Jumat, 11 Desember 2009

Undang-undang tentang Pembantu Rumah Tangga

Usaha untuk membentuk Undang-undang (UU) tentang Pembantu Rumah Tangga (PRT) terus bergulir. Berita mengenai proses pembentukan UU ini tidak mendapat liputan yang banyak. Jadi wajar kalau banyak orang yang tidak mengetahui adanya UU ini. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan karena akan ada banyak anggota masyarakat yang akan merasakan dampaknya; baik sebagai pihak pengguna jasa maupun penyedia jasa PRT.

Sekitar satu tahun yang lalu saya sudah sampaikan pendapat pribadi saya mengenai pembentukan UU ini lewat tulisan "Pembantu Rumah Tangga Dilindungi Undang-undang?" Tulisan tersebut secara umum menyampaikan persepsi saya mengenai isi UU PRT tersebut yang sepertinya justru akan menyulitkan para pengguna jasa PRT. Mulai dari jaminan kesehatan, upah bulanan, jam kerja, dan berbagai hak lainnya yang umum didapatkan karyawan sepertinya harus disiapkan untuk para PRT. Saya rasa banyak pengguna jasa PRT yang akan kesulitan beradaptasi seandainya PRT dipekerjakan layaknya karyawan swasta.

Perubahan yang signifikan dalam bentuk kerja PRT bukan tidak mungkin akan terjadi. Alasan umum adanya UU PRT ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada PRT layaknya tenaga kerja di bidang lain. Saya khawatir "perlindungan" ini akan diberikan secara berlebihan demi alasan sosial tersebut. Perubahan ini tentu memiliki dampak yang tidak sedikit terhadap cara kerja dan cara mempekerjakan PRT.

Bukan berarti saya tidak mendukung keberadaan UU PRT ini, tapi saya rasa perlu ada langkah untuk mempersiapkan para PRT untuk bersikap lebih profesional. Jadi para PRT itu tidak akan kesulitan beradaptasi dengan kewajiban yang diatur dengan ketat. UU PRT tidak dapat berfungsi hanya untuk melindungi PRT. UU PRT juga harus mampu melindungi para penyewa jasa PRT. Jadi kedua pihak yang terkait, yaitu penyedia dan penyewa jasa PRT, sama-sama diuntungkan.

PRT kadang seenaknya minta dipulangkan tanpa mencarikan pengganti atau memberi waktu agar penyewa jasa dapat mencari penggati. PRT kadang bekerja tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan dan penyewa jasa PRT tidak bisa menuntut lebih jauh lagi. PRT kadang menggunakan fasilitas rumah tanpa seijin pemilik rumah. Masih banyak lagi tingkah laku yang merugikan penyewa jasa PRT. Semua itu kadang tetap terjadi walaupun para PRT itu diperlakukan dengan baik.

Kalau memang UU PRT ini benar-benar diberlakukan, maka kualitas PRT juga harus ditingkatkan dan sosialisasi kepada para penyewa jasa PRT pun harus gencar disampaikan. Kalau tidak begitu, maka peluang penolakan terselubung terhadap keberadaan UU PRT itu akan menjadi besar. Bahkan bukan tidak mungkin sengketa yang terkait dengan PRT akan terus meningkat.

19 komentar:

  1. Wow.. gue akan sangat mendukung UU ini :D

    ~ga pernah punya pembantu

    BalasHapus
  2. Gak dilihat dulu isinya? :D

    BalasHapus
  3. gw gak setuju lebih baik perjelas uu untuk pembantu yg kerja d luar negeri seperti arab saudi ataw malaysia biar ngk ada lagi pembantu indonesia yg pulang dalam peti ataw cacat atw gak d bayar gajinya..kl d dlm negeri gaji pembantu pasti sudah d negosiasikan antar pembantu dan majikannya.jadi kalo ngk cocok ya ngk usah kan ngk d paksa.dan tergantung bagaimana kerja mereka juga untuk gaji

    BalasHapus
  4. bagaimana kalo mereka merugikan majikannya apa ada sanksi bagi pembantu ini misalnya cuci baju tidak bersih?baju kesayangan kena setrikaan jadi rusak?.masa majikan aja yang kena uu? bagaimana mau gaji besar kalo kerja males mainan hp melulu? ngobrol d tempat tetangga waktu jaga anak kita?nggk bisa masak?lap perabotan tapi masih ada debu? baru kerja minta pulang kampung dengan seribu macam alasan.belum lagi kalo ternyata dia ngambil barang2 kita? siapa bisa tanggung jawab!!!???yang bikin uu bisa tanggung jawab nggk??? nanti udh d kasih gaji gede kerja semaunya.nanti dikit2 alesan sakit.. coba lah d kaji ulang masalah ini jangan main bikin uu tanpa melihat semua aspek. coba ingat pembantu yang mencuri perhiasan sekian milyar padahal dia gaji lumayan dan kerjanya nggk berat krn majikannya punya sekian banyak pembantu yg lain..bagaimana pembantu yang bawa lari anak majikannya??pembantu yang bunuh anak majikannya???please dech....

    BalasHapus
  5. saya baca mereka minta cuti tahunan dan minta cuti haid segala..ya ampun lebay banget sich??

    BalasHapus
  6. @Anonymous 3:
    Salah satu tujuan UU ini agar pekerjaan PRT dapat disetarakan dengan pekerjaan lain pada umumnya. Jadi mereka menganggap sudah sepatutnya pula mereka mendapatkan cuti tahunan dan cuti haid.

    @Anonymous 2:
    Saya juga punya perhatian yang sama perihal sanksi. Justru saya khawatir UU ini malah meminta sebegitu banyak hak tanpa adanya kewajiban atau sanksi yang setara.

    @Anonymous 1:
    Saya setuju. Menurut saya gaji minimal bisa saja diatur oleh UU, tapi kualitas minimal pun harus diatur oleh UU. Jangan sampai timpang antara gaji dan hasil kerja.

    Dari informasi terakhir yang saya dapatkan, nama UU-nya berubah menjadi UU Perlindungan PRT. Saya rasa kata "Perlindungan" itu mencerminkan arah dari isi UU itu sendiri.

    Saya pribadi bukan ingin menolak keberadaan UU tersebut. Saya hanya khawatir isi UU-nya akan memojokan para penyewa jasa PRT. Jadi UU yang hadir lagi-lagi akan memunculkan pro-kontra yang sengit antara dua pihak yang berkepentingan.

    BalasHapus
  7. Andai gaji minimal harus setara dengan UMR, bisa dihitung begini ga si. Saya punya pembantu, seorang saya gaji 500rb. Tapi dia nginap, jadi kan ga bayar uang kontrakan. Misal uang kontrakan 150 rb, berarti saya sama aj kasi gaji 650 rb. Dan makan 3x sehari berarti gratis. 1x makan di rumah = 8 rb, sehari = 24rb, 30 hr or sebulan = 720 rb. Berarti sebenarnya saya gaji dia 1.37 jt. Malah udah lebih dari UMR karena toh kalo karyawan juga uang makan ma tempat tinggal ditanggung sendiri. Kalo dia sakit ya..diobatinlah. ga usah mahal, puskesmas juga jadi. Kalo cuti, saya rasa wajar, misal lebaran (kita aj mudik waktu lebaran) or kalo dia ada keperluan di kampung. Tapi mungkin 15 hr/tahun aj yak (gw yg pegawai cuma 20hr/tahun soale, hehe). Tapi sebelum masuk mesti ada perjanjian dulu. Gw ma si embak sepakat kalo dia mau berhenti, musti tunggu gw dapat yang baru, tidak boleh tidak. Dan atas dasar toleransi juga, kalo kerjaannya nambah, misalnya bantu bisnis majikan, ya wajarlah dapat gaji lebih, masa engga. PRT ya untuk rumah tangga bukan untuk bisnis. Tapi tetap kalo misalnya dia bersalah, harus ada sanksi yang jelas. Sebagai jaga2, selalu minta KTP-nya dengan alamat yang jelas (kalo perlu dicross-check) kalau misalnya terjadi apa2.

    BalasHapus
  8. @nings14:
    Luar biasa komentarnya. Kelihatannya nings14 punya rasa pengertian yang tinggi terhadap pembantu. Seandainya semua orang seperti ini, mungkin UU Perlindungan Pembantu tidak perlu diburu-buru. Justru dengan buru-buru akan timbul kemungkinan lahirnya UU yang prematur, yaitu UU yang melihat kondisi terkini secara sempit.

    Sampai saat ini saya tetap khawatir akan adanya ketimpangan hak dan kewajiban dalam UU Perlindungan Pembantu ini. Kalau itu terjadi berarti para majikan dan calon majikan yang akan dirugikan. Kemungkinan terburuknya akan ada UU Perlindungan Majikan untuk menjaga kestabilan hak dan kewajiban antara PRT dan majikan. :D

    BalasHapus
  9. UU nya perlu dikaji lagi, kalo gaji prt sama UMR, pasti banyak pengangguran lagi calon prt, wong gajinya sama dengan UMR majikan, bahkan kalo bersihnya se UMR so gaji semuanya makan+inap+kesehatan lebih dari penyewa jasa/majikan. sementara rata2 pengguna jasa PRT adalah pekerja. UU perlu memihak pengguna jasa juga, gaji PRT sesuai dengan keahlian, jangan gaji sesuai UMR tapi keahlian gak bisa baca, waduh.....!!!! gaji sama dengan yang lulusan SLTA. perlu UU terhadap penyalur jg mengenai jaminan PRT KABUR-GANTInya GAK ADA. YANG PERLU LEBIH DITEGASKAN PERLINDUNGAN PRT DI LUAR NEGERI, PERLAKUAN THD PRT. (Sekarang aja gaji PRT dari penyalur udh MELAMBUNG - Saya biasa pengguna jasa dr Yayasan sudah mundur dengan tarip gaji mereka yang Tinggi tanpa jaminan kwalitas(seperti berhenti sesukanya, memukul anak,kekerasan lainnya,membawa anak kabur))

    BalasHapus
  10. Saya sangat setuju di bagian perlindungan pengguna jasa. Jangan sampai perancang UU sibuk dengan membela hak PRT tapi melupakan hak para pengguna jasa PRT.

    BalasHapus
  11. apakah UU PRT yang bekerja di luar negeri sebagai TKI juga ada?

    BalasHapus
  12. Setahu saya UU PRT yang digodok di DPR saat ini hanya mengatur PRT dalam negeri.

    BalasHapus
  13. Saya setuju dengan UU initetapi UU juga harus fair. Saya tidak tahu apakah UU ini akan jelas menerapkan seluruh aspek ketenagakerjaan. UU ini dibuat katanya karena banyaknya penyiksaan terhadap PRT. Tetapi apakah ada undang2 untuk perlindungan dari penyewa jasa. Ada UU perlindungan konsumen, apakaha UU ini bisa jadi acuan? Pagi ini pembantu saya dengan teledornya (karena sudah dibilangin berkali-kali kalau habis pakai tangga dibalikin ke gudang) menaruh tangga di dekat mobil yang mengakibatkan tangganya jatuh dan mobilnya penyok. Apakah saya bisa minta penggantian???? Nope saya ngak bisa.. ngak tega man.. yah claim insurance aja. Nah kalau ngak ada insurance gimana?

    BalasHapus
  14. Yah pemerintah selalu terburu buru dalam membuat peraturan..reaktif saja. Saya mempunyai 2 org pembantu yg dibayar sekitar 500rb an per org. Keperluan sehari2 saya tanggung, kalau sakit saya bawa ke dokter, anaknya saya sekolahkan,makan dan susu anak juga ditanggung.. Kalau dihitung hitung salary++ total lebih dari 1,1 jutaan.Libur hari besar 2 minggu, masih ada cuti tiba2 bila ada urusan anak di kampung. Gaji ke 13 dapat. Mau libur hari minggu juga welcome.Namun Pendidikan hanya SD, saya juga harus mengajari semuanya. Kalau ada barang rusak atau pecah, saya tidak sampai hati minta ganti. Nah kalau UU nanti dikeluarkan, saya hanya akan pakai 1 tenaga saja, berarti yg lain dipecat. Lalu kalau ada kesalahan2 tentunya akan saya potong gaji nya.. Fair gak ya?

    BalasHapus
  15. Harus fair utk pengguna jasa dan pemberi jasa. Namun upaya menjadikan fair ini yg sulit. Banyak PRT yg tidak qualified pendidikan, ketrampilan, tanggung jawab, dll yg minim). Di lain pihak, banyak pula majikan yg terlalu demanding (mungkin jaman sekarang perlakuannya seperti perbudakan).
    Gap inilah yang harus dipersempit sehingga ketemu jalan tengahnya. Apakah URT bisa melindungi PRT (tentu bisa, krn dlm tertulis itu mudah). Apakah URT bisa melindungi majikan (lebih sulit dilakukan mnrt saya). Rasanya masih aneh jika calon PRT untuk qualified harus ada ijasah PKK?
    Saya sendiri di rumah menggunakan PRT 4 org (wanita) dan 2 org (pria sbg sopir). Untuk sekarang ini yg wanita untuk gaji start sebesar 500ribu (untuk yg lebih senior tentu saja ada kenaikan sekitar 7-10% setahun), makanan mereka masak di dapur dgn bahan (termasuk beras, daging, sayuran, telur, gas, bumbu, minyak, dll) ditanggung saya. Mereka menginap di rumah saya sehingga tidak mengeluarkan uang kontrak.
    Sedangkan untuk yang sopir saya memberi gaji sebesar 1.3 juta, plus uang makan sehari 25 ribu (total uang makan sebulan 650 ribu karena hari minggu libur), tempat tinggal saya berikan sekeluarga di tanah saya, memang dgn tujuan sekalian menjaga tanah tersebut (tanah +/- seluas 12000m2, yg bebas mereka tanami dgn sayuran seperti kangkung, bayam, singkong, cabai, dll).
    Sedangkan uang kesehatan sendiri ditanggung full oleh saya (tdk pernah saya memotong cicilan untuk uang kesehatan mereka).
    Saya memberi izin jika mereka ingin berpergian, asalkan mereka melapor 2 hr sebelumnya, mengenai tugas sdh selesai atau belum saya percayakan ke diri mereka masing2. Jika memang belum selesai biasanya ada diantara mereka yg tdk senang, sehingga menimbulkan konflik diantara mereka sendiri.
    So far, semua berjalan ok2 saja.

    BalasHapus
  16. ah klo gue... mending jadi PRT aja sekaligus merangkap jadi MAJIKAN... jadi gaji gue double... Mantab bro!

    BalasHapus
  17. PRT saya gaji sekitar 450 hingga 550 ribu per bulan dengan mempertimbangkan kenaikan setiap tahunnya. Ada masalah saya dengarkan. Mendadak butuh pulang pun saya ijinkan dan saya beri ongkos. Sakit saya biayai pengobatannya. Merusak barang pun saya tolerir. Pekerjaan mereka pun sebisa mungkin saya buat ringan.

    Seandainya UU Perlindungan PRT ini diberlakukan sebenarnya tidak masalah. Pada akhirnya saya tidak keberatan bila PRT dilindungi. Asalkan jangan sampai UU ini malah membuat penyewa jasa PRT mundur teratur karena jengah dengan aturannya.

    Sedikit saja terbersit ketidakadilan dalam UU Perlindungan PRT, keberadaannya akan kontraproduktif. Para penyewa jasa PRT bisa jadi tidak mau peduli dengan isi UU tersebut. Semoga saja hal ini tidak terjadi.

    BalasHapus
  18. PRT saya sudah 10 tahun bekerja di rumah saya, saat ini gajinya 750 rb. Saya memberikan kamar dan makanan yang sangat layak, fasilitas kesehatan, THR 2 kali gaji. Saya yakin dia merasa nyaman, terbukti dia membawa keponakannya untuk ikut bekerja sejak 3 tahun yang lalu. Saya memperlakukan mereka seperti keluarga, mereka menyayangi dan merawat anak2 saya seperti anak dan keponakan mereka sendiri. Haruskan UU PRT tsb merusak tali kekeluargaan yang telah terjalin sekian lama ini?

    BalasHapus
  19. Kekhawatiran yang beralasan karena umumnya UU itu justru membawa kekakuan dalam pelaksanaan. Kalau sudah masuk ke ranah hukum, biasanya rasa kekeluargaan makin menipis. Semoga saja hubungan baik yang sudah terjalin antara PRT dan penyewa jasa PRT itu tidak rusak dengan adanya UU Perlindungan PRT ini.

    BalasHapus