Kamis, 14 Oktober 2010

Geraham Bungsu, Bubur, dan Abon

Akhirnya jahitan hasil operasi pencabutan gigi geraham bungsu saya pun dilepas. Hari-hari bersama bubur dan abon pun akhirnya secara resmi berlalu. Gigi geraham bungsu sebelah kiri bawah saya tidak lagi menjadi sumber masalah. Saat ini saya hanya perlu menunggu rasa tidak nyaman dalam mulut saya menghilang sedikit demi sedikit.

Saya memutuskan mencabut gigi geraham bungsu sebelah kiri saya karena gigi tersebut diduga menjadi penyebab rasa sakit gigi yang sesekali muncul belakangan ini. Gigi itu sebenarnya sudah lama tumbuh mendatar ke arah depan, tapi saya tidak menggubrisnya. Sebelumnya saya memang tidak mengalami masalah dengan gigi saya itu. Setelah saya mengambil rontgen panoramik untuk gigi saya. Terlihat bahwa gigi geraham bungsu sebelah kiri itu sudah mulai merusak gigi geraham di depannya.

Proses pencabutan gigi geraham bungsu itu saya lakukan di Poli Bedah Mulut Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang. Alasan utama saya memilih RSU Tangerang adalah biaya. Harapan saya dengan bermodal Askes, saya hanya perlu membayar biaya operasi sekitar 300 s.d. 500 ribu rupiah. Ternyata yang harus saya bayar adalah 550 ribu rupiah. Angka itu sudah bersih karena obat-obatan ditanggung penuh oleh Askes. Saya tetap bersyukur bahwa saya tidak perlu mengeluarkan uang sampai jutaan untuk operasi ini.

Persiapan sebelum operasi tidak ada sama sekali. Mungkin yang perlu dipersiapkan adalah mental kita sebelum operasi. Jangan sampai hati kita ciut di tengah jalan setelah melihat jarum suntik, bor, dan berbagai peralatan bedah mulut lainnya. Seorang teman yang pernah menjalani operasi yang sama sempat bercerita bahwa dia disarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum operasi. Hal itu dilakukan agar pasien memiliki waktu toleransi yang lama untuk tidak makan/minum setelah operasi. Sayangnya teman saya ini bercerita setelah saya menjalani operasi itu.

Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kendalanya hanya satu, yaitu saat saya merasa mual dan ingin muntah. Saya sendiri memang mudah mual dan membuka mulut dalam waktu yang lama serta rasa ngilu saat dibor benar-benar memicu rasa mual. Cara mengatasinya adalah dengan bernafas lewat hidung dan mencoba mengalihkan pikiran ke tempat lain. Salah satu dokter yang mengawasi sampai mengajak saya ngobrol untuk membantu mengalihkan pikiran saya.

Operasinya berlangsung cukup lama. Dokternya mengatakan hal itu disebabkan karena giginya terlalu besar sehingga tidak mudah diangkat. Giginya harus dipotong-potong dulu -ini alasannya kenapa perlu bor- sebelum dicabut. Jadi operasi saya yang lama itu masih wajar. Setelah gigi geraham bungsu saya berhasil dicabut, gusi saya pun dijahit. Setelah jahitan selesai, saya diminta menggigit kain kasa yang sudah dicelup bahan sejenis Betadine. Operasi pun selesai dan saya diperbolehkan pulang -untung tidak perlu rawat inap.

Yang kurang mulus dari keseluruhan proses operasi pencabutan geraham bungsu ini justru terjadi pada tahap penyembuhan. Dua hari setelah operasi, pendarahan kecil masih terjadi. Akhirnya saya kontrol kembali ke RSU Tangerang. Setelah konsultasi disimpulkan bahwa kemungkinan besar kelalaian ada pada pihak saya sendiri. Sepertinya saya terlalu sering berkumur sehingga luka pasca operasi itu sulit mengering. Dokter bedah mulut akhirnya memberikan resep obat untuk membantu menghentikan pendarahan.

Akhirnya semua beres dan saat ini jahitannya pun sudah dilepas. Setelah jahitan dilepas, perawat di Poli Bedah Mulut itu mengingatkan bahwa rasa tidak nyaman yang saya rasakan pasca operasi mungkin bertahan sampai satu bulan. Sepertinya saya akan menunggu rasa tidak nyaman itu hilang sebelum saya memutuskan untuk mencabut gigi geraham bungsu saya yang sebelah kanan.

--
Informasi lebih lanjut mengenai pencabutan gigi geraham bungsu: Gigi Geraham Bungsu, Perlukah Dicabut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar