bermain di lantai 2 sempat lepas dari pengawasan, membuka pintu kecil tambahan di tangga menuju lantai 1, dan akhirnya terjatuh ke arah tangga hingga lantai 1. Rincian kejadiannya tidak bisa saya paparkan lebih lanjut, tapi dari kejadian ini dapat kita lihat bahwa penjagaan ekstra (pintu kecil tambahan) itu menjadi tidak berarti kalau pengawasan terhadap anak tetap rendah.

Demikian cerita panjang lebar tentang pengalaman saya mempersiapkan rumah ramah batita. Sebagian dari beberapa hal di atas juga saya lakukan saat Raito dan Aidan mencapai usia yang cukup untuk bergerak dengan liar. Ada beberapa hal yang berbeda karena kondisi tempat tinggal kami saat itu berbeda dengan saat ini. Sampai saat ini saya merasa sudah melakukan semua hal yang perlu saya lakukan demi menjaga keamanan Yelena. Kalau menurut Anda ada bagian yang terlupa, mohon sampaikan di bagian komentar.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search