Rabu, 03 Maret 2010

Hidup Bersama Gejala Tipus

Februari 2010 adalah bulan paling "menyakitkan" dalam hidup saya sampai saat tulisan ini dibuat. Saya sebut "menyakitkan" karena pada bulan itu saya menghabiskan 17 hari untuk beristirahat akibat sakit. Kronologisnya agak panjang karena gejala pertama dimulai pada hari Jumat, 29 Januari 2010.

Pada hari Jumat itu, saya merasakan suhu badan meningkat secara signifikan. Namun saya masih bisa bertahan di kantor hingga akhir jam kerja (jam 5 sore). Rasa tidak enak badan itu terus bertahan hingga Senin, 1 Februari 2010. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk kerja dan beristirahat dengan harapan kondisi badan akan membaik.

Selasa, 2 Februari 2010, kondisi badan tetap tidak membaik. Saya memutuskan untuk berobat ke dokter umum di RS Qadr (Tangerang). Setelah melakukan tes darah, dokter menyimpulkan bahwa saya terkena gejala tipus. Saya diminta istirahat selama 3 hari hingga hari Kamis, 4 Februari 2010. Alhamdulillah hari Jumat, 5 Februari 2010, saya sudah bisa bekerja kembali. Sayangnya saya masih merasa kondisi badan belum sepenuhnya membaik. Akhirnya Jumat malam saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam di RS Harapan Bunda (Pasar Rebo).

Dokter spesialis penyakit dalam meresepkan beberapa obat yang perlu saya minum dan meminta saya untuk beristirahat selama 10 hari. Akhirnya saya memulai istirahat di rumah dari tanggal 9 Februari 2010 hingga 18 Februari 2010. Jumat, 19 Februari 2010, saya kembali masuk kerja. Saya masih merasa kondisi badan saya belum membaik 100%. Jumat malam saya kembali mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam yang sama di RS Harapan Bunda. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter kembali menyarankan istirahat di rumah selama 10 hari atau rawat inap selama lebih kurang 5 hari.

Terselip sedikit rasa tidak nyaman di hati saat saya harus lagi-lagi meminta ijin tidak masuk kantor karena sakit dengan jumlah hari yang tidak sedikit. Saya pikir kalau memang saya perlu beristirahat selama 10 hari, sebaiknya saya memilih rawat inap agar pengobatan saya bisa optimal. Harapan saya tentunya dengan rawat inap itu penyakit saya bisa sembuh total.

Akhirnya saya merencanakan memulai rawat inap pada hari Jumat, 26 Februari 2010. Saya sengaja memilih long weekend itu untuk menghemat jumlah hari ijin dari kantor. Kenyataannya pada hari Kamis, 25 Februari 2010, suhu badan saya lagi-lagi meningkat. Kamis malam saya sudah berobat lagi ke dokter. Kali ini saya berobat ke bagian Gawat Darurat di RS Omni International.

Setelah dipastikan saya terkena gejala tipus lewat hasil laboratorium. Dokter jaga di bagian Gawat Darurat malah menyarankan saya rawat jalan saja dulu. Namun setelah dokter itu mengetahui apa yang saya paparkan di atas, akhirnya dokter jaga itu merujuk saya ke bagian rawat inap agar dapat diperiksa lebih lanjut. Bisa jadi penyebab turunnya kondisi badan saya bukan disebabkan oleh gejala tipus. Pada saat itu, kata "tuberculosis" sempat terbersit dalam pikiran saya. Saya baru sadar bahwa sejak tanggal 29 Januari itu saya mengidap batuk yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kamis, 25 Februari, itu pun suhu badan saya meningkat seiring dengan kambuhnya batuk.

5 hari saya dirawat di RS Omni International terhitung dari tanggal 26 Februari 2010 hingga tanggal 2 Maret 2010. Infus dipasang di tangan kiri saya mulai masuk sampai keluar dari rawat inap. Antibiotik disuntikan langsung melalui selang infus. Hasil rontgen thorax tidak menunjukan gejala-gejala yang negatif. Itu artinya saya tidak mengidap tuberculosis atau penyakit pernapasan lainnya.

Pada awalnya saya hanya diperiksa oleh dokter spesialis penyakit dalam. Setelah beberapa hari saya mengadukan masalah batuk dan pilek yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya dirujuk ke dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Dokter spesialis THT menemukan ada produksi lendir di bagian hidung yang menyebabkan benjolan-benjolan di bagian tenggorokan sehingga bagian tenggorokan pun ikut memproduksi lendir. Produksi lendir di bagian tenggorokan itu yang menyebabkan batuk.

Akhirnya saya harus meminum obat yang diresepkan oleh kedua dokter tersebut. Alhamdulillah obat-obat tersebut tepat guna. Saya merasa batuk dan pilek saya berkurang dan kondisi tubuh berangsur-angsur membaik. Rujukan ke dokter spesialis THT merupakan langkah yang tepat. Tanpa analisa dari dokter spesialis THT itu, masalah batuk dan pilek saya pasti akan terus ada sampai rawat inap saya selesai.

Hari ini, Rabu, 3 Maret 2010, saya sudah keluar dari rawat inap, membawa banyak obat-obatan, dan sedang menjalani jumlah hari rawat tambahan yang diberikan dokter sampai akhir minggu ini. Semoga saja minggu depan kondisi saya sudah sehat kembali dan saya tidak perlu lagi meminta ijin dari kantor akibat sakit dengan jumlah hari yang tidak sedikit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar