Jumat, 27 Mei 2011

Ibu, bukan Martir

2 opini
Menjadi seorang ibu tentu tidak mudah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an, "ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun" (31:14). Kelemahan ini sering disebut sebagai kehamilan, persalinan dan menyusui. Tapi itu hanya awalnya.

Ibu berada di "parit" rutinitas penggantian popok, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, memasak makan malam, menjaga kedisiplinan dan menyeimbangkan antara pekerjaan, menjemput anak-anak dari sekolah, dan menghadiri pertandingan sepak bola anak-anak. Rutinitas harian melayani keluarga ini dapat menyerap begitu banyak energi dari seorang ibu dan menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan perspektif terhadap dirinya sendiri. Ketika seorang wanita kehilangan makna yang mendalam dari peran seorang ibu, dia mungkin akan merasa bahwa tugas seorang ibu adalah untuk mengorbankan dirinya sendiri (menjadi martir) dengan mendahulukan kepentingan keluarganya. Tapi memikul semua beban dan kesulitan seperti itu bukanlah cara untuk menjadi ibu yang baik. Sikap seperti itu akan menghabiskan energi seorang wanita, dan mungkin dapat menumbuhkan kebencian, membuatnya berpikir bahwa anak-anak dan anggota keluarga yang lain "berhutang" kepada dirinya sebagai imbalan atas semua pengorbanannya.

Sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada kita: "Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan." Apa sedekah yang lebih baik dibandingkan sedekah seorang ibu yang berkorban demi mengurus keluarganya? Akan tetapi, seperti halnya dengan berbagai bentuk memberi, balasannya ada dalam proses memberi, bukan dalam balasan dari orang yang kita beri. Sesungguhnya semua bentuk memberi itu membawa manfaat kepada pemberi, bila dilakukan dengan baik dan benar.

Menjadi seorang ibu itu bukan menjadi seorang martir. Menjadi seorang ibu adalah menghormati kepercayaan dan tanggung jawab membesarkan anak serta menghargai diri sendiri sebagai wanita yang kuat.
Keibuan adalah sebuah perjalanan yang memungkinkan seorang wanita untuk menyaksikan perkembangan anak-anak serta untuk mengembangkan diri menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana. Allah memberkati wanita yang memiliki anak-anak dan para ibu ini pun berjanji kepada Allah untuk memelihara anak-anak mereka hingga dewasa. Melalui proses mengasuh anak, seseorang akan menyadari bahwa mengasuh itu adalah juga tentang memberi contoh gaya hidup yang seimbang dan sehat kepada anak-anak. Menjadi seorang ibu itu bukan menjadi seorang martir. Menjadi seorang ibu adalah menghormati kepercayaan dan tanggung jawab membesarkan anak serta menghargai diri sendiri sebagai wanita yang kuat. Anak-anak akan menghormati ibu mereka sebagai wanita yang melayani keluarga demi menggapai ridha Allah. Tanggung jawab keibuan membuat seorang wanita tumbuh lebih kuat secara fisik, mental dan spiritual karena dia diuji di semua sisi kehidupannya. Dia belajar untuk melayani orang-orang di sekitarnya dengan tujuan mencapai ridha Allah tanpa harus kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri. Seorang ibu seharusnya tidak menjadi lemah melalui proses memberi kepada keluarganya, tapi justru menjadi lebih kuat dan lebih seimbang.

Berikut ini adalah enam cara bagi para ibu untuk menemukan keseimbangan dan tetap fokus melewati hari-hari sulit mengasuh anak-anak serta menikmati perjalanan keibuan mereka:

1. "Saya akan mengingatkan diri saya setiap hari bahwa waktu saya bersama anak-anak saya itu sangat berharga."

Suatu hari nanti, masa kanak-kanak akan berakhir dan "bayi" kita akan tumbuh dewasa. Anak-anak kita berubah setiap hari dan tumbuh menjadi dewasa. Mengasuh anak adalah merayakan peristiwa sehari-hari bersama anak-anak ketimbang sekedar fokus pada waktu peralihan kehidupan anak-anak kita. Yang akan kita kenang adalah waktu berkualitas yang kita habiskan bersama anak-anak kita dan waktu yang kita gunakan untuk berkomunikasi dan berbagi dengan anak-anak kita. Kegiatan duniawi dalam hidup kita adalah cara kita membentuk hubungan dengan anak-anak kita, sehingga kita perlu melihat anak-anak kita sebagai pengalaman bersosialisasi daripada sekedar kegiatan yang perlu dilewati untuk menuju kegiatan berikutnya.

2. "Saya akan mengurus diri saya."

Baik secara fisik, mental maupun spiritual. Dengan terus-menerus memberikan perhatian kepada anak-anak kita dan suami, kita seringkali lupa mengurus diri kita sendiri atau kita seringkali menempatkan kebutuhan kita di urutan terakhir. Beberapa ibu bahkan tidak menempatkan kebutuhan diri mereka dalam urutan mana pun. Hanya saja sebagai ibu kita hanya dapat memberikan sebanyak yang kita miliki, dan jika kita tidak mengisi ulang tangki kita sendiri maka tidak ada lagi yang tersisa untuk diberikan. Menjaga tubuh kita melalui latihan sangat penting untuk kesehatan fisik kita serta meningkatkan suasana hati kita dan energi secara keseluruhan. Menghabiskan waktu berolahraga itu bukan egois, tidak penting atau sekedar kegiatan tambahan. Hal ini harus dilihat sebagai prioritas untuk melakukan tugas kita sebagai seorang ibu dengan baik. Menjaga kondisi mental dan spiritual juga penting karena ini adalah area yang paling menantang dan terkuras ketika membesarkan anak-anak kita. Tujuan dari shalat kita adalah untuk membantu kita kembali fokus dan menata kehidupan kita yang sibuk, khususnya sebagai ibu. Karena wanita adalah "jantung" sebuah rumah tangga, kita harus memiliki hati yang tenang dan damai untuk memberikan keseimbangan ke tengah keluarga kita. Mencari dan mempertahankan rasa percaya diri dan kebahagiaan pada akhirnya akan terwujud pada diri anak-anak kita dan suami kita.

3. "Saya bukan ibu yang sempurna."

Banyak ibu-ibu Muslim memiliki pandangan yang sangat idealis dari pengasuhan atau harapan yang tinggi dari diri mereka sendiri sebagai seorang ibu. Anak-anak kita tidak membutuhkan kita menjadi sempurna dan mereka dapat dengan mudah memaafkan kita ketika kita mengakui kesalahan dan menunjukkan ketidaksempurnaan kita. Kita harus menerima bahwa mungkin bagi kita untuk melakukan kesalahan dan hal ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk tumbuh menjadi ibu yang lebih cerdas. Kita perlu memaafkan diri sendiri dan melepaskan diri dari beban perjuangan demi kesempurnaan. Kita perlu menghilangkan pola pikir bahwa ibu-ibu yang lain itu sempurna dan melakukan segalanya dengan benar. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kita miliki dan kita harus fokus pada hal-hal yang penting, yaitu hubungan kita dengan anak-anak kita. Makan malam tidak akan selalu menakjubkan, piring tidak akan selalu bersih, dan cucian akan menumpuk, tetapi ketika anak-anak kita menjadi dewasa mereka tidak akan ingat semua itu, melainkan mereka akan ingat waktu yang mereka habiskan bersama kita dan percakapan yang mereka lakukan dengan kita.

4. "Saya akan mengutamakan pernikahan saya."

Anak-anak memberikan tekanan yang besar pada pernikahan, terutama bagi para ibu dengan anak-anak belia. Banyak ibu fokus pada kebutuhan anak-anak mereka dan dalam prosesnya mengabaikan hubungan dengan suami. Kelelahan secara fisik dan emosi menyisakan hanya sedikit energi untuk diberikan kepada suami mereka dan sikap ini dapat menyebabkan terputusnya hubungan suami-istri. Sangat penting bahwa kita untuk menemukan keseimbangan dalam pernikahan dan mengasuh anak karena tidak hanya baik bagi anak-anak kita untuk melihat hubungan yang sehat antara ayah dan ibu mereka, tetapi juga baik untuk kesehatan mental kita. Hubungan dengan pasangan kita akan menggantikan hubungan kita dengan anak-anak kita, terutama ketika anak-anak kita tumbuh dewasa. Kita harus memelihara hubungan yang penuh kasih bersama pasangan kita sehingga kita mencapai usia senja bersama-sama dan menjadi lebih terikat antara satu sama lain setelah anak-anak kita tumbuh dewasa dan menikah. Ini berarti kita tidak bisa "menunda" pernikahan kita, tetapi kita justru harus mempertahankan ikatan persahabatan dan cinta melalui saat-saat sulit menjadi orangtua. Penting untuk menghabiskan waktu sendirian bersama suami kita sehingga kita dapat melihat satu sama lain melalui sudut pandang pasangan kita dan bukan hanya sebagai pengasuh anak-anak kita. Mengatur "malam kencan" dan tamasya akhir pekan sebagai pasangan sangat penting untuk menjaga hubungan dengan suami kita.

5. "Saya akan menghargai teman-teman saya."

Saling kontak dan berbagi dengan wanita lain akan membantu kita menemukan kesamaan perjuangan kita sebagai seorang ibu dan seorang wanita. Memiliki saudari dan teman wanita dalam hidup kita dapat menjadikan kita lebih kuat karena hubungan ini membantu menjaga stabilitas emosional kita dan membantu kita mengelola stres dalam hidup kita. Teman wanita dan saudari kita memiliki tempat khusus dalam kehidupan kita yang bahkan tidak bisa digantikan oleh suami kita sendiri. Meluangkan waktu untuk bertemu atau berbicara dengan teman-teman kita akan membantu kita merasa lebih bahagia sehingga kita mampu memberikan kebahagiaan yang sama kepada anak-anak dan suami kita. Berbicara dan bepergian dengan teman wanita sangat penting bagi seorang ibu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan wanita lain. Hal ini akan meningkatkan suasana hati kita dan mengisi ulang energi kita sehingga kita dapat memberikan lebih banyak untuk anak-anak kita dan memiliki hubungan yang lebih baik dengan suami kita.

6. "Saya akan mengutamakan makan malam bersama keluarga."

Makan bersama keluarga merupakan kegiatan harian untuk membentuk ikatan. Rutinitas dalam kehidupan anak-anak dapat memupuk ketidakstabilan emosi pada diri anak-anak. Membiasakan tradisi seperti makan bersama menjadi sangat berguna bagi kehidupan kita karena itu adalah waktu untuk berbagi dan menguatkan ikatan antara satu sama lain. Penelitian telah menunjukkan anak-anak yang makan malam dengan keluarga mereka secara teratur memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bersikap baik dan membuat pilihan yang baik berkaitan dengan teman-teman, narkoba dan seks. Mengajak semua anggota keluarga untuk duduk bersama setiap hari akan menciptakan sebuah dinamika keluarga yang lebih komunikatif dan tradisi makanan, percakapan dan sukacita akan menjadi kenangan yang dihargai setiap anggota keluarga.

Tulisan di atas merupakan terjemahan dari tulisan "Mother, not Martyr" yang dipublikasikan di sini: http://www.suhaibwebb.com/relationships/marriage-family/spouse/mother-not-martyr/ yang ditulis oleh MUNIRA LEKOVIC EZZELDINE. Terjemahan saya buat sendiri secara bebas.

Khusus untuk kutipan ayat Al Qur'an dan hadits, terjemahan saya ambil langsung dari terjemahan Al Qur'an dan hadits versi Bahasa Indonesia (tidak saya terjemahkan sendiri). Bagi yang berkenan, saya sarankan membaca tulisan aslinya karena sebaik-baiknya terjemahan tetap berpotensi menggeser maksud tulisan asli.

Jumat, 20 Mei 2011

Anakku Bukan Milikku

0 opini
Seorang anak dititipkan kepada kita untuk kita jaga, kita rawat, dan kita didik agar tumbuh menjadi pribadi yang shaleh dan mampu memberikan manfaat.
Menegaskan kepada diri kita bahwa anak kita bukanlah milik kita adalah hal yang sulit karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan. Hanya saja seorang anak pada dasarnya adalah titipan Allah SWT. Seorang anak dititipkan kepada kita untuk kita jaga, kita rawat, dan kita didik agar tumbuh menjadi pribadi yang shaleh dan mampu memberikan manfaat.

Lalu apa bedanya antara konsep "memiliki anak" dan "dititipkan anak"?

Pertama, cara merawat sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang dititipkan kepada kita tentu akan berbeda. Perbedaan utama ada pada kehati-hatian kita dalam perawatan ini. Sebaik apa pun cara kita merawat apa yang kita miliki, kita tetap saja lebih hati-hati dalam merawat sesuatu yang dititipkan kepada kita. Saat sesuatu yang kita miliki rusak, kita tidak perlu mempertanggungjawabkan hal ini kepada orang lain. Sangat berbeda bila kita merusak sesuatu yang dititipkan orang lain kepada kita.

Hal di atas pun berlaku dalam konteks merawat dan membesarkan anak. Kita akan mudah memarahi, membentak, atau bahkan menyakiti anak yang kita miliki. Akan tetapi, saat kita menyadari bahwa anak adalah titipan Allah SWT yang senantiasa mengawasi kita, kita akan jauh lebih berhati-hati dalam bersikap. Kita akan lebih mampu menahan diri dari menyakiti anak kita. Kehati-hatian ini timbul karena kita sadar bahwa kita harus mempertanggungjawabkan cara mendidik anak kita di hadapan Allah.

Kedua, cara kita menentukan masa depan dari sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang dititipkan kepada kita akan berbeda. Kita pasti merasa memiliki hak penuh untuk menentukan apa yang kita harapkan dari setiap hal yang kita miliki. Kita memiliki hak penuh untuk menentukan masa depan dari setiap hal yang kita miliki. Sangat berbeda dengan sikap kita terhadap sesuatu yang dititipkan kepada kita. Kita sadar bahwa masa depan dari setiap hal yang dititipkan kepada kita itu tergantung pada pemiliknya.

Kita pun memiliki kecenderungan yang besar untuk menentukan masa depan anak yang kita miliki. Mereka harus ini, mereka harus itu, mereka harus menghindari ini, mereka harus menghindari itu, dan berbagai keharusan-keharusan lainnya. Sebaliknya saat kita sadar bahwa anak kita itu dititipkan Allah kepada kita, kita tahu bahwa masa depan anak-anak kita tidak sepenuhnya ada di tangan kita. Yang bisa kita lakukan adalah membantu anak kita menentukan pilihan. Hak memilih masa depan anak itu bukan di tangan kita, tapi di tangan Allah SWT dan anak kita kelak setelah mereka baligh.

Dengan menegaskan bahwa anak kita adalah titipan Allah SWT, kita akan menghargai hak-hak anak kita dengan baik sebagaimana kita menghargai hak-hak kita sendiri. Kita tidak akan sewenang-wenang dalam merawat dan mendidik anak kita dan kita pun tidak akan sembarangan menentukan masa depan anak kita. Semua itu kita lakukan karena anak yang dititipkan Allah SWT itu memiliki jalan hidup mereka sendiri. Kita memiliki tugas sebatas membantu mereka menemukan jalan itu seraya menjaga mereka agar tidak celaka.

Lalu apa untungnya bagi kita kalau kita sekedar merawat "barang titipan"?

Pertanyaan yang sama pun timbul dalam benak saya. Setelah segala hal yang kita korbankan untuk mendidik anak kita, kita akan merasa berhak melakukan apa yang kita inginkan pada anak kita. Kita pun akan merasa berhak menentukan masa depan anak kita. Kita pun akan merasa berhak menuntut balas jasa dari anak kita. Apakah tidak ada satu pun timbal balik yang dapat kita harapkan dari anak-anak kita?

Dalam konteks menjaga titipan Allah SWT, balas jasa yang kita terima pun akan datang dari Allah SWT. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi timbal balik yang kita dapatkan dari membesarkan anak dengan baik itu otomatis akan kita rasakan di dunia dan di akhirat. Balasan kebaikan itu akan kita dapatkan karena kita mampu mengikhlaskan pengorbanan kita dalam membesarkan anak.

Bentuk balas jasa lainnya adalah meminimalisir konflik negatif dengan anak. Hal ini terwujud seiring waktu kita menghargai hak-hak anak dengan penghargaan yang sama seperti terhadap hak-hak kita sendiri. Kita akan memberikan lebih banyak kebebasan bagi anak kita untuk memilih dengan catatan tidak merugikan diri mereka sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Catatan itu pun kita tuangkan dalam bentuk nasihat dan himbauan, bukan dengan bentakan dan paksaan.

Rendahnya tingkat konflik negatif akan membantu perkembangan positif pada kepribadian anak. Perkembangan positif ini pada akhirnya akan membentuk anak yang berterima kasih atas jasa-jasa orang tuanya. Rasa terima kasih ini pun akan diwujudkan lewat bakti kepada orang tua. Bakti ini akan menjadi balas jasa yang nyata atas setiap pengorbanan kita demi membesarkan anak.

Rabu, 18 Mei 2011

Kebijakan yang Merampas Hak

0 opini
Cuti adalah hak. Saya yakin semua orang setuju dengan pernyataan ini. Sebagaimana setiap hak yang kita miliki, kita memiliki kuasa penuh dalam menentukan waktu untuk menggunakan cuti. Tentunya sesuai ketentuan yang berlaku dan memperhatikan kondisi pekerjaan masing-masing. Intinya tetap sama, cuti adalah hak.

Salah satu waktu penggunaan hak itu adalah lewat Cuti Bersama. Secara tidak langsung, Cuti Bersama ini adalah pemaksaan kehendak yang terselubung. Saat kita berhak menentukan kapan kita ingin cuti, Cuti Bersama ini "memaksa" kita untuk cuti pada hari yang sama dengan mayoritas pegawai negeri yang lain.

Walaupun begitu, pemaksaan tersebut tidak menjadi masalah besar. Ada 2 (dua) alasan yang membuat Cuti Bersama diterima dengan senang hati. Pertama, Cuti Bersama umumnya kurang dari 3 (tiga) hari. Ini adalah salah satu kelebihan Cuti Bersama karena cuti tahunan hanya boleh diajukan untuk durasi minimal 3 (tiga) hari.

Alasan lain yang membuat Cuti Bersama diterima dengan baik adalah karena pemberitahuannya dilakukan sebelum tahun berjalan. Misalnya Cuti Bersama untuk tahun 2011 sudah dapat kita ketahui waktu pelaksanaannya pada akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011. Jadi setiap pegawai masih memiliki waktu yang cukup untuk merencanakan cuti mereka di waktu Cuti Bersama.

Cuti Bersama memang tidak pernah dipermasalahkan atau minimal tidak pernah "terlihat" dipermasalahkan. Hanya saja, Cuti Bersama tanggal 16 Mei kemarin adalah pengecualian. Cuti Bersama 16 Mei kemarin benar-benar memicu protes dari banyak pihak. Penyebab paling utama karena pemberitahuan yang mendadak. Alasan lainnya adalah karena mengganggu cuti tahunan yang sudah direncanakan sebelumnya.

Salah seorang rekan kerja saya sudah menyisakan 5 (lima) hari cuti tahunan untuk diambil saat Hari Raya Idul Fitri demi kenyamanan mudik. Dengan Cuti Bersama kemarin, sisa cuti tahunan 4 (empat) hari saja akan mempersulit dirinya. Saya rasa banyak orang yang merasakan hal yang sama terkait perencanaan cuti masing-masing.

Pemberitahuan yang mendadak membuat banyak orang kecewa karena mereka "dipaksa" berlibur tanpa perencanaan. Sebagian orang mungkin tidak terlalu banyak mengeluhkan hal ini, tapi saya yakin semua akan lebih senang jika pemberitahuan Cuti Bersama 16 Mei itu tidak mendadak. Semua akan lebih senang jika pengumuman libur selama 4 (empat) hari dari hari Sabtu s.d. Selasa itu tidak muncul mendadak.

Terlepas dari perencanaan liburan, perencanaan pekerjaan jadi berantakan. Pekerjaan yang sudah direncanakan akan dikerjakan hari Senin pun terpaksa ditunda hingga hari Rabu. Yang paling pahit adalah pekerjaan tersebut tidak bisa ditunda dan hari Senin tetap diharuskan masuk sementara 99% pegawai lainnya sedang cuti. Ini saya alami sendiri. Tanggal 16 Mei itu saya diminta masuk untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai sebelum hari Rabu.

Dalam kasus saya, bukan hanya saya "dipaksa" untuk mengambil hak saya pada waktu yang saya tidak inginkan, tapi hak saya itu pun tidak bisa saya gunakan. Saya sudah sampai di kantor sekitar pukul 8 pagi dan baru bisa meninggalkan kantor sekitar pukul 3 sore. Hak saya pun dirampas oleh kebijakan yang muncul mendadak tanpa kepentingan yang jelas. Penggunaan kata "rampas" mungkin berlebihan, tapi memang kenyataannya seperti itu.

Sebenarnya masih ada secercah harapan pada saat pengumuman itu terbit karena ada kabar bahwa Cuti Bersama itu tidak harus diambil. Kebijakannya dikembalikan kepada instansi masing-masing. Saya pikir intansi tempat saya bekerja akan memilih untuk tidak mengakomodir keputusan yang mendadak itu, tapi kenyataan justru berkata sebaliknya.

Cuti sudah dikurangi 1 (satu) hari. Walau pun hari Senin, 16 Mei, saya masuk kantor, cuti yang dikurangi itu tetap tidak akan dikembalikan ke sisa hak cuti saya. Saat ini tidak ada yang bisa saya lakukan selain berharap agar kebijakan yang mendadak dan merugikan seperti keputusan Cuti Bersama 16 Mei 2011 ini tidak muncul lagi di kemudian hari.

Minggu, 15 Mei 2011

Pernikahan Dini yang Suram

0 opini
Pernikahan dini sepertinya identik sekali dengan pernikahan yang amburadul, yaitu pernikahan dengan masa depan yang suram. Pandangan ini meluas karena pernikahan dini dianggap terjadi karena unsur keterpaksaan atau "kecelakaan". Dengan kata lain, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilaksanakan tanpa persiapan yang matang.

Pernikahan dini pun melekat erat dengan pernikahan di usia muda. Bila ada pasangan muda belia menikah, pernikahan mereka dianggap terlalu dini, terlalu tergesa-gesa, atau digosipkan akibat "kecelakaan". Pandangan masyarakat sudah sebegitu negatifnya terhadap pernikahan dini. Jadi pemuda-pemudi yang ingin menyegerakan menikah kemungkinan besar akan menghadapi permintaan untuk menunda pernikahan mereka.

Pada kenyataannya, pernikahan dini memang merupakan pernikahan yang rentan terhadap masalah. Bukan sekedar akibat pengaruh berita dan film, tapi contohnya kadang kita lihat sendiri di sekitar kita. Mungkin juga kita mendengar cerita tidak menyenangkan mengenai pasangan muda dari keluarga atau teman kita sendiri. Pada akhirnya, masa depan pernikahan dini menyulut kekhawatiran tersendiri. Pernikahan dini pun menjadi momok yang menakutkan.

Padahal menyegerakan menikah atau dengan kata lain melakukan pernikahan dini itu tidak serta merta membawa dampak negatif. Menyegerakan menikah dapat juga berarti menyegerakan datangnya dampak positif pernikahan ke dalam hidup masing-masing pihak, baik suami maupun istri.

Yang perlu diperhatikan pada dasarnya adalah kesiapan seseorang menghadapi pernikahan dan kesiapan seseorang ini tidak harus dikaitkan dengan usia. Usia yang lebih tua tidak menjanjikan kematangan yang lebih. Jadi mereka yang menikah pada usia yang lebih tua tidak otomatis lebih siap menikah. Seseorang yang menikah di usia 30 tahun belum tentu lebih siap menghadapi pernikahan dibandingkan seseorang yang menikah di usia 20 tahun.

Walaupun begitu, saya sadar bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Kalaupun ada pasangan muda yang hidup harmonis, jumlahnya mungkin tidak mencolok. Alhasil masyarakat pada umumnya tetap berpikir bahwa pernikahan dini itu penuh dengan resiko. Pola pemikiran ini yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat, termasuk para bakal calon pengantin.

Pada intinya, pernikahan dini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Pola pendidikan anak memiliki andil yang besar dalam hal ini. Walau bagaimana pun, tingkat kematangan seseorang sangat dipengaruhi oleh cara orang itu dididik dan dibesarkan. Dengan pola pendidikan yang tepat, kematangan seseorang sudah mulai terbentuk di usia belasan tahun. Sebaliknya dengan pola pendidikan yang tidak tepat, kematangan itu tidak akan terbentuk walau usia seseorang sudah lebih dari 25 tahun.

Pada intinya, pernikahan dini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Yang perlu ditakuti adalah pernikahan yang dilakukan oleh sepasang manusia yang tidak siap untuk menikah. Dini atau tidak dini itu menjadi tidak relevan karena yang perlu diperhatikan adalah kesiapan calon pengantin terlepas dari umur mereka.

Minggu, 08 Mei 2011

Siap Mental untuk Menikah?

0 opini
Tulisan ini merupakan sambungan dari Kapan Menikah?
--

Lalu bagaimana dengan kesiapan mental saya saat hendak menikah?

Saat saya hendak menikah, walau saat itu saya "masih" berusia 22-23 tahun, tentu saja saya merasa saya siap secara mental. Saya lebih percaya diri untuk masalah kesiapan mental dibandingkan dengan masalah kesiapan finansial. Namun sepertinya kepercayaan diri saya terlalu berlebihan.

Saat hendak menikah, saya merasa diri saya adalah orang yang cukup bertanggung jawab dan cukup toleran. Cukup bertanggung jawab untuk menafkahi istri lahir dan batin. Cukup toleran untuk menerima perbedaan yang (pasti) terjadi dengan istri dalam hubungan pernikahan. Pada kenyataannya, kadar "cukup" yang saya pegang itu sangat rendah; terutama di bagian toleransi.

Hubungan pernikahan adalah hubungan yang jauh berbeda dari hubungan sosial dengan pihak-pihak seperti keluarga, teman, atau rekan kerja. Hubungan pernikahan jauh lebih rumit, lebih menantang, lebih memancing emosi, lebih menyesakan dada, dan lebih membuat pusing kepala. Di awal pernikahan, konflik-konflik kerap bermunculan. Mulai dari konflik dengan intensitas yang rendah hingga yang tinggi dan yang jarang hingga yang sering terjadi.

Masalah-masalah yang timbul kadang membuat saya depresi. Namun setelah enam tahun menikah, tingkat depresi itu menurun. Dapat juga dikatakan bahwa frekuensi dan intensitas konflik rumah tangga sudah menurun. Kami (saya dan istri) pun sudah jauh lebih piawai mengendalikan perkembangan konflik dan mengatasi masalah.

Intinya adalah kita tidak pernah benar-benar siap mental untuk menikah. Justru kesiapan mental itu terbentuk dengan sendirinya seiring dengan usaha kita untuk menyelesaikan masalah rumah tangga. Toleransi terhadap perbedaan, kemampuan memahami keinginan istri/suami, kerelaan untuk mengalah, dan sikap mengutamakan hubungan baik dalam pernikahan akan terbentuk dengan sendirinya melalui pengalaman.

Hanya saja mekanisme peningkatan kedewasaan dalam berumah tangga seperti di atas memerlukan sikap positif dari masing-masing pihak (suami dan istri). Sikap positif yang dimaksud adalah kesadaran bahwa hubungan pernikahan itu lebih penting ketimbang ego pribadi. Kesadaran ini yang menjadi fondasi kesiapan mental untuk menikah.

Dengan memiliki kesadaran seperti itu, perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan tenang. Kalau pun terjadi konflik, maka ketegangan yang terjadi akibat konflik pun dapat diredam. Setiap masalah dapat dicari jalan keluarnya dan setiap perbedaan pun dapat diselaraskan karena prinsip mengalah untuk memenangkan hubungan pernikahan dipegang erat.

Saya yakin kemampuan untuk menahan ego itu yang menjadi kekuatan pengikat hubungan pernikahan terlepas dari usia dan latar belakang setiap pasangan suami dan istri. Dapat dikatakan bahwa pasangan berpendidikan SMU yang masih berusia 20 tahun itu jauh lebih baik dalam mengelola pernikahannya dibandingkan pasangan berpendidikan S1 dengan usia yang jauh lebih tua.

Dengan prinsip kesiapan finansial dan kesiapan mental seperti di atas itu akhirnya saya memberanikan diri untuk menyegerakan menikah. Walau banyak pihak meragukan kesiapan saya, saya tetap melangkah maju dengan pasti. Alhamdulillah tidak ada satu masalah pun, baik besar maupun kecil, yang bisa membuat saya berpisah dengan istri saya.

Kamis, 05 Mei 2011

Kapan Menikah?

0 opini
Menikah adalah urusan pribadi. Kapan kita akan menikah dan dengan siapa kita akan menikah adalah urusan kita masing-masing. Orang tua boleh khawatir, kakak boleh bertanya, adik boleh meledek, teman-teman boleh mencarikan kenalan, tapi waktu dan pasangan hidup adalah urusan pribadi. Tulisan ini pun tidak bermaksud mempertanyakan waktu yang baik untuk menikah, tapi sekedar berbagi keputusan-keputusan yang saya ambil saat saya hendak menikah.

Saya menikah pada tanggal 20 Agustus 2005; sekitar 6-7 bulan sejak saya lulus kuliah S1. Tidak sedikit orang yang menganggap pernikahan ini terlalu dini. Padahal kenyataannya ada teman kuliah saya (satu angkatan) yang sudah lebih dulu menikah. Saya sendiri tidak merasa bahwa pernikahan saya itu terlalu cepat. Saya merasa bahwa memang sudah waktunya saya menikah. Saya sendiri tidak lagi terikat dengan bangku kuliah sehingga saya dapat memaksimalkan waktu saya untuk bekerja dan menghidupi keluarga. Saya siap menikah.

Akan tetapi, tidak semua orang menganggap saya siap untuk menikah. Bahkan ada yang menyarankan agar saya menunda pernikahan sebelum memiliki kesiapan finansial. Untungnya tidak ada yang meragukan kesiapan mental saya untuk menikah. Mungkin tidak ada yang berani mengutarakan hal ini, tapi saya asumsikan saja memang tidak ada yang meragukannya. Walaupun begitu, saya masih tegas dengan pendirian saya bahwa saya siap menikah.

Lalu bagaimana dengan kesiapan finansial saya saat hendak menikah?

Mengenai kesiapan finansial, saya yang perlu meyakinkan diri saya bahwa saya dapat menghasilkan pemasukan yang cukup untuk membiayai hidup saya dan istri saya. Saya memberanikan diri melamar istri saya walaupun saya belum mendapatkan pekerjaan pasca lulus kuliah. Untungnya istri saya berpikiran sama dengan saya. Jadi dia berkenan mempertimbangkan lamaran saya. Saya perlu tegaskan bahwa lamaran pertama saya tidak langsung diterima. Hanya saja kesiapan finansial tidak menjadi masalah bagi istri saya.

Berselang beberapa waktu sejak saya melamar istri saya, saya mendapat lampu hijau untuk bertemu orang tua istri saya. Dengan modal dengkul saya pun menguatkan hati dan memberanikan diri untuk bertamu ke rumah orang tua istri saya dan melamar anak perempuan mereka. Untungnya saya sudah mendapatkan pekerjaan sebelum pertemuan ini. Jadi modal dengkul saya dapat dikatakan modal dengkul plus plus -tapi tetap saja dengkul.

Rupanya orang tua istri saya pun tidak terlalu merisaukan masalah kesiapan finansial. Setahu saya yang dilihat justru latar belakang saya sendiri seperti pendidikan dan keluarga saya. Walaupun begitu, berhubung orang tua istri saya baru pertama kali bertemu saya, saya diminta untuk lebih sering bertamu ke rumah mereka. Jadi mereka memiliki kesempatan untuk mengenal saya lebih jauh lagi. Kenapa pertama kali? Karena saya dan istri saya tidak pernah berpacaran. Alhamdulillah. Jadi saat saya melamar istri saya kepada orang tua istri saya itu adalah pertemuan pertama saya dengan mereka.

Tiga paragraf panjang di atas pada dasarnya merupakan argumen saya terhadap "kesiapan finansial" yang seringkali diributkan. Saya tidak bermaksud menafikan fakta bahwa modal finansial itu penting. Hanya saja kesiapan finansial itu perlu dilihat dari sudut pandang kemampuan calon suami untuk mencari nafkah terlepas dari berapa jumlah uang yang dimilikinya. Kalau calon suami, calon istri, dan orang tua dari kedua belah pihak dapat memahami hal ini, pernikahan dapat berjalan tanpa perlu menimbun uang terlebih dahulu.

Lalu bagaimana dengan kesiapan mental saya saat hendak menikah?

Bersambung ...