Selasa, 13 Maret 2018

Jangan Injak Kaki Ibu

0 opini
Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pentingnya menghindari dikotomi antara peran ayah dan ibu. Semakin pudar dikotomi tersebut, semakin baik kerja sama antara ayah dan ibu dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Semakin baik kerja sama tersebut, semakin besar peluang seorang ayah untuk menjadi ayah super.

Akan tetapi, seorang ayah tetap harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik untuk memaksimalkan peran dalam mengurus rumah tangga justru berbalik menyusahkan istri. Ibaratnya saat seseorang ingin berdansa dengan istrinya, jangan sampai dia menginjak kaki istrinya. Sakit.

Pertama, perihal pengambilan keputusan. Saat bekerja sama mengurus rumah tangga, seorang suami perlu memberi ruang bagi istri untuk mengambil keputusan baik yang sifatnya besar maupun trivial. Jadwal tidur anak-anak, posisi furnitur, atau apa pun juga, bila memang bukan sesuatu yang urgent, berikan kesempatan bagi istri untuk memutuskan. Bila ada keputusan istri yang mengganjal, utamakan negosiasi. Bila ada kesempatan untuk mengalah, lebih baik mengalah (untuk menang).

Sekilas hal di atas terkesan mudah. Kita mungkin merasa sudah melakukannya. Tapi pengalaman saya mengatakan sebaliknya. Saat kita sudah terjun ke lapangan, keinginan untuk mengatur dan mengambil keputusan itu perlahan-lahan menguat. Keinginan agar segalanya berjalan sesuai keputusan kita pun muncul. Pada saat itu, menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada istri menjadi hal yang sulit. Penting bagi kita untuk berlapang dada dan menerima keputusan istri.

Kedua, perihal persepsi masyarakat. Masyarakat Indonesia secara umum masih canggung saat melihat seorang ayah memandikan anak, menyuapi anak, membersihkan rumah, menggendong anak, membawa barang-barang, atau mengerjakan "pekerjaan ibu" lainnya. Bukan tidak mungkin seorang ayah yang terlalu aktif justru membentuk persepsi negatif terhadap istrinya. Masyarakat akan melihat istrinya sebagai wanita yang manja, malas, atau tidak tahu diri. Oleh karena itu, kita perlu melihat sikon agar bantuan kita tidak berbalik merusak citra istri kita.

Lagi-lagi hal di atas pun terkesan mudah. Tapi pada kenyataannya hal tersebut memberikan tantangan tersendiri. Kita perlu tahu kapan waktunya untuk turun tangan dan kapan waktunya untuk menahan diri, terutama di tempat umum. Bukan hanya di tempat umum, kita pun perlu memperhatikan hal tersebut di tengah-tengah keluarga besar kita. Pada intinya, kita berusaha meminimalkan kesalahpahaman terhadap cara kita bekerja sama dengan istri kita dalam mengurus rumah tangga.
Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung.
Dua hal di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan oleh seorang ayah super. Masih ada banyak hal lain yang perlu dijaga agar setiap hal yang bertujuan baik tidak berbalik menyakiti istri, baik langsung maupun tidak langsung. Bila kondisi itu tercapai, kerja sama antara seorang ayah super dengan pasangannya akan menjadi lebih optimal.