Kamis, 02 Februari 2012

The Taqwacores

Sepertinya ini film pertama tentang Islam yang pernah saya tonton dengan tema yang tidak islami. Yang saya maksud dengan "tidak islami" di sini bukan karena filmnya tidak menyinggung Islam sama sekali atau bahkan bertolak belakang dengan Islam. Yang saya maksud dengan "tidak islami" di sini karena tema yang diangkat di dalam film ini sangat jauh berbeda dengan film islami yang biasa saya tonton. Saya tegaskan, sangat jauh.

Pertama kali saya melihat poster film ini, saya langsung tertarik untuk menontonnya. Dari gambar maupun tagline-nya saja film ini sudah berhasil membuat saya penasaran. Pertanyaan pertama saya tentu saja bagaimana film ini akan menampilkan sebuah cerita dengan kombinasi Punk, Muslim, dan American. Saya sudah tidak asing lagi dengan kombinasi Muslim dan American, tapi kombinasi Muslim dan Punk adalah sesuatu yang asing bagi saya.

Rasa antusias saya untuk menonton pun dibayar dengan baik oleh film ini. Film ini berhasil memperluas wawasan saya mengenai variasi keyakina yang dianut oleh orang-orang Islam. Perlu saya tegaskan bahwa variasi di sini adalah variasi keyakinan, karena Islam menjadi warna-warni karena perbedaan keyakinan ini.

Bagaimana dengan filmnya?

The Taqwacores diawali dengan perjalanan Yusef, your typical everyday Muslim, yang mencari tempat tinggal bersama pemuda Muslim lainnya saat meneruskan studinya di Buffalo (New York). Yusef akhirnya memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah yang ditinggali oleh sekumpulan pemuda (dan pemudi) Muslim. Di dalam rumah inilah semua petualangan Yusef bersama aliran Punk Rock Muslim dimulai (dan diakhiri).

Jehangir (kiri) dan Umar
Orang pertama yang ditemui Yusef adalah Umar. Umar adalah tipe Muslim yang kaku. Di balik pemahamannya terhadap Islam yang baik, Umar adalah seorang Muslim yang keras. Rumah itu pernah menjadi rumah yang kaya dengan nilai-nilai Islam, tetapi lama-kelamaan Umar merasa nilai-nilai ini tergerus dengan kehadiran Punk Rock Muslim. Walaupun begitu, Umar tetap memilih untuk bertahan di rumah tersebut dengan harapan dapat mengembalikan kondisi rumah itu seperti dulu lagi.

Berikutnya Yusef bertemu Jehangir (baca: Jehanggir) dan Fasiq. Yusef bertemu mereka di waktu subuh saat dia hendak berwudhu untuk shalat subuh. Saat itu Jehangir dan Fasiq sedang duduk-duduk di atas bagian atap rumah mereka. Jehangir sedang menirukan suara adzan dengan gitar listriknya. Sebuah pertemuan yang menarik, bukan? Jehangir ini akan menjadi karakter utama yang mempengaruhi hidup Yusef. Pergaulan Yusef dengan Jehangir bahkan mampu merubah sikap dan keyakinan Yusef dalam Islam.

Rabeya
Pertemuan yang tidak diduga Yusef adalah dengan Rabeya (baca: Robiya). Yusef tidak pernah menyangka akan tinggal serumah dengan seorang Muslimah (yang mengenakan burqa). Tapi kecanggungan ini tidak berlangsung lama karena Rabeya sendiri sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-teman pria. Karakter Rabeya tidak kalah menariknya dengan Jehangir. Muslimah yang satu ini, walaupun mengenakan burqa (yang mengindikasikan dia taat beragama), justru memiliki pemikiran yang liberal. Salah satu contohnya ditunjukan lewat adegan yang memperlihatkan dia berani mencoret (yang mengindikasikan penolakan) satu ayat Al-Qur'an kepunyaannya.

Masih banyak karakter menarik lainnya di dalam film ini antara lain (Amazing) Ayyub yang jauh lebih "radikal" dibandingkan Jehangir, Muzzamil yang gay, dan Lynn yang mengaku baru masuk Islam. Karakter-karakter ini menambah lebih banyak warna lagi ke dalam film The Taqwacores melalui beragam interaksi antara karakter-karakter tersebut. Di tengah-tengah film ini pun (sedikit) sisi toleran Umar pun sempat ditunjukan; terutama terhadap Muzzamil yang gay.

Klimaks dari keragaman ini, menurut saya pribadi, ada pada acara konser Punk Rock Muslim yang diadakan oleh Jehangir. Jehangir menyulap rumah tersebut menjadi tempat konser terbatas untuk para penggemar Punk Rock Muslim dan mengundang beberapa band untuk mengisi konser ini. Suasana saat konser ini sempat memanas karena Jehangir memutuskan mengundang satu band yang tidak disukai banyak orang. Konser yang awalnya seru menjadi ricuh karena konflik antara anggota band tersebut dengan para penonton. Adegan selanjutnya tidak akan saya ceritakan karena akan menjadi spoiler bagi pembaca yang belum (dan berminat) menonton.

Yang membuat film ini menarik bagi saya pada dasarnya hanya keanekaragaman Muslim di dalam rumah tersebut. Saya pernah bertemu dengan Muslim dengan keyakinan yang berbeda, tapi saya belum pernah bertemu orang-orang seperti Jehangir dan Rabeya. Satu hal yang kelihatannya ingin ditunjukan lewat film ini adalah terlepas dari berbagai keyakinan mereka, mereka masih bisa hidup bersama dan masih bisa shalat bersama-sama. Kelihatannya film ini ingin mengajak para penontonnya untuk bersikap lebih terbuka terhadap sesama Muslim yang berbeda pendapat, pemikiran, dan gaya hidup.

Saya memang tidak akan mengatakan bahwa film ini adalah film yang fenomenal, tapi saya rasa film ini tetap layak untuk ditonton oleh setiap pemuda Muslim. Akan tetapi, saya perlu ingatkan bahwa film ini memiliki potensi yang besar untuk menyinggung masyarakat Muslim. Untuk bisa menikmati film ini (dan mencoba menyerap moral ceritanya) dibutuhkan pemikiran yang terbuka dan kemauan untuk menerima sesuatu yang berbeda; atau lebih tepatnya sangat berbeda.

Saya menonton film The Taqwacores ini beberapa waktu setelah film The Message yang menggambarkan kehidupan kenabian Rasulullah SAW. Dapat saya katakan bahwa perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Muslim itu sangat luar biasa. Bukan sesuatu yang mengherankan mengingat ajaran Islam diturunkan ke bumi ratusan tahun yang lalu, tapi apakah kondisi saat ini membahagiakan atau justru memprihatinkan. Saya rasa pertanyaan ini yang perlu kita jawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar