Minggu, 12 Februari 2012

Antara Loyalitas dan Fasilitas

Tulisan kali ini adalah hasil wawancara (baca: obrolan) saya dengan seorang tenaga pengamanan (baca: satpam) yang bernama Anton (bukan nama sebenarnya). Pak Anton ini sudah beberapa tahun bekerja sebagai satpam dan ceritanya cukup menarik untuk saya ikuti. Sesederhana apa pun profesi seseorang, sesuatu yang tidak saya temui sehari-hari adalah sesuatu yang menarik.

Ketertarikan saya pada cerita Pak Anton ini dimulai saat Pak Anton mengaku bahwa dia adalah lulusan pariwisata. Tidak jelas apakah yang dimaksud lulusan ini adalah lulusan S1, D3, atau D1. Bagi saya hal ini tidak menjadi penting karena pada intinya Pak Anton ini adalah salah satu dari sekian banyak orang dengan penghasilan pas-pasan walaupun berhasil mengenyam pendidikan di atas SMA.

Mencari pekerjaan di era reformasi ini memang sulit. Pak Anton mulai menjajaki dunia kerja sebagai tenaga administrasi. Sayangnya Pak Anton ini tidak berhasil mendapatkan pekerjaan tetap sehingga dia terus saja pindah tempat bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Sampai akhirnya umurnya sudah terlalu tua untuk bekerja sebagai tenaga administrasi dan satu-satunya tawaran pekerjaan yang ada di tangannya adalah pekerjaan sebagai satpam.

Dia bercerita bahwa seiring waktu dia berpindah kerja sebagai tenaga administrasi, dia tetap menjajaki lowongan-lowongan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Salah satu jenis lowongan yang dia jajaki antara lain adalah lowongan PNS (Pegawai Negeri Sipil). Bagi Pak Anton, pekerjaan PNS adalah pekerjaan yang paling enak dengan masa depan yang paling terjamin. Tidak hanya PNS itu mendapatkan jaminan hari tua berupa pensiun, tapi PNS itu juga memiliki resiko diberhentikan yang sangat kecil. Selain itu, setiap PNS tidak perlu lagi pusing memikirkan kontrak dan mencari tempat bekerja yang lain.

Penjajakan lowongan itu terus dia lakukan sampai saat dia sudah bekerja sebagai satpam. Terlihat jelas dari ceritanya bahwa pekerjaannya sebagai satpam itu jauh dari mudah; bahkan rasanya semakin rumit. Saat pertama kali bekerja sebagai satpam, dia dikontrak langsung oleh perusahaan tempat dia bekerja. Gaji yang dia terima dan fasilitas lain (yang tidak dia sebutkan) masih mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Semua ini menurun drastis saat jasa pengamanan itu diambil alih oleh perusahaan outsourcing.

Saat jasa pengamanan diambil alih oleh perusahaan outsourcing, gaji Pak Anton sempat turun dan butuh waktu 2 (dua) tahun untuk kembali ke jumlah semula. Tunjangan yang sebelumnya didapat saat terikat kontrak langsung dengan perusahaan terkait pun tidak lagi ada. Satpam dari perusahaan outsourcing diperlakukan berbeda dengan satpam yang bekerja langsung di bawah perusahaan terkait. Sampai fasilitas-fasilitas seperti pos satpam atau hal sederhana seperti dispenser pun tidak tersedia.

Di tengah-tengah ceritanya (baca: keluh kesahnya) tentang pekerjaannya sebagai satpam, Pak Anton bahkan sempat mengenang indahnya hidup di jaman Presiden Soeharto. Di jaman Presiden Soeharto itu harga-harga sembako lebih terjangkau dan pekerjaan pun lebih mudah didapat. Kondisinya jauh berbeda dengan pemerintahan era reformasi sampai saat ini. Walaupun keluarga Presiden Soeharto itu banyak korupsinya (Pak Anton sendiri mengakui ini), kehidupan rakyat kelas menengah ke bawah itu lebih sejahtera.

Saya lebih banyak mengangguk saat Pak Anton bercerita tentang kehidupan menyenangkan di jaman Presiden Soeharto. Saya sendiri merasa kehidupan di jaman Presiden Soeharto itu lebih enak dan nyaman. Kenapa? Pada jaman Presiden Soeharto itu saya masih sekolah (SMA). Saya tidak perlu pusing memikirkan istri, anak, pekerjaan, atau hal-hal lainnya. Sangat berbeda dengan kondisi saya sekarang.

Masih banyak lagi uneg-uneg yang disampaikan Pak Anton kepada saya yang notabene orang asing bagi dirinya ini. Hanya saja ceritanya terlalu banyak untuk saya ungkapkan dalam tulisan saya ini. Satu hal yang sudah pasti saya tangkap dari cerita Pak Anton adalah timpangnya fasilitas yang diberikan kepada satpam dengan loyalitas yang dituntut dari satpam. Lewat cerita Pak Anton ini saya menemukan sudut pandang lain terhadap para satpam, baik Pak Anton maupun para satpam secara keseluruhan.

2 komentar:

  1. begitu banyak keloyalitasan di negeri ini tapi fasilitasnya tidak menunjang, semoga Pak Anton dan yang lain sabar dan ikhlas plus terus berupaya agar dapat meningkatkan taraf hidup, Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak NF.

      Makasih dah mampir lagi. :)

      Hapus