Jumat, 28 Desember 2018

Mengobati Rasa Lelah Dalam Parenting

0 opini
Harapan akan membuka ruang bagi datangnya kekecewaan. Semakin tinggi harapan kita, semakin dahsyat kekecewaan yang akan kita rasakan bila harapan itu tidak terwujud. Hal yang sama juga berlaku saat kita menjalankan peran kita sebagai orang tua. Semakin tinggi harapan kita pada anak-anak kita, semakin nyeri hati kita saat harapan itu tidak tercapai. Rasa nyeri itu tidak selalu mudah hilang. Ada kalanya rasa nyeri itu bertahan, lalu bertambah seiring datangnya kekecewaan yang lain. Sampai akhirnya rasa nyeri itu berubah menjadi rasa lelah yang menghampiri seluruh kujur tubuh kita dan menyedot habis energi kita, lahir dan batin.

Anda pernah mengalaminya? Kalau Anda belum pernah mengalaminya, ada 2 kemungkinan. Pertama, Anda selalu mampu menyikapi setiap masalah dalam parenting secara positif. Kedua, Anda belum menjadi orang tua. Kemungkinan pertama sepertinya tidak masuk akal, kecuali Anda adalah malaikat atau makhluk yang tidak memiliki emosi.

Saya asumsikan saja bahwa Anda, seperti saya, pernah mengalami rasa lelah dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang tidak kenal lelah saat hinggap di tubuh kita. Rasa lelah yang kadang menyebabkan mati rasa. Rasa lelah yang membuat kita tidak peduli pada anak-anak kita dan ingin melarikan diri dari tanggung jawab kita sebagai orang tua. Rasa lelah yang sama yang membuat saya menulis tentang perasaan gagal yang saya rasakan dalam mendidik anak-anak saya: Gagal Mendidik Anak.

Gagal Mendidik Anak
Dalam "Gagal Mendidik Anak", saya menulis tentang usaha saya untuk mengalahkan perasaan gagal tersebut. Caranya sederhana, yaitu dengan melihat eksistensi anak-anak saya secara utuh. Tujuannya adalah agar saya tidak terlalu fokus melihat hal-hal negatif dalam diri anak-anak saya. Cara tersebut membuat saya semakin menyadari banyaknya hal-hal positif dalam diri mereka, membuat saya semakin mampu menghargai mereka apa adanya, dan pada akhirnya membuat saya mampu mengalahkan perasaan gagal yang terus menguat.

Cara tersebut memang sederhana. Terlalu sederhana? Mungkin saja. Di balik itu sebenarnya masih banyak proses lain yang harus dilewati. Satu hal yang pasti harus dilakukan adalah cool down (menenangkan diri). Saat ada terlalu banyak hal negatif yang harus dihadapi, menenangkan diri merupakan sesuatu yang super penting. Lakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk menenangkan diri. Dalam proses itu, bukan setelahnya, cobalah untuk mengingat kembali hal-hal positif dalam diri anak-anak kita dan kenangan-kenangan indah bersama anak-anak kita. Semua itu akan membantu menghilangkan rasa gagal dan tentu saja rasa lelah dalam parenting.

Kabar Baik Terkait Rasa Lelah
Kabar baiknya adalah mengobati rasa lelah itu tidak terbatas pada "mengubah sudut pandang". Dalam sebuah artikel yang berjudul The Surprising Good News About Parental Burnout, masih ada hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mengobati rasa lelah dalam parenting. Satu hal penting yang ditegaskan dalam tulisan tersebut adalah rasa lelah itu ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh karakter orang tua. Walaupun perilaku anak-anak, kondisi sosial dan ekonomi, keberadaan pasangan, serta faktor eksternal lainnya juga berpengaruh, dampaknya tidak sebesar kondisi internal (karakter) orang tua terkait.

Kenapa hal itu menjadi kabar baik? Karena kondisi eksternal itu jauh lebih sulit untuk diubah atau diperbaiki daripada kondisi eksternal. Mengubah perilaku anak-anak? Sulit. Mengubah kondisi sosial atau ekonomi? Lebih sulit lagi. Mengubah keberadaan pasangan? Tidak juga mudah. Mengubah karakter orang tua terkait? Jauh lebih mudah. Rupanya saya sudah berada dalam jalur yang tepat. Saat saya merasa gagal, saya terlebih dahulu mengubah sudut pandang saya agar perasaan gagal itu tidak terus-menerus memojokkan saya. Tidak hanya itu, saya menemukan sumber energi baru untuk terus melanjutkan peran saya sebagai orang tua. Lewat "The Surprising Good News About Parental Burnout", saya menemukan lebih banyak cara untuk mendapatkan energi tersebut.

Nikmati Waktu Kita
Pertama, nikmati waktu yang kita habiskan dalam urusan mendidik anak. Seringkali kita terlalu fokus mendidik anak menjadi sempurna sampai kita lupa bahwa kesempurnaan itu bukanlah tujuan utama kita. Waktu kita pun kita maksimalkan untuk hal-hal yang kita anggap penting sampai kita kehabisan waktu untuk hal-hal yang menyenangkan. Apakah semua itu layak untuk dilakukan? Apakah semua itu menyenangkan untuk dilakukan? Mungkinkah kita menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk merasakan lelah tanpa mendapatkan hasil yang berarti?

Mintalah Bantuan
Kedua, mintalah bantuan dalam mengurus anak. Kita harus menyadari bahwa energi kita terbatas, sementara pekerjaan mengurus anak seperti tidak ada ujungnya. Saat kita mulai merasa lelah, mintalah bantuan. Pasangan kita adalah kandidat utama untuk memberikan bantuan pada kita. Kalau tidak ada yang bisa membantu, termasuk pasangan kita, tunda atau bahkan abaikan apa pun itu yang perlu kita lakukan, kecuali akibatnya fatal bila tidak dilakukan. Bila bantuan itu datang, percayakan hasilnya pada orang yang membantu. Apa pun hasilnya, terima. Kalau kita tidak siap menerima kondisi itu, lebih baik tunda atau bahkan abaikan.

Atasi Konflik Dengan Cara Positif
Ketiga, atasi konflik dengan cara yang positif. Apa itu cara yang positif? Cara yang tidak negatif. Ada 2 cara negatif yang perlu kita hindari: inkonsistensi dan paksaan. Inkonsistensi akan membuat anak kita ngelunjak. Mereka akan terus menabrak batasan dengan harapan dapat mendobrak atau minimal melonggarkan batasan tersebut. Paksaan akan membuat anak berontak dengan harapan dapat memenangkan "pertempuran" melawan kita. Sikap yang konsisten dan tanpa paksaan akan memudahkan kita mengendalikan konflik yang kerap muncul dalam mendidik anak.

Kenali Pilihanmu
Keempat, sadari bahwa kita punya pilihan dan kita berhak memilih. Kita melihat banyak "panduan" dan "citra" parenting yang baik di berbagai media, termasuk blog ini, tapi bukan berarti kita harus mengikutinya. Tidak pernah ada satu cara yang benar dalam urusan parenting. Jadi, kita berhak memilih cara kita menghabiskan waktu mendidik anak-anak kita. Kalau waktu kita habis hanya untuk mendidik anak kita menjadi anak super, lalu membuat kita dan anak kita kelelahan, itu adalah pilihan kita. Dalam contoh itu, minimal kita punya 2 pilihan: menurunkan standar parenting kita atau menikmati semua rasa lelah itu.
Tekanan itu pasti. Tertekan itu pilihan.
Hindari Fokus yang Berlebihan pada Hasil
Kelima, hindari fokus yang berlebihan pada hasil agar kita dapat menjalani, benar-benar menjalani, setiap proses dalam mendidik anak. Ada kalanya kita hanya perlu hadir di samping anak-anak kita tanpa harus memberi nasihat kepada mereka. Kita tidak perlu merespons setiap hal dengan cara terbaik yang terpikir oleh kita. Ada kalanya yang perlu kita lakukan hanya hadir, duduk manis, dan mendengarkan dengan baik.

Berbagai cara yang dijelaskan di atas dapat menjadi amunisi berharga saat kita kelelahan dalam parenting. Paling tidak setiap hal tersebut dapat kita jadikan cermin untuk berkaca dan benar-benar memikirkan cara atau metode yang kita gunakan dalam parenting. Pada akhirnya, hal yang penting adalah menemukan cara untuk mengobati rasa lelah, mendapatkan kembali energi baru, dan terus menikmati hidup kita sebagai orang tua.